共有

Tekanan

作者: Rose_White
last update 公開日: 2024-12-18 14:30:49

Ares memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia duduk di ruang kerjanya dengan kepala penuh beban. Sudah beberapa minggu ini ibunya semakin sering membahas soal cucu.

Awalnya, ia hanya menganggapnya sebagai keluhan biasa, tapi belakangan intensitasnya semakin meningkat. Hari ini, ia baru saja menghadiri makan siang keluarga di mana ibunya tanpa malu-malu kembali menyebutkan betapa pentingnya keturunan dalam keluarga mereka.

“Cucu itu bukan sekadar penerus, Ares. Itu simbol keberlangsungan keluarga kita. Apa kau mau aku mati tanpa melihat darah dagingmu lahir?” suara ibunya terngiang di telinganya, penuh tekanan dan tuntutan.

Ares mencoba mengalihkan topik saat itu, tapi ibunya lebih cepat. Ia bahkan mulai membandingkan Ava dengan istri-istri teman Ares yang sudah memiliki anak.

“Lihatlah teman-temanmu, semua istri mereka sudah melahirkan. Kau tidak kasihan pada keluargamu sendiri? Atau mungkin … sudah waktunya kau pikirkan pilihan lain?”

Kata-kata itu membuat darah Ares berdesir. Pilihan lain? Ia tahu maksud ibunya itu adalah perceraian. Meskipun ibunya tidak mengatakannya langsung, ia yakin topik itu akan muncul cepat atau lambat jika situasi ini terus berlanjut.

Hari berikutnya setelah makan siang keluarga, ibunya memperkenalkan seorang wanita muda kepada Ares. Wanita itu, seorang putri pengusaha kaya, tampil sempurna dengan senyum ramah dan pembawaan elegan. Ares menahan diri untuk tidak menunjukkan ketidaknyamanannya, tapi ia merasa seperti sedang diadili di depan seluruh keluarganya.

“Ibu, cukup. Aku sudah menikah dengan Ava,” kata Ares pada akhirnya, berusaha menahan nada suaranya agar tetap sopan.

Namun, ibunya tidak menyerah begitu saja. “Aku hanya mencoba membantumu. Kau tidak perlu langsung mengambil keputusan. Pikirkan baik-baik. Kita butuh penerus, Ares dan kalau Ava tidak bisa memberikannya, maka kita harus mencari jalan lain.”

Ares berdiri dan pergi tanpa berkata-kata lagi lalu meninggalkan meja makan beserta ibu dan semua orang di sana dengan tatapan kecewa.

Malam telah tiba dan Ares pulang lebih awal dari biasanya. Ava sedang berada di dapur, menyiapkan makan malam. Suara panci dan wajan terdengar, tapi Ares tidak merasa lapar. Ia melewati dapur tanpa berkata apa-apa dan langsung menuju ruang tamu. Di sana, Mauren duduk sambil membaca novel favoritnya.

Mauren menoleh ketika melihat kakak iparnya masuk. Wajah Ares tampak letih, dengan kerutan di dahinya yang lebih dalam dari biasanya. Mauren menutup bukunya dan setelah itu ia berdiri.

“Kak Ares, apa kau baik-baik saja?” tanya Mauren dengan nada lembut.

Ares hanya mengangguk kecil, lalu duduk di sofa. “Hari ini sangat melelahkan.”

Mauren tidak bertanya lebih jauh, tapi ia duduk di sebelah Ares dengan ekspresi penuh perhatian.

“Mungkin secangkir teh hangat bisa membantu,” katanya sambil tersenyum tipis.

Ares menghela napas panjang. “Kadang aku berpikir, apa semua ini layak menjadi masalah besar? Aku mencintai Ava, tapi … ibuku terus menekanku soal cucu, soal keluarga. Bahkan hari ini dia mencoba mengenalkan aku pada wanita lain.”

Mauren membelalakkan matanya. “Wanita lain? Maksudmu … Ibumu ingin kau meninggalkan Kak Ava?”

Ares mengangguk pelan. “Dia tidak mengatakannya langsung, tapi arah pembicaraannya jelas ke sana. Dia bahkan berkata bahwa aku harus memikirkan ‘pilihan lain’ jika Ava tidak bisa memberiku anak.”

Mauren menggigit bibir bawahnya. Ia tahu betapa berat tekanan itu bagi Ares. Ia juga tidak ingin Ava terpuruk jika perceraian itu terjadi,  Sebagai adik, Mauren merasa terjebak di antara mereka. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa menahan rasa simpatinya pada Ares.

“Kak Ares, aku tahu ini tidak mudah. Tapi, aku yakin Kak Ava juga tidak ingin membuatmu berada dalam posisi seperti ini. Dia hanya … mungkin yang Maha kuasa sedang menguji kalian."

Ares menoleh ke arah Mauren.  Mauren terdiam, apakah dia ada salah bicara, lalu dengan cepat mengalihkan pembicaraan.

“Maksudku, dia pasti ingin melakukan yang terbaik untukmu. Aku hanya berharap… kau bisa tetap kuat untuknya.”

Ares menghela napas lagi. “Aku tidak tahu seberapa lama aku bisa bertahan. Aku mencintai Ava, tapi masalaha ini …”

Mauren menatapnya dengan penuh empati. “Kak Ares, kau tidak sendirian. Aku selalu ada di sini untuk membantumu.”

Perkataan itu terasa seperti oase di tengah gurun di hati Ares. Ia menatap Mauren, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya.

Malam itu, Mauren berada di ruang tamu bersama Ares lebih lama daripada biasanya. Mereka berbicara tentang banyak hal, dari pekerjaan hingga kenangan masa kecil. Mauren memiliki cara untuk membuat Ares merasa tenang, sesuatu yang akhir-akhir ini jarang ia rasakan.

Ketika Ava datang untuk memanggil mereka makan malam, ia melihat keduanya berbicara sambil tersenyum. Meskipun ia senang melihat Ares akhirnya tampak lebih santai, ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya.

Setelah Ava kembali ke dapur, Mauren menatap Ares dan berkata, “Kak Ares, kau harus ingat bahwa kau tidak perlu menghadapi semua ini sendirian. Kadang, berbagi beban bisa membuatnya terasa lebih ringan.”

Ares mengangguk, merasa bahwa kata-kata itu benar. Tapi ia tidak bisa menghilangkan rasa bersalah yang perlahan muncul di dalam dirinya. Mauren memang membuatnya merasa nyaman, tapi kenyamanan itu terasa seperti pengkhianatan kecil terhadap Ava.

Malam semakin larut, setelah semua orang tidur, Ares yang kini duduk sendirian di ruang kerja sedang memikirkan percakapannya dengan Mauren tadi. Mauren adalah sosok yang perhatian, dan ia merasa beruntung memiliki adik ipar sepertinya. Tapi di balik rasa syukur itu, ada kekhawatiran yang mengintai.

Ares menyadari bahwa ia harus segera mengambil keputusan. Tekanan dari ibunya dan kenyamanan yang ia temukan dalam diri Mauren adalah campuran yang berbahaya. Jika ia tidak hati-hati, semuanya bisa meledak dan menghancurkan apa yang selama ini ia bangun bersama Ava.

Dengan berat hati, Ares memutuskan bahwa ia harus berbicara dengan Ava. Tapi, kapan dan bagaimana, ia belum tahu. Yang jelas, ia tidak bisa membiarkan perasaan ini terus berkembang, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk Mauren.

Ares mematikan lampu ruang kerjanya dan kembali ke kamar. Ia melihat Ava tertidur lelap, wajahnya terlihat damai. Ares duduk di tepi ranjang, menatap istrinya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia mencintai Ava dengan tulus. Tapi di sisi lain, tekanan yang ia rasakan membuatnya mulai mencari pelarian.

“Aku akan menemukan jalan keluarnya,” bisik Ares pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Namun dalam hatinya, ia tahu jalan keluar itu tidak akan mudah.

To be continued ☘️ ☘️ ☘️ 

Rose_White

Hallo readernim, pembaca terhormat, saya ucapkan terimakasih 🙏 sudah berkenan membaca cerita pertama saya di sini. Semoga kalian setia menunggu bab selanjutnya

| 1
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Menjadi Istri Muda Suami Kakakku   Akhir

    “Pak Ares!”Suara perawat itu terdengar panik sekaligus penuh harap. Ares masih membeku di tempatnya, tangannya menggenggam erat tangan Mauren yang untuk pertama kalinya terasa berbeda. Ada tekanan kecil sangat kecil yang nyata.“Mauren?” bisiknya pelan.Kelopak mata Mauren kembali bergetar. Lebih jelas dari sebelumnya. Meski masih tertutup. Namun tubuhnya merespons.Perawat segera mendekat, memanggil dokter dengan cepat.“Dokter! Ada respons dari pasien!”Suasana mendadak berubah. Tidak lagi sunyi. Namun penuh ketegangan yang berbeda, bukan ketakutan tapi harapan. Beberapa menit kemudian, dokter datang. Memeriksa dengan cepat namun hati-hati.“Respon neurologisnya meningkat,” ujar dokter. “Ini tanda baik.”Ares tidak bergerak. Matanya tetap tertuju pada Mauren. Seolah takut semua ini hanya ilusi.Hari-hari berikutnya menjadi berbeda. Bukan lagi hanya menunggu dalam ketidakpastian tapi menunggu dengan harapan. Hari pertama setelah itu, Mauren masih belum sadar sepenuhnya namun responn

  • Menjadi Istri Muda Suami Kakakku   Kejujuran yang Terlambat

    Malam itu rumah sakit terasa berbeda, lebih sepi dari biasanya. Lampu-lampu di lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang terasa dingin dan kosong.Namun di salah satu ruang ICU, ada sesuatu yang tidak biasa. Sebuah meja kecil diletakkan di sudut ruangan. Di atasnya, terdapat beberapa benda sederhana.Buah-buahan, air putih dan kain putih yang dibentangkan rapi. Tidak mewah apalagi meriah. Namun cukup untuk satu makna yakni sekedar syukuran tujuh bulanan.Ares berdiri di samping ranjang Mauren sendirian. Tanpa siapa pun, tanpa Ava juga saksi. Hanya dirinya, Mauren dan calon bayi yang terus bertahan di dalamnya.Ares menatap wanita yang berstatus istri mudanya itu lama. Wajah itu masih sama, cantik, beraura lembut juga tenang. Seperti seseorang yang sedang tidur.Namun selang yang terpasang di mulut sang wanita dan dada yang naik turun dengan bantuan alat menghancurkan ilusi itu.“Sudaj tujuh bulan,” gumam Ares pelan.Suaranya hampir tidak terdengar.“Harusnya ini jadi mom

  • Menjadi Istri Muda Suami Kakakku   7 Bulan

    Hari-hari setelah itu berjalan tapi terasa tidak benar-benar hidup. Rumah sakit menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh Ares dan Ava. Bukan lagi karena kepanikan tapi karena penantian.Ava duduk di kursi roda di depan ruang ICU. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, namun kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Warna di wajahnya mulai kembali, meski masih pucat. Namun matanya tidak pernah benar-benar tenang.Hari itu, untuk pertama kalinya sejak ia sadar ia selalu meminta satu hal. “Aku mau bertemu adikku.”Ares yang berdiri di sampingnya langsung mengerti. Ia tidak bertanya juga tidak menolak. Hanya mengangguk pelan.Pintu ICU terbuka perlahan. Udara dingin langsung menyambut. Ava masuk dengan langkah pelan, kursi rodanya didorong perlahan oleh Ares.Dan di sana tubuh Mauren terbaring. Tidak berubah masih diam masih sunyi. Namun bagi Ava itu terasa seperti melihat dunia yang berbeda.Tubuh Mauren tampak lebih kurus, wajahnya pucat. Selang infus terpasang di beberapa titik da

  • Menjadi Istri Muda Suami Kakakku   Koma

    “Operasinya berhasil, Pak.”Kalimat itu langsung membuat napas Ares terlepas.Tubuhnya yang sejak tadi tegang perlahan melemah. Ia hampir kehilangan keseimbangan, beruntung kursi di belakangnya menahan tubuhnya.“Bagaimana kondisi mereka, Dok?” tanyanya cepat.Dokter masih berdiri di hadapannya, wajahnya serius.“Keduanya berhasil melewati prosedur,” jelasnya. “Tapi kondisi mereka masih belum stabil. Kami akan memantau dalam beberapa jam ke depan.”Ares mengangguk, mencoba mencerna.“Kapan mereka sadar?”Dokter menggeleng pelan.“Kami belum bisa memastikan. Tubuh mereka mengalami trauma besar. Kita harus menunggu.”Menunggu lagi, kata itu kembali terasa menyesakkan.Malam itu terasa panjang mungkin terlalu panjang. Ares duduk di kursi ruang tunggu, tidak benar-benar bergerak. Ponselnya berdering beberapa kali, tapi ia tidak mengangkat.Dunia di luar terasa tidak penting lagi yang ada hanya dua pintu ruang perawatan Ava dan ruang ICU Mauren.Dua nyawa, dua dunia yang sangat berarti bag

  • Menjadi Istri Muda Suami Kakakku   Sebuah Keputusan

    Lorong rumah sakit itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu putih di langit-langit memantul dingin di lantai, menciptakan bayangan yang terasa asing. Suara roda ranjang pasien bergema pelan, mengisi keheningan yang terlalu berat untuk ditanggung.Ava dibawa lebih dulu. Tubuhnya lemah, hampir tidak bergerak. Matanya setengah terbuka, namun kesadarannya mulai mengabur.“Ava aku di sini.” Ares berjalan di samping ranjang, menggenggam tangannya erat.Ia tidak peduli siapa yang akan melihat, tidak peduli siapa yang tahu yang ia tahu hanya satu, ia tidak ingin kehilangan Avanya.Ava menggerakkan jarinya sedikit dengan gerakan yang lemah namun cukup untuk membalas genggaman itu.“Ares,” suaranya hampir tak terdengar.“Iya, aku di sini,” jawab Ares cepat.Ava menatapnya samar. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Namun tubuhnya tidak lagi memberi cukup waktu.“Jangan ... menyesal ...."Kalimat itu terucap secara putus-putus juga pelan namun jelas di dengar Ares.Ares menggeleng cepat. “

  • Menjadi Istri Muda Suami Kakakku   Retakan Hati Mauren

    Kalimat dari dokter itu masih menggantung di udara. Menyisakan keheningan yang entah harus berapa lama.“Kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka.”Ruangan seakan kehilangan suara. Tidak ada yang bergerak, tidak ada juga yang berani berbicara. Hanya suara detak jantung yang terasa semakin keras di telinga masing-masing.Ares menatap dokter itu dengan mata tak percaya.“Apa maksudnya ‘salah satu’?”Dokter menghela napas pelan sebelum menjelaskan.“Prosedur ini sangat berisiko Pak, apalagi dengan kondisi pendonor yang sedang hamil. Kami harus memprioritaskan keselamatan dalam skenario terburuk, kami mungkin harus memilih.”Ares mundur selangkah. Tubuhnya terasa lemah tak bertenaga. Ini bukan lagi tentang keputusan yang paling sulit. Tapi ini lebih seperti tentang siapa yang harus dikorbankan.Ava berdiri dengan tubuh yang hampir tidak mampu menopang dirinya sendiri namun tatapannya tetap tenang. Seolah ia sudah menerima kemungkinan apabila suaminya lebih memilih Mauren yang

  • Menjadi Istri Muda Suami Kakakku   Penawaran yang mengejutkan

    ----Langit senja melukis semburat jingga di balik tirai jendela besar ruang keluarga. Mauren baru saja menyelesaikan pekerjaannya di kamar ketika langkah-langkah kecil membawanya turun ke lantai bawah. Niatnya sederhana—hanya ingin mengambil segelas air. Namun langkah itu, yang awalnya biasa saja,

  • Menjadi Istri Muda Suami Kakakku   Jeratan pesona adik ipar

    ----Langit sore menyelimuti kota dengan warna keemasannya. Di beranda rumah mewah itu, Mauren duduk sambil menyesap teh hangatnya. Angin tipis membawa aroma hujan yang sebentar lagi akan turun. Matanya tertuju pada halaman depan, tempat Ares dan Ava bercanda di bawah pohon flamboyan. Tawa Ava mele

  • Menjadi Istri Muda Suami Kakakku   Retakan di Hati Ava

    ---Langit senja memantulkan warna jingga kusam di balik jendela ruang tamu. Ava duduk terpaku di sofa abu-abu dengan segelas teh yang telah dingin di tangannya. Uap hangat sudah lama lenyap, menyisakan rasa pahit yang ia biarkan terabaikan.Kata-kata dokter siang tadi terus bergema di telinganya.

  • Menjadi Istri Muda Suami Kakakku   Retak di balik sempurna

    ---Ava duduk di balkon lantai tiga rumah mereka, wanita cantik berusia dua puluh delapan itu memegang secangkir teh melati yang sudah mendingin. Angin malam menyentuh kulitnya yang pucat, membuat gemetar tangannya yang sudah lelah menopang beban yang tak terucapkan. Pandangannya kosong, mengarah p

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status