تسجيل الدخولPuspa mematung di tempatnya, menahan napas yang mendadak terasa memburu dan berat. Lidahnya mendadak kelu, seolah seluruh kosakata yang dikuasainya menguap tanpa sisa.
“Ya kalau Mbok menyampaikan ke Den Jarren kalau Non mau dijemput,” sambung Mbok dengan nada polos, “Mbok yakin banget sih, Den Jarren pasti bakal bela-belain luangin waktu buat pulang sore nanti.” Puspa memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya sebelum akhirnya mengulas senyum paDarah dalam tubuh Puspa seakan mendidih seketika, mengalirkan hawa panas yang membakar ulu hati hingga ke pangkal tenggorokan. Rahang Puspa mengatup rapat, menggemeletukkan gigi demi menahan deretan kata makian agar tidak lolos melukai kehormatannya sendiri. Getar khawatir yang tadinya melumpuhkan persendian Puspa, kini telah bermetamorfosis menjadi gemetar amarah yang meluap-luap. Puspa sedikit memajukan tubuhnya. “Apa pun yang terjadi di antara aku dan Mas Jarren, anak-anak akan tetap bersamaku!” Puspa membalas tatapan intimidatif Saras dengan sorot mata yang menyala berani. Saras tidak tersentak sedikit pun. Wanita paruh baya itu justru mengulas senyum tipis yang teramat meremehkan. “Oke. Asal kamu setuju kita pergi menemui pengacara perceraian besok,” tukas Saras. Puspa membisu di tempatnya. Dia tidak langsung melontarkan jawaban, tetapi sepasang matanya yang mulai digenangi air bening terkunci rapat pada paras angkuh milik ibu mertuanya. “Gimana, Puspa?” Saras sed
Denting halus cangkir porselen yang beradu dengan meja kaca menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan mencekam di ruang tamu. Udara di sekeliling Puspa mendadak membeku, menyisakan rasa dingin yang merayap cepat dari telapak kakinya hingga menyengat ulu hati. “Apa ... maksud Mama?” tanya Puspa, berusaha keras menyembunyikan getaran hebat yang melumpuhkan jemarinya. Ulasan senyum sinis terukir sempurna di bibir bergincu merah milik Saras. Tatapan matanya yang tajam mengunci Puspa tanpa ampun. “Pada akhirnya, kamu dan Jarren akan tetap bercerai,” jawab Saras tenang, menekankan setiap suku kata dengan kejam. “Sesuai dengan perjanjian yang tertulis di dalam kontrak pernikahan kalian.” Dengan gerakan yang anggun sekaligus sarat intimidasi, Saras mengulurkan sebuah map tebal ke atas meja kaca, tepat di hadapan Puspa. Pandangan Puspa jatuh pada lembaran kertas bermaterai itu. Jantungnya seras
Puspa mematung di tempatnya, menahan napas yang mendadak terasa memburu dan berat. Lidahnya mendadak kelu, seolah seluruh kosakata yang dikuasainya menguap tanpa sisa. “Ya kalau Mbok menyampaikan ke Den Jarren kalau Non mau dijemput,” sambung Mbok dengan nada polos, “Mbok yakin banget sih, Den Jarren pasti bakal bela-belain luangin waktu buat pulang sore nanti.” Puspa memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya sebelum akhirnya mengulas senyum palsu. “Nggak usah, Mbok. Nggak perlu disampaikan,” tolak Puspa. “Aku ... lupa kalau Mas Jarren memang ada jadwal dinas ke luar kota hari ini.” Kebohongan itu meluncur mulus dari bibirnya, menutupi kenyataan pahit bahwa Puspa sama sekali tidak tahu-menahu mengenai keberangkatan suaminya. Jarren pergi tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, meninggalkan celah dingin di antara mereka. Sepanjang hari di sekolah, waktu terasa berjalan begitu lam
Telapak tangan Puspa bertumpu erat pada garis pegangan tangga, menahan bobot tubuhnya yang kini terasa jauh lebih berat. “Hati-hati, Non!” seru Mbok panik dari arah bawah, setengah berlari menghampiri Puspa dengan raut wajah cemas. Puspa mengulas senyum tipis sewaktu wanita paruh baya itu dengan sigap menyangga sikunya, membimbingnya menuruni sisa anak tangga dengan ekstra hati-hati. “Makasih banyak ya, Mbok,” ucap Puspa tulus. Mbok terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. “Nggak perlu makasih, Non. Den Jarren itu sudah nitipin Non Puspa ke Mbok, ya Mbok harus jaga baik-baik. Kalau Non kenapa-kenapa, Mbok yang habis dimarahi.” Senyum Puspa spontan membeku. Sudut bibirnya mendadak kaku, memancarkan kecanggungan saat deretan huruf nama suaminya disebut. Namun Puspa buru-buru menguasai diri, menyembunyikan kegetiran yang mendadak menyeruak. “Mas Jarren sudah berangkat, Mbok?” ta
Jemari Jarren bergerak perlahan, menyisir helai demi helai rambut Puspa dengan kelembutan yang melenakan. “Seperti katamu, Maudy masih berada di bawah pengawasan psikiater,” sahut Jarren. “Ada baiknya, kita menjaga diri dari orang yang pernah berusaha menghancurkan kita, sekalipun dia sudah benar-benar menyesali perbuatannya, Mpus.” Puspa membisu sejenak. Kata demi kata yang dilontarkan suaminya mengendap dalam benak, meresap bersama logika yang masuk akal. Setelah menarik napas panjang, Puspa mengangguk mantap. “Setuju.” Senyum Jarren merekah semakin lebar. Tatapannya terkunci penuh pada paras cantik sang istri. Tangan kekar Jarren perlahan menyusup ke balik kain piyama Puspa, mendaratkan telapak tangannya yang hangat langsung di atas permukaan kulit perut Puspa yang membulat tebal. Seketika, sebuah dorongan beruntun terasa menyentak telapak tangan Jarren. “Semaki
Jantung Puspa berdesir hangat. Rona merah tipis seketika menjalar di kedua belah pipinya yang memanas. Puspa berdeham pelan, berusaha keras menyembunyikan kegugupan yang mendadak menyerang pertahanannya. “Kami langsung menikah tanpa pacaran,” jawab Puspa pelan, memasang raut wajah sepasrah mungkin. Maudy mengernyitkan dahinya dalam-dalam. “Sungguh?” Mata Maudy memancarkan ketidakpercayaan yang membuncah. “Tapi Jarren selalu menatap kamu dengan tatapan yang begitu dalam, seolah dia sudah memendam rasa padamu sejak lama. Aku sempat merasa cemburu setengah mati padamu, Puspa.” Maudy beralih menoleh ke depan, melemparkan pandangan kosong menatap deretan kursi lobi yang sepi. “Oleh sebab itu, aku sengaja memprovokasi kalian saat acara reuni sore itu.” “Memprovokasi kami?” Iris mata Puspa menyipit tajam, menangkap sinyal bahaya. Kemerahan di pipi Puspa spontan memudar.







