Home / Romansa / Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku / 2. Malu-malu, Nggak Mau

Share

2. Malu-malu, Nggak Mau

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-07-06 20:07:56

Dinding-dinding kaca koridor SMA Bhakti Utama seolah mendadak punya telinga dan mulut.

Baru 30 menit sejak kekacauan di ruang guru mereda, bisik-bisik kencang langsung menyambut langkah Puspa begitu wanita itu melewati meja piket.

“Puspa! Beneran kamu pacaran sama Pak Jarren?!” Anisa, rekan guru seumuran dengannya, memotong jalan Puspa dengan mata berbinar penasaran. “Pengacara muda yang sering masuk televisi itu, kan?”

Puspa menghentikan langkah, memeluk erat map kertas di dadanya. “Nggak, Nis. Itu cuma salah paham–”

“Aduh, nggak usah malu-malu begitu!” potong guru perempuan senior di sebelah Anisa terkekeh, menepuk bahu Puspa gemas. “Ibu kan masih ingat betul 10 tahun lalu waktu kalian berdua masih sekolah di sini. Pasangan kucing dan tikus SMA Bhakti Utama! Tiap hari kerjaannya adu argumen di mading sekolah, bersaingan nilai. Siapa sangka sudah gede malah jatuh cinta?”

Puspa menggigit bibir bawahnya, menahan kepalanya yang semakin berdenyut. “Bu, saya nggak ada hubungan apa-apa sama Jarren.”

“Halah, tadi Pak Hendra cerita sendiri, kok. Katanya Jarren yang pasang badan waktu ada preman masuk nemuin kamu,” timpal guru lain sembari tersenyum goda. “Sudah, Bu Puspa, diakui saja. Cocok, kok!”

Sangkalan Puspa menguap begitu saja di udara. Ditatap oleh belasan pasang mata yang menyimpan tawa godaan membuat dadanya semakin sesak.

Puspa memilih menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan, lalu buru-buru pamit melangkah menuju kelas berikutnya.

Namun, gosip manis itu sama sekali tidak mampu mengikis rasa cemas yang menggerogoti benak Puspa.

Ada hal lain yang jauh lebih mengerikan dibanding dicap sebagai pacar Jarren, yaitu siapa yang berani mencatut nama Puspa sebagai penjamin utang dengan nominal yang bahkan tidak pernah wanita itu lihat dalam saldo rekeningnya?

Sambil berjalan menyusuri lorong yang mulai sepi, Puspa merogoh saku roknya dan membuka aplikasi pesan.

Ibu jari Puspa bergetar saat menggulir layar, tertegun pada satu nama kontak, Ayah.

Pesan terakhir dikirim tiga hari lalu, tepat sebelum pria paruh baya itu menghilang tanpa kabar.

[Diminta bantuan saja susah banget kamu, Pa.]

Darah Puspa mendadak berdesir dingin. Sebuah kemungkinan buruk terlintas di kepalanya.

Apakah ayahnya yang melakukan ini? Apakah pria yang gemar berspekulasi soal bisnis jual beli barang antik itu nekat menjadikan nama putri bungsunya sebagai jaminan?

TING!

Notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal mengejutkan Puspa. Jantungnya serasa melompat keluar saat membaca pesan singkat yang tertera di sana.

[Foto teras rumah Puspa yang tampak sepi]

[Gue tahu rumah lo. Kalau sampai besok uangnya nggak ada, apa perlu gue ke rumah lo?]

Puspa seketika memucat. Lututnya melemas.

Rasa panik meruntuhkan seluruh fokus Puspa, membuat 90 menit mengajar di kelas berjalan seperti mimpi buruk.

Puspa bahkan tidak ingat apa yang dia jelaskan di depan papan tulis.

Usai bel istirahat kedua berbunyi, Puspa melangkah lunglai keluar kelas.

Baru saja melintasi koridor utama menuju ruang guru, dari arah berlawanan tampak dua pria berjas rapi tengah berjalan beriringan. Kepala Yayasan Bhakti Utama, dan Jarren.

Puspa menghentikan langkah, memaksakan diri bersikap sopan. “Selamat siang, Pak Winarno.”

“Oh, Bu Puspa!” Winarno menghentikan langkahnya dengan wajah bersemi-semi. “Panjang umur. Saya baru saja bicara banyak dengan Pak Jarren ini. Luar biasa sekali, di usianya yang masih muda, wawasannya soal hukum yayasan sangat matang. Kamu beruntung sekali punya kenalan sehebat Pak Jarren. Katanya kalian dulu satu SMA di sini, bahkan selama tiga tahun sekelas?”

Spontan Puspa merasakan perutnya mual. Sanjungan itu terasa menyengat telinganya.

Namun di bawah tatapan hangat Kepala Yayasan, Puspa memaksakan sebuah ukiran senyum profesional.

“Iya, Pak. Pak Jarren memang ... sangat kompeten,” sahut Puspa enggan.

“Bu Puspa ini selalu jadi standar tinggi saya sejak sekolah, Pak Winarno,” ujar Jarren terdengar amat meyakinkan. “Sangat gigih, walau kadang suka terlalu nekat mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.” 

Puspa tertawa lembut, meski tahu Jarren sedang menyindirnya secara halus.

“Aduh, anak muda zaman sekarang rendah hati sekali.” Tawa Winarno menggelegar, kemudian menepuk pundak Jarren. “Saya duluan ya, Pak Jarren, Bu Puspa. Terima kasih banyak atas masukannya.”

“Sama-sama, Pak Winarno,” balas Jarren tenang dan penuh wibawa.

Begitu Winarno melangkah menjauh dan jarak mereka menyisakan selangkah, topeng keprofesionalan itu runtuh.

Jarren sedikit memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke arah Puspa hingga aroma parfum maskulin yang mahal menyeruak masuk ke indra penciuman Puspa.

“Sanjungan yang manis,” bisik Jarren dengan suara bariton yang amat pelan, sangat dingin. “Sayangnya, mukamu kelihatan mau muntah, Puspa.”

“Bisa nggak, sedetik saja kamu nggak mancing emosiku?” Puspa mundur selangkah.

Mengabaikan jarak yang dipangkas Puspa, Jarren justru maju setengah langkah dan menepuk-nepuk pelan kepala Puspa.

"Jangan galak-galak, Bu Guru," cibir Jarren pelan.

Tanpa menunggu balasan Puspa, Jarren berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Puspa yang berdiri kaku sambil mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya.

Puspa memandang punggung tegap yang dibalut jas mahal itu melangkah menjauh. Persis seperti 10 tahun lalu saat pria itu berjalan pergi sambil tertawa di koridor SMA mereka.

Puspa memejamkan mata erat-erat. Jemarinya mencengkeram kain roknya hingga memutih.

Momen paling memalukan dalam hidup Puspa terulang kembali, saat ungkapan perasaan polos seorang gadis berkacamata tebal dijadikan lelucon satu angkatan oleh Jarren, si cowok populer yang hanya berpura-pura menyukainya demi kesenangan pribadinya.

Tiga tahun Puspa bertahan di bawah julukan Culun Halu, membalas sakit hatinya dengan merebut tiap posisi juara dari Jarren, hingga mereka berpisah di hari kelulusan tanpa kata damai.

Dan kini, pria angkuh itu kembali, masih dengan perangai buruk yang sama.

Sore harinya, saat bel pulang sekolah berbunyi, Puspa melangkah cepat menuju gerbang luar.

Ketakutannya kembali mencengkeram begitu melihat sebuah mobil sedan hitam kumal terparkir mengadang di tepi jalan dekat gerbang. Dua pria berbadan tegap bersandar di kap mobil, menatap langsung ke arah Puspa.

Langkah Puspa terhenti. Matanya membelalak panik.

Puspa mundur dua langkah, berniat berbalik masuk ke dalam area sekolah.

CITTT!

Sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam meluncur mulus dan berhenti tepat di depan Puspa, menghalangi pandangan dua preman tadi.

Kaca mobil diturunkan, lalu pintu penumpang depan terdorong terbuka dari dalam.

Jarren menoleh dari kursi pengemudi, menatap Puspa tajam dari balik kacamata hitamnya.

“Masuk,” perintah Jarren dingin. “Atau kamu mau diseret preman itu sekarang?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (8)
goodnovel comment avatar
Ummu Kholifah
pak pengacara sepertinya benci tapi cinta
goodnovel comment avatar
Anha Bilancia
Ternyata ada masa lalu yang menyakitkan ...‍...
goodnovel comment avatar
Aksara_Semesta
Jarren selalu ada pas Puspa lagi bahaya? Hmm
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   166. Sanggup

    Pertanyaan dingin dari Puspa mengendap di udara, melapisi dinding-dinding kos yang lembap dengan atmosfer yang menusuk.Liza tersenyum penuh kebingungan, matanya mengerjap canggung tatkala menangkap panggilan asing dari bibir putri yang dibesarkannya.“Puspa, kenapa kamu memanggil kami seperti itu?” tanya Liza seraya terkekeh cemas, mengusap lehernya yang tidak gatal.Marsya melipat tangan di depan dada, mendengkus lantang tanpa menyembunyikan nada menghina dari intonasinya. “Mungkin Puspa malu, Bu, punya keluarga melarat kayak kita! Sekarang dia sudah jadi orang kaya, hidup bergelimang harta, sementara kita makin miskin dan terlunta-lunta!”“Puspa memang seharusnya malu,” timpal Rusdi, mengangkat dagunya angkuh seolah memegang kendali. “Keadaan kita yang mengenaskan begini cuma makin membuktikan ke sekeliling kalau dia anak durhaka yang sama sekali nggak peduli sama keluarganya sendiri!”Jarren yang duduk di samping Puspa bergulir menata

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   165. Segumpal Darah

    Ujung kemeja mahal yang dikenakan Jarren kini basah kuyup oleh lelehan air mata Puspa. Pria itu sengaja tetap membisu, membiarkan keheningan mengalun di antara mereka. Jarren menolak membalas gumaman parau istrinya, bukan lantaran dia kehilangan deretan kata untuk menjawab, melainkan karena pria itu paham betul Puspa tidak benar-benar membutuhkan sanggahan saat ini. Jemari Jarren mengusap punggung Puspa dengan kelembutan yang dalam. Pria itu menyalurkan rasa hangat nan protektif, menjadi sandaran tunggal tatkala seluruh fondasi kehidupan istrinya lebur tak bersisa. Beberapa puluh menit berlalu dalam ketegangan yang merayap. Di dalam sebuah gang sempit yang pengap di sudut kota, deretan langkah sepatu kulit Jarren dan Puspa bergema pelan. Di sebuah kamar kos berukuran empat kali empat meter tanpa sekat, Puspa dan Jarren akhirnya dihadapkan langsung dengan Rusdi, Liza, dan Marsya.

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   164. Kenangan Palsu

    Puspa menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa.Ucapan Jarren mengenai riwayat genetik itu mengalun samar di benak Puspa, tetapi pertahanan dirinya buru-buru menolak gagasan tersebut.“Jangan mengada-ada, Mas,” bisik Puspa parau, mengalihkan wajahnya ke arah jendela. “Asma itu penyakit umum. Banyak orang mengidap hal yang sama tanpa harus punya hubungan darah.”Jarren tak membalas perdebatan itu dengan kata-kata. Pria itu menekan tombol panggil di sisi ranjang.Tak berselang lama, dokter spesialis paru masuk bersama dua perawat.Dengan tenang, sang dokter menjelaskan detail medis secara gamblang bahwa asma alergi atau atopi memiliki tingkat keterikatan genetik yang sangat tinggi, kerap diturunkan langsung dari orang tua kandung ke anaknya.Puspa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa perih merayap di lidahnya. Tangan kanannya mengepal erat, meremas sprei rumah sakit hingga kusut.“Apa ada cara lain buat

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   163. Cuma Aku

    Detak jarum jam dinding seolah terhenti sewaktu iris mata Jarren terpaku pada deretan huruf di layar ponselnya. Jemarinya membeku, tak sanggup menggeser tampilan dokumen hukum yang kian menelanjangi kenyataan.“Puspa Manora,” gumam Jarren lirih. “Ada berapa banyak orang di dunia ini yang bernama Puspa Manora?”“Cuma aku,” sahut sebuah suara tenang dari arah belakang.Jarren memutar kepala secara refleks.Di ambang pintu kamar mandi, Puspa berdiri seraya mengeringkan helai-helai rambut basahnya menggunakan selembar handuk kecil.Piyama longgar pinjaman dari Tantri melambai pelan seiring helaan napasnya yang teratur.“Kamu tahu dari mana?” tanya Jarren cepat, menatap istrinya lekat-lekat.Puspa menghentikan usapan handuknya, menatap balik tanpa berniat mengikis jarak. “Aku pernah iseng riset kecil-kecilan di internet sama media sosial. Nggak ada satu pun akun atau artikel yang mencatat nama lengkap Puspa Manora selain mili

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   162. Sangat Rahasia

    Guncangan di dada Tantri merambat cepat melintasi getaran suaranya yang parau.Usapan jemarinya pada lembaran tisu dapur kian kasar, memburu sisa air mata yang tak henti merembes di pelupuk mata Tantri.“Menurut cerita teman Bude, secara sah, bayi perempuan itu seharusnya diasuh oleh nenek dari pihak ayahnya,” tutur Tantri dengan raut pias yang amat kentara. “Tapi ... nggak lama setelah tragedi itu, neneknya juga dipanggil Yang Maha Kuasa. Dari sana, jejaknya putus total. Nggak ada satu pun teman alumni yang tahu siapa yang akhirnya membawa dan merawat bayi itu.”Puspa membisu di tempatnya. Helaan napasnya terasa kian berat dan menyiksa, bagai ada beban tak kasat mata yang dihantamkan tepat di atas ulu hatinya. Rasa perih asing melingkupi dada Puspa.Jarren yang duduk di samping Puspa mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak.“Bude, aku minta kontak teman Bude yang di kepolisian itu. Kasus penelusuran dokumen lama sepert

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   161. Bawaan Hamil

    Sebuah gejolak cemas mendadak merayap naik, membelenggu rongga dada Puspa tatkala matanya menangkap guratan pucat di paras anggun milik Tantri.Tantri melipat bibirnya rapat, jemarinya bergetar pelan saat kembali melayangkan pertanyaan dengan nada teramat hati-hati. “Puspa, ini bukan cuma sekadar kebiasaan bawaan hamil kamu, kan?”Dahi Puspa mengernyit halus. Dia mengusap perutnya yang kian membesar seraya menguraikan jawaban jujur.“Bukan, Bude. Dari sebelum aku kenal Mas Jarren, bahkan dari aku kecil, kalau makan semangka, aku memang selalu telaten misahin bijinya kayak gini.”Jarren yang duduk bersisian di samping Puspa tak lagi sanggup membendung rasa penasarannya.“Ada apa sebenarnya, Bude? Kok Bude kelihatan gelisah dan tegang banget?” Manik mata legam pria itu menatap lekat pada sang bude.Hening menyelimuti ruang makan sejenak.Tantri menghela napas panjang yang terdengar amat berat, mencoba menata emosi yang men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status