MasukDulu saja pria itu sudah terlalu tampan untuk ukuran anak SMA. Sekarang, dengan tubuh tinggi, bahu lebar, dan wajah dewasa yang semakin tegas, Jarren terlihat jauh lebih memikat.
Sayangnya, seindah apa pun wajah itu, hatinya tetap bajingan yang sama. “Kamu banyak berubah ya? Aku hampir nggak ngenalin kamu, lho. Dulu kamu kan pakai kacamata besar,” ujar Jarren seraya mengangkat kedua tangannya, membentuk kacamata dengan keempat jari di depan mata. “Sebesar ini.” Sudah 10 tahun berlalu dan pria ini masih sama menyebalkannya seperti dulu. Jarren pernah mempermainkan kepolosan Puspa dengan berpura-pura mengajaknya berpacaran kala itu. Namun saat Puspa menerima Jarren, pria itu justru memutarbalikkan fakta bahwa Puspa yang mengajaknya pacaran lebih dulu. Tak ayal, Puspa menjadi bahan olok-olokan satu sekolah. “Cewek culun yang bermimpi besar pacaran dengan cowok populer.” Begitu teman-teman SMA mereka mengingat Puspa. “Halo?” Jarren melambaikan kedua tangannya ke depan wajah Puspa yang tidak kunjung membalasnya. Puspa menoleh sambil mengernyitkan dahi. “Kacamataku nggak sebesar itu, ya!” bantah Puspa. Sesaat Jarren tertawa. “Oh ternyata kamu masih benci aku.” Kali ini Puspa tidak membantah. “Kamu ngapain di sini?” tanya Puspa sambil mengernyitkan dahi. “Kamu ngapain pingsan?” Jarren balik bertanya. “Aku jadi harus gendong kamu. Kamu berat banget tahu nggak? Lenganku sampai pegal.” Jarren memijat-mijat lengan atasnya. Puspa mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mencerna ucapan Jarren. “Tadi aku juga lagi ada di sekolah. Pak Winarno, Kepala Yayasan, minta aku buat dampingin dia di kasus keluarga besarnya. Terus pas aku ke ruang guru buat nyapa guru-guru kita dulu, kamu ternyata lagi bikin kehebohan di sana dan pingsan.” Jarren melanjutkan. Wajah Puspa memerah begitu sadar Jarren yang menolong dan membawanya ke rumah sakit saat dia pingsan di SMA Bhakti Utama, tempat Puspa mengajar yang juga merupakan tempatnya dan Jarren bersekolah dulu. “Bukan aku yang berat, kamu aja yang lemah!” sergah Puspa tidak mau kalah. Tiba-tiba mata hitam Jarren menggelap. Senyum di bibirnya memudar. Pria itu melangkah maju, mengikis jarak dengan Puspa. “M-mau apa kamu?” Puspa refleks mundur. Jarren terus maju hingga punggung Puspa membentur dinding di samping ranjang. “Tadi kamu bilang aku lemah?” Puspa mendongak menatapnya. “Iya. Emang kenapa?” Jarren tersenyum tipis. Sebelah tangannya bertumpu di dinding, mengurung Puspa di antara tubuhnya. “Berani juga.” Jarren menyipitkan mata. “Memangnya aku harus takut?” Puspa berusaha menahan debaran dalam dadanya yang kian mengencang. Jarak tubuhnya dan Jarren sangat tipis. Salah bergerak sedikit saja, mereka bisa bersentuhan. “Harusnya.” Jarren sedikit menunduk hingga jarak wajah mereka tinggal beberapa senti. “Mau kubuktiin seberapa kuat aku?” Srek! Tirai pembatas ranjang IGD kembali terbuka. Kali ini sosok dua debt collector itu yang muncul. Puspa spontan mendorong dada Jarren menjauh. “Bu Puspa sudah selesai bikin dramanya? Urusan kita belum selesai.” Pria bertubuh besar itu memelototinya. Puspa berusaha menenangkan debaran di dadanya karena Jarren. Dia menghela napas panjang. “Pak, saya nggak lagi bikin drama. Asma saya barusan kambuh,” jelas Puspa. Jarren menoleh ke arahnya penuh tanda tanya. “Tetap aja mau asma kambuh atau enggak, Ibu harus bayar utang Ibu. Kalau Ibu nggak ada uang, ayo, ikut kami ke kantor polisi!” Dua pria menyeramkan itu maju mendekati Puspa, hendak menyeret paksa wanita itu keluar dari rumah sakit. Sebelum mereka berhasil mendekati Puspa, Jarren menghalangi mereka. Pria itu berdiri di tengah, menjadikan dirinya tameng bagi Puspa. “Tunggu, kalian nggak bisa maksa orang seperti ini. Apalagi dia seorang wanita,” sela Jarren berusaha menengahi. Puspa hampir tidak percaya mendengar ucapan itu keluar dari mulut Jarren. “Kamu siapa ikut campur urusan kami?” Pria kurus bersuara sambil menatap tajam Jarren. “Saya pacarnya Puspa,” jawab Jarren dengan tenang. “Memang berapa utang Puspa?” “Apa?” Kedua alis Puspa terangkat. Puspa pasti salah mendengar. Jarren menoleh ke arahnya sambil menempatkan jari telunjuk di depan bibirnya, meminta Puspa diam. Anehnya Puspa menurut. Saat kembali menghadap para debt collector, Jarren mulai merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. “Bisa bayar via transfer?” tanya Jarren. “Nah, gini dong dari tadi. Kalau punya pacar kaya dan tampan, harus dimanfaatkan.” Pria bertubuh besar itu tertawa bersama temannya, mendadak ramah. Jarren tersenyum tipis. “Dua ratus juta. Bisa cash, bisa transfer,” lanjutnya. “Bapak mau bayar pakai apa?” Jarren yang hampir saja membuka aplikasi mobile banking, mendadak mengurungkan niat. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. “Berapa?!” Dahi Jarren mengernyit. “Dua ratus juta. Nggak bisa dicicil, ini sudah jatuh tempo!” Pria itu kembali memasang wajah garang begitu melihat Jarren menyimpan kembali ponselnya. Jarren menoleh ke arah Puspa. “Kamu ngutang apa aja sampai ratusan juta, Pa?!” “Bukan aku yang ngutang,” bela Puspa mengernyitkan dahi tidak terima ditatap penuh penghakiman seperti itu. “Tapi ayahku.” “Tapi bapakmu itu ngutang buat kamu!” bentak pria bertubuh kurus. Puspa tersentak. Jarren spontan merentangkan tangan, melindung Puspa supaya wanita itu tetap ada di belakangnya. “Kalian bilang Puspa harus bayar utang ayahnya. Dasar hukumnya apa?” tanya Jarren berubah dingin. “Tunjukkan perjanjian utangnya. Tunjukkan tanda tangan Puspa sebagai debitur atau penjamin.” Jarren mengulurkan tangan seolah meminta dokumen. “Saya mau lihat.” Hening beberapa detik. Kedua debt collector itu saling pandang. “Nggak ada?” Senyum tipis muncul di bibir Jarren. “Kalau begitu, berhenti menagih orang yang salah.” Tatapan Jarren menajam. “Hubungan darah nggak otomatis membuat seseorang bertanggung jawab atas utang orang tuanya. Yang wajib membayar adalah pihak yang mengikatkan diri dalam perjanjian, bukan anaknya.” Hanya dengan melihat punggungnya saja, Puspa bisa tahu saat ini Jarren sedang masuk ke mode pengacara. Auranya sangat dingin dan intimidatif. Berbeda dengan Jarren beberapa saat lalu. “Terus kalian mengancam akan membawa Puspa ke kantor polisi?” Jarren menggeleng pelan. “Utang piutang merupakan ranah perdata. Polisi bukan alat untuk menakut-nakuti orang agar membayar utang.” Jarren melirik tangan salah satu debt collector yang tadi hendak menarik Puspa. “Dan jangan ganggu Puspa lagi. Kalian sudah mengejar, mengintimidasi, bahkan mencoba menyeret seorang wanita keluar dari IGD. Kalau saya mau, CCTV rumah sakit dan para saksi sudah lebih dari cukup untuk membuat masalah ini berbalik kepada kalian.” Jarren merapikan lengan kemejanya. “Kalau perusahaan kalian ingin menagih, lakukan dengan cara yang sah. Kalau ingin mengancam, pastikan dulu orang yang kalian ancam memang punya kewajiban hukum.” Jarren menatap keduanya bergantian. “Sekarang, kalian mau pergi atau saya mulai bekerja sebagai pengacara Ibu Puspa?”Puspa memutar bola matanya malas. Dia melangkah keluar dari area ruang ICU. Jarren menyusul di belakang Puspa sambil tertawa pelan. Suara denting ponsel bergema. Puspa memeriksa ponselnya, tetapi tidak ada notifikasi baru. Jadi itu pasti ponsel Jarren. Puspa duduk di salah satu kursi terdekat dari ruang ICU. “Aku ke mobil dulu, ya. Mau ambil laptop.” Jarren menggoyangkan ponselnya ke udara. “Klien minta diskusi. Datanya ada di sana. Kamu mau titip sesuatu?” “Air putih aja,” jawab Puspa. Jarren mengangguk. Dia melangkah lebar menuju area parkir. Sementara Puspa sendiri memeriksa beberapa grup di aplikasi pesan pada ponselnya. Terutama grup guru, grup wali murid, dan grup kelas yang dia walikan. “Puspa?” sapa seseorang. Puspa mengangkat pandangan. Begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya, ke
“Ya, tentu,” jawab Puspa tanpa banyak berpikir. Mengingat Puspa sudah tidak memiliki jadwal mengajar, dia diizinkan pulang lebih dulu. Di perjalanan menuju rumah sakit, Puspa mengirim pesan pada Dimas. “Maaf, Dim, kayaknya hari ini kita belum bisa ketemu. Aku ada jadwal mendadak.” Pesan balasan dari Dimas muncul cukup cepat. [Kamu sehat, kan?] Puspa mengetik balasan. “Sehat, kok. Cuma agenda dadakan ini nggak bisa diganggu gugat. Sorry ya.” [Santai, yang penting kamu baik-baik aja.] Puspa tanpa sadar tersenyum tipis. Perhatian dari Dimas sedikit menghangatkan hatinya. “Senyum-senyum …” Jarren tiba-tiba bersuara tanpa menoleh. “Chat-an sama siapa sih?” Begitu suara Jarren terdengar, senyum di bibir Puspa menguap entah ke mana. Pria itu selalu punya cara menghancurkan kebahagiaan Puspa. “Pacar,” jawab Puspa asal sambil mengalihkan pandangan. Mobil mendadak berhenti. Suara decit ban dan aspal terdengar hingga ke dalam mobil. Berikutnya, suara klakson berbunyi ny
Jarren menoleh ke arah Puspa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sesaat, Puspa sanksi dengan ucapan Anisa tentang Jarren. Apakah benar seorang pengacara menakutkan, bersikap seperti ini? Atau memang Jarren hanya bersikap seperti ini di depan Puspa? “Aku cari kamu,” jawab Jarren sambil mengangkat sebuah totebag di depannya. “Kamu tadi pagi nggak sarapan. Mbok maksa aku bawa ini buat kamu.” Jarren mengulurkannya pada Puspa. Wanita itu menerimanya dengan bingung. “Tapi aku udah makan siang,” sahut Puspa. “Itu camilan kering kok. Bisa kamu taruh di meja kamu buat ganjelan,” balas Jarren. “Oke ….” Puspa masih mengernyitkan dahi heran sambil menatap Jarren. “Kamu bentar lagi pulang, kan? Aku tunggu di mobil.” Jarren menunjuk area parkir yang sebenarnya tidak terlihat dari depan ruang guru. “Kamu duluan aja,” sahut Puspa. “Aku mau ketemu teman dulu pulang ngajar.” Raut wajah Jarren spontan berubah. Senyum tipisnya memudar. Dia teringat satu nama pria yang semala
Seolah Jarren hilang dari hadapannya, Puspa langsung bangkit sambil menerima telepon itu. “Iya, Dim?” Puspa melangkah ke arah jendela, menjauh dari Jarren. Sementara pria itu mengernyitkan dahi penuh curiga. Namun dia segera menggeleng begitu mengingat mereka tidak boleh mencampuri urusan masing-masing. Jarren mendengkus kasar. Dia mengambil ponselnya untuk mengalihkan perhatian. Lagipula Jarren tidak bisa mendengar apa yang Puspa bicarakan dengan pria antah-berantah bernama Dimas. “Siapa Dimas? Telepon malam-malam, nggak ingat waktu banget,” gerutu Jarren pelan. Tepat setelah itu, Puspa tertawa terbahak-bahak sangat kencang. Fokus Jarren kembali teralihkan. Dia berhenti menggulir layar. Mau tidak penasaran, tetapi Puspa tertawa sekencang itu. Hati suami mana yang tenang jika berada di posisi Jarren. Iya, kan? “Ya, ya, udah dulu ya …” Suara Puspa kembali terdengar saat wanita itu mendekat. “Kayaknya lebih enak ceritanya kalau kita ketemu langsung. Besok abis ngajar, ak
Saat bibir Jarren hendak mendarat pada bibir Puspa, napas wanita itu justru mengi. Puspa memegang kedua bahu Jarren dan mendorongnya menjauh. “Inhaler-ku.” “Di mana?” Jarren menatap Puspa khawatir. Puspa tidak menjawab, tetapi dia melangkah menuju tasnya di atas meja. Beberapa detik kemudian, Puspa menghirup inhaler-nya. Jarren memegang kedua bahu Puspa. Dia membantu wanita itu duduk di tepi ranjang. Konyol sekali. Asma Puspa kambuh saat Jarren hampir menciumnya? “Ini ciuman pertama kamu?” tebak Jarren sambil mengangkat salah satu alisnya. Puspa melirik sinis. “Apa maksudnya?” Puspa menurunkan inhaler di tangannya. “Ini pernikahan pertamaku. Memangnya kamu pikir aku cewek macam apa?!” “Kayaknya asma kamu sembuh kalau kamu kesal,” timpal Jarren. Kekhawatiran sudah menghilang sepenuhnya dari wajah pria itu. Puspa menggeleng. Dia menaruh inhaler ke meja terdekat. Sementara Jarren kembali ke walk-in closet tanpa pintu. “Sejak kapan kamu sakit asma?” tanya Jarren, berteriak da
Sesaat Puspa lupa kalau Jarren adalah seorang pengacara. Selalu berpikir lima langkah lebih depan daripada orang lain adalah kekuatan pria itu. Orang pintar menyelesaikan masalah di pengadilan. Namun pengacara hebat sepertinya akan mencegah masalah masuk ke pengadilan. Jadi Puspa membaca semua pasal dalam kontrak dengan hati-hati. Dahinya mengernyit. Pernikahan sah dan tinggal serumah. Tidak boleh selingkuh atau memberi harapan kepada orang lain. Wajib saling terbuka mengenai ancaman dan masalah hukum. Memiliki minimal satu anak. Hak dan kewajiban setelah perceraian, termasuk hak anak. Jika salah satu pihak melanggar kontrak, pihak yang dirugikan berhak meminta perceraian lebih awal. Tidak ada yang aneh, kecuali dua. Pertama, pasal yang menyatakan bahwa Puspa tidak boleh membantu keluarga secara finansial atau menandatangani dokumen tanpa persetujuan Jarren. “Kamu akan mengatur uangku?” Puspa mengangkat salah satu alisnya. “Mencegah keluargamu memanfaatkanmu.” Jarren mengoreksi.







