Share

3. Apa Itu Mengalah?

Author: prasidafai
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-06 20:08:03

Pintu mobil SUV hitam itu tertutup.

Puspa mengempaskan tubuhnya ke kursi penumpang depan, memeluk tasnya erat-erat seolah benda itu adalah perisai terakhir dari harga dirinya yang baru saja hancur berkeping-keping.

“Ternyata nyawamu jauh lebih mahal daripada gengsimu, ya?”

Jarren menginjak pedal gas, membawa mobil meluncur mulus membelah jalanan sore yang mulai padat.

Wajah pria itu lurus menatap jalanan, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk sunggingan miring yang amat memanjakan kesombongannya.

Puspa bersedekap, melempar pandangan ke luar jendela. “Kalau bukan karena dua preman berotot di belakang sana, aku nggak juga sudi satu atap sama kamu di dalam mobil ini.”

Jarren tertawa mengejek, tawa pendek yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Puspa. “Alasan yang klasik, Bu Guru.”

Mobil terus melaju tenang. Keheningan yang sarat akan sisa-sisa perselisihan menyelimuti kabin hingga Jarren kembali membuka suara tanpa menoleh. “Rumahmu masih yang dulu atau sudah pindah?”

“Ngapain kamu tanya-tanya rumahku?” Puspa menoleh tajam.

“Ya mau mengantar kamu pulang, lah,” sahut Jarren santai, memutar kemudi dengan satu tangan secara lihai. “Nggak mungkin juga aku menurunkan kamu di tengah jalan.”

Puspa berdecih.

“Jangan kegeeran. Aku nggak bermaksud minta diantar sampai rumah. Turunkan aku di dekat halte depan, aku bisa lanjut naik TransJakarta.” Puspa membalas ucapan Jarren di ruang guru soal kegeeran.

Jiwa-jiwa permusuhan dalam diri Puspa seketika membumbung tinggi.

Bukannya menginjak rem, Jarren justru menambah kecepatan. “Nggak. Aku akan tetap mengantar kamu sampai depan pintu.”

“Rumahku sudah pindah!” dalih Puspa cepat, berbohong demi mengusir pria itu dari radarnya. “Kamu cuma buang-buang bensin.”

“Bensin mobilku cukup buat keliling kota tiga kali,” balas Jarren dingin, mengencangkan pegangannya pada kemudi. “Kamu yang cuma membuang-buang waktu.”

Puspa mendelik sebal. Situasi ini persis seperti dulu.

Mereka senang berlomba, saling menekan ego demi melihat siapa yang akan mengalah dan menyerah duluan.

“Kamu kalah sama preman itu,” bisik Puspa tajam, menyunggingkan senyum kemenangan yang dibalut rasa pahit. “Mereka saja tahu persis di mana rumahku tanpa perlu bertanya.”

Seketika itu juga, Jarren mengernyit mendalam. Keangkuhan di wajah tampannya menguap, berganti dengan raut ketegangan yang amat pekat.

Jarren menoleh sekilas pada Puspa. “Mereka sudah ke rumahmu?”

Puspa menggeleng pelan. Dia merogoh tasnya, lalu menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan pesan teror beserta foto teras rumahnya. “Cuma kirim foto ini.”

Tanpa peringatan, Jarren meminggirkan mobilnya ke bahu jalan secara mendadak.

Sensasi dorongan membuat tubuh Puspa terhenyak ke depan.

Belum sempat Puspa protes, Jarren sudah merebut ponsel dari jemari Puspa.

Manik mata hitam pria itu meneliti deretan kata dan foto di layar dengan kecermatan khas seorang pengacara.

“Sebenarnya utang 200 juta ini milik siapa?” tanya Jarren, suaranya memberat, mengikis habis nada bercandanya yang tadi.

Puspa menunduk, menautkan jemarinya yang mendadak dingin. Rasa malu dan cemas beraduk menjadi satu di ulu hatinya. 

“Aku ... aku mencurigai Ayah.” Puspa terpaksa berterus terang.

Jarren menyandarkan punggungnya, menganalisis situasi dalam hitungan detik. “Kalau foto ini diambil dari jarak sedekat ini, artinya rumahmu sudah ditandai. Tempat itu nggak aman lagi untuk kamu tinggali. Penagih utang itu pasti masih mengintai di sekitar sana.”

Kepanikan seketika melumpuhkan wajah Puspa. Darah dalam tubuhnya berdesir hangat.

“Gimana ... gimana kalau mereka beneran datang?” Bibir Puspa yang memucat gemetar, bicara pada dirinya sendiri.

Jarren mengembalikan ponsel Puspa, lalu kembali memindahkan tuas transmisi dan menginjak gas. “Dan soal rumahmu pindah ... kamu bohong, kan? Itu foto rumahmu yang lama. Aku antar kamu ke sana sekarang.”

“Nggak perlu, Jarren! Biar aku urus sendiri–”

“Rumahmu searah sama rumahku, Puspa,” potong Jarren tegas, tidak menerima bantahan.

Puspa bungkam, kehabisan kata-kata untuk meladeni keangkuhan pria di sampingnya. Namun, rumah lamanya yang disebut Jarren menyentil satu memori menggemaskan sekaligus menyebalkan di benak Puspa.

Dulu, saat kelas sebelas, Puspa pernah demam tinggi dan terpaksa absen tiga hari. Teman-teman sekelasnya datang menjenguk, termasuk Jarren yang kala itu berstatus sebagai ketua kelas.

Bukannya membawakan buah atau menghibur seperti yang lain, Jarren justru mengomentari susunan buku di meja belajar Puspa yang dianggapnya tidak rapi, bahkan mengkritik teh hangat buatan ibu Puspa yang katanya terlalu manis. 

Kedatangan Jarren hari itu berhasil membuat suhu tubuh Puspa meroket naik karena emosi.

Kenangan itu terputus seketika saat SUV hitam Jarren memelankan laju di lorong kompleks perumahan Puspa.

Mata Puspa membelalak sempurna.

Di depan pagar rumahnya, terparkir beberapa sepeda motor besar.

Tiga pria berbadan tegap dengan wajah menyeramkan dan tato di lengan berdiri mengitari halaman depan rumahnya yang berantakan.

Puspa melepas sabuk pengamannya dengan tangan gemetar.

Saat Puspa membuka pintu, Jarren mematikan mesin dan ikut turun dari mobil, melangkah di samping Puspa dengan gestur protektif.

Ketiga pria yang berjaga di depan, hampir menjegal Puspa.

“Dia tinggal di sini. Kaliang nggak berhak melarangnya masuk!” tegur Jarren.

Meski tatapan tajamnya masih terarah pada Jarren, pria-pria itu akhirnya membiarkan Puspa masuk.

“Ayah!” jerit Puspa tertahan begitu menginjakkan kaki di ruang tamu.

Pandangan di hadapannya meremukkan dada Puspa.

Di dalam, ada lebih banyak lagi pria berbadan besar dengan wajah menyeramkan.

Rusdi, ayahnya, terduduk babak belur di atas lantai dengan sudut bibir berdarah dan lebam di pipi.

Di sudut lain, Liza, ibunya, serta Marsya, kakak perempuannya, menangis histeris sembari memeluk lutut salah satu preman, memohon ampun.

Melihat kedatangan putri bungsunya, mata Rusdi yang bengkak seketika berbinar terang.

Pria paruh baya itu merangkak payah menghampiri Puspa, mencengkeram ujung baju anaknya dengan napas terengah-engah.

“Puspa! Tolong Ayah, Pa!” ratap Rusdi dengan suara serak, terdesak. “Tolong bayar utangnya, Nak! Tolong lunasi! Kalau kita nggak bayar hari ini, mereka ... mereka bakal sita rumah peninggalan Nenek ini, Puspa!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (8)
goodnovel comment avatar
Ummu Kholifah
astaghforullaah.. knp si ayah berhutang sebanyak itu ke rentenir
goodnovel comment avatar
Aksara_Semesta
kasihan puspa
goodnovel comment avatar
DuarDuar
gara2 keluarganya toh. kacau
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   165. Segumpal Darah

    Ujung kemeja mahal yang dikenakan Jarren kini basah kuyup oleh lelehan air mata Puspa. Pria itu sengaja tetap membisu, membiarkan keheningan mengalun di antara mereka. Jarren menolak membalas gumaman parau istrinya, bukan lantaran dia kehilangan deretan kata untuk menjawab, melainkan karena pria itu paham betul Puspa tidak benar-benar membutuhkan sanggahan saat ini. Jemari Jarren mengusap punggung Puspa dengan kelembutan yang dalam. Pria itu menyalurkan rasa hangat nan protektif, menjadi sandaran tunggal tatkala seluruh fondasi kehidupan istrinya lebur tak bersisa. Beberapa puluh menit berlalu dalam ketegangan yang merayap. Di dalam sebuah gang sempit yang pengap di sudut kota, deretan langkah sepatu kulit Jarren dan Puspa bergema pelan. Di sebuah kamar kos berukuran empat kali empat meter tanpa sekat, Puspa dan Jarren akhirnya dihadapkan langsung dengan Rusdi, Liza, dan Marsya.

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   164. Kenangan Palsu

    Puspa menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa.Ucapan Jarren mengenai riwayat genetik itu mengalun samar di benak Puspa, tetapi pertahanan dirinya buru-buru menolak gagasan tersebut.“Jangan mengada-ada, Mas,” bisik Puspa parau, mengalihkan wajahnya ke arah jendela. “Asma itu penyakit umum. Banyak orang mengidap hal yang sama tanpa harus punya hubungan darah.”Jarren tak membalas perdebatan itu dengan kata-kata. Pria itu menekan tombol panggil di sisi ranjang.Tak berselang lama, dokter spesialis paru masuk bersama dua perawat.Dengan tenang, sang dokter menjelaskan detail medis secara gamblang bahwa asma alergi atau atopi memiliki tingkat keterikatan genetik yang sangat tinggi, kerap diturunkan langsung dari orang tua kandung ke anaknya.Puspa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa perih merayap di lidahnya. Tangan kanannya mengepal erat, meremas sprei rumah sakit hingga kusut.“Apa ada cara lain buat

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   163. Cuma Aku

    Detak jarum jam dinding seolah terhenti sewaktu iris mata Jarren terpaku pada deretan huruf di layar ponselnya. Jemarinya membeku, tak sanggup menggeser tampilan dokumen hukum yang kian menelanjangi kenyataan.“Puspa Manora,” gumam Jarren lirih. “Ada berapa banyak orang di dunia ini yang bernama Puspa Manora?”“Cuma aku,” sahut sebuah suara tenang dari arah belakang.Jarren memutar kepala secara refleks.Di ambang pintu kamar mandi, Puspa berdiri seraya mengeringkan helai-helai rambut basahnya menggunakan selembar handuk kecil.Piyama longgar pinjaman dari Tantri melambai pelan seiring helaan napasnya yang teratur.“Kamu tahu dari mana?” tanya Jarren cepat, menatap istrinya lekat-lekat.Puspa menghentikan usapan handuknya, menatap balik tanpa berniat mengikis jarak. “Aku pernah iseng riset kecil-kecilan di internet sama media sosial. Nggak ada satu pun akun atau artikel yang mencatat nama lengkap Puspa Manora selain mili

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   162. Sangat Rahasia

    Guncangan di dada Tantri merambat cepat melintasi getaran suaranya yang parau.Usapan jemarinya pada lembaran tisu dapur kian kasar, memburu sisa air mata yang tak henti merembes di pelupuk mata Tantri.“Menurut cerita teman Bude, secara sah, bayi perempuan itu seharusnya diasuh oleh nenek dari pihak ayahnya,” tutur Tantri dengan raut pias yang amat kentara. “Tapi ... nggak lama setelah tragedi itu, neneknya juga dipanggil Yang Maha Kuasa. Dari sana, jejaknya putus total. Nggak ada satu pun teman alumni yang tahu siapa yang akhirnya membawa dan merawat bayi itu.”Puspa membisu di tempatnya. Helaan napasnya terasa kian berat dan menyiksa, bagai ada beban tak kasat mata yang dihantamkan tepat di atas ulu hatinya. Rasa perih asing melingkupi dada Puspa.Jarren yang duduk di samping Puspa mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak.“Bude, aku minta kontak teman Bude yang di kepolisian itu. Kasus penelusuran dokumen lama sepert

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   161. Bawaan Hamil

    Sebuah gejolak cemas mendadak merayap naik, membelenggu rongga dada Puspa tatkala matanya menangkap guratan pucat di paras anggun milik Tantri.Tantri melipat bibirnya rapat, jemarinya bergetar pelan saat kembali melayangkan pertanyaan dengan nada teramat hati-hati. “Puspa, ini bukan cuma sekadar kebiasaan bawaan hamil kamu, kan?”Dahi Puspa mengernyit halus. Dia mengusap perutnya yang kian membesar seraya menguraikan jawaban jujur.“Bukan, Bude. Dari sebelum aku kenal Mas Jarren, bahkan dari aku kecil, kalau makan semangka, aku memang selalu telaten misahin bijinya kayak gini.”Jarren yang duduk bersisian di samping Puspa tak lagi sanggup membendung rasa penasarannya.“Ada apa sebenarnya, Bude? Kok Bude kelihatan gelisah dan tegang banget?” Manik mata legam pria itu menatap lekat pada sang bude.Hening menyelimuti ruang makan sejenak.Tantri menghela napas panjang yang terdengar amat berat, mencoba menata emosi yang men

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   160. Biji Semangka

    Tawaran ramah dari Tantri mengudara seiring dengan usapan hangat di bahu Puspa. Jika sanggup memilih, Puspa ingin sekali menepis halus dan mencari ribuan alasan untuk menolak.Namun pendar tulus di sepasang mata paruh baya itu terlampau pekat, mengunci lidah Puspa hingga tak sanggup melontarkan kata sanggahan.Tanpa memberi celah bagi Puspa untuk berkilah, Tantri langsung membayar satu buah semangka utuh pada sang pedagang.Wanita paruh baya itu dengan ceria menuntun Puspa, memandu wanita hamil itu untuk masuk ke dalam mobil mewahnya yang terparkir tak jauh dari kios.Perjalanan singkat itu berlanjut tanpa hambatan.Tidak sampai sepuluh menit berlalu, sedan mewah yang mereka tumpangi melintasi pintu gerbang besi berukir tebal, melaju lambat menelusuri pekarangan rumah berarsitektur klasik yang amat megah.“Ini rumah Bude, Puspa,” ujar Tantri lembut, mengusap punggung tangan Puspa dengan belas kasih yang meluap. “Bude cu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status