LOGINPuspa memutar bola matanya malas. Dia melangkah keluar dari area ruang ICU.
Jarren menyusul di belakang Puspa sambil tertawa pelan. Suara denting ponsel bergema. Puspa memeriksa ponselnya, tetapi tidak ada notifikasi baru. Jadi itu pasti ponsel Jarren. Puspa duduk di salah satu kursi terdekat dari ruang ICU. “Aku ke mobil dulu, ya. Mau ambil laptop.” Jarren menggoyangkan ponselnya ke udara. “Klien minta diskuPuspa memutar bola matanya malas. Dia melangkah keluar dari area ruang ICU. Jarren menyusul di belakang Puspa sambil tertawa pelan. Suara denting ponsel bergema. Puspa memeriksa ponselnya, tetapi tidak ada notifikasi baru. Jadi itu pasti ponsel Jarren. Puspa duduk di salah satu kursi terdekat dari ruang ICU. “Aku ke mobil dulu, ya. Mau ambil laptop.” Jarren menggoyangkan ponselnya ke udara. “Klien minta diskusi. Datanya ada di sana. Kamu mau titip sesuatu?” “Air putih aja,” jawab Puspa. Jarren mengangguk. Dia melangkah lebar menuju area parkir. Sementara Puspa sendiri memeriksa beberapa grup di aplikasi pesan pada ponselnya. Terutama grup guru, grup wali murid, dan grup kelas yang dia walikan. “Puspa?” sapa seseorang. Puspa mengangkat pandangan. Begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya, ke
“Ya, tentu,” jawab Puspa tanpa banyak berpikir. Mengingat Puspa sudah tidak memiliki jadwal mengajar, dia diizinkan pulang lebih dulu. Di perjalanan menuju rumah sakit, Puspa mengirim pesan pada Dimas. “Maaf, Dim, kayaknya hari ini kita belum bisa ketemu. Aku ada jadwal mendadak.” Pesan balasan dari Dimas muncul cukup cepat. [Kamu sehat, kan?] Puspa mengetik balasan. “Sehat, kok. Cuma agenda dadakan ini nggak bisa diganggu gugat. Sorry ya.” [Santai, yang penting kamu baik-baik aja.] Puspa tanpa sadar tersenyum tipis. Perhatian dari Dimas sedikit menghangatkan hatinya. “Senyum-senyum …” Jarren tiba-tiba bersuara tanpa menoleh. “Chat-an sama siapa sih?” Begitu suara Jarren terdengar, senyum di bibir Puspa menguap entah ke mana. Pria itu selalu punya cara menghancurkan kebahagiaan Puspa. “Pacar,” jawab Puspa asal sambil mengalihkan pandangan. Mobil mendadak berhenti. Suara decit ban dan aspal terdengar hingga ke dalam mobil. Berikutnya, suara klakson berbunyi nya
Jarren menoleh ke arah Puspa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sesaat, Puspa sanksi dengan ucapan Anisa tentang Jarren. Apakah benar seorang pengacara menakutkan, bersikap seperti ini? Atau memang Jarren hanya bersikap seperti ini di depan Puspa? “Aku cari kamu,” jawab Jarren sambil mengangkat sebuah totebag di depannya. “Kamu tadi pagi nggak sarapan. Mbok maksa aku bawa ini buat kamu.” Jarren mengulurkannya pada Puspa. Wanita itu menerimanya dengan bingung. “Tapi aku udah makan siang,” sahut Puspa. “Itu camilan kering kok. Bisa kamu taruh di meja kamu buat ganjelan,” balas Jarren. “Oke ….” Puspa masih mengernyitkan dahi heran sambil menatap Jarren. “Kamu bentar lagi pulang, kan? Aku tunggu di mobil.” Jarren menunjuk area parkir yang sebenarnya tidak terlihat dari depan ruang guru. “Kamu duluan aja,” sahut Puspa. “Aku mau ketemu teman dulu pulang ngajar.” Raut wajah Jarren spontan berubah. Senyum tipisnya memudar. Dia teringat satu nama pria yang semala
Seolah Jarren hilang dari hadapannya, Puspa langsung bangkit sambil menerima telepon itu. “Iya, Dim?” Puspa melangkah ke arah jendela, menjauh dari Jarren. Sementara pria itu mengernyitkan dahi penuh curiga. Namun dia segera menggeleng begitu mengingat mereka tidak boleh mencampuri urusan masing-masing. Jarren mendengkus kasar. Dia mengambil ponselnya untuk mengalihkan perhatian. Lagipula Jarren tidak bisa mendengar apa yang Puspa bicarakan dengan pria antah-berantah bernama Dimas. “Siapa Dimas? Telepon malam-malam, nggak ingat waktu banget,” gerutu Jarren pelan. Tepat setelah itu, Puspa tertawa terbahak-bahak sangat kencang. Fokus Jarren kembali teralihkan. Dia berhenti menggulir layar. Mau tidak penasaran, tetapi Puspa tertawa sekencang itu. Hati suami mana yang tenang jika berada di posisi Jarren. Iya, kan? “Ya, ya, udah dulu ya …” Suara Puspa kembali terdengar saat wanita itu mendekat. “Kayaknya lebih enak ceritanya kalau kita ketemu langsung. Besok abis ngajar, ak
Saat bibir Jarren hendak mendarat pada bibir Puspa, napas wanita itu justru mengi. Puspa memegang kedua bahu Jarren dan mendorongnya menjauh. “Inhaler-ku.” “Di mana?” Jarren menatap Puspa khawatir. Puspa tidak menjawab, tetapi dia melangkah menuju tasnya di atas meja. Beberapa detik kemudian, Puspa menghirup inhaler-nya. Jarren memegang kedua bahu Puspa. Dia membantu wanita itu duduk di tepi ranjang. Konyol sekali. Asma Puspa kambuh saat Jarren hampir menciumnya? “Ini ciuman pertama kamu?” tebak Jarren sambil mengangkat salah satu alisnya. Puspa melirik sinis. “Apa maksudnya?” Puspa menurunkan inhaler di tangannya. “Ini pernikahan pertamaku. Memangnya kamu pikir aku cewek macam apa?!” “Kayaknya asma kamu sembuh kalau kamu kesal,” timpal Jarren. Kekhawatiran sudah menghilang sepenuhnya dari wajah pria itu. Puspa menggeleng. Dia menaruh inhaler ke meja terdekat. Sementara Jarren kembali ke walk-in closet tanpa pintu. “Sejak kapan kamu sakit asma?” tanya Jarren, berteriak da
Sesaat Puspa lupa kalau Jarren adalah seorang pengacara. Selalu berpikir lima langkah lebih depan daripada orang lain adalah kekuatan pria itu. Orang pintar menyelesaikan masalah di pengadilan. Namun pengacara hebat sepertinya akan mencegah masalah masuk ke pengadilan. Jadi Puspa membaca semua pasal dalam kontrak dengan hati-hati. Dahinya mengernyit. Pernikahan sah dan tinggal serumah. Tidak boleh selingkuh atau memberi harapan kepada orang lain. Wajib saling terbuka mengenai ancaman dan masalah hukum. Memiliki minimal satu anak. Hak dan kewajiban setelah perceraian, termasuk hak anak. Jika salah satu pihak melanggar kontrak, pihak yang dirugikan berhak meminta perceraian lebih awal. Tidak ada yang aneh, kecuali dua. Pertama, pasal yang menyatakan bahwa Puspa tidak boleh membantu keluarga secara finansial atau menandatangani dokumen tanpa persetujuan Jarren. “Kamu akan mengatur uangku?” Puspa mengangkat salah satu alisnya. “Mencegah keluargamu memanfaatkanmu.” Jarren mengoreksi.







