LOGIN“Tolong lakukan apa saja, Nak ….” Suara Rusdi terdengar serak dan patah-patah di antara ringis kesakitan. “Ayah mohon ... Kamu nggak tega, kan, lihat Ayah mati di tangan mereka?”
Puspa membeku, lidahnya kelu saat dipaksa menelan kenyataan pahit di depan mata.
“Jadi, lo yang mau melunasi semua utang ini?” Suara berat dan serak itu menyela.
Pria bertato yang tampaknya adalah pemimpin mereka melangkah mendekat.
Pria itu menyedot dalam-dalam rokok di antara jarinya, lalu tanpa belas kasih menusukkan hembusan asap pekat tepat ke wajah Puspa.
Puspa spontan terbatuk-batuk, matanya memerah dan perih.
Namun sebelum tubuh Puspa semakin merosot, sebuah tangan kokoh mendekap bahunya dari belakang.
Jarren memutar tubuh Puspa, membawa wanita itu bersembunyi di dadanya.
Bahu Jarren menegang. Manik mata hitamnya yang dingin menikam tepat ke arah si pemimpin preman, menyebarkan aura ancaman yang tak main-main.
“Paling lambat utang dibayar malam ini,” cetus si pemimpin preman seraya membuang puntung rokoknya ke lantai. “Kalau enggak, barang-barang di rumah ini kita angkut habis, keluargamu diseret keluar, atau ... salah satu dari kalian kita bikin cacat!”
“Apa?!” Puspa merebut napas dari balik punggung Jarren, wajahnya pias. “Pesan kalian bilang tenggat waktunya besok! Kenapa jadi malam ini?!”
Para preman berbadan besar di ruangan itu saling melempar tatapan bingung.
Kening Jarren mengernyit tajam, menangkap kejanggalan dalam reaksi mereka.
“Pesan apa? Itu pasti dari kelompok lain!” Pemimpin preman itu terkekeh hambar, lalu menunjuk Rusdi dengan ujung sepatunya. “Kacau memang! Keluarga lo ini tukang ngutang di mana-mana!”
“P-pinjaman lain?” bisik Puspa.
“Heh, dengar ya! Kami semua di sini saja beda bos!” gertak pria itu seraya menggebrak meja kayu di dekatnya hingga vas bunga plastik terlempar dan hancur berkeping-keping.
PRANG!
Puspa tersentak hebat, dadanya naik-turun menahan guncangan panik yang menghentak jantungnya.
“Bokap lo ngutang 50 juta di tempat gue,” lanjut si pemimpin preman seraya menuding satu per satu anggota keluarga Puspa. “Nyokap lo ngutang 100 juta. Dan kakak perempuan lo itu ... 150 juta!”
Darah di tubuh Puspa serasa berhenti mengalir. Pandangannya memburam saat menyapu wajah ibu dan kakaknya yang tertunduk menghindari tatapannya.
“Itu baru pokoknya,” tambah si preman dengan senyum culas. “Belum termasuk bunga. Totalnya 500 juta!”
Lutut Puspa lemas. Lidahnya kelu.
Dua ratus juta yang tadi siang saja sudah sanggup menghancurkan fokus hidup Puspa, kini berganti menjadi angka yang semakin mustahil.
“J-jadi ... total semuanya ... 700 juta?” gumam Puspa lirih.
Si pemimpin preman memangkas jarak, memajukan wajahnya yang penuh brewok hingga menyisakan beberapa sentimeter dari muka Puspa. “Telat lima menit malam ini, angkanya berubah jadi 800 juta.”
Sebelum napas pria itu mengotori wajah Puspa, Jarren mendorong dada si preman kasar, memukul mundur pria berotot itu dua langkah ke belakang.
“Mana bukti utangnya?” sela Jarren dingin, suaranya memotong ketegangan di ruangan.
Anak buah preman itu ragu-ragu, lalu menyodorkan lembaran kertas lusuh.
Jarren merebutnya. Dahinya mengernyit saat membaca bukti utang itu.
“Klaim ini nggak sah secara hukum,” tukas Jarren santai, memutar kertas itu di depan wajah si pemimpin preman. “Tanda tangan penjamin atas nama Puspa Manora di lembar ini jelas hasil pemalsuan. Nggak ada verifikasi fisik maupun persetujuan tertulis dari yang bersangkutan.”
Puspa menoleh perlahan ke arah keluarganya. Tatapan matanya sarat akan rasa tidak percaya dan luka mendalam.
Marsya, kakaknya, langsung berseru gagap dengan wajah pucat. “B-bukan aku! Bukan aku yang memalsukan tanda tanganmu, Puspa!”
Tangis Puspa pecah seketika. Air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir deras membasahi pipi.
Hati wanita itu hancur dipukuli kenyataan bahwa keluarganya sendiri yang menyeretnya ke dalam jurang kemelaratan ini.
“Selain itu,” Jarren melangkah maju, memagari Puspa dengan tubuh tingginya. “Penyitaan barang secara sepihak tanpa putusan pengadilan, apalagi ancaman kekerasan fisik yang berpotensi membuat cacat, adalah pidana murni. Saya bisa memenjarakan kalian semua malam ini juga hanya dengan satu panggilan telepon ke polisi.”
Si pemimpin preman menggemeletukkan giginya. Ditatapnya Jarren yang tampak sangat percaya diri dan berpengaruh.
Dia sadar, berhadapan dengan pengacara berjas mahal ini akan menyulitkan pergerakan mereka.
“Cih! Urusan kita belum selesai!” gertak si preman kasar. Dia menunjuk muka Rusdi yang gemetar. “Ingat, malam ini uangnya harus ada!”
Begitu rombongan preman itu menghambur keluar dan deru mesin motor mereka menjauh, keheningan yang menyiksa menyelimuti ruang tamu.
Puspa menyapu air matanya kasar, menatap bergantian ke arah ayah, ibu, dan kakaknya.
“Untuk apa ... untuk apa uang sebanyak itu?!” amuk Puspa dengan suara bergetar.
“Ya buat kebutuhan sehari-hari! Gajimu mengajar di sekolah itu kan kecil, mana cukup buat menanggung kita semua?!” Marsya menyilangkan tangan di dada, memalingkan wajah.
Dada Puspa serasa dihantam batu besar. Rasanya begitu sesak hingga dia kesulitan bernapas.
“Sudah, nggak usah menyalahkan kakakmu!” sahut Rusdi sinis dari lantai, tanpa sedikit pun raut penyesalan atau ucapan terima kasih pada Jarren. “Lagipula, kenapa kamu malah membawa pengacara? Kamu bukannya memberi uang, cuma bikin mereka makin marah! Harusnya kamu langsung bawa solusi!”
“Puspa, kamu nggak bisa cari pinjaman dulu ke sekolah, teman, atau ke mana pun begitu, Nak? Tolong kasihanilah Ayah dan Ibu ....” Liza mengusap bahu Puspa dengan derai air mata.
Puspa memejamkan mata erat-erat, terisak pelan dalam keputusasaan yang mengurungnya.
“Aku usahakan, Bu.”
Sebuah genggaman hangat mendadak mengunci jemari Puspa yang gemetar.
Jarren meremas tangan wanita itu pelan.
“Kamu mau pinjam uang sebanyak itu ke siapa, Puspa?” tanya Jarren tenang, menatap lurus ke dalam manik mata Puspa yang basah.
Puspa hanya menggeleng lemah, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Rusdi mendengkus mendapati gestur kedua anak muda itu. Meski wajahnya lebam dan tubuhnya payah, tatapan pria tua itu menatap Jarren dengan sengit.
“Kamu ini sebenarnya siapa?! Nggak usah ikut campur kalau nggak bisa bantu melunasi!” hardik Rusdi, perlahan berdiri setelah dibantu oleh Liza.
Jarren tidak mengalihkan pandangannya dari Puspa.
Dengan satu tarikan napas tenang, pria itu berdiri semakin tegak, menggenggam erat tangan Puspa di hadapan seluruh keluarga wanita itu.
“Saya calon suami Puspa,” jawab Jarren tegas, suaranya bergaung memenuhi ruang tamu. “Saya akan menikah dengannya, dan saya yang akan melunasi seluruh utang keluarga ini.”
Pertanyaan dingin dari Puspa mengendap di udara, melapisi dinding-dinding kos yang lembap dengan atmosfer yang menusuk.Liza tersenyum penuh kebingungan, matanya mengerjap canggung tatkala menangkap panggilan asing dari bibir putri yang dibesarkannya.“Puspa, kenapa kamu memanggil kami seperti itu?” tanya Liza seraya terkekeh cemas, mengusap lehernya yang tidak gatal.Marsya melipat tangan di depan dada, mendengkus lantang tanpa menyembunyikan nada menghina dari intonasinya. “Mungkin Puspa malu, Bu, punya keluarga melarat kayak kita! Sekarang dia sudah jadi orang kaya, hidup bergelimang harta, sementara kita makin miskin dan terlunta-lunta!”“Puspa memang seharusnya malu,” timpal Rusdi, mengangkat dagunya angkuh seolah memegang kendali. “Keadaan kita yang mengenaskan begini cuma makin membuktikan ke sekeliling kalau dia anak durhaka yang sama sekali nggak peduli sama keluarganya sendiri!”Jarren yang duduk di samping Puspa bergulir menata
Ujung kemeja mahal yang dikenakan Jarren kini basah kuyup oleh lelehan air mata Puspa. Pria itu sengaja tetap membisu, membiarkan keheningan mengalun di antara mereka. Jarren menolak membalas gumaman parau istrinya, bukan lantaran dia kehilangan deretan kata untuk menjawab, melainkan karena pria itu paham betul Puspa tidak benar-benar membutuhkan sanggahan saat ini. Jemari Jarren mengusap punggung Puspa dengan kelembutan yang dalam. Pria itu menyalurkan rasa hangat nan protektif, menjadi sandaran tunggal tatkala seluruh fondasi kehidupan istrinya lebur tak bersisa. Beberapa puluh menit berlalu dalam ketegangan yang merayap. Di dalam sebuah gang sempit yang pengap di sudut kota, deretan langkah sepatu kulit Jarren dan Puspa bergema pelan. Di sebuah kamar kos berukuran empat kali empat meter tanpa sekat, Puspa dan Jarren akhirnya dihadapkan langsung dengan Rusdi, Liza, dan Marsya.
Puspa menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa.Ucapan Jarren mengenai riwayat genetik itu mengalun samar di benak Puspa, tetapi pertahanan dirinya buru-buru menolak gagasan tersebut.“Jangan mengada-ada, Mas,” bisik Puspa parau, mengalihkan wajahnya ke arah jendela. “Asma itu penyakit umum. Banyak orang mengidap hal yang sama tanpa harus punya hubungan darah.”Jarren tak membalas perdebatan itu dengan kata-kata. Pria itu menekan tombol panggil di sisi ranjang.Tak berselang lama, dokter spesialis paru masuk bersama dua perawat.Dengan tenang, sang dokter menjelaskan detail medis secara gamblang bahwa asma alergi atau atopi memiliki tingkat keterikatan genetik yang sangat tinggi, kerap diturunkan langsung dari orang tua kandung ke anaknya.Puspa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa perih merayap di lidahnya. Tangan kanannya mengepal erat, meremas sprei rumah sakit hingga kusut.“Apa ada cara lain buat
Detak jarum jam dinding seolah terhenti sewaktu iris mata Jarren terpaku pada deretan huruf di layar ponselnya. Jemarinya membeku, tak sanggup menggeser tampilan dokumen hukum yang kian menelanjangi kenyataan.“Puspa Manora,” gumam Jarren lirih. “Ada berapa banyak orang di dunia ini yang bernama Puspa Manora?”“Cuma aku,” sahut sebuah suara tenang dari arah belakang.Jarren memutar kepala secara refleks.Di ambang pintu kamar mandi, Puspa berdiri seraya mengeringkan helai-helai rambut basahnya menggunakan selembar handuk kecil.Piyama longgar pinjaman dari Tantri melambai pelan seiring helaan napasnya yang teratur.“Kamu tahu dari mana?” tanya Jarren cepat, menatap istrinya lekat-lekat.Puspa menghentikan usapan handuknya, menatap balik tanpa berniat mengikis jarak. “Aku pernah iseng riset kecil-kecilan di internet sama media sosial. Nggak ada satu pun akun atau artikel yang mencatat nama lengkap Puspa Manora selain mili
Guncangan di dada Tantri merambat cepat melintasi getaran suaranya yang parau.Usapan jemarinya pada lembaran tisu dapur kian kasar, memburu sisa air mata yang tak henti merembes di pelupuk mata Tantri.“Menurut cerita teman Bude, secara sah, bayi perempuan itu seharusnya diasuh oleh nenek dari pihak ayahnya,” tutur Tantri dengan raut pias yang amat kentara. “Tapi ... nggak lama setelah tragedi itu, neneknya juga dipanggil Yang Maha Kuasa. Dari sana, jejaknya putus total. Nggak ada satu pun teman alumni yang tahu siapa yang akhirnya membawa dan merawat bayi itu.”Puspa membisu di tempatnya. Helaan napasnya terasa kian berat dan menyiksa, bagai ada beban tak kasat mata yang dihantamkan tepat di atas ulu hatinya. Rasa perih asing melingkupi dada Puspa.Jarren yang duduk di samping Puspa mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak.“Bude, aku minta kontak teman Bude yang di kepolisian itu. Kasus penelusuran dokumen lama sepert
Sebuah gejolak cemas mendadak merayap naik, membelenggu rongga dada Puspa tatkala matanya menangkap guratan pucat di paras anggun milik Tantri.Tantri melipat bibirnya rapat, jemarinya bergetar pelan saat kembali melayangkan pertanyaan dengan nada teramat hati-hati. “Puspa, ini bukan cuma sekadar kebiasaan bawaan hamil kamu, kan?”Dahi Puspa mengernyit halus. Dia mengusap perutnya yang kian membesar seraya menguraikan jawaban jujur.“Bukan, Bude. Dari sebelum aku kenal Mas Jarren, bahkan dari aku kecil, kalau makan semangka, aku memang selalu telaten misahin bijinya kayak gini.”Jarren yang duduk bersisian di samping Puspa tak lagi sanggup membendung rasa penasarannya.“Ada apa sebenarnya, Bude? Kok Bude kelihatan gelisah dan tegang banget?” Manik mata legam pria itu menatap lekat pada sang bude.Hening menyelimuti ruang makan sejenak.Tantri menghela napas panjang yang terdengar amat berat, mencoba menata emosi yang men







