ANMELDENPuspa segera menarik Jarren keluar, menjauh dari kekacauan di ruang tamu rumahnya. Pria itu tidak melawan.
“Apa maksud kamu?” tanya Puspa sambil menunjuk dada Jarren. “Ini bukan waktunya buat main-main ya, Jarren! Kamu nggak lihat keluarga aku lagi kayak apa sekarang?!” Napas Puspa memburu. Matanya berkaca-kaca saat menatap Jarren penuh amarah. Jarren menangkap pergelangan tangan Puspa. “Aku nggak lagi main-main,” balas Jarren dengan tenang. “Aku serius, Pa.” Puspa menyipitkan mata penuh curiga. Dia melepaskan genggaman tangan Jarren. “Dulu kamu juga kayak gini, nembak aku buat jadi pacar kamu. Tapi akhirnya apa? Aku cuma jadi bahan tertawaan teman-teman karena kamu memutar balik fakta dan bilang kalau aku yang nembak kamu,” ucap Puspa dengan tatapan terluka yang gagal wanita itu sembunyikan. Jarren terperangah. Dia tidak pernah melihat tatapan itu dari Puspa. “Jadi kalau kamu cuma bercanda, kamu pergi aja sekarang. Aku nggak punya waktu kayak dulu lagi buat meladeni kamu!” Puspa menunjuk pagar rumahnya. Beberapa detik berlalu, tetapi Jarren tidak juga beranjak dari tempatnya. “Aku butuh istri,” tukas Jarren dengan dingin. Puspa mengernyitkan dahi. “Satu tahun lalu papaku meninggal,” sambung Jarren. “Sekarang mamaku lagi sakit. Mama ingin melihat aku menikah dan menimang cucu. Kalau kamu nggak suka aku, seenggaknya manfaatkan aja aku. Lebih tepatnya, kita bisa saling memanfaatkan.” “Saling memanfaatkan?” ulang Puspa tidak yakin. “Ya,” jawab Jarren. “Aku bayarin utang keluarga kamu, kamu nikah sama aku, jadi istri aku, dan ….” Jarren tampak ragu melanjutkan ucapannya. “Dan apa?” tanya Puspa tidak sabar. “Dan ya … kamu harus menjalankan peran sebagai istri dengan baik, salah satunya adalah memberikan cucu untuk mamaku,” jawab Jarren sambil memalingkan wajahnya yang memerah. Puspa melakukan hal yang sama. Dia menoleh ke arah lain. Menikah bersama musuh bebuyutannya saja tidak pernah terpikirkan dalam benak Puspa. Apalagi sampai memiliki anak bersama. Sesuatu menggelitik hati Puspa. Bulu tipis di lehernya meremang. Namun Puspa tidak bisa langsung mengabaikan penawaran Jarren. “Kamu serius mau bayarin utang keluargaku? Tujuh ratus juta, lho?” Puspa memicingkan mata lagi. “Serius,” jawab Jarren sambil mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan layarnya pada Puspa. “Lihat sendiri saldoku kalau kamu nggak percaya.” [Rp 942.697.410,-] Puspa membelalak. Jadi Jarren memang kaya? “Ini baru tabunganku di satu bank,” lanjut Jarren seraya tersenyum bangga. “Dasar tukang pamer,” gumam Puspa pelan. “Gimana?” desak Jarren. “Kamu nggak punya pacar, kan? Seharusnya nggak ada yang masalah kalau kita nikah.” Puspa mengembuskan napas pelan. Saat ini Jarren adalah jalan keluar terbaik dan tercepat untuk Puspa. Namun mengingat bagaimana Jarren sering mempermainkannya, Puspa tidak bisa mengatakan kalau pria di hadapannya ini dapat dipercaya. Bagaimana kalau Puspa mengiyakan, dan Jarren hanya menjadikannya sebagai lelucon seperti dulu? “Nggak bisa,” jawab Puspa akhirnya. “Pernikahan bukan buat main-main, apalagi anak, tanggung jawabnya sampai akhirat.” Jarren mendengkus sambil menyugar rambutnya ke belakang. Puspa berbalik, hendak masuk kembali ke rumahnya. Namun sebelum dia menginjakkan kaki ke ruang tamu, suara Rusdi yang sedang memohon menghentikannya. “Tolong pikirkan tawaran kami. Kalian lihat sendiri kalau Puspa sangat cantik dan pintar. Dia juga masih gadis. Bos kalian pasti senang punya istri keempat seperti Puspa.” “Gadis sih, tapi masih perawan nggak? Bisa dicoba dulu?” Gelak tawa dari para debt collector memenuhi ruang tamu. Puspa menggigit bagian dalam bibirnya kuat-kuat. Darah dalam tubuhnya berdesir hangat. Bukan bermaksud berpikiran negatif pada ayahnya atau menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada kakaknya, tetapi di sana ada Marsya. Kenapa Puspa yang ditawarkan pada bos mereka? Dada Puspa terasa sesak. Selama ini dia selalu percaya ayahnya akan melindunginya. Namun hari itu, untuk pertama kalinya, Puspa merasa dirinya hanya barang yang bisa ditukar dengan utang. Satu tetes air mata Puspa jatuh. Dia dengan cepat menghapusnya. Angin berembus dari sisi kiri. Jarren melewati Puspa dengan tangan terkepal kuat. Seakan tahu apa yang akan Jarren lakukan, Puspa menarik lengan baju pria itu. “Jarren!” Puspa menggeleng khawatir. “Mereka melecehkanmu.” Rahang Jarren tampak mengeras. Tatapannya dipenuhi amarah. “Aku harus memberi mereka pelajaran!” “Kita nggak akan menang lawan mereka.” Puspa berusaha mencegah apa pun yang ingin Jarren lakukan dengan tangan besar yang masih terkepal kuat itu. “A-apa tawaranmu tadi masih berlaku?” Kemarahan yang sempat meliputi diri Jarren spontan sirna. Kini wajahnya terlihat lebih cerah, meski masih ada sepercik amarah dalam mata pria itu. “Apa? Kamu mau menikah denganku?” tanya Jarren memastikan. Puspa mengangguk. “Daripada jadi istri keempat bos rentenir, lebih baik aku menikah dengan musuh bebuyutanku.” Jarren tersenyum tipis. “Tapi ingat, Jarren. Kalau kamu cuma menjadikan aku lelucon, aku akan ganggu kamu seumur hidup sekalipun kamu ngumpet ke lubang semut!” ancam Puspa dengan wajah serius. “Oke,” sahut Jarren. “Nggak akan muat juga.” Puspa berdecak. “Satu lagi, aku punya syarat untukmu. Aku ingin menikah secara sah agama dan negara. Jika … jika sesuatu terjadi pada pernikahan kita dan aku ingin bercerai, kamu harus setuju. Hak asuh anak ada padaku, dan kamu harus ikut bertanggung jawab meski kita berpisah.” “Puspa, kamu berpikir terlalu jauh,” komentar Jarren tampak tidak setuju. “Pahamilah posisiku, Jarren. Aku akan menikah dengan musuh bebuyutan yang dulu mempermainkan dan membiarkanku menjadi olok-olokkan satu angkatan selama tiga tahun. Apa syarat dariku berlebihan?” Puspa mengangkat kedua alisnya. Jarren sesaat terdiam. “Baiklah. Aku setuju,” sahut Jarren akhirnya. “Serius?” “Tentu. Sekarang aku bayar dulu utang keluargamu.” Jarren menunjukkan ponselnya. Jarren melangkah ke ruang tamu. Puspa mengikutinya dari belakang. “Berapa total utangnya?” tanya Jarren sambil mengetik sesuatu di ponselnya “Tujuh ratus juta!” “Nomor rekening.” Jarren menatap pria di depannya dengan tajam. Debt collector saling berpandangan. Salah satu dari mereka segera menyebutkan nomor rekening. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi notifikasi. [Transfer Berhasil. Rp 700.000.000,-] Jarren menunjukkan bukti itu pada semua debt collector yang ada di ruangan. Rusdi dan Liza ikut melongo, sementara Marsya menutup mulutnya. Debt collector yang tadi tertawa kini berubah pucat. “Sekarang utangnya lunas.” Jarren lalu mengalihkan pandangannya kepada pria yang tadi melontarkan ucapan cabul. “Kamu yang tadi bilang, 'Masih perawan nggak? Bisa dicoba dulu?'” Pria itu terdiam. “Kenapa sekarang diam? Ulangi!” “Kami cuma bercanda,” sahutnya. “Santai aja, Bang.” Jarren mengangguk pelan. Dia mengeluarkan kartu identitas advokat dari dompetnya, lalu memperlihatkannya sekilas. “Saya pengacara.” Wajah para debt collector berubah tegang. “Ucapan bernuansa seksual yang merendahkan kehormatan seseorang nggak bisa dianggap sekadar candaan. Kalau korban keberatan dan saya dampingi untuk membuat laporan, kalian bisa berhadapan dengan proses pidana sesuai ketentuan yang berlaku.” Jarren menyimpan kembali kartu identitasnya. “Utang keluarga ini sudah lunas. Nggak ada lagi alasan kalian berada di rumah ini.” Tatapannya berubah semakin tajam. “Silakan keluar, sebelum saya hubungi pihak berwenang dan kita selesaikan urusan pelecehan verbal itu di kantor polisi.”“Tentu saja secepatnya,” jawab Jarren tanpa ragu. Radio mobil Jarren memutarkan lagu-lagu hits. Jarren bernyanyi pelan mengikutinya. Sesekali tubuh bagian atasnya ikut bergerak. Puspa mengernyitkan dahi. Namun dia terlalu lelah untuk berkomentar. Begitu tiba di rumah, Jarren dengan hati-hati membantu Puspa turun dari mobil. Pria itu memegangi kedua bahu istrinya. “Jarren, aku nggak lagi sakit,” ucap Puspa. “Iya, tapi di depan ada tangga,” sahut Jarren sambil menunjuk beberapa anak tangga di dekat pintu masuk. “Pelan-pelan.” “Lebay deh kamu,” gerutu Puspa, melepaskan diri dari Jarren. Puspa melangkah lebih dulu, meninggalkan Jarren. “Mpus! Tunggu!” protes Jarren. Dengan mudah Jarren dapat menyusul Puspa. Meski Puspa menolaknya, Jarren tetap menggandeng wanita itu. “Den Jarren,” sapa Mbok begitu mereka masuk ke rumah. “Ibu lagi ada tamu.” “Tamu?” ulang Jarren. Dahi pria itu langsung mengernyit dalam. Begitu pula dengan Puspa. Mbok mengangguk. “Iya. Ibu nerima tamu di kamar
“Aku nggak suka dipermalukan seperti saat kita SMA. Tapi kali ini, aku suka caramu. Makasih udah kasih kesempatan aku buat lihat wajah Yasmeen,” sambung Puspa perlahan tersenyum.Jarren perlahan ikut mengukir senyum. “Akhir-akhir ini kamu sering bilang makasih, ya.”Puspa memutar bola mata. Dia malas mendengar Jarren mengomentari tutur katanya yang memang entah sejak kapan menjadi lebih sopan pada pria itu.“Lalu, apa maksudmu dengan ‘sampai akhir hidup’?” Puspa memiringkan kepalanya.Senyum Jarren memudar. Dia mengalihkan pandangan ke arah jalanan di depan mereka.“Aku hanya berusaha meyakinkan Yasmeen untuk nggak mengganggu aku atau kamu,” jawab Jarren.Untuk sesaat, Puspa tertegun. Seperti ada sesuatu yang menghantam tepat di dadanya.Namun, ini Jarren. Tidak heran jika pria itu bersikap sesuka hati.Puspa ingin menyingkirkan pikiran-pikiran buruk tentang pria itu. Namun, bukankah Jarren sendiri yang membuatnya terus berpikir seperti itu? Sebentar bersikap manis, sebentar bersikap
Di gedung kantor firma hukum JD & Partners. “Aku nggak salah kostum, kan?” tanya Puspa pelan. Dimas menatap Puspa dari ujung kepala sampai kaki. “Enggak, aman, kok.” Puspa mengangguk. Dia melangkah tepat di belakang Dimas. Beberapa karyawan yang tidak sengaja bertemu dengan Puspa tersenyum, mengenali wanita itu sebagai istri Jarren atau sesekali Dimas yang memperkenalkan dirinya pada mereka karena tidak semua datang saat pesta anniversary. “Itu ruangan kerja Pak Jarren.” Dimas menunjuk ke sebuah ruangan paling ujung begitu pintu lift terbuka. “Seharusnya beliau sudah selesai. Ayo!” Mereka melanjutkan langkah. Namun sebelum sampai di depan pintu, suara dari dalam ruangan sudah terdengar. “Bapak memecat saya?!” teriak seorang wanita dari dalam. Langkah Puspa melambat. “Kamu sudah dengar apa yang dikatakan oleh divisi HR. Kenapa bertanya lagi pada saya?” Kali ini Puspa mengenalinya sebagai suara Jarren. “Saya akan adukan ini ke Ibu Saras!” ancam wanita itu. “Apa hubungannya d
“A-apa?” Puspa terbata-bata, masih berusaha mengumpulkan kembali akal sehatnya.Puspa segera menurunkan tangannya yang semula sedang meraba bibirnya yang terasa bengkak.“Singkirkan pikiran burukmu tentang aku,” ulang Jarren dengan sabar sambil mengusap lembut garis rahang Puspa. “Dan juga pikiran kotormu.”“Aku nggak berpikir kotor,” bantah Puspa cepat sambil melangkah mundur. “Nggak pernah sekali pun! Tapi kalau berpikir buruk tentangmu, ya. Itu pun karena sikap dan ucapanmu sendiri.”Jarren tertawa lembut.Puspa mendengkus. Dia hampir berjongkok untuk merapikan isi pouch-nya yang bersebaran, saat Jarren menahan wanita itu.“Biar aku aja,” tukas Jarren.Pria itu berjongkok. Dia memasukkan satu per satu barang Puspa ke dalam pouch.Jarren cukup lama memandang test pack itu, sebelum akhirnya benda panjang itu bergabung dengan barang Puspa yang lain di dalam tas kecilnya.“Besok kamu izin setengah hari ke sekolah.” Jarren mengulurkan pouch ke arah Puspa. “Aku akan kosongkan jadwal sian
“Puspa.” Suara Jarren terdengar. Puspa dan Dimas sama-sama menoleh ke arah yang sama. Sesaat tatapan mereka bertemu. Jarren mengalihkan pandangannya pada Dimas dan mengangguk tipis. “Aku ke dalam dulu, Puspa,” pamit Dimas. Tanpa menunggu respons Puspa, pria itu melangkah pergi. Meninggalkan Puspa dan Jarren di sini. Puspa berdiri berhadapan dengan Jarren. Tidak cukup dekat untuk saling berbisik, tetapi kecanggungan yang Puspa rasakan begitu kentara. Wanita itu menggigit pipi bagian dalam. “Dansanya udah selesai?” Puspa memecah keheningan. Jelek sekali pertanyaannya. Namun Puspa tidak tahu harus bertanya apa. Jarren mengangguk. “Pasangan dansaku kabur.” Puspa menghela napas panjang. “Dimas bilang, kamu memutus kerja sama dengan perusahaan tempat para wanita yang menggangguku bekerja,” ucap Puspa mengalihkan pembicaraan. Jarren mengikis jarak dengan Puspa. Dia meraih pergelangan tangan wanita itu, lalu menatap Puspa tanpa sedikit pun terlihat gugup. “Itu keputusan bisnis.”
Dada Puspa terasa kosong. Dia menatap Jarren tanpa berkedip.Jadi itu yang ada di pikiran Jarren? Perceraian?Bukan bayi mereka, yang Puspa pikir akan mengeratkan hubungan mereka.Apa yang terjadi dengan sikap manis Jarren sebelum Puspa memberitahu soal kehamilan?Apa semuanya hanya sandiwara Jarren demi bisa membuat Puspa merasa lebih malu daripada keisengannya di masa SMA?Menikahinya, bersikap manis, menghamilinya, lalu menertawakan kebodohan Puspa.Air di pelupuk mata Puspa mulai menggenang. Puspa tersenyum miring, tawa lembut lolos dari bibirnya.Bagaimana bisa Puspa masuk ke jebakan Jarren lagi? Rupanya biar sepuluh tahun berlalu pun, Puspa masih jatuh ke lubang yang sama.Puspa menelan ludah dengan susah payah.“Tenang. Kontrak kita memang akan selesai, kan?” Puspa memaksakan senyum.Jarren terdiam.Puspa perlahan menghentikan langkah, melepaskan genggaman tangan Jarren dan juga dirinya dari pria itu.“Puspa,” panggil Jarren lirih.Tidak ingin mengundang perhatian lagi, Puspa b







