ログインPuspa membeku. Jantungnya berdentum hebat, sementara netranya terpaku menatap sobekan surat gugatan cerai yang baru saja dihancurkan tanpa ampun oleh Jarren. Belum sempat Puspa menguasai diri, Jarren mendadak bangkit berdiri. Dia menyambar dan menarik lembut tangan Puspa, memangkas jarak di antara mereka. “Kamu akan tetap jadi istriku. Selamanya, Puspa,” bisik Jarren sambil menatap Puspa lekat. Tubuh Puspa spontan terangkat akibat sentakan lembut itu. Amarah dan protes seketika bergelora di dada. “Jarren, kamu nggak bisa–” “Ayo kita akad ulang dan persiapkan resepsi pernikahan kita yang sesungguhnya,” potong Jarren cepat tanpa memberi cela. “Itu kabar baik yang sebenarnya mau aku sampaikan tadi.” Puspa tertegun. “Akad ulang?” ulang Puspa tidak percaya. Jarren memutar tubuhnya, berdiri tepat di hadapan Puspa. Pria itu menangkup kedua belah pipi istrinya dengan penuh kasih sayang.
“Aku mempekerjakan kamu bukan untuk melaporkan semuanya pada Puspa,” tukas Jarren cepat, berusaha memotong celotehan asisten pribadinya. Dimas mengulas senyum jenaka tanpa dosa, menyahut santai tanpa rasa takut. “Bapak malu?” Puspa tidak sanggup menahan kekehan tipis saat mendapati rona merah tipis merayap di sekitar telinga dan pipi suaminya. Jarren berdeham keras, membetulkan letak jam tangannya demi menutupi rasa canggung sebelum mengalihkan topik pembicaraan. “Empat babysitter profesional akan datang sebentar lagi, Mpus,” tutur Jarren seraya menatap Puspa lekat-lekat. Puspa mengangguk pelan, menyapu pandangannya ke seluruh sudut rumah yang kini terasa hangat dan hidup. “Terima kasih banyak sudah mempersiapkan semuanya untukku dan anak-anak, Mas.” Jarren menggeleng. Pria itu mengikis jarakdi antara mereka lalu berbisik parau, “Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Pus
Garis-garis halus di sudut mata Jarren melengkung sempurna kala pupil matanya membesar. “Aku suka banget lagi, Mpus,” puji Jarren antusias, suara baritonnya bergetar pelan. Puspa tanpa sadar terkekeh renyah, merasakan kehangatan yang meletup-letup di dalam dadanya. “Artinya juga bagus banget, Mpus,” sambung Jarren lagi seraya mengusap layar ponselnya, membaca baris demi baris makna kata yang baru saja mereka rangkai. “Biantara Bintang Dewanora, penguasa udara yang berjiwa bebas, menjadi penunjuk arah sekaligus cahaya malam yang indah. Nama yang sangat cocok untuk seorang kakak.” Puspa mengangguk setuju, matanya berbinar terang. Momen indah itu berlanjut dengan diskusi hangat yang mengalir tanpa sekat. Dengan ketelitian dan penuh kasih sayang, jemari mereka bergantian memilah lembaran makna, merangkai setiap huruf untuk ketiga jagoan lainnya. Hingga akhirnya, disepakatilah deretan nama indah un
Belum sempat bibir Puspa merangkai jawapan atas permohonan tulus itu, daun pintu kamar VIP mendadak terdorong dari luar. Saras melangkah masuk dengan binar mata berseri-seri, tangannya melambai pelan seraya memegangi dada dengan raut wajah penuh kegembiraan. “Puspa, Jarren, bayi-bayinya mau datang!” seru Saras penuh antusias, tak sanggup menyembunyikan getaran bahagia di suaranya. “Ya Allah, mereka semua tampan-tampan sekali!” Jarren spontan berdiri tegak, merapikan letak kemejanya seraya mengambil beberapa langkah mendekati pintu. Senyum tipis yang sarat keharuan perlahan mengembang di bibir Puspa kala dua perawat berseragam merah muda melangkah masuk. Masing-masing mendorong satu keranjang bayi berisi dua sosok mungil berdampingan. “Selamat siang, Ibu Puspa, Bapak Jarren,” sapa salah seorang perawat dengan ramah. Atmosfer kamar inap yang tadinya riuh oleh emosi mendadak diliputi kehangatan ya
“Tidur saja nggak apa-apa, Ibu. Prosedur bedahnya sudah hampir selesai.” Dokter anestesi yang berdiri menatap monitor irama jantung di sisi ranjang tersenyum menenangkan. Bagaikan mendapat izin, seluruh pertahanan kesadaran Puspa meloloskan kendalinya. Kegelapan yang amat hangat dan damai seketika menyapu habis sisa rasa lelah wanita itu. Suara pendar pendingin udara yang mengalun lembut menjadi hal pertama yang menyapa indra pendengaran Puspa kala matanya perlahan terbuka. Langit-langit ruangan bernuansa krem yang luas dan lampu temaram menyadarkannya bahwa Puspa telah dipindahkan ke kamar perawatan kelas VIP. Sensasi hangat di punggung tangannya seketika menguat. Jarren yang duduk di kursi samping ranjang spontan menegakkan tubuh tegapnya. “Puspa? Kamu dengar aku, Sayang?” bisik Jarren lembut, menatap dalam ke iris mata istrinya. Puspa mengangguk sangat pelan, lalu mengedipkan kelopak matany
“A-apa, Mas?” bisik Puspa parau, tidak yakin dengan pendengarannya sendiri. Jarren tidak menarik kembali ucapannya. Pria itu justru mendaratkan keningnya di pelipis Puspa seraya merengkuh jemari istrinya yang membeku. “Aku cinta kamu, Mpus,” ulang Jarren tanpa ragu sedikit pun sambil menekankan setiap kata. “Sangat cinta.” Puspa hendak membuka bibirnya, menuntut penjelasan atas pengakuan yang hadir di detik-detik pertaruhan nyawa ini. Namun suara dokter spesialis dari balik tirai steril di batas dadanya memotong percakapan itu. “Ibu Puspa, berasa saya colek nggak?” tanya dokter santai. Puspa mengedipkan matanya, menyesuaikan fokus. “Enggak ... enggak berasa apa-apa, Dokter.” “Oke, Ibu, dibawa santai ya,” timpal sang dokter menenangkan. “Sekarang operasi sesar sudah sangat canggih. Nanti begitu dedek bayinya keluar semua dan Ibu pindah ke kamar rawat inap, Ibu sudah bisa jalan lag







