LOGINPuspa terdiam. Tangan kirinya bergerak pelan mengusap sisi bibir dengan lembaran tisu, menahan gejolak emosi yang mendadak menyeruak di ulu hati. Saras menarik napas pendek yang terdengar amat berat. Manik matanya merebakkan pendar penyesalan. “Ucapan Mama waktu itu terlampau kejam, Puspa. Jarren benar, seharusnya Mama jadi orang yang paling mengerti kondisimu dibanding siapa pun di rumah itu. Kita ini sama-sama perempuan, sama-sama seorang ibu. Nggak akan ada satu pun ibu di dunia ini yang rela dipisahkan dari anak-anaknya.” Hati Puspa bergetar hebat. Dia menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan sudut matanya yang mendadak basah oleh lelehan bening. “Mama benar-benar minta maaf ya, Sayang.” Saras mempererat usapan tangannya di punggung jemari Puspa. Sebuah senyum penuh haru perlahan terukir di belah bibir Puspa. Dia mendongak, menatap paras paruh baya yang kini tak lagi memancarkan keangkuhan.
“Saya,” sahut Jarren cepat tanpa ragu.Puspa menoleh pelan, menatap suaminya dengan mata mendingin. “Aku belum bilang kamu harus mendampingiku, Mas.”Jarren mengatupkan bibirnya rapat. Rasa ingin menegaskan statusnya sebagai suami dan ayah dari anak-anak itu bergolak di dada, tetapi dia menahannya kuat-kuat. Jarren menarik napas pendek seraya menatap Puspa dengan binar memohon. “Aku tahu, tapi aku cuma berharap kamu mengizinkanku ada di sana.”Puspa memalingkan wajah kembali ke arah dokter tanpa memberikan persetujuan.Di pelataran rumah sakit, angin sore berembus dingin membawa aroma tanah basah. Dokter telah menetapkan tanggal persalinan yang tinggal menghitung hari.Jarren membantu Puspa duduk di kursi roda, lalu mendorongnya perlahan menuju mobil.Kali ini, Puspa tidak menolak bantuan itu karena stamina fisiknya memang telah terkuras habis.Saat tiba di samping pintu mobil, Jarren membungkukkan tubuhnya sed
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar menangkap siluet Puspa yang tengah terduduk di tepi ranjang. Dia perlahan mengelus perut, keempat janinnya semakin aktif hingga terkadang sering membuat Puspa meringis.Dua bulan menjelang persalinan, Puspa tidak lagi selincah dulu. Berjalan beberapa langkah saja sudah membuat napasnya mengayun pendek. Namun, wanita itu menolak menyerah pada keadaan.Di atas meja belajar yang tertata rapi, lembaran lembar kerja siswa bersandingan dengan tumpukan buku latihan ujian.Puspa membagi waktunya dengan cermat untuk memeriksa tugas murid, merapikan administrasi sekolah, lalu beralih mempelajari materi tes CASN.Di sela-sela waktu istirahatnya, Puspa mempraktikkan latihan pernapasan dan gerakan relaksasi ringan khusus kehamilan kembar empat.Puspa mengulurkan tangan, meraih sebuah buku catatan kecil berpita. Ketika membalik lembarnya, terhampar deretan nama indah yang disiapkannya untuk keempat b
Genggaman jemari Jarren pada lengan Puspa merapat kuat. Ujung payung hitam yang dipegangnya miring, membiarkan beberapa bulir air hujan menyentuh bahunya sendiri demi memastikan Puspa terlindung sepenuhnya.“Kalau kamu marah sama pamanmu, jangan bawa-bawa pernikahan kita, Puspa!” tegur Jarren dengan nada suara rendah yang sarat akan keputusasaan dan emosi yang menahan diri.Puspa menatap Jarren tajam, tatapannya menghujam lurus ke dalam manik mata suaminya. Namun, tak ada sepatah kata pun yang lolos dari bibirnya.Ucapan Jarren barusan seketika menyentak dada Puspa, menyadarkannya betapa amarah kepada Rusdi telah membakar habis akal sehatnya.Puspa teramat murka, begitu membenci kebohongan yang ditinggalkan paman dan bibinya hingga Puspa bingung bagaimana cara menata kembali serpihan hidupnya yang hancur.Jarren melangkah semakin merapat, merengkuh tubuh Puspa ke dalam dekapannya.“Tenang dulu, ya?” bisik Jarren tepat di dekat telinga istrinya, mengusap punggung Puspa dengan irama ter
Jarren melangkah lebih dekat, menyusupkan telapak tangannya yang hangat untuk menangkup lembut kedua bahu Puspa. Tatapan matanya terkunci lurus pada paras pucat istrinya.“Kita nggak akan pernah tahu jawabannya sebelum mencoba, Mpus,” bisik Jarren mantap.Puspa menghembuskan napas panjang, menundukkan kepala seraya mengangguk pelan. Dia menyerahkan sepenuhnya proses hukum dan administrasi ekskavasi itu ke dalam genggaman Jarren.Hari-hari berikutnya berjalan cepat.Sementara Jarren sibuk mengurus birokrasi dan membongkar dokumen pemakaman lama, Puspa memilih memfokuskan sisa energinya untuk merenovasi rumah peninggalan neneknya.Secara perlahan, menggunakan sisa tabungan dan bujet yang dimilikinya, Puspa memperbaiki dinding-dinding yang retak, mengganti atap yang bocor, serta mengecat ulang ruangan-ruangan kosong itu.Sesekali, Anisa dan Dimas datang berkunjung ke lokasi. Mereka membantu Puspa menengok para tukang bangunan, memba
Puspa menajamkan indra pendengarannya. Jantungnya berdentum kencang.Puspa menggegam erat ujung gaun hamilnya, menanti jawaban dari pria itu. Dia ingin mendengar apa yang akan keluar dari bibir Jarren sewaktu pria itu merasa tidak ada siapapun yang mengawasi, apakah pengakuan jujur, atau sekadar retorika manis tanpa makna.“Kalau kamu memang mencintainya, kamu seharusnya perjuangkan Puspa,” cecar Dimas lagi, memotong hening dengan nada menuntut yang tak sabaran. “Dia sedang hamil besar. Hormon dan emosinya pasti berantakan akibat beban bertubi-tubi. Bisa jadi perceraian itu bukan hal yang benar-benar Puspa inginkan dari dasar hatinya.”Puspa tanpa sadar meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.Keheningan yang menyiksa kembali merayap di antara kedua pria itu.Jarren bergeming, berdiri tegap bagai patung pualam tanpa menampilkan riak ekspresi apa pun di wajah tegapnya.Pria itu hanya menatap lurus ke arah Dimas dengan i







