LOGINSiang berganti malam, hari berganti hari, dan waktu seolah berlari tanpa memberikan Dera kesempatan untuk menghentikannya. Satu minggu yang lalu ia masih sibuk memikirkan skripsi, mengeluhkan hidupnya yang berantakan, bahkan sempat pergi bersama Zidan untuk mencari hiburan di arena balap.
Sekarang, tanpa pernah benar-benar menginginkannya, Dera sudah sampai pada hari yang selama ini bahkan tidak pernah masuk ke dalam daftar rencana hidupnya. Hari pernikahannya. Hari yang seharusnya menjadi salah satu momen paling membahagiakan bagi seorang perempuan justru terasa begitu asing bagi Dera. Tidak ada rasa gugup yang menggebu-gebu, tidak ada senyum bahagia yang terus menghiasi wajahnya, bahkan tidak ada kegembiraan ketika menyadari bahwa sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri. Yang ada hanya perasaan kosong. Sedih, mungkin. Bingung, sudah pasti. Bahagia? Dera sendiri tidak tahu apakah kata itu pantas digunakan untuk menggambarkan perasaannya hari ini. Ia hanya duduk diam di depan cermin, mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkan untuknya. Penampilannya jauh lebih rapi dibandingkan biasanya. Rambutnya ditata, wajahnya dirias, dan gaun yang dikenakannya membuat sosok Dera terlihat sangat berbeda dari perempuan yang sehari-hari lebih sering tampil sederhana dan tidak peduli dengan penampilan. Namun, sehebat apa pun orang-orang berusaha membuatnya terlihat cantik, tidak ada yang mampu mengubah tatapan kosong di kedua matanya. “Der…” kata Zea. Suara Zea terdengar dari belakang. Dera tidak menoleh. “Gue nggak pernah nyangka kalau lo bakal nikah secepat ini.” Lanjut Zea. Zea berdiri di samping beberapa sahabat Dera lainnya. Ia tersenyum kecil, tetapi jelas sekali senyum itu dipaksakan. Sulit bagi mereka untuk benar-benar bahagia ketika tahu bagaimana awal mula pernikahan tersebut terjadi. “Mau bahagia karena salah satu sahabat gue mau nikah pun kayaknya nggak bakal bisa,” lanjut Zea pelan. “Mata lo udah menjelaskan semuanya.” Dera tetap diam. Di kamar itu, hampir seluruh sahabat dekatnya berkumpul. Tidak ada yang mau melewatkan hari penting tersebut. Mereka bahkan rela mengosongkan jadwal masing-masing, termasuk jadwal kuliah, hanya untuk menemani Dera. Mereka semua mengenakan pakaian formal. Seharusnya mereka datang sebagai sahabat yang mengantar salah satu dari mereka menuju altar, tertawa, bercanda, kemudian menangis haru ketika melihat Dera resmi menjadi seorang istri. Namun hari ini berbeda. Tidak ada yang benar-benar tahu ekspresi seperti apa yang harus mereka tunjukkan. Mereka tahu Dera tidak menikah karena jatuh cinta. Mereka tahu Dera hanya menggantikan Dela. Dan mereka juga tahu, kalau bukan karena keadaan dan kesepakatan tiga puluh lima persen saham tersebut, mungkin Dera tidak akan pernah bersedia berada di posisi ini. Arkan yang sejak tadi berdiri di dekat jendela akhirnya mendekati Dera. Ia menatap sepupunya itu beberapa saat sebelum kemudian merangkul bahunya. “Gue juga nggak tau harus bilang apa,” ujar Arkan. “Gue mau bahagia karena salah satu orang yang gue anggap saudara akhirnya menikah, tapi di sisi lain gue tau lo nggak benar-benar menginginkan pernikahan ini.” Dera masih diam. “Sebagai kakak lo, gue cuma mau bilang satu hal.” Arkan menepuk bahunya pelan. “Gue bakal terus dukung lo meskipun suatu hari lo berada di jalan yang salah. Ingat selalu kata gue. Apa pun yang terjadi, gue tetap bakal dukung lo.” Dera tidak memberikan jawaban. Tatapannya masih kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain. Bahkan sejak tadi ia belum mengatakan satu kata pun. Zidan yang melihat keadaan itu akhirnya tidak tahan. “Der, jangan diem kayak gini terus.” Dera tetap diam. “Gue jadi bingung,” lanjut Zidan. “Antara mau ngelepasin lo atau bawa kabur lo sekarang.” Beberapa orang langsung menoleh. “Lo bener-bener dipaksa sampai segitunya, ya?” tanya Zidan sekali lagi. Dera masih tidak bergeming. Reina yang duduk tidak jauh dari sana ikut membuka suara. “Bener nih, jangan diem terus. Mana seorang Dera yang selalu pecicilan, frontal, dan nggak tau malu itu?” Ia menghela napas dramatis. “Kalau lo kayak gini terus, kita juga bingung antara mau mutilasi orang tua lo sekarang atau nggak.” Zidan menahan tawa. Reina melanjutkan dengan wajah serius. “Kita siap jadi narapidana demi lo, Dera.” Beberapa sahabat lainnya tertawa kecil. Namun Dera tetap tidak ikut tertawa. Pikirannya masih berkelana ke mana-mana. Kemarin-kemarin ia masih bisa menjalani hidup seperti biasa. Ia masih bisa bercanda, balapan, mengganggu Zidan, memikirkan skripsi, bahkan mengeluh tentang calon suaminya tanpa benar-benar memikirkan hari pernikahan itu akan tiba. Namun hari ini semuanya berbeda. Hari ini benar-benar nyata. Hari ini Dera akan menikah. Tidak ada lagi alasan untuk mengatakan semuanya hanya sementara. Tidak ada lagi kemungkinan bahwa pernikahan itu masih lama. Hari ini adalah hari yang sesungguhnya. Aldo akhirnya ikut mendekat. “Der, gue yakin lo bisa ngelewatin semuanya.” Aldo tersenyum tipis. “Ada kami yang selalu ada di samping lo dalam kondisi apa pun. Lagian ini juga keputusan yang lo buat, kan? Kenapa sekarang lo malah kayak gini?” Dera menghela napas panjang. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. Mungkin memang suasana hatinya sedang berada di titik paling buruk. Dera memang bisa berubah dalam waktu singkat. Namun entah mengapa hari ini terasa berbeda. Lebih ekstrem. Lebih kosong. Ia bahkan tidak memiliki keinginan untuk mengeluarkan suara. Hitung-hitung menghemat tenaga, pikirnya. Hari ini pasti akan terasa sangat panjang. Setelah akad, masih ada banyak hal yang harus dijalani. Rasa lelahnya akan semakin menumpuk, sementara beban hidupnya jelas tidak akan berkurang. Akhirnya Dera bersuara. “Gue baik-baik aja kok.” Semua mata langsung tertuju kepadanya. “Nggak usah khawatirin gue.” sambung Dera lagi. Zea menghela napas lega karena akhirnya Dera berbicara. Dera kemudian melanjutkan dengan wajah datar. “Gue juga lagi berusaha supaya bisa bahagia sama pernikahan gue.” Dera berhenti sebentar. “Tapi gue lagi mikirin nasib gue semisal baru seminggu nikah langsung kena cerai.” Semua orang terdiam. Beberapa detik kemudian, mereka saling berpandangan. Mereka tadi sudah capek-capek mengkhawatirkan Dera yang sejak pagi hanya diam membisu seolah kehilangan gairah hidup. Ternyata isi kepala perempuan itu justru sudah berjalan terlalu jauh. Zidan memijat pelipisnya. “Gue kira lo lagi depresi.” “Emang gue nggak boleh mikirin masa depan?” “Bukan begitu.” “Terus?” “Lo belum nikah aja udah mikirin cerai.” Dera mengangkat bahu. “Antisipasi.” Flora yang baru saja pulang dari luar negeri beberapa waktu lalu akhirnya tidak tahan ikut berkomentar. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ngapain sih lo mikirin yang kayak begituan?” tanya Flora. Dera menoleh. “Lo cantik, malah cantik banget. Sekali-kali main sama kita ke salon, jangan main sama kaum batangan terus.” Reina langsung mengangguk. “Iya. Jadi laki begini kan bawaan lo.” Dera mengembuskan napas kesal. “Perumpamaan doang tadi.” Dera melirik Reina. “Lagian si Feli juga kelakuannya nggak beda jauh dari gue. Sekali-kali ikut komentarin gaya hidup dia, jangan gue doang.” Semua orang spontan melihat ke arah Feli. Feli memang baru saja pulang dari luar negeri bersama Flora. Berbeda dari yang lain, ia lebih banyak diam. Feli jarang berbicara jika tidak ada hal penting yang harus disampaikan. Namun begitu salah satu sahabatnya membutuhkan bantuan, solidaritasnya tidak perlu diragukan lagi. Saat ini Feli bahkan sedang duduk menyudut sambil memainkan sebuah pisau buah yang kebetulan berada di kamar Dera. Zidan menunjuk ke arahnya. “Nggak bakalan berani sih.” “Kenapa?” “Dia bawaannya pengin mutilasi orang.” Reina mengangguk cepat. “Lihat aja tuh anak lebih milih mojok sambil mainin pisau buah di kamar lo. Gue aja ngeri.” Feli hanya melirik mereka sebentar. Tidak mengatakan apa pun. Zidan kembali menatap Dera. “Lagian yang lagi kita omongin itu lo. Lo yang udah sold out duluan tanpa kita duga.” Dera langsung mendengus. “Sekate-kate.” Dera menyandarkan tubuhnya. “Gue sold out aja bukan karena kehendak gue sendiri.” Beberapa orang kembali terdiam. “Jujur, dalam hidup gue juga nggak pernah kepikiran bakal nikah kayak gini.” Suasana kamar kembali hening. Tiba-tiba... Cklek. Suara knop pintu yang diputar membuat seluruh orang di dalam kamar langsung membungkam mulut. Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk dengan senyum manis yang terlihat begitu tenang. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyambutnya dengan hangat. Wanita itu adalah Mamah Dera. “Dera…” Tidak ada jawaban. “Akhirnya kamu sebentar lagi bakal sah jadi istri orang.” Mamah tersenyum. “Selamat ya, Nak.” Dera masih menatap ke depan. “Nanti Mamah yang antar kamu ke bawah untuk mengikuti akad yang akan dilontarkan calon suami kamu.” Dera tidak bergerak. Tidak tahu harus memberikan ekspresi seperti apa. Semua terasa semu. Ia bahkan tidak mengerti kenapa Mamahnya terlihat begitu bahagia. Bukankah semua ini terjadi karena kehendak mereka? Mamah kembali mendekat. “Dera, kamu juga cantik sekali, Nak. Mamah sampai pangling. Soalnya kamu nggak pernah dandan.” Tangannya hampir menyentuh bahu Dera, tetapi Dera sedikit menggeser tubuhnya. “Mamah yakin calon suami kamu nanti bakal terpesona sama kamu.” Mamah tersenyum. “Ayo ke bawah sekarang. Mamah yang akan tuntun kamu.” Dera menggeleng pelan. Berkali-kali ia dikecewakan oleh wanita yang berdiri di hadapannya. Semua kejadian itu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Sekarang Mamahnya datang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah mereka adalah keluarga bahagia. Seolah Dera tidak pernah terluka. “Gue udah ada mereka yang siap nganterin gue ke mana pun.” ujar Dera akhirnya. Suaranya tenang, tetapi dingin. “Jadi Mamah nggak perlu basa-basi lagi atau melakukan pencitraan kayak gini sama gue.” Mamahnya tampak terkejut. “Dera, apa maksud kamu? Mamah tidak seperti yang kamu bayangkan.” Dera tertawa kecil. “Realitanya memang kayak gitu.” Dera akhirnya menatap Mamahnya. “Mamah terlalu lemah. Terlalu naif. Terlalu… ya, entahlah.” Dera menarik napas. “Bahkan buat nolak permintaan Ayah yang nggak masuk akal aja Mamah nggak berani.” Mamah terdiam. “Tau nggak, secara nggak sadar Mamah udah nyakitin salah satu anak yang dilahirin sama Mamah sendiri.” mata Dera mulai berkaca-kaca. “Sebenarnya gue anak Mamah atau bukan, sih?” Pertanyaan itu membuat seluruh sahabat Dera terdiam. Mereka menatap Dera dengan iba. Selama ini mereka memang sering mendengar cerita mengenai keluarganya. Namun Dera jarang menceritakan semuanya. Ia biasanya hanya mengambil bagian yang menurutnya perlu diketahui, kemudian menutup sisanya dengan candaan. Sekarang, untuk pertama kalinya mereka melihat sendiri luka yang selama ini disembunyikan Dera. “Nak…” suara Mamahnya melemah. “Maafin Mamah.” Dera terkekeh pelan. Baginya, orang tuanya sudah seperti mati sejak lama. Bukan secara fisik, tetapi dalam hidupnya. Ia sudah terlalu lama menjalani semuanya tanpa mereka. Dan alasan Dera masih mampu bertahan sampai sekarang hanyalah karena ada orang-orang yang bersedia menerima dirinya dalam keadaan apa pun. Arkan. Zidan. Aldo. Reina. Zea. Flora. Feli. Dan keluarga Arkan yang selama ini memberikan kepadanya sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dari keluarganya sendiri. Kasih sayang tanpa syarat. “Andai gue bisa milih…” Dera menatap Mamahnya. “Andai gue bisa muter waktu. Andai gue tau alur hidup gue bakal sekacau ini…” Air mata mulai menggenang, tetapi Dera menahannya. “Gue nggak akan mau dilahirin dari rahim Mamah.” Mamahnya menunduk. Namun Dera melanjutkan. “Tapi terima kasih udah ngelahirin gue ke dunia.” senyum Dera terasa pahit. “Dan terima kasih juga udah menorehkan banyak luka buat gue.” Mamahnya terdiam. Tidak ada bantahan. Tidak ada alasan. Sebab semua yang dikatakan Dera memang benar. Ketidakberdayaan Mamah untuk melindunginya telah membuat Dera tumbuh dengan luka yang semakin lama berubah menjadi kebencian terhadap kedua orang tuanya sendiri. Dera akhirnya menarik napas panjang. “Mamah nggak perlu ngapa-ngapain di sini.” Dera menoleh kepada para sahabatnya. “Semuanya udah diambil alih sama mereka. Mereka yang bakal nganterin gue ke bawah sebentar lagi.” Dera kembali menatap Mamahnya. “Mamah bisa kembali ke bawah. Gabung sama anak dan suami tercinta Mamah.” Dera tersenyum tipis. “Gue nggak apa-apa sendiri.” Kalimat itu mengandung lebih banyak makna daripada yang terdengar. Dera tidak ingin menghancurkan hari sakralnya sendiri. Ia juga tidak ingin membuang tenaga dengan terus bertengkar. Hari ini adalah hari yang harus ia jalani dengan baik, suka atau tidak suka. Terlebih lagi, keluarga calon suaminya bukan keluarga sembarangan. Dera tidak boleh bertindak seenaknya. Setidaknya, ia harus menjaga citra dirinya di depan keluarga Dafi. “Mah,” panggil Dera sekali lagi. “Gue mohon. Pergi.” Suaranya melembut. “Gue bisa sendiri nanti. Ada mereka yang bakal nganterin gue ke bawah dan ketemu sama suami masa depan gue.” Dera menunduk sebentar. “Maaf.” kemudian Dera mengangkat wajahnya. “Dan terima kasih.” Tidak ada lagi yang dikatakannya. Mamah Dera hanya bisa berdiri diam, menatap putrinya yang sebentar lagi akan meninggalkan masa lajangnya. Sementara Dera kembali memandang pantulan dirinya di cermin. gaunnya sudah siap. Rambut sudah tertata. Wajah sudah dirias. Semua orang sudah menunggunya. Dan di bawah sana, seorang pria bernama Dafi Ezekiel Addison juga sedang menunggu perempuan yang akan menjadi istrinya. Dera menarik napas panjang. Hari ini bukan lagi tentang apa yang ia inginkan. Hari ini tentang bagaimana ia akan bertahan menjalani sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan. Ia berdiri perlahan. “Udah waktunya, ya…” Dan untuk pertama kalinya hari itu, Dera memaksa dirinya tersenyum. Karena sebentar lagi, ia akan berjalan menuju kehidupan yang sama sekali tidak pernah ia pilih. ******Pagi-pagi sekali, Dera dikejutkan dengan dering telepon yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Jadi Dera yang hendak menyiapkan sarapan untuk dia dan Dafi memilih untuk berhenti, skripsi akhirnya lebih penting. Kemarin, baru saja dia mendapatkan ACC untuk bagian pembahasan. Sebentar lagi penderitaannya akan berakhir. Arkan juga sudah menyepam pesan sejak kemarin. Mungkin karena Dera belum sempat membuka ponsel, jadi baru sempat membukanya sekarang. Ada ajakan nongkrong kemarin, tapi tidak jadi karena Dera tidak ikut serta dengan mereka."Harus cepet, bentar lagi wisuda!" seru Dera penuh semangat. Dera segera bergegas, mengambil tasnya dan memasukkan laptop serta berkas-berkas penting yang sudah disiapkan sejak kemarin. Dafi, yang masih setengah terjaga, bangun dan melihat Dera yang tampak sibuk entah karena apa. "Buru-buru, mau kemana?" tanya Dafi dengan raut bingung. "Kampus, maaf ya nggak jadi masak. Bimbingan kali ini lebih awal dari hari-hari sebelumnya, ada urusan mendad
"Manusia sultan mah bebas. Gue yakin si Dafi rumahnya nggak cuma ini dan yang sebelumnya doang, pasti masih banyak aset yang gue nggak tau. Mana rumahnya tetep gede semua lagi." kata Dera sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Ehhh tunggu, ini beneran rumah yang waktu itu gue datengin karena habis nolongin orang kan? Jadi apa bener yang gue tolongin waktu itu beneran si Dafi?" Dafi sudah keluar dari dalam mobil lebih dulu, meninggalkan dirinya yang masih berada di dalam mobil karena dia sempat berpura-pura tidur tadi. Luar kota yang dimaksud Dafi ternyata hanya perbatasan kota saja. Dera kira harus membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan ke tempat yang Dafi maksud. Dera keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Dia memandangi rumah besar yang sekarang tampak begitu familiar. Ingatannya mulai berputar kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu ketika dia menolong seorang pria yang dikeroyok. "Jadi yang gue tolongin waktu itu beneran Dafi, jangan-jangan bener gue
"Apa itu masih sakit? Sini saya obatin muka kamu." kata Dafi ketika Dera baru saja masuk ke dalam mobil. Kaget, tentu saja Dera merasakan hal itu. Dafi menggeser tubuhnya agar Dera bisa duduk di sampingnya. Sejak tadi dia juga sudah menyiapkan P3K, berharap Dera mau segera diobati lukanya ketika menyusulnta. Namun nyatanya Dafi harus dibuat menunggu, sambil mengamati gerak-gerik yang dilakukan istrinya sejak tadi. Bangga tentu saja, padahal Dafi sudah mencari informasi sedetail yang dia bisa. Yang dilakukan Ayahnya kepada Dera hhanyalah menorehkan ebagian luka besar menganga tak pernah diobati. Namun Dera masih terlihat berbaik hati, menunggu dengan setia hingga Ayahnya masuk ke dalam taksi. "Ini mungkin sedikit perih, tapi kamu harus bertahan ya?" Dafi tiba-tiba berkata lembut, tangannya bergerak pelan membersihkan luka tamparan di wajah Dera dengan hati-hati. Dera meringis sedikit, tapi dia tetap diam tidak berkomentar apapun. Pikirannya masih dipenuhi oleh fakta-fakta yang
Dera itu memang tipikal perempuan yang gampang patuh, namun di sisi lain dia juga tipikal yang pembangkang juga. Setelah masuk ke dalam kontrakan, dia memilih untuk memasang telinganya dalam-dalam. Ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Ayahnya dan suaminya secara serius tentu saja! Mendekatkan telinganya ke arah pintu, berharap bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ayahnya dan Dafi di luar sana. Ayahnya berbicara dengan nada yang jelas tegang dan marah, sementara Dafi masih dengan suara yang tenang dan datar. "Saya sudah tidak peduli dengan siapa saya berbicara sekarang. Pada intinya, anda harus membantu perusahaan saya! Sesuai perjanjian bisnis dalam pernikahan, sudah seharusnya anda membantu keruntuhan perusahaan saya!" suara Ayah Dera terdengar jelas di telinga Dera saat ini. Dera terkekeh kecil, benar-benar tidak tau malu Ayahnya itu. Padahal Ayahnya sendiri yang melanggar perjanjian dengan menggantikan Dela dengan dirinya didetik-detik terakhir lantaran berita kecelakaa
Dera tidak langsung pulang ke rumah suaminya. Sebaliknya dia memilih untuk pergi ke tempat kontrakannya sebelumnya, ada beberapa barang penting yang seharusnya dia bawa ke tempat tinggal barunya. Beruntung ketika Arkan mengambil barang-barangnya tempo beberapa hari yang lalu, kuncinya tidak dibawa dan diletakkan di tempat persembunyian aman. Jadi dia memilih untuk bersantai sebentar, presetan dengan waktu yang sudah hampir menjelang sore. "Ini baru Dera, kehidupan seperti ini yang sebenarnya gue mau. Aman, tenang, damai, dan yang pasti hidup sendirian." kata Dera sambil tersenyum dan memejamkan matanya.Andai Ayahnya tidak memintanya untuk menikah, andai Ayahnya tidak memintanya untuk menggantikan posisi kembarannya dalam sebuah pernikahan bisnis, mungkin Dera masih bisa hidup dengan tenang sekarang. Minusnya, Dera mungkin akan selalu hidup di bawah garis kemiskinan. "Hidup terlalu sempurna untuk kembaran gue. Sedangkan hidup gue terlalu hancur demi kebahagian kembaran gue." lanjut
Dafi kini berada di kursi kebesarannya dengan senyum yang kadang-kadang timbul. Kantornya yang mewah dan rapi memancarkan kesan profesionalisme, namun pikiran Dafi melayang kembali ke momen-momen bersama Dera tadi pagi. Dia merasakan kepuasan yang mendalam melihat bagaimana hubungan mereka perlahan-lahan membaik meskipun dengan sedikit paksaan. Di depannya, Andrew Matthew sang sahabat sekaligus sekretarisnya itu menatap Dafi dengan raut bingung. Ia sebenarnya sedikit agak ngeri, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi selama mereka menjalin persahabatan. Sahabatnya tidak sedang kerasukan kan sekarang? "Hei, bro," panggil Andrew pelan, berusaha mengembalikan perhatian Dafi dari lamunan dan senyum mengembangkan, "Lo nggak sedang kerasukan kan? Gue takut lo ketempelan genderuwo diperjalanan ke kantor tadi." Andrew Matthew menatap Dafi dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia sudah mengenal Dafi sejak lama, dan senyum yang kadang-kadang muncul di wajah sahabatnya itu adalah
"Pernikahan kamu akan dipercepat satu minggu lagi. Jadi selama menunggu hari itu tiba, kamu harus kembali ke rumah saya lagi. Ini saya lakukan agar tidak ada kecurigaan dari pihak mempelai pria." Dera hampir saja membenturkan kepalanya ketembok, ketika sang Ayah mengetahui tempat dirinya tinggal b
Dera merasa hari ini sangat melelahkan. Tenaganya sudah terkuras habis, dan ia tidak ingin melakukan apapun selain hanya rebahan. Sepertinya, bertemu pria bernama Dafi Ezekiel Addison itu bukan perkara yang bagus untuk Dera. Merayap menuju kamar yang selama ini menemaninya. Rasa lelahnya benar-ben
Syarat yang diajukan olehnya mengenai saham tiga puluh lima persen itu berhasil. Ayahnya mampu menyetujui apa yang ia ajukan, bahkan tak tanggung-tanggung ia juga mengiriminya banyak uang ke nomor rekening Dera. Perjodohan itu tak lama lagi akan terlaksana, dan sepertinya hidup bebasnya tidak akan
Ayahnya tidak main-main sepertinya. Apa yang ia ucapkan kemarin adalah mutlak, dan tidak bisa dibantah oleh Dera. Sedangkan Dera hanya bisa terdiam seribu bahasa saja sekarang, sepertinya dia benar-benar ditimbalkan kepada masalah mereka. Dera menatap jalanan melewati kaca jendela mobil dengan tat







