Masuk“Putri, ini kamarmu.”
Suara Han Ruoxi terdengar pelan saat pintu kamar didorong terbuka. Cahaya lampu minyak langsung menyambut dari dalam ruangan yang luas dan rapi. Yuwen Shuang melangkah masuk tanpa berkata apa-apa. Matanya menyapu sekilas sekeliling kamar. Ranjang kayu besar, meja rias sederhana, tirai tipis berwarna pucat. Tidak berlebihan, namun jelas menunjukkan status keluarga Zhou sebagai bangsawan. “Jika ada yang kau perlukan malam ini, katakan pada pelayan,” lanjut Han Ruoxi. “Istirahat, Putri. Hari ini sangat melelahkan.” Yuwen Shuang mengangguk kecil. “Terima kasih, Nyonya.” Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Han Ruoxi menatap kerudung merah yang masih menutupi wajah menantunya. Ia ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Kau boleh melepasnya sekarang. Di sini tidak ada orang lain.” Yuwen Shuang diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Baik.” Han Ruoxi memberi isyarat pada Mei’er dan Yunxi. “Kalian tunggu di luar.” “Baik, Nyonya.” Pintu kamar ditutup perlahan. Suara langkah kaki menjauh, menyisakan keheningan. Yuwen Shuang berdiri di depan cermin perunggu. Pantulan bayangannya terlihat samar di balik kerudung merah yang masih terpasang. Perlahan, ia mengangkat kedua tangannya. Kerudung itu dilepas dengan hati-hati. Wajahnya muncul jelas di cermin tenang, pucat, tanpa air mata. Hanya sepasang mata yang tampak lelah, seolah hari ini telah menguras seluruh perasaannya. Han Ruoxi menahan napas sesaat. “Kau ....” Ia berhenti, seakan tak tahu harus melanjutkan kalimatnya bagaimana. “Tidak seperti yang Nyonya bayangkan?” tanya Yuwen Shuang pelan, tanpa menoleh. “Bukan begitu,” jawab Han Ruoxi pelan. “Aku hanya … mengira kau akan lebih terluka.” Yuwen Shuang menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia mengangkat sudut bibirnya sedikit, senyum tipis yang nyaris tak terlihat. “Aku sudah terluka sejak lama,” jawabnya pelan. “Hari ini hanya menambah satu lapisan saja.” Han Ruoxi terdiam. Kata-kata itu sederhana, namun berat. Ia melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah di belakang Yuwen Shuang. Jarak itu disengaja. Tidak terlalu dekat, tidak pula menjauh. “Apakah kau menyesal?” tanyanya hati-hati. “Tentang pernikahan ini.” Jari Yuwen Shuang perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Ia tidak langsung menjawab. “Tidak,” ucapnya akhirnya. “Aku hanya tidak pernah diberi pilihan.” Jawaban itu membuat dada Han Ruoxi terasa sesak. Ia duduk perlahan di kursi dekat meja rias. “Fenglin ....” Suaranya tertahan sejenak. “Anak itu keras kepala. Tapi apa yang ia lakukan hari ini tetap tidak bisa dibenarkan.” Yuwen Shuang berbalik sedikit, menatap Han Ruoxi melalui pantulan cermin. “Aku tidak membencinya,” katanya jujur. “Aku hanya tidak mengharapkannya.” Keheningan kembali turun di antara mereka. Lampu minyak berkelip pelan, memantulkan bayangan di dinding kamar. “Beristirahatlah,” ujar Han Ruoxi akhirnya, bangkit berdiri. “Besok akan ada banyak hal yang harus kau hadapi.” Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak. “Dan, Putri ...,” suaranya melembut. “Di rumah ini, kau tidak sendirian.” Yuwen Shuang menunduk kecil. “Terima kasih, Nyonya.” Pintu kamar tertutup pelan. Yuwen Shuang berdiri sendiri di dalam kamar yang kini sunyi. Ia berjalan ke tepi ranjang, duduk perlahan. Tangannya menyentuh kain sprei yang rapi, dingin. Helaan napas pelan lolos dari hidungnya. Ia berbaring tanpa melepas pakaian pengantin sepenuhnya. Lampu minyak dibiarkan menyala redup. Matanya menatap langit-langit, kosong. “Aku sangat menyedihkan. Di hari yang kata orang bahagia, aku justru kesepian,” gumam Yuwen Shuang, pelan. **** Bau arak memenuhi tenda barak. Zhao Fenglin duduk bersandar di meja kayu, jubah hitam pengantin masih melekat pada tubuhnya. Di tangannya, sebuah kendi arak sudah hampir kosong. Ia meneguknya lagi tanpa ragu. Kondisinya malam ini sangat kacau. Ia melampiaskan segala bentuk emosi dalam dirinya lewat arak. “Jenderal.” Suara seorang terdengar ragu dari luar tenda. Zhao Fenglin tidak mengangkat kepala. “Kalau kalian datang untuk bicara soal pernikahan itu, keluar.” Tirai tenda terbuka. Gu Liang melangkah masuk, diikuti dua pria lain. Wajah mereka muram, bukan kaget karena pemandangan ini sudah mereka duga. “Kalau bukan soal itu,” jawab Gu Liang datar, “kami tidak akan ke sini.” Zhao Fenglin terkekeh rendah. Tawanya terdengar pahit. “Bagus,” katanya. “Berarti kalian juga tahu aku sedang dijadikan bahan tertawaan.” Wei Chen berdiri menyandar tiang tenda. “Kami tahu sejak titah itu turun.” Shen Yu menutup tirai kembali, memastikan tak ada orang luar yang mendengar. “Menikahkanmu dengan putri buangan. Kaisar sengaja melakukan itu.” Zhao Fenglin menghentikan gerak tangannya. Matanya menyipit. “Dia ingin mengingatkanku,” ucapnya pelan, “bahwa aku ini hanya alat perang. Menang atau kalah, tetap bisa diinjak.” Gu Liang duduk berhadapan dengannya. Tidak sopan, tapi sudah biasa. Hubungan mereka sudah seperti keluarga. “Dan putri itu?” tanyanya langsung. “Kau marah padanya juga?” Zhao Fenglin terdiam cukup lama. “Aku bahkan tidak punya hak untuk marah padanya,” jawabnya akhirnya. “Dia sama sepertiku, tidak menginginkan pernikahan ini.” Ia meneguk arak lagi, kali ini lebih keras. “Putri buangan. Diberikan padaku sebagai hadiah,” katanya getir. “Seolah semua darah yang kutumpahkan hanya pantas dibalas dengan penghinaan.” Shen Yu mengepalkan tangan. “Itu memang penghinaan.” Wei Chen menambahkan, “Dan Kaisar tahu kau tidak bisa menolak.” Zhao Fenglin menunduk. Rahangnya mengeras. “Makanya aku pergi,” katanya rendah. “Kalau aku tinggal satu detik lebih lama di Aula itu, aku akan menghancurkan segalanya.” Bayangan Aula pernikahan kembali muncul. Wanita yang merupakan putri buangan itu wajahnya tertutup oleh kerudung merah. Hanya diam saja, tak ada kalimat permohonan. Hanya pasrah menerima pernikahan ini. “Itu yang paling membuatku muak,” lanjutnya. “Dia bahkan tidak melawanku. Seolah sudah tahu nasibnya.” Gu Liang menarik napas panjang. “Jenderal, pernikahan ini bukan tentang kau atau dia. Ini tentang Kaisar menunjukkan kuasanya.” Zhao Fenglin menutup mata. “Dan aku membiarkannya berhasil,” ucapnya lirih. Keheningan menggantung di tenda. “Cukup, Jenderal! Kau sudah minum terlalu banyak,” kata Gu Liang akhirnya. “Aku tahu,” jawab Zhao Fenglin. “Tapi malam ini aku hanya ingin melupakan sejenak pernikahan sialan itu!” Ia mengangkat kendi arak lagi. Dan menenggaknya dengan rakus. Rasa pahit menjalar di tenggorokannya. Kedua matanya terpejam menikmatinya. “Setidaknya malam ini aku tidak perlu berpura-pura di depan wanita itu,” gumam Zhao Fenglin, lirih.Suasana di dalam kamar seketika menegang. Yuwen Shuang tanpa sadar menggenggam tangan Selir Li Mei lebih erat, sementara Bibi Sun berdiri terpaku di depan pintu dengan wajah penuh kewaspadaan.Selama bertahun-tahun, Permaisuri Xie Zhaoyun hampir tidak pernah mengirim orang ke Istana Dingin, apalagi di tengah malam seperti ini. Bahkan ketika Yuwen Shuang pertama kali datang ke Istana, wanita itu tidak pernah menunjukkan perhatian khusus kepadanya ataupun kepada selir Li Mei.Karena itulah, kedatangan utusan Permaisuri saat ini terasa sangat aneh.Selir Li Mei menoleh ke arah Bibi Sun dan menganggukkan kepalanya pelan. "Buka pintunya."Bibi Sun tampak ragu-ragu. Tatapannya sempat beralih kepada Yuwen Shuang sebelum akhirnya berjalan menuju pintu kayu itu. Begitu pintu dibuka, seorang kasim muda segera membungkukkan tubuhnya dengan hormat."Hamba memberi salam kepada Selir Li dan Putri Kedua."Yuwen Shuang memperhatikan pria itu dengan saksama. Wajahnya tampak asing. Ia yakin belum perna
Yuwen Shuang menatap Kaisar dengan wajah pucat. Lidahnya mendadak kelu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Kini kepalanya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Dari apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya, tentang Heishan yang disebut oleh Kaisar, dan Zhao Fenglin yang ternyata masih hidup. Suaminya akan kembali ke ibu kota. Namun, mengapa ayahnya sendiri justru berbicara seolah-olah Zhao Fenglin adalah musuh yang harus diawasi?"Baginda ...," suara Yuwen Shuang bergetar, "apa yang sebenarnya terjadi di Heishan?" Kaisar Yuwen Longzhi membalikkan tubuhnya dan memandang halaman istana yang gelap. "Ada seseorang yang mencoba membunuh Zhao Fenglin."Mata Yuwen Shuang langsung membelalak. "Membunuh?" bisiknya."Namun, dia selamat." Kaisar berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Dan sejak saat itu, aku tidak lagi mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya."Yuwen Shuang tanpa sadar menggenggam erat lengan bajunya sendiri. Selama ini, Zhao Fenglin adalah jenderal paling setia di
Teriakan Yuwen Shuang memecah keheningan malam. Tanpa memedulikan tatapan para penjaga di sekitarnya, ia segera berlari menaiki tangga batu menuju sang Ibu. Jubah panjangnya terseret di lantai, sementara wajahnya dipenuhi keterkejutan dan kepanikan."Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan napas memburu.Selir Li Mei perlahan mengangkat kepalanya. Wajah wanita itu tampak jauh lebih pucat daripada biasanya, matanya sedikit memerah seolah telah menangis dalam waktu yang lama. Saat melihat Yuwen Shuang, raut wajahnya justru berubah panik."Shuang'er, kenapa kau datang ke sini?" bisiknya pelan.Yuwen Shuang berlutut di samping ibunya. Tatapannya segera beralih ke tali yang melilit pergelangan tangan Li Mei."Siapa yang melakukan ini?" Suaranya mulai bergetar. "Kenapa mereka mengikat Ibu?"Li Mei membuka mulut, tetapi sebelum sempat menjawab, suara berat tiba-tiba terdengar dari dalam aula."Karena itu perintahku."Tubuh Yuwen Shuang langsung menegang. Perlahan, ia mengangkat ke
Angin malam berembus pelan, membuat ujung jubah hitam Han Zhiren berkibar di bawah cahaya lentera. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya menggeleng tipis."Hamba tidak berani menebak kehendak Baginda."Yuwen Shuang menatapnya lekat, seolah ingin mencari sesuatu dari wajah tenang pengawal itu. Namun ia tidak menemukan apapun. Pria itu begitu pandai menyembunyikan ekspresinya.Untuk beberapa saat, suasana di halaman paviliun menjadi sunyi. Para pelayan menundukkan kepala, tidak berani ikut campur dalam percakapan mereka.Yuwen Shuang perlahan mengalihkan pandangannya ke arah aula utama istana yang tampak jauh di balik kegelapan malam. Hatinya semakin gelisah. Selama bertahun-tahun, Kaisar Yuwen Longzhi hampir tidak pernah memanggil Selir Li Mei, apalagi di tengah malam seperti ini.Semakin dipikirkannya, semakin aneh semuanya terasa.Tiga hari yang lalu, ia tiba-tiba diperintahkan kembali ke istana. Lalu, suasana istana berubah menjadi jauh lebih tegang. Sekarang, Li Mei dipanggil se
Yuwen Shuang perlahan membalikkan tubuhnya. Ia tampak terkejut saat melihat seorang pria yang menyambut kedatangannya beberapa bulan yang lalu, saat ia berkunjung untuk menemui sang Ibu. Keterkejutan itu hanya sesaat."Han Zhiren?" gumam Yuwen Shuang. Pria itu tersenyum sopan, lalu membungkukkan tubuhnya. "Putri kedua, apakah Anda membutuhkan sesuatu?""Tidak. Aku keluar untuk menemui Ibu, karena aku terbangun karena mimpi buruk." Yuwen Shuang mengatakan itu dengan tenang, sorot matanya datar. Jelas ia berbohong. Sepertinya Han Zhiren tidak mudah dibohongi. Karena mata tajam Pria itu menatap lekat wajah Yuwen Shuang, wanita itu tidak seperti orang yang baru saja terbangun karena mimpi buruk. Wanita itu jelas belum tidur. Namun pria itu tetap mengangguk, masih dengan senyumannya. "Mari saya antar, Putri. Ini sudah sangat larut, istana dingin letaknya sangat jauh." Dengan cepat Yuwen Shuang menggeleng. "Tidak perlu. Saya bisa pergi sendiri." Han Zhiren mengangguk, ia tidak bisa
Berbaliklah Zhao Fenglin dari jembatan batu itu. Langkahnya tetap tenang, tetapi Wei Chen dapat merasakan perubahan pada pria di sampingnya. Selama bertahun-tahun mereka bertempur bersama, ia tahu satu hal. Semakin tenang Zhao Fenglin terlihat, semakin besar badai yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.Kabut malam perlahan menelan cahaya obor pasukan kekaisaran. Di belakang mereka, suara derap kaki kuda Lu Dehai semakin menjauh hingga akhirnya menghilang bersama embusan angin.Beberapa saat kemudian, Wei Chen akhirnya memecah keheningan."Jenderal, apakah kau mempercayai ucapannya?"Zhao Fenglin tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus menembus jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering."Tidak sepenuhnya.""Lalu kita tetap kembali?" tanyanya lagi. "Kita memang harus kembali."Wei Chen menghela napas pelan. "Padahal bisa saja itu jebakan.""Memang jebakan."Jawaban Zhao Fenglin begitu tenang hingga membuat Wei Chen terdiam."Tapi jebakan itu memang ditujukan agar aku masuk ke
“Fenglin, kau harus sadar sikapmu pada istrimu itu salah!” Han Ruoxi kembali membuka suara saat melihat putranya hanya diam saja. Tatapan wanita itu tajam putranya yang tak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya. “Ibu tahu kalau kau tidak bisa menerima pernikahan itu. Tapi cara kamu meninggalk
Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Kereta terus bergerak mendekati gerbang istana.Suara roda kayu yang berderak perlahan bercampur dengan langkah para penjaga yang berjaga di sepanjang jalan menuju gerbang utama.Lampion merah besar yang tergantung di kedua sisi gerbang bergoyang pelan tertiup
Langit ibu kota perlahan berubah gelap ketika matahari akhirnya tenggelam di balik tembok kota.Lampion-lampion mulai dinyalakan satu per satu di sepanjang jalan utama. Cahaya kuning hangat memantul di batu jalan yang telah dipakai selama puluhan tahun oleh kereta para pejabat dan bangsawan.Di dep
Yuwen Shuang dan Zhao Fenglin menoleh hampir bersamaan.Di barisan meja utama yang sedikit lebih tinggi dari tempat para pejabat duduk, seorang wanita anggun telah berdiri dari kursinya.Gaun sutra merah tua yang dikenakannya jatuh panjang hingga lantai. Hiasan emas di rambutnya berkilau di bawah c







