Share

004 || Malam Yang Terpisah

Penulis: Diva
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 12:28:45

“Putri, ini kamarmu.”

Suara Han Ruoxi terdengar pelan saat pintu kamar didorong terbuka. Cahaya lampu minyak langsung menyambut dari dalam ruangan yang luas dan rapi.

Yuwen Shuang melangkah masuk tanpa berkata apa-apa. Matanya menyapu sekilas sekeliling kamar. Ranjang kayu besar, meja rias sederhana, tirai tipis berwarna pucat. Tidak berlebihan, namun jelas menunjukkan status keluarga Zhou sebagai bangsawan.

“Jika ada yang kau perlukan malam ini, katakan pada pelayan,” lanjut Han Ruoxi. “Istirahat, Putri. Hari ini sangat melelahkan.”

Yuwen Shuang mengangguk kecil. “Terima kasih, Nyonya.”

Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi.

Han Ruoxi menatap kerudung merah yang masih menutupi wajah menantunya. Ia ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Kau boleh melepasnya sekarang. Di sini tidak ada orang lain.”

Yuwen Shuang diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Baik.”

Han Ruoxi memberi isyarat pada Mei’er dan Yunxi. “Kalian tunggu di luar.”

“Baik, Nyonya.”

Pintu kamar ditutup perlahan. Suara langkah kaki menjauh, menyisakan keheningan.

Yuwen Shuang berdiri di depan cermin perunggu. Pantulan bayangannya terlihat samar di balik kerudung merah yang masih terpasang. Perlahan, ia mengangkat kedua tangannya.

Kerudung itu dilepas dengan hati-hati.

Wajahnya muncul jelas di cermin tenang, pucat, tanpa air mata. Hanya sepasang mata yang tampak lelah, seolah hari ini telah menguras seluruh perasaannya.

Han Ruoxi menahan napas sesaat. “Kau ....”

Ia berhenti, seakan tak tahu harus melanjutkan kalimatnya bagaimana.

“Tidak seperti yang Nyonya bayangkan?” tanya Yuwen Shuang pelan, tanpa menoleh.

“Bukan begitu,” jawab Han Ruoxi pelan. “Aku hanya … mengira kau akan lebih terluka.”

Yuwen Shuang menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia mengangkat sudut bibirnya sedikit, senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

“Aku sudah terluka sejak lama,” jawabnya pelan. “Hari ini hanya menambah satu lapisan saja.”

Han Ruoxi terdiam. Kata-kata itu sederhana, namun berat.

Ia melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah di belakang Yuwen Shuang. Jarak itu disengaja. Tidak terlalu dekat, tidak pula menjauh.

“Apakah kau menyesal?” tanyanya hati-hati. “Tentang pernikahan ini.”

Jari Yuwen Shuang perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Ia tidak langsung menjawab.

“Tidak,” ucapnya akhirnya. “Aku hanya tidak pernah diberi pilihan.”

Jawaban itu membuat dada Han Ruoxi terasa sesak.

Ia duduk perlahan di kursi dekat meja rias. “Fenglin ....” Suaranya tertahan sejenak. “Anak itu keras kepala. Tapi apa yang ia lakukan hari ini tetap tidak bisa dibenarkan.”

Yuwen Shuang berbalik sedikit, menatap Han Ruoxi melalui pantulan cermin.

“Aku tidak membencinya,” katanya jujur. “Aku hanya tidak mengharapkannya.”

Keheningan kembali turun di antara mereka. Lampu minyak berkelip pelan, memantulkan bayangan di dinding kamar.

“Beristirahatlah,” ujar Han Ruoxi akhirnya, bangkit berdiri. “Besok akan ada banyak hal yang harus kau hadapi.”

Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak.

“Dan, Putri ...,” suaranya melembut. “Di rumah ini, kau tidak sendirian.”

Yuwen Shuang menunduk kecil. “Terima kasih, Nyonya.”

Pintu kamar tertutup pelan.

Yuwen Shuang berdiri sendiri di dalam kamar yang kini sunyi. Ia berjalan ke tepi ranjang, duduk perlahan. Tangannya menyentuh kain sprei yang rapi, dingin.

Helaan napas pelan lolos dari hidungnya.

Ia berbaring tanpa melepas pakaian pengantin sepenuhnya. Lampu minyak dibiarkan menyala redup. Matanya menatap langit-langit, kosong.

“Aku sangat menyedihkan. Di hari yang kata orang bahagia, aku justru kesepian,” gumam Yuwen Shuang, pelan.

****

Bau arak memenuhi tenda barak.

Zhao Fenglin duduk bersandar di meja kayu, jubah hitam pengantin masih melekat pada tubuhnya. Di tangannya, sebuah kendi arak sudah hampir kosong.

Ia meneguknya lagi tanpa ragu. Kondisinya malam ini sangat kacau. Ia melampiaskan segala bentuk emosi dalam dirinya lewat arak.

“Jenderal.” Suara seorang terdengar ragu dari luar tenda.

Zhao Fenglin tidak mengangkat kepala. “Kalau kalian datang untuk bicara soal pernikahan itu, keluar.”

Tirai tenda terbuka.

Gu Liang melangkah masuk, diikuti dua pria lain. Wajah mereka muram, bukan kaget karena pemandangan ini sudah mereka duga.

“Kalau bukan soal itu,” jawab Gu Liang datar, “kami tidak akan ke sini.”

Zhao Fenglin terkekeh rendah. Tawanya terdengar pahit.

“Bagus,” katanya. “Berarti kalian juga tahu aku sedang dijadikan bahan tertawaan.”

Wei Chen berdiri menyandar tiang tenda. “Kami tahu sejak titah itu turun.”

Shen Yu menutup tirai kembali, memastikan tak ada orang luar yang mendengar. “Menikahkanmu dengan putri buangan. Kaisar sengaja melakukan itu.”

Zhao Fenglin menghentikan gerak tangannya. Matanya menyipit.

“Dia ingin mengingatkanku,” ucapnya pelan, “bahwa aku ini hanya alat perang. Menang atau kalah, tetap bisa diinjak.”

Gu Liang duduk berhadapan dengannya. Tidak sopan, tapi sudah biasa. Hubungan mereka sudah seperti keluarga.

“Dan putri itu?” tanyanya langsung. “Kau marah padanya juga?”

Zhao Fenglin terdiam cukup lama.

“Aku bahkan tidak punya hak untuk marah padanya,” jawabnya akhirnya. “Dia sama sepertiku, tidak menginginkan pernikahan ini.”

Ia meneguk arak lagi, kali ini lebih keras.

“Putri buangan. Diberikan padaku sebagai hadiah,” katanya getir. “Seolah semua darah yang kutumpahkan hanya pantas dibalas dengan penghinaan.”

Shen Yu mengepalkan tangan. “Itu memang penghinaan.”

Wei Chen menambahkan, “Dan Kaisar tahu kau tidak bisa menolak.”

Zhao Fenglin menunduk. Rahangnya mengeras.

“Makanya aku pergi,” katanya rendah. “Kalau aku tinggal satu detik lebih lama di Aula itu, aku akan menghancurkan segalanya.”

Bayangan Aula pernikahan kembali muncul. Wanita yang merupakan putri buangan itu wajahnya tertutup oleh kerudung merah. Hanya diam saja, tak ada kalimat permohonan. Hanya pasrah menerima pernikahan ini.

“Itu yang paling membuatku muak,” lanjutnya. “Dia bahkan tidak melawanku. Seolah sudah tahu nasibnya.”

Gu Liang menarik napas panjang. “Jenderal, pernikahan ini bukan tentang kau atau dia. Ini tentang Kaisar menunjukkan kuasanya.”

Zhao Fenglin menutup mata.

“Dan aku membiarkannya berhasil,” ucapnya lirih.

Keheningan menggantung di tenda.

“Cukup, Jenderal! Kau sudah minum terlalu banyak,” kata Gu Liang akhirnya.

“Aku tahu,” jawab Zhao Fenglin. “Tapi malam ini aku hanya ingin melupakan sejenak pernikahan sialan itu!”

Ia mengangkat kendi arak lagi. Dan menenggaknya dengan rakus. Rasa pahit menjalar di tenggorokannya. Kedua matanya terpejam menikmatinya.

“Setidaknya malam ini aku tidak perlu berpura-pura di depan wanita itu,” gumam Zhao Fenglin, lirih.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   008 || Belajar Menjadi Seorang Istri

    Yuwen Shuang menoleh, ia sedikit melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri satu meter di depannya. “J-jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang sedikit gugup. Ia menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan. “Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?” Zhao Fenglin kembali membuka suara. Ia menatap lurus pada wajah Yuwen Shuang. “Aku tidak bisa tidur, dan aku mencoba keluar dari kamar untuk mencari angin,” jelas Yuwen Shuang balas menatap pria itu. Zhao Fenglin terdiam sejenak. Pandangannya bergeser singkat ke arah langit malam, lalu kembali pada Yuwen Shuang.“Sudah larut,” ucapnya akhirnya. “Udara malam tidak selalu baik.”“Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang cepat. Tangannya saling bertaut di depan tubuhnya. “Aku tidak berniat lama.”Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Angin malam berdesir pelan, menyibakkan ujung lengan pakaian Yuwen Shuang.“Masuklah,” kata Zhao Fenglin singkat. “Masih ada hari esok.”Yuwen Shuang mengangguk. “Baik, Jenderal.”Ia melangkah pergi lebih

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   007 || Gelisah

    Yuwen Shuang duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya rapi di pangkuan. Hidangan di hadapannya masih utuh, uapnya mulai menipis. Ia tidak menyentuh apa pun sebelum orang-orang yang lebih tua lebih dulu menggerakkan sumpit. Di depannya, Zhao Fenglin duduk dengan sikap lurus. Pandangannya tertuju ke meja, fokus dengan hidangan di atas meja. Zhao Jianwu mengangkat sumpit lebih dulu. Han Ruoxi mengikutinya. “Silakan,” ujar Zhao Jianwu singkat. Barulah Yuwen Shuang mengangkat sumpitnya. Ia mengambil sedikit nasi, lalu lauk yang paling dekat dengannya. Gerakannya tenang, terkendali. Seolah tidak ada yang mengganjal di dadanya, seolah makan malam ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Zhao Fenglin makan dengan porsi wajar. Tidak terburu-buru, gerakannya teratur. Sejak tadi Zhao Fenglin tak sedikitpun melirik Yuwen Shuang yang duduk di hadapannya. Han Ruoxi melirik keduanya. Wanita itu menatap keduanya lama. “Putri,” panggilnya lembut. Yuwen Shuang segera menurunkan sumpit dan

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   006 || Makan Malam Bersama

    “Jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang kembali, kali ini sedikit lebih pelan, namun tetap jelas. “Jika tidak ada urusan lain, aku akan kembali ke dalam.”Ia berdiri tegak di hadapannya, tanpa menunduk, tanpa mendekat. Jarak di antara mereka dibiarkan tetap sama seperti sejak awal. Cukup dekat untuk disebut suami istri, namun terlalu jauh untuk disebut pasangan.Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Tatapan pria itu masih tertahan di wajahnya, seolah berusaha membaca sesuatu di balik ketenangannya. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan datar, tak berbeda dari saat upacara pernikahan tiga hari lalu.Yuwen Shuang menunggu. Tidak mendesak, tidak juga gelisah.“Aku tidak bermaksud mengganggumu.” Yuwen Shuang kembali membuka suara, suaranya datar dan sopan. “Aku hanya menyambut kepulanganmu sebagaimana seharusnya,” ucapnya datar. “Tidak lebih dari itu.”Yuwen Shuang menunduk singkat, sesuai tata krama.“Permisi, Jenderal.”Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik dan melangkah pergi. Meni

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   005 || Kepulangan Zhou Fenglin

    Tiga hari berlalu sejak pernikahan itu, dan kediaman keluarga Zhou selalu tenang. Jenderal Zhou Jianwu dan Han Ruoxi memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Hal itu membuat Yuwen Shuang merasa dihargai, dan dianggap. Meskipun ia berusaha menepis perasaan nyaman atas sikap baik kedua mertuanya. Yuwen Shuang duduk di depan meja kecil di sisi jendela. Cahaya pagi jatuh lembut pada wajahnya, menerangi secangkir teh yang sudah dingin sejak tadi. Ia tidak menyentuhnya. “Putri, tehnya sudah dingin,” ujar Mei’er pelan dari samping. “Aku tahu,” jawab Yuwen Shuang singkat. Ia menatap halaman dalam yang sepi. Selama tiga hari ini, tidak ada satu pun kabar dari Zhao Fenglin. Tidak ada pesan. Tidak ada kepulangan. Seolah pernikahan itu hanya berhenti di Aula kekaisaran. Bahkan Zhao Jianwu yang hari itu menyusul kepergian Zhao Fenglin, tak mengatakan apapun padanya. Tiga hari ini tak ada lagi yang membahas kepergian suaminya itu. Pintu kamar terbuka pelan. Yunxi masuk dengan langk

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   004 || Malam Yang Terpisah

    “Putri, ini kamarmu.” Suara Han Ruoxi terdengar pelan saat pintu kamar didorong terbuka. Cahaya lampu minyak langsung menyambut dari dalam ruangan yang luas dan rapi. Yuwen Shuang melangkah masuk tanpa berkata apa-apa. Matanya menyapu sekilas sekeliling kamar. Ranjang kayu besar, meja rias sederhana, tirai tipis berwarna pucat. Tidak berlebihan, namun jelas menunjukkan status keluarga Zhou sebagai bangsawan. “Jika ada yang kau perlukan malam ini, katakan pada pelayan,” lanjut Han Ruoxi. “Istirahat, Putri. Hari ini sangat melelahkan.” Yuwen Shuang mengangguk kecil. “Terima kasih, Nyonya.” Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Han Ruoxi menatap kerudung merah yang masih menutupi wajah menantunya. Ia ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Kau boleh melepasnya sekarang. Di sini tidak ada orang lain.” Yuwen Shuang diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Baik.” Han Ruoxi memberi isyarat pada Mei’er dan Yunxi. “Kalian tunggu di luar.” “Baik, Nyonya.” Pintu kamar ditutup perl

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   003 || Malam Pertama Di Kediaman Jenderal Zhou

    “Selir Wei?” kejut Yuwen Shuang saat membalikkan tubuhnya. Wanita itu berdiri beberapa langkah dari mereka, dengan senyum tipis khasnya. Perhiasan di rambutnya berkilau tertimpa cahaya lentera. Han Ruoxi ikut berbalik. Ia membungkukkan tubuhnya dengan hormat, gestur singkat namun penuh tata krama. Mata Selir Wei Ruyin menyipit sejenak. Ia mengenali wanita itu. Ibu kandung Jenderal Zhou Fenglin. Namun keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik saja, sebelum wajahnya kembali dihiasi ekspresi tenang. Perubahan ekspresi itu ditangkap jelas oleh Yuwen Shuang. “Shuang’er,” ucapnya lembut, namun suaranya tajam di balik kelembutan itu. “aku tahu ini sangat berat untukmu. Ditinggalkan oleh suamimu tepat setelah upacara pernikahan … itu adalah penghinaan.” Han Ruoxi yang mendengar itu hanya mematung. Tubuhnya mendadak kaku. “Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang pelan. “Tapi ini sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diubah.” Selir Wei Ruyin memandangi Yuwen Shuang dengan tatapan lem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status