Beranda / Historical / Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa / 003 || Malam Pertama Di Kediaman Jenderal Zhou

Share

003 || Malam Pertama Di Kediaman Jenderal Zhou

Penulis: Diva
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 12:26:50

“Selir Wei?” kejut Yuwen Shuang saat membalikkan tubuhnya.

Wanita itu berdiri beberapa langkah dari mereka, dengan senyum tipis khasnya. Perhiasan di rambutnya berkilau tertimpa cahaya lentera.

Han Ruoxi ikut berbalik. Ia membungkukkan tubuhnya dengan hormat, gestur singkat namun penuh tata krama.

Mata Selir Wei Ruyin menyipit sejenak. Ia mengenali wanita itu. Ibu kandung Jenderal Zhou Fenglin.

Namun keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik saja, sebelum wajahnya kembali dihiasi ekspresi tenang.

Perubahan ekspresi itu ditangkap jelas oleh Yuwen Shuang.

“Shuang’er,” ucapnya lembut, namun suaranya tajam di balik kelembutan itu. “aku tahu ini sangat berat untukmu. Ditinggalkan oleh suamimu tepat setelah upacara pernikahan … itu adalah penghinaan.”

Han Ruoxi yang mendengar itu hanya mematung. Tubuhnya mendadak kaku.

“Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang pelan. “Tapi ini sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diubah.”

Selir Wei Ruyin memandangi Yuwen Shuang dengan tatapan lembut. Senyum tipis di wajahnya tak berubah, seolah ia benar-benar ikut merasakan beban yang menimpa gadis itu.

“Shuang’er,” katanya perlahan, suaranya hangat, “aku hanya khawatir padamu.”

Ia melangkah sedikit lebih dekat, menjaga jarak dengan tenang.

“Sejak lahir kau hidup jauh dari Istana, dan baru kembali ke Istana kau harus menghadapi kejadian seperti ini.”

Nada suaranya penuh iba. Seperti seorang Ibu yang mengasihani putrinya.

Yuwen Shuang menunduk, menyembunyikan ekspresinya. “Aku baik-baik saja.”

Selir Wei menghela napas pelan, seolah menahan perasaan tak nyaman dalam dirinya.

“Kalau begitu, aku lega,” ucapnya lembut. “Aku hanya berharap kau tidak memendam terlalu banyak. Tak baik bagi seorang gadis muda.”

Ia melirik sekilas ke arah Han Ruoxi, lalu kembali menatap Yuwen Shuang.

“Beristirahatlah malam ini,” lanjutnya. “Kau sudah cukup lelah.”

Tanpa menunggu jawaban, Selir Wei berbalik pergi dengan langkah anggun meninggalkan Yuwen Shuang dengan Han Ruoxi.

Langkah Selir Wei menjauh perlahan, namun gaun panjangnya masih tertangkap cahaya lentera ketika ia melewati halaman. Beberapa pelayan segera menyusul, kepala mereka tertunduk rapi.

Yuwen Shuang tetap berdiri di tempatnya.

Baru setelah sosok itu benar-benar menghilang di balik gerbang, Han Ruoxi menarik napas panjang. Akhirnya ia bisa bernapas dengan lega.

“Putri,” ucapnya pelan. “Kau tidak apa-apa?”

Yuwen Shuang mengangguk kecil. Gerakannya hampir tak terlihat.

“Aku baik-baik saja,” ulangnya, kali ini lebih tenang.

Namun Han Ruoxi dapat merasakan sesuatu yang ganjil. Tatapan Selir Wei tadi terlalu lembut, dan penuh perhatian. Tatapan itu lembut, namun tak sepenuhnya tulus.

Ia menggenggam lengan Yuwen Shuang sedikit lebih erat. Dan keduanya mulai kembali melanjutkan langkahnya.

Angin malam berhembus pelan, membuat ujung kerudung merah Yuwen Shuang bergoyang pelan. Di kejauhan, sebuah kereta kuda telah menunggu. Lambang keluarga Zhou terukir jelas di sisi badan kereta, diterangi cahaya lentera yang tergantung di kedua sisinya. Kusir dan beberapa pengawal berdiri tegak, menundukkan kepala begitu melihat Han Ruoxi dan Yuwen Shuang mendekat.

Sepanjang langkah Yuwen Shuang, bisik-bisik kembali terdengar.

Ia menangkap potongan-potongan suara samar, namun cukup tajam dan menusuk. Namun Yuwen Shuang tak mempercepat langkah, juga tak menoleh. Di balik kerudung merah yang masih menutupi wajahnya, ekspresinya tetap tersembunyi. Seolah semua suara itu tak pernah sampai ke telinganya.

Han Ruoxi merasakan sikap tenang itu. Dadanya kembali terasa sesak.

Sesampainya di depan kereta, Han Ruoxi berhenti sejenak. Ia menoleh pada Yuwen Shuang.

“Naiklah, Putri,” ucapnya pelan.

Yuwen Shuang mengangguk kecil. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah naik ke dalam kereta. Gerakannya sangat hati-hati.

Han Ruoxi menyusul masuk, lalu tirai kereta ditutup perlahan.

Roda kereta mulai bergerak, meninggalkan pelataran istana yang masih dipenuhi cahaya lentera dan bisik-bisik yang terus berlanjut.

Malam ini, Yuwen Shuang meninggalkan Istana bukan sebagai putri yang tak diakui oleh Kaisar. Melainkan sebagai menantu keluarga Zhou.

Perjalanan menuju kediaman keluarga Zhou berlangsung dalam keheningan.

Kereta kuda melaju perlahan menyusuri jalan ibu kota yang mulai lengang. Di balik tirai, Yuwen Shuang duduk tegak, kerudung merah masih menutupi wajahnya. Ia tak bertanya ke mana mereka akan pergi, dan Han Ruoxi pun tak memaksanya berbicara.

Waktu terasa berjalan lebih lama dari biasanya. Hampir satu jam kemudian, gerakan kereta melambat sebelum akhirnya berhenti.

“Kita sudah sampai,” ujar Han Ruoxi pelan.

Tirai kereta dibuka. Di hadapan mereka berdiri gerbang besar kediaman keluarga Zhou. Lampu-lampu minyak menyala di sepanjang halaman, memantulkan cahaya hangat di dinding batu.

Yuwen Shuang turun dari kereta dengan hati-hati, dibantu Han Ruoxi. Kerudung merahnya masih terpasang, membuat para pelayan yang menunggu menundukkan kepala tanpa berani menatap lebih lama.

“Selamat datang, Putri.”

Para pelayan mengucapkan itu secara bersamaan.

Yuwen Shuang membalasnya dengan anggukan kecil.

Han Ruoxi menggandeng lengannya, mengajaknya melangkah masuk.

“Sekarang ini rumahmu,” ucapnya perlahan. “Kau akan tinggal bersama Fenglin, aku, dan ayah Fenglin.”

Langkah Yuwen Shuang sedikit terhenti. Ia menyadari kalau hidupnya sudah benar-benar berbeda.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   008 || Belajar Menjadi Seorang Istri

    Yuwen Shuang menoleh, ia sedikit melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri satu meter di depannya. “J-jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang sedikit gugup. Ia menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan. “Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?” Zhao Fenglin kembali membuka suara. Ia menatap lurus pada wajah Yuwen Shuang. “Aku tidak bisa tidur, dan aku mencoba keluar dari kamar untuk mencari angin,” jelas Yuwen Shuang balas menatap pria itu. Zhao Fenglin terdiam sejenak. Pandangannya bergeser singkat ke arah langit malam, lalu kembali pada Yuwen Shuang.“Sudah larut,” ucapnya akhirnya. “Udara malam tidak selalu baik.”“Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang cepat. Tangannya saling bertaut di depan tubuhnya. “Aku tidak berniat lama.”Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Angin malam berdesir pelan, menyibakkan ujung lengan pakaian Yuwen Shuang.“Masuklah,” kata Zhao Fenglin singkat. “Masih ada hari esok.”Yuwen Shuang mengangguk. “Baik, Jenderal.”Ia melangkah pergi lebih

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   007 || Gelisah

    Yuwen Shuang duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya rapi di pangkuan. Hidangan di hadapannya masih utuh, uapnya mulai menipis. Ia tidak menyentuh apa pun sebelum orang-orang yang lebih tua lebih dulu menggerakkan sumpit. Di depannya, Zhao Fenglin duduk dengan sikap lurus. Pandangannya tertuju ke meja, fokus dengan hidangan di atas meja. Zhao Jianwu mengangkat sumpit lebih dulu. Han Ruoxi mengikutinya. “Silakan,” ujar Zhao Jianwu singkat. Barulah Yuwen Shuang mengangkat sumpitnya. Ia mengambil sedikit nasi, lalu lauk yang paling dekat dengannya. Gerakannya tenang, terkendali. Seolah tidak ada yang mengganjal di dadanya, seolah makan malam ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Zhao Fenglin makan dengan porsi wajar. Tidak terburu-buru, gerakannya teratur. Sejak tadi Zhao Fenglin tak sedikitpun melirik Yuwen Shuang yang duduk di hadapannya. Han Ruoxi melirik keduanya. Wanita itu menatap keduanya lama. “Putri,” panggilnya lembut. Yuwen Shuang segera menurunkan sumpit dan

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   006 || Makan Malam Bersama

    “Jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang kembali, kali ini sedikit lebih pelan, namun tetap jelas. “Jika tidak ada urusan lain, aku akan kembali ke dalam.”Ia berdiri tegak di hadapannya, tanpa menunduk, tanpa mendekat. Jarak di antara mereka dibiarkan tetap sama seperti sejak awal. Cukup dekat untuk disebut suami istri, namun terlalu jauh untuk disebut pasangan.Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Tatapan pria itu masih tertahan di wajahnya, seolah berusaha membaca sesuatu di balik ketenangannya. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan datar, tak berbeda dari saat upacara pernikahan tiga hari lalu.Yuwen Shuang menunggu. Tidak mendesak, tidak juga gelisah.“Aku tidak bermaksud mengganggumu.” Yuwen Shuang kembali membuka suara, suaranya datar dan sopan. “Aku hanya menyambut kepulanganmu sebagaimana seharusnya,” ucapnya datar. “Tidak lebih dari itu.”Yuwen Shuang menunduk singkat, sesuai tata krama.“Permisi, Jenderal.”Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik dan melangkah pergi. Meni

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   005 || Kepulangan Zhou Fenglin

    Tiga hari berlalu sejak pernikahan itu, dan kediaman keluarga Zhou selalu tenang. Jenderal Zhou Jianwu dan Han Ruoxi memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Hal itu membuat Yuwen Shuang merasa dihargai, dan dianggap. Meskipun ia berusaha menepis perasaan nyaman atas sikap baik kedua mertuanya. Yuwen Shuang duduk di depan meja kecil di sisi jendela. Cahaya pagi jatuh lembut pada wajahnya, menerangi secangkir teh yang sudah dingin sejak tadi. Ia tidak menyentuhnya. “Putri, tehnya sudah dingin,” ujar Mei’er pelan dari samping. “Aku tahu,” jawab Yuwen Shuang singkat. Ia menatap halaman dalam yang sepi. Selama tiga hari ini, tidak ada satu pun kabar dari Zhao Fenglin. Tidak ada pesan. Tidak ada kepulangan. Seolah pernikahan itu hanya berhenti di Aula kekaisaran. Bahkan Zhao Jianwu yang hari itu menyusul kepergian Zhao Fenglin, tak mengatakan apapun padanya. Tiga hari ini tak ada lagi yang membahas kepergian suaminya itu. Pintu kamar terbuka pelan. Yunxi masuk dengan langk

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   004 || Malam Yang Terpisah

    “Putri, ini kamarmu.” Suara Han Ruoxi terdengar pelan saat pintu kamar didorong terbuka. Cahaya lampu minyak langsung menyambut dari dalam ruangan yang luas dan rapi. Yuwen Shuang melangkah masuk tanpa berkata apa-apa. Matanya menyapu sekilas sekeliling kamar. Ranjang kayu besar, meja rias sederhana, tirai tipis berwarna pucat. Tidak berlebihan, namun jelas menunjukkan status keluarga Zhou sebagai bangsawan. “Jika ada yang kau perlukan malam ini, katakan pada pelayan,” lanjut Han Ruoxi. “Istirahat, Putri. Hari ini sangat melelahkan.” Yuwen Shuang mengangguk kecil. “Terima kasih, Nyonya.” Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Han Ruoxi menatap kerudung merah yang masih menutupi wajah menantunya. Ia ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Kau boleh melepasnya sekarang. Di sini tidak ada orang lain.” Yuwen Shuang diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Baik.” Han Ruoxi memberi isyarat pada Mei’er dan Yunxi. “Kalian tunggu di luar.” “Baik, Nyonya.” Pintu kamar ditutup perl

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   003 || Malam Pertama Di Kediaman Jenderal Zhou

    “Selir Wei?” kejut Yuwen Shuang saat membalikkan tubuhnya. Wanita itu berdiri beberapa langkah dari mereka, dengan senyum tipis khasnya. Perhiasan di rambutnya berkilau tertimpa cahaya lentera. Han Ruoxi ikut berbalik. Ia membungkukkan tubuhnya dengan hormat, gestur singkat namun penuh tata krama. Mata Selir Wei Ruyin menyipit sejenak. Ia mengenali wanita itu. Ibu kandung Jenderal Zhou Fenglin. Namun keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik saja, sebelum wajahnya kembali dihiasi ekspresi tenang. Perubahan ekspresi itu ditangkap jelas oleh Yuwen Shuang. “Shuang’er,” ucapnya lembut, namun suaranya tajam di balik kelembutan itu. “aku tahu ini sangat berat untukmu. Ditinggalkan oleh suamimu tepat setelah upacara pernikahan … itu adalah penghinaan.” Han Ruoxi yang mendengar itu hanya mematung. Tubuhnya mendadak kaku. “Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang pelan. “Tapi ini sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diubah.” Selir Wei Ruyin memandangi Yuwen Shuang dengan tatapan lem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status