Home / Historical / Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa / 005 || Kepulangan Zhou Fenglin

Share

005 || Kepulangan Zhou Fenglin

Author: Diva
last update publish date: 2026-01-21 12:30:52

Tiga hari berlalu sejak pernikahan itu, dan kediaman keluarga Zhou selalu tenang. Jenderal Zhou Jianwu dan Han Ruoxi memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Hal itu membuat Yuwen Shuang merasa dihargai, dan dianggap. Meskipun ia berusaha menepis perasaan nyaman atas sikap baik kedua mertuanya.

Yuwen Shuang duduk di depan meja kecil di sisi jendela. Cahaya pagi jatuh lembut pada wajahnya, menerangi secangkir teh yang sudah dingin sejak tadi. Ia tidak menyentuhnya.

“Putri, tehnya sudah dingin,” ujar Mei’er pelan dari samping.

“Aku tahu,” jawab Yuwen Shuang singkat.

Ia menatap halaman dalam yang sepi. Selama tiga hari ini, tidak ada satu pun kabar dari Zhao Fenglin. Tidak ada pesan. Tidak ada kepulangan. Seolah pernikahan itu hanya berhenti di Aula kekaisaran.

Bahkan Zhao Jianwu yang hari itu menyusul kepergian Zhao Fenglin, tak mengatakan apapun padanya. Tiga hari ini tak ada lagi yang membahas kepergian suaminya itu.

Pintu kamar terbuka pelan.

Yunxi masuk dengan langkah cepat, wajahnya tampak ragu. “Putri, saya baru saja dari gerbang.”

Yuwen Shuang tidak menoleh. “Ada apa?”

“Jenderal Zhao,” lanjut Yunxi. “Beliau sudah kembali ke kediaman.

Gerakan jari Yuwen Shuang pada jendela berhenti di udara.

“Oh,” ucapnya pelan. “Akhirnya.”

Nada suaranya datar, seolah kabar kepulangan Zhao Fenglin bukan apa-apa. Yunxi sedikit mengerutkan dahinya, tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya.

Ia takut kalau ucapannya itu salah, dan menyakiti majikannya. Jadi ia memilih diam.

Beberapa saat kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu kamar.

“Masuk,” ucap Yuwen Shuang.

Pintu terbuka. Han Ruoxi melangkah masuk dengan sikap tenang. Tatapannya singkat menyapu wajah Yuwen Shuang, seolah memastikan menantunya baik-baik saja.

“Kau sudah dengar, Putri?” tanyanya lembut.

“Sudah, Nyonya,” jawab Yuwen Shuang sambil bangkit berdiri perlahan.

Han Ruoxi mengangguk kecil. “Sebentar lagi Fenglin akan masuk ke halaman dalam.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang tetap lembut namun jelas, “Sebagai istrinya, kau perlu menyambutnya. Tidak perlu berkata apa-apa. Cukup berdiri di sana.”

Yuwen Shuang menunduk kecil. “Aku mengerti.”

Tidak keberatan, tidak ada antusiasme. Yuwen Shuang hanya menuruti ucapan Han Ruoxi.

Han Ruoxi menatapnya sesaat lebih lama, lalu berkata pelan, “Jika kau merasa tidak nyaman, katakan padaku.”

“Terima kasih, Nyonya,” jawab Yuwen Shuang sopan.

Han Ruoxi tersenyum tipis, ia mengusap pundak Yuwen Shuang lembut. “Aku ingin menyiapkan makan malam untuk nanti.”

Setelah pintu tertutup, Yuwen Shuang tetap berdiri di tempatnya. Beberapa detik berlalu sebelum ia menarik napas perlahan.

“Mei’er,” ucapnya akhirnya, “bantu aku bersiap.”

“Baik, Putri.”

Yuwen Shuang melangkah ke depan cermin. Ia menatap dirinya pada pantulan cermin. Ia akan menyambut Zhao Fenglin, pria yang meninggalkannya di Aula pernikahan malam itu. Kepulangan pria itu tak akan mengembalikan namanya yang sudah rusak. Rumor kepergian pria itu sudah menyebar ke seluruh Ibu kota.

Tidak apa. Yuwen Shuang tak begitu mempermasalahkan itu.

Setelah itu ia bangkit, mulai beranjak keluar dari kamar untuk menyambut kepulangan suaminya.

Yuwen Shuang melangkah keluar dari kamar dengan langkah tenang. Gaun sederhana berwarna pucat menjuntai rapi, tanpa perhiasan berlebihan. Ia tidak ingin terlihat menunggu, apalagi berharap.

Mei’er dan Yunxi mengikutinya dari belakang.

“Putri,” bisik Mei’er hati-hati, “apa kau yakin ingin keluar sekarang?”

Yuwen Shuang tidak menoleh. “Aku hanya menuruti keinginan Nyonya Zhou.”

Jawaban itu singkat, tanpa emosi. Yunxi saling pandang dengan Mei’er, lalu mempercepat langkah agar sejajar.

“Kalau begitu,” ujar Yunxi pelan, “kami akan berdiri sedikit di belakangmu.”

“Tidak perlu terlalu dekat,” jawab Yuwen Shuang. “Ini urusanku sebagai istri.”

Langkah mereka menyusuri lorong kediaman terasa sunyi. Setiap langkah Yuwen Shuang terdengar jelas di telinganya sendiri. Ia berhenti sesaat di ambang pintu menuju halaman dalam.

Mei’er ragu-ragu. “Putri kalau Jenderal—”

“Apa pun yang dia lakukan,” potong Yuwen Shuang lembut namun tegas, “itu bukan sesuatu yang perlu kalian pikirkan.”

Ia menarik napas perlahan, lalu melangkah maju.

Di halaman dalam, Yuwen Shuang berdiri tegak. Punggungnya lurus, wajahnya tenang. Mei’er dan Yunxi berhenti beberapa langkah di belakangnya, menunduk sopan.

“Aku hanya menyambutnya,” gumam Yuwen Shuang pelan, seolah berkata pada dirinya sendiri. “Tidak lebih.”

Dan di kejauhan, suara langkah kaki mulai terdengar mendekat. Yuwen Shuang sedikit melambatkan langkahnya saat melihat kehadiran Zhao Fenglin.

Zhao Fenglin berjalan ke arahnya dengan langkah tenang. Tatapan pria itu tetap dingin, wajahnya masih tertutup kain hitam. Hanya pakaiannya yang berubah, bukan lagi jubah hitam seperti yang digunakannya di hari pernikahan itu.

Zhao Fenglin menghentikan langkahnya, saat tatapannya bersibobrok dengan manik cokelat milik Yuwen Shuang. Wajah itu tak asing di penglihatannya. Yuwen Shuang merupakan gadis yang ia temui di kedai teh sebulan yang lalu. Pertemuan singkat yang berhasil menarik perhatiannya, karena sikapnya yang tenang. Seolah hiruk pikuk di sekelilingnya tak pernah benar-benar menyentuh dirinya.

Saat itu kedai teh begitu ramai, dan mereka terpaksa duduk di meja yang sama tanpa saling mengenal. Namun sejak pertemuan singkat itu, bayangan gadis berwajah datar dengan sorot mata jernih tersebut tak pernah benar-benar pergi dari ingatan Zhao Fenglin.

‘Aku tidak menyangka, gadis itu adalah putri buangan Kaisar Yuwen.’

Tatapannya sejak tadi tak teralihkan sedikitpun dari Yuwen Shuang. Gadis itu semakin mendekat padanya.

Langkah Yuwen Shuang terhenti tepat di depannya, jarak mereka cukup dekat untuk merasakan keheningan yang canggung. Wajahnya tetap tenang, seolah jarak sedekat itu tak mengguncangnya sedikit pun.

“Jenderal Zhao,” ucapnya lebih dulu, suaranya datar dan terkontrol. “Selamat datang kembali.”

Zhao Fenglin menatapnya sesaat lebih lama dari yang seharusnya, lalu membalas dengan anggukan singkat. “Terima kasih, Putri Yuwen.”

Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Namun untuk sesaat yang singkat itu, udara di antara mereka terasa lebih berat dari biasanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   197 || Harapan Yuwen Shuang

    Suasana di dalam kamar seketika menegang. Yuwen Shuang tanpa sadar menggenggam tangan Selir Li Mei lebih erat, sementara Bibi Sun berdiri terpaku di depan pintu dengan wajah penuh kewaspadaan.Selama bertahun-tahun, Permaisuri Xie Zhaoyun hampir tidak pernah mengirim orang ke Istana Dingin, apalagi di tengah malam seperti ini. Bahkan ketika Yuwen Shuang pertama kali datang ke Istana, wanita itu tidak pernah menunjukkan perhatian khusus kepadanya ataupun kepada selir Li Mei.Karena itulah, kedatangan utusan Permaisuri saat ini terasa sangat aneh.Selir Li Mei menoleh ke arah Bibi Sun dan menganggukkan kepalanya pelan. "Buka pintunya."Bibi Sun tampak ragu-ragu. Tatapannya sempat beralih kepada Yuwen Shuang sebelum akhirnya berjalan menuju pintu kayu itu. Begitu pintu dibuka, seorang kasim muda segera membungkukkan tubuhnya dengan hormat."Hamba memberi salam kepada Selir Li dan Putri Kedua."Yuwen Shuang memperhatikan pria itu dengan saksama. Wajahnya tampak asing. Ia yakin belum perna

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   196 || Pesan Selir Li Mei

    Yuwen Shuang menatap Kaisar dengan wajah pucat. Lidahnya mendadak kelu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Kini kepalanya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Dari apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya, tentang Heishan yang disebut oleh Kaisar, dan Zhao Fenglin yang ternyata masih hidup. Suaminya akan kembali ke ibu kota. Namun, mengapa ayahnya sendiri justru berbicara seolah-olah Zhao Fenglin adalah musuh yang harus diawasi?"Baginda ...," suara Yuwen Shuang bergetar, "apa yang sebenarnya terjadi di Heishan?" Kaisar Yuwen Longzhi membalikkan tubuhnya dan memandang halaman istana yang gelap. "Ada seseorang yang mencoba membunuh Zhao Fenglin."Mata Yuwen Shuang langsung membelalak. "Membunuh?" bisiknya."Namun, dia selamat." Kaisar berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Dan sejak saat itu, aku tidak lagi mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya."Yuwen Shuang tanpa sadar menggenggam erat lengan bajunya sendiri. Selama ini, Zhao Fenglin adalah jenderal paling setia di

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   195 || Ancaman

    Teriakan Yuwen Shuang memecah keheningan malam. Tanpa memedulikan tatapan para penjaga di sekitarnya, ia segera berlari menaiki tangga batu menuju sang Ibu. Jubah panjangnya terseret di lantai, sementara wajahnya dipenuhi keterkejutan dan kepanikan."Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan napas memburu.Selir Li Mei perlahan mengangkat kepalanya. Wajah wanita itu tampak jauh lebih pucat daripada biasanya, matanya sedikit memerah seolah telah menangis dalam waktu yang lama. Saat melihat Yuwen Shuang, raut wajahnya justru berubah panik."Shuang'er, kenapa kau datang ke sini?" bisiknya pelan.Yuwen Shuang berlutut di samping ibunya. Tatapannya segera beralih ke tali yang melilit pergelangan tangan Li Mei."Siapa yang melakukan ini?" Suaranya mulai bergetar. "Kenapa mereka mengikat Ibu?"Li Mei membuka mulut, tetapi sebelum sempat menjawab, suara berat tiba-tiba terdengar dari dalam aula."Karena itu perintahku."Tubuh Yuwen Shuang langsung menegang. Perlahan, ia mengangkat ke

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   194 || Panggilan Kaisar

    Angin malam berembus pelan, membuat ujung jubah hitam Han Zhiren berkibar di bawah cahaya lentera. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya menggeleng tipis."Hamba tidak berani menebak kehendak Baginda."Yuwen Shuang menatapnya lekat, seolah ingin mencari sesuatu dari wajah tenang pengawal itu. Namun ia tidak menemukan apapun. Pria itu begitu pandai menyembunyikan ekspresinya.Untuk beberapa saat, suasana di halaman paviliun menjadi sunyi. Para pelayan menundukkan kepala, tidak berani ikut campur dalam percakapan mereka.Yuwen Shuang perlahan mengalihkan pandangannya ke arah aula utama istana yang tampak jauh di balik kegelapan malam. Hatinya semakin gelisah. Selama bertahun-tahun, Kaisar Yuwen Longzhi hampir tidak pernah memanggil Selir Li Mei, apalagi di tengah malam seperti ini.Semakin dipikirkannya, semakin aneh semuanya terasa.Tiga hari yang lalu, ia tiba-tiba diperintahkan kembali ke istana. Lalu, suasana istana berubah menjadi jauh lebih tegang. Sekarang, Li Mei dipanggil se

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   193 || Panggilan Kaisar?

    Yuwen Shuang perlahan membalikkan tubuhnya. Ia tampak terkejut saat melihat seorang pria yang menyambut kedatangannya beberapa bulan yang lalu, saat ia berkunjung untuk menemui sang Ibu. Keterkejutan itu hanya sesaat."Han Zhiren?" gumam Yuwen Shuang. Pria itu tersenyum sopan, lalu membungkukkan tubuhnya. "Putri kedua, apakah Anda membutuhkan sesuatu?""Tidak. Aku keluar untuk menemui Ibu, karena aku terbangun karena mimpi buruk." Yuwen Shuang mengatakan itu dengan tenang, sorot matanya datar. Jelas ia berbohong. Sepertinya Han Zhiren tidak mudah dibohongi. Karena mata tajam Pria itu menatap lekat wajah Yuwen Shuang, wanita itu tidak seperti orang yang baru saja terbangun karena mimpi buruk. Wanita itu jelas belum tidur. Namun pria itu tetap mengangguk, masih dengan senyumannya. "Mari saya antar, Putri. Ini sudah sangat larut, istana dingin letaknya sangat jauh." Dengan cepat Yuwen Shuang menggeleng. "Tidak perlu. Saya bisa pergi sendiri." Han Zhiren mengangguk, ia tidak bisa

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   192 || Kembali Ke Ibu Kota

    Berbaliklah Zhao Fenglin dari jembatan batu itu. Langkahnya tetap tenang, tetapi Wei Chen dapat merasakan perubahan pada pria di sampingnya. Selama bertahun-tahun mereka bertempur bersama, ia tahu satu hal. Semakin tenang Zhao Fenglin terlihat, semakin besar badai yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.Kabut malam perlahan menelan cahaya obor pasukan kekaisaran. Di belakang mereka, suara derap kaki kuda Lu Dehai semakin menjauh hingga akhirnya menghilang bersama embusan angin.Beberapa saat kemudian, Wei Chen akhirnya memecah keheningan."Jenderal, apakah kau mempercayai ucapannya?"Zhao Fenglin tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus menembus jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering."Tidak sepenuhnya.""Lalu kita tetap kembali?" tanyanya lagi. "Kita memang harus kembali."Wei Chen menghela napas pelan. "Padahal bisa saja itu jebakan.""Memang jebakan."Jawaban Zhao Fenglin begitu tenang hingga membuat Wei Chen terdiam."Tapi jebakan itu memang ditujukan agar aku masuk ke

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   009 || Permintaan Maaf

    “Fenglin, kau harus sadar sikapmu pada istrimu itu salah!” Han Ruoxi kembali membuka suara saat melihat putranya hanya diam saja. Tatapan wanita itu tajam putranya yang tak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya. “Ibu tahu kalau kau tidak bisa menerima pernikahan itu. Tapi cara kamu meninggalk

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   067 || Tidak Seperti Rumor Yang Beredar?

    Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Kereta terus bergerak mendekati gerbang istana.Suara roda kayu yang berderak perlahan bercampur dengan langkah para penjaga yang berjaga di sepanjang jalan menuju gerbang utama.Lampion merah besar yang tergantung di kedua sisi gerbang bergoyang pelan tertiup

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   066 || Perjalanan Menuju Istana

    Langit ibu kota perlahan berubah gelap ketika matahari akhirnya tenggelam di balik tembok kota.Lampion-lampion mulai dinyalakan satu per satu di sepanjang jalan utama. Cahaya kuning hangat memantul di batu jalan yang telah dipakai selama puluhan tahun oleh kereta para pejabat dan bangsawan.Di dep

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   068 || Sambutan Kaisar

    Yuwen Shuang dan Zhao Fenglin menoleh hampir bersamaan.Di barisan meja utama yang sedikit lebih tinggi dari tempat para pejabat duduk, seorang wanita anggun telah berdiri dari kursinya.Gaun sutra merah tua yang dikenakannya jatuh panjang hingga lantai. Hiasan emas di rambutnya berkilau di bawah c

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status