MasukTiga hari berlalu sejak pernikahan itu, dan kediaman keluarga Zhou selalu tenang. Jenderal Zhou Jianwu dan Han Ruoxi memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Hal itu membuat Yuwen Shuang merasa dihargai, dan dianggap. Meskipun ia berusaha menepis perasaan nyaman atas sikap baik kedua mertuanya.
Yuwen Shuang duduk di depan meja kecil di sisi jendela. Cahaya pagi jatuh lembut pada wajahnya, menerangi secangkir teh yang sudah dingin sejak tadi. Ia tidak menyentuhnya. “Putri, tehnya sudah dingin,” ujar Mei’er pelan dari samping. “Aku tahu,” jawab Yuwen Shuang singkat. Ia menatap halaman dalam yang sepi. Selama tiga hari ini, tidak ada satu pun kabar dari Zhao Fenglin. Tidak ada pesan. Tidak ada kepulangan. Seolah pernikahan itu hanya berhenti di Aula kekaisaran. Bahkan Zhao Jianwu yang hari itu menyusul kepergian Zhao Fenglin, tak mengatakan apapun padanya. Tiga hari ini tak ada lagi yang membahas kepergian suaminya itu. Pintu kamar terbuka pelan. Yunxi masuk dengan langkah cepat, wajahnya tampak ragu. “Putri, saya baru saja dari gerbang.” Yuwen Shuang tidak menoleh. “Ada apa?” “Jenderal Zhao,” lanjut Yunxi. “Beliau sudah kembali ke kediaman. Gerakan jari Yuwen Shuang pada jendela berhenti di udara. “Oh,” ucapnya pelan. “Akhirnya.” Nada suaranya datar, seolah kabar kepulangan Zhao Fenglin bukan apa-apa. Yunxi sedikit mengerutkan dahinya, tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia takut kalau ucapannya itu salah, dan menyakiti majikannya. Jadi ia memilih diam. Beberapa saat kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu kamar. “Masuk,” ucap Yuwen Shuang. Pintu terbuka. Han Ruoxi melangkah masuk dengan sikap tenang. Tatapannya singkat menyapu wajah Yuwen Shuang, seolah memastikan menantunya baik-baik saja. “Kau sudah dengar, Putri?” tanyanya lembut. “Sudah, Nyonya,” jawab Yuwen Shuang sambil bangkit berdiri perlahan. Han Ruoxi mengangguk kecil. “Sebentar lagi Fenglin akan masuk ke halaman dalam.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang tetap lembut namun jelas, “Sebagai istrinya, kau perlu menyambutnya. Tidak perlu berkata apa-apa. Cukup berdiri di sana.” Yuwen Shuang menunduk kecil. “Aku mengerti.” Tidak keberatan, tidak ada antusiasme. Yuwen Shuang hanya menuruti ucapan Han Ruoxi. Han Ruoxi menatapnya sesaat lebih lama, lalu berkata pelan, “Jika kau merasa tidak nyaman, katakan padaku.” “Terima kasih, Nyonya,” jawab Yuwen Shuang sopan. Han Ruoxi tersenyum tipis, ia mengusap pundak Yuwen Shuang lembut. “Aku ingin menyiapkan makan malam untuk nanti.” Setelah pintu tertutup, Yuwen Shuang tetap berdiri di tempatnya. Beberapa detik berlalu sebelum ia menarik napas perlahan. “Mei’er,” ucapnya akhirnya, “bantu aku bersiap.” “Baik, Putri.” Yuwen Shuang melangkah ke depan cermin. Ia menatap dirinya pada pantulan cermin. Ia akan menyambut Zhao Fenglin, pria yang meninggalkannya di Aula pernikahan malam itu. Kepulangan pria itu tak akan mengembalikan namanya yang sudah rusak. Rumor kepergian pria itu sudah menyebar ke seluruh Ibu kota. Tidak apa. Yuwen Shuang tak begitu mempermasalahkan itu. Setelah itu ia bangkit, mulai beranjak keluar dari kamar untuk menyambut kepulangan suaminya. Yuwen Shuang melangkah keluar dari kamar dengan langkah tenang. Gaun sederhana berwarna pucat menjuntai rapi, tanpa perhiasan berlebihan. Ia tidak ingin terlihat menunggu, apalagi berharap. Mei’er dan Yunxi mengikutinya dari belakang. “Putri,” bisik Mei’er hati-hati, “apa kau yakin ingin keluar sekarang?” Yuwen Shuang tidak menoleh. “Aku hanya menuruti keinginan Nyonya Zhou.” Jawaban itu singkat, tanpa emosi. Yunxi saling pandang dengan Mei’er, lalu mempercepat langkah agar sejajar. “Kalau begitu,” ujar Yunxi pelan, “kami akan berdiri sedikit di belakangmu.” “Tidak perlu terlalu dekat,” jawab Yuwen Shuang. “Ini urusanku sebagai istri.” Langkah mereka menyusuri lorong kediaman terasa sunyi. Setiap langkah Yuwen Shuang terdengar jelas di telinganya sendiri. Ia berhenti sesaat di ambang pintu menuju halaman dalam. Mei’er ragu-ragu. “Putri kalau Jenderal—” “Apa pun yang dia lakukan,” potong Yuwen Shuang lembut namun tegas, “itu bukan sesuatu yang perlu kalian pikirkan.” Ia menarik napas perlahan, lalu melangkah maju. Di halaman dalam, Yuwen Shuang berdiri tegak. Punggungnya lurus, wajahnya tenang. Mei’er dan Yunxi berhenti beberapa langkah di belakangnya, menunduk sopan. “Aku hanya menyambutnya,” gumam Yuwen Shuang pelan, seolah berkata pada dirinya sendiri. “Tidak lebih.” Dan di kejauhan, suara langkah kaki mulai terdengar mendekat. Yuwen Shuang sedikit melambatkan langkahnya saat melihat kehadiran Zhao Fenglin. Zhao Fenglin berjalan ke arahnya dengan langkah tenang. Tatapan pria itu tetap dingin, wajahnya masih tertutup kain hitam. Hanya pakaiannya yang berubah, bukan lagi jubah hitam seperti yang digunakannya di hari pernikahan itu. Zhao Fenglin menghentikan langkahnya, saat tatapannya bersibobrok dengan manik cokelat milik Yuwen Shuang. Wajah itu tak asing di penglihatannya. Yuwen Shuang merupakan gadis yang ia temui di kedai teh sebulan yang lalu. Pertemuan singkat yang berhasil menarik perhatiannya, karena sikapnya yang tenang. Seolah hiruk pikuk di sekelilingnya tak pernah benar-benar menyentuh dirinya. Saat itu kedai teh begitu ramai, dan mereka terpaksa duduk di meja yang sama tanpa saling mengenal. Namun sejak pertemuan singkat itu, bayangan gadis berwajah datar dengan sorot mata jernih tersebut tak pernah benar-benar pergi dari ingatan Zhao Fenglin. ‘Aku tidak menyangka, gadis itu adalah putri buangan Kaisar Yuwen.’ Tatapannya sejak tadi tak teralihkan sedikitpun dari Yuwen Shuang. Gadis itu semakin mendekat padanya. Langkah Yuwen Shuang terhenti tepat di depannya, jarak mereka cukup dekat untuk merasakan keheningan yang canggung. Wajahnya tetap tenang, seolah jarak sedekat itu tak mengguncangnya sedikit pun. “Jenderal Zhao,” ucapnya lebih dulu, suaranya datar dan terkontrol. “Selamat datang kembali.” Zhao Fenglin menatapnya sesaat lebih lama dari yang seharusnya, lalu membalas dengan anggukan singkat. “Terima kasih, Putri Yuwen.” Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Namun untuk sesaat yang singkat itu, udara di antara mereka terasa lebih berat dari biasanya.Yuwen Shuang menoleh, ia sedikit melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri satu meter di depannya. “J-jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang sedikit gugup. Ia menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan. “Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?” Zhao Fenglin kembali membuka suara. Ia menatap lurus pada wajah Yuwen Shuang. “Aku tidak bisa tidur, dan aku mencoba keluar dari kamar untuk mencari angin,” jelas Yuwen Shuang balas menatap pria itu. Zhao Fenglin terdiam sejenak. Pandangannya bergeser singkat ke arah langit malam, lalu kembali pada Yuwen Shuang.“Sudah larut,” ucapnya akhirnya. “Udara malam tidak selalu baik.”“Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang cepat. Tangannya saling bertaut di depan tubuhnya. “Aku tidak berniat lama.”Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Angin malam berdesir pelan, menyibakkan ujung lengan pakaian Yuwen Shuang.“Masuklah,” kata Zhao Fenglin singkat. “Masih ada hari esok.”Yuwen Shuang mengangguk. “Baik, Jenderal.”Ia melangkah pergi lebih
Yuwen Shuang duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya rapi di pangkuan. Hidangan di hadapannya masih utuh, uapnya mulai menipis. Ia tidak menyentuh apa pun sebelum orang-orang yang lebih tua lebih dulu menggerakkan sumpit. Di depannya, Zhao Fenglin duduk dengan sikap lurus. Pandangannya tertuju ke meja, fokus dengan hidangan di atas meja. Zhao Jianwu mengangkat sumpit lebih dulu. Han Ruoxi mengikutinya. “Silakan,” ujar Zhao Jianwu singkat. Barulah Yuwen Shuang mengangkat sumpitnya. Ia mengambil sedikit nasi, lalu lauk yang paling dekat dengannya. Gerakannya tenang, terkendali. Seolah tidak ada yang mengganjal di dadanya, seolah makan malam ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Zhao Fenglin makan dengan porsi wajar. Tidak terburu-buru, gerakannya teratur. Sejak tadi Zhao Fenglin tak sedikitpun melirik Yuwen Shuang yang duduk di hadapannya. Han Ruoxi melirik keduanya. Wanita itu menatap keduanya lama. “Putri,” panggilnya lembut. Yuwen Shuang segera menurunkan sumpit dan
“Jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang kembali, kali ini sedikit lebih pelan, namun tetap jelas. “Jika tidak ada urusan lain, aku akan kembali ke dalam.”Ia berdiri tegak di hadapannya, tanpa menunduk, tanpa mendekat. Jarak di antara mereka dibiarkan tetap sama seperti sejak awal. Cukup dekat untuk disebut suami istri, namun terlalu jauh untuk disebut pasangan.Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Tatapan pria itu masih tertahan di wajahnya, seolah berusaha membaca sesuatu di balik ketenangannya. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan datar, tak berbeda dari saat upacara pernikahan tiga hari lalu.Yuwen Shuang menunggu. Tidak mendesak, tidak juga gelisah.“Aku tidak bermaksud mengganggumu.” Yuwen Shuang kembali membuka suara, suaranya datar dan sopan. “Aku hanya menyambut kepulanganmu sebagaimana seharusnya,” ucapnya datar. “Tidak lebih dari itu.”Yuwen Shuang menunduk singkat, sesuai tata krama.“Permisi, Jenderal.”Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik dan melangkah pergi. Meni
Tiga hari berlalu sejak pernikahan itu, dan kediaman keluarga Zhou selalu tenang. Jenderal Zhou Jianwu dan Han Ruoxi memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Hal itu membuat Yuwen Shuang merasa dihargai, dan dianggap. Meskipun ia berusaha menepis perasaan nyaman atas sikap baik kedua mertuanya. Yuwen Shuang duduk di depan meja kecil di sisi jendela. Cahaya pagi jatuh lembut pada wajahnya, menerangi secangkir teh yang sudah dingin sejak tadi. Ia tidak menyentuhnya. “Putri, tehnya sudah dingin,” ujar Mei’er pelan dari samping. “Aku tahu,” jawab Yuwen Shuang singkat. Ia menatap halaman dalam yang sepi. Selama tiga hari ini, tidak ada satu pun kabar dari Zhao Fenglin. Tidak ada pesan. Tidak ada kepulangan. Seolah pernikahan itu hanya berhenti di Aula kekaisaran. Bahkan Zhao Jianwu yang hari itu menyusul kepergian Zhao Fenglin, tak mengatakan apapun padanya. Tiga hari ini tak ada lagi yang membahas kepergian suaminya itu. Pintu kamar terbuka pelan. Yunxi masuk dengan langk
“Putri, ini kamarmu.” Suara Han Ruoxi terdengar pelan saat pintu kamar didorong terbuka. Cahaya lampu minyak langsung menyambut dari dalam ruangan yang luas dan rapi. Yuwen Shuang melangkah masuk tanpa berkata apa-apa. Matanya menyapu sekilas sekeliling kamar. Ranjang kayu besar, meja rias sederhana, tirai tipis berwarna pucat. Tidak berlebihan, namun jelas menunjukkan status keluarga Zhou sebagai bangsawan. “Jika ada yang kau perlukan malam ini, katakan pada pelayan,” lanjut Han Ruoxi. “Istirahat, Putri. Hari ini sangat melelahkan.” Yuwen Shuang mengangguk kecil. “Terima kasih, Nyonya.” Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Han Ruoxi menatap kerudung merah yang masih menutupi wajah menantunya. Ia ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Kau boleh melepasnya sekarang. Di sini tidak ada orang lain.” Yuwen Shuang diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Baik.” Han Ruoxi memberi isyarat pada Mei’er dan Yunxi. “Kalian tunggu di luar.” “Baik, Nyonya.” Pintu kamar ditutup perl
“Selir Wei?” kejut Yuwen Shuang saat membalikkan tubuhnya. Wanita itu berdiri beberapa langkah dari mereka, dengan senyum tipis khasnya. Perhiasan di rambutnya berkilau tertimpa cahaya lentera. Han Ruoxi ikut berbalik. Ia membungkukkan tubuhnya dengan hormat, gestur singkat namun penuh tata krama. Mata Selir Wei Ruyin menyipit sejenak. Ia mengenali wanita itu. Ibu kandung Jenderal Zhou Fenglin. Namun keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik saja, sebelum wajahnya kembali dihiasi ekspresi tenang. Perubahan ekspresi itu ditangkap jelas oleh Yuwen Shuang. “Shuang’er,” ucapnya lembut, namun suaranya tajam di balik kelembutan itu. “aku tahu ini sangat berat untukmu. Ditinggalkan oleh suamimu tepat setelah upacara pernikahan … itu adalah penghinaan.” Han Ruoxi yang mendengar itu hanya mematung. Tubuhnya mendadak kaku. “Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang pelan. “Tapi ini sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diubah.” Selir Wei Ruyin memandangi Yuwen Shuang dengan tatapan lem







