登入"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.
Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.
Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.
Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.
Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.
Aku mencengkeram dadaku, berjuang mencari pasokan udara di dalam kegelapan kamar sayap barat yang sunyi.
Tiba-tiba, rasa panas menjalar hebat dari kelenjar di samping leherku.
Aroma vanila yang teramat manis menguar deras dari kulitku, memenuhi seluruh ruangan.
Aku baru saja melepaskan feromon Level satu secara tidak sengaja akibat kepanikan yang luar biasa.
Efek pelepasan biologis pasif ini langsung merusak lingkungan fisik di sekitarku secara nyata.
Sekuntum mawar putih di dalam vas kaca samping ranjang mendadak layu, kelopak-kelopaknya mengering dan gugur dalam hitungan detik.
Di luar koridor, suara nampan logam jatuh berdentang keras di atas lantai marmer.
Bunyi tubuh pelayan wanita menyusul, ambruk pingsan karena tidak kuat menahan pekatnya aroma manisku.
Aku menutup hidungku dengan tangan gemetar.
Namun, pelepasan feromon biologis ini sudah telanjur menyebar luas ke seluruh penjuru istana Bloodmoon.
Lolongan serigala liar bersahut-sahutan dari arah hutan perbatasan, terdengar lapar dan menuntut hak untuk mengklaimku.
BRAK!
Pintu kayu ek kamar perawatanku hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil di lantai.
Bastian menerobos masuk terlebih dahulu dengan dada telanjang yang naik turun dengan cepat.
Mata emasnya menyala merah, dikuasai penuh oleh insting binatang yang menuntut kepemilikan.
Julian melangkah tenang di belakangnya, memutar cincin perak di jari manisnya dengan kecepatan yang tidak wajar.
"Alana," desis Bastian dengan suara serak yang berat.
"Aroma vanila ini... kau sudah matang untuk kuambil," sambung Julian tanpa mengalihkan pandangannya.
"Jangan mendekat. Keluar dari kamarku sekarang juga," desisku dingin sembari menyilangkan kedua lengan di dada demi menjaga jarak pertahanan.
Bastian mengabaikan peringatanku dan melangkah maju untuk meraih bahuku secara paksa.
"Dia milikku, Julian! Jangan berani menyentuh Omega-ku!" geram Bastian dengan taring yang memanjang tajam.
"Dia belum ditandai oleh siapa pun, Bastian. Siapa pun bisa mengklaim rahimnya malam ini," sahut Julian datar, memotong langkah saudaranya.
Sebelum kedua saudara kembar itu sempat saling mencabik, pintu kamar mendadak didera hawa dingin yang membekukan.
Aroma kayu bakar bercampur bau darah kering menyapu bersih seluruh keharuman vanilaku.
Xavier Bloodmoon berdiri tegap di ambang pintu yang telah hancur berantakan.
Sepasang mata merah darah miliknya berkilat tanpa emosi, langsung mengunci sosok kecilku di atas ranjang.
"Ayah! Dia milikku!" teriak Bastian, mencoba melawan dominasi mutlak Xavier.
Xavier sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas teriakan putranya.
Xavier hanya melepaskan satu hentakan feromon Alpha Puncak yang sangat masif ke arah kedua putranya.
Hantaman tak kasat mata itu membuat tubuh kekar Bastian terlempar hingga menabrak dinding batu.
Bastian terkapar memegangi dadanya dengan napas terputus-putus.
Julian ikut berlutut di lantai marmer, menyerah kalah di bawah tekanan feromon Alpha sang ayah.
Xavier sama sekali tidak melirik ke arah kedua putranya yang telah dilumpuhkan tanpa sentuhan fisik.
Xavier langsung melangkah cepat, menerjang tubuhku yang gemetar di atas ranjang beludru hitam.
"Xavier, menyingkir dariku," desisku sinis, mencoba menahan dada bidangnya yang sekeras batu dengan kedua tangan yang gemetar.
Pria raksasa itu sama sekali tidak memedulikan penolakanku yang lemah.
Dengan satu gerakan cepat dan kasar, dia mencengkeram kedua pergelangan tanganku ke atas kepala dengan satu tangan besarnya.
Tangan kirinya yang kasar mencengkeram leher belakangku dengan presisi, memaksa kepalaku mendongak tajam di bawah tatapannya.
"Kau sengaja melepaskan feromon manis ini untuk memancingku ke kamarmu, Omega?" bisik Xavier dengan suara sangat rendah tepat di depan wajahku.
"Lepaskan tangan kotormu," jawabku dingin sembari menatap langsung ke dalam sepasang mata merah darah miliknya.
Xavier mempererat cengkeramannya tepat pada kelenjar feromonku di samping leher kiriku yang sensitif.
Ujung jarinya menekan urat nadi itu dengan keras, memicu denyutan panas yang menjalar cepat ke perut bagian bawahku.
Napas panasnya yang beraroma kayu bakar menyapu bibirku yang gemetar menahan amarah yang membakar dada.
Sebelum aku sempat melakukan perlawanan fisik lagi, Xavier menundukkan kepalanya secara instan tanpa peringatan apa pun.
Taring tajamnya langsung menembus kulit bahu kiriku dengan gigitan yang sangat keras dan dalam.
CRASS!
"AAAAH!"
Jeritanku tertahan di tenggorokan saat rasa perih yang luar biasa menusuk langsung ke saraf terdalamku.
Darah hangat merembes cepat, membasahi permukaan kulit bahu dan dadaku yang gemetar menahan sakit.
Xavier menghisap cairan merah itu dengan rakus, memperdalam gigitan taringnya di dagingku tanpa kelembutan sedikit pun.
Di balik rasa sakit yang menyiksa ini, tubuh otonomku kembali berkhianat terhadap penolakan mentalku.
Feromon gigitan klaim milik sang Alpha Tertinggi mengalir cepat ke dalam seluruh pembuluh darahku.
Punggungku melengkung. Darahku terasa mendidih.
Rasa hangat yang teramat pekat meledak di perut bagian bawah, menghancurkan sisa pertahanan mentalku dalam sekejap.
"Ah... ugh..." desahan pasrah yang memalukan lolos begitu saja dari tenggorokanku tanpa bisa kuhentikan sama sekali.
Aku mengalami pelepasan fisik biologis pertama yang dipaksakan secara mutlak oleh gigitan taringnya.
Seluruh tubuhku bergetar hebat di atas seprai sutra yang kini ternoda oleh darah dan sisa cairanku.
Xavier menarik kembali taringnya dengan perlahan, membiarkan luka robek di bahuku terekspos basah di bawah cahaya bulan.
Xavier menjilat sisa darah segar di sudut bibirnya, menatapku dengan kepuasan biologis yang gelap tanpa penyesalan.
Di ambang pintu, Bastian dan Julian menyaksikan seluruh adegan intim itu dengan rahang mengeras rapat dan mata yang menegang liar.
Xavier bangkit berdiri dari ranjang, menatap kedua putranya yang masih membeku di bawah sisa tekanan auranya yang mencekik.
"Dia sudah kucicipi," desis Xavier kejam sembari mengusap sisa noda merah di dagunya yang keras.
"Sentuh dia, dan aku akan merobek leher kalian tanpa ragu sedikit pun."
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencengkeram dadaku, berjuang mencari pasokan udara di dalam kegelapan kamar sayap barat yang sunyi.Tiba-tiba, rasa panas menjalar hebat dari kelenjar di samping leherku.Aroma vanila yang teramat manis menguar deras dari kulitku, memenuhi seluruh ruangan.Aku baru saja melepaskan feromon Level satu secara tidak sengaja akibat kepanikan yang luar biasa.Efek pelepasan biologis pasif ini langsung merusak lingkungan fisik di sekitarku secara nyata.Sekuntum mawar putih di dalam vas kaca samping ranjang mendadak layu, kelopak-kelopaknya mengering dan gugur dalam hitungan detik.Di luar koridor, suara nampan logam jatuh berdentang keras di atas lantai marmer.Bunyi tubuh pelayan wanita menyusul, ambr
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut kasar setiap kali aku bergerak bebas.Aku mengulurkan tangan, menyentuh sekuntum mawar putih yang dingin.Pikiranku kembali melayang pada kejadian mengerikan di perpustakaan istana kemarin sore.Cengkeraman kasar Bastian pada leher belakangku dan kilasan trauma penjara bawah tanah masih membekas kuat.Aku menarik napas sedalam mungkin, berusaha menenangkan detak jantungku yang terus berdegup kencang."Kelopak mawar tidak akan bisa menyembuhkan ketakutan di dalam matamu, Alana." Sebuah suara dingin memecah keheningan dari arah belakang.Aku tersentak hebat hingga merobek kelopak mawar putih yang kupegang.Aroma peppermint segar dan es yang sangat tajam langsung menyerbu indra penciumanku tanpa
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres Anda," kata pelayan itu tergesa-gesa.Pintu kamar dibiarkan sedikit terbuka saat pelayan itu melangkah kembali ke koridor luar.Aku memanfaatkan kesempatan singkat itu dengan cepat.Di atas nampan perak, sebuah pisau logam kecil berkilau tajam di bawah cahaya lilin.Dengan jari gemetar, aku menyambar pisau itu dan menyembunyikannya di dalam lipatan lengan gaun katun putihku.Logam dingin itu langsung menyentuh kulit lenganku, menyembunyikan ancaman di balik kain longgar.Pelayan itu kembali membawa handuk, meletakkannya di samping baskom, lalu membungkuk sopan sebelum keluar.Begitu suara kunci pintu berputar dari luar, aku mengembuskan napas panjang yang terasa menyumbat tenggorokan.Aku mel
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu," desisku dingin dengan pandangan yang menantang mereka."Diam dan jangan membuat Alpha Tertinggi menunggu lebih lama lagi!" bentak pengawal bertubuh raksasa di sebelah kiriku.Aku mengatupkan rahang rapat-rapat, menolak keras untuk menunjukkan rasa sakit atau air mata di depan para penjaga ini.Kami melangkah melewati koridor panjang menuju pintu ganda Aula Besar yang dilapisi emas hitam kuno.Saat pintu kayu itu terbuka lebar, aroma kayu bakar bercampur bau darah kering langsung menyergap indra penciumanku.Itu adalah aroma feromon dominan milik Xavier Bloodmoon, sang Alpha Tertinggi yang memimpin Kawanan Bloodmoon.Puluhan pasang mata serigala di dalam ruangan besar itu langsung tertuju pa
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin milik Raja Buangan terasa baru saja mengurungku beberapa detik lalu.Aku menarik napas panjang, menolak untuk menyerah pada rasa takut.Luka cambuk di punggungku berdenyut kencang saat aku mencoba menegakkan tubuh.Rasa perih menusuk langsung ke saraf terdalamku.Aku mengatupkan rahang, menahan erangan yang hampir lolos dari bibirku.Cairan hangat berbau besi merembes perlahan dari celah perban yang membungkus punggungku.Pengaruh serum penyembuh instan tadi siang terasa mulai memudar, menyisakan denyutan kasar di kulitku yang robek.Aku bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututku erat-erat di dalam kegelapan kamar perawatan sayap barat.Pintu kamar perawatan sayap barat hancur terdorong
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanita paruh baya dengan panik.Dua pelayan muda di belakangnya gemetar memegang baskom perunggu berisi air hangat."Keluar," desis Bastian tanpa mengalihkan pandangan dari wajahku."Tapi, Tuan, luka di punggungnya harus segera dibersihkan agar tidak infeksi—""Kau tuli?" potong Bastian tajam."Tinggalkan baskom itu dan pergi sebelum aku merobek tenggorokanmu!" bentak Bastian lagi.Para pelayan itu memucat mendengar ancaman putera mahkota Kawanan Bloodmoon.Mereka meletakkan baskom dengan tangan gemetar, lalu berlari tergesa-gesa keluar dari kamar.Pintu kamar yang rusak ditutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara kami berdua.Bastian meletakkan tubuhku di atas kasur beludru h







