Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 7: Feromon yang Meledak

Share

Chapter 7: Feromon yang Meledak

Author: Surjelly
last update publish date: 2026-06-08 22:25:49

Bukan jeritan dari mimpi buruk yang membangunkanku malam ini.

Melainkan alarm biologis di dalam tubuhku sendiri yang mendadak berdering kencang, membakar habis seluruh kesadaranku.

Sesuatu meledak di dalam dadaku. Panas yang teramat sangat menjalar hebat dari kelenjar di samping leherku, merambat cepat ke seluruh aliran darah.

Aroma vanila yang teramat manis dan pekat mendadak menyembur keluar dari pori-pori kulitku, memenuhi seisi kamar perawatan sayap barat.

Udara di sekitar ranjangku mendadak bergetar karena pekatnya feromon Omega Murni yang lepas kendali.

Gelas kaca di atas meja malam mendadak retak, lalu pecah berkeping-keping karena tekanan energi biologisku.

Bahkan kelopak mawar putih di dalam vas layu dan mengering dalam hitungan detik, hangus oleh hawa panas yang ku keluarkan.

Di luar koridor, suara nampan logam jatuh berdentang keras, disusul bunyi tubuh pelayan yang ambruk pingsan karena tidak kuat menahan pekatnya aromaku.

Aku mencengkeram leherku dengan tangan gemetar, mencoba menahan laju feromon yang terus meledak-ledak. Namun, semuanya sudah terlambat.

Lolongan serigala liar bersahut-sahutan dari arah hutan perbatasan, terdengar lapar, liar, dan menuntut hak untuk mengklaim rahimku.

BRAK!

Pintu kamar perawatanku hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil di lantai marmer.

Bastian menerobos masuk dengan mata emas yang sepenuhnya telah menyala merah merah menyala—dikuasai penuh oleh insting binatang yang kelaparan.

"Alana..." geram Bastian, napasnya memburu cepat saat dia langsung menerjang ke atas ranjang dan menindih tubuhku.

Tangan besarnya merobek paksa kerah gaun katun putihku, memamerkan bahuku yang gemetar di bawah tatapan liarnya.

"Aroma ini... kau sudah matang untuk kuambil!" bisiknya parau, memamerkan taring tajamnya yang memanjang tepat di atas urat nadiku.

Aku meronta sekuat tenaga, tetapi tubuh kekarnya mengunci gerakanku sepenuhnya. Taring tajamnya sudah menyentuh kulit leherku saat sebuah tangan sedingin es mencengkeram bahu Bastian dan menariknya mundur secara paksa.

"Enyah darinya, Bastian. Kau bertingkah seperti anjing jalanan yang tidak beradil," desis Julian dingin.

Julian berdiri di tepi ranjang, tetapi ketenangannya yang biasa kini telah retak. Napasnya memburu, dan feromon peppermint dingin miliknya meledak di udara, mencoba menandingi aroma pinus Bastian.

"Dia milikku, Julian! Jangan berani menyentuhnya!" raung Bastian, berbalik dan langsung mencengkeram kerah kemeja Julian.

"Dia belum ditandai oleh siapa pun," balas Julian, matanya berkilat emas liar saat dia mencengkeram balik rahang saudaranya. "Siapa pun di antara kita bisa mengklaim rahim emasnya malam ini!"

Kedua saudara kembar itu saling menggeram, taring mereka memanjang, siap untuk saling merobek tenggorokan di atas tubuhku yang gemetar ketakutan.

Aku terhimpit di antara dua predator dominan yang saling memperebutkan mangsa, merasakan sisa harga diriku terkoyak habis.

Namun, sebelum mereka sempat saling mencabik, suhu di dalam kamar mendadak anjlok hingga ke titik beku.

Aroma pinus Bastian dan peppermint Julian lenyap seketika, tersapu bersih oleh wewangian kayu bakar dan darah kering yang teramat pekat.

Tekanan feromon Alpha Puncak yang luar biasa masif menghantam ruangan bagai godam tak kasat mata.

BUM!

Bastian terlempar keras hingga menghantam dinding batu, terkapar memegangi dadanya dengan napas terputus-putus.

Sementara Julian dipaksa berlutut di atas lantai marmer, kepalanya tertunduk kaku di bawah dominasi mutlak yang tidak bisa dibantah.

Xavier Bloodmoon berdiri di ambang pintu yang hancur.

Sepasang mata merah darahnya menyala pekat dalam kegelapan, memancarkan aura kegelapan murni yang langsung mengunci sosok kecilku di atas ranjang.

Xavier melangkah mendekat perlahan. Setiap langkahnya terasa seperti detak jarum jam kematian bagiku.

Dia merunduk di atasku, tubuh raksasanya sepenuhnya menghalangi cahaya bulan dari jendela.

Tangan besarnya yang kasar mencengkeram rahangku, lalu perlahan bergerak turun ke leherku yang sensitif. Ibu jarinya yang kapalan menekan tepat di atas kelenjar feromonku yang berdenyut kencang.

"Kau sengaja melepaskan racun manis ini untuk memancing jantan ke kamarmu, Omega?" bisik Xavier, suaranya yang berat menggetarkan tulang rusukku.

Aku mencoba mendorong dadanya yang sekeras batu dengan tangan gemetar, tetapi dia sama sekali tidak bergerak satu milimeter pun.

"Pergi... Xavier..." desisku, mencoba memalingkan wajah, namun cengkeramannya mengunci kepalaku dengan kekuatan baja.

Xavier mencondongkan wajahnya yang tampan namun kejam. Ujung taringnya yang tajam perlahan menyapu permukaan kulit bahu kiriku, bergerak lambat seolah sedang menikmati ketakutanku yang memuncak.

Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku bisa merasakan taring tajamnya yang dingin siap merobek dagingku.

Namun, ketidakberdayaan ini terasa jauh lebih menyiksa karena aku sepenuhnya sadar bahwa tubuhku sendiri mendambakan klaim berbahaya ini. Tubuhku mengkhianatiku, menuntut kehancurannya sendiri di bawah taring sang Alpha Tertinggi.

Xavier menatap langsung ke dalam mataku yang mulai sayu, memberikan seringai dingin yang kejam.

"Kau memanggil pemenangmu, Alana. Sekarang, terima konsekuensinya."

Sebelum aku sempat memejamkan mata, Xavier menundukkan kepalanya secara instan.

Taring tajamnya langsung menembus kulit bahu kiriku dengan gigitan yang sangat keras, dalam, dan tanpa belas kasihan.

CRASS!

"AAAAH!"

Jeritanku pecah, tertahan di tenggorokan saat rasa perih yang luar biasa menusuk langsung ke saraf terdalamku.

Darah hangat merembes cepat, membasahi permukaan dada dan lenganku.

Namun, rasa sakit itu mendadak menguap saat feromon gigitan klaim milik Xavier menyembur masuk ke dalam pembuluh darahku.

Punggungku melengkung di atas kasur beludru hitam. Darahku terasa mendidih, meledakkan rasa hangat yang teramat pekat di perut bagian bawahku.

"Ah... ugh..." desahan pasrah yang memalukan lolos begitu saja dari tenggorokanku yang terasa kering.

Aku hancur. Pertahanan mentalku runtuh sepenuhnya di bawah kekuatan mutlak gigitan klaimnya yang memabukkan.

Xavier menarik kembali taringnya dengan perlahan, membiarkan luka robek di bahuku terekspos basah di bawah cahaya bulan. Dia menjilat sisa darah segar di sudut bibirnya dengan kepuasan biologis yang gelap.

Di dekat pintu, Bastian dan Julian menyaksikan seluruh adegan itu dengan rahang mengeras rapat dan kepalan tangan yang memutih karena murka yang tertahan.

Xavier bangkit berdiri, menatap kedua putranya yang masih membeku di bawah tekanan auranya yang mencekik.

"Dia sudah kucicipi," desis Xavier kejam sembari mengusap noda merah di dagunya yang keras. "Sentuh dia, dan aku akan merobek leher kalian tanpa ragu sedikit pun."

Xavier melangkah pergi, meninggalkan kamar perawatan yang kini kembali diselimuti keheningan yang menyesakkan.

Aku terbaring lemas di atas ranjang yang ternoda darahku sendiri, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

Di balik rasa sakit yang berdenyut di bahuku, aku bisa merasakan sesuatu yang asing mulai merambat dan menetap di dalam jiwaku.

Sebuah ikatan gelap yang tidak kupahami, namun terasa seperti rantai tak kasat mata yang telah mengunci takdirku di bawah telapak kaki pria iblis itu selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 71: HARI KETUJUH: PENGUNCIAN BENIH BERGANTIAN

    Cahaya fajar yang pucat menembus celah dinding kabin. Kulitku sudah tidak bisa membedakan antara suhu beku di luar atau hawa panas di dalam ruangan. Seluruh persendianku kebas setelah enam hari berturut-turut menerima gempuran fisik mereka.Aku berbaring terlentang di tengah ranjang kulit beruang. Lenganku tidak memiliki sisa tenaga untuk bergeser satu sentimeter pun. Napasku berembus pendek, sementara mataku menatap langit-langit kabin kayu yang mulai buram."Siklus gairah biologisnya akan mereda malam ini," sebuah suara datar terdengar dari ujung ranjang.Aku melirik perlahan. Xavier berdiri mengikat rambut peraknya yang acak-acakan. Alpha Tertinggi itu menatap lurus ke arah selangkanganku yang membengkak merah dengan tatapan penuh otoritas."Kita harus memberikan segel penguncian terakhir sebelum dinding rahimnya menutup sepenuhnya," lanjut Xavier merayap naik ke atas kasur."Apakah kita harus melakukannya secara beruntun tanpa jeda, Ayah?" tanya Bastian dari arah perapian batu.Ba

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 70: HARI KEENAM: MAAF YANG DIBAYAR

    Udara malam di dalam kabin kayu terasa jauh lebih tenang dari malam-malam sebelumnya. Badai salju di luar sana mulai mereda, menyisakan keheningan yang terasa mengisolasi saraf pendengaranku.Aku berbaring miring di atas ranjang kulit beruang hitam. Mataku menatap nyala api perapian yang menari-nari redup memecah kegelapan. Tubuhku masih lemas, namun akal sehatku sudah jauh lebih jernih malam ini.Sebuah bayangan raksasa bergerak mendekati sisi ranjang dengan langkah tanpa suara. Aku menoleh perlahan. Bastian berdiri di sana dengan pupil mata keemasan yang terlihat suram.Pria yang biasanya dipenuhi amarah teritorial itu kini tampak dipenuhi keraguan. Dia tidak mengenakan kemeja, hanya celana panjang hitam yang membungkus kaki kokohnya.Bastian berlutut di tepi ranjang. Dia perlahan merangkak mendekatiku tanpa melepaskan pandangannya dari wajahku yang pucat."Kau belum tidur, Alana?" tanya Bastian. Suaranya sangat rendah, terdengar seperti geraman serak di tenggorokan."Bagaimana aku

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 69: HARI KELIMA: LUKA YANG DISEMBUHKAN

    Rasa perih yang luar biasa menjalar ke seluruh persendianku saat kelopak mataku terbuka perlahan. Sisa-sisa kegilaan Penyatuan Tiga Alpha kemarin masih berdenyut nyata di setiap jengkal kulitku yang memar.Aku mencoba menggeser lenganku, namun ototku terasa kaku dan mati rasa. Di sudut ruangan, uap hangat mengepul tinggi dari sebuah bak mandi kayu besar yang telah terisi penuh."Jangan bergerak terlalu banyak, Alana," sebuah suara berat bergema lembut memecah kesunyian.Xavier berdiri di sisi ranjang dengan sehelai kain bersih di tangannya. Alpha Tertinggi itu tidak memancarkan dominasi yang menekan, melainkan keheningan yang suram dan menenangkan."Tubuhku... sangat sakit, Xavier," rintihku dengan suara parau yang hampir tak terdengar."Aku tahu," sahut Xavier membungkuk. Dia mengangkat tubuh mungilku dari ranjang dengan gerakan yang sangat hati-hati.Aku tidak memiliki sisa agensi untuk menolak saat dia membawaku mendekati bak mandi kayu itu. Air di dalamnya berwarna kecokelatan, di

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 68: HARI KEEMPAT: TIGA YANG MENJADI SATU

    Uap panas di dalam kabin kecil ini mencekik rongga tenggorokanku. Aroma vanila tubuhku yang meledak liar beradu dengan feromon kasturi pekat milik tiga pria yang mengepung ranjang.Aku mencoba meremas seprai kulit beruang di bawah punggungku. Namun, sisa tenagaku sudah habis terkuras.Tubuhku terus bergetar tanpa henti. Demam masa subur mendidih di dalam darahku seiring datangnya hari keempat siklus maut ini.Julian berdiri di sisi kiriku. Cengkeraman tangannya yang sedingin es mengunci kedua pergelangan tanganku ke atas ranjang hingga aku tidak bisa meronta."Suhu tubuhnya sudah melewati batas aman untuk proses pematangan sel telur," ucap Julian. Suaranya bergetar hebat didera gairah biologis. "Dia bisa mati jika kita bertindak ceroboh.""Persetan dengan analisismu, Julian!" bentak Bastian. Dia merangkak naik dari ujung ranjang dengan pupil mata yang menyempit liar."Saraf serigalaku terus mendidih sejak kemarin. Aku harus memasukinya sekarang juga!" lanjut Bastian menarik paksa paha

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 67: HARI KETIGA: DINGIN YANG MENGONTROL

    Hari ketiga siklus masa subur membakar tubuhku dengan cara yang jauh lebih menyiksa dari hukuman fisik. Sisa cairan Bastian semalam masih berdenyut di selangkanganku, namun rasa kosong di dalam rahimku menuntut lebih banyak benih.Aku mengerang pelan saat sepasang tangan yang sedingin es mengangkat tubuhku dari ranjang. Julian membawaku tanpa suara mendekati perapian batu di sudut kabin.Kayu pinus di dalam perapian berderak panas. Hawa hangatnya langsung menyengat kulit telanjangku yang dibanjiri keringat. Julian mendudukkanku di atas lantai kayu tepat di depan jilatan api."Suhu tubuhmu menyentuh angka tiga puluh sembilan derajat celcius, Alana," ucap Julian dengan nada suara sedatar es."Julian... tolong, kepalaku berputar sangat kencang," rintihku. Aku menyandarkan dahi basahku ke dadanya yang terasa menyejukkan kulitku."Aku tahu. Aku di sini untuk mengontrol gairah biologismu yang tidak stabil," balas Julian pelan.Julian berlutut di belakangku. Dia menarik pinggulku hingga pung

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 66: HARI KEDUA: BRUTAL YANG MEMOHON

    Rasa penuh yang tersisa di dalam rahimku memaksaku terbangun dengan rintihan pelan. Cairan hangat sisa penguncian benih semalam terasa lengket di selangkanganku.Aku menggeser tubuhku yang kaku. Suara gemerincing rantai besi di pergelangan kakiku langsung memecah kesunyian kabin kayu ini.Otot-ototku terasa sangat lemas dan kebas akibat gempuran tanpa henti Xavier kemarin."Kau akhirnya membuka matamu, jalang kecilku," sapa sebuah suara serak dari kegelapan pagi yang menggigit.Bastian berdiri tepat di tepi ranjang. Tubuh raksasanya yang telanjang memancarkan hawa panas yang kentara.Dadanya naik turun dengan kasar, menyebarkan aroma kulit hangat yang sangat tajam di udara kabin yang pengap."Bastian... tolong, biarkan aku menarik napas sebentar," bisikku lemas dengan tenggorokan yang terasa kering."Bernapas? Siklus gairahmu sedang berada di puncaknya, Alana," sahut Bastian merangkak naik ke atas kasur dengan gerakan memburu."Ayah sudah selesai menyegelmu kemarin. Kini giliranku unt

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 1: Kedatangan di Tengah Hujan

    Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status