Masuk
Satu langkah lagi, dan jika aku menyerah sekarang, belenggu besi Raja Buangan akan menyeretku kembali ke neraka bawah tanahnya.
Hujan badai menghantam punggungku yang hancur.
Rasa perih luar biasa menjalar saat air hujan bercampur lumpur mengoyak kembali luka cambukan perak—siksaan yang sengaja dirancang khusus untuk menjinakkan serigala keras kepala sepertiku.
Aku harus bertahan.
Hanya wilayah Kawanan Bloodmoon di depan sana yang bisa menyelamatkanku dari kejaran para pemburu itu.
Namun lututku bergetar hebat. Napas yang keluar dari tenggorokanku terasa seperti pasir kering.
Tepat saat kesadaranku mulai terkikis di batas hutan pinus, sebuah bayangan tinggi membelah kabut malam.
Aroma tajam kayu pinus basah langsung menyerbu indra penciumanku yang sensitif.
Pria itu mendadak berbalik. Sepasang matanya menyala emas dalam kegelapan, mengunci sosokku yang malang.
Aku kehilangan keseimbangan, tubuhku limbung dan langsung menabrak dadanya yang sekeras batu dan luar biasa panas.
"Alana? Kau... masih hidup?"
Suara berat itu milik Bastian, putra sulung Alpha Kawanan Bloodmoon.
"Bastian... tolong aku... mereka mengejarku..." desisku, mencengkeram kemejanya yang basah sebelum duniaku berputar hebat.
Sepasang lengan kokoh langsung melingkari pinggangku, merenggutku dari tanah berlumpur ke dalam dekapannya yang posesif.
Rahang Bastian mengeras, napasnya memburu cepat saat kepalanya menunduk, mengendus leherku dengan liar.
"Sialan, Alana! Aroma vanilamu... kau mengalami heat? Tubuhmu sudah matang sebagai Omega Murni!" bisik Bastian dengan suara parau yang dipenuhi gairah purba.
"Bastian, lepaskan... luka di punggungku..." rintihku, mencoba mendorong dadanya yang membara.
"Diamlah! Kau aman bersamaku sekarang. Aku tidak akan membiarkan jantan mana pun menyentuh kulitmu setelah malam ini," geramnya, mempererat cengkeramannya seolah aku adalah jarahan miliknya.
"Turunkan dia sekarang juga, Bastian. Kau mempermalukan kawanan kita."
Sebuah suara sedingin es memotong langkah kami.
Dari balik kegelapan gerbang bagian dalam, Julian—saudara laki-laki Bastian—muncul dengan langkah anggun. Dia berdiri tegak, memutar cincin peraknya dengan tatapan penuh perhitungan yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Dia terluka parah, Julian! Minggir dari jalanku!" bentak Bastian, matanya berkilat menantang saudaranya sendiri.
"Aku tahu dia terluka," sahut Julian tenang, melangkah mendekat tanpa suara. "Tapi membawanya seperti budak pemuas nafsu hanya akan menurunkan martabat kita di mata para pengawal."
Tanpa peringatan, ujung jari Julian yang sedingin es menyentuh luka menganga di punggungku.
"Aaakh! Perih! Jangan sentuh aku!" tangisku pecah, air mata bercampur air hujan meleleh di pipiku.
"Cambukan perak murni," gumam Julian dingin, menatap ujung jarinya yang bernoda darahku tanpa empati sedikit pun. "Raja Buangan tidak akan menggunakan senjata sefatal ini jika dia bukan Omega Murni yang membawa rahasia besar."
Julian menatapku, senyum tipis yang penuh ancaman terukir di bibirnya. "Selamat datang kembali di rumah, Alana. Fase Satu rencana kita akhirnya dimulai."
"Apa maksudmu, Julian?!" tanyaku panik, rasa takut mendadak mengalahkan rasa sakit di tubuhku.
Namun Julian tidak menjawab. Dia hanya menoleh, memberi isyarat tak kasat mata.
Seketika itu juga, atmosfer di sekitar halaman gerbang mendadak menjadi sangat tebal.
Udara seolah tersedot habis. Paru-paruku mendadak lumpuh, membuatku kesulitan bernapas.
Satu per satu, para pengawal kawanan yang bertubuh raksasa langsung berlutut serentak di atas lumpur basah.
"Bastian... ada apa ini?" bisikku ketakutan.
Tubuh tegap Bastian yang tadinya begitu mendominasi mendadak kaku, wajahnya pucat pasi seolah seluruh darahnya baru saja terkuras habis.
"Ayah..." desis Bastian dengan suara gemetar.
BRAAAK!
Pintu gerbang kayu bagian dalam hancur berkeping-keping.
Sesosok serigala hitam raksasa setinggi dua meter melompat keluar dari balik kabut debu reruntuhan. Bulunya sehitam jelaga, tanpa ada satu pun warna lain di tubuh besarnya.
Sepasang mata merah darahnya menyala terang dalam kegelapan, mengunci pandanganku secara mutlak.
Aura Alpha Tertinggi yang terpancar dari tubuhnya begitu pekat, menekan habis seluruh insting serigala di dalam diriku hingga aku ingin berlutut dan memohon ampun.
Namun, ada sisa harga diri di dalam darahku yang menolak untuk tunduk. Aku mengatupkan rahang, memaksa mataku tetap menatap balik sepasang mata merah itu meski seluruh tubuhku bergetar hebat.
Serigala raksasa itu menggeram rendah, lalu berubah wujud menjadi manusia dalam sekejap mata.
Xavier.
Alpha Tertinggi dari Kawanan Bloodmoon berdiri tegak di bawah guyuran hujan tanpa selembar benang pun. Tubuh kekarnya dipenuhi bekas luka pertempuran, memancarkan dominasi yang mutlak dan berbahaya.
Bastian terpaksa menjatuhkanku ke tanah berlumpur karena tidak kuat menahan tekanan feromon ayahnya sendiri.
Aku merosot pasrah di pilar batu, terengah-engah.
Xavier melangkah mendekat perlahan. Setiap hentakan kakinya terasa seperti detak jantung kematian bagiku. Tubuh raksasanya yang setinggi hampir dua meter sepenuhnya menutupi pandanganku dari dunia luar.
Tangan besarnya yang kasar menangkup rahangku, lalu mencengkeramnya dengan kekuatan baja hingga aku terpaksa mendongak menatap mata merahnya yang berkilat liar.
"Kau membawa bau bahaya yang sangat pekat, Omega," bisik Xavier dengan suara berat yang menggetarkan tulang rusukku.
Di bawah cengkeramannya yang menyakitkan, perut bagian bawahku mendadak berdenyut hangat. Saraf biologis Omega-ku mendadak berteriak histeris, menginginkan sentuhan dari Alpha dominan yang ada di depanku ini. Sialan, tubuhku mengkhianatiku di saat hidupku berada di ujung tanduk.
Xavier mencondongkan wajahnya yang tampan namun kejam, bibirnya hampir menyentuh telingaku saat dia berbisik dingin:
"Bau busuk Raja Buangan melekat erat di tubuhmu, Alana. Dan caraku memperlakukan mata-mata yang menyusup ke wilayahku adalah dengan—"
Dada bidangku naik-turun dengan sangat cepat di bawah lilitan tali kulit rusa yang kencang. Aku menatap mata emas Julian yang berkilau dingin tanpa riak rasa bersalah sedikit pun.Rasa perih di pergelangan tanganku yang mengucurkan darah tidak lagi terasa penting sekarang. Hatiku jauh lebih sakit, remuk oleh kenyataan bahwa pria di depanku adalah sutradara dari seluruh neraka hidupku.Aku mengumpulkan seluruh sisa napasku untuk berteriak langsung ke wajah tampannya yang membeku. "Kau menyuruh Sienna mendekatiku sejak awal, bukan?"Julian tidak menjawab, dia hanya berdiri tegak dengan keanggunan sosiopat yang sangat tenang. Sikap diamnya justru membuat darahku semakin mendidih di dalam dada."Kau membiarkan Freya mencuri denah pertahanan sayap barat itu agar rencana ini berjalan mulus!" teriakku lagi dengan suara parau yang bergetar hebat.Aku menyentakkan tanganku hingga tali kulit itu semakin mengikis kulit pergelangan tanganku dengan kasar. "Kau yang merancang seluruh penderitaanku
Udara dingin berbau besi berkarat menusuk paru-paruku dengan sangat kejam. Bau feromon Serigala Liar yang membusuk membuatku mual seketika.Aku mencoba membuka mataku yang terasa sangat lengket dan berat. Kepalaku berdenyut kencang. Rasa pening yang tajam menusuk saraf pelipisku.Di mana aku sekarang? Mengapa sekelilingku terasa begitu gelap, pengap, dan membeku?Aku berusaha menggerakkan pergelangan tanganku yang mati rasa. Rasa perih yang tajam langsung menyengat kulitku dengan kasar.Kedua tanganku ternyata telah terikat erat ke dinding batu yang basah. Tali kulit rusa menggores pergelangan tanganku hingga terasa panas menyiksa.Feromon vanilaku meledak tipis di udara gua yang lembap dan dingin. Lututku lemas seketika, tubuhku gemetar hebat di atas tanah yang dingin.Aku diculik dari istana Bloodmoon malam ini. Bagaimana mungkin mereka bisa menembus pertahanan kamar tidurku di sayap barat?Xavier telah berjanji bahwa aku akan selalu aman di bawah perlindungannya. Namun, di mana dia
Kesunyian malam selalu menjadi sekutu terbaik bagi rencana yang disusun di dalam kegelapan.Kepatuhan emosional Xavier yang baru saja kukunci sore tadi memberikan celah kebebasan yang kubutuhkan malam ini.Aku melangkah tanpa suara menyusuri koridor menara utama yang hanya diterangi oleh obor dinding.Langkah kakiku yang polos tanpa alas terasa dingin saat bersentuhan dengan lantai marmer yang sunyi.Xavier sedang tertahan dalam rapat darurat bersama para tetua dewan di aula luar istana.Ini adalah waktu terbaik untuk menembus ruang kerja pribadinya yang selama ini dijaga sangat ketat.Aku mendorong pintu kayu jati besar ruang kerja Sang Raja secara perlahan hingga celahnya terbuka cukup lebar.Ruangan luas itu tampak kosong, hanya diterangi oleh lampu minyak di atas meja belajar mahoni yang menyala redup.Bau sisa kertas tua, tinta hitam, dan aroma kayu bakar khas tubuh Xavier menggantung tipis di udara malam.Aku melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang dikelilingi oleh pilar-pilar
Lembayung senja yang memerah pekat menerobos dari balik tirai kamar tidur utama menara.Cahaya kemerahan itu menyinari separuh ruangan, menyapu ranjang beludru hitam yang kini tampak rapi.Aku duduk tenang di tepi ranjang, memperhatikan matahari sore yang mulai tenggelam di balik perbatasan hutan kawanan Bloodmoon.Suara ketukan pelan di pintu kayu jati menghentikan keheningan kamar ini sebelum akhirnya daun pintu berderit terbuka.Xavier melangkah masuk dengan perlahan tanpa ada sisa keangkuhan teritorial yang biasa dia tunjukkan di ruang dewan.Jubah beludru tebalnya yang megah tampak sedikit longgar, memperlihatkan bahunya yang tidak lagi tegang kaku menantang dunia.Dia melangkah mendekatiku tanpa suara, lalu mendudukkan dirinya di atas kursi marmer tepat di samping ranjang riasku.Tatapan mata merah menyalanya kini terlihat sangat suram, meredup dengan lapisan air yang berkaca-kaca menahan luapan emosi.Sinar matahari sore memperlihatkan dengan jelas garis-garis luka cakar kemera
Langkah kakiku terdengar bergesekan pelan dengan kerikil putih taman mawar istana.Di belakangku, siluet raksasa Bastian terus mengikuti dengan jarak tepat dua jengkal.Dia melangkah dengan kepala yang menunduk dalam, seolah mengunci pandangannya hanya pada ujung gaun sutra putihku.Rahang tegasnya masih tertutup oleh balutan perban putih bersih setelah pertarungan brutalnya tempo hari."Apakah luka-luka di tubuhmu sudah membaik, Bastian?" tanyaku tanpa menghentikan langkah kaki."Luka ini tidak ada artinya sama sekali, Alana," jawab Bastian cepat dengan nada suara yang terdengar sangat patuh."Rasa sakit akibat cambukan ayah kemarin malam bahkan langsung lenyap setiap kali aku berada di dekat aromamu," lanjutnya.Aku berhenti melangkah di dekat rumpun mawar putih yang mekar sempurna siang ini.Bastian langsung menghentikan gerakan kakinya secara instan tanpa perlu kuperingatkan lagi."Mengapa kau terus mengikutiku seperti bayangan yang menyedihkan, Bastian?" tanyaku dingin tanpa berb
Sinar matahari pagi mulai menembus celah gorden kamar tidur utama yang sangat berantakan. Xavier dan Bastian masih tertidur lelap dengan napas berat di atas ranjang beludru hitam.Dua monster teritorial itu benar-benar kelelahan secara fisik setelah sesi pembalikan kekuasaan semalam. Aku duduk tenang di kursi depan meja rias sembari menyisir rambut hitamku yang terurai panjang.Di sudut ruangan dekat jendela, Julian berdiri mematung menatapku dengan tatapan mata yang tidak fokus. Kemeja putihnya tampak sangat kusut dengan beberapa kancing atas yang terlepas berantakan di dadanya.Pola pernapasannya terdengar sangat dangkal dan tidak stabil menabrak kesunyian pagi. Aroma peppermint dingin miliknya tercium sangat tipis dan melemah di udara kamar ini.Bau khasnya itu telah hancur total oleh kepekatan aroma asap manis tubuhku yang menggantung di seluruh ruangan. "Mengapa kau berdiri di sana seperti patung rusak, Julian?" tanyaku dingin tanpa menoleh dari pantulan cermin.Julian mengepalka
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"







