Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 1: Kedatangan di Tengah Hujan

Share

Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha
Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha
Author: Surjelly

Chapter 1: Kedatangan di Tengah Hujan

Author: Surjelly
last update publish date: 2026-06-08 22:21:57

Satu langkah lagi, dan jika aku menyerah sekarang, belenggu besi Raja Buangan akan menyeretku kembali ke neraka bawah tanahnya.

Hujan badai menghantam punggungku yang hancur.

Rasa perih luar biasa menjalar saat air hujan bercampur lumpur mengoyak kembali luka cambukan perak—siksaan yang sengaja dirancang khusus untuk menjinakkan serigala keras kepala sepertiku.

Aku harus bertahan.

Hanya wilayah Kawanan Bloodmoon di depan sana yang bisa menyelamatkanku dari kejaran para pemburu itu.

Namun lututku bergetar hebat. Napas yang keluar dari tenggorokanku terasa seperti pasir kering.

Tepat saat kesadaranku mulai terkikis di batas hutan pinus, sebuah bayangan tinggi membelah kabut malam.

Aroma tajam kayu pinus basah langsung menyerbu indra penciumanku yang sensitif.

Pria itu mendadak berbalik. Sepasang matanya menyala emas dalam kegelapan, mengunci sosokku yang malang.

Aku kehilangan keseimbangan, tubuhku limbung dan langsung menabrak dadanya yang sekeras batu dan luar biasa panas.

"Alana? Kau... masih hidup?"

Suara berat itu milik Bastian, putra sulung Alpha Kawanan Bloodmoon.

"Bastian... tolong aku... mereka mengejarku..." desisku, mencengkeram kemejanya yang basah sebelum duniaku berputar hebat.

Sepasang lengan kokoh langsung melingkari pinggangku, merenggutku dari tanah berlumpur ke dalam dekapannya yang posesif.

Rahang Bastian mengeras, napasnya memburu cepat saat kepalanya menunduk, mengendus leherku dengan liar.

"Sialan, Alana! Aroma vanilamu... kau mengalami heat? Tubuhmu sudah matang sebagai Omega Murni!" bisik Bastian dengan suara parau yang dipenuhi gairah purba.

"Bastian, lepaskan... luka di punggungku..." rintihku, mencoba mendorong dadanya yang membara.

"Diamlah! Kau aman bersamaku sekarang. Aku tidak akan membiarkan jantan mana pun menyentuh kulitmu setelah malam ini," geramnya, mempererat cengkeramannya seolah aku adalah jarahan miliknya.

"Turunkan dia sekarang juga, Bastian. Kau mempermalukan kawanan kita."

Sebuah suara sedingin es memotong langkah kami.

Dari balik kegelapan gerbang bagian dalam, Julian—saudara laki-laki Bastian—muncul dengan langkah anggun. Dia berdiri tegak, memutar cincin peraknya dengan tatapan penuh perhitungan yang membuat bulu kudukku berdiri.

"Dia terluka parah, Julian! Minggir dari jalanku!" bentak Bastian, matanya berkilat menantang saudaranya sendiri.

"Aku tahu dia terluka," sahut Julian tenang, melangkah mendekat tanpa suara. "Tapi membawanya seperti budak pemuas nafsu hanya akan menurunkan martabat kita di mata para pengawal."

Tanpa peringatan, ujung jari Julian yang sedingin es menyentuh luka menganga di punggungku.

"Aaakh! Perih! Jangan sentuh aku!" tangisku pecah, air mata bercampur air hujan meleleh di pipiku.

"Cambukan perak murni," gumam Julian dingin, menatap ujung jarinya yang bernoda darahku tanpa empati sedikit pun. "Raja Buangan tidak akan menggunakan senjata sefatal ini jika dia bukan Omega Murni yang membawa rahasia besar."

Julian menatapku, senyum tipis yang penuh ancaman terukir di bibirnya. "Selamat datang kembali di rumah, Alana. Fase Satu rencana kita akhirnya dimulai."

"Apa maksudmu, Julian?!" tanyaku panik, rasa takut mendadak mengalahkan rasa sakit di tubuhku.

Namun Julian tidak menjawab. Dia hanya menoleh, memberi isyarat tak kasat mata.

Seketika itu juga, atmosfer di sekitar halaman gerbang mendadak menjadi sangat tebal.

Udara seolah tersedot habis. Paru-paruku mendadak lumpuh, membuatku kesulitan bernapas.

Satu per satu, para pengawal kawanan yang bertubuh raksasa langsung berlutut serentak di atas lumpur basah.

"Bastian... ada apa ini?" bisikku ketakutan.

Tubuh tegap Bastian yang tadinya begitu mendominasi mendadak kaku, wajahnya pucat pasi seolah seluruh darahnya baru saja terkuras habis.

"Ayah..." desis Bastian dengan suara gemetar.

BRAAAK!

Pintu gerbang kayu bagian dalam hancur berkeping-keping.

Sesosok serigala hitam raksasa setinggi dua meter melompat keluar dari balik kabut debu reruntuhan. Bulunya sehitam jelaga, tanpa ada satu pun warna lain di tubuh besarnya.

Sepasang mata merah darahnya menyala terang dalam kegelapan, mengunci pandanganku secara mutlak.

Aura Alpha Tertinggi yang terpancar dari tubuhnya begitu pekat, menekan habis seluruh insting serigala di dalam diriku hingga aku ingin berlutut dan memohon ampun.

Namun, ada sisa harga diri di dalam darahku yang menolak untuk tunduk. Aku mengatupkan rahang, memaksa mataku tetap menatap balik sepasang mata merah itu meski seluruh tubuhku bergetar hebat.

Serigala raksasa itu menggeram rendah, lalu berubah wujud menjadi manusia dalam sekejap mata.

Xavier.

Alpha Tertinggi dari Kawanan Bloodmoon berdiri tegak di bawah guyuran hujan tanpa selembar benang pun. Tubuh kekarnya dipenuhi bekas luka pertempuran, memancarkan dominasi yang mutlak dan berbahaya.

Bastian terpaksa menjatuhkanku ke tanah berlumpur karena tidak kuat menahan tekanan feromon ayahnya sendiri.

Aku merosot pasrah di pilar batu, terengah-engah.

Xavier melangkah mendekat perlahan. Setiap hentakan kakinya terasa seperti detak jantung kematian bagiku. Tubuh raksasanya yang setinggi hampir dua meter sepenuhnya menutupi pandanganku dari dunia luar.

Tangan besarnya yang kasar menangkup rahangku, lalu mencengkeramnya dengan kekuatan baja hingga aku terpaksa mendongak menatap mata merahnya yang berkilat liar.

"Kau membawa bau bahaya yang sangat pekat, Omega," bisik Xavier dengan suara berat yang menggetarkan tulang rusukku.

Di bawah cengkeramannya yang menyakitkan, perut bagian bawahku mendadak berdenyut hangat. Saraf biologis Omega-ku mendadak berteriak histeris, menginginkan sentuhan dari Alpha dominan yang ada di depanku ini. Sialan, tubuhku mengkhianatiku di saat hidupku berada di ujung tanduk.

Xavier mencondongkan wajahnya yang tampan namun kejam, bibirnya hampir menyentuh telingaku saat dia berbisik dingin:

"Bau busuk Raja Buangan melekat erat di tubuhmu, Alana. Dan caraku memperlakukan mata-mata yang menyusup ke wilayahku adalah dengan—"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 145: TENDANGAN YANG KUAT

    Suara deburan keras marmer yang hancur kembali memekakkan telingaku malam ini. Tubuh raksasa Xavier menghantam pilar batu altar dengan kekuatan murni Supreme Alpha."Kau sudah tua, Ayah! Sadarlah bahwa taring perakmu tidak bisa menahanku lagi!" teriak Bastian dengan taring emas yang memanjang sepenuhnya. Bastian menerjang maju kembali, mengabaikan rahang kirinya yang baru saja robek dan mengucurkan darah segar."Tutup mulutmu yang lancang itu, Bastian! Supreme Alpha paruh baya ini masih bisa mematahkan lehermu dalam sekali ayunan!" balas Xavier dengan geraman berat. Supreme Alpha itu memutar tubuhnya menghindari terkaman liar putranya dengan gerakan lincah."Jangan lupakan keberadaanku di sini, saudaraku. Sains membuktikan gen kita yang paling siap untuk Alana!" teriak Julian dari kegelapan sisi pilar. Julian melompat dengan belati perak tajam di bawah temaram obor aula pertemuan yang redup.Aku mencengkeram perut bawahku yang rata saat rasa nyeri tiba-tiba meremas rahimku dengan sang

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 144: TARING YANG SALING MENODONG

    Raungan liar Bastian mengguncang fondasi aula pertemuan malam ini. Suara itu memantul di antara pilar-pilar batu tinggi, menciptakan gema yang memekakkan telinga.Di bawah tatapan dingin patung serigala perak raksasa di altar utama, Bastian menerjang maju tanpa ragu. Cakar emasnya yang tajam mengarah lurus ke dada bidang Xavier yang tidak terlindungi jubah."Mundur, Bastian!" teriak Xavier dengan suara berat yang bergemuruh penuh dominasi. Alpha Tertinggi paruh baya itu tidak bergeser satu inci pun dari posisinya berdiri.Dengan kecepatan monster yang luar biasa, Xavier mengayunkan lengan besarnya untuk menangkis terkaman putranya. Benturan keras antara dua kekuatan fisik murni itu memercikkan suara debukan yang sangat mengerikan.Xavier menghindari cakar Bastian, lalu mendaratkan satu pukulan mentah tepat di rahang kiri Bastian. Suara retakan tulang terdengar sangat renyah bersamaan dengan tubuh Bastian yang terlempar menghantam lantai marmer."Akh!" geram Bastian sembari memuntahkan

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 143: PAKTA YANG HANCUR

    Gigi sisir kayu yang tajam menggaruk kulit kepalaku dengan ritme yang lambat. Di depan cermin rias perunggu yang buram, aku menatap pantulan wajahku yang pucat.Mataku bergerak turun ke arah bahu kanan yang masih menyisakan keropeng samar bekas gigitan Xavier tempo hari. Namun, leherku masih terlihat sangat polos dan mulus tanpa ada tanda permanen dari siapa pun.Satu bulan telah berlalu sejak pembantaian dewan dan kematian Valerius di perbatasan utara. Pagi hari ini, batas waktu masa damai satu bulan yang kami sepakati resmi berakhir sepenuhnya.Aku mengembuskan napas panjang, merasakan ketegangan yang mendadak merayap ke dalam seluruh isi kamar tidur utama. Aroma udara di sekelilingku terasa sangat sesak dan panas secara tidak wajar sejak fajar menyingsing."Kau menyisir rambutmu terlalu lama, Alana," suara berat Bastian memecah keheningan dari arah belakang. Bastian melangkah mendekat, membiarkan dadanya yang bidang hampir menyentuh punggung jubah sutra abu-abu yang kukenakan.Aku

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 142: PUTRA YANG DIAMPUNI

    Bau tajam herbal antiseptik menusuk hidungku begitu kelopak mataku terbuka perlahan. Cahaya temaram dari lampu minyak yang tergantung di tiang tenda medis membuat kepalaku terasa sedikit pening.Aku berusaha menyandarkan tubuhku pada tumpukan bantal tebal di ranjang darurat ini. Gerakan kecil itu langsung mengirimkan rasa perih dari pergelangan tanganku yang terluka.Luka lecet merah keunguan bekas gesekan rantai brankas baja kemarin tampak sangat jelas. Kulitku yang pucat kini dihiasi bekas memar yang masih terasa berdenyut nyeri.Sesosok pria berambut hitam legam tampak berlutut dengan lutut langsung menyentuh lantai tanah yang dingin. Julian menundukkan wajahnya sangat dalam, menempelkan keningnya tepat di atas lutut gaun abu-abu yang kukenakan.Bahu kokohnya bergetar hebat tanpa suara, memancarkan aura keputusasaan yang sangat pekat. Sepasang tangannya yang biasanya dingin kini terasa hangat saat meraba perlahan bekas luka rantai di pergelangan tanganku.Aku merasakan beberapa tet

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 141: PAMAN YANG DIBANTAI

    Suara raungan Xavier menggelegar, membuat pilar-pilar pinus di seluruh hutan utara bergetar hebat. Pepohonan seolah merunduk di bawah tekanan kemarahan Supreme Alpha yang kembali bangkit dengan kekuatan penuh."Bagaimana mungkin lukamu bisa sembuh seketika?" teriak Valerius dengan wajah pucat karena terkejut. Dia mundur selangkah, mencengkeram kapak perak besarnya dengan kedua tangan yang mulai gemetar."Darahmu akan membasahi salju ini, Valerius!" balas Xavier dengan suara berat yang bergemuruh. Tubuh raksasanya menerjang maju bagai kilat, meninggalkan pusaran salju dingin di belakang langkahnya.Valerius mencoba mengayunkan kapak perak besarnya secara vertikal untuk membelah kepala Xavier. Namun, Xavier bergerak dengan kecepatan monster yang jauh melampaui gerakan sebelumnya.Dia menghindari tebasan maut itu dengan gesit, membiarkan mata kapak hanya memotong angin kosong. Sebelum Valerius sempat menarik senjatanya kembali, cakar besar Xavier sudah menghantam pergelangan tangannya.K

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 140: MEDAN PERANG YANG BERDARAH

    Aku berlari terengah-engah keluar dari mulut gua yang mulai runtuh akibat guncangan ledakan. Langkah kakiku terasa sangat lemas dan terseok-seok di atas timbunan salju utara yang dingin."Bawa Alana pergi dari sini sekarang juga, Bastian!" teriak Xavier dengan suara menggelegar. Tubuh raksasanya langsung melompat menerobos badai salju untuk menghadang puluhan musuh."Aku akan melindungimu dengan nyawaku, Alana!" balas Bastian dengan taring emas yang mulai memanjang. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat, menarikku ke balik pohon pinus raksasa."Tetap di belakangku, Alana, jangan pernah menunjukkan dirimu!" perintah Bastian dengan napas memburu. Matanya yang menyala emas terus mengawasi sekeliling dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi."Tapi mereka membawa terlalu banyak senjata perak, Bastian!" seru ku dengan suara yang bergetar hebat. Aku meremas perut bawahku yang mendadak kembali berdenyut sangat kencang dan menyiksa."Jangan cemas, Omega, kami tidak akan membia

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 3: Mimpi Buruk & Pelukan Gelap

    "Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 2: Luka yang Disentuh

    Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status