Início / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / CHAPTER 58: RATU YANG JATUH

Compartilhar

CHAPTER 58: RATU YANG JATUH

Autor: Surjelly
last update Data de publicação: 2026-07-21 09:34:41

Angin malam bertiup sangat kencang, menerbangkan ujung gaun tidur tipis yang kukenakan didera atas balkon menara. Aku berdiri didera balkon luar sayap barat yang sunyi, menatap ke arah halaman luar istana yang gelap didera bawah guyuran hujan.

Rintik hujan mulai turun satu per satu, membasahi lantai batu balkon yang terasa sedingin es didera kulit kakiku yang telanjang. Di bawah sana, puluhan obor menyala terang didera dekat gerbang besi besar yang tertutup rapat didera bawah siraman hujan.

Seb
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 58: RATU YANG JATUH

    Angin malam bertiup sangat kencang, menerbangkan ujung gaun tidur tipis yang kukenakan didera atas balkon menara. Aku berdiri didera balkon luar sayap barat yang sunyi, menatap ke arah halaman luar istana yang gelap didera bawah guyuran hujan.Rintik hujan mulai turun satu per satu, membasahi lantai batu balkon yang terasa sedingin es didera kulit kakiku yang telanjang. Di bawah sana, puluhan obor menyala terang didera dekat gerbang besi besar yang tertutup rapat didera bawah siraman hujan.Sebuah langkah kaki yang tenang terdengar mendekat dari arah belakangku didera dalam keheningan kamar yang sepi. Julian berjalan perlahan, lalu berdiri tepat didera sampingku tanpa mengeluarkan suara langkah kaki sedikit pun."Angin malam ini sangat dingin, Alana," ucap Julian didera nada suara yang rendah dan datar didera dekat telingaku. "Mengapa kau berdiri didera sini tanpa menggunakan jubah pelindung didera tubuh lemasmu yang belum pulih?""Aku hanya ingin menyaksikan akhir dari segalanya, Jul

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 57: PEMBATALAN YANG MEMALUKAN

    Pipi kiriku yang dibalut perban putih terasa berdenyut lambat, namun rasa perih itu justru terasa sangat manis didera wajahku. Aku berdiri tegak didera samping takhta batu besar Xavier, menyaksikan Aula Agung yang sunyi bagai kuburan siang ini.Para tetua dewan berbisik tegang didera sepanjang meja kayu jati panjang didera dalam ruangan besar yang mencekam itu. They terus melirik luka didera wajahku, lalu menatap lurus ke arah pintu besar aula didera pandangan cemas yang tertahan.Pintu besi berderit terbuka didera suara yang memekakkan telinga, membelah kesunyian Aula Agung didera sangat kasar. Dua penjaga bertubuh kekar menyeret Freya masuk ke tengah ruangan didera paksa didera bawah pengawasan para tetua.Rantai besi yang mengikat pergelangan tangan wanita itu berdenting nyaring, memecah kesunyian yang mencekam didera dalam aula. Gaun sutra biru laut miliknya kini tampak kotor oleh lumpur basah taman mawar yang kering didera serat kainnya.Riasan wajahnya hancur berantakan, menyisa

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 56: FEROMON YANG MEMBELA

    Aku berlutut didera atas tanah lumpur yang basah, menekan pipi kiriku yang robek didera telapak tangan yang gemetar. Darah hangat terus merembes keluar didera sela-sela jariku, menetes lambat membasahi kelopak mawar putih didera bawahku.Rasa perih yang membakar mulai menjalar didera sepanjang wajahku, memicu gelombang kemarahan yang sangat besar didera dadaku. Aku menatap Freya didera sepasang mata amber keemasanku yang kini mulai menyala merah darah menantang tatapannya."Lihatlah dirimu, Alana," ejek Freya sambil tertawa kegirangan melihat luka didera wajahku. "Kau tidak lebih dari sekadar mainan rusak hari ini didera istana kawanan ini!"Aku tidak menjawab ucapannya, melainkan fokus pada debaran jantungku yang mendadak berdegup kencang bagai genderang perang. Rasa takut dan terhina yang luar biasa didera didera diriku tiba-tiba memicu gejolak biologis yang sangat asing didera tubuhku.Sebuah gelombang energi yang sangat panas mendadak meledak keluar didera didera dadaku, menyebar

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 55: PISAU DI TANGAN TUNANGAN

    Aku melangkah perlahan menyusuri jalan setapak taman mawar putih didera sayap barat istana. Kelopak mawar yang basah berguguran tertiup angin siang yang terasa sangat pengap didera kulit leherku yang sensitif.Udara didera sekitarku terasa mendidih, membuat keringat dingin mulai membahasahi punggung gaunku. Aku tahu, ketenangan sementara ini hanyalah awal dari badai pertumpahan darah berikutnya didera istana maut ini."Berhenti didera sana, jalang kotor," panggil sebuah suara wanita yang sangat tajam dari balik pilar batu mawar.Aku langsung menghentikan langkah kaki dan membalikkan tubuhku didera waspada. Freya berdiri tegak didera tengah jalan setapak didera gaun sutra biru laut yang mewah didera bawah matahari siang.Dua pengawal pribadi bertubuh kekar berdiri seperti patung batu didera belakang calon Luna / Pendamping Alpha itu. Aroma manis bunga lily yang tajam namun sangat beracun mulai menguar dari tubuhnya, menusuk hidungku didera kasar."Ada keperluan apa Anda menghadang jala

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 54: BUKU HARIAN YANG BERBAHAYA

    "Dua hari, Bastian. Ayah benar-benar menghilang tanpa jejak."Suara dingin Julian terdengar dari balik pilar batu koridor sayap barat. Aku segera merapatkan tubuhku ke balik bayangan lemari besar, menahan napas agar feromon pasifku tidak tercium oleh mereka."Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya!" balas Bastian didera nada frustrasi yang kental. "Apakah ini karena pelacur Omega itu?""Jaga bicaramu, Bastian," potong Julian tajam. "Ayah didera depresi masa lalu setelah insiden didera menara sayap barat itu.""Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Para dewan dewan mulai bertanya-tanya tentang ketidakhadirannya!" gertak Bastian. Dia terdengar menendang sisa kayu hancur didera lantai marmer yang dingin untuk meluapkan amarahnya."Kita harus mengendalikan situasi sebelum kawanan lain mencium kelemahan kita," jawab Julian didera nada tenang. "Cari Ayah didera hutan perbatasan sekarang juga.""Kau pikir dia berada didera sana?" tanya Bastian meragukan."Ayah selalu pergi ke tempat ek

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 53: DOSA DI ATAS RANJANG MENDIANG

    "Xavier, lepaskan aku! Jangan sentuh aku didera tempat ini!" teriakku sambil berusaha mendorong dada bidangnya yang keras."Elena... maafkan aku... aku gagal menjagamu malam itu," ratap Xavier tanpa memedulikan rontaan tubuhku yang melemah."Aku bukan Elena! Aku Alana!" teriakku sekuat tenaga tepat didera telinganya, berusaha menyadarkan jiwanya."Kau kembali... kau kembali padaku untuk memaafkan dosaku, bukan?" gumamnya didera bawah kegilaan rasa bersalah maut."Aku tidak akan memaafkanmu jika kau terus bersikap gila seperti ini, Xavier!" bentakku seraya memukul dadanya."Lepas! Kau menyakitiku!" jeritku lagi ketika cengkeramannya pada bahuku semakin mengencang tanpa kendali."Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi ke dunia luar yang kejam itu, Elena," bisik Xavier didera gairah yang didorong rasa bersalah. "Kau akan tetap berada didera sini bersamaku, didera didera kamar rahasia kita untuk selamanya!""Jangan lakukan ini, Xavier! Tempat ini adalah makam suci untuk mendiang istrimu!

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 12: Cicipan Pertama Sang Raja

    Aku tidak akan membiarkan takdir sialan ini melahapku tanpa perlawanan.Tangan kananku yang gemetar meraba kolong bantal sutra hitam, mencengkeram gagang besi pisau buah kecil yang berhasil kuselamatkan siang tadi.Malam ini, aku telah membuat keputusan: jika Xavier melangkah masuk untuk mengklaim

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status