首頁 / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 12: Cicipan Pertama Sang Raja

分享

Chapter 12: Cicipan Pertama Sang Raja

作者: Surjelly
last update publish date: 2026-06-21 13:41:43

Aku tidak akan membiarkan takdir sialan ini melahapku tanpa perlawanan.

Tangan kananku yang gemetar meraba kolong bantal sutra hitam, mencengkeram gagang besi pisau buah kecil yang berhasil kuselamatkan siang tadi.

Malam ini, aku telah membuat keputusan: jika Xavier melangkah masuk untuk mengklaim rahimku secara brutal, logam dingin ini yang akan menembus jantungnya pertama kali.

PRANK!

Kaca jendela kamar perawatan hancur berkeping-keping, mengirimkan pecahan tajam yang berserakan di atas lanta
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 24: HUKUMAN YANG DINIKMATI

    Langkah kakiku bergema cepat di sepanjang lorong pengawal yang gelap dan dingin. Jantungku berhantam liar di dalam rongga dada didera kepanikan maut yang mencekik.Di belakangku, jeritan kesakitan pelayan wanita yang baru saja kutusuk dengan garpu perak masih terdengar riuh. Aku terus berlari tanpa memedulikan rasa perih di telapak kakiku.Namun, pelarianku mendadak terhenti ketika sebuah bayangan raksasa menghalangi jalan di ujung lorong. Sebelum aku sempat berbalik, sepasang tangan besi mencengkeram kedua bahuku dengan kejam."Kau pikir bisa lari dariku, Alana?" geram Xavier.Suara beratnya menggelegar kejam, meremukkan seluruh harapan merdeka di dalam kepalaku. Dia menyentak tubuhku kasar, menyeretku kembali menuju kamar bawah tanah yang pengap.Tubuhku dihantam keras ke atas kasur beludru hitam hingga kepalaku terasa sangat pusing. Xavier berdiri tegak di tepi ranjang, menatapku dengan sepasang mata merah darah yang berkilat murka.Di tangan kanannya, dia memegang garpu perak yang

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 23: RAHASIA DI BAWAH MEJA

    Lantai marmer yang dingin menekan kedua lututku yang gemetar tanpa pelindung. Di sekelilingku, kegelapan murni terbentang di bawah kolong meja perjamuan kayu mahoni yang panjang.Kain beludru hitam penutup meja ini sangat tebal, kaku, dan menjuntai hingga menyentuh lantai marmer sepenuhnya. Kondisi tersebut menciptakan lorong kedap suara dan kedap cahaya yang mengisolasiku di bawah meja dewan."Kita harus memusnahkan Omega murni pelarian itu sekarang juga!" seru Tetua Kael dari atas meja. Suaranya yang berat menggelegar kencang, diikuti hantaman kepalan tangan yang memukul meja berulang kali karena perdebatan politik.Kebisingan politik di atas meja mahoni itu sangat bising didera amarah para tetua. Suara benturan piring porselen berhasil menutupi setiap suara gesekan halus di bawah meja."Merangkaklah lebih dekat, Alana," bisik Julian dari arah kanan. Sebuah tangan besar menerobos masuk dari celah kain meja, mencengkeram rambut cokelatku secara kasar."Jangan bersuara jika kau masih

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 22: DUA YANG MENJADI SATU

    Sinar matahari sore menembus celah ventilasi kamar bawah tanah yang pengap. Cahaya pucat itu jatuh tepat di atas seprai beludru hitam tempatku meringkuk lemas.Borgol perak di pergelangan kaki kiriku berdenting nyaring saat tubuhku ditarik paksa ke tengah ranjang. Logam dingin itu mengunci pergerakanku, menempel erat di kulitku yang lecet akibat malam sebelumnya.Bastian dan Julian berdiri tegak di sisi ranjang tanpa mengenakan pakaian atas. Otot-otot dada mereka berkilat oleh keringat tipis di bawah cahaya sore yang minim."Lepaskan aku... kumohon jangan lakukan ini lagi," rintihku sembari mencoba merapatkan kedua pahaku erat-erat. Air mataku mulai mengalir deras, membahasahi bantal beludru hitam yang terasa sangat dingin di pipiku."Tidak ada kata menyerah hari ini, Alana," sahut Julian dengan senyuman dingin.Dia meraih sebotol minyak lavender hangat dari atas nakas kayu di dekat ranjang."Apakah kau takut dia akan hancur jika kita menyentuhnya bersama, Bastian?" tanya Julian mempr

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 21: RAJA DI MALAM HARI

    Bunyi gerit halus pintu kayu kamar bawah tanah membuat kelopak mataku langsung terbuka lebar. Hawa dingin dari koridor luar mendadak tersingkir oleh gelombang panas yang menyesakkan.Udara di dalam ruangan sempit ini berubah menjadi sangat pekat dalam hitungan detik. Feromon kayu bakar yang sangat tajam dan dominan mulai menyebar liar ke setiap sudut kamar."Xavier..." bisikku dengan suara parau. Tenggorokanku terasa sangat kering, hampir tidak mampu mengeluarkan suara.Jantungku berdegup sangat kencang akibat tekanan biologis yang menindas ini. Sebuah bayangan bertubuh raksasa melangkah mendekati ranjang beludru hitam tempatku meringkuk.Alpha Tertinggi itu berdiri tegak di hadapanku tanpa mengenakan pakaian atas. Otot-otot dada bidangnya berkilat samar di bawah temaram cahaya obor dinding.Di bawah cahaya yang minim, aku bisa melihat bekas luka robek di leher sampingnya yang baru mulai mengering. Luka mengerikan itu adalah bekas gigitan taring Julian pada malam pertarungan brutal me

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 20: PERMAINAN TANPA MATA

    Suara langkah kaki yang tenang mendekati ranjang beludru hitam tempatku meringkuk. Kling! Rantai perak di pergelangan kaki kiriku berdenting nyaring saat aku mencoba mundur ke sudut tiang ranjang."Siapa itu? Pergi dari sini sekarang!" teriakku ke arah kegelapan kamar bawah tanah yang sunyi.Tidak ada jawaban verbal yang menyambut teriakan parau dari balik kegelapan. Namun, embusan angin dingin yang membawa aroma peppermint tajam mendadak menyelimuti ruangan.Aku tahu pasti siapa predator dominan yang telah melangkah masuk ke ruang pengekapan ini. "Julian..." bisikku dengan jantung yang langsung berdegup kencang karena ketakutan.Sepasang tangan yang dingin mencengkeram rahangku dari belakang secara paksa. Sebelum aku sempat bergerak, selembar kain sutra hitam tebal langsung diikatkan menutupi kedua mataku."Julian! Apa yang kau lakukan? Lepaskan kain ini sekarang juga!" raungku sembari menggelengkan kepala sekuat tenaga. Julian mengabaikan penolakanku sepenuhnya, lalu mengunci kedua

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 19: AIR MATA DI KAMAR MANDI

    Air hangat dari pancuran menyembur deras mengenai kepalaku. Aku merosot di atas lantai kamar mandi yang dingin.Pipiku membengkak kencang, membuat mataku sulit untuk terbuka sepenuhnya. Rasa asin darah mengalir ke lidahku setiap kali aku menelan ludah.Kling! Rantai perak di kaki kiriku berdenting nyaring setiap kali tubuhku bergeser.Aku mencengkeram selembar kain kassa kasar dengan jemari gemetar. Dengan gerakan menyentak, aku mulai menggosok paha bagian dalamku sekuat tenaga.Cairan semen sisa eksekusi paksa malam ini harus lenyap dari kulitku. Rasa lengket itu membuat perutku mual setengah mati.Meskipun tingkat resistensi fisik Omegaku hanya berada di angka $30\%$, jiwaku menolak tunduk. Aku terus menggosok kulit paha itu hingga memerah kencang dan terasa terbakar demi meluruhkan sisa noda mereka.Aku beralih ke leher, menggosok bercak merah keunguan di sana tanpa ampun. Aroma peppermint dingin, kayu bakar, dan kulit hangat masih menguar dari kelenjar leherku.Luka gigitan Xavier

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status