로그인Jose tetap tidak berkata apa-apa. Sepasang matanya yang tajam hanya sedikit menyipit, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.Melihat Jose terus diam, Roy mengerutkan kening sedikit. Dia malas melanjutkan pembicaraan dengan Jose, jadi langsung melangkah menuju kamar rawat Aura.Begitu Roy pergi, Marsel baru mendekat ke hadapan Jose. Dia menatap Jose dengan wajah penuh dilema. "Tuan benar-benar hilang ingatan?"Jose menatapnya. "Kamu siapa lagi?"Mendengar Jose bahkan melupakannya, Marsel merasa agak sedih. Dia menghela napas. "Tuan, aku ini orang yang paling lama ikut Tuan.""Cih, jelas-jelas aku orangnya." Begitu kalimat Marsel dilontarkan, sebuah suara yang santai dan sembrono terdengar dari belakang.Philip berjalan ke depan Jose, mendongak menatapnya dengan tatapan penuh emosi. "Bos, jangan dengarkan dia. Aku bawahanmu yang paling setia."Marsel tidak bisa berkata-kata. Dia menatap belakang kepala Philip, hampir memutar bola matanya.Jose menatap dua orang di depannya. Kurang lebih
Begitu kata-kata Jose terucap, tubuh Aura langsung menegang. Seluruh badannya seolah-olah disambar petir, tak bisa bergerak sama sekali.Sudut bibirnya bergetar. Setelah waktu lama, barulah dia menemukan kembali suaranya. "Ka ... kamu ... bilang apa?"Jose mengerutkan kening. "Aku tanya, kamu siapa?"Orang di hadapannya masih orang yang sama dan familier, tetapi Aura merasa sorot mata Jose sekarang terasa sangat asing."Kamu ... kamu bohong, 'kan?" Aura menggeleng sambil tersenyum tipis. "Kamu pasti bercanda denganku. Kamu marah karena aku minta cerai, 'kan?"Jose mengerutkan kening. "Cerai?"Dia menatap gadis di depannya yang tingginya lebih pendek satu kepala darinya. Gadis itu sedang memandangnya dengan tatapan tak percaya.Di bulu matanya yang panjang, tergantung air mata yang hampir jatuh. Alisnya semakin berkerut.Gadis di depannya ini memang tipe yang dia sukai, tetapi Suryani adalah pacarnya. Dia bilang cerai? Apakah itu berarti dirinya punya istri sekaligus pacar? Atau di anta
Orang-orang yang datang itu pun terkejut begitu melihatnya.Dengan wajah penuh kegembiraan, salah satunya berseru, "Benar-benar Tuan Jose! Tuan Jose masih hidup!"Jose mengerutkan kening. "Kalian siapa?"Pria yang memimpin bernama Gilbert. Dengan sangat emosional, dia berkata, "Nona kami sudah lama sekali mencari Tuan. Kami nggak nyangka Tuan benar-benar ada di sini.""Nona kalian?" Jose mengernyit, merasa orang di depannya berbicara tidak masuk akal.Gilbert maju menarik Jose dan langsung membawanya turun. "Nona sedang menunggu di rumah sakit. Nona bilang hari ini melihat Tuan. Awalnya kami juga nggak percaya."Sambil menarik Jose menuruni tangga, Gilbert terus berbicara.Belum sampai ke lantai bawah, mereka sudah diadang oleh Suryani. Suryani menatap Jose dengan mata agak memerah. Dia tidak menyangka dirinya tetap terlambat selangkah."Jose ...." Suryani memanggil Jose.Jose mengerutkan kening, menatapnya sejenak. "Aku ikut mereka sebentar. Kamu tunggu di rumah."Suryani menggigit bi
"Apa maksudmu?" Mery menatap Suryani dengan ekspresi bingung.Begitu mendengarnya, Suryani mengentakkan kaki. "Aduh, ngapain tanya sebanyak itu? Pokoknya Ibu tunggu saja. Nanti aku pasti bikin Ibu hidup enak."Mery mengangguk. "Baiklah, aku percaya padamu sekali lagi."Malam pun tiba. Suryani membawa segelas susu ke lantai atas. Saat mendorong pintu kamar Jose, dia melihat Jose sedang duduk di depan meja belajar.Mungkin karena naluri, Jose memang selalu suka membaca buku. Beberapa hari ini dia meminta Suryani membelikannya buku-buku tentang keuangan dan ekonomi. Suryani menuruti semuanya."Jose, sudah malam. Minum susunya, lalu tidur lebih awal," kata Suryani.Mendengar itu, Jose mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Suryani. "Kamu tidur dulu saja. Setelah buku ini habis, aku akan tidur."Selesai berkata begitu, dia mengulurkan tangan mengambil susu yang diletakkan Suryani di sampingnya, lalu mengangkatnya hendak minum.Melihat gerakannya, kedua tangan Suryani yang terlipat d
"Kota kecil ini nggak jauh dari area tambang. Kalau memang ada jejak Pak Jose, seharusnya sudah lama ditemukan.""Tapi aku benar-benar melihatnya!" Aura tiba-tiba menyela ucapan Thea dengan suara keras, "Sekarang juga, segera suruh semua orang datang ke kota kecil ini untuk mencari Jose!""Semuanya!" pekik Aura sambil menangis.Thea agak terkejut. Dia tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Baik, kalau begitu aku akan menelepon mereka sekarang."Aura memang atasannya. Karena Aura ingin mencari di kota kecil ini, Thea tentu tidak akan mengatakan apa-apa. Hanya saja, Thea tetap merasa ini hanyalah halusinasi Aura. Dia menghela napas, lalu berjalan ke samping untuk menelepon.Di sisi lain, Aura seperti orang kehilangan akal, berlari ke arah Jose pergi tadi. Namun, karena cedera di kakinya, belum lama berlari, dia kembali terjatuh keras ke tanah.Thea segera menyelesaikan pembicaraannya di telepon, lalu berlari mengejar Aura."Bu Aura, jangan seperti ini," bujuk Thea. "Sekalipun sek
Ekspresi Suryani langsung menegang. Namun, teringat bahwa dalam beberapa waktu terakhir orang-orang yang datang mencari Jose semakin sedikit, dia terdiam sejenak, lalu kembali memasang senyuman."Oke. Lihat, ini baju yang kubelikan untukmu. Coba lihat, cocok atau nggak."Jose melirik sekilas, lalu kembali menunduk membaca buku.....Keesokan paginya, Aura segera berangkat ke rumah sakit di kota kecil terdekat untuk pemeriksaan ulang. Meskipun fasilitas medis di kota kecil itu tidak terlalu baik, kelebihannya adalah jaraknya dekat, sehingga tidak perlu bolak-balik ke Kota Morimas dan membuang waktu."Bu Aura, pemulihan kakimu nggak bisa dibilang baik," kata dokter sambil memegang laporan hasil pemeriksaan Aura. "Aku menyarankanmu beristirahat dengan baik untuk sementara waktu."Aura sedikit menunduk. "Terima kasih. Tolong resepkan obat pereda nyeri saja."Sebelum menemukan Jose, mana mungkin dia bisa beristirahat dengan tenang?Dokter itu mengernyit. Bagi seorang dokter, menghadapi pasi







