Share

BAB 2

Auteur: Jw Hasya
last update Date de publication: 2026-03-17 15:34:29

Mendengar kata-kata lirih tersebut, sontak membuat Satta melangkah lebih dekat, jantungnya berdegup kencang di balik tulang-tulang rusuknya. Gadis itu kemudian meletakkan ember yang berisi air dan makanan di lantai dekat kaki sosok tersebut, lalu dengan hati-hati menjauhkan korek api agar tidak menyilaukan matanya.

“Maaf, aku tidak sengaja menyilaukanmu,” ucapnya dengan lembut, sambil menatap kalung di leher pria itu. Bentuk bintang emas yang mengkilap di tengah kegelapan benar-benar sama persis dengan yang selalu dia lihat di dada Kaisar Raja setiap kali ada upacara istana. Bagaimana mungkin dia punya kalung seperti itu? pikir Satta.

Sosok itu tidak merespon, dia tampak mengangkat tangannya yang kurus dengan sedikit susah payah, mencoba mengambil gelas kosong dan menuangkan air ke dalamnya. “Biar aku yang menuangkan untukmu.” Kini ada sekelumit senyum di kedua sudut bibir Satta.

Sosok itu kemudian menerima gelas dari Satta, lalu meneguknya dengan tergesa-gesa, hingga sisa air menetes di dagunya yang penuh dengan tanah dan bekas luka. Setelah itu, dia melihat ke arah bungkusan makanan yang dibawa Satta.

“Kau lapar?” tanya Satta dengan suara begitu rendah.

Sosok itu mengangguk dalam.

“Aku bisa membukanya untukmu,” ucap Satta, gadis itu perlahan mulai merasa lebih tenang meskipun bentuk fisik pria dihadapannya sangat mengerikan karena berbeda dari manusia biasa.

Satta membuka kain yang membungkus makanan—nasi hangat dengan potongan daging dan sayuran yang dia simpan dari dapur. Gadis itu kemudian menaruhnya di atas piring yang sudah dibersihkan dengan bagian ujung kainnya.

Pria itu segera mengambil makanan dan memakannya dengan cepat, seolah belum pernah makan selama berhari-hari. Saat dia sedang makan, Satta mulai melihat lebih jelas wajahnya—wajah yang tampan dengan alis tebal dan bibir tipis, kulitnya sedikit pucat karena kurang cahaya dan makanan. Telinga rubahnya yang panjang itu bergerak sesekali, seolah merespon setiap suara kecil di sekitar mereka.

“Tidak usah tergesa, aku tidak akan merebut makananmu.” Gadis itu tersenyum kecil.

Pria itu tidak meranggas ucapan Satta, dia tetap memakan makanannya dengan begitu rakus. Setelah selesai makan dan minum, dia menoleh ke arah Satta, mata crimson yang tadinya kusam kini sedikit bersinar lebih terang. “Terima kasih,” ujarnya dengan suara yang masih lemah tapi lebih jelas. “Aku tidak punya apa-apa untuk membayar kebaikanmu.”

Satta menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku tidak butuh semua itu, yang penting kau sudah tidak merasa kelaparan lagi. Tapi … bisakah kau katakan siapa dirimu? Dan kenapa kau terkunci di sini? Maaf sebelumnya, apa … kau ada hubungan dengan Kaisar? Kalungmu ….” Satta menggantung kalimatnya.

Wajah pria itu sedikit mengerut saat mendengar kata “Kaisar”. Dia memegang kalungnya, lalu menatap Satta dengan tatapan yang penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dipahami gadis itu. “Namaku Allard,” ucapnya perlahan. “Aku putranya.”

Sontak Satta terkejut dan mundur sedikit. “Tidak mungkin! Kaisar Raja tidak pernah mengumumkan jika beliau punya seorang putra!”

“Karena dia sengaja menyembunyikanku,” jawab Allard dengan nada yang penuh dengan rasa kemarahan. “Dia mengurungku di sini sudah lebih dari dua puluh tahun. Dia bilang aku bukan manusia, aku makhluk buas yang akan membahayakan kerajaan.” Pria itu mengangkat kakinya yang dirantai. “Rantai ini dibuat dari logam khusus yang tidak bisa dirusak dengan mudah.”

Bersamaan dengan itu, terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat dari arah pintu atas. Satta segera menutup mulutnya dengan tangannya, matanya penuh ketakutan. Suara itu sangat akrab baginya—suara sepatu kulit yang dikenakan oleh penjaga istana.

“Siapa di sana?! Aku tahu ada orang di dalam gudang!” teriak suara penjaga dari atas.

Allard cepat-cepat menarik Satta ke dekatnya, menyembunyikannya di balik tubuhnya yang besar dan jangkung. “Bersembunyilah di sini, jangan bergerak,” bisiknya dengan nada rendah. Itu suara anak buah Viona. “Jika mereka menemukanmu di sini, kau akan dihukum sama seperti diriku.”

Satta merasakan detak jantungnya semakin cepat dari biasanya, saat kedua bola matanya tidak sengaja menatap bola mata crimson milik Allard.

“Cepatlah bersembunyi!” Tiba-tiba sorot matanya berkilat merah.

Satta melihat ke arah rantai yang mengikat kakinya, lalu mendengar langkah penjaga yang sudah sangat dekat. Di saat yang sama, dia melihat bayangan sosok wanita yang berdiri di ambang pintu. Sosok yang mengenakan gaun berwarna ungu tua yang selalu dikenakan oleh Permaisuri Alderaan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (8)
goodnovel comment avatar
Grace
jadi allard itu putra dari kaisar raja? knp di kurvng disana???
goodnovel comment avatar
Nur nh
apa yang terjadi sampai allard dirantai
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
duh jangan² permaisuri bukan ibu kandungnya allard
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 9

    Udara di ruang bawah tanah kembali terasa sejuk dan lembab setelah sedikit angin fajar masuk menyelinap melalui celah-celah kecil. Semalam, Satta memutuskan untuk tidur dalam gudang bersama Allard. Entah kenapa, wanita itu sebegitu pedukinya dengan pria yang baru saja dikenal tersebut. Hampir semalaman, Satta tidak memejamkan mata. Bahkan, kedua skleranya masih tampak begitu merah karena menangis.“Aku akan kembali ke istana sebentar lagi, Allard,” katanya sambil menyingsingkan senyum. “Jangan khawatir, aku akan berusaha mencari cara agar kau bisa keluar dari sini,” sambungnya dengan nada menjanjikan, sambil menutup erat pintu gudang tua yang berdebu.Hanya beberapa menit setelah kepergian Satta, suara langkah kaki yang berat terdengar menggema di lorong sempit. Pintu besi yang kusam terbuka dengan keras, menyinari ruangan dengan cahaya pagi yang tipis. Di sana berdiri Kaisar Alderaan—wajahnya bersungut-sungut, sama seperti Allard hany

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 8

    Sejak kejadian tiga malam lalu, hingga saat ini Satta memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi Allard. Di samping dia takut, di sini lain gadis itu malu karena tubuhnya tidak sedikit pun menolak segala permainan yang Allard suguhkan. “Besok pagi akan diadakan upacara mahkota untuk Tuan Putri Zehewa. Jadi … hari ini tidak ada kata istirahat untuk kita semua.” Dora berujar di dalam ruang dapur khusus. Mendengar kata-kata tersebut, Satta teringat dengan sosok yang terkurung di dalam ruang bawah tanah—Allard. Masih ingat betul dengan kata-kata Permaisuri saat perempuan paruh baya itu mengunjungi Allard. “Dora, boleh aku izin ke luar sebentar? Ada yang harus kubeli.”Dora mengernyit. “Beberapa hari ini kau sedikit kurang fokus bekerja, Satta. Apa ada yang tengah kau sembunyikan dariku?” katanya sambil menatap Satta penuh curiga. Satta menggeleng. “Tidak, Dora. Aku sedang ingin membeli sesuatu untuk Tuan Putri Zehewa. Karena selama ini dia selalu baik padaku.”“Ah, kau benar sekali. Aku

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 7 ❤️‍🔥

    Pria itu mulai meraba paha mulus Satta yang dibalut dengan sebuah stocking berwarna senada dengan kulitnya, lalu melurutkannya ke bawah. Sentuhan sintal yang dilakukan Allard membuat bulu badan gadis itu meremang. “Ehm ….” desah Satta. Sejurus kemudian, pria itu menyingkap rok bagian bawah ke atas, sehingga menampilkan paha mulus dengan sebuah segitiga yang masih terbungkus kain berwarna merah menyala. Membuat hasrat liar sang beastmen tersebut semakin menggebu. “Kau mau apa?” Suara Satta lirih, bergetar dan … seperti sedang menahan sesuatu. Allard merasakan getaran yang datang dari tubuh Satta di bawahnya, dan meskipun hasratnya begitu besar, sesuatu di dalam diri Allard menghentikannya sebelum melangkah lebih jauh. Jari-jarinya yang semula mulai menjelajahi area yang begitu sensitif tiba-tiba berhenti, lalu perlahan-lahan merayap ke atas hingga berada di bagian perut. Lalu menyentuh dada gadis itu dengan sentuhan yang jauh lebih lembut."Aku tidak akan menyakitimu ... tidak aka

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 6

    Sudah memasuki hari kesepuluh sejak Satta mengenal sosok Allard. Hampir tiap hari dia datang berkunjung, dan seperti malam ini, gadis itu kembali membawakan makanan berupa kentang rebus dan satu botol minuman penghangat tubuh. “Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Satta saat duduk berhadapan dengan Allard. Pria itu memicingkan sebelah bibirnya. “Seperti yang kau lihat. Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa.”Detik kemudian, gadis itu menyalakan lilin kecil yang sebgaja dia bawa dari istana. “Hei, kau terluka!” seru Satta saat melihat beberapa memar yang bercokol di area wajah Allard. Dengan penuh perhatian, Satta menangkup wajah tampan tersebut penuh hati-hari. Bersamaan dengan ity, kelopak matanya mulai memanas. “Kenapa mereka melakukan ini padamu, Tuan?”“Bukankah sudah pernah kukatakan, jangan panggil aku tuan. Kau tahu namaku. Panggil saja namaku.” Allard menatap dalam. Ada gelenyar hangat menelusup masuk dalam ulu hatinya. Tiba-tiba menarik kedua tangannya saat pandangan Alla

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 5

    Dan jangan panggil aku tuan!” Kata-katanya terdengar berat. Sejurus kemudian, Allard menggenggam jemari Satta, merenggangkan kedua tangannya di atas lantai, lalu tanpa aba-aba pria itu mencium bibir Satta. Sontak Satta terkejut dibuatnya, kedua bola mata gadis itu terbuka perlahan, ia menemukan sorot mata merah crimson milik Allard yang memandangi wajahnya, sedangkan bibirnya masih melumat habis bibir kenyal miliknya. Entah kenapa, sentuhan pria itu membuatnya dimabuk kepayang, hingga tanpa sadar Satta mulai memegang bagian lengan Allard yang begitu kekar ditumbuhi bulu-bulu halus bercorak kuning keemasan. Allard menghentikan ciaumannya, sebelum akhirnya pria itu bersuara. “Sebaiknya kau keluar dari sini secepat mungkin, sebelum sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi!”Satta mengangguk patuh. Sejurus kemudian gadis itu berjalan menuju pintu besi. Dan sialnya, pintu tersebut terkunci dari luar ruangan. “Cepat pergi!” sergah Allard “Apa kau pikir aku ingin terkurung di sini? Aku

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 4

    Sore ini, Satta bertugas memasak untuk Kaisar serta Permaisuri. Di saat kedua tangannya begitu piawai memainkan gagang pisau, tiba-tiba pikirannya melambung pada sosok Allard. Sejurus kemudian, gadis itu melihat ke segala penjuru ruangan. Tidak ada orang selain dirinya. Gadis itu kemudian dengan sedikit tergesa memasukkan satu potong roti gandung ke dalam saku rok berbentuk payung yang dikenakannya. “Rasanya dia tidak akan kenyang jika hanya makan roti ini saja,” gerutu Satta. “Baiklah, nanti akan aku sisihkan masakanku untuk pria itu,” imbuh Satta sambil merajang beberapa bawang. “Satta, setelah selesai masak, kau bersihkan halaman belakang.” Dora, salah satu pelayan yang lebih senior darinya memerintah.Satta mengangguk pelan, membersihkan halaman belakang? Itu sama halnya gadis tersebut akan memiliki cukup waktu untuk kembali menemui Allard. Usai memasak, Satta segera meraih sapu serta pengki yang berada di bawah pohon rindang. Sebelumnya, gadis itu juga membawa ember yang te

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status