LOGINMendengar kata-kata lirih tersebut, sontak membuat Satta melangkah lebih dekat, jantungnya berdegup kencang di balik tulang-tulang rusuknya. Gadis itu kemudian meletakkan ember yang berisi air dan makanan di lantai dekat kaki sosok tersebut, lalu dengan hati-hati menjauhkan korek api agar tidak menyilaukan matanya.
“Maaf, aku tidak sengaja menyilaukanmu,” ucapnya dengan lembut, sambil menatap kalung di leher pria itu. Bentuk bintang emas yang mengkilap di tengah kegelapan benar-benar sama persis dengan yang selalu dia lihat di dada Kaisar Raja setiap kali ada upacara istana. Bagaimana mungkin dia punya kalung seperti itu? pikir Satta. Sosok itu tidak merespon, dia tampak mengangkat tangannya yang kurus dengan sedikit susah payah, mencoba mengambil gelas kosong dan menuangkan air ke dalamnya. “Biar aku yang menuangkan untukmu.” Kini ada sekelumit senyum di kedua sudut bibir Satta. Sosok itu kemudian menerima gelas dari Satta, lalu meneguknya dengan tergesa-gesa, hingga sisa air menetes di dagunya yang penuh dengan tanah dan bekas luka. Setelah itu, dia melihat ke arah bungkusan makanan yang dibawa Satta. “Kau lapar?” tanya Satta dengan suara begitu rendah. Sosok itu mengangguk dalam. “Aku bisa membukanya untukmu,” ucap Satta, gadis itu perlahan mulai merasa lebih tenang meskipun bentuk fisik pria dihadapannya sangat mengerikan karena berbeda dari manusia biasa. Satta membuka kain yang membungkus makanan—nasi hangat dengan potongan daging dan sayuran yang dia simpan dari dapur. Gadis itu kemudian menaruhnya di atas piring yang sudah dibersihkan dengan bagian ujung kainnya. Pria itu segera mengambil makanan dan memakannya dengan cepat, seolah belum pernah makan selama berhari-hari. Saat dia sedang makan, Satta mulai melihat lebih jelas wajahnya—wajah yang tampan dengan alis tebal dan bibir tipis, kulitnya sedikit pucat karena kurang cahaya dan makanan. Telinga rubahnya yang panjang itu bergerak sesekali, seolah merespon setiap suara kecil di sekitar mereka. “Tidak usah tergesa, aku tidak akan merebut makananmu.” Gadis itu tersenyum kecil. Pria itu tidak meranggas ucapan Satta, dia tetap memakan makanannya dengan begitu rakus. Setelah selesai makan dan minum, dia menoleh ke arah Satta, mata crimson yang tadinya kusam kini sedikit bersinar lebih terang. “Terima kasih,” ujarnya dengan suara yang masih lemah tapi lebih jelas. “Aku tidak punya apa-apa untuk membayar kebaikanmu.” Satta menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku tidak butuh semua itu, yang penting kau sudah tidak merasa kelaparan lagi. Tapi … bisakah kau katakan siapa dirimu? Dan kenapa kau terkunci di sini? Maaf sebelumnya, apa … kau ada hubungan dengan Kaisar? Kalungmu ….” Satta menggantung kalimatnya. Wajah pria itu sedikit mengerut saat mendengar kata “Kaisar”. Dia memegang kalungnya, lalu menatap Satta dengan tatapan yang penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dipahami gadis itu. “Namaku Allard,” ucapnya perlahan. “Aku putranya.” Sontak Satta terkejut dan mundur sedikit. “Tidak mungkin! Kaisar Raja tidak pernah mengumumkan jika beliau punya seorang putra!” “Karena dia sengaja menyembunyikanku,” jawab Allard dengan nada yang penuh dengan rasa kemarahan. “Dia mengurungku di sini sudah lebih dari dua puluh tahun. Dia bilang aku bukan manusia, aku makhluk buas yang akan membahayakan kerajaan.” Pria itu mengangkat kakinya yang dirantai. “Rantai ini dibuat dari logam khusus yang tidak bisa dirusak dengan mudah.” Bersamaan dengan itu, terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat dari arah pintu atas. Satta segera menutup mulutnya dengan tangannya, matanya penuh ketakutan. Suara itu sangat akrab baginya—suara sepatu kulit yang dikenakan oleh penjaga istana. “Siapa di sana?! Aku tahu ada orang di dalam gudang!” teriak suara penjaga dari atas. Allard cepat-cepat menarik Satta ke dekatnya, menyembunyikannya di balik tubuhnya yang besar dan jangkung. “Bersembunyilah di sini, jangan bergerak,” bisiknya dengan nada rendah. Itu suara anak buah Viona. “Jika mereka menemukanmu di sini, kau akan dihukum sama seperti diriku.” Satta merasakan detak jantungnya semakin cepat dari biasanya, saat kedua bola matanya tidak sengaja menatap bola mata crimson milik Allard. “Cepatlah bersembunyi!” Tiba-tiba sorot matanya berkilat merah. Satta melihat ke arah rantai yang mengikat kakinya, lalu mendengar langkah penjaga yang sudah sangat dekat. Di saat yang sama, dia melihat bayangan sosok wanita yang berdiri di ambang pintu. Sosok yang mengenakan gaun berwarna ungu tua yang selalu dikenakan oleh Permaisuri Alderaan.Angin malam berembus perlahan, membawa aroma kelopak bunga mawar dan melati yang tumbuh di taman bawah. Di dalam kamar yang tenang itu, Allard tidak langsung memejamkan mata. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah Satta yang tampak bercahaya di bawah temaram lampu minyak. Waktu seolah melambat. Allard teringat hari-hari ketika ia hanya mengenal logam pedang dan derap kaki kuda. Ia ingat betapa dingin hatinya dulu, hingga wanita di depannya ini datang dan mencairkan segala kebekuan itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Satta bertanya dengan suara lirih, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Allard mengulurkan tangannya, membelai pipi Satta yang masih terasa selembut sutra. "Aku hanya sedang menghitung keberuntunganku, Elena. Jika dulu aku tidak memilih untuk membawamu bersamaku, mungkin hari ini aku hanyalah seorang raja tua yang kesepian di atas takhta berdarah." Satta membuka matanya, m
Sepuluh tahun telah berlalu sejak ekspedisi terakhir Allard ke perbatasan utara. Kini, Alderaan tidak lagi membutuhkan pedang yang terhunus untuk menjaga kedaulatannya. "Sang Gagak" yang dulu menjadi ancaman terakhir, akhirnya luruh bukan karena kekuatan zirah, melainkan karena pengikutnya yang satu demi satu meletakkan senjata, memilih untuk pulang ke rumah-rumah kayu yang hangat dan ladang gandum yang kuning keemasan yang disediakan oleh Sang Singa.Kedamaian di Alderaan bukan lagi sebuah jeda di antara dua perang, melainkan sebuah cara hidup yang mengakar.Cahaya matahari pagi yang lembut membasuh bukit di pinggiran ibu kota. Di sana, sebuah vila kayu yang sederhana namun elegan berdiri, jauh dari hiruk-pikuk urusan birokrasi istana yang kini telah diserahkan sebagian besar kepada Abraham.Allard berdiri di depan jendela besar, tangannya yang kini memiliki beberapa garis kerutan tambahan tetap terasa kuat saat ia menggenggam cangkir keramik berisi teh melati. Di hadapannya, hampara
Tujuh tahun telah berlalu sejak malam di mana api melahap menara tinggi Alderaan dan darah Zehewa meresap ke bumi. Alderaan yang sekarang bukan lagi sekadar kerajaan yang pulih, melainkan sebuah simfoni kemakmuran yang dibangun dari abu. Istana baru telah berdiri—tidak lagi angkuh dan terisolasi seperti benteng lama, melainkan lebih terbuka, dengan taman-taman yang menghubungkan kediaman raja langsung dengan alun-alun rakyat, melambangkan filosofi Allard: raja adalah akar, dan rakyat adalah daunnya.Di tengah taman istana, pohon *Ginkgo* yang legendaris itu masih berdiri. Meskipun separuh batangnya memiliki bekas luka bakar permanen, daun-daunnya tumbuh lebih rimbun dan lebih kuning keemasan daripada sebelumnya. Pohon itu menjadi saksi bisu dari dua pangeran yang kini sedang berlatih tanding di bawah naungannya.Abraham, yang kini berusia dua belas tahun, telah tumbuh menjadi pemuda yang ramping namun berotot, dengan ketenangan seorang jenderal. Sementara itu, Ares, si "anak api" yang
Asap hitam membumbung tinggi, mencabik langit malam Alderaan yang kini berwarna merah kesumat. Di tengah taman yang biasanya menjadi tempat ketenangan, kini berubah menjadi teater maut. Allard berdiri kokoh, kakinya berpijak pada bumi yang bergetar akibat rentetan ledakan di menara mesiu. Darah pengkhianat mengalir di sepanjang bilah pedang peraknya, menetes pelan ke atas rumput yang menghitam karena abu.Di belakangnya, perjuangan hidup dan mati yang berbeda sedang berlangsung. Satta terbaring di atas hamparan kain darurat di bawah perlindungan akar pohon Ginkgo yang agung. Erangannya memecah suara denting senjata. Para bidan bekerja dengan tangan gemetar, mencoba membawa sebuah nyawa ke dunia di saat kematian sedang menari-nari di sekeliling mereka."Satu dorongan lagi, Yang Mulia! Bertahanlah!" suara bidan itu tenggelam dalam dentuman reruntuhan istana.Allard tidak menoleh. Ia tidak boleh menoleh. Di depannya, dari balik kabut asap, sosok yang seharusnya sudah habis ditelan api mu
Ketegangan di Alderaan merambat seperti kabut beracun yang tak terlihat. Bulan ketujuh kehamilan Satta ditandai dengan perubahan atmosfer yang drastis. Langit yang biasanya cerah kini sering tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, seolah alam pun merasakan ada sesuatu yang busuk sedang merayap di bawah kaki mereka.Di dalam kamar utama, Satta terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi lehernya. Ia menoleh ke samping, melihat Allard yang masih terlelap, namun tangan pria itu tetap menggenggam jemari Satta, bahkan dalam tidurnya. Firasat Satta semakin kuat; bukan lagi sekadar rasa mual, melainkan perasaan diawasi yang amat nyata."Allard..." bisiknya lirih.Sang Singa terjaga seketika. Mata birunya yang tajam langsung menyapu setiap sudut ruangan yang remang. Insting perangnya, yang selama lima tahun ini sempat tumpul oleh kedamaian, mendadak bangkit kembali. "Ada apa, Elena? Apa perutmu sakit?""Bukan... tapi rasanya ada sesuatu di sini. Di bawah kita," Satta men
Berita tentang kehamilan Sang Ratu mengalir seperti air bah yang menjebol bendungan, tak terbendung meski Allard telah mencoba menutup rapat pintu-pintu rahasia istana. Dari bisik-bisik para pelayan di dapur, hingga obrolan para pedagang di pasar utama Alderaan, kabar itu menjadi simbol harapan baru. Namun, getaran kegembiraan itu merambat jauh ke bawah, menembus lapisan lantai marmer istana, melewati dinding-dinding batu yang lembap, hingga mencapai kegelapan yang paling pekat: penjara bawah tanah terdalam yang dikenal sebagai Lubang Penyesalan.Di sana, di dalam sel yang hanya diterangi oleh remang lampu minyak yang hampir padam, Zehewa duduk bersandar pada dinding yang berlumut. Rambutnya yang dulu tertata rapi kini kusut masai, menutupi wajahnya yang pucat dan tirus. Rantai besi yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya berdenting setiap kali ia bergerak, menciptakan suara parau yang menjadi satu-satunya musik di dunianya.Sudah lima tahun ia membusuk di sini. Lima tahun ia men
Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada
“Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na
Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters
Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p







