LOGINSaat sosok bergaun ungu tua melangkah turun tangga, Allard segera meniup cahaya dari korek api yang masih menyala, hingga kegelapan kembali menerpa ruangan yang begitu lembab dan beraroma besi karat.
“Besok kaisar akan menemuimu. Jangan banyak tingkah!” sergahnya. Betul sekali—dia adalah Viona—Permaisuri Alderaan. Allard mendengkus keras, suara napasnya terengah begitu jelas terdengar di kedua cuping telinga Satta yang tengah bersembunyi di balik lemari tua. Tanpa melihat ke arah manapun selain Allard, Permaisuri mengeluarkan sebuah bungkusan dari bawah roknya lalu melemparkannya dengan begitu kasar ke arah pria itu. Bungkusan tersebut terjatuh dan terbuka, menyembulkan makanan yang sudah berjamur dan sedikit beraroma busuk. “Makan!” seru Permaisuri dengan nada penuh rasa kebencian. “Jangan banyak tingkah! Suaramu yang sedikit berisik hanya akan membuat seisi istana ketakutan. Paham?!” Sebelum Allard menjawab, Permaisuri Alderaan menjulurkan tangan lalu menjambak rambutnya dengan keras, membuat Allard sedikit mengerang karena menahan rasa sakit. “Kaisar sudah memutuskan takdirmu, kau pantas terkunci di sini selamanya … hingga akhir hayatmu!” Satta yang bersembunyi di balik lemari kayu tua di belakang punggung Allard merasa terenyuh, tanpa sadar air matanya mengancam keluar. Tangannya menutup mulutnya rapat-rapat. Rasa takut itu membungkus dirinya, akan tetapi bukan itu satu-satunya yang dia rasakan. Gadis muda tersebut benar-benar tidak menyangka bahwa di istana tempatnya dan sang ibu bekerja, tersembunyi sosok pria yang ternyata adalah putra sah Kaisar Raja, yang tengah dihukum tanpa kesempatan untuk membela diri dan hanya diberi makanan yang tidak layak untuk dimakan. “Jika kau masih ingin menghirup udara dan mendengar berita tentang putriku Zehewa diangkat menjadi seorang putri mahkota, maka … makanlah makanan itu! Setidaknya biar kau punya tenaga untuk sedikit berpikir!” Permaisuri sedikit menendang makanan tersebut lebih dekat dengan Allard. Setelah berujar demikian, Permaisuri Alderaan pergi meninggalkan ruangan yang begitu gelap tersebut. Allard tertunduk dalam, kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya yang ditumbuhi bulu-bulu tampak pucat sempurna. Tiba-tiba kilat kemarahan terpancar dari kedua bola mata crimsonnya. “Hei, kau baik-baik saja?” tanya Satta saat keluar dari tempat persembunyiannya. Allard menatap dalam, kedua telinganya yang lancip dan berbulu, tampak bergerak dengan bulu-bulunya terangkat semua, membuat Satta sedikit memundurkan langkahnya karena merasa takut. “Hei, bisakah kau tidak menakutiku?” Satta mengintip wajah Allard dari balik rambut pria itu yang kuning keemasan. “Kau memang seharusnya pergi dari tempat ini! Sebelum kemarahanku membuatmu takut!” Kilatan merah yang terpancar di kedua bola matanya nyaris membuat jantung Satta copot. Wanita itu bahkan sedikit kesusahan menelan salivanya sendiri. “Aku hanya ingin menjadi temanmu, jadi … tolong jangan menakutiku.” Suara Satta begitu lirih, tatapannya tertunduk dalam. Tiba-tiba ekspresi Allard berubah drastis, ketegangan pada otot wajahnya hilang seketika, kilat kemarahan yang sebelumnya terpancar dari bola matanya kini sedikit melunak. “Kau sadar sedang berbicara kepada siapa? Apa kau tidak mendengar majikanmu tadi bilang apa? Aku ini manusia serigala yang gila! Dan aku bisa memangsamu sewaktu-waktu! pergi!” Tiba-tiba Satta memegang wajah yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus bercorak kuning keemasan di wajah Allard. “Tapi aku yakin, kau adalah orang baik. Aku hanya ingin menjalin pertemanan denganmu.” Dada Allard mendadak berdegup kencang. Ritme jantungnya tidak lagi stabil, ada gelenyar hangat membungkus hatinya. Perasaan apa itu? “Sebaiknya kau segeralah pergi dari tempat ini, sebelum orang suruhan Viona kembali lagi memeriksa ruangan ini, karena jika mereka menemukanmu, kau akan mendapat hukuman yang berat. Bisa jadi kau tidak akan pernah bisa menghirup udara kembali.” Allard tertunduk dalam, kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya yang ditumbuhi bulu-bulu tampak pucat sempurna. Tiba-tiba kilat kemarahan terpancar dari kedua bola mata crimsonnya. Ia tak sengaja mendorong Satta pelan. “Ah...” Satta mengerang, sikunya berdarah akibat terjarit ujung paku yang berada dalam lemari. Allard membeku, ia tak sengaja. “Ak–aku aku….” Gadis itu kemudian mencoba membersihkan darah yang menetes ke lantai lemari. Sialnya, gerakan kecil itu malah membuat paku menusuk lebih dalam. "Aduh …. sakit...." Aroma darah segar dan khas tubuhnya yang lembut seperti bunga kasturi kini melayang di udara lembab, menusuk langsung ke indra penciuman Allard. Kemarahan yang membara dalam dirinya tiba-tiba bergeser—digantikan oleh getaran panas yang menggelegar—dari dalam dada hingga ujung jari. Pria itu mengerang dalam-dalam, suara itu seperti rengekan yang tertekan. "Kau baik-baik saja? Jangan marah lagi.” Satta dengan hati-hati keluar dari balik lemari, tangannya mengepal erat menekan luka di sikunya. Allard berbalik dengan kecepatan yang mengejutkan. Saat gadis itu hendak mendekatinya, dengan cepat pria itu menarik sikunya yang terluka menuju dirinya. Ujung hidungnya menyentuh bagian atas luka, menghirup aroma darah dengan dalam. Mata crimson itu menyala semakin terang. "Apa ... apa yang terjadi padamu?" Satta terdiam sejenak, pandangannya tertuju pada mata pria itu yang kini seperti bara api. "Kau terlihat berbeda ...." "Kau tidak boleh berada di sini," ucap Allard dengan suara yang lebih dalam dari biasanya, napasnya menjadi berat. "Aroma darahmu ... membuatku tidak bisa berpikir jernih lagi." Sebelum Satta menjawab, tangan Allard yang kuat, dengan lembut menarik dan menopang pipinya. "Maafkan aku ...." bisiknya pelan, sebelum bibirnya yang hangat tiba-tiba menyentuh bibir gadis itu. Satta terkejut awalnya, tubuhnya sedikit kaku. Tapi ketika ciuman itu menjadi lebih dalam dan hangat, rasa takut yang semula membungkusnya perlahan menghilang. Dia bisa merasakan uap hangat dari napas Allard, dan tangan pria itu yang masih menopang wajahnya terasa begitu lembut. "Aku tidak akan menyakitimu. Tidak mungkin,” sorot mata itu meyakinkan Satta yang entah kenapa membuat dirinya benar-benar merasa aman dan tidak takut. Setelah berujar demikian, pria itu kembali melumat bibir tipis merah cerry milik Satta dengan begitu lembut. Hingga beberapa saat, Allard melepas pagutannya. “Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum sesuatu yang lebih gila lagi terjadi padamu.” Langkah kaki Satta cukup tergesa saat melintasi rerumputan tinggi di belakang istana. Tangannya masih terasa hangat bekas sentuhan wajah Allard, sementara pikirannya terus teringat pada wajah pria itu dengan mata crimson yang bisa berubah mengerikan tersebut.Satta sedang duduk di sebuah bangku taman yang terletak di bagian sayap kanan istana. Pandangannya menerawang, sesuatu tengah membuat dirinya sedikit murung. “Ada apa, Satta. Kenapa ibu lihat kau begitu lelah.” Maria menghampiri sang putri, mencoba menelisik dari sudut penglihatan paling dalam. Satta menoleh, menyeret napasnya yang begitu berat. “Aku tidak bisa hidup dengan orang yang selalu menyimpan dendam, Bu.” “Maksudmu?” “Allard.” Wanita menoleh sebelum melanjutkan kata-katanya. “Hampir setiap harindan setiap malam, dia selalu memikirkan strategi untuk membalas dendam pada siapa saja yang telah membuat hidupnya dulu sangat buruk. Satta takut, karena sikapnya itu, Allard akan kembali menjadi manusia rubah.” Maria menghelan napas panjang. “Nanti ibu akan coba bicara dengannya, atau kungkin dengan Ratu Helena.” “Tidak perlu, Bu. Karena hanya akan percuma.” “Lalu? Kau akan membiarkannya?” “Satta akan pergi. Mungkin dengan kepergianku nanti, dia akan berubah.” “Pergi? Ke ma
Allard tidak berhenti melangkah. Sepatu botnya menghantam lantai batu dengan irama yang kaku, seolah setiap langkah adalah usaha untuk menekan gemuruh di dalam dadanya. Lorong penjara bawah tanah itu panjang dan sempit, diterangi oleh obor-obor dinding yang apinya menari liar tertiup angin dingin dari celah ventilasi.Helena berjalan di sampingnya, nyaris tanpa suara. Gaun suteranya yang berwarna pucat tampak kontras dengan kegelapan di sekeliling mereka. Wajahnya tetap tenang, namun kerutan halus di keningnya mengisyaratkan kekhawatiran yang mendalam.“Membalas rasa sakit dengan rasa sakit yang sama tidak akan menyembuhkan lukamu, Allard,” suara Helena lembut, namun bergema di dinding-dinding lembap itu. “Kau memberinya kegelapan yang kau rasakan dulu, tapi kau lupa bahwa kegelapan itu jugalah yang memberi makan monster di dalam dirimu.”Allard mendengus sinis, tawa pendek yang pahit keluar dari tenggorokannya. “Ibu selalu bicara tentang kesucian jiwa. Tapi di luar sana, di atas takh
“Kau terlalu ceroboh, Adikku,” ujar Allard suara beratnya bergema, meredam suara petir di luar. “Allard, kau—““Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu.” Dia mendesah berat, sebelum kembali bersuara. “Kau salah mencari musuh. Seharusnya kau bisa menikmati semua ini, tapi rupanya … kau lebih memilih untuk membangunkan sisi gelap dari hidupku.”Zehewa mundur beberapa langkah hingga tubuhnya terbentur meja kecil. “A-apa maksudmu?”Allard menyeringai, sebuah ekspresi yang jauh dari kata ramah. Cahaya kilat dari jendela besar di aula itu menyambar, menyinari separuh wajahnya dan memberikan kesan seolah-olah bayangan di belakangnya bergerak mengikuti ritme emosinya yang memuncak.“Kau bertanya apa maksudku?” Allard melangkah maju. Setiap derap sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi Zehewa. “Maksudku adalah, kesabaran memiliki batas, Zehewa. Dan kau baru saja melompati batas itu dengan kaki telanjang.”Zehewa mencoba meraih benda apa pun di atas meja kecil di
Dendam yang mengalir dalam darah Zehewa telah mencapai puncak. Gadis yang belumnya dino atkan sebagai putri mahkota itu saat ini seakan tersingkir—semua bermula dari tewasnya sang ibu—Viona di tangan Allard. “Jika aku tidak bisa duduk di atas singgah sana yang seharusnya, jangan pernah bermimpi hidupmu akan baik-baik saja, Allard. Aku bersumpah demi dendam ibuku, aku akan menebas lehermu sendiri.” Gadis itu mengepal erat di dalam kamarnya. Wajahnya pasi, gemeletuk giginya terdengar sedikit memekakkan telinga. Sepeninggal Viona, Zehewa telah mengatur strategi untuk membuat tahta sang kakak tirimya hancur. Namun, siapa sangka, segala apa yang diatur sedemikian rupa, rupanya telah sampai di telinga Allard. “Ibu harap kau tidak bersikap terlalu kasar padanya. Karena bagaimana pun juga, dia masih adikmu, Allard.” Permaisuri Helena mendatangi Allard di ruang perpustakaan. “Tapi, ibu … karena Viona, ibu hampir tidak menghirup udara segar!”“Tapi dia sudah kau bunuh, Nak. Apa lagi yang in
Sinar lilin yang tersisa di ruangan itu kini hanya tinggal sumbu yang meredup, menyisakan keremangan yang menyesakkan. Allard masih memeluk Satta, namun kehangatan yang baru saja mereka bagi perlahan menguap, digantikan oleh hawa dingin yang merayap dari balik celah pintu. Pikirannya, yang sejenak lumpuh oleh gairah, kini kembali berputar—tajam dan waspada.Allard melepaskan pelukannya perlahan, meraih jubah beludrunya yang tersampir di lantai untuk menutupi bahu Satta yang masih polos. Matanya menatap tumpukan perkamen yang berserakan di lantai, lalu beralih ke pintu kayu jati yang masih terkunci rapat."Ada apa?" bisik Satta, merasakan perubahan mendadak pada ketegangan otot suaminya. "Kau tampak seolah... baru saja melihat bayangan di sudut ruangan."Allard terdiam sejenak, jemarinya mengusap dagunya yang kasar. "Zehewa. Dia tidak ada di jamuan makan malam tadi."Satta mengerutkan kening, merapatkan jubah Allard ke tubuhnya. "Adik tirimu itu memang sering mengurung diri, Allard. Ka
Cahaya lilin di ruang baca pribadi Allard menari-nari di dinding yang dipenuhi deretan buku tua bersampul kulit. Ruangan itu biasanya berbau debu sejarah dan tinta kering, namun malam ini, aroma melati yang melekat pada kulit Satta mendominasi udara, memicu sesuatu yang liar di dalam dada Allard yang selama ini tertahan oleh beban mahkota.Allard menutup pintu kayu jati itu dengan satu tendangan tumitnya, menguncinya rapat. Ia tidak peduli jika ada pelayan yang lewat di koridor. Saat ini, hanya ada dia, Satta, dan kabut gairah yang lebih pekat daripada racun mana pun yang mengalir di nadinya."Allard..." desis Satta saat punggungnya didorong lembut hingga bersandar pada meja ek besar di tengah ruangan. Tangan Allard merambat naik, menangkup wajah Satta dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tercekat. "Ibu benar, Elena. Aku terlalu sibuk membiarkan urusan kerajaan mencuri waktuku darimu. Malam ini, tidak akan ada menteri, tidak ada rakyat, tidak ada musuh. Hanya ada kau."Jem
Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p
Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada
“Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na
Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters







