Share

BAB 3

Author: Jw Hasya
last update publish date: 2026-03-17 15:35:16

Saat sosok bergaun ungu tua melangkah turun tangga, Allard segera meniup cahaya dari korek api yang masih menyala, hingga kegelapan kembali menerpa ruangan yang begitu lembab dan beraroma besi karat.

“Besok kaisar akan menemuimu. Jangan banyak tingkah!” sergahnya. Betul sekali—dia adalah Viona—Permaisuri Alderaan.

Allard mendengkus keras, suara napasnya terengah begitu jelas terdengar di kedua cuping telinga Satta yang tengah bersembunyi di balik lemari tua.

Tanpa melihat ke arah manapun selain Allard, Permaisuri mengeluarkan sebuah bungkusan dari bawah roknya lalu melemparkannya dengan begitu kasar ke arah pria itu. Bungkusan tersebut terjatuh dan terbuka, menyembulkan makanan yang sudah berjamur dan sedikit beraroma busuk.

“Makan!” seru Permaisuri dengan nada penuh rasa kebencian. “Jangan banyak tingkah! Suaramu yang sedikit berisik hanya akan membuat seisi istana ketakutan. Paham?!”

Sebelum Allard menjawab, Permaisuri Alderaan menjulurkan tangan lalu menjambak rambutnya dengan keras, membuat Allard sedikit mengerang karena menahan rasa sakit. “Kaisar sudah memutuskan takdirmu, kau pantas terkunci di sini selamanya … hingga akhir hayatmu!”

Satta yang bersembunyi di balik lemari kayu tua di belakang punggung Allard merasa terenyuh, tanpa sadar air matanya mengancam keluar. Tangannya menutup mulutnya rapat-rapat.

Rasa takut itu membungkus dirinya, akan tetapi bukan itu satu-satunya yang dia rasakan. Gadis muda tersebut benar-benar tidak menyangka bahwa di istana tempatnya dan sang ibu bekerja, tersembunyi sosok pria yang ternyata adalah putra sah Kaisar Raja, yang tengah dihukum tanpa kesempatan untuk membela diri dan hanya diberi makanan yang tidak layak untuk dimakan.

“Jika kau masih ingin menghirup udara dan mendengar berita tentang putriku Zehewa diangkat menjadi seorang putri mahkota, maka … makanlah makanan itu! Setidaknya biar kau punya tenaga untuk sedikit berpikir!” Permaisuri sedikit menendang makanan tersebut lebih dekat dengan Allard.

Setelah berujar demikian, Permaisuri Alderaan pergi meninggalkan ruangan yang begitu gelap tersebut.

Allard tertunduk dalam, kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya yang ditumbuhi bulu-bulu tampak pucat sempurna. Tiba-tiba kilat kemarahan terpancar dari kedua bola mata crimsonnya.

“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Satta saat keluar dari tempat persembunyiannya.

Allard menatap dalam, kedua telinganya yang lancip dan berbulu, tampak bergerak dengan bulu-bulunya terangkat semua, membuat Satta sedikit memundurkan langkahnya karena merasa takut.

“Hei, bisakah kau tidak menakutiku?” Satta mengintip wajah Allard dari balik rambut pria itu yang kuning keemasan.

“Kau memang seharusnya pergi dari tempat ini! Sebelum kemarahanku membuatmu takut!” Kilatan merah yang terpancar di kedua bola matanya nyaris membuat jantung Satta copot. Wanita itu bahkan sedikit kesusahan menelan salivanya sendiri.

“Aku hanya ingin menjadi temanmu, jadi … tolong jangan menakutiku.” Suara Satta begitu lirih, tatapannya tertunduk dalam.

Tiba-tiba ekspresi Allard berubah drastis, ketegangan pada otot wajahnya hilang seketika, kilat kemarahan yang sebelumnya terpancar dari bola matanya kini sedikit melunak.

“Kau sadar sedang berbicara kepada siapa? Apa kau tidak mendengar majikanmu tadi bilang apa? Aku ini manusia serigala yang gila! Dan aku bisa memangsamu sewaktu-waktu! pergi!”

Tiba-tiba Satta memegang wajah yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus bercorak kuning keemasan di wajah Allard. “Tapi aku yakin, kau adalah orang baik. Aku hanya ingin menjalin pertemanan denganmu.”

Dada Allard mendadak berdegup kencang. Ritme jantungnya tidak lagi stabil, ada gelenyar hangat membungkus hatinya. Perasaan apa itu?

“Sebaiknya kau segeralah pergi dari tempat ini, sebelum orang suruhan Viona kembali lagi memeriksa ruangan ini, karena jika mereka menemukanmu, kau akan mendapat hukuman yang berat. Bisa jadi kau tidak akan pernah bisa menghirup udara kembali.”

Allard tertunduk dalam, kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya yang ditumbuhi bulu-bulu tampak pucat sempurna. Tiba-tiba kilat kemarahan terpancar dari kedua bola mata crimsonnya. Ia tak sengaja mendorong Satta pelan.

“Ah...” Satta mengerang, sikunya berdarah akibat terjarit ujung paku yang berada dalam lemari.

Allard membeku, ia tak sengaja. “Ak–aku aku….”

Gadis itu kemudian mencoba membersihkan darah yang menetes ke lantai lemari. Sialnya, gerakan kecil itu malah membuat paku menusuk lebih dalam. "Aduh …. sakit...."

Aroma darah segar dan khas tubuhnya yang lembut seperti bunga kasturi kini melayang di udara lembab, menusuk langsung ke indra penciuman Allard. Kemarahan yang membara dalam dirinya tiba-tiba bergeser—digantikan oleh getaran panas yang menggelegar—dari dalam dada hingga ujung jari.

Pria itu mengerang dalam-dalam, suara itu seperti rengekan yang tertekan.

"Kau baik-baik saja? Jangan marah lagi.” Satta dengan hati-hati keluar dari balik lemari, tangannya mengepal erat menekan luka di sikunya.

Allard berbalik dengan kecepatan yang mengejutkan. Saat gadis itu hendak mendekatinya, dengan cepat pria itu menarik sikunya yang terluka menuju dirinya. Ujung hidungnya menyentuh bagian atas luka, menghirup aroma darah dengan dalam. Mata crimson itu menyala semakin terang.

"Apa ... apa yang terjadi padamu?" Satta terdiam sejenak, pandangannya tertuju pada mata pria itu yang kini seperti bara api. "Kau terlihat berbeda ...."

"Kau tidak boleh berada di sini," ucap Allard dengan suara yang lebih dalam dari biasanya, napasnya menjadi berat. "Aroma darahmu ... membuatku tidak bisa berpikir jernih lagi."

Sebelum Satta menjawab, tangan Allard yang kuat, dengan lembut menarik dan menopang pipinya. "Maafkan aku ...." bisiknya pelan, sebelum bibirnya yang hangat tiba-tiba menyentuh bibir gadis itu.

Satta terkejut awalnya, tubuhnya sedikit kaku. Tapi ketika ciuman itu menjadi lebih dalam dan hangat, rasa takut yang semula membungkusnya perlahan menghilang. Dia bisa merasakan uap hangat dari napas Allard, dan tangan pria itu yang masih menopang wajahnya terasa begitu lembut.

"Aku tidak akan menyakitimu. Tidak mungkin,” sorot mata itu meyakinkan Satta yang entah kenapa membuat dirinya benar-benar merasa aman dan tidak takut.

Setelah berujar demikian, pria itu kembali melumat bibir tipis merah cerry milik Satta dengan begitu lembut. Hingga beberapa saat, Allard melepas pagutannya.

“Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum sesuatu yang lebih gila lagi terjadi padamu.”

Langkah kaki Satta cukup tergesa saat melintasi rerumputan tinggi di belakang istana. Tangannya masih terasa hangat bekas sentuhan wajah Allard, sementara pikirannya terus teringat pada wajah pria itu dengan mata crimson yang bisa berubah mengerikan tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (19)
goodnovel comment avatar
Sri Indah
karakter Viona sangat aneh ya. Apakah dia permaisuri yang akan menguasai kaisar ?
goodnovel comment avatar
Masruroh Masruroh
viona,,,,,kalau dia permaisuri, berarti dia ibunya alaard kan,,tapi kenapa dia sangat membci allard kayaknya,,,,masih penasaran sama konflik yg sebenarnya terjadi di dalam istana ini.
goodnovel comment avatar
mita78081
jadi mkin penasaran yaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 105

    Angin malam berembus perlahan, membawa aroma kelopak bunga mawar dan melati yang tumbuh di taman bawah. Di dalam kamar yang tenang itu, Allard tidak langsung memejamkan mata. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah Satta yang tampak bercahaya di bawah temaram lampu minyak. Waktu seolah melambat. Allard teringat hari-hari ketika ia hanya mengenal logam pedang dan derap kaki kuda. Ia ingat betapa dingin hatinya dulu, hingga wanita di depannya ini datang dan mencairkan segala kebekuan itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Satta bertanya dengan suara lirih, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Allard mengulurkan tangannya, membelai pipi Satta yang masih terasa selembut sutra. "Aku hanya sedang menghitung keberuntunganku, Elena. Jika dulu aku tidak memilih untuk membawamu bersamaku, mungkin hari ini aku hanyalah seorang raja tua yang kesepian di atas takhta berdarah." Satta membuka matanya, m

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 104

    Sepuluh tahun telah berlalu sejak ekspedisi terakhir Allard ke perbatasan utara. Kini, Alderaan tidak lagi membutuhkan pedang yang terhunus untuk menjaga kedaulatannya. "Sang Gagak" yang dulu menjadi ancaman terakhir, akhirnya luruh bukan karena kekuatan zirah, melainkan karena pengikutnya yang satu demi satu meletakkan senjata, memilih untuk pulang ke rumah-rumah kayu yang hangat dan ladang gandum yang kuning keemasan yang disediakan oleh Sang Singa.Kedamaian di Alderaan bukan lagi sebuah jeda di antara dua perang, melainkan sebuah cara hidup yang mengakar.Cahaya matahari pagi yang lembut membasuh bukit di pinggiran ibu kota. Di sana, sebuah vila kayu yang sederhana namun elegan berdiri, jauh dari hiruk-pikuk urusan birokrasi istana yang kini telah diserahkan sebagian besar kepada Abraham.Allard berdiri di depan jendela besar, tangannya yang kini memiliki beberapa garis kerutan tambahan tetap terasa kuat saat ia menggenggam cangkir keramik berisi teh melati. Di hadapannya, hampara

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   Bab 103

    Tujuh tahun telah berlalu sejak malam di mana api melahap menara tinggi Alderaan dan darah Zehewa meresap ke bumi. Alderaan yang sekarang bukan lagi sekadar kerajaan yang pulih, melainkan sebuah simfoni kemakmuran yang dibangun dari abu. Istana baru telah berdiri—tidak lagi angkuh dan terisolasi seperti benteng lama, melainkan lebih terbuka, dengan taman-taman yang menghubungkan kediaman raja langsung dengan alun-alun rakyat, melambangkan filosofi Allard: raja adalah akar, dan rakyat adalah daunnya.Di tengah taman istana, pohon *Ginkgo* yang legendaris itu masih berdiri. Meskipun separuh batangnya memiliki bekas luka bakar permanen, daun-daunnya tumbuh lebih rimbun dan lebih kuning keemasan daripada sebelumnya. Pohon itu menjadi saksi bisu dari dua pangeran yang kini sedang berlatih tanding di bawah naungannya.Abraham, yang kini berusia dua belas tahun, telah tumbuh menjadi pemuda yang ramping namun berotot, dengan ketenangan seorang jenderal. Sementara itu, Ares, si "anak api" yang

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 102

    Asap hitam membumbung tinggi, mencabik langit malam Alderaan yang kini berwarna merah kesumat. Di tengah taman yang biasanya menjadi tempat ketenangan, kini berubah menjadi teater maut. Allard berdiri kokoh, kakinya berpijak pada bumi yang bergetar akibat rentetan ledakan di menara mesiu. Darah pengkhianat mengalir di sepanjang bilah pedang peraknya, menetes pelan ke atas rumput yang menghitam karena abu.Di belakangnya, perjuangan hidup dan mati yang berbeda sedang berlangsung. Satta terbaring di atas hamparan kain darurat di bawah perlindungan akar pohon Ginkgo yang agung. Erangannya memecah suara denting senjata. Para bidan bekerja dengan tangan gemetar, mencoba membawa sebuah nyawa ke dunia di saat kematian sedang menari-nari di sekeliling mereka."Satu dorongan lagi, Yang Mulia! Bertahanlah!" suara bidan itu tenggelam dalam dentuman reruntuhan istana.Allard tidak menoleh. Ia tidak boleh menoleh. Di depannya, dari balik kabut asap, sosok yang seharusnya sudah habis ditelan api mu

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 101

    Ketegangan di Alderaan merambat seperti kabut beracun yang tak terlihat. Bulan ketujuh kehamilan Satta ditandai dengan perubahan atmosfer yang drastis. Langit yang biasanya cerah kini sering tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, seolah alam pun merasakan ada sesuatu yang busuk sedang merayap di bawah kaki mereka.Di dalam kamar utama, Satta terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi lehernya. Ia menoleh ke samping, melihat Allard yang masih terlelap, namun tangan pria itu tetap menggenggam jemari Satta, bahkan dalam tidurnya. Firasat Satta semakin kuat; bukan lagi sekadar rasa mual, melainkan perasaan diawasi yang amat nyata."Allard..." bisiknya lirih.Sang Singa terjaga seketika. Mata birunya yang tajam langsung menyapu setiap sudut ruangan yang remang. Insting perangnya, yang selama lima tahun ini sempat tumpul oleh kedamaian, mendadak bangkit kembali. "Ada apa, Elena? Apa perutmu sakit?""Bukan... tapi rasanya ada sesuatu di sini. Di bawah kita," Satta men

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 100

    Berita tentang kehamilan Sang Ratu mengalir seperti air bah yang menjebol bendungan, tak terbendung meski Allard telah mencoba menutup rapat pintu-pintu rahasia istana. Dari bisik-bisik para pelayan di dapur, hingga obrolan para pedagang di pasar utama Alderaan, kabar itu menjadi simbol harapan baru. Namun, getaran kegembiraan itu merambat jauh ke bawah, menembus lapisan lantai marmer istana, melewati dinding-dinding batu yang lembap, hingga mencapai kegelapan yang paling pekat: penjara bawah tanah terdalam yang dikenal sebagai Lubang Penyesalan.Di sana, di dalam sel yang hanya diterangi oleh remang lampu minyak yang hampir padam, Zehewa duduk bersandar pada dinding yang berlumut. Rambutnya yang dulu tertata rapi kini kusut masai, menutupi wajahnya yang pucat dan tirus. Rantai besi yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya berdenting setiap kali ia bergerak, menciptakan suara parau yang menjadi satu-satunya musik di dunianya.Sudah lima tahun ia membusuk di sini. Lima tahun ia men

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 14

    Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 13

    “Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 12

    Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 19

    Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status