공유

Menjadi Tawanan Rubah Tampan
Menjadi Tawanan Rubah Tampan
작가: Jw Hasya

BAB 1

작가: Jw Hasya
last update 게시일: 2026-03-17 15:33:52

“Satta, sebaiknya kau cepat buang makanan ini ke belakang gudang, sebelum Permaisuri tahu.“

Satta, seorang putri dari salah satu pelayan di istana Alderaan mengerutkan dahi. “Bagaimana Kalau besok pagi saja, Bu. Ini sudah larut malam, aku takut kalau harus ke belakang sendirian. Apalagi gudang yang di sudut itu sudah ditumbuhi rumput. Takut jika ada binatang buas.”

Maria, ibu kandung Satta itu menggeleng. “Tidak ada tawar menawar, sebaiknya kau segera buang sekarang, Satta. Kalau sampai Permaisuri sampai tahu kau yang telah membuat makanannya ini hangus, kau bisa dihukum!”

Dengan napas berat, akhirnya Satta berjalan menuju belakang gudang yang memang sudah begitu lama tidak terjamah.

“Ya Tuhan, semoga tidak ada binatang buas di sana,” ucapnya sambil mengaitkan kedua telapak tangannya di depan wajah sebelum melangkah pergi.

Langkah kaki Satta terasa berat menapaki rerumputan tinggi yang bercokol di antara celah-celah batu lantai belakang istana. Udara malam yang dingin menusuk kulit, membuatnya menggigil sambil menyelipkan tangan ke dalam apron tempat menyembunyikan makanan yang hendak Satta buang.

Ketika sampai di depan gudang tua, Satta sedikit terkejut—rantai besi yang biasanya mengunci erat pintu kayu itu sedikit terbuka—celahnya agak lebar untuk melihat kegelapan pekat di dalam.

Tanpa sadar, rasa ingin tahu muncul, dan dengan keberanian sedikit, dia mulai membuka rantai itu.

Tiba-tiba langkahnya berhenti ketika melihat sebuah pintu besi, dari sana dia mendengar jelas asal dengkuran tersebut. Satta kembali melangkah dengan pelan, memegang pintu besi lalu, sedikit membukanya. “Ruang apa ini?” gerutunya sambil terus berjalan, menuruni undakan tangga dengan keadaan begitu gelap.

Tiba-tiba langkahnya terhenti, saat cahaya lampu temaram dari kejauhan menyinari sedikit ruangan tersebut. Siluet manusia terlihat tepat di hadapan Satta. Sosok seorang pria yang duduk bersandar pada tembok lembab dengan ubin yang sudah bercampur dengan tanah . Kedua kakinya terikat rantai yang mengait pada cincin besi di lantai.

Di depannya, sebuah piring dan gelas kosong berlumuran debu dan embun malam.

"A-air ….” Suara lirih terdengar dari arah sosok itu, lemah tapi jelas terdengar di dalam ruangan sunyi. Satta ingin berteriak, tapi lidahnya seperti terkunci. Penerangan sama sekali tidak ada di dalam ruangan itu, ia hanya bisa melihat bentuk kabur tubuh sosok tersebut, tidak tahu siapa atau seperti apa wajah orang itu.

Namun, rasa iba yang muncul jauh lebih kuat daripada rasa takut. "T-tunggu," ujar Satta dengan suara gemetar. "Aku akan kembali dengan air dan makanan. Jangan ke mana-mana!"

Tanpa menunggu jawaban, Satta berlari ke luar dari gudang. Langkahnya tergesa kembali menuju dapur untuk mengambil beberapa makanan yang masih tersisa, sejurus kemudian, gadis itu langsung ke arah kamarnya untuk mengambil air serta korek api yang disimpan di bawah kasur.

Dalam hati, Satta berharap ibunya tidak menyadari jika dia tidak benar-benar membuang semua makanan. Beberapa saat kemudian, Satta kembali ke gudang, tangan kanannya memegang ember kecil berisi air dan kain yang membungkus makanan.

Cress!!

Sontak, api kecil itu menerangi ruangan dengan cahaya kemerahan yang tipis, dan saat cahayanya menyinari wajah pria itu, mata Satta melebar karena terkejut.

Di hadapannya, sosok itu memiliki mata berwarna crimson yang menyala seperti bara api, dan di samping kepalanya, dua telinga panjang yang mirip telinga rubah bergerak perlahan mengikuti setiap gerakan Satta, yang lebih mengejutkan lagi, di lehernya terpasang sebuah kalung dengan liontin bentuk bintang yang sama persis dengan yang dipakai oleh Kaisar Raja Alderaan.

“K-kau siapa? Apa … kau manusia?” tanyanya dengan polos.

Sosok yang masih dirantai mengerjapkan kedua mata crimsonnya, cahaya api yang terpancar sedikit membuat dirinya terusik. Sebab, sebelumnya sosok itu belum pernah terkena cahaya apa pun.

“A-air …” katanya lirih.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (18)
goodnovel comment avatar
Sri Indah
Cerita seru dan menarik nich. Siapakah dia sebenarnya? Apakah seseorang yang terkena hukuman atau kutukan?
goodnovel comment avatar
mita78081
siapakah diiaa..apakah dia rubah ituu
goodnovel comment avatar
Rahmat Ry
kalo aku langsung kaburrr, takut kalo itu hewan buas yg dirantai.
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 82

    Minggu-minggu berikutnya adalah masa transisi yang aneh. Allard tidak lagi diperbolehkan melakukan pekerjaan berat. Jhonatan melarangnya menyentuh kapak atau memikul air sampai parunya benar-benar pulih. Sebagai gantinya, Satta memberinya tugas yang lebih "ringan" namun jauh lebih menyiksa bagi mental Allard: menjaga Abraham saat Satta bekerja di ladang.Allard duduk di kursi kayu di teras, dengan Abraham di pangkuannya. Mantan penguasa yang dulunya ditakuti karena kekejamannya itu kini tampak bingung menghadapi seorang bayi yang menarik-narik jenggot tipisnya."Dia tidak menggigit, Allard. Dia anakmu," ujar Jhonatan yang lewat sambil membawa hasil buruan.Allard menatap bayi itu dengan penuh pemujaan. "Dia terlalu suci untuk disentuh oleh tangan yang pernah menghunuskan pedang ke arah ibunya sendiri, Jhonatan.""Mungkin itu sebabnya dia ada di sini," sahut Jhonatan filosofis. "Untuk membersihkan tanganmu dengan tawa kecilnya."Sore itu, Satta kembali dari ladang dengan wajah yang lel

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 81

    Keheningan yang mencekam menyelimuti gubuk itu setelah kata-kata terakhir Allard meluncur. Genggaman tangan mungil Abraham pada jari telunjuk Allard perlahan melonggar seiring dengan napas sang mantan raja yang kian dangkal, hingga akhirnya kepalanya terkulai ke samping.Satta membeku. Detik-detik berlalu seperti keabadian. Ia tidak mendengar lagi suara napas yang berat itu. Dunianya seolah runtuh dalam kebisuan."Allard?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Allard, bangun. Kau belum selesai membayar hutangmu. Bangun!"Tidak ada jawaban. Satta menempelkan telinganya ke dada Allard yang dingin. Sunyi. Namun, tepat saat keputusasaan mulai meluap menjadi teriakan, sebuah denyut kecil—sangat lemah dan tidak teratur—terasa di bawah telapak tangannya. Jantung itu masih berdetak, meski hanya setipis benang yang siap putus."Jhonatan! Dia masih hidup! Cepat lakukan sesuatu!" teriak Satta, air matanya tumpah membasahi wajah Allard yang penuh noda darah.Jhonatan segera mendekat. Ia memer

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 80

    Keheningan kembali menyelimuti gubuk itu, namun kali ini keheningan itu terasa lebih tajam, seperti mata pisau yang siap mengiris kulit. Jhonatan akhirnya berdiri, membereskan nampan kayunya tanpa suara. Ia menatap Allard yang masih terpejam dengan napas yang satu-satu."Kau dengar dia, Allard. Jangan berani-berani mati sebelum dia memintamu," ucap Jhonatan rendah, hampir seperti ancaman, sebelum melangkah keluar mengikuti Satta.Begitu pintu tertutup dan Allard benar-benar sendirian, topeng ketangguhan yang tersisa di wajahnya runtuh seketika. Tubuhnya yang besar itu tiba-tiba tersentak hebat. Allard menutup mulutnya dengan telapak tangan, berusaha menahan suara batuk yang meronta dari dadanya yang terasa panas terbakar.Saat batuk itu mereda, Allard menarik tangannya. Cairan merah kental menyelimuti telapaknya, kontras dengan kulitnya yang pucat. Darah itu hangat, namun bagi Allard, itu adalah dinginnya lonceng kematian yang berdentang kian dekat. Ia segera meraup sisa jerami kering

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   Bab 79

    Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah-celah dinding kayu, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas lantai tanah. Di dalam gubuk yang pengap oleh aroma jamuan herbal dan sisa hawa dingin, dua pria yang seharusnya menjadi musuh bebuyutan itu kini duduk berhadapan. Allard, dengan tubuh yang masih gemetar dan wajah sepucat kain kafan, bersandar pada tumpukan jerami. Di depannya, Jhonatan duduk tenang sambil membersihkan sisa mangkuk obat.Keheningan di antara mereka begitu berat, seolah udara di ruangan itu dipenuhi oleh beban masa lalu yang belum tuntas."Kau seharusnya membiarkanku pergi semalam, Jhonatan," suara Allard pecah, kering seperti daun yang terinjak. Ia menatap tangannya yang kini tak lagi mampu menggenggam pedang dengan kokoh. "Dewa maut hampir saja menjemputku, dan itu akan menjadi akhir yang adil bagi pria sepertiku."Jhonatan meletakkan mangkuknya. Matanya yang teduh namun tajam menatap Allard tanpa rasa gentar. "Kematian adalah pelarian yang terlalu mu

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 78

    Penebusan tidak pernah datang dalam bentuk kata-kata manis di bawah sinar rembulan. Bagi Allard, penebusan datang dalam bentuk rasa sakit yang menghujam sumsum tulang, sebuah hukuman fisik yang seolah ingin membersihkan dosa-dosa masa lalunya.Hanya seminggu setelah Allard menetap di gubuk kecil itu, badai besar melanda Lembah Valeria. Hujan turun seolah-olah langit sedang menumpahkan seluruh amarah yang tersisa. Allard, yang bersikeras membuktikan pengabdiannya, menolak berdiam diri. Ia membelah kayu, memperbaiki atap kandang kuda yang bocor, dan mengangkut air dari sungai di bawah guyuran hujan es selama berjam-jam.Malam itu, hening di dalam gubuk pecah oleh suara napas yang berat dan terputus-putus.Satta, yang sedang menyusui Abraham di dekat perapian, menoleh ke arah sudut ruangan tempat Allard tidur beralaskan jerami dan kain tipis. Pria itu tampak menggigil hebat. Wajahnya yang biasanya tegas kini pucat pasi, namun semburat merah yang tidak wajar menghiasi tulang pipinya."All

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 77

    Satta memalingkan wajah dari jendela, menghindari tatapan Jhonatan yang seolah mampu membaca sisa-sisa reruntuhan di hatinya. Di pelukannya, Abraham tertidur kembali, nafas bayi itu teratur dan hangat, sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Satta."Cinta itu bukan lagi sebuah anugerah, Jhonatan," suara Satta nyaris tak terdengar, tertahan di kerongkongan yang perih. "Bagiku, cinta kepada Allard adalah penyakit yang perlahan-lahan menggerogoti kewarasanku. Jika kau melihat binar di mataku, itu bukan cinta. Itu adalah sisa-sisa trauma yang belum sempat kubasuh."Jhonatan terdiam. Ia melihat Satta bukan lagi sebagai wanita rapuh yang ia temukan di tepi sungai dengan tubuh menggigil dan perut yang mulai membuncit. Kini, wanita di depannya adalah seorang ibu yang telah ditempa oleh pengkhianatan. Namun, Jhonatan tahu, musuh terbesar Satta bukanlah pasukan Alderaan, melainkan kenangan yang masih menghantui setiap sudut hatinya.***Tiga hari berlalu dalam kecemasan yang menceka

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 19

    Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 14

    Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 13

    “Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 12

    Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status