เข้าสู่ระบบ
“Satta, sebaiknya kau cepat buang makanan ini ke belakang gudang, sebelum Permaisuri tahu.“
Satta, seorang putri dari salah satu pelayan di istana Alderaan mengerutkan dahi. “Bagaimana Kalau besok pagi saja, Bu. Ini sudah larut malam, aku takut kalau harus ke belakang sendirian. Apalagi gudang yang di sudut itu sudah ditumbuhi rumput. Takut jika ada binatang buas.” Maria, ibu kandung Satta itu menggeleng. “Tidak ada tawar menawar, sebaiknya kau segera buang sekarang, Satta. Kalau sampai Permaisuri sampai tahu kau yang telah membuat makanannya ini hangus, kau bisa dihukum!” Dengan napas berat, akhirnya Satta berjalan menuju belakang gudang yang memang sudah begitu lama tidak terjamah. “Ya Tuhan, semoga tidak ada binatang buas di sana,” ucapnya sambil mengaitkan kedua telapak tangannya di depan wajah sebelum melangkah pergi. Langkah kaki Satta terasa berat menapaki rerumputan tinggi yang bercokol di antara celah-celah batu lantai belakang istana. Udara malam yang dingin menusuk kulit, membuatnya menggigil sambil menyelipkan tangan ke dalam apron tempat menyembunyikan makanan yang hendak Satta buang. Ketika sampai di depan gudang tua, Satta sedikit terkejut—rantai besi yang biasanya mengunci erat pintu kayu itu sedikit terbuka—celahnya agak lebar untuk melihat kegelapan pekat di dalam. Tanpa sadar, rasa ingin tahu muncul, dan dengan keberanian sedikit, dia mulai membuka rantai itu. Tiba-tiba langkahnya berhenti ketika melihat sebuah pintu besi, dari sana dia mendengar jelas asal dengkuran tersebut. Satta kembali melangkah dengan pelan, memegang pintu besi lalu, sedikit membukanya. “Ruang apa ini?” gerutunya sambil terus berjalan, menuruni undakan tangga dengan keadaan begitu gelap. Tiba-tiba langkahnya terhenti, saat cahaya lampu temaram dari kejauhan menyinari sedikit ruangan tersebut. Siluet manusia terlihat tepat di hadapan Satta. Sosok seorang pria yang duduk bersandar pada tembok lembab dengan ubin yang sudah bercampur dengan tanah . Kedua kakinya terikat rantai yang mengait pada cincin besi di lantai. Di depannya, sebuah piring dan gelas kosong berlumuran debu dan embun malam. "A-air ….” Suara lirih terdengar dari arah sosok itu, lemah tapi jelas terdengar di dalam ruangan sunyi. Satta ingin berteriak, tapi lidahnya seperti terkunci. Penerangan sama sekali tidak ada di dalam ruangan itu, ia hanya bisa melihat bentuk kabur tubuh sosok tersebut, tidak tahu siapa atau seperti apa wajah orang itu. Namun, rasa iba yang muncul jauh lebih kuat daripada rasa takut. "T-tunggu," ujar Satta dengan suara gemetar. "Aku akan kembali dengan air dan makanan. Jangan ke mana-mana!" Tanpa menunggu jawaban, Satta berlari ke luar dari gudang. Langkahnya tergesa kembali menuju dapur untuk mengambil beberapa makanan yang masih tersisa, sejurus kemudian, gadis itu langsung ke arah kamarnya untuk mengambil air serta korek api yang disimpan di bawah kasur. Dalam hati, Satta berharap ibunya tidak menyadari jika dia tidak benar-benar membuang semua makanan. Beberapa saat kemudian, Satta kembali ke gudang, tangan kanannya memegang ember kecil berisi air dan kain yang membungkus makanan. Cress!! Sontak, api kecil itu menerangi ruangan dengan cahaya kemerahan yang tipis, dan saat cahayanya menyinari wajah pria itu, mata Satta melebar karena terkejut. Di hadapannya, sosok itu memiliki mata berwarna crimson yang menyala seperti bara api, dan di samping kepalanya, dua telinga panjang yang mirip telinga rubah bergerak perlahan mengikuti setiap gerakan Satta, yang lebih mengejutkan lagi, di lehernya terpasang sebuah kalung dengan liontin bentuk bintang yang sama persis dengan yang dipakai oleh Kaisar Raja Alderaan. “K-kau siapa? Apa … kau manusia?” tanyanya dengan polos. Sosok yang masih dirantai mengerjapkan kedua mata crimsonnya, cahaya api yang terpancar sedikit membuat dirinya terusik. Sebab, sebelumnya sosok itu belum pernah terkena cahaya apa pun. “A-air …” katanya lirih.Angin malam berembus perlahan, membawa aroma kelopak bunga mawar dan melati yang tumbuh di taman bawah. Di dalam kamar yang tenang itu, Allard tidak langsung memejamkan mata. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah Satta yang tampak bercahaya di bawah temaram lampu minyak. Waktu seolah melambat. Allard teringat hari-hari ketika ia hanya mengenal logam pedang dan derap kaki kuda. Ia ingat betapa dingin hatinya dulu, hingga wanita di depannya ini datang dan mencairkan segala kebekuan itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Satta bertanya dengan suara lirih, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Allard mengulurkan tangannya, membelai pipi Satta yang masih terasa selembut sutra. "Aku hanya sedang menghitung keberuntunganku, Elena. Jika dulu aku tidak memilih untuk membawamu bersamaku, mungkin hari ini aku hanyalah seorang raja tua yang kesepian di atas takhta berdarah." Satta membuka matanya, m
Sepuluh tahun telah berlalu sejak ekspedisi terakhir Allard ke perbatasan utara. Kini, Alderaan tidak lagi membutuhkan pedang yang terhunus untuk menjaga kedaulatannya. "Sang Gagak" yang dulu menjadi ancaman terakhir, akhirnya luruh bukan karena kekuatan zirah, melainkan karena pengikutnya yang satu demi satu meletakkan senjata, memilih untuk pulang ke rumah-rumah kayu yang hangat dan ladang gandum yang kuning keemasan yang disediakan oleh Sang Singa.Kedamaian di Alderaan bukan lagi sebuah jeda di antara dua perang, melainkan sebuah cara hidup yang mengakar.Cahaya matahari pagi yang lembut membasuh bukit di pinggiran ibu kota. Di sana, sebuah vila kayu yang sederhana namun elegan berdiri, jauh dari hiruk-pikuk urusan birokrasi istana yang kini telah diserahkan sebagian besar kepada Abraham.Allard berdiri di depan jendela besar, tangannya yang kini memiliki beberapa garis kerutan tambahan tetap terasa kuat saat ia menggenggam cangkir keramik berisi teh melati. Di hadapannya, hampara
Tujuh tahun telah berlalu sejak malam di mana api melahap menara tinggi Alderaan dan darah Zehewa meresap ke bumi. Alderaan yang sekarang bukan lagi sekadar kerajaan yang pulih, melainkan sebuah simfoni kemakmuran yang dibangun dari abu. Istana baru telah berdiri—tidak lagi angkuh dan terisolasi seperti benteng lama, melainkan lebih terbuka, dengan taman-taman yang menghubungkan kediaman raja langsung dengan alun-alun rakyat, melambangkan filosofi Allard: raja adalah akar, dan rakyat adalah daunnya.Di tengah taman istana, pohon *Ginkgo* yang legendaris itu masih berdiri. Meskipun separuh batangnya memiliki bekas luka bakar permanen, daun-daunnya tumbuh lebih rimbun dan lebih kuning keemasan daripada sebelumnya. Pohon itu menjadi saksi bisu dari dua pangeran yang kini sedang berlatih tanding di bawah naungannya.Abraham, yang kini berusia dua belas tahun, telah tumbuh menjadi pemuda yang ramping namun berotot, dengan ketenangan seorang jenderal. Sementara itu, Ares, si "anak api" yang
Asap hitam membumbung tinggi, mencabik langit malam Alderaan yang kini berwarna merah kesumat. Di tengah taman yang biasanya menjadi tempat ketenangan, kini berubah menjadi teater maut. Allard berdiri kokoh, kakinya berpijak pada bumi yang bergetar akibat rentetan ledakan di menara mesiu. Darah pengkhianat mengalir di sepanjang bilah pedang peraknya, menetes pelan ke atas rumput yang menghitam karena abu.Di belakangnya, perjuangan hidup dan mati yang berbeda sedang berlangsung. Satta terbaring di atas hamparan kain darurat di bawah perlindungan akar pohon Ginkgo yang agung. Erangannya memecah suara denting senjata. Para bidan bekerja dengan tangan gemetar, mencoba membawa sebuah nyawa ke dunia di saat kematian sedang menari-nari di sekeliling mereka."Satu dorongan lagi, Yang Mulia! Bertahanlah!" suara bidan itu tenggelam dalam dentuman reruntuhan istana.Allard tidak menoleh. Ia tidak boleh menoleh. Di depannya, dari balik kabut asap, sosok yang seharusnya sudah habis ditelan api mu
Ketegangan di Alderaan merambat seperti kabut beracun yang tak terlihat. Bulan ketujuh kehamilan Satta ditandai dengan perubahan atmosfer yang drastis. Langit yang biasanya cerah kini sering tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, seolah alam pun merasakan ada sesuatu yang busuk sedang merayap di bawah kaki mereka.Di dalam kamar utama, Satta terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi lehernya. Ia menoleh ke samping, melihat Allard yang masih terlelap, namun tangan pria itu tetap menggenggam jemari Satta, bahkan dalam tidurnya. Firasat Satta semakin kuat; bukan lagi sekadar rasa mual, melainkan perasaan diawasi yang amat nyata."Allard..." bisiknya lirih.Sang Singa terjaga seketika. Mata birunya yang tajam langsung menyapu setiap sudut ruangan yang remang. Insting perangnya, yang selama lima tahun ini sempat tumpul oleh kedamaian, mendadak bangkit kembali. "Ada apa, Elena? Apa perutmu sakit?""Bukan... tapi rasanya ada sesuatu di sini. Di bawah kita," Satta men
Berita tentang kehamilan Sang Ratu mengalir seperti air bah yang menjebol bendungan, tak terbendung meski Allard telah mencoba menutup rapat pintu-pintu rahasia istana. Dari bisik-bisik para pelayan di dapur, hingga obrolan para pedagang di pasar utama Alderaan, kabar itu menjadi simbol harapan baru. Namun, getaran kegembiraan itu merambat jauh ke bawah, menembus lapisan lantai marmer istana, melewati dinding-dinding batu yang lembap, hingga mencapai kegelapan yang paling pekat: penjara bawah tanah terdalam yang dikenal sebagai Lubang Penyesalan.Di sana, di dalam sel yang hanya diterangi oleh remang lampu minyak yang hampir padam, Zehewa duduk bersandar pada dinding yang berlumut. Rambutnya yang dulu tertata rapi kini kusut masai, menutupi wajahnya yang pucat dan tirus. Rantai besi yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya berdenting setiap kali ia bergerak, menciptakan suara parau yang menjadi satu-satunya musik di dunianya.Sudah lima tahun ia membusuk di sini. Lima tahun ia men
Kesunyian Valeria yang biasanya hanya dipecah oleh kicau burung dan gemericik sungai tiba-tiba terusik oleh suara derap kaki kuda yang teratur namun berat. Jhonatan, yang sedang mengasah pisaunya di luar gubuk, adalah yang pertama kali menyadari kehadiran mereka. Sepasukan kecil pengawal dengan jub
Satta terpaku di ambang pintu, suaranya tercekat di tenggorokan. Kata-kata Jhonatan barusan bukan sekadar peringatan; itu adalah vonis yang dijatuhkan tepat ke ulu hatinya. Dua bulan. Angka itu terasa begitu kerdil dibandingkan dengan kebencian yang ia pelihara, namun terasa begitu raksasa ketika i
Minggu-minggu berikutnya adalah masa transisi yang aneh. Allard tidak lagi diperbolehkan melakukan pekerjaan berat. Jhonatan melarangnya menyentuh kapak atau memikul air sampai parunya benar-benar pulih. Sebagai gantinya, Satta memberinya tugas yang lebih "ringan" namun jauh lebih menyiksa bagi men
Keheningan kembali menyelimuti gubuk itu, namun kali ini keheningan itu terasa lebih tajam, seperti mata pisau yang siap mengiris kulit. Jhonatan akhirnya berdiri, membereskan nampan kayunya tanpa suara. Ia menatap Allard yang masih terpejam dengan napas yang satu-satu."Kau dengar dia, Allard. Jan







