Se connecterSore ini, Satta bertugas memasak untuk Kaisar serta Permaisuri. Di saat kedua tangannya begitu piawai memainkan gagang pisau, tiba-tiba pikirannya melambung pada sosok Allard.
Sejurus kemudian, gadis itu melihat ke segala penjuru ruangan. Tidak ada orang selain dirinya. Gadis itu kemudian dengan sedikit tergesa memasukkan satu potong roti gandung ke dalam saku rok berbentuk payung yang dikenakannya. “Rasanya dia tidak akan kenyang jika hanya makan roti ini saja,” gerutu Satta. “Baiklah, nanti akan aku sisihkan masakanku untuk pria itu,” imbuh Satta sambil merajang beberapa bawang. “Satta, setelah selesai masak, kau bersihkan halaman belakang.” Dora, salah satu pelayan yang lebih senior darinya memerintah. Satta mengangguk pelan, membersihkan halaman belakang? Itu sama halnya gadis tersebut akan memiliki cukup waktu untuk kembali menemui Allard. Usai memasak, Satta segera meraih sapu serta pengki yang berada di bawah pohon rindang. Sebelumnya, gadis itu juga membawa ember yang ternyata isinya adalah makanan untuk Allard. “Apa mereka sudah mengirim makanan untukmu?” tanya Satta saat sampai di dalam ruang bawah tanah. Saat ini, gadis itu memilih membawa sebuah alat penerangan yang bisa memberi cahaya lebih terang dari sebelumnya—yang hanya mengandalkan pencahayaan dari sinar sebatang korek api. Allard menatapnya tajam, mata crimson itu melihat setiap gerak-gerik Satta yang dengan cekatan menghidangkan makanan di hadapannya. “Maaf untuk kejadian kemarin.” Satta menoleh, mengernyitkan dahinya. “Apa? Kau bilang apa barusan?” Allard mendesah berat. “Aku tidak akan mengulangi kata-kataku lagi.” Satta tersenyum hangat. “Kejadian kemarin, sebaiknya kita lupakan. Sekarang … kau makanlah, aku sengaja memasak khusus untukmu. Kau pasti belum makan ‘kan?” Allard tersenyum sumbang. “Mereka bahkan hanya memberi jatah makan selama tiga hari sekali. Jika kemarin mereka datang memberiku makan, maka hari ini aku tidak akan mendapat jatah makan,” ujar Allard dengan nada datar. Satta mendekat, berjongkok di hadapan Allard yang duduk berselonjoran. “Kalau begitu makanlah. Setelah ini gantilah pakaianmu dengan ini. Tadi pagi aku sengaja ke pasar mencari baju yang sama persis dengan yang kau kenakan. Supaya mereka tidak curiga.” Gadis itu mengeluarkan sebuah kantong kresek dari balik pakaiannya dengan menerbitkan senyum hangat. “Sebaiknya kau cepat pergi dari sini, aku tidak butuh bantuan apa pun darimu!” pekik Allard tanpa menoleh ke arah Satta. Gadis itu kembali tersenyum. “Mana mungkin aku pergi, jika kau belum makan.” Allard menarik pergelangan tangan Satta, lalu menatap dalam kedua netra abu-abu tersebut. “Kau jangan menggodaku, Nona! Kau belum tahu siapa aku sebenarnya!” “Aku bahkan tidak merasa sedang menggodamu, aku hanya ingin memberimu makan karena kita adalah—“ Sebelum sempat menuntaskan kata-katanya, tiba-tiba Allard mencium bibir merah cerry milik Satta, hingga membuat gadis itu kaget bukan kepayang. Hampir tiga menit, Allard baru melepas pagutannya, itu pun karena Satta meronta karena sedikit kehabisan napas. “Bukankah sudah kukatakan padamu, jangan menggodaku! Jangan lagi kesini!” Satta tiba-tiba mendorong tubuh Allard. “Kau ….” “Pergi, tinggalkan aku sendiri!” pekik Allard, kedua bola mata crimsonnya mendadak menyala, membuat Satta sedikit kesulitan bernapas. . Satta beranjak, lalu melangkah mundur beberapa jengkal, lalu gadis itu berujar. “Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, Tuan. Kumohon jangan jahat padaku. Aku hanya berniat membantumu, itu saja!” Allard kembali menatap wajahnya. “Aku adalah manusia rubah, seperti yang kau lihat saat ini. Aku bisa memangsamu kapan pun aku mau!” Satta mengangguk. “Ya, aku tahu itu. Tapi ….” Satta menggantung kalimatnya. “Sudahlah, sebaiknya kau makan dulu, aku akan meninggalkanmu setelah melihat kau memakan makanan itu. Aku sengaja memasaknya untukmu, Tuan Allard ….” Allard merasa hatinya berdenyar hangat. Debaran dalam dadanya tiba-tiba kembali menggebu saat gadis itu memanggil namanya. Karena tak ingin Satta berlama-lama di dalam ruangan bersama dengan dirinya, pria itu segera memakan makanan yang dibuat khusus oleh Satta untuk dirinya. Sejurus kemudian, kedua alisnya tampak menaut, kala memakan makanan itu. Lezat. Satu kata yang seharusnya ia lontarkan dari bibirnya. Namun, Allard memilih bungkam, pria itu memilih untuk segera menghabiskan makananya. “Kau suka?” tanya Satta lirih. Allard tidak merespon. Namun, jika ditilik dari cara makannya, seharusnya gadis itu dapat menebak jika pria yang sempat mencium dirinya itu menikmati masakannya. “Aku sudah menghabiskan makananmu, sekarang sebaiknya kau pergi dari sini,” ujar Allard datar. “Baiklah, aku akan segera pergi, tapi … kau harus ganti bajumu, Tuan.” “Aku akan mencuci bajumu, sebelum Permaisuri kembali menemuimu, bajumu pasti sudah kering dan kau bisa kembali memakainya.” “Kau bisa membantuku?” Satta mengangguk. “Tentu saja, aku akan membantu melepas pakaianmu.” Sialnya, saat Satta menarik ujung pakaian Allard ke atas kepala, tanpa sengaja dua gundukan kenyal yang terbungkus dengan baju serba hitam berenda putih menggesek tepat di wajah pria tersebut. Membuat naluri hewan liarnya mencium aroma pheromone dari tubuh Satta. Gairah itu … kembali menerjang dadanya. Satta berhasil melepas pakaian Allard. Bagian bawah, hanya terbungkus satu kain panjang yang lebih menyerupai selimut kumal tanpa celana. “Ada apa, Tuan?” “Pergi.”Udara di ruang bawah tanah kembali terasa sejuk dan lembab setelah sedikit angin fajar masuk menyelinap melalui celah-celah kecil. Semalam, Satta memutuskan untuk tidur dalam gudang bersama Allard. Entah kenapa, wanita itu sebegitu pedukinya dengan pria yang baru saja dikenal tersebut. Hampir semalaman, Satta tidak memejamkan mata. Bahkan, kedua skleranya masih tampak begitu merah karena menangis.“Aku akan kembali ke istana sebentar lagi, Allard,” katanya sambil menyingsingkan senyum. “Jangan khawatir, aku akan berusaha mencari cara agar kau bisa keluar dari sini,” sambungnya dengan nada menjanjikan, sambil menutup erat pintu gudang tua yang berdebu.Hanya beberapa menit setelah kepergian Satta, suara langkah kaki yang berat terdengar menggema di lorong sempit. Pintu besi yang kusam terbuka dengan keras, menyinari ruangan dengan cahaya pagi yang tipis. Di sana berdiri Kaisar Alderaan—wajahnya bersungut-sungut, sama seperti Allard hany
Sejak kejadian tiga malam lalu, hingga saat ini Satta memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi Allard. Di samping dia takut, di sini lain gadis itu malu karena tubuhnya tidak sedikit pun menolak segala permainan yang Allard suguhkan. “Besok pagi akan diadakan upacara mahkota untuk Tuan Putri Zehewa. Jadi … hari ini tidak ada kata istirahat untuk kita semua.” Dora berujar di dalam ruang dapur khusus. Mendengar kata-kata tersebut, Satta teringat dengan sosok yang terkurung di dalam ruang bawah tanah—Allard. Masih ingat betul dengan kata-kata Permaisuri saat perempuan paruh baya itu mengunjungi Allard. “Dora, boleh aku izin ke luar sebentar? Ada yang harus kubeli.”Dora mengernyit. “Beberapa hari ini kau sedikit kurang fokus bekerja, Satta. Apa ada yang tengah kau sembunyikan dariku?” katanya sambil menatap Satta penuh curiga. Satta menggeleng. “Tidak, Dora. Aku sedang ingin membeli sesuatu untuk Tuan Putri Zehewa. Karena selama ini dia selalu baik padaku.”“Ah, kau benar sekali. Aku
Pria itu mulai meraba paha mulus Satta yang dibalut dengan sebuah stocking berwarna senada dengan kulitnya, lalu melurutkannya ke bawah. Sentuhan sintal yang dilakukan Allard membuat bulu badan gadis itu meremang. “Ehm ….” desah Satta. Sejurus kemudian, pria itu menyingkap rok bagian bawah ke atas, sehingga menampilkan paha mulus dengan sebuah segitiga yang masih terbungkus kain berwarna merah menyala. Membuat hasrat liar sang beastmen tersebut semakin menggebu. “Kau mau apa?” Suara Satta lirih, bergetar dan … seperti sedang menahan sesuatu. Allard merasakan getaran yang datang dari tubuh Satta di bawahnya, dan meskipun hasratnya begitu besar, sesuatu di dalam diri Allard menghentikannya sebelum melangkah lebih jauh. Jari-jarinya yang semula mulai menjelajahi area yang begitu sensitif tiba-tiba berhenti, lalu perlahan-lahan merayap ke atas hingga berada di bagian perut. Lalu menyentuh dada gadis itu dengan sentuhan yang jauh lebih lembut."Aku tidak akan menyakitimu ... tidak aka
Sudah memasuki hari kesepuluh sejak Satta mengenal sosok Allard. Hampir tiap hari dia datang berkunjung, dan seperti malam ini, gadis itu kembali membawakan makanan berupa kentang rebus dan satu botol minuman penghangat tubuh. “Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Satta saat duduk berhadapan dengan Allard. Pria itu memicingkan sebelah bibirnya. “Seperti yang kau lihat. Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa.”Detik kemudian, gadis itu menyalakan lilin kecil yang sebgaja dia bawa dari istana. “Hei, kau terluka!” seru Satta saat melihat beberapa memar yang bercokol di area wajah Allard. Dengan penuh perhatian, Satta menangkup wajah tampan tersebut penuh hati-hari. Bersamaan dengan ity, kelopak matanya mulai memanas. “Kenapa mereka melakukan ini padamu, Tuan?”“Bukankah sudah pernah kukatakan, jangan panggil aku tuan. Kau tahu namaku. Panggil saja namaku.” Allard menatap dalam. Ada gelenyar hangat menelusup masuk dalam ulu hatinya. Tiba-tiba menarik kedua tangannya saat pandangan Alla
Dan jangan panggil aku tuan!” Kata-katanya terdengar berat. Sejurus kemudian, Allard menggenggam jemari Satta, merenggangkan kedua tangannya di atas lantai, lalu tanpa aba-aba pria itu mencium bibir Satta. Sontak Satta terkejut dibuatnya, kedua bola mata gadis itu terbuka perlahan, ia menemukan sorot mata merah crimson milik Allard yang memandangi wajahnya, sedangkan bibirnya masih melumat habis bibir kenyal miliknya. Entah kenapa, sentuhan pria itu membuatnya dimabuk kepayang, hingga tanpa sadar Satta mulai memegang bagian lengan Allard yang begitu kekar ditumbuhi bulu-bulu halus bercorak kuning keemasan. Allard menghentikan ciaumannya, sebelum akhirnya pria itu bersuara. “Sebaiknya kau keluar dari sini secepat mungkin, sebelum sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi!”Satta mengangguk patuh. Sejurus kemudian gadis itu berjalan menuju pintu besi. Dan sialnya, pintu tersebut terkunci dari luar ruangan. “Cepat pergi!” sergah Allard “Apa kau pikir aku ingin terkurung di sini? Aku
Sore ini, Satta bertugas memasak untuk Kaisar serta Permaisuri. Di saat kedua tangannya begitu piawai memainkan gagang pisau, tiba-tiba pikirannya melambung pada sosok Allard. Sejurus kemudian, gadis itu melihat ke segala penjuru ruangan. Tidak ada orang selain dirinya. Gadis itu kemudian dengan sedikit tergesa memasukkan satu potong roti gandung ke dalam saku rok berbentuk payung yang dikenakannya. “Rasanya dia tidak akan kenyang jika hanya makan roti ini saja,” gerutu Satta. “Baiklah, nanti akan aku sisihkan masakanku untuk pria itu,” imbuh Satta sambil merajang beberapa bawang. “Satta, setelah selesai masak, kau bersihkan halaman belakang.” Dora, salah satu pelayan yang lebih senior darinya memerintah.Satta mengangguk pelan, membersihkan halaman belakang? Itu sama halnya gadis tersebut akan memiliki cukup waktu untuk kembali menemui Allard. Usai memasak, Satta segera meraih sapu serta pengki yang berada di bawah pohon rindang. Sebelumnya, gadis itu juga membawa ember yang te