Home / Fantasi / Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha / Bab 7 Obsesi Sang Komandan

Share

Bab 7 Obsesi Sang Komandan

Author: Yukari
last update publish date: 2026-04-01 01:07:57

Lyra tersentak dari tempat tidur, matanya melebar saat melihat sosok yang berdiri di ambang balkon.

 Sinar bulan purnama yang masuk dari jendela besar itu menyinari rambut perak pria itu—Rovan. Sang Komandan perang itu berdiri dengan keanggunan seorang predator, tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya meskipun ia baru saja melanggar perintah mutlak rajanya sendiri.

Aroma Rovan masuk ke indra penciuman Lyra; itu adalah wangi logam dingin dan hutan pinus yang tajam. Namun, aroma itu segera bertabrakan dengan wangi Lyra yang memenuhi kamar, menciptakan ketegangan yang menyesakkan.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kael akan membunuhmu," suara Lyra terdengar stabil meski jantungnya berdegup kencang. Ia merangkak turun dari tempat tidur, tangannya secara naluriah mencari pisau kecil yang selalu ia sembunyikan di balik korset gaunnya. Ia bukan wanita lemah yang akan menyerah begitu saja.

Rovan tersenyum, langkahnya pelan dan terukur mendekati Lyra. "Kael sedang sibuk dengan para tetua yang haus darah di bawah. Dia terlalu percaya diri dengan kunci pintunya, tapi dia lupa bahwa aku mengenal setiap sudut kastel ini lebih baik daripada siapa pun."

Rovan berhenti di jarak yang sangat dekat. Ia menghirup udara dengan rakus, matanya berubah menjadi abu-abu gelap yang berkabut. "Aromamu... di aula tadi itu sangat menyiksa, tapi di sini, di ruangan yang tertutup ini... itu benar-benar bisa membuat seorang pria rela mengkhianati rajanya."

"Mundur, Rovan," perintah Lyra, tangannya sudah menggenggam hulu pisau.

"Kau memiliki api di matamu, Luna. Kael benar, kau bukan manusia biasa," Rovan tidak mundur, justru ia semakin mendekat hingga dadanya hampir menyentuh ujung hidung Lyra. "Kael menandaimu seolah kau adalah trofi miliknya. Tapi dia tidak tahu bagaimana cara memuja aroma ini seperti yang kulakukan."

Tangan Rovan terangkat, hendak menyentuh pipi Lyra. Namun, dengan gerakan kilat, Lyra menghunuskan pisau kecilnya dan mengarahkannya tepat ke tenggorokan Rovan. Ujung mata pisau itu menekan kulit pria itu hingga setitik darah merah muncul.

Rovan tidak tampak takut. Sebaliknya, ia tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh dengan obsesi yang gila. "Cengkeraman yang kuat. Kau memang menggairahkan. Semakin kau melawan, semakin harum aroma tubuhmu menyebar."

"Aku bukan objek yang bisa kau hirup sesukamu," desis Lyra. "Pergi sekarang, atau aku akan memastikan darahmu yang memenuhi lantai ini sebelum Kael datang."

"Kau pikir pisau kecil itu bisa menghentikan seekor serigala yang sedang kelaparan?" Rovan mencengkeram pergelangan tangan Lyra dengan kekuatan yang luar biasa namun tidak sampai menyakiti, hanya menunjukkan dominasinya. Ia menarik tangan Lyra menjauh dari tenggorokannya dan memutar tubuh wanita itu hingga punggung Lyra menempel pada dadanya yang keras.

Rovan membenamkan wajahnya di rambut Lyra, menghirup aroma tengkuknya dengan dalam. "Kael menandaimu dengan darah, tapi aku... aku akan menandaimu dengan ingatan yang tidak akan pernah bisa kau hapus."

Lyra meronta, namun kekuatan Rovan sebagai Beta tertinggi terlalu besar. Gairah liar dan obsesi pria ini terasa menekan punggungnya. Namun, di tengah keputusasaan itu, Lyra merasakan sesuatu yang bergejolak di lehernya. Tanda mate dari Kael tiba-tiba berdenyut panas, seolah-olah Kael bisa merasakan ancaman itu melalui ikatan darah mereka.

Tiba-tiba, suara dentuman keras menghancurkan pintu kamar.

Kael berdiri di sana. Auranya tidak lagi sekadar dominan; itu adalah kemarahan murni dari dewa perang. Seluruh ruangan bergetar. Lampu-lampu kristal di langit-langit berdenting keras sebelum pecah satu per satu. Mata Kael telah berubah sepenuhnya menjadi emas yang membara, dan bulu-bulu serigala mulai tumbuh di rahangnya.

"Lepaskan. Tangannya. Dari. Milikku," kata Kael, setiap kata adalah vonis mati yang menggetarkan fondasi kastel.

Rovan perlahan melepaskan Lyra, ia berbalik menghadap rajanya dengan senyum yang menantang, seolah ia baru saja memenangkan sesuatu yang berharga meski maut ada di depan matanya. Kael melesat seperti kilat, mencengkeram leher Rovan dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga kaki komandan itu tidak lagi menyentuh lantai.

"Kau berani menyentuhnya?" geram Kael, kuku-kukunya memanjang, menembus kulit leher Rovan.

Lyra berlari ke arah Kael, memegang lengan pria itu yang mengeras. "Kael, berhenti! Kau akan membunuhnya!"

Kael menoleh pada Lyra, tatapan emasnya masih liar, penuh dengan kecemburuan dan dominasi yang absolut. "Dia mencium aromamu, Lyra. Dia menyentuh kulit yang seharusnya hanya milikku. Dia telah menodai tempat yang kusegel."

Kael melemparkan Rovan ke arah dinding balkon hingga marmernya retak. Rovan terbatuk darah, namun ia masih sempat menatap Lyra dengan pandangan yang penuh dengan obsesi terlarang sebelum pingsan. Kael tidak melanjutkan serangannya; ia justru berbalik pada Lyra, menarik wanita itu ke dalam pelukannya dengan sangat kasar dan posesif.

Kael mencium Lyra di depan jendela yang terbuka, sebuah ciuman yang penuh dengan kemarahan dan gairah yang meledak. Ia seolah ingin menghapus setiap sisa keberadaan Rovan dari tubuh Lyra.

"Mulai malam ini, kau tidak akan pernah sedetik pun lepas dari pandanganku, karena musuh sesungguhnya bukan lagi para pemburu, melainkan rasa haus kaumku sendiri terhadap darahmu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 106 Rahasia Mirana dan Bara Pengkhianatan

    Gema suara kuno yang menyusup ke dalam benak Kael Draven membuat cengkeramannya pada pinggang Lyra semakin mengetat, seolah takut wanita itu akan menguap menjadi asap jika ia melonggarkannya sedikit saja. Mata ungu maut sang Alpha King berkilat tajam menatap Lyra yang kini tampak terkejut, karena rupanya suara itu tidak hanya terdengar di batin Kael, melainkan juga bergaung di dalam kepala Lyra sendiri. Nama Mirana, sang ibu yang selama ini dianggap sebagai penjaga kesucian klan pemburu, disebut dengan nada yang sarat akan kutukan purba.Aroma mawar hitam yang menguar dari tubuh Lyra mendadak melambat, menjadi dingin dan digantikan oleh wangi mistis yang sangat tua, wangi yang persis sama dengan esensi maut yang sedang merayap turun dari langit-langit kuil. Gairah slow-burn yang biasanya menyatukan mereka kini diselimuti oleh rasa tegang yang mencekam; ada sebuah kebenaran mengerikan yang selama ini disembunyikan di balik darah murni yang mengalir di tubuh Lyra."Ibuku... apa hubungan

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 105 Aliansi Kegelapan yang Terjaga

    Reruntuhan langit-langit kuil terlarang meluncur jatuh seperti hujan meteor batu, menghantam lantai marmer kuno hingga memercikkan debu dan serpihan es yang pekat. Di atas altar yang mulai retak, Kael Draven melompat mundur dengan bahu kiri yang masih mengepulkan asap hitam akibat tusukan api biru dingin Lucius. Namun, rasa sakit dari senjata terkutuk itu lenyap seketika dari kesadarannya, digantikan oleh naluri predator yang mendidih saat sepasang mata merah raksasa di celah langit-langit menatap lurus ke arah rahim Lyra dan bayi laki-laki yang berada di dekapan wanita itu.Aroma mawar hitam yang mengalir dari tubuh Lyra mendadak bergolak menjadi aroma defensif yang sangat tajam, memicu detak jantung setiap makhluk di dalam ruangan. Kael melesat kembali ke atas altar dalam satu kedipan mata, melingkarkan lengan kanannya yang kekar ke pinggang Lyra, menarik tubuh wanita itu dengan keposesifan yang sangat mendalam dan menghimpit. Dominasi maskulin sang Alpha King memancar begitu pekat,

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 104 Kebangkitan Sang Mantan Tunangan

    Aroma perak kuno yang menyeruak masuk ke dalam kuil terlarang terasa begitu pekat hingga membuat kabut ungu milik Selena lenyap seketika, tergantikan oleh hawa sedingin es yang menusuk tulang. Dari balik reruntuhan gerbang kuil, sesosok pria dengan zirah perak yang telah hancur di bagian dada melangkah masuk dengan keangkuhan yang menakutkan. Dialah Lucius. Mantan tunangan Lyra itu ternyata belum mati; ia bangkit kembali dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna perak jernih tanpa pupil, tanda bahwa ia telah sepenuhnya menyerahkan jiwanya kepada mahluk asap hitam dari klan Pencabut Nyawa demi mendapatkan kekuatan murni.Di tangannya, Lucius memegang sebuah pedang panjang yang memancarkan api biru dingin, sebuah senjata terlarang klan pemburu pusat yang dirancang untuk memutus ikatan kontrak darah secara permanen. Kehadiran Lucius membawa tekanan psikologis yang luar biasa besar bagi semua orang di dalam kuil, termasuk para tetua dewan yang langsung mundur ketakutan ke sudut ruangan."

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 103 Gairah di Balik Kabut Beracun

    Kabut ungu beracun yang dilepaskan Selena memenuhi seluruh ruangan kuil terlarang, menciptakan ilusi visual yang memusingkan dan merusak indra penciuman kaum serigala. Kael Draven terbatuk rendah, merasakan esensi mautnya bergolak menolak racun perak yang mencoba membakar paru-parunya. Namun, pikiran Kael tidak tertuju pada rasa sakit fisiknya; insting posesifnya langsung berteriak liar saat menyadari jaraknya dengan Lyra telah terpisah oleh kabut sialan ini."Lyra!" raung Kael, suaranya membelah kabut dengan kekuatan dominasi yang sanggup menggetarkan pilar kuil.Ia tidak mempedulikan Rovan yang berada di dekatnya, melainkan langsung berbalik dan melesat menuju altar batu dengan kecepatan murni seorang predator yang merasa hartanya terancam. Posesifitas Kael telah mencapai titik di mana ia lebih baik menghancurkan kuil ini dan mengubur mereka semua hidup-hidup daripada kehilangan aroma mawar hitam Lyra walau hanya sekejap saja.Di atas altar, Lyra berusaha mempertahankan kesadarannya

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 102 Jerat Lavender dan Ultimatum Dewan

    Suara Selena yang melengking memecah keheningan pasca-pertempuran, bergaung di antara pilar batu kuil terlarang yang masih bersimbah darah segar. Bau tajam dari lavender dingin miliknya menyeruak masuk, mencoba mengikis aroma mawar hitam pekat yang menyelimuti tubuh Lyra dan bayi yang baru saja lahir. Kael Draven tidak bergerak dari posisinya di atas altar batu, namun dekapannya pada Lyra mengencang hingga jubah hitamnya membungkus wanita itu dan sang anak seperti sebuah benteng yang tak tertembus.Mata emas Kael yang kini dilapisi pendaran ungu maut berkilat berbahaya saat ia menoleh ke arah kegelapan pintu masuk kuil. Rasa jengkel dan amarah meledak di dalam dadanya karena keintiman sensual yang baru saja ia rasakan bersama pasangannya harus diganggu oleh intrik murahan. Posesifitas sang Alpha King meradang; ia tidak sudi membiarkan satu pun pasang mata, termasuk wanita ular seperti Selena, melihat kerapuhan sekaligus keagungan Lyra pasca-melahirkan benih terlarang mereka."Kau mela

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 101 Takhta Darah dan Air Mata

    Rasa sakit dari anak panah perak Elara yang menancap di bahu Kael Draven terasa seperti api yang mencoba melahap jiwanya, namun sang Alpha King bahkan tidak mengerang. Ia berdiri tegak dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna ungu gelap, aura Pencabut Nyawa menyelimuti dirinya seperti baju zirah yang tak tertembus. Di belakangnya, Lyra mendekap erat sang bayi yang baru lahir, aroma mawar hitamnya kini berubah menjadi aroma perlindungan yang sangat pekat, melindungi sang pewaris dari hawa dingin kuil.Kael menatap Elara dengan pandangan yang sanggup meruntuhkan nyali klan pemburu manapun. Posesifitasnya terhadap Lyra kini berlipat ganda karena keberadaan sang anak. Baginya, mereka berdua adalah bukti kekuasaannya yang mutlak atas takdir. Kael tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan bibi Lyra sendiri, untuk mengambil kebahagiaan yang baru saja ia perjuangkan di tengah genangan darah."Kau baru saja menandatangani surat kematian seluruh klanmu, Elara," desis Kael dengan suara yang terde

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 84 Prahara Tanda Maut

    Lantai marmer yang dingin seolah tidak berarti di bawah lutut Kael Draven saat dia menatap perut Lyra dengan tatapan yang dipenuhi kengerian sekaligus pemujaan yang gelap.Tanda ungu yang menyerupai sulur-sulur kematian itu berpendar redup, kontras dengan kulit putih porselen Lyra yang biasanya mem

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 63 Harga dari Sebuah Nyawa

    Aula perjamuan Kastel mendadak menjadi medan tempur aura yang sangat mengerikan. Kehadiran mahluk bayangan Pencabut Nyawa di ambang pintu bukan hanya membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi juga membawa ultimatum yang sanggup meruntuhkan kewarasan siapa pun.Sosok bayangan itu berdiri diam,

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 52 Luka yang Mendamba

    Cahaya fajar yang abu-abu menyusup melalui celah-celah batu menara yang hancur. Suasana di dalam kamar terasa sangat berat, dipenuhi oleh aroma pengap darah dan sisa-sisa energi Pencabut Nyawa yang masih menggantung di udara.Kael masih terbaring di atas ranjang yang kini bersimbah noda hitam. Luka

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 48 Pengkhianatan di Balik Bayang-Bayang

    Langit di atas Kastel Blackwood seolah terbelah oleh kilatan energi perak dan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi. Di halaman kastel, tanah marmer yang biasanya dingin kini bersimbah darah dan dipenuhi retakan akibat hantaman kekuatan dua predator puncak.Kael berdiri dengan napas yang membur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status