Share

Ancaman Halus

Penulis: Miss Wang
last update Tanggal publikasi: 2026-05-17 10:52:40

Keheningan langsung jatuh di seluruh aula.

Noah yang berdiri bersama Bu Eli mengernyit bingung membaca tulisan itu, sementara Clara langsung menahan napas.

Clark tersenyum tipis.

“Gigi dibalas gigi,” ucapnya pelan sambil menatap Raymond lurus. “Bukankah itu aturan dunia kita?”

Tak ada yang menjawab.

Hanya suara napas tegang memenuhi ruangan besar itu.

Lalu perlahan, Clark mengalihkan pandangannya pada Clara.

Tatapan pria tua itu membuat bulu kuduk Clara meremang.

Bukan tatapan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kenyataan

    Ruang kerja Raymond kembali tenggelam dalam keheningan yang terasa begitu menyesakkan.Tak ada lagi suara selain detak halus jam antik di sudut ruangan dan dengung pelan pendingin udara yang berembus konstan.Cahaya matahari pagi yang menembus jendela besar memantul di permukaan meja kerja dari kayu walnut, menerangi lembaran-lembaran dokumen yang kini berserakan di hadapan Raymond.Pria itu masih berdiri membeku.Tatapannya terpaku pada selembar dokumen fotokopi yang telah menguning dimakan usia.Jemarinya mencengkeram kertas itu begitu kuat hingga sudut-sudutnya mulai kusut.Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol.Namun ia sama sekali tidak menyadarinya.Sorot matanya tak lagi berkedip.Seolah seluruh kesadarannya berhenti tepat pada nama yang tercetak di bagian bawah dokumen itu.Maria Antonio.Nama yang selama tiga puluh tahun lebih selalu ia hormati.Nama yang selama ini menjadi lambang ketulusan, kejujuran, dan kehormatan bagi keluarga Antonio.Kini...Nama itu berdiri

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mengejutkan

    Clara memahami maksud suaminya. Ia tidak berusaha menahan. Sebaliknya, ia mengangguk pelan sambil menggenggam tangan Raymond sesaat. "Jangan terlalu lama." bisiknya lembut. Raymond membalas dengan anggukan tipis. Lalu ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya di lantai atas. Klik... Pintu kayu mahoni setinggi hampir tiga meter itu menutup perlahan, memisahkan Raymond dari keramaian rumah. Keheningan langsung memenuhi ruangan. Ruang kerja itu didominasi nuansa cokelat tua yang elegan. Rak-rak buku menjulang hingga mendekati langit-langit, dipenuhi koleksi buku bisnis, sejarah, hingga album keluarga. Sebuah meja kerja besar dari kayu walnut berdiri kokoh di tengah ruangan, sementara jendela kaca berukuran penuh membentang di sisi kanan, menghadap langsung ke taman depan mansion. Raymond berjalan perlahan menuju jendela. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya menembus kaca. Di luar... Halaman mansion telah kembali tenang. Tak ada lagi kilatan kamera.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kenangan

    Beberapa menit kemudian... Ruang makan utama di Mansion Antonio kembali dipenuhi aroma kopi arabika yang baru selesai diseduh. Uap hangat mengepul dari setiap cangkir porselen putih, bercampur dengan wangi mentega dari roti panggang yang baru keluar dari oven. Di atas meja makan sepanjang hampir lima meter yang terbuat dari kayu ek mengilap, berbagai hidangan telah tersaji dengan sempurna. Keranjang rotan berisi aneka roti hangat diletakkan di bagian tengah meja, berdampingan dengan semangkuk besar sup krim jagung yang masih mengepulkan uap tipis. Telur orak-arik berwarna keemasan, sosis panggang dengan permukaan kecokelatan, salad sayur segar, irisan buah-buahan, serta beberapa jenis selai tersusun rapi seolah menunggu untuk disantap. Namun pagi itu... Tak satu pun dari mereka benar-benar memiliki selera makan. Suasana yang beberapa saat sebelumnya diwarnai kepanikan di depan gerbang mansion masih menyisakan jejak yang sulit dihapus. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah c

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Wartawan Takut

    Brak... Brak... Brak... Suara langkah sepatu bot para pengawal menggema serempak di halaman depan Mansion Antonio. Belasan pria bertubuh tegap itu maju satu langkah bersamaan, lalu membentuk barikade baru di belakang gerbang besi hitam setinggi hampir tiga meter. Setelan jas hitam, sarung tangan kulit, dan alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka membuat kehadiran mereka terlihat semakin mengintimidasi. Tatapan mereka lurus ke depan. Dingin. Tanpa sedikit pun keraguan. Tidak ada celah yang bisa dilewati. Tidak ada ruang bagi wartawan untuk mendekat. Udara pagi yang semula dipenuhi suara teriakan dan kilatan kamera kini berubah mencekam. Hanya suara embusan angin yang menggoyangkan daun-daun cemara di sepanjang jalan masuk menuju mansion. Di tengah barisan itu... Raymond berdiri tegak. Kedua bahunya tetap lurus. Dagunya sedikit terangkat. Sorot matanya yang tajam menyapu satu per satu wajah para wartawan di balik pagar. Amarah yang tadi meledak-ledak kini seola

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Murka

    Tepat pada saat itu... Terdengar suara langkah pelan dari belakang. Tok... Tok... Tok... Elena maju. Gaun panjang berwarna gading yang dikenakannya berkibar pelan diterpa angin pagi. Wajahnya masih terlihat pucat. Namun sorot matanya berubah begitu tegas. Ia berdiri tepat di samping Raymond. Semua kamera langsung beralih ke arahnya. Klik! Klik! Klik! Kilatan flash kembali memenuhi halaman. Raymond menoleh cepat. Tatapannya dipenuhi tanda tanya. Mengapa Elena maju? Apa yang sedang ingin dilakukannya? Namun Elena tidak memandang Raymond. Ia menatap lurus ke arah para wartawan. "Aku..." Suaranya pelan. Namun begitu jelas. "...adalah Elena." "Adik kandung Nyonya Antonio." Kerumunan kembali gaduh. Beberapa wartawan langsung saling berteriak. "Itu dia!" "Rekam!" "Cepat!" Elena mengangkat tangan kanannya. Memberi isyarat agar semua diam. Keributan perlahan mereda. "Aku tidak keberatan kalau kalian mempertanyakan siapa diriku." "Kalian boleh meragukan hubung

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Fitnah

    Raymond membeku. Bukan karena terkejut. Melainkan karena otaknya membutuhkan beberapa detik untuk mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan wartawan itu. Angin pagi yang berembus pelan seakan berhenti. Kilatan kamera yang sejak tadi terus menyala kini terdengar jauh. Yang memenuhi pendengarannya hanya satu kalimat. "...mendiang Nyonya Besar Antonio pernah terlibat dalam kasus penyelundupan berskala besar..." Tatapan Raymond perlahan terangkat. Mata hitamnya yang semula tenang berubah semakin tajam. Dingin. Kelam. Berbahaya. Rahangnya mengeras hingga garis otot di kedua pipinya tampak jelas. Tulang rahangnya menonjol. Kedua tangannya yang semula berada di sisi tubuh perlahan mengepal. Jari-jarinya menekan telapak tangan sendiri begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat pada punggung tangannya mulai menonjol. Dadanya naik turun perlahan. Bukan karena takut. Melainkan karena ia sedang mati-matian menahan amarah. "Apa..." Suaranya terdengar rendah. Pe

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tuan Mafia Kejam

    Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gadis Yatim Piatu, Clara

    “Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tewasnya Sang Psikopat

    Angin malam masih meraung keras di atas gedung tua itu, membawa aroma asin laut dan suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana. Namun kini tidak ada lagi bentakan penuh amarah ataupun suara perkelahian brutal. Semuanya mendadak terasa sunyi setelah tubuh Thomas menghilang ke dalam gel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Obsesi

    Clara mundur satu langkah lagi tanpa sadar. Jemarinya yang menggenggam ponsel terasa dingin dan mati rasa, sementara matanya terpaku pada sosok Thomas yang berdiri beberapa meter di depannya. Wajah itu masih sama seperti yang ia kenal selama lima tahun terakhir—tenang, rapi, penuh kelembutan—tetapi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status