MasukKeheningan langsung jatuh di seluruh aula. Noah yang berdiri bersama Bu Eli mengernyit bingung membaca tulisan itu, sementara Clara langsung menahan napas. Clark tersenyum tipis. “Gigi dibalas gigi,” ucapnya pelan sambil menatap Raymond lurus. “Bukankah itu aturan dunia kita?” Tak ada yang menjawab. Hanya suara napas tegang memenuhi ruangan besar itu. Lalu perlahan, Clark mengalihkan pandangannya pada Clara. Tatapan pria tua itu membuat bulu kuduk Clara meremang. Bukan tatapan marah. Melainkan tatapan dingin seseorang yang sedang mengingat wajah orang-orang yang terlibat dalam kematian anaknya. Dan justru karena itulah… rasanya jauh lebih mengerikan. Namun beberapa detik kemudian, Clark malah tersenyum kecil. “Menarik,” gumamnya lirih. Setelah itu, tanpa mengatakan apa pun lagi, ia langsung berbalik. Tongkatnya kembali mengetuk lantai marmer. Tok. Tok. Tok. Dan perlahan pria tua itu berjalan keluar aula bersama para pengawalnya. Tidak ada bentak
Suasana aula langsung berubah sunyi mencekam begitu sosok pria tua itu melangkah masuk melewati pintu utama mansion. Musik biola yang sejak tadi mengalun lembut perlahan terdengar semakin jauh, tenggelam oleh suara ketukan tongkat yang menggema pelan di lantai marmer mengilap. Tok. Tok. Tok. Langkahnya tidak terburu-buru. Namun justru ketenangan itu terasa jauh lebih menakutkan. Lampu chandelier raksasa memantulkan cahaya ke setelan hitam mahal yang dikenakannya. Potongan jas itu begitu rapi dan elegan, membungkus tubuh tinggi besarnya dengan sempurna. Rambutnya yang mulai dipenuhi uban disisir licin ke belakang, memperlihatkan wajah tegas penuh garis usia dan sepasang mata dingin yang tajam seperti pisau. Tatapan pria itu menyapu seluruh aula perlahan. Dan hanya dengan itu saja, udara di ruangan terasa berubah berat. Beberapa tamu langsung menunduk gelisah. Ada yang tanpa sadar mundur satu langkah. Bahkan suara bisik-bisik kecil mendadak lenyap seketika. Semua o
Langkah Clara akhirnya berhenti tepat di depan altar. Raymond langsung menggenggam tangannya perlahan. Hangat. Kuat. Dan sedikit gemetar. Pria itu menatap Clara cukup lama sampai penghulu berdehem kecil sambil tersenyum geli. “Tuan Raymond…” Beberapa tamu langsung tertawa kecil. Raymond seperti baru tersadar. Ia menarik napas pelan, tetapi tatapannya tetap tidak lepas dari Clara. “Kau cantik sekali…” bisiknya lirih. Clara tersenyum sambil menahan air mata. “Kau juga… tampan.” Raymond terkekeh pelan. “Aku babak belur begini masih dibilang tampan?” Clara ikut tertawa kecil di sela tangisnya. Luka lebam di rahang Raymond masih terlihat jelas meski sudah ditutupi tipis oleh makeup. Perban kecil di pelipisnya membuat penampilannya sedikit berantakan. Namun entah kenapa… Bagi Clara, Raymond belum pernah terlihat setampan ini sebelumnya. Prosesi pernikahan akhirnya dimulai. Suasana aula kembali hening dan sakral. Raymond berdiri tegak di depan pendeta
Dahi Raymond semakin berkerut. Detik demi detik terasa jauh lebih lambat dari biasanya. Musik piano masih mengalun lembut di seluruh aula, tetapi suasana hangat beberapa saat lalu perlahan berubah menjadi tegang. Beberapa tamu mulai saling melirik dan berbisik pelan. Bahkan suara denting gelas dari meja belakang terdengar terlalu jelas di tengah keheningan yang mendadak canggung. Hans dan Ken spontan saling bertukar pandang. Wajah keduanya berubah waspada. Raymond sendiri masih berdiri tegak di depan altar, tetapi rahangnya perlahan mengeras. Jemarinya mengepal tanpa sadar di samping tubuhnya. Pikirannya langsung dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk. Setelah semua kejadian semalam, rasa takut kehilangan Clara ternyata masih belum benar-benar hilang dari dirinya. 'Jangan-jangan…' Dadanya terasa semakin tidak nyaman. “Ray…” panggil Hans pelan dari samping, seolah menyadari perubahan ekspresi pria itu. Namun sebelum siapa pun sempat bergerak— Klik. Pintu aula akhirnya ter
“MAMA!” Suara kecil Noah menggema dari dalam kamar dan langsung memecah keheningan pagi di mansion itu. Clara yang sejak tadi berdiri di balkon sambil memandangi langit refleks menoleh cepat. Dalam sekejap, wajahnya yang semula dipenuhi lamunan langsung melembut. “Noah?” Ia segera melangkah masuk kembali ke kamar, lalu spontan menahan tawa kecil begitu melihat putranya berdiri di depan cermin besar dengan ekspresi frustrasi. Dasi hitam mungil di leher Noah kusut berantakan dan bentuknya sudah tidak jelas. Anak itu sibuk menarik-narik kain dasinya sambil mengerucutkan bibir kesal. “Ini susah…” gerutunya. “Kenapa orang nikah harus pakai tali beginian sih?” Clara terkekeh pelan. Pagi itu Noah mengenakan tuxedo kecil berwarna hitam dengan kemeja putih rapi yang membuatnya terlihat seperti versi mini Raymond. Rambutnya disisir ke samping dengan sedikit gel agar tetap rapi, sementara pipinya yang masih bulat membuat wajah seriusnya justru terlihat lucu. Clara berjalan mendekat lalu
Dia baik-baik saja,” jawab Bu Eli cepat sambil mengusap air matanya. “Dokter bilang hanya gegar ringan dan butuh istirahat.” Tubuh Clara langsung melemas lega. Hans dan Ken yang berdiri di dekat ruang perawatan ikut menghela napas panjang saat melihat Raymond dan Clara akhirnya kembali dengan selamat. “Tuan…” Ken langsung menunduk hormat, tetapi ekspresinya berubah kaget melihat kondisi Raymond yang penuh luka. “Tuan terluka parah…” Raymond hanya menggeleng kecil. “Aku tidak apa-apa.” Namun bahkan saat mengatakan itu, darah masih merembes tipis dari luka sobek di lengannya. Clara langsung menatap Raymond dengan mata memerah. “Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa…” bisiknya lirih penuh rasa bersalah. Pintu ruang perawatan akhirnya terbuka perlahan. Dan di sanalah Noah berada. Anak kecil itu tertidur di atas ranjang putih dengan perban melilit kepalanya. Wajah mungilnya masih pucat, tetapi napasnya terdengar tenang dan stabil. Clara langsung menangis lagi sa
Raymond berbalik perlahan.Asap rokok masih menggantung di udara ketika matanya bertemu Ken. Tatapan itu dingin, terkontrol—tatapan pria yang baru saja mengambil keputusan besar dan tak berniat menyesalinya.“Apa yang kau temukan?” tanyanya.Ken menelan ludah. “Madam Veronika bekerja sama dengan Al
Raymond menatap Clara lebih lama dari yang seharusnya. Tatapan itu bukan sekadar menilai—ia membaca, menguliti, mencari celah. “Kau menginginkan sesuatu,” ucapnya pelan, tapi tajam.Kata-kata itu membuat bahu Clara menegang. Napasnya tertahan sesaat, lalu ia melangkah lebih dekat. Tangannya terangk
Keesokan harinya, sedikit lebih sibuk. Di ruang bawah tanah yang tak tercatat di denah mansion, Raymond berdiri di depan meja panjang berlapis kaca hitam. Peta bisnis terpampang di layar besar—alur uang, nama perusahaan cangkang, jalur distribusi, dan rekening luar negeri. Ken berdiri di sampingn
Raymond menurunkan ponselnya perlahan. Udara di kamar terasa lebih berat dari sebelumnya. 30 menit kemudian, pintu diketuk singkat. Tok. Tok. Ken masuk membawa map tebal dan sebuah tablet. Ia meletakkannya di atas meja, lalu berdiri sedikit ke samping. “Ini semua yang kami temukan, Tuan,” ujar







