Share

Pesta

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-05-18 13:31:36

Ciuman mereka semakin dalam.

Semua orang bersorak sambil tepuk tangan. Kue di tangan Noah jatuh ke lantai, matanya terbelalak lebar, Bu Eli refleks menutup mata Noah dengan kedua tangannya.

Tak lama kemudian, MC kembali mengambil alih acara dengan semangat.

"Wah, pengantin kita ternyata tak sabaran."

Sontak semua orang tertawa.

“Baik! Sekarang waktunya lempar buket!” lanjut MC.

Beberapa tamu wanita langsung bersorak antusias.

Clara tertawa kecil saat buket bunga putih diberikan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sadar

    Malam semakin larut. Hujan tipis turun di atas kota, membasahi kaca-kaca tinggi Rumah Sakit Pusat. Cahaya lampu jalan memantul di permukaan aspal yang basah, menciptakan garis-garis cahaya kekuningan yang bergetar setiap kali kendaraan melintas. Namun di lantai khusus keamanan rumah sakit, tidak ada seorang pun yang memikirkan waktu. Raymond masih berdiri di depan layar monitor. Gambar wanita yang menyerupai Maria masih terpampang di sana. Wajah itu hanya terlihat beberapa detik dalam rekaman CCTV. Tetapi beberapa detik tersebut cukup untuk mengguncang keyakinan Raymond selama bertahun-tahun. John datang membawa sebuah map hitam tebal. Langkahnya cepat. "Tuan." Raymond tidak langsung menoleh. "Ada hasil?" John berhenti di hadapannya. "Kami menemukan arsip kematian Charles Antonio." Raymond akhirnya mengalihkan pandangan. "Berikan." Map itu diserahkan. Raymond membukanya. Dokumen pertama adalah surat keterangan kematian. Nama: Charles Antonio.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sosok bag 2

    "Tiga menit." kata teknisi. "Kamera mati selama tiga menit." Raymond menatap layar. "Tidak mungkin kebetulan." John mengangguk. "Seseorang sengaja memutusnya." "Periksa rekaman sebelum kamera mati." Teknisi segera memundurkan video. Beberapa detik sebelum gambar menghilang, salah satu pria itu menoleh ke belakang. Wajahnya hanya terlihat sebagian. Raymond tiba-tiba mengangkat tangan. "Berhenti." Gambar dibekukan. "Perbesar." Teknisi memperbesar gambar. Resolusinya menurun, tetapi bentuk wajah pria itu masih terlihat. Rahang tegas. Hidung lurus. Garis wajah yang begitu familiar. Raymond tidak berkedip. Putar lagi." Rekaman kembali berjalan. Wajah itu muncul sesaat. Kemudian tertutup masker. Raymond mundur satu langkah. Dadanya terasa berat. "Charles..." John langsung menoleh. "Tuan?" Raymond tidak menjawab. Ia terus menatap layar. Tidak mungkin. Ia sendiri menghadiri pemakaman ayahnya. Ia sendiri melihat peti mati Char

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Jejak yang Seharusnya Mati

    Tik...Tok...Tik...Tok...Suara jam antik itu terdengar jelas di tengah ruangan yang nyaris tanpa suara.Jarumnya bergerak perlahan, seolah tidak peduli dengan waktu yang terus berjalan.Di atas ranjang besar dengan seprai putih, Ken masih terbaring tak sadarkan diri.Wajahnya pucat.Perban tebal melingkari kepalanya, sementara beberapa luka kecil terlihat di pelipis dan rahangnya. Selang oksigen terpasang di bawah hidung. Di samping ranjang, sebuah monitor portabel terus menampilkan garis detak jantung yang naik turun.Bip...Bip...Bip...Lemah.Tetapi stabil.Ruangan itu sama sekali tidak menyerupai kamar rumah sakit.Dindingnya dilapisi marmer hitam mengilap. Lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi. Tirai beludru berwarna gelap menutup seluruh jendela, membuat cahaya dari luar tidak bisa masuk.Tidak ada lambang rumah sakit.Tidak ada suara perawat.Tidak ada bau khas antiseptik.Hanya kesunyian.Kemudian...Klik.Pintu kayu besar terbuka perlahan.Seseorang masuk.S

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Umpan

    Tik... Tok... Tik... Tok... Jari Ken kembali diam di atas seprai. Di tempat lain, jauh dari mansion tua itu, suasana di Rumah Sakit Pusat Sentosa kembali berubah ketika suara teknisi tiba-tiba memecah keheningan ruang keamanan. "Ketemu!" Raymond dan John yang baru saja kembali langsung menoleh. Teknisi itu berdiri dari kursinya dengan wajah tegang. "Rekaman kamera jalan tol." Raymond segera mendekat. "Putar." Layar utama menampilkan rekaman jalan raya. Sebuah ambulans putih terlihat melaju dengan kecepatan tinggi. Timestamp menunjukkan kendaraan itu meninggalkan kawasan rumah sakit sekitar dua belas menit setelah Ken dinyatakan hilang. Raymond memperhatikan layar tanpa berkedip. "Perbesar." Teknisi memperbesar gambar. Ambulans itu melaju beberapa kilometer. Kemudian... Belok. Bukan menuju pusat kota. Bukan menuju rumah sakit lain. Melainkan memasuki jalan lama yang jarang digunakan. John mengerutkan kening. "Jalan itu menuju kawasan industri lama." Raymond te

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tempat yang Tidak Dikenal

    "Clara?" Suara Raymond terdengar rendah dari balik telepon. Dari seberang, suara Clara terdengar lirih. "Ray..." "Aku masih di rumah sakit." "Aku tahu." Clara menarik napas panjang. "Bagaimana?" Raymond terdiam beberapa detik. Ia tidak ingin mengatakan bahwa sampai saat ini mereka belum menemukan jejak Ken. Namun Clara pasti akan tahu jika ia berbohong. "Aku masih mencarinya." Keheningan terdengar di antara mereka. Kemudian suara Clara terdengar lebih lembut. "Jangan berhenti." "Aku tidak akan berhenti." Jawaban Raymond terdengar tegas. "Aku akan menemukan Ken." Ia menatap layar CCTV di hadapannya. "Dan aku akan membawanya pulang." Clara mengembuskan napas panjang. "Semoga Tuhan menjaganya." Raymond memejamkan mata sesaat. "Amin." Sambungan berakhir. Raymond memasukkan ponselnya kembali ke saku. Wajahnya kembali dingin. "John." "Ya, Tuan?" "Temukan ke mana ambulans itu pergi." John langsung berdiri tegak. "Kalau perlu, periksa setiap kamera jalan dari ru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keamanan

    Malam mulai turun perlahan di atas kota. Langit yang sejak sore berwarna kelabu kini berubah menjadi biru gelap. Sisa cahaya matahari menghilang di balik gedung-gedung tinggi, sementara lampu jalan menyala satu demi satu, membentuk garis cahaya panjang di sepanjang jalan raya. Namun di Rumah Sakit Pusat, tidak ada seorang pun dari tim Antonio yang berniat pulang. Lantai khusus yang menjadi pusat pencarian Ken masih dipenuhi aktivitas. Langkah kaki berlari terdengar di sepanjang koridor. Radio komunikasi bersahutan. Pintu-pintu dibuka dan ditutup. Para petugas keamanan memeriksa identitas setiap orang yang hendak keluar. Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah sakit tanpa pemeriksaan. Di dalam ruang keamanan utama, puluhan layar CCTV memenuhi hampir seluruh dinding. Raymond berdiri tepat di depan monitor terbesar. Jasnya masih sama seperti ketika ia meninggalkan mansion. Kemejanya sedikit kusut. Wajahnya terlihat lelah. Namun sorot matanya tetap tajam. Ia menatap layar dem

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sang Mafia Kehilangan Arah

    Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hening dan Tegang

    Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status