Beranda / Mafia / Menjadi Tawanan Tuan Mafia / Gadis Yatim Piatu, Clara

Share

Menjadi Tawanan Tuan Mafia
Menjadi Tawanan Tuan Mafia
Penulis: Miss Wang

Gadis Yatim Piatu, Clara

Penulis: Miss Wang
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-13 15:32:41

“Lepaskan aku!”

Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai.

Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya terbuka, membuat semua pasang mata keranjang menatapnya seperti singa kelaparan.

“Barang baru, ya?”

“Masih polos kelihatannya.”

“Cantik… sayang kalau cuma sekali pakai.”

Seorang pria bertubuh besar, berkepala plontos dengan cincin emas di tiap jari, melangkah maju. Senyum liciknya membuat perut Clara mual.

“Yang ini mahal, kan?” katanya pada manager bar. “Aku suka yang begini. Matanya masih hidup.”

Clara mundur setapak, nafasnya tersengal. Tangannya mengepal, air mata menggantung di pelupuk mata. Ia ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhnya kaku—terjebak di antara tatapan rakus dan dinding yang tak memberi jalan keluar.

Di antara pria-pria mata keranjang itu, matanya yang basah tertancap pada seorang pria—wajahnya tak asing.

Di balik bayangan lampu redup, pria itu dengan aura paling gelap di ruangan itu. Setelan hitam, tatapan tajam, dan kehadiran yang membuat udara bergetar.

Raymond Antonio.

Di antara takut dan bingung ada satu perasaan yang lebih kuat—harapan.

Ia ingat tatapan pria itu. Ingat caranya menatap seolah dunia bisa runtuh hanya dengan satu perintah.

Tanpa berpikir panjang, Clara berlari ke arahnya.

“Aku mohon…” suaranya pecah saat ia jatuh berlutut di samping kursi Raymond. Tangannya mencengkeram lengan pria itu kuat-kuat, seolah itu satu-satunya benda yang menahannya agar tak tenggelam. “Tolong aku…”

Pria itu menunduk sedikit, menatap Clara dengan mata dingin yang sulit ditebak.

Lalu ia berdiri.

“Aku ambil dia,” katanya datar. “Tiga kali lipat dari harga tertinggi.”

***

Di sebuah rumah sederhana di sudut gang sempit.

“Makanan sudah siap!”

Dengan rambut coklat panjang yang diikat seadanya, Clara sibuk mengatur meja makan. Tangannya cekatan melakukan ini dan itu.

Setelah memasak untuk paman, bibi dan sepupu perempuannya, Clara bergegas memasukkan buku-buku kuliah ke dalam tas lusuhnya, sambil menyuapkan sarapan dengan terburu. Waktu sudah hampir habis; dia takut terlambat.

“Clara, kamu sudah makan?” tanya paman Bobi. Clara tahu pamannya itu tidak benar-benar peduli, hanya basa-basi.

“Sudah.” Clara menjawab dingin. “Aku mau berangkat sekarang.”

“Dia sudah besar! Bisa urus diri sendiri. Tak usah diingatkan!” ujar bibi Elsa sinis.

Clara hanya menyeringai pahit.

Begitulah hidupnya setiap hari.

Gadis berusia 20 tahun, manis, cerdas, dan cantik. Ia ditinggal kedua orang tuanya dibunuh orang tak dikenal 4 tahun yang lalu. Sejak itu ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya yang selalu menganggapnya sebagai benalu.

“Sayang, bersikap baiklah padanya. Bagaimana pun dia adalah putri dari kakakku,” ujar paman Bobi. Ada sarkasme yang terdengar dalam ucapannya.

“Tentu… makanya aku tampung dia di rumah ini. Kalau tidak, sudah kuusir sejak lama,” jawab bibi Elsa sambil tertawa.

Paman Bobi dan Alda, sepupunya itu, ikut tertawa.

Ketiganya tertawa seolah Clara adalah sebuah objek yang layak dihina. Diinjak. Dicemooh.

Sementara Clara hanya menelan semuanya dalam diam. Tangannya terkepal erat. Matanya merah. Membara.

Dengan cepat, tanpa menoleh ia pergi dari rumah, yang lebih pantas ia sebut neraka.

Waktu berlalu tanpa ampun. Setelah selesai kuliah, Clara pergi menuju sebuah Cafe tempatnya bekerja paruh waktu.

Clara bekerja paruh waktu demi membiayai hidupnya sendiri. Karena setelah orang tuanya meninggal, tak ada yang memperhatikan kebutuhannya.

Seperti biasa, Clara bersikap ramah dan cekatan.

Meski lelah, meski harus sesekali menyembunyikan air matanya, ia tak henti bekerja.

Hingga pukul sembilan malam, cafe akhirnya tutup.

“Clara, tolong kunci tokonya dan taruh di tempat biasa,” kata Ny. Eva, pemilik tempat itu.

“Baik, Nyonya.”

Setelah semuanya selesai, Clara keluar dan menaruh kunci di bawah pot besar yang terletak di samping pintu utama.

Seperti malam-malam sebelumnya, ia berjalan cepat menuju halte.

Jalanan malam itu sangat sepi. Terlalu sepi.

Hingga—

“Aaaa!”

Clara terkejut, spontan menghampiri sumber suara teriakan itu.

Di samping sebuah gedung, Ny. Eva diseret dua pria berbaju hitam dengan kasar. Mata Clara terbelalak melihatnya. Ia mencoba membaca situasi, namun kepalanya tidak mampu bekerja dengan benar.

Clara perlahan memberanikan diri untuk mendekat, jantungnya berdegup tak beraturan. Sementara itu Clara dapat melihat bagaimana tubuh Ny. Eva gemetar hebat dengan moncong pistol dari anak buah berbaju hitam yang menempel di pelipisnya.

“Lepaskan dia! Apa yang kalian lakukan?!” pekik Clara, ia mencoba berteriak tanpa rasa takut meski suaranya bergetar. Tindakannya sudah mendahului kepalanya.

“Pergi!” bentak salah satu pria. “Ini bukan urusanmu!”

“Clara, tolong aku!” rintih Ny. Eva.

Clara perlahan semakin mendekat.

Salah satu pria itu mendorong Clara dan hendak memukulnya.

Namun…

“Tunggu!”

Suara itu dingin, serak, terukur.

Seorang pria keluar dari mobil.

Tinggi. Kekar. Berpakaian hitam. Alis tebal. Mata tajam seperti binatang buas. Rokok tergantung di bibirnya, asapnya mengepul pelan di bawah lampu jalan yang redup.

“Tuan Raymond,” sahut salah satu anak buahnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Riska Risdiyanita
kisah nyaaa sama kaya ana yaaa kak , pas awal2 ketemu babang jonathan tuh ... awal aja keras2 kesono nya aw aw aw ...
goodnovel comment avatar
Lyren Kael
Bab 1 udah nendang aja.. Kuat Clara.. Kuat..
goodnovel comment avatar
Elis Sahadati
kasihan kamu Clara...hidup bersama paman mu tak ubah nya kamu di jadikan budak nggak manusiawi...awal mula pertemuan Clara dan Raymond antonio
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bingung

    Dokter itu menatap Clara beberapa detik, lalu kembali menoleh pada Raymond.“Bagaimana?” tanya Raymond, suaranya datar namun menekan.Dokter itu tersenyum tipis. “Tuan, Nona—”Ddrrrttt… Ddrrttt…Ponsel di saku celana Raymond bergetar, memotong kalimat yang belum selesai dari dokter itu. Getaran itu terdengar keras di ruangan yang hening.Raymond mengangkat tangan, memberi isyarat pada dokter agar menunggu.Ia segera mengeluarkan ponselnya. Nama yang terpampang di layar membuat rahangnya megeras—Tuan Viktor.Tanpa berkata apa-apa, Raymond berbalik dan keluar dari kamar Clara sambil mengangkat telepon itu. Pintu ruangan itu tertutup.Begitu suara langkah Raymond menjauh, Clara refleks bangkit sedikit dari ranjang dan meraih tangan dokter.“Dok… tolong,” bisiknya cepat, suaranya sedikit gemetar. “Tolong jangan beri tahu Tuan Ray jika aku hamil.”Dokter itu terkejut. “Tapi, Nona—”“Tolong…” mata Clara berkaca-kaca. “Aku akan bicara padanya nanti. Hanya saja… untuk sekarang aku belum siap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Benih Cinta

    Di dalam kamar VIP Hotel Gerald, lampu kristal redup memantulkan cahaya keemasan di dinding marmer. Tirai tebal menutup rapat di jendela, meredam semua hiruk-pikuk di luar ruangan. Beberapa saat sebelumnya, ruangan itu dipenuhi desahan tertahan dan bisikan-bisikan penuh nafsu yang kini telah mereda. Yang tersisa hanya suara napas yang masih terengah, dan perlahan kembali normal.Di bawah selimut putih yang sama, dua sosok duduk santai, punggung mereka bersandar ke dipan ranjang—Adrian dan Sofia. Adrian duduk di sisi kanan ranjang, dan Sofia di sisi kiri, keduanya mengangkat rokoknya ke bibir, mengisapnya dalam, lalu menghembuskan asap perlahan ke langit-langit.Asap rokok mengepul tipis di udara.“Jadi,” suara Adrian rendah, santai namun tajam, “apa rencanamu selanjutnya?”Sofia tersenyum tipis tanpa menoleh. Asap rokoknya masih melayang di udara.“Raymond sudah percaya dengan diagnosis palsu itu,” jawabnya tenang. “Keinginanku sekarang hanya satu.” Sofia terdiam sejenak. Tatapann

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Garis Dua

    Kakinya melemas. Ia terhuyung setengah langkah ke belakang dan bersandar pada dinding kamar mandi.Dua garis merah jelas terpampang.Tangannya refleks menutup mulut. “Aku…” napasnya tercekat. “Hamil…”Tubuh Clara gemetar. Dunia terasa berputar terlalu cepat, lalu tiba-tiba melambat tanpa ampun. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan.“Hamil…” ulangnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.Air matanya jatuh satu per satu, tanpa isak, tanpa suara. Dengan tangan gemetar, ia membuka kancing blusnya. Pakaian itu terasa menyesakkan. Ia melepaskannya perlahan, lalu rok yang ia kenakan. Semuanya jatuh ke lantai kamar mandi.Ia melangkah masuk ke dalam bathtub. Air dingin menyentuh kulitnya, membuat tubuhnya sedikit tersentak. Ia bersandar pada dinding porselen, lututnya ia lipat ke dada.Sementara tes kehamilan itu masih ada di tangannya. Ia meletakkannya di pinggir bathtub, tetapi matanya tak lepas dari garis dua pada alat itu. “Bagaimana ini…” bisiknya putus a

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tes Kehamilan

    Senyum di wajah Sofia perlahan melebar. Namun sorot matanya berubah ketika ia menoleh ke arah pintu tempat Clara tadi menghilang.“Raymond,” ucapnya ragu. “Aku ingin bicara tentang wanita itu.”Raymond yang baru saja mengangkat cangkir kopinya berhenti sejenak. “Jangan campurkan urusan kita dengan dia,” katanya dingin. Sofia terdiam sesaat, tetapi ia belum menyerah. “Kenapa, Ray? Aku hanya—”“Aku tak ingin membahasnya,” potong Raymond lagi. Suaranya tidak keras, tetapi tegas dan tak terbantahkan. “Jika kau tak suka, silakan pergi.”Ucapan itu seperti tamparan bagi Sofia. Sofia memaksakan senyumnya, meski jantungnya terasa diremas. “Tidak, Ray… aku akan ikut perkataanmu.”Tangannya terulur, memegang lengan Raymond dengan lembut, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar nyata dan kini kembali menjadi miliknya.Raymond tidak menepisnya, tetapi juga tidak menoleh. Ia kembali menyantap makanannya dengan wajah datar.Sofia menunduk. ‘Dia bukan Raymond yang sama. Dulu, dia selalu menur

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   CLBK

    Clara masih menatap bayangannya di cermin beberapa detik setelah rasa mual itu mereda sedikit. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dadanya yang terasa sesak.Perlahan ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya gontai, pandangannya sedikit berkunang-kunang.“Sepertinya aku masuk angin…” gumamnya pelan.Ia berjalan terhuyung menuju ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Selimut ditarik hingga menutup bahunya. Ia berbaring menyamping, kedua tangannya masih memegang perutnya yang terasa tidak nyaman.Kepalanya terasa berdenyut. Tak lama, matanya terpejam dan nafasnya perlahan teratur. ***Beberapa jam berlalu.Di ruang kerja yang sunyi, Raymond duduk di balik meja. Berkas-berkas bisnis terbuka di hadapannya. Ia menandatangani satu demi satu dokumen dengan wajah serius. Sofia masih ada di sana.Ia duduk dengan tenang di kursi dekat jendela sambil menyeruput teh hangat. Beberapa detik kemudian suara ketukan terdengar.“Masuk

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mual

    Raymond tersentak, tangannya refleks mencengkeram bahu Sofia dan mendorongnya menjauh.“Apa yang kau lakukan?” suaranya tajam, napasnya sedikit memburu.Sofia terhuyung setengah langkah. Ia terengah, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku hanya ingin kau ingat,” bisiknya dengan suara pecah. “Ingat bagaimana rasanya… dan aku tahu kau masih mencintaiku, Ray. Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri.”Di ujung lorong, Clara mundur selangkah. Pandangannya kabur oleh air mata yang nyaris jatuh. Ia berbalik cepat—tapi, tanpa sengaja bahunya menyenggol sebuah guci porselen tinggi di sudut lorong.Guci itu bergoyang dan hampir jatuh, membuat Raymond dan Sofia serentak menoleh ke arah Clara berdiri. “Kau menguping.” suara Raymond menggelegar, bukan karena marah, tapi lebih ke terkejut.Clara seketika membeku. Ia memejamkan mata lalu membukanya kembali, bibir bawahnya refleks tergigit. Ia langsung berbalik menghadap mereka, wajahnya terlihat pucat.“Tidak… aku tidak sengaja mau lewat, Tu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status