Masuk
“Lepaskan aku!”
Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya terbuka, membuat semua pasang mata keranjang menatapnya seperti singa kelaparan. “Barang baru, ya?” “Masih polos kelihatannya.” “Cantik… sayang kalau cuma sekali pakai.” Seorang pria bertubuh besar, berkepala plontos dengan cincin emas di tiap jari, melangkah maju. Senyum liciknya membuat perut Clara mual. “Yang ini mahal, kan?” katanya pada manager bar. “Aku suka yang begini. Matanya masih hidup.” Clara mundur setapak, nafasnya tersengal. Tangannya mengepal, air mata menggantung di pelupuk mata. Ia ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhnya kaku—terjebak di antara tatapan rakus dan dinding yang tak memberi jalan keluar. Di antara pria-pria mata keranjang itu, matanya yang basah tertancap pada seorang pria—wajahnya tak asing. Di balik bayangan lampu redup, pria itu dengan aura paling gelap di ruangan itu. Setelan hitam, tatapan tajam, dan kehadiran yang membuat udara bergetar. Raymond Antonio. Di antara takut dan bingung ada satu perasaan yang lebih kuat—harapan. Ia ingat tatapan pria itu. Ingat caranya menatap seolah dunia bisa runtuh hanya dengan satu perintah. Tanpa berpikir panjang, Clara berlari ke arahnya. “Aku mohon…” suaranya pecah saat ia jatuh berlutut di samping kursi Raymond. Tangannya mencengkeram lengan pria itu kuat-kuat, seolah itu satu-satunya benda yang menahannya agar tak tenggelam. “Tolong aku…” Pria itu menunduk sedikit, menatap Clara dengan mata dingin yang sulit ditebak. Lalu ia berdiri. “Aku ambil dia,” katanya datar. “Tiga kali lipat dari harga tertinggi.” *** Di sebuah rumah sederhana di sudut gang sempit. “Makanan sudah siap!” Dengan rambut coklat panjang yang diikat seadanya, Clara sibuk mengatur meja makan. Tangannya cekatan melakukan ini dan itu. Setelah memasak untuk paman, bibi dan sepupu perempuannya, Clara bergegas memasukkan buku-buku kuliah ke dalam tas lusuhnya, sambil menyuapkan sarapan dengan terburu. Waktu sudah hampir habis; dia takut terlambat. “Clara, kamu sudah makan?” tanya paman Bobi. Clara tahu pamannya itu tidak benar-benar peduli, hanya basa-basi. “Sudah.” Clara menjawab dingin. “Aku mau berangkat sekarang.” “Dia sudah besar! Bisa urus diri sendiri. Tak usah diingatkan!” ujar bibi Elsa sinis. Clara hanya menyeringai pahit. Begitulah hidupnya setiap hari. Gadis berusia 20 tahun, manis, cerdas, dan cantik. Ia ditinggal kedua orang tuanya dibunuh orang tak dikenal 4 tahun yang lalu. Sejak itu ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya yang selalu menganggapnya sebagai benalu. “Sayang, bersikap baiklah padanya. Bagaimana pun dia adalah putri dari kakakku,” ujar paman Bobi. Ada sarkasme yang terdengar dalam ucapannya. “Tentu… makanya aku tampung dia di rumah ini. Kalau tidak, sudah kuusir sejak lama,” jawab bibi Elsa sambil tertawa. Paman Bobi dan Alda, sepupunya itu, ikut tertawa. Ketiganya tertawa seolah Clara adalah sebuah objek yang layak dihina. Diinjak. Dicemooh. Sementara Clara hanya menelan semuanya dalam diam. Tangannya terkepal erat. Matanya merah. Membara. Dengan cepat, tanpa menoleh ia pergi dari rumah, yang lebih pantas ia sebut neraka. Waktu berlalu tanpa ampun. Setelah selesai kuliah, Clara pergi menuju sebuah Cafe tempatnya bekerja paruh waktu. Clara bekerja paruh waktu demi membiayai hidupnya sendiri. Karena setelah orang tuanya meninggal, tak ada yang memperhatikan kebutuhannya. Seperti biasa, Clara bersikap ramah dan cekatan. Meski lelah, meski harus sesekali menyembunyikan air matanya, ia tak henti bekerja. Hingga pukul sembilan malam, cafe akhirnya tutup. “Clara, tolong kunci tokonya dan taruh di tempat biasa,” kata Ny. Eva, pemilik tempat itu. “Baik, Nyonya.” Setelah semuanya selesai, Clara keluar dan menaruh kunci di bawah pot besar yang terletak di samping pintu utama. Seperti malam-malam sebelumnya, ia berjalan cepat menuju halte. Jalanan malam itu sangat sepi. Terlalu sepi. Hingga— “Aaaa!” Clara terkejut, spontan menghampiri sumber suara teriakan itu. Di samping sebuah gedung, Ny. Eva diseret dua pria berbaju hitam dengan kasar. Mata Clara terbelalak melihatnya. Ia mencoba membaca situasi, namun kepalanya tidak mampu bekerja dengan benar. Clara perlahan memberanikan diri untuk mendekat, jantungnya berdegup tak beraturan. Sementara itu Clara dapat melihat bagaimana tubuh Ny. Eva gemetar hebat dengan moncong pistol dari anak buah berbaju hitam yang menempel di pelipisnya. “Lepaskan dia! Apa yang kalian lakukan?!” pekik Clara, ia mencoba berteriak tanpa rasa takut meski suaranya bergetar. Tindakannya sudah mendahului kepalanya. “Pergi!” bentak salah satu pria. “Ini bukan urusanmu!” “Clara, tolong aku!” rintih Ny. Eva. Clara perlahan semakin mendekat. Salah satu pria itu mendorong Clara dan hendak memukulnya. Namun… “Tunggu!” Suara itu dingin, serak, terukur. Seorang pria keluar dari mobil. Tinggi. Kekar. Berpakaian hitam. Alis tebal. Mata tajam seperti binatang buas. Rokok tergantung di bibirnya, asapnya mengepul pelan di bawah lampu jalan yang redup. “Tuan Raymond,” sahut salah satu anak buahnya.Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberapa detik di tempatnya, lalu perlahan merosot ke lantai. Kali ini, ia tidak langsung menangis keras. Tangisnya tertahan di dada, seperti beban berat yang tak bisa lagi keluar. Hari-hari berikutnya kembali sama. Gelap. Dingin. Sunyi. Clara mulai kehilangan batas antara siang dan malam. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau. Kadang ia memukul dinding dengan kepalan tangan, kadang ia berteriak sampai suaranya habis, kadang ia hanya menatap kosong ke satu titik berjam-jam. Ia membenci dirinya sendiri. Membenci ketakutannya. Membenci ketidakberdayaannya. Namun perlahan, sesuatu di dalam dirinya mulai berubah—bukan menjadi kuat, tapi menjadi mati rasa. Tangisnya berkurang. Pemberontakannya memudar. I
Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!”Tak ada jawaban.Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan.Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.“Aku ingin pulang…” bisiknya lirih, suara itu tenggelam di antara dinding dingin.Jam demi jam berlalu tanpa ia tahu pasti. Waktu kehilangan makna di ruang gelap itu. Dinginnya merayap perlahan, menembus kulit, menekan dada.Beberapa jam kemudian, suara pintu kembali terdengar. Clara tersentak, tubuhnya menegang.Seorang anak buah masuk, meletakkan nampan makanan di lantai tanpa menatapnya.Tanpa mengucapkan apa pun, pintu ditutup lagi.Clara menatap makanan itu lama. Perutnya memang sudah melilit, akhirnya dengan tangan gemetar, ia menyuap sedikit demi sedikit. Meski terlihat menggugah selera, makanan itu terasa hambar di mulut. Clara merasakan begitu sesak, perasaannya campur aduk. A
Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yang berani memprotes.Mata Clara terbelalak melihat pemandangan itu. Uang berpindah tangan secepat nafas.Itu juga berarti menandakan bahwa dirinya telah dibeli. Clara semakin mematung. Ini adalah mimpi buruk baginya.Di tengah pikiran yang kacau, Clara sadar ketika tiba-tiba ruangan itu kembali sunyi. Raymond menurunkan tatapannya pada Clara yang masih membeku di sisinya. Kemudian pandangannya beralih, menatap para anak buah yang berdiri tegap. Lalu, tanpa sepatah kata pun, Raymond berbalik. Kaki jenjangnya melangkah mantap dan tegas. Aura dominasi yang menyeramkan juga seolah bergerak mengikuti langkah kaki pria itu.Setelah kepergian Raymond, satu dari anak buahnya bergerak menuju Clara.
Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat panjangnya yang berantakan. Mata hazel itu kosong, dingin, tak lagi menyimpan sisa harapan. Ia keluar kamar tanpa menyentuh dapur, tanpa menyalakan kompor, tanpa mengangkat satu pun piring.Tanpa pamit, tanpa menoleh, tanpa sepatah kata pun ia pergi. Sesampainya di kampus, Clara pergi ke kelas untuk mengikuti mata kuliah. Namun, pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Di sela-sela fokus yang rapuh itu, perasaannya kerap terpecah. Ingatannya kerap melayang pada malam ketika Ny. Eva dibunuh—darah, teriakan tertahan, dan sebuah tatapan kosong yang tak sempat ia lupakan. Clara begitu takut. Takut karena ia tahu, takut jika ia menjadi target berikutnya.Hari-hari berikutnya berlalu dalam kew
Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. Tidak ada belas kasihan.Hanya kehampaan yang mengerikan.“Kau berjudi di wilayahku,” katanya datar. “Lalu mencuri.”Tangannya lalu merogoh jas yang ia kenakan. Ia lalu mengangkat pistol dari balik jasnya sendiri.Clara lantas membeku. “Jangan…” bisiknya, nyaris tak bersuara.Ny. Eva merangkak mendekat, mencengkeram sepatu Raymond. “Tuan… aku punya keluarga… aku mohon…”Raymond menatap ke bawah, lalu—tanpa ragu—menarik pelatuk.DOR!Suara tembakan menggema memecah malam.Tubuh Ny. Eva terhempas ke aspal. Darah mengalir cepat, gelap, menggenang di bawah tubuhnya yang tak lagi bergerak.Clara menjerit. Tangannya menutup mulutnya sendiri, air mata mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Dadanya se
“Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya terbuka, membuat semua pasang mata keranjang menatapnya seperti singa kelaparan. “Barang baru, ya?”“Masih polos kelihatannya.”“Cantik… sayang kalau cuma sekali pakai.”Seorang pria bertubuh besar, berkepala plontos dengan cincin emas di tiap jari, melangkah maju. Senyum liciknya membuat perut Clara mual.“Yang ini mahal, kan?” katanya pada manager bar. “Aku suka yang begini. Matanya masih hidup.”Clara mundur setapak, nafasnya tersengal. Tangannya mengepal, air mata menggantung di pelupuk mata. Ia ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhnya kaku—terjebak di antara tatapan rakus dan dinding yang tak memberi jalan keluar.Di antara pria-pria mata keranjang itu, matanya yang basah tertancap pad







