Partager

Kebun

Auteur: Miss Wang
last update Date de publication: 2026-06-01 16:46:08

Raymond bahkan tidak memberi kesempatan Bu Eli menyelesaikan kalimatnya.

Begitu mendengar istrinya menginginkan mangga muda, pria itu langsung berbalik menuju pintu utama mansion dengan langkah panjang dan tergesa.

“Tuan, maksud saya kita bisa—”

“Ken.”

“Ya, Tuan?”

“Siapkan mobil.”

“Tapi—”

“Sekarang.”

Nada suaranya tegas dan tidak memberi ruang untuk perdebatan.

Lima menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur keluar dari gerbang besar Mansion Antonio dengan kecepatan yang b
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Komplikasi?

    “CLARA!” Suara Raymond menggema keras di seluruh mansion, memantul di dinding marmer dan lorong-lorong luas yang biasanya tenang. Dalam hitungan detik, pria itu sudah berlutut di lantai dapur. Pecahan kaca berserakan di sekeliling tubuh Clara. Segelas jus yang tadi dipegang wanita itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil di atas lantai marmer putih. Cairan berwarna oranye menyebar membentuk noda tidak beraturan di dekat kakinya. Namun Raymond bahkan tidak melihat semua itu. Dunianya hanya tertuju pada satu hal. Clara. “Clara, bangun, Clara.” Tangannya yang biasanya mantap saat memegang senjata atau menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah kini bergetar saat menyentuh pipi istrinya. Kulit Clara terasa dingin. Terlalu dingin. Wajah wanita itu pucat. Kelopak matanya tertutup rapat. Tubuhnya terkulai tanpa respons. Untuk sesaat, jantung Raymond terasa berhenti berdetak. “Clara... buka matamu.” Nada suaranya berubah serak. Penuh ketakutan. Ketakutan yang bahkan t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   ABC

    Teriakan Noah sampai terdengar ke seluruh rumah. Dan beberapa langkah di belakang Noah, Clara selalu berdiri di beranda. Tersenyum. Menunggu. Hal sederhana. Namun bagi Raymond, itu adalah hal yang tidak pernah ia miliki selama puluhan tahun hidupnya. Rumah. Keluarga. Seseorang yang menunggu kepulangannya. Dan ternyata perasaan itu jauh lebih berharga daripada kemenangan bisnis sebesar apa pun. *** Waktu berlalu tanpa terasa. Musim berganti. Hari demi hari berjalan tenang. Dan kehamilan Clara perlahan memasuki bulan kelima. Perutnya mulai membulat dengan jelas. Noah menjadi orang yang paling bersemangat. Setiap hari, anak itu punya ritual khusus. Menempelkan telinganya ke perut Clara. Lalu berbicara dengan adiknya. “Adik.” Hening. “Kalau dengar, tendang dua kali.” Tidak ada respons. Noah mengangguk serius. “Berarti adik malu.” Clara selalu tertawa setiap kali melihatnya. Sementara Raymond diam-diam merekam momen itu dengan ponselnya. Untuk pertama kalinya da

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Siaga

    Tatapan Raymond langsung terpaku pada ujung jari Clara. Hanya ada setitik darah di sana. Merah kecil, nyaris tak terlihat jika seseorang tidak benar-benar memperhatikannya. Namun bagi Raymond, pemandangan itu terasa seperti alarm darurat yang tiba-tiba berbunyi di seluruh mansion. Suasana ruang keluarga yang beberapa detik lalu dipenuhi tawa mendadak berubah. Rahang pria itu mengeras. Tatapannya berpindah dari jari Clara ke pisau kecil di atas meja, lalu kembali lagi ke jari istrinya. “Clara.” Nada suaranya rendah. Terlalu rendah. Dan Clara langsung mengenali nada itu. Nada yang biasanya muncul ketika Raymond menghadapi situasi berbahaya. Padahal saat ini yang terjadi hanyalah goresan kecil akibat pisau buah. Clara mengangkat tangannya sedikit. “Ray, ini cuma luka kecil—” “Tidak.” Raymond sudah melangkah cepat menghampirinya. “Darahnya bahkan tidak sampai—” “Tidak.” “Raymond.” “Tidak.” Clara menghela napas panjang. Bu Eli yang berdiri di samping meja langsung men

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Malu

    Tatapan Clara tidak lepas dari buah-buah hijau kecil yang baru saja diletakkan Raymond di atas meja ruang keluarga. Namun sebenarnya, yang membuat matanya perlahan berkaca-kaca bukanlah mangga itu. Melainkan pria yang berdiri tepat di depannya. Raymond Antonio. Pria yang namanya cukup membuat banyak orang menundukkan kepala. Pria yang biasanya selalu tampil sempurna dengan setelan mahal, rambut rapi, dan aura dingin yang sulit didekati. Kini berdiri di tengah ruang keluarga dengan kondisi yang benar-benar menyedihkan. Rambut hitamnya berantakan ke segala arah. Kemeja putih mahal yang pagi tadi disetrika sempurna sekarang penuh kusut dan bercak tanah. Bagian lengannya tergulung tidak beraturan. Ada goresan tipis di punggung tangannya. Dan yang paling parah... Sepotong rumput liar masih tersangkut santai di bahu jasnya. Clara menggigit bibir kuat-kuat agar tidak tertawa. Sayangnya gagal. Sudut bibirnya sudah terangkat lebih dulu. "Ray..." Raymond yang sedang berusaha me

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Binatang Kebun

    Kini giliran Raymond yang berteriak. Ken langsung tertawa sampai hampir kehilangan pegangan. Raymond menatapnya tajam membuat Ken seketika terdiam walau bahunya masih bergetar samar. Sepuluh menit berikutnya mereka akhirnya berhasil memetik beberapa mangga muda. Hijau. Keras. Asam. Persis seperti yang diinginkan Clara. Kemenangan terasa sudah di depan mata. Sampai tiba-tiba... Seekor ular kecil melintas di cabang bawah. Hening. Raymond membeku. Ken membeku. Bahkan ular itu seolah ikut membeku. Tiga makhluk hidup saling menatap dalam keheningan yang sangat canggung. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Lalu secara bersamaan— "AAAAAA!" Raymond dan Ken melompat turun dari pohon. Tanpa martabat. Tanpa harga diri. Tanpa sisa aura mafia yang biasanya membuat orang ketakutan. Namun bencana sesungguhnya baru dimulai. Saat Raymond sedang membersihkan pakaiannya dari daun-daun kering, ia merasakan sesuatu bergerak perlahan di bahunya. Lembut. Berbulu. Dan sangat mencu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kebun

    Raymond bahkan tidak memberi kesempatan Bu Eli menyelesaikan kalimatnya. Begitu mendengar istrinya menginginkan mangga muda, pria itu langsung berbalik menuju pintu utama mansion dengan langkah panjang dan tergesa. “Tuan, maksud saya kita bisa—” “Ken.” “Ya, Tuan?” “Siapkan mobil.” “Tapi—” “Sekarang.” Nada suaranya tegas dan tidak memberi ruang untuk perdebatan. Lima menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur keluar dari gerbang besar Mansion Antonio dengan kecepatan yang biasanya digunakan untuk mengejar target penting. Dari kejauhan, iring-iringan kendaraan itu terlihat seperti sedang menjalankan operasi rahasia tingkat tinggi. Padahal kenyataannya... Mereka sedang berburu mangga muda. Empat puluh menit kemudian. Mobil berhenti di sebuah daerah pinggiran kota yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan kebun-kebun rakyat yang membentang luas hingga ke kaki perbukitan. Udara di sana jauh berbeda dari pusat kota. Lebih sejuk. Lebih lembap. Dan dipenuhi arom

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Air Keras

    Semua terjadi begitu cepat. Cairan itu melesat di udara—berkilat singkat di bawah cahaya siang—menuju wajahnya, menuju tubuhnya… menuju sesuatu yang tak akan bisa ia hindari. Namun—di antara detik yang terlalu sempit untuk berpikir—sebuah bayangan bergerak dengan cepat, pasti dan tanpa keraguan—

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Familiar

    Srrreeeettttt—!!! Suara decitan ban memekakkan telinga, seperti jeritan yang merobek udara siang itu—mobil hitam itu berhenti mendadak. Tubuh Raymond terdorong ke depan, bahunya hampir menghantam kursi depan. Namun refleksnya cepat—tangannya menahan, rahangnya mengeras, napasnya tertahan dalam sa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rumah Sakit

    Namun—sebelum tatapan itu benar-benar bertemu— Clara lebih dulu tersadar. Seperti tersengat arus listrik, tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ia langsung memalingkan wajah dengan gerakan cepat, napasnya tercekat. Tangannya bergerak refleks, meraih tubuh kecil Noah dan menariknya lebih

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Noah Sakit

    “Apa?!” suaranya pecah—nyaris tak terbentuk. Di seberang sana, suara Bibi Janeta bergetar, terburu-buru, dipenuhi ketakutan yang tak bisa disembunyikan. “Dari tadi demamnya tinggi sekali, Clara… dia mengigau… aku takut sesuatu terjadi…” Clara memejamkan mata sejenak. Hanya satu detik—namun dala

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status