MasukSementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam.
Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberapa detik di tempatnya, lalu perlahan merosot ke lantai. Kali ini, ia tidak langsung menangis keras. Tangisnya tertahan di dada, seperti beban berat yang tak bisa lagi keluar. Hari-hari berikutnya kembali sama. Gelap. Dingin. Sunyi. Clara mulai kehilangan batas antara siang dan malam. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau. Kadang ia memukul dinding dengan kepalan tangan, kadang ia berteriak sampai suaranya habis, kadang ia hanya menatap kosong ke satu titik berjam-jam. Ia membenci dirinya sendiri. Membenci ketakutannya. Membenci ketidakberdayaannya. Namun perlahan, sesuatu di dalam dirinya mulai berubah—bukan menjadi kuat, tapi menjadi mati rasa. Tangisnya berkurang. Pemberontakannya memudar. Ia mulai makan tanpa menangis, tidur tanpa mimpi, bangun tanpa harapan. Menerima. Bukan karena ia ingin. Tapi karena tak ada pilihan lain. “Aku hanya harus bertahan,” gumamnya suatu malam, memeluk lutut. “Entah sampai kapan.” Bertahan di basement gelap ini tidak terdengar seperti jalan keluar. Namun, bagi Clara, ini jauh lebih baik daripada harus menahan diri di rumah paman dan bibinya. Meski keduanya sama-sama terasa seperti penjara bagi Clara, tetapi setidaknya … ia tidak diperlakukan seperti sebuah benalu yang selalu dihina. Meski gelap dan dingin, Clara bisa mendapat setitik ketenangan di sini. Sebenci apapun ia mengakuinya, segila apapun kedengarannya, Clara lebih baik berada di sini daripada di rumah sang paman. Seminggu kemudian, pintu basement terbuka lebih lama dari biasanya. Clara yang sedang duduk memeluk lututnya tersentak kaget. Cahaya terang menyilaukan matanya. Ia mengangkat tangan menutupi wajah, jantungnya berdegup kencang. “Bangun,” perintah salah satu anak buah. Clara berdiri dengan kaku. “Ikuti aku,” perintah anak buah itu lagi. Clara tidak bertanya. Tidak berani. Matanya berkeliling, aneh sekaligus takut. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu kristal besar di langit-langit. Segalanya terasa terlalu mewah bagi Clara. Ia menahan nafas. Begitu memasuki aula utama, seorang wanita paruh baya melangkah maju. Wajahnya tegas namun hangat, rambutnya disanggul rapi, pakaiannya sederhana tapi anggun. Tatapan wanita itu kemudian jatuh pada Clara. Clara seolah dapat menangkap keterkejutan di sana dan rasa ingin tahu yang jelas. Ia pun tiba di lantai dua. Sebuah lorong panjang terbentang sunyi. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan mahal, lampu temaram menciptakan bayangan panjang. Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar. “Masuk.” Clara melangkah masuk perlahan. Raymond sudah ada di sana. Ia berdiri di dekat jendela, mengenakan setelan hitam rapi. Di sofa tergeletak beberapa kantong belanja eksklusif, kotak sepatu, dan sebuah gaun yang masih terbungkus plastik. Raymond menoleh saat mendengar langkahnya. Tatapannya langsung menyapu Clara dari atas ke bawah—wajah pucat, tubuh kurus, mata yang kehilangan kilau. Sesuatu melintas di matanya, cepat, lalu menghilang. “Mandi,” katanya singkat. “Pakai baju yang sudah disiapkan.” Clara membeku. “U-untuk apa?” Raymond melangkah mendekat. “Kau ikut aku.” Jantung Clara mencelos. “Ke mana…?” Raymond berhenti tepat di depannya. Tingginya membuat Clara otomatis menunduk. “Lakukan saja perintaku,” ucapnya dingin. “Kau hanya perlu menjaga sikap.” Clara akhirnya mengangguk pelan. Ia berbalik menuju kamar mandi dengan langkah ragu, membawa gaun itu. Di dalam dadanya, ketakutan bercampur dengan kebingungan. Ia tak tahu permainan apa yang sedang dijalankan pria itu—dan peran apa yang kini dipaksakan padanya. Namun satu hal ia tahu pasti. Basement telah mengajarinya satu hal: Untuk bertahan hidup di dunia Raymond Antonio, ia harus patuh. Air hangat mengalir membasahi tubuh Clara, membawa serta sisa-sisa dingin basement yang masih menempel di kulitnya. Uap memenuhi kamar mandi, membuat napasnya sedikit lebih lega—meski hanya sesaat. Ia memejamkan mata. Basement itu masih ada di kepalanya. Bau lembap. Dinding dingin. Sunyi yang menekan sampai ia nyaris gila. Clara mematikan air, meraih handuk tebal berwarna putih gading. Tangannya sedikit gemetar saat melilitkan kain itu ke tubuhnya. Di rak marmer, sebuah kotak terbuka memperlihatkan gaun yang disiapkan Raymond. Gaun itu… indah. Kainnya halus, berkilau lembut di bawah lampu. Potongannya elegan, sederhana namun jelas mahal. Warna gelap yang anggun, menegaskan lekuk tanpa terlihat murahan. Clara menelan ludah. Dengan gerakan ragu, ia mengenakan gaun itu. Resletingnya menutup dengan mulus di punggungnya, pas—seolah gaun itu memang dibuat untuk tubuhnya. Ia melangkah mendekat ke cermin. Pantulan di hadapannya membuatnya terdiam. Gadis itu tampak asing. Rambut cokelat panjangnya masih sedikit basah, jatuh lembut di bahu. Wajahnya pucat, tapi mata hazelnya terlihat lebih hidup di bawah cahaya. Clara menghela napas panjang, lalu membuka pintu kamar mandi. Raymond masih duduk di sofa, satu kaki disilangkan, punggung tegak. Ia tidak langsung menoleh. Baru ketika Clara melangkah dua langkah ke dalam ruangan, tatapan pria itu terangkat sekilas. Hanya sekilas. Clara merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Tatapan itu dingin, menilai, menimbang—seperti biasa. Tidak ada pujian. Tidak ada reaksi berlebihan. Raymond mengalihkan pandangannya salah satu pelayannya. “Rapikan dia. Cepat.” “Baik, Tuan.” Clara ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya tertahan. Ia menurut ketika pelayan itu menuntunnya ke kursi rias. Tangan-tangan cekatan mulai bekerja—menyisir rambutnya, mengeringkannya, mengikat sebagian dengan anggun. Wajah Clara disentuh lembut dengan kuas dan bedak, lipstik berwarna lembut dioleskan ke bibirnya. Ia duduk diam, menatap pantulan dirinya yang terus berubah. Beberapa menit kemudian, pelayan itu melangkah mundur. “Sudah, Tuan.” Clara berdiri perlahan. Clara berbalik, melangkah sedikit dan berhenti tepat di hadapan Raymond. Gaun itu jatuh sempurna mengikuti gerak tubuhnya. Anting kecil berkilau di telinganya. Sepatu hak rendah membungkus kakinya. Ia tampak… anggun. Cantik. Terlalu pantas untuk tempat yang akan ia datangi. Raymond berdiri. Kali ini, tatapannya bertahan lebih lama. Tidak lama—namun cukup untuk membuat Clara menahan napas. Wajah pria itu tetap datar, rahangnya mengeras sedikit. Tidak ada senyum. Tidak ada pujian. Hanya keheningan yang sarat makna. “Kita berangkat,” katanya akhirnya. Clara menelan ludah. “Sebenarnya… kita akan kemana?” Raymond meraih jasnya. “Ke rumah ayahku.” Clara membeku. “A-ayah?” Ia mengumpulkan keberanian. “Tuan Raymond… kenapa aku harus ikut?” Raymond terhenti. Ia menoleh, tatapannya tajam. “Kau akan berpura-pura menjadi kekasihku.” “Apa?” Clara tersentak, suaranya meninggi tanpa sadar. “Tapi—” Raymond melangkah mendekat dalam dua langkah panjang. Jarak mereka menyempit drastis. Aura pria itu menekan, membuat Clara otomatis mundur setengah langkah. “Dengar baik-baik,” ucapnya rendah. “Aku tidak meminta pendapatmu.” Jari Raymond terangkat, menunjuk ke arahnya—tidak menyentuh, tapi cukup membuat Clara membeku. “Satu kesalahan kecil. Satu sikap yang tidak pantas. Dan kau akan kembali ke basement itu.” Wajah Clara memucat. “Kau tahu konsekuensinya,” lanjut Raymond dingin. Clara membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kata-kata mati di tenggorokannya. Ia mengangguk pelan, nyaris tak terlihat. “Baik…” Raymond menatapnya beberapa detik lagi, lalu berbalik. “Ingat,” katanya sambil melangkah pergi. “Sejak aku membayarmu, kau adalah tawananku.”Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberapa detik di tempatnya, lalu perlahan merosot ke lantai. Kali ini, ia tidak langsung menangis keras. Tangisnya tertahan di dada, seperti beban berat yang tak bisa lagi keluar. Hari-hari berikutnya kembali sama. Gelap. Dingin. Sunyi. Clara mulai kehilangan batas antara siang dan malam. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau. Kadang ia memukul dinding dengan kepalan tangan, kadang ia berteriak sampai suaranya habis, kadang ia hanya menatap kosong ke satu titik berjam-jam. Ia membenci dirinya sendiri. Membenci ketakutannya. Membenci ketidakberdayaannya. Namun perlahan, sesuatu di dalam dirinya mulai berubah—bukan menjadi kuat, tapi menjadi mati rasa. Tangisnya berkurang. Pemberontakannya memudar. I
Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!”Tak ada jawaban.Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan.Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.“Aku ingin pulang…” bisiknya lirih, suara itu tenggelam di antara dinding dingin.Jam demi jam berlalu tanpa ia tahu pasti. Waktu kehilangan makna di ruang gelap itu. Dinginnya merayap perlahan, menembus kulit, menekan dada.Beberapa jam kemudian, suara pintu kembali terdengar. Clara tersentak, tubuhnya menegang.Seorang anak buah masuk, meletakkan nampan makanan di lantai tanpa menatapnya.Tanpa mengucapkan apa pun, pintu ditutup lagi.Clara menatap makanan itu lama. Perutnya memang sudah melilit, akhirnya dengan tangan gemetar, ia menyuap sedikit demi sedikit. Meski terlihat menggugah selera, makanan itu terasa hambar di mulut. Clara merasakan begitu sesak, perasaannya campur aduk. A
Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yang berani memprotes.Mata Clara terbelalak melihat pemandangan itu. Uang berpindah tangan secepat nafas.Itu juga berarti menandakan bahwa dirinya telah dibeli. Clara semakin mematung. Ini adalah mimpi buruk baginya.Di tengah pikiran yang kacau, Clara sadar ketika tiba-tiba ruangan itu kembali sunyi. Raymond menurunkan tatapannya pada Clara yang masih membeku di sisinya. Kemudian pandangannya beralih, menatap para anak buah yang berdiri tegap. Lalu, tanpa sepatah kata pun, Raymond berbalik. Kaki jenjangnya melangkah mantap dan tegas. Aura dominasi yang menyeramkan juga seolah bergerak mengikuti langkah kaki pria itu.Setelah kepergian Raymond, satu dari anak buahnya bergerak menuju Clara.
Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat panjangnya yang berantakan. Mata hazel itu kosong, dingin, tak lagi menyimpan sisa harapan. Ia keluar kamar tanpa menyentuh dapur, tanpa menyalakan kompor, tanpa mengangkat satu pun piring.Tanpa pamit, tanpa menoleh, tanpa sepatah kata pun ia pergi. Sesampainya di kampus, Clara pergi ke kelas untuk mengikuti mata kuliah. Namun, pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Di sela-sela fokus yang rapuh itu, perasaannya kerap terpecah. Ingatannya kerap melayang pada malam ketika Ny. Eva dibunuh—darah, teriakan tertahan, dan sebuah tatapan kosong yang tak sempat ia lupakan. Clara begitu takut. Takut karena ia tahu, takut jika ia menjadi target berikutnya.Hari-hari berikutnya berlalu dalam kew
Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. Tidak ada belas kasihan.Hanya kehampaan yang mengerikan.“Kau berjudi di wilayahku,” katanya datar. “Lalu mencuri.”Tangannya lalu merogoh jas yang ia kenakan. Ia lalu mengangkat pistol dari balik jasnya sendiri.Clara lantas membeku. “Jangan…” bisiknya, nyaris tak bersuara.Ny. Eva merangkak mendekat, mencengkeram sepatu Raymond. “Tuan… aku punya keluarga… aku mohon…”Raymond menatap ke bawah, lalu—tanpa ragu—menarik pelatuk.DOR!Suara tembakan menggema memecah malam.Tubuh Ny. Eva terhempas ke aspal. Darah mengalir cepat, gelap, menggenang di bawah tubuhnya yang tak lagi bergerak.Clara menjerit. Tangannya menutup mulutnya sendiri, air mata mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Dadanya se
“Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya terbuka, membuat semua pasang mata keranjang menatapnya seperti singa kelaparan. “Barang baru, ya?”“Masih polos kelihatannya.”“Cantik… sayang kalau cuma sekali pakai.”Seorang pria bertubuh besar, berkepala plontos dengan cincin emas di tiap jari, melangkah maju. Senyum liciknya membuat perut Clara mual.“Yang ini mahal, kan?” katanya pada manager bar. “Aku suka yang begini. Matanya masih hidup.”Clara mundur setapak, nafasnya tersengal. Tangannya mengepal, air mata menggantung di pelupuk mata. Ia ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhnya kaku—terjebak di antara tatapan rakus dan dinding yang tak memberi jalan keluar.Di antara pria-pria mata keranjang itu, matanya yang basah tertancap pad







