Home / Mafia / Menjadi Tawanan Tuan Mafia / Clara, Tawanan Tuan Mafia

Share

Clara, Tawanan Tuan Mafia

Author: Miss Wang
last update Last Updated: 2026-01-13 15:42:14

Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam.

Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban.

Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan.

Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberapa detik di tempatnya, lalu perlahan merosot ke lantai. Kali ini, ia tidak langsung menangis keras. Tangisnya tertahan di dada, seperti beban berat yang tak bisa lagi keluar.

Hari-hari berikutnya kembali sama.

Gelap. Dingin. Sunyi.

Clara mulai kehilangan batas antara siang dan malam. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau. Kadang ia memukul dinding dengan kepalan tangan, kadang ia berteriak sampai suaranya habis, kadang ia hanya menatap kosong ke satu titik berjam-jam.

Ia membenci dirinya sendiri. Membenci ketakutannya. Membenci ketidakberdayaannya.

Namun perlahan, sesuatu di dalam dirinya mulai berubah—bukan menjadi kuat, tapi menjadi mati rasa.

Tangisnya berkurang. Pemberontakannya memudar. Ia mulai makan tanpa menangis, tidur tanpa mimpi, bangun tanpa harapan.

Menerima.

Bukan karena ia ingin. Tapi karena tak ada pilihan lain.

“Aku hanya harus bertahan,” gumamnya suatu malam, memeluk lutut. “Entah sampai kapan.”

Bertahan di basement gelap ini tidak terdengar seperti jalan keluar. Namun, bagi Clara, ini jauh lebih baik daripada harus menahan diri di rumah paman dan bibinya.

Meski keduanya sama-sama terasa seperti penjara bagi Clara, tetapi setidaknya … ia tidak diperlakukan seperti sebuah benalu yang selalu dihina. Meski gelap dan dingin, Clara bisa mendapat setitik ketenangan di sini.

Sebenci apapun ia mengakuinya, segila apapun kedengarannya, Clara lebih baik berada di sini daripada di rumah sang paman.

Seminggu kemudian, pintu basement terbuka lebih lama dari biasanya.

Clara yang sedang duduk memeluk lututnya tersentak kaget. Cahaya terang menyilaukan matanya. Ia mengangkat tangan menutupi wajah, jantungnya berdegup kencang.

“Bangun,” perintah salah satu anak buah.

Clara berdiri dengan kaku.

“Ikuti aku,” perintah anak buah itu lagi.

Clara tidak bertanya. Tidak berani.

Matanya berkeliling, aneh sekaligus takut. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu kristal besar di langit-langit. Segalanya terasa terlalu mewah bagi Clara.

Ia menahan nafas. Begitu memasuki aula utama, seorang wanita paruh baya melangkah maju. Wajahnya tegas namun hangat, rambutnya disanggul rapi, pakaiannya sederhana tapi anggun.

Tatapan wanita itu kemudian jatuh pada Clara. Clara seolah dapat menangkap keterkejutan di sana dan rasa ingin tahu yang jelas.

Ia pun tiba di lantai dua. Sebuah lorong panjang terbentang sunyi. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan mahal, lampu temaram menciptakan bayangan panjang.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar.

“Masuk.”

Clara melangkah masuk perlahan.

Raymond sudah ada di sana.

Ia berdiri di dekat jendela, mengenakan setelan hitam rapi. Di sofa tergeletak beberapa kantong belanja eksklusif, kotak sepatu, dan sebuah gaun yang masih terbungkus plastik.

Raymond menoleh saat mendengar langkahnya.

Tatapannya langsung menyapu Clara dari atas ke bawah—wajah pucat, tubuh kurus, mata yang kehilangan kilau. Sesuatu melintas di matanya, cepat, lalu menghilang.

“Mandi,” katanya singkat. “Pakai baju yang sudah disiapkan.”

Clara membeku. “U-untuk apa?”

Raymond berhenti tepat di depannya. Tingginya membuat Clara otomatis menunduk.

“Lakukan saja perintaku,” ucapnya dingin. “Kau hanya perlu menjaga sikap.”

Clara akhirnya mengangguk pelan.

Ia berbalik menuju kamar mandi dengan langkah ragu, membawa gaun itu. Di dalam dadanya, ketakutan bercampur dengan kebingungan. Ia tak tahu permainan apa yang sedang dijalankan pria itu—dan peran apa yang kini dipaksakan padanya.

Namun satu hal ia tahu pasti.

Basement telah mengajarinya satu hal:

Untuk bertahan hidup di dunia Raymond Antonio, ia harus patuh.

Air hangat mengalir membasahi tubuh Clara, membawa serta sisa-sisa dingin basement yang masih menempel di kulitnya.

Uap memenuhi kamar mandi, membuat napasnya sedikit lebih lega—meski hanya sesaat.

Ia memejamkan mata.

Basement itu masih ada di kepalanya. Bau lembap. Dinding dingin. Sunyi yang menekan sampai ia nyaris gila.

Clara mematikan air, meraih handuk tebal berwarna putih gading. Tangannya sedikit gemetar saat melilitkan kain itu ke tubuhnya.

Di rak marmer, sebuah kotak terbuka memperlihatkan gaun yang disiapkan Raymond.

Gaun itu… indah.

Kainnya halus, berkilau lembut di bawah lampu. Potongannya elegan, sederhana namun jelas mahal. Warna gelap yang anggun, menegaskan lekuk tanpa terlihat murahan.

Clara menelan ludah.

Dengan gerakan ragu, ia mengenakan gaun itu. Resletingnya menutup dengan mulus di punggungnya, pas—seolah gaun itu memang dibuat untuk tubuhnya. Ia melangkah mendekat ke cermin.

Pantulan di hadapannya membuatnya terdiam.

Gadis itu tampak asing.

Rambut cokelat panjangnya masih sedikit basah, jatuh lembut di bahu. Wajahnya pucat, tapi mata hazelnya terlihat lebih hidup di bawah cahaya.

Clara menghela napas panjang, lalu membuka pintu kamar mandi.

Raymond masih duduk di sofa, satu kaki disilangkan, punggung tegak. Ia tidak langsung menoleh. Baru ketika Clara melangkah dua langkah ke dalam ruangan, tatapan pria itu terangkat sekilas.

Hanya sekilas.

Clara merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Tatapan itu dingin, menilai, menimbang—seperti biasa. Tidak ada pujian. Tidak ada reaksi berlebihan.

Raymond mengalihkan pandangannya salah satu pelayannya.

“Urusi dia. Cepat.”

“Baik, Tuan.”

Clara ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya tertahan. Ia menurut ketika pelayan itu menuntunnya ke kursi rias. Tangan-tangan cekatan mulai bekerja—menyisir rambutnya, mengeringkannya, mengikat sebagian dengan anggun. Wajah Clara disentuh lembut dengan kuas dan bedak, lipstik berwarna lembut dioleskan ke bibirnya.

Ia duduk diam, menatap pantulan dirinya yang terus berubah.

Beberapa menit kemudian, pelayan itu melangkah mundur.

“Sudah, Tuan.”

Clara berdiri perlahan.

Clara berbalik, melangkah sedikit dan berhenti tepat di hadapan Raymond. Gaun itu jatuh sempurna mengikuti gerak tubuhnya. Anting kecil berkilau di telinganya. Sepatu hak rendah membungkus kakinya.

Ia tampak… anggun. Cantik. 

Raymond pun berdiri.

Kali ini, tatapannya bertahan lebih lama.

Tidak terlalu lama—namun cukup untuk membuat Clara menahan napas. Wajah pria itu tetap datar, rahangnya mengeras sedikit. Tidak ada senyum. Tidak ada pujian. Hanya keheningan yang sarat makna.

“Kita berangkat,” katanya akhirnya.

Clara menelan ludah. “Sebenarnya… kita akan kemana?”

Raymond meraih jasnya. Ia tidak menjawab.

Salah satu anak buah Raymond menghampiri Clara. Anak buah itu berbisik, “Ke kediaman Tuan Charles. Ayah Tuan Raymond.”

Clara membeku.

“A-ayah?” Ia mengumpulkan keberanian. “Tuan Raymond… kenapa aku harus ikut?”

Raymond terhenti. Ia menoleh, tatapannya tajam. “Kau akan berpura-pura menjadi kekasihku.”

“Apa?” Clara tersentak, suaranya meninggi tanpa sadar. “Tapi—”

Raymond melangkah mendekat dalam dua langkah panjang. Jarak mereka menyempit drastis. Aura pria itu menekan, membuat Clara otomatis mundur setengah langkah.

“Dengar baik-baik,” ucapnya rendah. “Aku tidak meminta pendapatmu.”

Jari Raymond terangkat, menunjuk ke arahnya—tidak menyentuh, tapi cukup membuat Clara membeku. “Satu kesalahan kecil. Satu sikap yang tidak pantas. Dan kau akan kembali ke basement itu.”

Wajah Clara memucat.

“Kau tahu konsekuensinya,” lanjut Raymond dingin.

Clara membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kata-kata mati di tenggorokannya. Ia mengangguk pelan, nyaris tak terlihat.

“Baik…”

Raymond menatapnya beberapa detik lagi, lalu berbalik. “Ingat,” katanya sambil melangkah pergi.

“Sejak aku membayarmu, kau adalah tawananku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lyren Kael
Clara mulai ditawan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bingung

    Dokter itu menatap Clara beberapa detik, lalu kembali menoleh pada Raymond.“Bagaimana?” tanya Raymond, suaranya datar namun menekan.Dokter itu tersenyum tipis. “Tuan, Nona—”Ddrrrttt… Ddrrttt…Ponsel di saku celana Raymond bergetar, memotong kalimat yang belum selesai dari dokter itu. Getaran itu terdengar keras di ruangan yang hening.Raymond mengangkat tangan, memberi isyarat pada dokter agar menunggu.Ia segera mengeluarkan ponselnya. Nama yang terpampang di layar membuat rahangnya megeras—Tuan Viktor.Tanpa berkata apa-apa, Raymond berbalik dan keluar dari kamar Clara sambil mengangkat telepon itu. Pintu ruangan itu tertutup.Begitu suara langkah Raymond menjauh, Clara refleks bangkit sedikit dari ranjang dan meraih tangan dokter.“Dok… tolong,” bisiknya cepat, suaranya sedikit gemetar. “Tolong jangan beri tahu Tuan Ray jika aku hamil.”Dokter itu terkejut. “Tapi, Nona—”“Tolong…” mata Clara berkaca-kaca. “Aku akan bicara padanya nanti. Hanya saja… untuk sekarang aku belum siap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Benih Cinta

    Di dalam kamar VIP Hotel Gerald, lampu kristal redup memantulkan cahaya keemasan di dinding marmer. Tirai tebal menutup rapat di jendela, meredam semua hiruk-pikuk di luar ruangan. Beberapa saat sebelumnya, ruangan itu dipenuhi desahan tertahan dan bisikan-bisikan penuh nafsu yang kini telah mereda. Yang tersisa hanya suara napas yang masih terengah, dan perlahan kembali normal.Di bawah selimut putih yang sama, dua sosok duduk santai, punggung mereka bersandar ke dipan ranjang—Adrian dan Sofia. Adrian duduk di sisi kanan ranjang, dan Sofia di sisi kiri, keduanya mengangkat rokoknya ke bibir, mengisapnya dalam, lalu menghembuskan asap perlahan ke langit-langit.Asap rokok mengepul tipis di udara.“Jadi,” suara Adrian rendah, santai namun tajam, “apa rencanamu selanjutnya?”Sofia tersenyum tipis tanpa menoleh. Asap rokoknya masih melayang di udara.“Raymond sudah percaya dengan diagnosis palsu itu,” jawabnya tenang. “Keinginanku sekarang hanya satu.” Sofia terdiam sejenak. Tatapann

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Garis Dua

    Kakinya melemas. Ia terhuyung setengah langkah ke belakang dan bersandar pada dinding kamar mandi.Dua garis merah jelas terpampang.Tangannya refleks menutup mulut. “Aku…” napasnya tercekat. “Hamil…”Tubuh Clara gemetar. Dunia terasa berputar terlalu cepat, lalu tiba-tiba melambat tanpa ampun. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan.“Hamil…” ulangnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.Air matanya jatuh satu per satu, tanpa isak, tanpa suara. Dengan tangan gemetar, ia membuka kancing blusnya. Pakaian itu terasa menyesakkan. Ia melepaskannya perlahan, lalu rok yang ia kenakan. Semuanya jatuh ke lantai kamar mandi.Ia melangkah masuk ke dalam bathtub. Air dingin menyentuh kulitnya, membuat tubuhnya sedikit tersentak. Ia bersandar pada dinding porselen, lututnya ia lipat ke dada.Sementara tes kehamilan itu masih ada di tangannya. Ia meletakkannya di pinggir bathtub, tetapi matanya tak lepas dari garis dua pada alat itu. “Bagaimana ini…” bisiknya putus a

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tes Kehamilan

    Senyum di wajah Sofia perlahan melebar. Namun sorot matanya berubah ketika ia menoleh ke arah pintu tempat Clara tadi menghilang.“Raymond,” ucapnya ragu. “Aku ingin bicara tentang wanita itu.”Raymond yang baru saja mengangkat cangkir kopinya berhenti sejenak. “Jangan campurkan urusan kita dengan dia,” katanya dingin. Sofia terdiam sesaat, tetapi ia belum menyerah. “Kenapa, Ray? Aku hanya—”“Aku tak ingin membahasnya,” potong Raymond lagi. Suaranya tidak keras, tetapi tegas dan tak terbantahkan. “Jika kau tak suka, silakan pergi.”Ucapan itu seperti tamparan bagi Sofia. Sofia memaksakan senyumnya, meski jantungnya terasa diremas. “Tidak, Ray… aku akan ikut perkataanmu.”Tangannya terulur, memegang lengan Raymond dengan lembut, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar nyata dan kini kembali menjadi miliknya.Raymond tidak menepisnya, tetapi juga tidak menoleh. Ia kembali menyantap makanannya dengan wajah datar.Sofia menunduk. ‘Dia bukan Raymond yang sama. Dulu, dia selalu menur

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   CLBK

    Clara masih menatap bayangannya di cermin beberapa detik setelah rasa mual itu mereda sedikit. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dadanya yang terasa sesak.Perlahan ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya gontai, pandangannya sedikit berkunang-kunang.“Sepertinya aku masuk angin…” gumamnya pelan.Ia berjalan terhuyung menuju ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Selimut ditarik hingga menutup bahunya. Ia berbaring menyamping, kedua tangannya masih memegang perutnya yang terasa tidak nyaman.Kepalanya terasa berdenyut. Tak lama, matanya terpejam dan nafasnya perlahan teratur. ***Beberapa jam berlalu.Di ruang kerja yang sunyi, Raymond duduk di balik meja. Berkas-berkas bisnis terbuka di hadapannya. Ia menandatangani satu demi satu dokumen dengan wajah serius. Sofia masih ada di sana.Ia duduk dengan tenang di kursi dekat jendela sambil menyeruput teh hangat. Beberapa detik kemudian suara ketukan terdengar.“Masuk

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mual

    Raymond tersentak, tangannya refleks mencengkeram bahu Sofia dan mendorongnya menjauh.“Apa yang kau lakukan?” suaranya tajam, napasnya sedikit memburu.Sofia terhuyung setengah langkah. Ia terengah, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku hanya ingin kau ingat,” bisiknya dengan suara pecah. “Ingat bagaimana rasanya… dan aku tahu kau masih mencintaiku, Ray. Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri.”Di ujung lorong, Clara mundur selangkah. Pandangannya kabur oleh air mata yang nyaris jatuh. Ia berbalik cepat—tapi, tanpa sengaja bahunya menyenggol sebuah guci porselen tinggi di sudut lorong.Guci itu bergoyang dan hampir jatuh, membuat Raymond dan Sofia serentak menoleh ke arah Clara berdiri. “Kau menguping.” suara Raymond menggelegar, bukan karena marah, tapi lebih ke terkejut.Clara seketika membeku. Ia memejamkan mata lalu membukanya kembali, bibir bawahnya refleks tergigit. Ia langsung berbalik menghadap mereka, wajahnya terlihat pucat.“Tidak… aku tidak sengaja mau lewat, Tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status