Home / Mafia / Menjadi Tawanan Tuan Mafia / Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

Share

Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

Author: Miss Wang
last update Last Updated: 2026-01-14 16:02:47

Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang.

Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuanya menjadi satu. Clara mati-matian menahan agar air matanya tidak jatuh.

Ia menatap pemandangan di luar jendela selagi mobil bergerak menuju kediaman Charles.

***

Mansion Charles Antonio berdiri seperti singgasana dingin yang dibangun dari kesombongan dan darah.

Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya keemasan yang menusuk mata. Udara di dalam terasa berat.

Clara melangkah masuk di sisi Raymond, langkahnya kecil namun dipaksakan stabil.

Tangan Raymond tidak mencengkramnya kali ini. Ia berjalan setengah langkah di depan Clara—cukup dekat untuk mengendalikan namun cukup jauh untuk menegaskan jarak.

Clara merasa seperti bayangan.

Di ujung ruangan utama, Charles Antonio berdiri menunggu.

Tubuhnya tegap, jasnya sempurna, wajahnya keras seperti pahatan batu tua yang tak mengenal retak. Di sebelahnya berdiri seorang wanita muda bergaun anggun—cantik, tenang.

Itu…

“Ellen Baker,” Charles memperkenalkannya ketika Raymond tiba di hadapannya. “Kau pernah bertemu sebelumnya bukan, Raymond?”

Raymond mengangguk, tatapannya datar. Sementara wanita cantik itu mengulas senyum dan menunduk sopan.

Charles menyilangkan tangan di depan dada. Tatapannya lalu menyapu Raymond, lalu berhenti di Clara. Charles seolah baru sadar ada sosok lain di sini.

Ada jeda. Senyum tipis muncul—bukan senyum ramah, melainkan senyum orang yang sedang menilai barang.

“Raymond,” ucapnya akhirnya. “Kau membawa… tamu?”

Raymond berhenti. Ia berdiri lurus, bahunya tegak, wajahnya kosong.

“Bukan tamu,” jawabnya datar.

Charles mengangkat alis. “Lalu?”

Raymond menoleh sedikit, menatap Clara. Tatapan itu dingin—tidak menenangkan, tidak melindungi. Namun Clara tahu itu tatapan yang memerintah.

“Dia kekasihku,” katanya.

Pernyataan itu membuat seluruh ruangan seketika membeku.

Clara merasakan darahnya seperti berhenti mengalir. Ia menahan napas, memaksa wajahnya tetap tenang meski dadanya berguncang hebat. Ini bukan sandiwara romantis, melainkan sadis.

Charles menatap Raymond lama. Lalu perlahan, tatapannya beralih pada Clara. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tanpa empati.

“Jangan bercanda,” ucap Charles akhirnya. Bukan pertanyaan.

Raymond menggeleng. “Aku tidak sedang bercanda.”

Charles tertawa pelan. Suaranya rendah, dingin. “Menarik.”

Charles melangkah mendekat, langkahnya terukur. Setiap hentakan sepatu mahalnya di lantai marmer terdengar seperti hitungan waktu.

“Kau tahu,” katanya sambil berhenti tepat di hadapan Clara. Ia menoleh ke Raymond, “aku sudah menyiapkan masa depanmu jauh sebelum kau bisa memilih.”

Raymond tidak bergeming. “Aku tidak pernah meminta.”

Charles mengernyitkan dahi, menatap mata Raymond tajam. Mata mereka bertabrakan—dua pasang mata yang sama-sama gelap, sama-sama keras.

“Perjodohan ini bukan soal perasaan,” lanjut Charles, suaranya mengeras. “Ini tentang kekuasaan. Aliansi. Stabilitas.”

Raymond mendekat setengah langkah. “Dan aku tidak tertarik.”

Ellen akhirnya bicara. Suaranya lembut, terkontrol. “Tuan Raymond, jika ada kesalahpahaman, kita bisa membicarakannya—”

Raymond menoleh.

Tatapannya membuat Ellen terdiam seketika.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan,” kata Raymond dingin.

Charles mengepalkan rahangnya. Otot di pelipisnya berdenyut. Amarah jelas terlihat—namun ditahan dengan disiplin seorang raja tua yang tahu kapan harus mundur untuk menyerang lagi.

“Kau mempermalukanku di rumahku sendiri,” katanya pelan, namun cukup berbahaya.

Raymond tidak berkedip. “Aku hanya meluruskan.”

Charles menghela napas panjang.

Ia menatap Clara lagi, kali ini lebih tajam.

“Siapa namamu?” tanyanya pada Clara.

Clara membuka mulut. Tenggorokannya kering. “Clara…,” jawabnya sedikit bergetar.

“Hanya Clara?” Charles tersenyum tipis. “Tidak ada nama belakang?”

Raymond menjawab sebelum Clara sempat berpikir. “Itu tidak penting.”

Charles menatap putranya tajam. “Semua hal penting, Raymond. Termasuk dari mana dia berasal.”

“Itu menjadi urusanku,” balas Raymond dingin.

Keheningan kembali turun.

Charles menatap Raymond lama. Sangat lama. Tatapannya seperti seseorang yang sedang mencari celah.

Namun yang ia hadapi bukan lagi anak yang bisa dibengkokkan.

Akhirnya, Charles tersenyum.

Senyum yang membuat bulu kuduk Clara meremang.

“Baik,” katanya. “Jika itu pilihanmu.”

Ellen menoleh cepat. “Tunggu, Tuan Charles—”

Charles mengangkat tangan. Isyarat berhenti.

“Kita hentikan perjodohan ini,” lanjutnya.

Raymond mengangguk sekali.

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik, memberi isyarat singkat pada Clara.

Dan Clara tahu itu adalah bentuk perintah bagi dirinya untuk mengikuti Raymond.

Mereka meninggalkan ruangan itu dalam diam.

Begitu pintu besar tertutup di belakang mereka, napas Clara terasa lebih berat. Tangannya dingin. Kakinya gemetar.

Di luar, malam terasa menusuk.

Clara mengikuti langkah lebar Raymond kembali ke mobil.

Mobil melaju meninggalkan mansion Charles, gerbang besi menutup perlahan di belakang mereka—seperti rahang yang menunggu waktu untuk kembali membuka.

Di dalam mobil, keheningan kembali merajai.

Clara duduk tegak, tangannya saling menggenggam. Wajahnya tenang, namun dadanya bergemuruh. Ia menoleh perlahan, mencuri pandang ke arah Raymond.

Wajah pria itu keras. Dingin.

Ada rasa benci di dada Clara. Pada pria ini. Pada caranya mempermainkan hidup orang lain. Pada kekuasaan yang membuatnya tak tersentuh.

Tapi, ada juga rasa takut.

Takut pada apa yang akan terjadi selanjutnya.

Raymond tak menoleh. Tapi entah dari mana pria itu seolah dapat merasakan tatapan Clara.

“Berhenti menatapku,” katanya tiba-tiba, suaranya rendah.

Clara menelan ludah. “Maaf.” Ia terdiam sejenak lalu dengan ragu bertanya, “Tuan, kenapa anda melakukan ini?”

Mendengar itu, Raymond akhirnya menoleh sekilas. Tatapannya menusuk, dingin, dan berbahaya.

“Bukan urusanmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
desisa
dingin amat pak, kek kulkas...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bisnis Berlian

    Adrian menatap Ken lama, dengan sorot mata yang tajam dan penuh hitung-hitungan. Udara di sekitar mereka seolah membeku. Ujung pistol itu masih dingin di dahi Ken, membuat denyut nadi Clara melonjak. Jari-jarinya gemetar saat menahan napas, takut satu gerakan kecil saja akan memicu sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.Lalu tiba-tiba Adrian tertawa. Suaranya rendah, santai, nyaris mengejek keadaan barusan. Ia menurunkan pistol itu perlahan, seakan semua hanyalah lelucon kecil.“Kau masih setia seperti dulu, Ken,” ucapnya sambil menepuk bahu Ken dengan akrab, seolah tak pernah ada ancaman barusan. “Aku tahu Raymond tak akan pernah membiarkanku mendekati miliknya.”Kata miliknya membuat Clara membeku. Adrian mengalihkan pandangan ke arahnya, menatapnya sejenak dengan senyum yang sulit dibaca—terlalu tenang untuk disebut ramah.“Baiklah,” katanya ringan, “aku yakin kau bisa mengatasinya, Ken.”Ia melangkah mundur, lalu masuk kembali ke mobilnya, sebelum pintu tertutup, ia melirik Clara

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tumbuh Rasa

    Nama itu masih menggema di kepala Raymond bahkan setelah ia membuka mata. Nama yang tak pernah ia ucapkan lagi. Ia menegakkan tubuh, menarik napas dalam, lalu bangkit, melangkah ke sisi jendela. Tatapannya kosong dan dingin. Beberapa jam berlalu, Clara baru saja pulang dari kampus. Raymond yang sedang membaca koran reflek memanggilnya. “Kau—,” Namun terhenti.Clara menoleh. “Ya, Tuan?” Raymond terdiam, ia menundukkan pandangan lalu mengangkatnya kembali. “Aku tak memanggilmu,” ucapnya dingin lalu kembali membaca koran dengan wajah serius. “Oh, iya,” balas Clara, ia kembali berjalan menuju lantai atas. Sudut mata Raymond diam-diam menatap Clara sekilas lalu kembali pada korannya. Ken menggaruk kepala, heran. Keesokan harinya, saat Clara sarapan, secangkir teh hangat dan makanan kesukaan Clara sudah ada di meja sebelum ia duduk. Namun Raymond tak ada di sana. “Tuan Ray kemana, Bu?”“Tuan ada pekerjaan, sarapanlah, Tuan Ray menyuruhku menyiapkan sandwich untuk sarapan.”Clara ter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rekan Lama

    Pria itu berhenti tepat di depan Clara, jaraknya cukup dekat untuk membuat gadis itu menahan napas. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu di sana—tajam dan menimbang.“Aku Adrian,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan matang. “Adrian Khil. Rekan lama Raymond.”Ia mengulurkan tangan, gerakannya santai namun penuh kendali.Clara menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang ia mau. Ia mengangguk sopan, jemarinya terangkat hendak membalas uluran itu—“Lama tak bertemu.” Suara Raymond memotong. Clara terkejut. Tangannya berhenti di tengah. Ia langsung menoleh.Raymond sudah berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajahnya tenang, namun sorot matanya keras, seperti peringatan yang tak perlu diucapkan dua kali.“Sudah lama sekali, Adrian,” lanjut Raymond datar.Adrian menoleh, alisnya terangkat tipis. Senyum kecil tersungging di bibirnya, senyum orang yang senang menemukan lawan lama. “Kupikir kau akan menyambutku dengan pelukan.”Raymond tidak membalas senyum itu. Ia mengangkat ta

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ellen Masuk Jurang

    Lampu belakang mobil Ellen menembus gelapnya malam. Ken dan dua mobil pengawal mengejar tanpa jarak, mesin meraung keras, ban berdecit menyayat aspal. Mobil itu menuju pegunungan. Jalanan semakin menyempit, tikungan demi tikungan datang tanpa ampun. Ellen memacu mobilnya semakin liar, lampu sein tak pernah menyala, tubuh kendaraan oleng setiap kali ia memaksa berbelok.“Dia sungguh nekat,” gumam Ken, rahangnya mengeras. “Jangan lepaskan jarak.”Satu tikungan tajam muncul terlalu cepat.Mobil Ellen terlambat mengerem.Teriakan logam terdengar ketika ban kehilangan cengkeraman. Mobil itu menghantam pembatas jalan, terpental, lalu terjun bebas ke jurang. Waktu seolah melambat—lampu belakang berputar di udara, lalu lenyap ditelan gelap.DUA DETIK SUNYI.Ledakan membelah malam.Api menyembur dari dasar jurang, menjilat pepohonan di sekitarnya. Panas terasa hingga ke jalan. Ken menghentikan mobil, lalu ia turun dengan napas berat, menatap kobaran api yang masih bergolak.“Tidak mungkin dia

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kuasa Raymond

    Suara rem berdecit keras memecah malam di depan Mansion Raymond.Deretan mobil hitam berhenti nyaris bersamaan, lampu depan menyapu halaman yang sudah porak-poranda. Pintu terbuka serempak. Raymond turun lebih dulu—jasnya terbuka, langkahnya mantap, wajahnya tenang dengan mata yang menyala dingin. Anak-anak buahnya menyebar di belakangnya, senjata terangkat dengan formasi rapi.Satu sosok melompat dari balik pilar.DOR!Satu tembakan saja dari Raymond membuat tubuh itu terhempas ke tanah sebelum sempat berteriak.Raymond terus maju.Satu lagi menghadang, mencoba mengayunkan popor senjata. Raymond menangkis, pukulannya menghantam rahangnya, suara tulang retak—pria itu tumbang seketika. Anak buah Ellen yang ketiga mengangkat senjata. Namun secepat kilat pistol Raymond menghunus. DOR!Darah memercik ke dinding marmer. Tubuh pria itu jatuh tanpa suara.“Amankan perimeter!” perintah Raymond singkat.“Siap, Tuan!” sahut anak buah serempak.Raymond berbelok, menuruni tangga menuju ruang b

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mansion Raymond diserang

    Di Mansion Raymond, malam pecah seperti kaca yang dilempar ke lantai marmer.Dentuman senjata terdengar pertama kali di gerbang. Lampu taman padam satu per satu. Bayangan bergerak cepat di antara pepohonan, lalu teriakan menyusul.“SERANG!”Anak buah Ellen datang seperti gelombang gelap—liar, terlatih, dan penuh amarah. Penjaga Raymond menyambut mereka tanpa ragu. Pukulan beradu dengan pukulan, suara tulang beradu, senjata api meletup pendek, teredam oleh dinding tebal mansion.“Lindungi Mansion!” teriak salah satu ketua anak buah Raymond.“Jangan biarkan mereka masuk!” balas yang lain.Di dalam, Bu Eli dan para pelayan berlari tertatih di lorong belakang. Dada mereka naik turun, matanya panik. “Astaga… astaga…” gumam Bu Eli, tangannya gemetar memegangi dinding. Ia mendengar teriakan yang memekakkan telinga. Pintu samping tiba-tiba runtuh. Tiga pria menerobos masuk, wajah dingin dan matanya tajam. “Cari ruang bawah tanah,” perintah salah satunya singkat.Bu Eli terhenti. “Jangan—!”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status