LOGINTak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond.
Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang. Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama. “Jaga pandanganmu,” bisik Ken. Pria itu langsung menunduk. Tapi ujung matanya tertuju pada punggung gadis cantik yang menjauh. Clara menahan nafas. Begitu memasuki aula utama, seorang wanita paruh baya melangkah maju. Wajahnya tegas namun hangat, rambutnya disanggul rapi, pakaiannya sederhana tapi anggun. “Tuan Ray,” ucapnya hormat. Raymond hanya melintas tanpa menoleh. “Siapkan makan malam.” Wanita itu mengangguk. “Baik, Tuan.” Tatapan wanita itu kemudian jatuh pada Clara. Clara hanya mengangguk sedikit, ia melihat Raymond yang berjalan lurus. Clara kembali mengekori langkahnya. Namun di balik punggungnya, samar-samar ia tangkap suara para pelayan yang penuh tanya. “Sebenarnya, siapa gadis itu?” Ia pun tiba di lantai dua. Tiba-tiba Raymond berhenti. Clara sontak menabrak punggungnya yang lebar dan keras. “A-ah—maaf!” serunya refleks. Raymond berbalik. Tatapannya menyapu Clara dari ujung rambut hingga ujung kaki, perlahan, tajam, membuat jantungnya terasa diremas. Raymond meraih gagang pintu di sampingnya. Klik. Pintu terbuka. Dengan langkah ragu, Clara masuk ke dalam kamar itu. Ruangan itu luas. Terlalu luas untuk disebut kamar biasa. Tempat tidur besar dengan sprei gelap berada di tengah, jendela besar menghadap taman, sofa kulit di sudut ruangan, dan lampu gantung redup menciptakan suasana sunyi yang mencekam. Jantung Clara berdegup begitu keras hingga ia takut terdengar. Ia berdiri kaku di tengah ruangan. Raymond menyusul masuk. Klik. Pintu terkunci. Suara kunci itu terdengar seperti vonis, membuat Clara membeku total. Di hadapannya, Clara dapat melihat Raymond menanggalkan luaran jas yang dikenakan. Clara dibuat semakin membeku atas pemandangan itu. Tubuh Clara gemetar ketika ia melihat Raymond membuka dua kancing kemejanya, memperlihatkan kulit mulus lehernya. Pikiran Clara lantas berputar liar. Nafasnya memburu. Tangannya gemetar hebat. Ia berbalik perlahan, menatap Raymond dengan mata berkaca-kaca. “A-aku… aku mohon,” suaranya pecah. “Apa pun yang kau mau, aku bisa—aku bisa bekerja. Aku bisa membersihkan rumah, melakukan apa saja. Tapi jangan—” Raymond melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Clara mundur refleks hingga punggungnya menyentuh meja kecil di belakangnya. “Kau terlalu banyak bicara,” ucap Raymond dingin. Ia berhenti tepat di depannya. Jarak mereka hanya beberapa inci. Clara bisa mencium aroma maskulin yang dingin, melihat gurat tajam rahangnya, merasakan tekanan dari kehadirannya. Raymond lalu menoleh ke arah kasur. Ada sebuah gaun tidur berwarna merah yang dilipat rapi. “Pakai itu.” “A-aku—” “Sekarang.” Nada suara pria itu tak memberi ruang bantahan. Clara menelan ludah. Ia mengambil gaun tidur itu dengan tangan yang gemetar lalu berjalan tertatih ke kamar mandi. Tangannya masih gemetar saat memegang gagang pintu. Pintu lalu tertutup. Clara bersandar di baliknya, nafasnya terengah, air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia menggenggam dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. Clara berdiri terpaku di dalam kamar mandi yang luas itu. Uap air masih mengepul tipis, memburamkan cermin di hadapannya. Clara membentangkan gaun itu. Gaun tidur berwarna merah menyala, namun begitu tipis. Tangannya gemetar saat menyentuh kain itu. Dingin. Halus. Dan terasa… salah. Kepalanya langsung dipenuhi pikiran buruk. Nafasnya tercekat, dadanya naik turun cepat. “Kenapa… harus begini?” bisiknya lirih. Tak ada pakaian lain. Tak ada pilihan. Ia menutup mata sesaat, menelan pahit yang menggumpal di tenggorokan. Perlahan, dengan tangan yang tak berhenti gemetar, Clara mengenakan gaun itu. Kainnya jatuh ringan membalut tubuhnya, terlalu pendek, terlalu terbuka. Ia segera meraih kimono tipis yang tergantung di balik pintu dan menyampirkannya menutupi tubuhnya Saat keluar dari kamar mandi, jantungnya berdegup lebih kencang. Tapi kamar itu kosong. Raymond sudah tidak ada di sana. Clara menghembuskan nafas panjang, hampir terisak lega. Lututnya terasa lemas, dan ia duduk perlahan di tepi ranjang. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Segalanya begitu… mewah. Dinding berlapis kayu mahal, karpet tebal yang empuk di kaki, lampu temaram yang hangat, aroma khas yang maskulin namun bersih. Namun, itu adalah kontras yang menyakitkan. Di tempat semegah ini, ia justru merasa paling kotor. Paling tak berdaya. “Tawanan…” bisiknya getir. Kata itu terasa menghantam dadanya sendiri. Air mata menetes tanpa bisa dicegah. Ia mengusapnya kasar, marah pada dirinya sendiri karena lemah. Semua itu terjadi begitu cepat, seolah semesta tak memberinya waktu untuk bernafas. Tok. Tok. Tok Clara tersentak saat pintu diketuk pelan. “Nona,” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu. “Tuan Ray menunggu anda.” Clara menelan ludah. “Baik…” Pintu terbuka, menampakkan wanita paruh baya yang tadi ia lihat di aula. Wajahnya tenang, sorot matanya lembut tapi penuh wibawa. “Saya Bu Eli,” ucapnya singkat. “Ikut saya.” Clara mengangguk kecil dan mengikuti langkah wanita itu. Kaki-kakinya terasa berat saat menuruni tangga besar. Mereka tiba di ruang makan. Clara tertegun. Ruang itu luas, meja panjang dari kayu gelap berkilau di tengah, kursi-kursi berukir elegan, lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut. Hidangan tersaji rapi, aromanya menggoda—steak, sup hangat, roti, buah, anggur. Di ujung meja, Raymond duduk tegak, punggungnya lurus, ekspresinya dingin seperti patung batu. Tatapan itu kembali membuat perut Clara melilit. Ia duduk di seberang, tangan terlipat gugup di pangkuan. Sementara itu, Bu Eli dengan cekatan menuangkan air ke gelas Raymond. “Minumlah, Tuan. Akhir-akhir ini Anda kurang istirahat.” Raymond tak menjawab. Ia hanya mengangkat gelas, meneguknya sekali, lalu meletakkannya kembali. Bu Eli lalu menuangkan air ke gelas Clara. “Silahkan, Nona.” Clara mengangguk kecil. “Terima kasih, Bu.” Seisi ruang kembali hening. Hanya suara sendok yang menyentuh piring terdengar nyaring. Clara menatap hidangan di depannya, bingung harus mulai dari mana. Tangannya gemetar ketika hendak mengambil alat makan. “Makan,” suara Raymond memecah kesunyian. Perintah itu lebih terdengar seperti ancaman. Clara tersentak, refleks mengambil potongan daging dan memotongnya asal, lalu memasukkannya ke mulut. Raymond menatapnya dingin. “Kau harus bertenaga,” katanya datar. “Karena mungkin kau akan melayaniku malam ini.”DOR!Pintu besi itu bergetar hebat.Raymond berdiri tepat di baliknya.Jas hitamnya sedikit basah akibat hujan. Rambutnya masih menyimpan titik-titik air, tetapi tatapannya sama sekali tidak menunjukkan kelelahan.John berdiri di sebelahnya bersama beberapa pengawal.“Buka pintunya.”Tidak ada jawaban.Raymond mengangkat tangan.“Hitung sampai tiga.”John langsung memberi isyarat.“Satu…”DOR!Sebelum hitungan selesai, salah seorang pengawal menghantam pintu dengan bahunya.Kunci pintu patah.Pintu terbuka keras.Raymond langsung masuk.Matanya bergerak cepat menyapu ruangan.Ken terbaring di atas ranjang.Wajahnya pucat.Di sebelahnya berdiri seorang pria berkemeja putih.Raymond mengenal wajah itu dari kartu identitas yang ditemukan sebelumnya.“Dr. Adrian Cole.”Adrian tidak bergerak.
Hujan mulai turun ketika Raymond meninggalkan ruangan rahasia.Titik-titik air menghantam kaca-kaca tinggi mansion tua itu, menciptakan suara berirama yang justru membuat suasana semakin menekan.John berjalan beberapa langkah di belakangnya.“Tim sudah mulai melacak Dr. Adrian Cole.”“Berapa lama?”“Belum tahu, Tuan.”Raymond berhenti.“Jangan jawab dengan tidak tahu.”John menunduk.“Maaf.”Raymond menatap halaman mansion yang gelap.“Dokter itu menghilang tujuh tahun lalu.”“Ken diculik oleh orang yang menggunakan identitasnya.”“Dan sekarang nama yang sama muncul dalam catatan M-17.”Ia mengusap rahangnya.“Ini bukan kebetulan.”John mengangguk.“Saya juga berpikir begitu.”Raymond kembali berjalan.“Hubungi rumah sakit tempat Ken dirawat.”“Cari semua orang yang pernah menangani operasinya.”
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit.Raymond masih memegang foto lama tersebut. Jemarinya mencengkeram bagian tepinya hingga kertas yang sudah berusia bertahun-tahun itu sedikit melengkung.Tatapannya tidak beralih dari tulisan di belakang foto.AKU TIDAK PERNAH MATI.Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman apa pun.Raymond perlahan mengangkat wajah.“Siapa yang menulis ini?”Tidak ada yang menjawab.Charles berdiri diam.Elena menundukkan kepala.John memperhatikan keduanya dengan waspada.Raymond melangkah mendekati ayahnya.“Aku bertanya sekali lagi.”Suaranya rendah.“Siapa yang menulis ini?”Charles menarik napas panjang.“Aku tidak tahu.”Raymond tertawa hambar.“Menarik.”Ia mengangkat foto tersebut.“Foto ibuku ditemukan di kamar Adriana.”“Di belakangnya
Elena masih berdiri di dekat jendela.Kunci tua itu tersembunyi di dalam genggamannya. Permukaannya dingin, terbuat dari logam tua yang warnanya mulai menghitam dimakan usia.Charles memperhatikannya.“Apa yang kau pegang?”Elena tidak menjawab.Ia justru memasukkan kunci itu lebih dalam ke saku gaunnya.“Tidak ada.”Charles menatapnya curiga.“Jangan bohong kepadaku.”Elena tersenyum tipis.“Bukankah itu yang selama ini kita lakukan?”Charles terdiam.Kalimat tersebut terasa seperti tamparan.Selama bertahun-tahun, Elena telah memberinya cerita tentang Maria. Tentang pengkhianatan. Tentang uang yang disembunyikan. Tentang bagaimana Maria meninggalkan keluarganya.Dan Charles mempercayainya.Terlalu lama.“Aku baru menyadari sesuatu,” ucap Charles pelan.Elena menoleh.“Apa?”“Mungkin selama ini aku tidak pernah me
BAB SELANJUTNYA — KEBENARAN YANG TERSISABagian 2Lorong bawah tanah itu terasa semakin dingin.Raymond berjalan cepat mengikuti John. Suara langkah mereka memantul di antara dinding batu yang lembap, menciptakan gema panjang yang membuat suasana terasa semakin mencekam.Udara berbau tanah basah dan logam tua. Lampu-lampu kecil yang tertanam di dinding menyala redup, beberapa bahkan berkedip seolah sebentar lagi akan mati.“Di depan, Tuan.”John menunjuk sebuah pintu besi yang terbuka setengah.Raymond mempercepat langkah.Dua pengawal berdiri di depan pintu. Begitu melihat Raymond datang, mereka langsung menyingkir.Raymond masuk.Langkahnya mendadak berhenti.Di tengah ruangan, Ken terbaring di lantai batu.Tubuhnya masih mengenakan pakaian rumah sakit. Perban di kepalanya sudah sedikit bergeser, memperlihatkan noda darah kering di dekat pelipis. Kedua tangannya terikat di b
Teriakan John masih menggema di sepanjang lorong bawah tanah.“TUAN RAYMOND!”“KEN DITEMUKAN!”Raymond yang baru saja hendak meninggalkan ruangan rahasia langsung berbalik.Jantungnya berdegup keras.Tanpa membuang waktu, ia berlari mengikuti suara John. Sepatu kulitnya menghantam lantai batu yang lembap, menghasilkan gema panjang di antara dinding-dinding tua. Udara di bawah mansion terasa jauh lebih dingin daripada di lantai atas. Aroma tanah basah, debu, dan sesuatu yang menyerupai obat-obatan memenuhi lorong sempit itu.Beberapa lampu kecil tertanam di dinding, tetapi sebagian berkedip-kedip seolah jaringan listrik bangunan tua tersebut tidak pernah benar-benar diperbaiki.“Di mana dia?” tanya Raymond tanpa memperlambat langkah.“Di ujung lorong, Tuan!”John menunjuk sebuah pintu besi yang terbuka setengah.Dua pengawal berdiri di depannya dengan wajah tegang.Raymond langsung melewati mereka.Begitu memasuki ruangan, langkahnya mendadak terhenti.Ken terbaring di lantai.Tubuhnya
Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan
Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T
Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat
“Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te







