แชร์

Hening dan Tegang

ผู้เขียน: Miss Wang
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-15 16:42:49

Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond.

Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk.

Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.

Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.

“Jaga pandanganmu,” bisik Ken.

Pria itu langsung menunduk. Tapi ujung matanya tertuju pada punggung gadis cantik yang menjauh.

Clara menahan nafas. Begitu memasuki aula utama, seorang wanita paruh baya melangkah maju. Wajahnya tegas namun hangat, rambutnya disanggul rapi, pakaiannya sederhana tapi anggun.

“Tuan Ray,” ucapnya hormat.

Raymond hanya melintas tanpa menoleh. “Siapkan makan malam.”

Wanita itu mengangguk. “Baik, Tuan.”

Tatapan wanita itu kemudian jatuh pada Clara.

Clara hanya mengangguk sedikit, ia melihat Raymond yang berjalan lurus. Clara kembali mengekori langkahnya.

Namun di balik punggungnya, samar-samar ia tangkap suara para pelayan yang penuh tanya.

“Sebenarnya, siapa gadis itu?”

Ia pun tiba di lantai dua.

Tiba-tiba Raymond berhenti.

Clara sontak menabrak punggungnya yang lebar dan keras.

“A-ah—maaf!” serunya refleks.

Raymond berbalik.

Tatapannya menyapu Clara dari ujung rambut hingga ujung kaki, perlahan, tajam, membuat jantungnya terasa diremas.

Raymond meraih gagang pintu di sampingnya.

Klik.

Pintu terbuka.

Dengan langkah ragu, Clara masuk ke dalam kamar itu.

Ruangan itu luas. Terlalu luas untuk disebut kamar biasa.

Tempat tidur besar dengan sprei gelap berada di tengah, jendela besar menghadap taman, sofa kulit di sudut ruangan, dan lampu gantung redup menciptakan suasana sunyi yang mencekam.

Jantung Clara berdegup begitu keras hingga ia takut terdengar.

Ia berdiri kaku di tengah ruangan.

Raymond menyusul masuk.

Klik.

Pintu terkunci.

Suara kunci itu terdengar seperti vonis, membuat Clara membeku total.

Di hadapannya, Clara dapat melihat Raymond menanggalkan luaran jas yang dikenakan. Clara dibuat semakin membeku atas pemandangan itu.

Tubuh Clara gemetar ketika ia melihat Raymond membuka dua kancing kemejanya, memperlihatkan kulit mulus lehernya.

Pikiran Clara lantas berputar liar. Nafasnya memburu. Tangannya gemetar hebat.

Ia berbalik perlahan, menatap Raymond dengan mata berkaca-kaca.

“A-aku… aku mohon,” suaranya pecah. “Apa pun yang kau mau, aku bisa—aku bisa bekerja. Aku bisa membersihkan rumah, melakukan apa saja. Tapi jangan—”

Raymond melangkah mendekat.

Satu langkah. Dua langkah.

Clara mundur refleks hingga punggungnya menyentuh meja kecil di belakangnya.

“Kau terlalu banyak bicara,” ucap Raymond dingin.

Ia berhenti tepat di depannya. Jarak mereka hanya beberapa inci.

Clara bisa mencium aroma maskulin yang dingin, melihat gurat tajam rahangnya, merasakan tekanan dari kehadirannya.

Raymond lalu menoleh ke arah kasur. Ada sebuah gaun tidur berwarna merah yang dilipat rapi. “Pakai itu.”

“A-aku—”

“Sekarang.” Nada suara pria itu tak memberi ruang bantahan.

Clara menelan ludah. Ia mengambil gaun tidur itu dengan tangan yang gemetar lalu berjalan tertatih ke kamar mandi. Tangannya masih gemetar saat memegang gagang pintu.

Pintu lalu tertutup.

Clara bersandar di baliknya, nafasnya terengah, air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.

Ia menggenggam dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar.

Clara berdiri terpaku di dalam kamar mandi yang luas itu.

Uap air masih mengepul tipis, memburamkan cermin di hadapannya.

Clara membentangkan gaun itu.

Gaun tidur berwarna merah menyala, namun begitu tipis.

Tangannya gemetar saat menyentuh kain itu. Dingin. Halus. Dan terasa… salah. Kepalanya langsung dipenuhi pikiran buruk. Nafasnya tercekat, dadanya naik turun cepat.

“Kenapa… harus begini?” bisiknya lirih.

Tak ada pakaian lain. Tak ada pilihan.

Ia menutup mata sesaat, menelan pahit yang menggumpal di tenggorokan. Perlahan, dengan tangan yang tak berhenti gemetar, Clara mengenakan gaun itu.

Kainnya jatuh ringan membalut tubuhnya, terlalu pendek, terlalu terbuka. Ia segera meraih kimono tipis yang tergantung di balik pintu dan menyampirkannya menutupi tubuhnya

Saat keluar dari kamar mandi, jantungnya berdegup lebih kencang.

Tapi kamar itu kosong. Raymond sudah tidak ada di sana.

Clara menghembuskan nafas panjang, hampir terisak lega. Lututnya terasa lemas, dan ia duduk perlahan di tepi ranjang.

Matanya menyapu sekeliling ruangan.

Segalanya begitu… mewah. Dinding berlapis kayu mahal, karpet tebal yang empuk di kaki, lampu temaram yang hangat, aroma khas yang maskulin namun bersih.

Namun, itu adalah kontras yang menyakitkan. Di tempat semegah ini, ia justru merasa paling kotor. Paling tak berdaya.

“Tawanan…” bisiknya getir.

Kata itu terasa menghantam dadanya sendiri.

Air mata menetes tanpa bisa dicegah. Ia mengusapnya kasar, marah pada dirinya sendiri karena lemah.

Semua itu terjadi begitu cepat, seolah semesta tak memberinya waktu untuk bernafas.

Tok. Tok. Tok

Clara tersentak saat pintu diketuk pelan.

“Nona,” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu. “Tuan Ray menunggu anda.”

Clara menelan ludah. “Baik…”

Pintu terbuka, menampakkan wanita paruh baya yang tadi ia lihat di aula. Wajahnya tenang, sorot matanya lembut tapi penuh wibawa.

“Saya Bu Eli,” ucapnya singkat. “Ikut saya.”

Clara mengangguk kecil dan mengikuti langkah wanita itu. Kaki-kakinya terasa berat saat menuruni tangga besar.

Mereka tiba di ruang makan.

Clara tertegun.

Ruang itu luas, meja panjang dari kayu gelap berkilau di tengah, kursi-kursi berukir elegan, lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut.

Hidangan tersaji rapi, aromanya menggoda—steak, sup hangat, roti, buah, anggur.

Di ujung meja, Raymond duduk tegak, punggungnya lurus, ekspresinya dingin seperti patung batu.

Tatapan itu kembali membuat perut Clara melilit.

Ia duduk di seberang, tangan terlipat gugup di pangkuan.

Sementara itu, Bu Eli dengan cekatan menuangkan air ke gelas Raymond.

“Minumlah, Tuan. Akhir-akhir ini Anda kurang istirahat.”

Raymond tak menjawab. Ia hanya mengangkat gelas, meneguknya sekali, lalu meletakkannya kembali.

Bu Eli lalu menuangkan air ke gelas Clara.

“Silahkan, Nona.”

Clara mengangguk kecil. “Terima kasih, Bu.”

Seisi ruang kembali hening. Hanya suara sendok yang menyentuh piring terdengar nyaring.

Clara menatap hidangan di depannya, bingung harus mulai dari mana. Tangannya gemetar ketika hendak mengambil alat makan.

“Makan,” suara Raymond memecah kesunyian. Perintah itu lebih terdengar seperti ancaman.

Clara tersentak, refleks mengambil potongan daging dan memotongnya asal, lalu memasukkannya ke mulut.

Raymond menatapnya dingin.

“Kau harus bertenaga,” katanya datar. “Karena mungkin kau akan melayaniku malam ini.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Wanita di Balik Pintu Saint Rose

    Hujan turun semakin deras.Raymond berdiri di samping mobil sambil menggenggam kertas yang diberikan Rafael.Satu alamat.Satu tulisan tangan.Dan satu nama yang selama bertahun-tahun hanya hidup sebagai kenangan.Maria.Ibunya."Saint Rose..." gumam John.Raymond mengangguk."Siapkan mobil."Clara berdiri beberapa langkah di belakangnya.Wajahnya masih pucat setelah penculikan.Namun kali ini ia tidak terlihat ketakutan.Ia justru menatap Raymond dengan tatapan serius."Kita pergi sekarang?"Raymond menoleh."Ya.""Aku ikut."Raymond langsung menggeleng."Tidak."Clara mengerutkan kening."Kenapa?""Karena aku tidak tahu apa yang menunggu di sana.""Aku juga tidak tahu."Clara melangkah mendekat."Tapi kalau yang kita cari adalah ibumu, aku tidak mau kau pergi

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Jebakan

    Raymond tidak langsung bergerak.Rafael berdiri beberapa meter di depannya.Wajah pria itu terlihat lebih pucat dibandingkan saat terakhir mereka berbicara melalui telepon. Ada luka kecil di pelipisnya dan darah mengering di kerah bajunya.Raymond mengangkat senjata."Kau."Rafael mengangkat kedua tangannya."Aku tahu kau ingin menembak.""Aku juga tahu kau berada di balik semua ini.""Kalau aku berada di balik semua ini, Clara sudah mati."Raymond tidak menurunkan senjatanya."Di mana dia?""Masih hidup.""Di mana?"Rafael menunjuk ke dalam gudang."Tapi kita harus bergerak sekarang."John muncul di belakang Raymond."Tuan, jangan percaya dia."Rafael menoleh."Kalau kalian tetap berdiri di sini, orang-orang di dalam akan memindahkan Clara melalui terowongan bawah tanah."Raymond langsung menatapnya."Ter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara Menjadi Target

    Mobil hitam itu melaju meninggalkan mansion.Clara duduk di kursi belakang dengan kedua tangan terikat.Napasnya masih teratur, meskipun jantungnya berdegup keras.Pria yang duduk di sebelahnya adalah Marcus.Orang yang selama bertahun-tahun dipercaya Raymond untuk menjaga keluarganya.Clara menatapnya dari sudut mata."Jadi selama ini kau bekerja untuk mereka?"Marcus tidak menjawab.Matanya tetap tertuju ke depan.Clara mencoba menarik tali di pergelangan tangannya.Tidak berhasil.Namun ia tidak berhenti berpikir.Raymond pasti sedang mencarinya.Dan jika Marcus memang orang dalam, berarti semua jalur keamanan mansion mungkin sudah diketahui."Kalian mau membawaku ke mana?"Marcus akhirnya menjawab."Ke tempat yang aman."Clara hampir tertawa."Aman?"Ia menatap pria itu."Kau menculikku.""Aku

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pengkhianat di Dalam Rumah

    Suara mesin kendaraan memenuhi halaman mansion.Satu.Dua.Tiga.Empat mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang.Raymond berdiri di tengah ruang utama dengan senjata masih berada di tangannya.Clara berada di belakangnya.John segera berbicara melalui alat komunikasi."Semua unit, posisi bertahan. Jangan menembak sebelum ada perintah."Para pengawal menyebar.Beberapa menuju lantai dua.Sebagian lainnya mengamankan Charles.Raymond menatap layar kamera keamanan.Anehnya, orang-orang di dalam mobil tidak langsung turun.Mereka hanya diam.Menunggu.Raymond menyipitkan mata."Mereka tidak datang untuk menyerang."John menoleh."Lalu?""Mereka ingin kita panik."Tepat setelah Raymond selesai berbicara, lampu seluruh halaman kembali menyala.Empat mobil itu langsung bergerak mundur.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Darah di Mansion

    Tubuh Charles jatuh tepat ke dalam pelukan Raymond."Ayah!"Raymond menekan luka di dada Charles dengan telapak tangannya. Darah mulai merembes melalui sela-sela jarinya."Dokter!"Suara Raymond mengguncang seluruh mansion.John langsung berlari mendekat."Pengawal, tutup seluruh akses!"Beberapa pria berlari ke arah pintu utama dan jendela."Jangan biarkan siapa pun keluar!"Raymond menatap wajah Charles yang semakin pucat."Jangan tutup mata."Charles membuka matanya sedikit."Raymond...""Diam. Dokter akan segera datang.""Tidak..."Charles menggenggam pergelangan tangan Raymond."Folder..."Raymond mengerutkan kening."Folder apa?""Maria..."Napas Charles terdengar berat."Jangan biarkan mereka mendapatkannya."Raymond langsung menoleh ke arah ruang kerjanya.Folder hitam.Aset rahasia Maria.Folder yang bahkan Charles sendiri dilarang menyentuhnya."John.""Ya, Tuan.""Amankan ruang kerja."John baru hendak bergerak ketika suara ledakan terdengar dari lantai dua.BOOM!Kaca jend

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Orang yang Membunuh Maria Bag 2

    Raymond masih menatap layar ponselnya.Panggilan telah berakhir.Namun suara Maria masih terngiang jelas di kepalanya.Maafkan Mama.Bertahun-tahun ia mengira tidak akan pernah mendengar kalimat itu lagi.Sekarang, ketika kesempatan tersebut benar-benar datang, justru Maria kembali menghilang."Nomornya bisa dilacak?" tanya Raymond.John segera mendekat dengan perangkat di tangannya."Sedang dicoba."Raymond menatap Charles."Kenapa Mama takut kembali?"Charles tidak menjawab."Dan jangan katakan kau tidak tahu."Charles menghela napas."Karena orang yang mengejarnya belum berhenti.""Elena?"Charles menggeleng."Elena hanya menjalankan perintah."Raymond membeku."Perintah siapa?"Charles menatap putranya."Aku tidak tahu."Raymond tertawa dingin."Kau selalu tidak tahu."

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status