Se connecterSuara itu tidak keras, tidak juga tinggi—namun ketika jatuh di lorong rumah sakit yang dingin itu—ia seperti palu yang menghantam keheningan. Semua orang menoleh, setiap langkah kaki terhenti. Bahkan suara mesin monitor di kejauhan terasa meredup, seolah ikut tunduk pada satu sosok yang berdiri di ujung lorong—Raymond. Ia berdiri tegak di bawah cahaya putih lampu rumah sakit. Bahunya lurus, ekspresinya tenang—terlalu tenang untuk situasi yang genting seperti ini. Matanya menyapu ruangan dengan dingin. Tajam. Mengukur. Menguasai. Di belakangnya, Ken berdiri setia—diam, namun siap. “Berikan perawatan terbaik,” lanjut Raymond datar, tanpa emosi. “Semua biaya… aku yang tanggung.” Dokter itu langsung menegakkan tubuhnya, "Baik, Tuan," ucapnya tanpa ragu. Thomas menatap Raymond dengan sorot mata yang menyala. Rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya—amarah, ketidaksukaan… dan perasaan terancam yang samar namun nyata. Sementara itu—Clara tidak bergerak—tubuh
Namun—sebelum tatapan itu benar-benar bertemu— Clara lebih dulu tersadar. Seperti tersengat arus listrik, tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ia langsung memalingkan wajah dengan gerakan cepat, napasnya tercekat. Tangannya bergerak refleks, meraih tubuh kecil Noah dan menariknya lebih erat ke dalam pelukannya. Dengan gerakan panik, ia menekan kembali tombol kaca hingga jendela taksi kembali naik. Jendela itu kembali tertutup. Udara di dalam taksi mendadak terasa sempit. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Jemarinya gemetar saat menggenggam tubuh Noah. Di sampingnya, Thomas mengernyit. Ia sempat melihat sekilas sosok pria di mobil sebelah. Tatapannya menyipit. “Ada apa, Clara?” tanyanya pelan, namun nadanya tegas dan penuh curiga. Clara tidak menjawab—ia hanya menunduk, wajahnya tersembunyi di balik rambut yang jatuh berantakan. Tangannya memeluk Noah lebih erat. Thomas kembali menoleh ke arah mobil di samping mereka. Dan dalam sepersekian detik—
“Apa?!” suaranya pecah—nyaris tak terbentuk. Di seberang sana, suara Bibi Janeta bergetar, terburu-buru, dipenuhi ketakutan yang tak bisa disembunyikan. “Dari tadi demamnya tinggi sekali, Clara… dia mengigau… aku takut sesuatu terjadi…” Clara memejamkan mata sejenak. Hanya satu detik—namun dalam satu detik itu, seluruh tubuhnya bergetar hebat—menahan panik yang nyaris meledak. “Iya… iya, Bi…” suaranya melemah, napasnya mulai tidak teratur. “Aku pulang sekarang.” Telepon itu ditutup cepat. Tangannya masih menggenggam ponsel dengan gemetar tanpa kendali. Raymond, yang sejak tadi berdiri beberapa langkah darinya, langsung menoleh. “Ada apa?” tanyanya singkat dengan wajah serius. Clara tersentak, seperti tertangkap basah. “I-itu…” suaranya tersangkut di tenggorokan. Otaknya berputar cepat, mencari alasan, menyusun kebohongan. “Pamanku… sakit.” Raymond mengernyit tipis. “Paman?” Clara mengangguk cepat, terlalu cepat. “Iya… paman asuhku.” Raymond menatapnya lama. Tatapan i
Tiba-tiba, pintu di belakang mereka terbuka—Raymond keluar dari dalam ruangan dengan langkah yang tenang. Tidak ada tanda panik. Tidak ada emosi berlebihan. Namun justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam.Tatapannya dingin seperti biasa… tapi hari ini, ada sesuatu yang lebih tajam di sana, lebih dalam dan lebih berbahaya.“Apa yang mereka inginkan?” tanyanya singkat.Jennifer menelan ludah. “Permintaan maaf resmi… dan kompensasi besar.”Suasana hening sesaat, lalu—sudut bibir Raymond terangkat sedikit.“Menarik.”Satu kata itu jatuh ringan… namun terdengar seperti sebuah ancaman. Beberapa menit kemudian, ruang rapat utama berubah menjadi medan pertempuran. Dua pria investor itu duduk berhadap-hadapan dengan meja panjang di antara mereka. Wajah mereka masih menyisakan amarah dan arogansi. Pintu ruangan itu terbuka—Raymond masuk tanpa tergesa, dan Ken seperti biasa, berdiri di belakangnya seperti bayangan.Semua orang langsung berdiri.Namun Raymond tidak memberi isyara
Clara menatap mereka bergantian dengan bingung. Alisnya berkerut, jantungnya masih berdetak tidak teratur sejak Raymond turun dari mobil.“Kalian… saling kenal?” tanyanya pelan.Thomas menoleh sekilas ke arah Clara, lalu kembali menatap Raymond dengan sorot mata yang tidak kalah tajam.“Ya,” jawab Thomas singkat. “Kami pernah bertemu… waktu kita menuju ke sini saat bencana di desa.”Clara terdiam.Ingatan itu langsung muncul di kepalanya—perjalanan penuh kekacauan, asap tebal, jalan rusak, dan teriakan. Matanya perlahan beralih ke Raymond. 'Jadi… dia benar-benar mencariku...?' batinnya. Sementara itu, Raymond tidak mengalihkan pandangannya dari Thomas. Tatapannya dingin dan penuh penilaian. “Siapa dia?” tanya Raymond sembari menoleh pada Clara, suaranya datar namun tajam.Thomas sedikit mengernyit, lalu menjawab tanpa ragu, “Aku Thomas."Raymond mengeraskan rahangnya. Thomas melanjutkan, “Aku keluarganya.” Ia melirik Clara sekilas. “Dan Anda?”Raymond hendak membuka mulut—namun Cl
Perlahan, Raymond menundukkan kepala. Bayangan wajah Clara melintas begitu saja—tatapan matanya yang penuh luka, suaranya yang bergetar, dan kata-kata dingin yang ia ucapkan sebelum pergi.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—Raymond benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.***Malam itu, mobil hitam panjang miliknya meluncur perlahan memasuki halaman mansion. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang yang sunyi di atas jalan setapak batu. Pintu mobil terbuka.Ia keluar tanpa sepatah kata pun. Langkahnya berat, tidak lagi tegas seperti biasanya. Para penjaga menunduk hormat. “Tuan.”Namun Raymond hanya berjalan melewati mereka begitu saja, tanpa melirik, tanpa memberi reaksi, seolah dunia di sekitarnya sudah tidak lagi penting.Pintu utama pun terbuka.Begitu ia melangkah masuk, kehangatan rumah menyambutnya—aroma kayu, kopi, dan sesuatu yang familiar. Biasanya ia tidak pernah peduli dengan hal-hal seperti itu, tetapi malam ini, semua terasa kontras… terlalu kon







