Share

Meeting

Author: Miss Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-11 15:28:15

Beberapa pegawai langsung saling berpandangan dengan wajah tegang. Meeting langsung dengan CEO bukanlah hal yang biasa. Biasanya pertemuan seperti itu hanya dihadiri para manajer atau kepala departemen.

Namun kali ini berbeda.

Jennifer berdiri tegak di tengah lobby, matanya menatap seluruh staf dengan tatapan yang tidak memberi ruang untuk bantahan.

“Pastikan kalian datang tepat waktu,” lanjutnya tegas. “Tuan Raymond tidak suka keterlambatan.”

Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan berjalan me
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Musuh

    Satu demi satu ambulans melesat meninggalkan lokasi menuju Rumah Sakit Pusat Sentosa, rumah sakit rujukan trauma terbesar di kota itu. Raymond tetap berdiri di tengah jalan. Tatapannya mengikuti ambulans hingga lampu rotatornya menghilang di tikungan. Angin laut berembus pelan. Membawa aroma garam, solar, serta asap kendaraan. Di sekitar lokasi, garis polisi mulai dipasang. Tim forensik kepolisian memotret setiap sudut kendaraan. Mereka mengukur panjang bekas pengereman. Mengumpulkan serpihan lampu. Serta menandai titik benturan pertama menggunakan cat semprot berwarna kuning. Raymond memutar tubuh. "John." Komandan keamanan Antonio Group segera berlari menghampiri. "Ya, Tuan." Raymond menunjuk SUV yang kini hanya tinggal rangka penyok. "Segel kendaraan itu." "Jangan ada satu baut pun dipindahkan sebelum tim investigasi keluarga datang." "Baik, Tuan." "Lalu periksa seluruh kamera CCTV." "Dari kawasan pelabuhan..." "...hingga titik kecelakaan ini

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ambulance

    Ken sama sekali tidak bergerak. Tubuh pria itu terbaring telentang di atas hamparan aspal yang dipenuhi pecahan kaca dan serpihan logam dari SUV yang ringsek. Seragam hitam yang biasanya selalu tampak rapi kini robek di beberapa bagian. Lengan kirinya dipenuhi goresan panjang akibat pecahan jendela samping, sementara darah terus merembes dari luka robek di pelipis kanan, mengalir melewati pipi hingga membasahi kerah kemejanya. Di bawah kepalanya, darah mulai membentuk genangan kecil yang perlahan bercampur dengan air dari selang pemadam kebakaran yang digunakan petugas untuk mencegah percikan api dari mesin kendaraan. Air kemerahan itu mengalir mengikuti kemiringan jalan, menciptakan pemandangan yang membuat siapa pun yang melihatnya tercekat. Beberapa meter di belakang, SUV milik Antonio Group sudah hampir tak lagi berbentuk. Kap mesinnya terlipat seperti kertas. Mesin terdorong masuk hingga nyaris menembus kabin. Seluruh kaca depan hancur berkeping-keping. Asap putih t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ken

    Di Mansion Antonio... Raymond masih berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Ponsel masih menempel di telinga. "Ken..." panggilnya sekali lagi. Tak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara statis. Lalu... Sambungan benar-benar terputus. Layar ponsel berubah gelap. Perlahan Raymond menurunkan tangannya. Rahangnya mengeras. Tatapannya berubah tajam. Naluri yang selama ini menyelamatkannya dari berbagai bahaya berteriak keras. Ada sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. Tanpa berpikir panjang, ia meraih kunci mobil di atas meja. Pintu ruang kerja dibukanya dengan keras. BRAK! Langkahnya menggema di sepanjang koridor mansion. Setiap pelayan yang berpapasan langsung menyingkir. Begitu tiba di aula utama, Raymond mengangkat suaranya. "Semua ikut aku!" Bentakannya menggema hingga ke lantai dua. Para pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak. "Siapkan lima kendaraan!" "Lengkap dengan tim medis!" "Hubungi rumah sakit!" "Berangkat sekarang!" "Siap, Tuan!" Suasana

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kecelakaan

    BRAAAAAAKKKK!! Benturan pertama belum sepenuhnya berhenti menggema ketika SUV hitam Toyota Land Cruiser 300 milik tim keamanan Antonio kembali kehilangan kendali. Bagian belakang kendaraan terangkat beberapa sentimeter dari permukaan aspal. Ban-ban belakang berputar liar tanpa pijakan. Asap putih pekat membubung dari gesekan karet dengan jalan raya yang panas. SKRRRRIIIIIIITTTT...! Suara decitan ban memekakkan telinga. Tubuh SUV berputar hampir sembilan puluh derajat hingga melintang di jalan dua arah yang menuju kawasan pelabuhan tua. Di dalam kabin... Seluruh penumpang terdorong ke sisi kanan. Sabuk pengaman menahan tubuh mereka dengan hentakan keras. "Ken!" teriak sopir pribadi tim keamanan Antonio. Kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat di lengannya mencuat jelas. Ia memutar setir habis ke arah kiri, berusaha mengembalikan posisi kendaraan agar tidak terguling. Namun sebelum SUV itu kembali stabil... Raungan mes

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Lari

    Suasana seketika menegang. Ken langsung memberi isyarat cepat menggunakan jemarinya. Diam. Jangan bergerak. Jangan bernapas terlalu keras. Keempat pria itu merapat ke dinding beton yang dipenuhi lumut. Seorang pengawal bahkan memejamkan mata, berusaha mengendalikan napasnya yang mulai memburu. Di dalam gudang... Pria berjubah itu mulai berjalan. Tok... Tok... Tok... Suara sepatu kulitnya menggema di lantai semen yang retak-retak. Setiap langkah terasa semakin dekat. Semakin dekat. Bayangannya memanjang hingga hampir mencapai tempat Ken bersembunyi. Ken perlahan menyelipkan tangan ke balik jasnya. Jarinya menyentuh gagang pistol. Namun ia tidak menariknya. Perintah Raymond masih terngiang jelas di kepalanya. Mengawasi. Mengumpulkan informasi. Bukan menciptakan baku tembak. Tok... Tok... Tok... Pria itu akhirnya berhenti. Hanya dipisahkan oleh dinding kayu tua yang telah keropos. Jarak mereka... Tak sampai satu meter. Ken bahkan dapat mendengar suara napas

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Maria Antonio?

    Tudung hitam itu terangkat perlahan.Jemari pria berjubah itu bergerak tenang, menyibakkan kain hitam yang selama beberapa saat menutupi wajahnya. Gerakannya tidak terburu-buru. Justru terlalu lambat, seolah sengaja membiarkan setiap detik di dalam gudang tua itu dipenuhi ketegangan yang menyesakkan.Sinar matahari yang menyusup dari celah-celah atap seng yang berlubang jatuh tepat di sisi wajahnya. Debu-debu halus menari di udara, diterpa cahaya yang membentuk garis-garis keemasan di ruangan remang tersebut.Dari balik dinding gudang, Ken membeku.Dadanya seakan berhenti mengembang.Mata pria itu membelalak lebar.Sorot matanya tak berkedip sedikit pun.Wajah yang muncul dari balik tudung itu...Memiliki rahang tegas.Hidung mancung.Garis-garis ketegasan di sekitar bibir.Sorot mata tajam yang penuh wibawa.Bahkan guratan uban tipis di kedua pelipisnya pun terlihat begitu familiar.Ken mengenali wajah itu.Bukan...Lebih tepatnya, wajah itu terlalu sering ia lihat selama bertahun-ta

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Baku Hantam

    Di markas, Adrian dan Sofia mulai merasa gelisah. Di ruang utama yang remang, Adrian berdiri menghadap jendela tinggi, jarinya mengetuk gelas kristal dengan ritme yang tak sabar. Jam dinding berdetak pelan, namun setiap detiknya terasa seperti ejekan.Sofia duduk di sofa kulit, kakinya yang jenjang

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sang Mafia Kehilangan Arah

    Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hening dan Tegang

    Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status