Share

Atap Gedung

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-05-06 15:21:56

Suara langkah kaki itu semakin jelas menggema di sepanjang lorong tangga gedung tua yang lembap dan gelap. Dentumannya berat, cepat, dan penuh amarah, bercampur dengan suara napas memburu yang memantul di dinding beton kusam.

Tap.

Tap.

Tap.

Thomas langsung menoleh tajam ke arah bawah tangga. Rahangnya mengeras seketika, sementara jemarinya mencengkeram pergelangan tangan Clara semakin kuat sampai wanita itu meringis kesakitan.

Sedangkan Clara membelalak penuh harapan.

Lalu suara itu akhi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
GigiKaka
ceritanya masih panjang ini ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bukti Masa Lalu

    Raymond tertawa pelan. Namun tawa itu sama sekali tidak mengandung kehangatan. "Lucunya..." "Semua pembohong yang pernah kutemui juga mengatakan hal yang sama." Elena memejamkan mata sesaat. Kemudian dengan tangan yang masih gemetar, ia membuka tas kulit tuanya. "Aku sudah menduga..." "...kau akan mengatakan itu." Karena itu... "Aku membawa sesuatu." Perlahan ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua. Permukaannya dipenuhi goresan halus akibat usia. Sudut-sudutnya mulai aus. Pengait logamnya bahkan telah berubah warna karena karat. Kotak itu jelas bukan benda yang baru disimpan beberapa bulan. Melainkan benda yang telah dijaga selama puluhan tahun. Dengan sangat hati-hati Elena membuka tutupnya. Di dalamnya tersimpan sebuah foto hitam putih berukuran kecil. Raymond menerimanya tanpa berkata apa-apa. Tatapannya langsung terpaku. Dalam foto itu tampak dua gadis remaja berdiri berdampingan di depan sebuah rumah tua bergaya koloni

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mencurigakan

    "...bisakah aku tinggal sementara di Mansion Antonio?"Kalimat itu meluncur pelan dari bibir Elena, nyaris tenggelam oleh dengung pendingin ruangan dan bunyi monitor jantung yang berdetak stabil di sisi ranjang Clara.Namun justru karena diucapkan dengan suara yang begitu lirih, permintaan itu terdengar jauh lebih berat.Seolah seluruh harga diri wanita itu ikut dipertaruhkan dalam satu kalimat sederhana.Tak seorang pun langsung menjawab.Ruangan VIP yang beberapa saat lalu dipenuhi kehangatan karena Clara berhasil melewati masa kritis, kini kembali diselimuti keheningan yang begitu pekat.Bahkan Noah yang masih duduk di sisi ranjang ibunya ikut terdiam. Bocah kecil itu bergantian menatap Elena, kemudian ayahnya, tanpa benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.Tatapan Raymond perlahan berubah.Jika beberapa menit yang lalu matanya dipenuhi keterkejutan dan kebingungan setelah mendengar pengakuan Elena sebagai adik kandung mendiang ibunya...Kini sorot mata itu berubah.Dingin.Ta

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Percaya Tak Percaya

    Elena memejamkan mata sesaat. Seolah ia sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan itu sejak lama. "Aku tahu." Jawabannya lirih. "Kami terpisah selama puluhan tahun." Raymond mengernyit. Tatapannya semakin tajam. "Kalau kau benar adik kandungnya..." "Kenapa aku tidak pernah mendengar keberadaanmu?" Pertanyaan itu membuat Elena menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat di depan tubuh. Sampai buku-buku jarinya memutih. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbicara lagi. "Dulu..." Suaranya terdengar jauh. Seolah sedang menarik kembali kenangan yang ingin dilupakannya. "Setelah kakek dan nenekmu meninggal..." "Keluarga kami pecah." Tatapannya kosong mengarah ke lantai. "Warisan." "Ego." "Salah paham." "Dan banyak keputusan bodoh yang kami buat saat masih muda." Air mata kembali jatuh. "Kakakmu pergi meninggalkan rumah." "Aku juga pergi." "Kami sama-sama keras kepala." Senyumnya pahit. "Dan tidak satu pun dari kami mau menjadi orang pertama yang meminta maa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keluarga?

    Klik... Suara kunci pintu yang terbuka terdengar pelan di tengah keheningan ruang rawat VIP. Perlahan, daun pintu bergerak ke dalam. Cahaya koridor yang terang membentuk siluet seseorang di ambang pintu. Pada awalnya tidak ada yang terlalu memperhatikan. Raymond masih berdiri di sisi ranjang Clara. Noah masih duduk di dekat kaki ranjang sambil memegang buku gambar yang ingin ia tunjukkan kepada ibunya. Bu Eli berdiri di samping meja kecil, sedang merapikan kotak makanan yang baru dibawanya. Sementara Ken tetap berada beberapa langkah dari pintu. Namun sesaat kemudian... Seluruh ruangan mendadak membeku. Wanita yang baru datang itu melangkah masuk dengan tenang. Suara hak sepatu kremnya berdetak lembut di lantai marmer mengilap. Tok... Tok... Tok... Ia mengenakan gaun panjang berwarna gading dengan potongan sederhana namun elegan. Sebuah bros mutiara kecil tersemat di sisi dada kirinya. Rambutnya yang hitam kecokelatan telah dihiasi semburat perak akibat usia. Disanggu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sehat

    Keesokan paginya... Mentari pagi menyelinap lembut melalui jendela besar ruang perawatan VIP. Cahaya keemasan jatuh di atas lantai marmer mengilap, menghangatkan ruangan yang semalam dipenuhi kecemasan. Aroma bunga lili dan mawar putih memenuhi udara. Beberapa buket bunga ucapan selamat memenuhi meja di sudut ruangan. Namun Raymond bahkan tidak sempat melirik semuanya. Sejak pukul lima pagi... Ia sudah terbangun. Bahkan sebelum Clara membuka mata. Ia membantu istrinya duduk perlahan, menopang punggungnya dengan satu tangan agar tidak terasa sakit. Setelah itu ia mengatur bantal satu per satu hingga menemukan posisi yang paling nyaman. Ketika Clara mengatakan air minumnya sedikit dingin... Raymond langsung menggantinya dengan air hangat. Saat selimut bergeser sedikit... Ia segera merapikannya kembali hingga menutupi tubuh Clara dengan sempurna. Tak ada satu pun gerakan yang luput dari perhatiannya. Tak lama kemudian, seorang perawat muda masuk sambil membawa nampan sara

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tetap di Sisi

    Ken masih berdiri di balik dinding kaca ruang ICU. Kedua tangannya terselip di saku celana bahan hitam yang sejak semalam mulai dipenuhi lipatan. Tatapannya belum juga beralih dari pasangan suami istri yang berada di balik kaca bening itu. Di dalam ruangan, Raymond masih duduk di sisi ranjang pasien. Jemari besarnya membungkus tangan Clara dengan sangat hati-hati, seolah takut genggaman itu terlepas. Sesekali ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan istrinya, memastikan kehangatan itu benar-benar nyata. Semalam ia hampir kehilangan wanita itu. Dan kini, bahkan untuk melepaskan tangannya selama beberapa detik saja, Raymond tidak sanggup. Pemandangan itu membuat dada Ken terasa hangat. Sudah belasan tahun ia mengenal Raymond Antonio. Ia pernah melihat pria itu menghadapi rapat bisnis bernilai miliaran rupiah tanpa sedikit pun berubah ekspresi. Ia pernah melihatnya berjalan melewati hujan peluru dengan wajah setenang orang yang sedang berjalan di taman. Namun, baru hari inila

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status