LOGINSuasana aula langsung berubah sunyi mencekam begitu sosok pria tua itu melangkah masuk melewati pintu utama mansion. Musik biola yang sejak tadi mengalun lembut perlahan terdengar semakin jauh, tenggelam oleh suara ketukan tongkat yang menggema pelan di lantai marmer mengilap. Tok. Tok. Tok. Langkahnya tidak terburu-buru. Namun justru ketenangan itu terasa jauh lebih menakutkan. Lampu chandelier raksasa memantulkan cahaya ke setelan hitam mahal yang dikenakannya. Potongan jas itu begitu rapi dan elegan, membungkus tubuh tinggi besarnya dengan sempurna. Rambutnya yang mulai dipenuhi uban disisir licin ke belakang, memperlihatkan wajah tegas penuh garis usia dan sepasang mata dingin yang tajam seperti pisau. Tatapan pria itu menyapu seluruh aula perlahan. Dan hanya dengan itu saja, udara di ruangan terasa berubah berat. Beberapa tamu langsung menunduk gelisah. Ada yang tanpa sadar mundur satu langkah. Bahkan suara bisik-bisik kecil mendadak lenyap seketika. Semua o
Langkah Clara akhirnya berhenti tepat di depan altar. Raymond langsung menggenggam tangannya perlahan. Hangat. Kuat. Dan sedikit gemetar. Pria itu menatap Clara cukup lama sampai penghulu berdehem kecil sambil tersenyum geli. “Tuan Raymond…” Beberapa tamu langsung tertawa kecil. Raymond seperti baru tersadar. Ia menarik napas pelan, tetapi tatapannya tetap tidak lepas dari Clara. “Kau cantik sekali…” bisiknya lirih. Clara tersenyum sambil menahan air mata. “Kau juga… tampan.” Raymond terkekeh pelan. “Aku babak belur begini masih dibilang tampan?” Clara ikut tertawa kecil di sela tangisnya. Luka lebam di rahang Raymond masih terlihat jelas meski sudah ditutupi tipis oleh makeup. Perban kecil di pelipisnya membuat penampilannya sedikit berantakan. Namun entah kenapa… Bagi Clara, Raymond belum pernah terlihat setampan ini sebelumnya. Prosesi pernikahan akhirnya dimulai. Suasana aula kembali hening dan sakral. Raymond berdiri tegak di depan pendeta
Dahi Raymond semakin berkerut. Detik demi detik terasa jauh lebih lambat dari biasanya. Musik piano masih mengalun lembut di seluruh aula, tetapi suasana hangat beberapa saat lalu perlahan berubah menjadi tegang. Beberapa tamu mulai saling melirik dan berbisik pelan. Bahkan suara denting gelas dari meja belakang terdengar terlalu jelas di tengah keheningan yang mendadak canggung. Hans dan Ken spontan saling bertukar pandang. Wajah keduanya berubah waspada. Raymond sendiri masih berdiri tegak di depan altar, tetapi rahangnya perlahan mengeras. Jemarinya mengepal tanpa sadar di samping tubuhnya. Pikirannya langsung dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk. Setelah semua kejadian semalam, rasa takut kehilangan Clara ternyata masih belum benar-benar hilang dari dirinya. 'Jangan-jangan…' Dadanya terasa semakin tidak nyaman. “Ray…” panggil Hans pelan dari samping, seolah menyadari perubahan ekspresi pria itu. Namun sebelum siapa pun sempat bergerak— Klik. Pintu aula akhirnya ter
“MAMA!” Suara kecil Noah menggema dari dalam kamar dan langsung memecah keheningan pagi di mansion itu. Clara yang sejak tadi berdiri di balkon sambil memandangi langit refleks menoleh cepat. Dalam sekejap, wajahnya yang semula dipenuhi lamunan langsung melembut. “Noah?” Ia segera melangkah masuk kembali ke kamar, lalu spontan menahan tawa kecil begitu melihat putranya berdiri di depan cermin besar dengan ekspresi frustrasi. Dasi hitam mungil di leher Noah kusut berantakan dan bentuknya sudah tidak jelas. Anak itu sibuk menarik-narik kain dasinya sambil mengerucutkan bibir kesal. “Ini susah…” gerutunya. “Kenapa orang nikah harus pakai tali beginian sih?” Clara terkekeh pelan. Pagi itu Noah mengenakan tuxedo kecil berwarna hitam dengan kemeja putih rapi yang membuatnya terlihat seperti versi mini Raymond. Rambutnya disisir ke samping dengan sedikit gel agar tetap rapi, sementara pipinya yang masih bulat membuat wajah seriusnya justru terlihat lucu. Clara berjalan mendekat lalu
Dia baik-baik saja,” jawab Bu Eli cepat sambil mengusap air matanya. “Dokter bilang hanya gegar ringan dan butuh istirahat.” Tubuh Clara langsung melemas lega. Hans dan Ken yang berdiri di dekat ruang perawatan ikut menghela napas panjang saat melihat Raymond dan Clara akhirnya kembali dengan selamat. “Tuan…” Ken langsung menunduk hormat, tetapi ekspresinya berubah kaget melihat kondisi Raymond yang penuh luka. “Tuan terluka parah…” Raymond hanya menggeleng kecil. “Aku tidak apa-apa.” Namun bahkan saat mengatakan itu, darah masih merembes tipis dari luka sobek di lengannya. Clara langsung menatap Raymond dengan mata memerah. “Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa…” bisiknya lirih penuh rasa bersalah. Pintu ruang perawatan akhirnya terbuka perlahan. Dan di sanalah Noah berada. Anak kecil itu tertidur di atas ranjang putih dengan perban melilit kepalanya. Wajah mungilnya masih pucat, tetapi napasnya terdengar tenang dan stabil. Clara langsung menangis lagi sa
Angin malam masih meraung keras di atas gedung tua itu, membawa aroma asin laut dan suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana. Namun kini tidak ada lagi bentakan penuh amarah ataupun suara perkelahian brutal. Semuanya mendadak terasa sunyi setelah tubuh Thomas menghilang ke dalam gelap malam. Yang tersisa hanya napas Clara yang memburu dan tubuhnya yang masih gemetar hebat di samping Raymond. Perlahan, dengan kaki yang terasa lemas seperti kehilangan tenaga, Clara melangkah mendekati tepi gedung. Pandangannya kosong, sementara air mata masih membasahi pipinya tanpa henti. Raymond yang berdiri di belakangnya langsung menahan lengannya cepat. “Jangan,” ucapnya rendah, suaranya serak karena kelelahan. Namun Clara tetap menunduk ke bawah. Dan detik berikutnya, napasnya langsung tercekat. Tubuh Thomas terlentang di halaman belakang gedung kosong itu, jatuh menghantam beton keras beberapa puluh meter di bawah sana. Lampu jalan yang redup menerangi tubuhnya yang tidak b
Malam turun perlahan di kota itu.Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kuning lembut di aspal yang masih menyimpan sisa hangat siang hari. Dari jendela kecil kamarnya, Clara berdiri diam menatap langit yang mulai gelap.Angin malam masuk perlahan melalui celah jendela.
Clara tercekat.Untuk sesaat napasnya seperti tertahan di tenggorokan. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga ia bisa merasakan hangat napas Raymond menyentuh sisi pipinya.Pandangan mereka bertemu. Tatapan Raymond tajam, dalam, seolah mencoba menembus sesuatu yang tersembunyi.Di balik masker
Jennifer yang berdiri beberapa langkah di belakangnya langsung terdiam. Alisnya sedikit terangkat, jelas ia tidak menyangka permintaan itu.“Tuan…?” ucapnya ragu.Raymond masih duduk menghadap jendela besar yang membentang dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit. Jennifer menarik napas p
Mobil hitam itu benar-benar berhenti tepat di depan pintu utama hotel. Kilau bodinya memantulkan cahaya matahari pagi yang lembut, membuatnya tampak semakin mencolok di antara kendaraan lain.Beberapa staf mulai berbisik panik. “Cepat rapikan posisi kalian…”“Dia benar-benar datang lagi…”“Kenapa







