Compartir

Merayu Raymond

Autor: Miss Wang
last update Fecha de publicación: 2026-02-01 14:19:28

Keesokan harinya, sedikit lebih sibuk.

Di ruang bawah tanah yang tak tercatat di denah mansion, Raymond berdiri di depan meja panjang berlapis kaca hitam. Peta bisnis terpampang di layar besar—alur uang, nama perusahaan cangkang, jalur distribusi, dan rekening luar negeri. Ken berdiri di sampingnya, beberapa orang kepercayaan lain menunggu dalam diam.

“Target pertama,” ujar Raymond datar, “logistik pelabuhan timur.”

Ia menunjuk satu simpul merah. “Perusahaan ini milik Veronika. Di atas kertas
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Monster

    “Bahkan wanita tua itu…” gumam Thomas lirih. “…Bibi Janeta.” Thomas menatap matanya dalam-dalam. “Dia tahu sesuatu tentangku.” Tatapannya berubah menyeramkan. “Dan aku takut kau akan menjauhiku.” Air mata Clara jatuh semakin deras. “Kau menghajarnya…” suaranya pecah. Thomas diam beberapa detik. Lalu perlahan ia mengangguk. “Aku tidak punya pilihan.” “Kau MONSTER!” Suara Clara akhirnya pecah menjadi jeritan. Dan detik berikutnya—BRAKK!! Tangan Thomas menghantam dinding di samping kepala Clara begitu keras sampai serpihan semen berjatuhan. “JANGAN MENYEBUTKU SEPERTI ITU!” bentaknya penuh amarah. Clara langsung gemetar hebat. Napas Thomas naik turun tidak teratur sekarang. Matanya memerah oleh emosi yang mulai kehilangan kendali. “Aku melakukan semuanya untuk melindungimu!” “Tidak!” Clara menangis histeris. “Kau hanya ingin memilikiku!” Kalimat itu membuat Thomas mendadak diam. Sunyi beberapa detik. Hanya suara angin laut dan deburan ombak yang terdengar dari luar gedung

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gedung Tepi Pantai

    Sebuah gedung tua berdiri di tepi pantai seperti bangkai raksasa yang terlupakan. Dindingnya dipenuhi retakan panjang dan bercak lembab berwarna kehitaman. Sebagian jendelanya sudah pecah, menyisakan kaca-kaca tajam yang masih menempel di bingkai berkarat. Angin laut menghantam bangunan kosong itu tanpa henti, menyusup masuk melalui celah-celah dinding dan menciptakan suara siulan panjang yang terdengar menyeramkan di tengah malam. Di kejauhan, ombak menghantam karang dengan keras. Brakkk… Brakkk… Suara itu bercampur dengan deru mesin mobil hitam milik Thomas yang akhirnya berhenti mendadak di depan gedung tua tersebut. Tubuh Clara langsung menegang. Matanya bergerak cepat menatap bangunan gelap di hadapannya, lalu beralih panik ke arah Thomas. “Thomas… jangan…” suaranya bergetar hebat. Namun Thomas tidak menjawab. Pria itu turun lebih dulu, lalu membanting pintu mobil sebelum berjalan memutar ke sisi Clara. Gerakannya cepat dan dingin, seolah emosinya sudah berad

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Thomas Tanpa Topeng

    "Noah… bangun… Noah…” Tubuh Clara langsung meronta liar dalam cengkeraman Thomas. Ia mencoba melepaskan diri, berusaha menerjang ke arah putranya, tetapi tangan Thomas justru semakin mengencang di pinggangnya. “Lepaskan aku!” Clara menangis histeris sambil memukul lengan pria itu sekuat tenaga. “LEPASKAN AKU! NOAH!” Namun Thomas tetap menahannya dari belakang. Napas pria itu terdengar berat di dekat telinga Clara. “Tenang…” bisiknya rendah. “JANGAN SENTUH AKU!” Suara Clara pecah. Tubuhnya gemetar hebat sampai napasnya tersengal-sengal. Di sisi lain ruangan, Bu Eli akhirnya berhasil bangkit dengan susah payah. Wanita tua itu hampir terjatuh lagi saat berlari kecil menghampiri Noah, lalu langsung berlutut dan memeluk tubuh anak itu erat-erat. “Noah… Sayang..." Tangannya gemetar saat menyentuh wajah kecil yang pucat itu. Wajah Bu Eli langsung kehilangan warna. “Ya Tuhan…” suaranya pecah pelan. Air mata mulai jatuh di pipinya ketika ia mengangkat kepala dan menatap Thomas denga

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Membuka Topeng

    Ruangan besar di mansion itu semakin menegang. Tak ada yang bergerak. Tak ada yang bersuara. Setelah bunyi tulang kecil yang remuk tadi menghilang, yang tersisa hanyalah napas Thomas yang terdengar berat dan tidak teratur di tengah keheningan. Clara berdiri terpaku di tempatnya. Wajahnya pucat pasi, sementara matanya masih menatap bangkai tikus kecil di lantai marmer putih. Tubuh kecil itu nyaris tak berbentuk lagi. Darah tipis mengotori lantai di bawah sepatu Thomas. Bu Eli refleks mundur setengah langkah sambil menutup mulutnya dengan tangan gemetar. “Nona…” bisiknya lirih. Suara itu akhirnya menyadarkan Clara. Ia buru-buru meraih tangan Bu Eli erat-erat, seolah hanya itu yang bisa membuatnya tetap berdiri sekarang. Perlahan Thomas mengangkat wajah dan menatap Clara. Dan dalam sekejap, ekspresinya berubah lagi. Gelap di matanya menghilang sedikit demi sedikit, digantikan kelembutan yang selama ini selalu Clara kenal. Seolah pria mengerikan beberapa detik lalu bukan dirinya.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Obsesi

    Clara mundur satu langkah lagi tanpa sadar. Jemarinya yang menggenggam ponsel terasa dingin dan mati rasa, sementara matanya terpaku pada sosok Thomas yang berdiri beberapa meter di depannya. Wajah itu masih sama seperti yang ia kenal selama lima tahun terakhir—tenang, rapi, penuh kelembutan—tetapi sekarang semuanya terasa berbeda. Dadanya sesak. “Nona… ada apa?” suara Bu Eli terdengar hati-hati dari sampingnya. Clara tersentak kecil. Ia buru-buru menunduk, berusaha menyembunyikan kepanikan yang hampir tumpah dari matanya. 'Tidak. Thomas tidak boleh tahu kalau aku mengetahui sesuatu. Kalau dia sadar… Noah, Bu Eli, dan semuanya. Mereka semua dalam bahaya.' batinnya. Clara mengepalkan tangan kuat-kuat sampai kukunya menusuk telapak sendiri. Napasnya terasa pendek. ‘Kenapa…?’ pikirannya kacau. ‘Kenapa dia melakukan semua ini…?’ Ia masih sulit mempercayainya. Thomas yang selalu datang saat ia menangis. Thomas yang menjaga Noah seperti keluarga sendiri. Thomas yang selalu berdiri

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Saat Psikopat Jatuh Cinta

    Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun hidup dengan tangan berlumur darah… jantungnya berdetak aneh. Bukan karena takut, bukan karena marah. Namun karena gadis di depannya. Lampu kecil dari rumah memantul samar ke wajah Clara yang tertidur meringkuk di antara sayur dan buah. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian pipinya. Bibirnya pucat. Tubuh kecil itu gemetar halus karena kedinginan meski masih tertidur lelap. Tatapan Thomas tidak lepas darinya. Tangannya yang tadi mencari benda tajam perlahan berhenti bergerak. Entah kenapa… ia tidak jadi mengambil apa pun. “Thomas! Lama sekali!” suara Kakek Charly terdengar dari depan rumah. Thomas tersentak pelan. Namun sebelum ia sempat menjawab—Clara bergerak kecil. Kelopak matanya perlahan terbuka. Pandangan gadis itu masih kabur. Namun ketika ia menyadari ada seseorang berdiri tepat di depannya, Clara langsung tersentak panik. “A-ah!” Tubuhnya buru-buru mundur sampai membentur sisi mobil. Matanya membesar ketakutan. “M-ma

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tuan Mafia Salah Tingkah

    Tiba-tiba, pintu di belakang mereka terbuka—Raymond keluar dari dalam ruangan dengan langkah yang tenang. Tidak ada tanda panik. Tidak ada emosi berlebihan. Namun justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam.Tatapannya dingin seperti biasa… tapi hari ini, ada sesuatu yang lebih tajam di sa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Apakah ini Raymond?

    Clara menatap mereka bergantian dengan bingung. Alisnya berkerut, jantungnya masih berdetak tidak teratur sejak Raymond turun dari mobil.“Kalian… saling kenal?” tanyanya pelan.Thomas menoleh sekilas ke arah Clara, lalu kembali menatap Raymond dengan sorot mata yang tidak kalah tajam.“Ya,” jawab

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tamu Penting

    Di belakangnya, Ken berdiri tegak. “Baik, Tuan,” jawabnya tanpa ragu.Raymond meneguk sisa wine di gelasnya dalam satu tarikan panjang. Cairan itu terasa pahit di tenggorokannya, namun ia tetap menelannya tanpa ekspresi.Gelas itu kemudian ia letakkan di atas meja kaca dengan sedikit lebih keras. S

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dilema

    Malam terasa lebih dingin ketika Clara keluar dari hotel.Langkahnya cepat, hampir seperti seseorang yang sedang melarikan diri dari sesuatu yang tak terlihat. Sepatu datarnya mengetuk trotoar dengan ritme tergesa, sementara lampu-lampu jalan memantulkan bayangannya yang tampak rapuh di atas aspal

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status