로그인Ruangan besar di mansion itu semakin menegang. Tak ada yang bergerak. Tak ada yang bersuara. Setelah bunyi tulang kecil yang remuk tadi menghilang, yang tersisa hanyalah napas Thomas yang terdengar berat dan tidak teratur di tengah keheningan. Clara berdiri terpaku di tempatnya. Wajahnya pucat pasi, sementara matanya masih menatap bangkai tikus kecil di lantai marmer putih. Tubuh kecil itu nyaris tak berbentuk lagi. Darah tipis mengotori lantai di bawah sepatu Thomas. Bu Eli refleks mundur setengah langkah sambil menutup mulutnya dengan tangan gemetar. “Nona…” bisiknya lirih. Suara itu akhirnya menyadarkan Clara. Ia buru-buru meraih tangan Bu Eli erat-erat, seolah hanya itu yang bisa membuatnya tetap berdiri sekarang. Perlahan Thomas mengangkat wajah dan menatap Clara. Dan dalam sekejap, ekspresinya berubah lagi. Gelap di matanya menghilang sedikit demi sedikit, digantikan kelembutan yang selama ini selalu Clara kenal. Seolah pria mengerikan beberapa detik lalu bukan dirinya.
Clara mundur satu langkah lagi tanpa sadar. Jemarinya yang menggenggam ponsel terasa dingin dan mati rasa, sementara matanya terpaku pada sosok Thomas yang berdiri beberapa meter di depannya. Wajah itu masih sama seperti yang ia kenal selama lima tahun terakhir—tenang, rapi, penuh kelembutan—tetapi sekarang semuanya terasa berbeda. Dadanya sesak. “Nona… ada apa?” suara Bu Eli terdengar hati-hati dari sampingnya. Clara tersentak kecil. Ia buru-buru menunduk, berusaha menyembunyikan kepanikan yang hampir tumpah dari matanya. 'Tidak. Thomas tidak boleh tahu kalau aku mengetahui sesuatu. Kalau dia sadar… Noah, Bu Eli, dan semuanya. Mereka semua dalam bahaya.' batinnya. Clara mengepalkan tangan kuat-kuat sampai kukunya menusuk telapak sendiri. Napasnya terasa pendek. ‘Kenapa…?’ pikirannya kacau. ‘Kenapa dia melakukan semua ini…?’ Ia masih sulit mempercayainya. Thomas yang selalu datang saat ia menangis. Thomas yang menjaga Noah seperti keluarga sendiri. Thomas yang selalu berdiri
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun hidup dengan tangan berlumur darah… jantungnya berdetak aneh. Bukan karena takut, bukan karena marah. Namun karena gadis di depannya. Lampu kecil dari rumah memantul samar ke wajah Clara yang tertidur meringkuk di antara sayur dan buah. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian pipinya. Bibirnya pucat. Tubuh kecil itu gemetar halus karena kedinginan meski masih tertidur lelap. Tatapan Thomas tidak lepas darinya. Tangannya yang tadi mencari benda tajam perlahan berhenti bergerak. Entah kenapa… ia tidak jadi mengambil apa pun. “Thomas! Lama sekali!” suara Kakek Charly terdengar dari depan rumah. Thomas tersentak pelan. Namun sebelum ia sempat menjawab—Clara bergerak kecil. Kelopak matanya perlahan terbuka. Pandangan gadis itu masih kabur. Namun ketika ia menyadari ada seseorang berdiri tepat di depannya, Clara langsung tersentak panik. “A-ah!” Tubuhnya buru-buru mundur sampai membentur sisi mobil. Matanya membesar ketakutan. “M-ma
Ponsel di tangan Clara terus berdering, memecah kesunyian ruang tamu mansion yang sejak tadi dipenuhi ketegangan. Suaranya terdengar begitu nyaring sampai semua orang di ruangan itu tanpa sadar menoleh ke arah layar yang menyala di genggamannya. Nama itu muncul jelas—Hans. Alis Clara langsung berkerut. Dadanya yang sejak tadi sudah terasa sesak kini semakin kacau. Jantungnya berdetak terlalu cepat. “Jangan angkat,” ujar Thomas. Nada suaranya masih sama seperti biasa. Lembut dan stabil. Namun Ckara merasa heran dan bingung. Dan panggilan itu berhenti, tak lama kemudian—Ting! Sebuah pesan masuk. Clara refleks menunduk melihat layar ponselnya. Lalu dalam satu detik, tubuhnya membeku di tempat. 'Clara, ini aku, Raymond, hati-hati jika Thomas datang. Aku akan segera kembali. Thomas pelakunya.' Napas Clara tercekat. Matanya membesar perlahan, membaca ulang pesan itu sekali, dua kali, lalu sekali lagi, seolah otaknya menolak menerima arti dari kata-kata tersebut. 'Thomas pelakun
Pintu itu terbuka perlahan, dan cahaya dari luar menyusup masuk, membelah kegelapan ruangan seperti pisau tipis yang tajam. Siluet seseorang berdiri di ambang pintu, tinggi dan tegap, napasnya terdengar berat seolah baru saja menempuh jarak jauh.“Hans…” desis Ken lirih, hampir tak percaya.Raymond tidak berkata apa-apa, tetapi sorot matanya berubah dalam sekejap. Dingin. Keras. Mematikan.Keheningan hanya bertahan sesaat, karena dalam detik berikutnya—Krak.Tali yang mengikat tangan Raymond akhirnya putus.Serpihan kaca yang sejak tadi ia genggam berhasil mengoyak serat terakhir. Tanpa memberi ruang pada siapa pun untuk bereaksi, Raymond langsung bergerak. Tubuhnya yang terluka seakan tak berarti, amarah yang menumpuk mengambil alih segalanya.Ia menerjang ke depan.“TUAN—!” Ken tersentak.BUG!Pukulan pertama mendarat telak di wajah Hans, membuat pria itu terhuyung ke belakang hingga menghantam dinding. Namun Raymond tidak berhenti. Tidak memberi waktu. Tidak memberi napas.Pukulan
Gelap. Bukan sekadar ketiadaan cahaya—melainkan sesuatu yang terasa hidup. Pekat, berat, menekan dari segala arah, seolah udara di dalam ruangan itu sendiri ikut membungkam suara dan harapan. Ken mengerang pelan. Kesadarannya kembali perlahan, seperti ditarik paksa dari dasar jurang yang dalam. Kepalanya berdenyut hebat—tajam, menusuk, seakan ada sesuatu yang retak dari dalam tengkoraknya. Napasnya berat, tersendat, dan tidak teratur. Ia perlahan membuka mata. Cahaya redup langsung menyilaukan. Hanya satu lampu kecil yang menggantung di langit-langit, berayun pelan, menciptakan bayangan yang bergerak liar di dinding lembab. Cahaya itu tidak cukup untuk menerangi ruangan—hanya cukup untuk memperlihatkan betapa sempit dan dinginnya tempat itu. Bau menyengat langsung menusuk hidungnya. Bau besi yang berkarat, dan sesuatu yang lebih tajam—darah. Ken mencoba bergerak. Namun tubuhnya tertahan. Tangannya sudah terikat ke belakang, kakinya juga. Ikatan itu kasar, kuat, dan begitu kenca
“Tuan…?” suaranya hampir tidak terdengar, tenggorokannya terasa kering.Lampu-lampu senter anak buahnya menyorot tubuh pria yang tertelungkup di tanah itu. Ken menahan napas. Jantungnya berdetak begitu keras. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mencoba menyentuh bahu pria itu.“Tuan Raymond…?”N
Beberapa detik ruang tamu mansion itu benar-benar sunyi.Ken menatap layar tablet itu tanpa berkedip. Wajahnya perlahan berubah pucat. Bu Eli menatap layar itu dengan tangan yang gemetar. “Tidak… ini tidak mungkin…” bisiknya pelan.Ken menelan ludah dengan berat, dadanya mendadak terasa sesak.“Tu
Namun mobil itu sudah lewat sebelum ia bisa melihat lebih jelas.“Kau melihat itu?” tanya salah satu pria di belakangnya.Ken terdiam sejenak, lalu ia menggeleng pelan. “Mungkin hanya perasaanku.”Lalu—GGRRR!Tanah kembali bergetar dengan lebih kuat membuat beberapa batu kecil berguling turun dari
Tubuh Raymond terhantam keras dari samping.Seorang pria yang berlari panik menabraknya tanpa sengaja ketika mencoba menyelamatkan diri. Tubuh mereka saling bertabrakan di tengah kekacauan yang semakin tidak terkendali. Keduanya terjatuh ke tanah berbatu di pinggir jalan desa.Debu bercampur abu be







