Share

Chapter 02

Author: Aamz Kyure
last update publish date: 2025-10-17 11:38:21

Juwita sudah teriak-teriak, berharap Ajeng segera keluaran kamar. Tapi usaha Juwita berujung sia-sia karena Ajeng seolah tak peduli.

“Ada apa dengan dia?” Juwita duduk di sofa karena merasa lelah.

Tatapan Juwita tertuju pada tumpahan jus yang ada di lantai. “Dia tidak mau membersihkan tumpahan jus itu?”

“Itu artinya dia menyuruh aku membersihkannya?” Dengan ekspresi kesal Juwita mendengus tak percaya.

“Lihat saja, sampai kapan dia betah di kamar.” Juwita tentu tidak mau membersihkan tumpahan jus itu.

Biasanya dipanggil sekali saja Ajeng langsung datang seperti anjing yang kelewat penurut, tapi sekarang sudah tidak lagi.

Juwita menatap sapu yang tergeletak di lantai, Ajeng dengan beraninya melempar sapu itu dan tidak mengembalikannya ke tempat asal.

“Apa dia mau membuat aku mati lebih cepat? Sudah bagus putraku mau menikahinya.”

“Dia tinggal bersih-bersih rumah, tapi sekarang malah bertingkah dan berlagak mau menyewa pembantu.”

“Mimpi!” Juwita tidak akan membiarkan Ajeng menghambur-hamburkan uang putranya.

“Dia mau hidup santai tanpa bersih-bersih rumah? Bener-bener perempuan kampungan dan tidak berguna.”

Dua jam kemudian….

“Dia pasti berubah pikiran dan sudah merenungi kesalahannya.” Juwita sedikit tersenyum.

“Cepat bersi … kenapa kamu membawa tas?” Juwita yang awalnya duduk santai seketika langsung berdiri.

“Mau jalan-jalan,” sahut Ajeng tanpa beban. “Memanjakan diri.”

“Apa?!” Ekspresi Juwita langsung tidak santai. “Memanjakan diri itu cuma buat perempuan karir yang punya banyak uang.”

“Bukan perempuan tidak tahu diri seperti kamu yang tahunya cuma mengeruk uang putra Mama,” sinis Juwita.

“Gitu?” Ajeng mengangguk pelan.

Juwita tidak puas dengan respon Ajeng, seharusnya Ajeng langsung meminta maaf karena telah begitu lancang dan tidak tidak tahu diri.

Tapi Ajeng bahkan tidak merasa bersalah samasekali, kali ini Juwita tidak akan membiarkan Ajeng seenaknya sendiri.

“Lagipula suami kan mencari uang untuk menafkahi istri, kalau bukan untuk aku pakai lalu untuk siapa? Istri orang?”

Juwita yang mendengar hal itu semakin murka. “Jangan kurang ajar kamu! Mama tidak mengizinkan kamu pergi.”

“Tapi Mas Haekal mengizinkan aku pergi.” Ajeng menunjukkan bukti chatnya dengan Haekal.

“Haekal sedang sibuk kerja, untuk apa aku mengganggunya?” tanya Juwita.

“Cuma mengirim pesan, bukan ke kantor dan menggodanya,” balas Ajeng.

Ajeng terdiam sebentar. “Mama sebaiknya jangan terlalu sering marah, manusia kalau sering marah-marah bisa depresi.”

“Lebih parahnya juga bisa kena sakit mental,” lanjut Ajeng dengan suara yang terdengar seperti berbisik.

Juwita memegangi jantungnya yang berdetak lebih cepat, perempuan itu juga sampai sakit kepala karena kelakuan Ajeng.

Meskipun niat Ajeng baik, memberikan informasi pada Juwita. Namun Juwita malah mengira Ajeng sengaja menyumpahinya.

Ajeng memanfaatkan kesempatan tersebut untuk segera pergi, tapi Juwita dengan cepat langsung menghalanginya.

“Kamu tidak akan pernah pergi kemanapun,” tekan Juwita.

“Tas kamu biar Mama yang simpan, kamu sana pel lantai yang kotor.” Juwita berniat mengambil tas yang dibawa oleh Ajeng.

“Berikan tas kamu,” paksa Juwita yang masih berusaha menarik tas itu.

Juwita sampai terjengkang karena ulahnya sendiri, perempuan itu pura-pura kesakitan agar Ajeng tidak jadi pergi.

“Mama jatuh sendiri, aku tidak melakukan apapun.” Ajeng mengangkat kedua tangannya.

“Mama pasti kesulitan berdiri.” Ajeng menatap Juwita yang langsung mengangguk cepat.

Ajeng membantu Juwita berdiri sekaligus duduk di sofa, jangan dipikir Ajeng akan merasa sangat kasihan dan tidak jadi pergi.

“Mama istirahat saja, aku pergi dulu.” Ajeng langsung melipir pergi.

“Ajeng!” Juwita berniat mengejar Ajeng tapi pinggangnya tiba-tiba sedikit encok. “Kurang ajar.”

***

•Tempat spa•

“Itu bukannya kakak iparnya Nilam ya? Dia juga mau spa di sini? Memang dia pantas?”

“Jangan-jangan dia asal datang dan tidak tahu apapun tentang tempat ini.”

“Bisa-bisanya Kak Haekal menikah dengan perempuan yang seperti itu.”

Tiga perempuan itu adalah teman Nilam, lebih tepatnya mereka bertiga pernah dekat dan berteman dengan Nilam.

Setelah keluarga Nilam bangkrut, mereka bertiga tidak mau lagi berteman dengan Nilam karena mereka dan Nilam sudah tidak lagi setara.

Tiga perempuan itu pernah menyukai Haekal dan sempat bermimpi untuk menjadi kakak ipar Nilam.

“Meskipun Kak Haekal cuma manajer perusahaan cabang, tetap saja tidak cocok dengan perempuan seperti itu.”

“Ada yang bisa saya bantu?” Seorang resepsionis menghampiri Ajeng dengan ekspresi malas.

Ajeng berusaha tenang, perempuan itu tentu tahu apa yang resepsionis itu pikirkan. “Saya ingin mencoba paket spa relaksasi.”

“Oohh, baru pertama kali mencoba?” Suara resepsionis itu terdengar meremehkan.

“Paket spa relaksasi katanya.” Salah satu teman Nilam tertawa. “Aku yakin dia tidak tahu apapun tentang spa.”

“Katanya perempuan itu tidak jelas asal-usulnya, dia mungkin dari tempat terpencil yang sering mandi pakai air kotor.”

“Lucu sekali, mau mencoba paket spa relaksasi. Dia mungkin cuma bawa uang pas-pasan.”

Ajeng mendengus lucu membuat ekspresi tiga perempuan itu langsung kesal. Tiga perempuan itu merasa diejek oleh Ajeng.

Padahal tiga perempuan itu yang lebih dulu merendahkan Ajeng, belum apa-apa mereka bertiga malah tersinggung.

“Adik-adik ini ternyata sangat suka ikut campur ya,” sindir Ajeng.

“Kita cuma bilang fakta, masih ada waktu untuk pergi sebelum kamu kehilangan muka di tempat ini.”

Salah satu dari mereka menatap sang resepsionis. “Usir perempuan kampung itu, cepat.”

“Setuju, melayani dia cuma membuat status tempat ini menjadi rendah.”

“Silahkan pergi.” Resepsionis itu langsung mengusir Ajeng dengan ekspresi jutek.

“Aku cuma perlu waktu dua menit untuk membereskan kalian … percaya?” Pertanyaan Ajeng membuat mereka tertawa.

Ajeng mengirim pesan pada seseorang, tidak butuh waktu lama manajer yang bekerja di tempat tersebut langsung muncul.

“Mulai detik ini kamu dipecat.” Manajer tersebut menatap sang resepsionis.

“Dan kalian.” Manajer tersebut belarih menatap tiga perempuan yang telah merendahkan Ajeng. “Kalian jangan lagi menginjakkan kaki di tempat ini.”

“Nama kalian juga sudah di blacklist dari semua tempat spa, klinik, dan salon kecantikan baik yang ada di kota ini maupun kota lain,” lanjut manager itu.

“Apa?!” Tiga perempuan itu langsung shock.

‘Ini agak berlebihan.’ Ajeng juga agak shock, padahal tiga perempuan itu diusir saja sudah sangat cukup.

“Satpam!” Manager itu membuat tiga perempuan tersebut dan sang resepsionis diseret pergi secara paksa.

“Maaf atas ketidaknyamanannya.” Manager itu menunduk hormat pada Ajeng.

***

•Sore harinya•

“Hari ini Mama harus buat Kak Haekal memberikan pelajaran pada perempuan itu, dia udah berani semena-mena.”

“Aku aja sibuk mencari kerja, dia malah enak-enakan di tempat spa,” lanjut Nilam yang membuat hati Juwita semakin kesal.

“Haekal, kamu akhirnya pulang.” Juwita langsung menghampiri Haekal yang baru saja memasuki rumah.

“Mama menangis?” Haekal menatap mata Juwita yang berair.

Juwita mengusap air matanya dan memasang wajah sesedih mungkin, sementara Nilam berpura-pura menenangkan Juwita.

“Haekal, apa kamu sudah tahu kalau istri kamu itu menolak bersih-bersih rumah dan bahkan mendorong Mama sampai jatuh?”

Bersambung….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 13

    Demi agar tetap waras, Ajeng tidak perlu ambil hati. Ajeng mulai duduk dan sarapan bersama dengan suaminya, masabodo Juwita mogok makan.“Mama selalu seperti itu.” Haekal tidak bisa membuat Juwita berubah, itu bukan hal yang mudah.“Maaf kalau kamu selalu nggak nyaman dengan sikap Mama.” Haekal mengusap sebentar kepala Ajeng.“Nggak masalah.” Ajeng tersenyum seolah itu bukan apa-apa. “Kita mulai makan sekarang?”“Ya.” Sepanjang sarapan fokus mata Haekal lebih banyak tertuju pada Ajeng.Sebenarnya Haekal sangat ingin Juwita dan Nilam akur dengan Ajeng, tapi sampai sekarang tidak ada tanda-tanda mereka akan akur.Terlebih saat kelakuan buruk Nilam akhirnya terbongkar dan perempuan itu malah bicara sembarangan tentang Ajeng.“Kalau kamu bosan di rumah kamu bisa pergi jalan-jalan.” Haekal tidak pernah memaksa Ajeng melakukan apapun.Haekal hanya memastikan Ajeng menjalani hari-harinya dengan bahagia. “Atau mungkin kamu butuh sesuatu?”“Sesuatu seperti apa?” tanya Ajeng.“Apapun, yang memb

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 12

    Haekal merasa marah sekaligus kecewa, adik perempuan satu-satunya diam-diam melakukan hal kotor seperti itu di luaran sana.“Lihat ini.” Haekal menunjukkan beberapa video dimana para pria yang berbeda mengaku telah melakukan hal seperti itu dengan Nilam.“Kamu udah gila?! Hah?!” sentak Haekal.“Bagus kalau akhirnya Abang udah tahu.” Kedepannya Nilam tidak perlu lagi menutupi hal itu.“Apa yang kamu bicarakan?” Juwita memukul lengan Nilam dengan agak keras.Bukannya langsung minta maaf dan memasang ekspresi semenyesal mungkin, Nilam justru malah terlihat kelewat santai seolah itu bukan apa-apa.Sementara salah satu tangan Haekal perlahan mengepal, entah siapa yang harus disalahkan dalam hal ini. Yang jelas kalakuan Nilam tidak bisa dibenarkan.“Kamu merasa biasa aja setelah melakukan hal kotor itu?” tanya Haekal.“Banyak perempuan di luaran sana yang melakukan hal seperti itu,” balas Nilam dengan entengnya.Plak!“Diam kamu!” Juwita menunjuk Nilam setelah melayangkan tamparan pada Nila

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 11

    Meskipun Randy adalah CEO dan jabatannya lebih tinggi dari Haekal, Randy tidak bisa mengatur Haekal semaunya di luar pekerjaan. “Istri saya udah nunggu di rumah, bagian mana yang nggak Pak Randy paham?” tekan Haekal dengan suara rendah. “Saya bukannya berniat memaksa Pak Haekal–” “Saya pulang.” Haekal dengan cepat memotong ucapan Randy, setelah itu Haekal pergi begitu saja. Indah pun menghampiri Randy. “Gagal? Rasanya jadi kerabat Mr. Aj seolah bukan apa-apa untuknya.” Randy masih menunjuk Haekal, dalam sekejap Randy kehilangan kata-kata. Haekal sangat keras kepala dan tidak mudah diatur. Padahal kalau Haekal dekat dengan Indah, Haekal juga yang akan mendapatkan keuntungan. Begitulah yang dipikirkan oleh Randy. “Kenapa rasanya seperti dia yang bosnya?” Randy masih tidak bisa menerimanya. “Udahlah.” “Percuma juga kamu mendekati pria seperti Pak Haekal,” lanjut Randy, dilihat-lihat pun Haekal tidak mudah tergoda dengan perempuan lain. “Apa mungkin dia sengaja jual mahal biar aku

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 10

    Nilam ketahuan untuk yang kedua kalinya, tapi kali ini Juwita terlihat marah dan tidak bisa lagi memikirkan hal positif seperti yang sebelumnya.‘Sial, apa lagi ini?’ Entah kenapa hidup Nilam sangat tidak tenang.“Sini kamu.” Juwita menarik kasar tangan Nilam. “Kamu udah gila?”“Ada apa ini?” Pria tua yang bersama Nilam pun mengeluarkan suara. “Jangan ikut campur! Pergi sana!” Juwita langsung mengusir pria itu, pria tersebut bahkan jauh lebih tua darinya.“Saya sudah membuat janji dengannya.” Pria itu menarik lengan Nilam yang satunya lagi. “Dan saya sudah membayar uang muka, dia tentu harus melakukan pekerjaannya.”Darah Juwita seketika mendidih, pantas saja hampir setengah tahun Nilam mencari pekerjaan dan perempuan itu tak kunjung mendapatkannya.Itu adalah hal yang tidak masuk akal, tapi dengan bodohnya Juwita samasekali tidak pernah curiga alasan Nilam tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.“Apa Mama bisa pulang?” Nilam tidak mungkin meninggalkan kliennya begitu saja. “Nanti kita

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 09

    Ajeng mendengus lucu, perempuan yang tiba-tiba datang itu terlihat sok ramah. Dan yang jelas dia kelihatannya sedang mengincar Haekal.“Aku bekerja sebagai sekretaris CEO, senang bisa mengenal kakak kamu.” Ajeng masih mempertahankan senyumnya.“Tapi dia bukan kakakku, dia suamiku,” tekan Ajeng, biarkan saja Indah merasa malu.Indah tertawa pelan. “Banyak adik yang melakukan hal seperti itu, biar nggak ada perempuan yang mendekati kakaknya.”“Sepertinya kamu tipe adik yang takut kakaknya punya pacar karena perhatiannya pasti akan terbagi,” lanjut Indah.Ekspresi Ajeng terlihat nyinyir, tidakkah mata Indah melihat cincin pernikahan yang tersemat di jari manis Ajeng? Indah punya muka yang sangat tebal.“Dia benar-benar istri saya.” Haekal menatap dingin Indah.“Kamu sangat memanjakan adik kamu.” Indah masih tidak mempercayainya.“Apa kita berdua harus bercium*n dulu di depan kamu biar kamu percaya?” sarkas Ajeng.“Hah? Kalian–”“Kamu bisa pergi? Saya ingin makan malam bersama dengan istr

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 08

    Ajeng berdecih pelan, beginilah nasib punya ibu mertua dan adik ipar yang jauh dari kata idaman. Kalau tidak kuat mental, jelas tertekan.“Kamu nggak usah belain orang yang udah jahat sama kamu.” Juwita menyingkirkan pelan tangan Nilam.“Hm.” Ajeng mengangguk santai. “Nggak usah lah kamu bela-bela aku.”“Lihat sendiri kan kelakuan dia.” Juwita menatap Ajeng dengan ekspresi yang kelewat geram.“Maaa udahlah, nggak usah dilanjut–”“Udahlah apa? Nggak usah udah-udah, cepat cerita. Atau perlu aku wakilin? Lama deh.” Ajeng memotong ucapan Nilam.Haekal hanya bisa menatap mereka dengan ekspresi bingung, pria itu mencoba memahami apa yang sedang mereka bicarakan.“Cerita soal apa?” Haekal akhirnya mengeluarkan suara.“Itu istri kamu, dia sewa pria tua buat melakukan hal yang nggak-nggak ke Nilam,” celetuk Juwita.“Nggak perlu terlalu dipikirin ucapan Mama, aku udah maafin Mbak Ajeng,” sahut Nilam.“Aku nggak perlu maaf darimu, orang kamu yang obral sana-sini kok malah aku yang disalahkan.” A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status