MasukAjeng mendengus lucu, perempuan yang tiba-tiba datang itu terlihat sok ramah. Dan yang jelas dia kelihatannya sedang mengincar Haekal.“Aku bekerja sebagai sekretaris CEO, senang bisa mengenal kakak kamu.” Ajeng masih mempertahankan senyumnya.“Tapi dia bukan kakakku, dia suamiku,” tekan Ajeng, biarkan saja Indah merasa malu.Indah tertawa pelan. “Banyak adik yang melakukan hal seperti itu, biar nggak ada perempuan yang mendekati kakaknya.”“Sepertinya kamu tipe adik yang takut kakaknya punya pacar karena perhatiannya pasti akan terbagi,” lanjut Indah.Ekspresi Ajeng terlihat nyinyir, tidakkah mata Indah melihat cincin pernikahan yang tersemat di jari manis Ajeng? Indah punya muka yang sangat tebal.“Dia benar-benar istri saya.” Haekal menatap dingin Indah.“Kamu sangat memanjakan adik kamu.” Indah masih tidak mempercayainya.“Apa kita berdua harus bercium*n dulu di depan kamu biar kamu percaya?” sarkas Ajeng.“Hah? Kalian–”“Kamu bisa pergi? Saya ingin makan malam bersama dengan istr
Ajeng berdecih pelan, beginilah nasib punya ibu mertua dan adik ipar yang jauh dari kata idaman. Kalau tidak kuat mental, jelas tertekan.“Kamu nggak usah belain orang yang udah jahat sama kamu.” Juwita menyingkirkan pelan tangan Nilam.“Hm.” Ajeng mengangguk santai. “Nggak usah lah kamu bela-bela aku.”“Lihat sendiri kan kelakuan dia.” Juwita menatap Ajeng dengan ekspresi yang kelewat geram.“Maaa udahlah, nggak usah dilanjut–”“Udahlah apa? Nggak usah udah-udah, cepat cerita. Atau perlu aku wakilin? Lama deh.” Ajeng memotong ucapan Nilam.Haekal hanya bisa menatap mereka dengan ekspresi bingung, pria itu mencoba memahami apa yang sedang mereka bicarakan.“Cerita soal apa?” Haekal akhirnya mengeluarkan suara.“Itu istri kamu, dia sewa pria tua buat melakukan hal yang nggak-nggak ke Nilam,” celetuk Juwita.“Nggak perlu terlalu dipikirin ucapan Mama, aku udah maafin Mbak Ajeng,” sahut Nilam.“Aku nggak perlu maaf darimu, orang kamu yang obral sana-sini kok malah aku yang disalahkan.” A
Biar saja Juwita lihat sendiri kelakuan putri yang selalu dibangga-banggakan, kalau bisa mereka berdua harus ribut agar suasana semakin memanas. “Jangan ngada-ngada kamu, sekarang ini Nilam sedang sibuk mencari kerja.” Suara Juwita terdengar agak sewot. “Beneran loh Ma, mirip banget sama Nilam. Dia lagi cium pipi aki-aki, benar-benar gila,” ujar Ajeng. “Mana ada–” Juwita mengikuti arah pandang Ajeng. ‘Itu Nilam?’ “Meskipun agak mirip–” “Bukan mirip lagi, tapi itu memang Nilam.” Ajeng dengan cepat memotong ucapan Juwita. “Ayo kita samperin dia.” “Kita cuma salah lihat, itu bukan Nilam.” Juwita masih saja denial. Juwita tidak bisa menerima fakta bahwa putrinya yang sarjana itu berkencan dengan aki-aki yang bahkan usianya lebih tua dibanding Juwita. ‘Keburu si Nilam kabur kalau seperti ini caranya.’ Ajeng langsung menghampiri Nilam, masabodo dengan Juwita. “Ajeng mau kemana kamu?” Juwita dengan cepat langsung menyusul Ajeng. “Nilam? Katanya lagi cari kerja, tapi malah pacaran d
Ajeng sedang merasa senang karena diam-diam perempuan itu punya rencana untuk membuat Juwita tahu kelakuan putrinya. “Tiap hari aku merasa senang.” Ajeng sedikit merapikan dasi Haekal yang telah terpasang. “Hari ini agak beda, kamu kelihatan jauh lebih senang.” Haekal tentu ikut merasa senang jika istrinya senang. “Ayo makan.” Ajeng menarik pelan tangan Haekal agar pria itu segera duduk. Juwita berdecih pelan, wanita itu paling sensi setiap kali melihat momen manis Haekal dan Ajeng. Hati Juwita tidak bisa menerimanya. “Nilam … kamu masih belum dapat kerjaan juga?” Ajeng sengaja berbasa-basi. “Sok mengurusi Nilam, kamu aja pengangguran.” Ekskresi Juwita terlihat nyinyir. ‘Tahunya cuma menghabiskan uang putraku.’ “Pengangguran lebih baik daripada jadi jala*g,” sahut Ajeng asal. “Beraninya kamu menyebut kata kotor itu di depan orang tua?” Juwita langsung marah. Sementara Nilam diam-diam meneguk ludahnya dengan susah payah, bisa gawat jika Juwita sampai tahu tentang kelak
Untuk sesaat tubuh Ajeng membeku kala melihat laki-laki yang ada di foto, itu adalah laki-laki yang sempat jalan dengan Nilam.‘Hah?’ Awalnya Ajeng pikir lelaki itu sedang berjalan dengan Nilam, tapi nyatanya tidak.Ajeng lihat lelaki itu jalan dengan perempuan lain bersama dengan seorang anak. “Maaf.”Setelah itu Ajeng kembali lanjut jalan. ‘Aku mana mungkin salah lihat, dia laki-laki yang ada di foto.’‘Jadi … Nilam ditipu? Atau mungkin Nilam yang menjadi selingkuhan dia?’ Menurut Ajeng itu terlalu mengejutkan.Lelaki yang ada di foto itu sudah punya anak, Ajeng belum bisa langsung menyimpulkan karena tidak punya bukti lebih banyak.Sampai akhirnya, Ajeng kembali mendapatkan foto dari orang suruhannya. Orang itu sudah menemukan lokasi Nilam saat ini.“Apa lagi ini?” Untuk kesekian kalinya Ajeng dibuat shock karena kelakuan Nilam.“Apa dia udah tidak waras?” Kali ini Ajeng mendapatkan foto dimana Nilam sedang berjalan mesra dengan pria tua.“Jadi Nilam setiap hari melakukan itu? Jala
Ajeng masih tenang meskipun dituduh yang tidak-tidak, masa depan Ajeng suram? Justru kehadiran Juwita lah yang membuat hidup Ajeng menjadi suram. “Kenapa Mama bilang seperti itu?” Suara Haekal terdengar dingin. “Kamu ini Haekal, bela aja terus istri kamu itu.” Suara Juwita terdengar sangat sewot. “Kalau adik ipar tidak mau ya udah, seharusnya aku udah terbiasa melakukan semuanya sendiri,” ujar Ajeng. ‘Apa dia sengaja sok sedih seperti itu?’ Juwita harus membela diri. “Apa maksud kamu mengerjakan semuanya sendirian?” “Kamu sengaja menjelek-jelekkan Mama di depan putra Mama sendiri? Kamu mengatai Mama malas? Iya?” “Kedengarannya seperti bukan pertanyaan, tapi pengakuan,” sarkas Ajeng. Juwita semakin geram, kemana Ajeng yang tidak pernah berani membalas ucapannya? Kalau seperti ini Juwita bisa mati cepet karena kesal. “Kamu ….” Juwita menunjuk Ajeng. “Ma cukup.” Haekal tidak ingin mendengar perdebatan apapun. “Nilam, kamu seharusnya lebih peka.” “Selama ini apa pernah







