MasukMatahari belum benar-benar bangkit dari peraduannya, namun Song Liya sudah memecah kesunyian di dalam kamar tidurnya yang luas.
Di dunia asalnya, ia adalah pemuja olahraga, baginya, keringat adalah meditasi. Ia memanfaatkan furnitur kayu jati yang berat sebagai alat olahraga dadakan. Dengan napas yang teratur, ia melakukan posisi push-up di lantai yang dingin. "Aku harus tetap bugar," batin Liya sambil mengatur napas. "Apa pun jamannya, entah itu abad ke-21 atau dunia novel antah-berantah ini, tubuh adalah satu-satunya aset yang bisa kuandalkan." Ketika cahaya mentari mulai menyelinap melalui celah jendela, suara ketukan pelan terdengar di pintu kayu yang kokoh. "Nyonya, apakah sudah bangun? Ini Xiao Cui," suara pelayan itu terdengar mencicit, penuh keraguan. "Masuklah," sahut Liya tanpa menghentikan gerakannya. Xiao Cui tertegun di ambang pintu. Biasanya, ia harus bolak-balik hingga lima kali hanya untuk membujuk majikannya membuka mata. Kali ini, cukup satu panggilan. Ia masuk membawa baskom berisi air hangat, namun matanya langsung membelalak melihat pemandangan di depannya. "Nyonya! Apa yang kau lakukan?" pekik Xiao Cui keheranan. "Kenapa Nyonya bersimbah keringat di atas lantai seperti itu?" Liya bangkit dengan lincah, menyeka keringat di dahinya. "Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya kegerahan. Pagi ini ada apa?" "Seperti biasa, Nyonya Muda ke Paviliun Teratai untuk makan pagi bersama Nyonya Besar dan Tuan Adipati," lapor Xiao Cui dengan nada cemas. Liya mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan jengah. "Ujian kesabaran lagi," gumamnya. "Xiao Cui, bantu aku bersiap. Kita harus bergerak secepat kilat!" Dalam memilih pakaian, Liya menolak jubah-jubah berat yang menyesakkan leher. Ia memilih hanfu berwarna hijau toska dengan potongan kerah yang sedikit lebih rendah yang masih sopan, namun menonjolkan garis leher dan bahunya yang indah. "Nyonya, riasan wajahnya ... haruskah Xiao Cui memanggil penata rias?" tanya Xiao Cui sambil menyisir rambut hitam panjang Liya. "Tidak perlu. Biar aku sendiri," sahut Liya. Jiwanya sebagai perempuan modern meronta; ia teringat teknik makeup transparan yang sering ia tonton di aplikasi video pendek. Ia mengambil bubuk perona pipi dan pemerah bibir. Dengan lihai, ia menciptakan gradasi warna yang halus, membuat pipinya tampak merona alami. Terakhir, ia menambahkan sedikit minyak mawar pada bibirnya sehingga tampak segar dan lembap. Xiao Cui terpana hingga tangan yang memegang sisir giok itu gemetar. "Nyonya ... ini luar biasa! Wajah Nyonya tampak hangat, tidak lagi kaku. Bagaimana bisa bibir Nyonya tampak seperti kelopak bunga mawar yang terkena embun pagi?" Liya mengerling jenaka di cermin. "Ini rahasia desaku. Nanti akan kuajarkan kau dan dayang lainnya agar kalian semua tampil cantik." "Benarkah, Nyonya?" Xiao Cui bersorak girang. "Nyonya tidak bercanda?" "Tentu tidak. Sekarang, ayo berangkat sebelum Ibu Mertua mulai membayangkan cara memenggal kepalaku." Sesampainya di Paviliun Teratai, suasana masih sepi. Para pelayan yang sedang mempersiapkan hidangan tercengang melihat Nyonya Muda mereka sudah hadir sepagi ini. Terdengar bisik-bisik pujian tentang riasannya yang segar dan pakaiannya yang menawan. Tak berapa lama, Long Xuan datang dengan jubah navy dan putih yang megah. Liya yang sedang menyesap tehnya nyaris tersedak. "Tuhan... si balok es ini visualnya benar-benar di luar nalar," batin Liya. Mentari pagi mempertegas rahang tegas dan tatapan tajam pria itu, jauh melebihi gambaran dalam novel. Saat mata mereka beradu, Long Xuan tampak terpaku. Entah terpesona atau terkejut melihat istrinya yang biasanya bangun siang kini sudah duduk rapi, kaki sang Adipati tiba-tiba terantuk langkahnya sendiri. Ia hampir terjerembab di depan semua orang. "Ah!" para dayang menjerit tertahan. Dengan sigap, Long Xuan menguasai diri dan kembali berdiri tegak. Namun, Liya bisa melihat daun telinga pria itu memerah padam karena malu. Liya tetap tenang seolah tidak melihat kejadian memalukan tadi. "Kau ... bisa bangun pagi?" Suara Long Xuan keluar dengan nada mengejek saat ia duduk di depan Liya. Liya meletakkan cangkirnya perlahan. "Udara pagi terlalu berharga untuk dilewatkan dengan mendengkur, Tuan Adipati. Tidakkah kau setuju?" Long Xuan mendengkus, hendak membalas, namun langkah kecil seorang anak laki-laki menghentikan mereka. Long Yuan, keponakan yatim piatu Long Xuan, mendekat dengan wajah pucat. "Paman ... Bibi... Nenek menyampaikan pesan. Beliau kurang enak badan dan tidak bisa ikut makan pagi," bisik bocah itu dengan suara bergetar. Long Xuan terkejut. "Sakit? Mengapa tidak ada kabar sebelumnya?" Ia menatap Yuan sejenak, lalu berkata tanpa menoleh pada Liya, "Paman akan mengunjungi Nenek setelah makan ini selesai." Long Yuan tampak ragu memilih tempat duduk. Ketakutannya pada bibinya, Murong Shi, sangat jelas terlihat. Akhirnya ia memilih duduk di dekat pamannya, sejauh mungkin dari Bibinya. Acara makan berlangsung dingin. Hanya bunyi denting sumpit pada porselen yang terdengar. Yuan tampak gelisah; tangannya yang mungil mencoba mengambil sepotong ikan yang licin. Plung! Daging ikan itu tergelincir, jatuh mengotori meja, dan sausnya memercik ke lengan baju hijau toska milik Bibinya. Bocah itu langsung gemetar hebat, wajahnya pucat pasi menunggu ledakan amarah yang biasa ia terima. "A-ampun ... Bibi... Yuan'er tidak sengaja," isaknya dengan kepala menunduk dalam. Long Xuan meletakkan sumpitnya, matanya waspada, siap membela keponakannya jika istrinya mulai bertindak kasar. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Liya hanya melirik nodanya sekilas, lalu beralih menatap Yuan dengan lembut. Ia mengambil selembar kain bersih dan mengganti sumpit Yuan yang terjatuh. "Yuan'er, kenapa gemetar begitu?" tanya Liya pelan. "Ikan ini memang licin. Bibi pun tadi hampir menjatuhkannya." Yuan mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Bibi ... tidak marah?" "Marah karena sepotong ikan?" Liya tertawa kecil. "Itu hanya ikan, bukan masalah besar. Sini, biar Bibi bantu ambilkan bagian yang tanpa tulang." Liya dengan telaten memotongkan ikan dan menaruhnya di mangkuk nasi Yuan. "Makanlah yang banyak agar kau cepat besar dan kuat. Bagaimana bisa kau menjadi Adipati hebat seperti pamanmu jika takut pada sepotong ikan?" Yuan tertegun. Untuk pertama kalinya, rasa takut di matanya memudar, digantikan oleh binar keheranan. Long Xuan sendiri tidak menemukan celah untuk marah. "Tiba-tiba saja kau menjadi sangat murah hati, Murong Shi," sindir Long Xuan. "Aku harap ini bukan sandiwara untuk menarik simpati." Liya menatap suaminya dengan tatapan menantang yang berani. "Tuan Adipati, setiap orang bisa berubah jika mereka menyadari bahwa kebencian hanya akan merusak kecantikan wajah." Long Xuan terdiam. Bayangan kelembutan istrinya pagi ini menciptakan konflik di kepalanya. Ia membenci Murong Shi, namun wanita di depannya ini terasa begitu ... berbeda. Setelah selesai, Long Xuan bangkit dari kursinya. Ia berhenti sejenak di samping Liya, menunduk dan berbisik tepat di telinganya. "Riasan dan hanfu ini ... jangan pernah kau tunjukkan pada pria lain selain aku." Liya menengadah, memberikan senyum seksi yang provokatif. "Kenapa? Apa Tuan Adipati mulai merasa posesif?" Long Xuan tidak menjawab. Ia hanya mendengkus kasar dan melangkah pergi dengan terburu-buru. "Nyonya ..." bisik Xiao Cui dengan wajah memerah. "Tuan Adipati tadi ... wajahnya merah sampai ke leher!" Liya tersenyum puas sambil mengusap kepala Long Yuan yang kini makan dengan lahap. "Biarkan saja, Xiao Cui. Biarkan dia terbakar sedikit. Itu bagus untuk mencairkan hatinya yang membeku."Suasana di ruang makan utama kediaman Murong terasa lebih dingin daripada salju yang turun di Beiyuan. Lilin-lilin besar yang menyala di dinding perak seolah tidak mampu mengusir kebekuan yang merayap di meja panjang itu. Liya duduk tegak, tangannya melipat di bawah meja, sementara indranya menangkap setiap getaran intimidasi yang diarahkan kepadanya. Murong Guan, ayahnya, menyesap supnya perlahan sebelum meletakkan sendok dengan denting porselen yang tajam. "Kudengar Toko Kain Qing Fen di distrik timur sedang naik daun," suara Murong Guan memecah kesunyian. Matanya yang setajam elang menatap Liya tanpa berkedip. "Bagaimana Long Xuan? Apakah sang Adipati yang kaku itu mendukung ambisi istrinya berdagang seperti rakyat jelata?" Liya tersentak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran yang menghantamnya. Bagaimana dia bisa tahu? Selama ini, ia yakin usahanya di Beiyuan dilakukan dengan rapi dan tanpa diketahui keluarga Murong. Firasatnya yang sel
Roda kereta kuda berderit pelan saat melintasi batas wilayah Changxu, meninggalkan bentang tanah Beiyuan. Liya menyingkap tirai sutra, menatap deretan prajurit berseragam biru tua dengan lencana ombak sungai yang kini mengawal jalannya. Inilah pasukan keluarga Murong, simbol kedigdayaan sang penguasa jalur sungai yang tak tertandingi.Perjalanan menuju kediaman utama Murong memakan waktu hampir setengah hari. Menjelang senja, kereta akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang megah. Tidak ada riuh sambutan; suasana begitu sunyi seolah kepulangannya adalah rahasia yang tak perlu dirayakan. Hanya seorang pelayan tua yang membungkuk khidmat, membantu menurunkan barang-barang menuju sebuah paviliun yang letaknya agak terisolasi dari bangunan utama, satu sudut tempat Murong Shi menghabiskan masa gadisnya.Liya mengamati sekeliling dengan saksama. Kediaman ini sangat mewah dan impresif, hampir menandingi keagungan Keluarga Long. Sesampainya di Paviliun tempat tinggalnya semasa gadisnya, ia
Di sebuah paviliun yang seolah melayang di atas hamparan awan Gunung Lu, Penasihat Istana Bao Cheng menuangkan teh dengan gerakan yang sangat terukur. Uap panas mengepul tipis, mengantarkan aroma melati kelas atas ke hadapan tamunya, Murong Guan.Bao Cheng menyunggingkan senyum tipis, jenis lengkungan bibir yang tak pernah menyentuh binar matanya. "Kaisar sedang diliputi kegelisahan, Tuan Murong. Beliau tidak menyukai kabar yang berembus dari Beiyuan belakangan ini."Murong Guan melemparkan tatapan tajam, menembus ketenangan semu sang penasihat. "Jelaskan makna di balik ucapanmu itu, Penasihat Bao.""Rencana awal kita mengirim putrimu ke Beiyuan adalah untuk menjadi beban, pengalih perhatian, dan jika memungkinkan, melumpuhkan pengaruh Adipati Beiyuan dari dalam. Namun, apa yang terjadi sekarang? Distrik Timur bangkit, pasar tradisional menjelma menjadi episentrum ekonomi baru, dan rakyat Beiyuan kini memuja nama klan Long lebih dari sebelumnya."Murong Guan menyesap tehnya dengan
Angin sore di tepian Danau Beiyuan berembus membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa amis darah yang mulai memudar. Di bawah sebuah pohon willow tua, sebuah gundukan tanah baru berdiri sunyi. Na Ying dan Liya baru saja menyelesaikan pemakaman sederhana untuk Bibi Wan. Tidak ada nisan mewah, hanya tumpukan batu alam sebagai tanda bahwa seorang tabib hebat telah beristirahat di sana. Kereta kuda sewaan Liya yang membawanya tadi telah lenyap, kemungkinan besar kusirnya melarikan diri karena ketakutan saat melihat komplotan berpakaian hitam menyerang. "Naiklah ke kudaku," perintah Na Ying singkat sembari menuntun tunggangannya. Suaranya kembali dingin, namun ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan di balik cadarnya. Liya menurut, namun sebelum ia menginjakkan kaki di sanggurdi, ia menahan lengan Na Ying. Jantungnya berdegup kencang. Rahasia yang ia simpan sejak semalam terasa menyumbat tenggorokannya. Ia tahu, momen ini mungkin tidak akan datang dua kali. "Kak Na, tunggu se
Parang tajam itu hanya berjarak beberapa milimeter dari kulit leher Liya ketika sebuah deru kencang membelah kesunyian. Suara derap kaki kuda yang dipacu membabi buta mendekat, dibarengi teriakan melengking yang menggetarkan nyali."Lepaskan dia dan menyerahlah, tikus-tikus menjijikkan!"Sesosok bayangan melesat dari punggung kuda yang masih berlari. Wanita itu mengenakan cadar hitam dan caping bambu yang menutupi wajahnya, namun aura maut yang ia bawa tak bisa disembunyikan. Ia mendarat dengan ringan, pedangnya langsung berdenting, menebas udara dalam gerakan busur yang mematikan."Nyonya Bandit Gunung Yu!" seru salah satu penyergap dengan nada gentar. "Na Ying!"Na Ying tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan serangan yang lebih buas. Meski ia melawan para pembunuh yang terlatih, ilmu bela diri pimpinan bandit itu berada pada tingkatan yang berbeda. Setiap ayunan pedangnya presisi, mematahkan pertahanan dan melukai titik vital. Dalam waktu singkat, tiga orang tersungku
Pagi itu, denting sumpit yang beradu dengan porselen menjadi satu-satunya melodi yang mengisi ruang makan kediaman Keluarga Long. Long Xuan duduk dengan punggung tegak, wajahnya sedingin marmer, tak sekalipun melirik ke arah istrinya. Begitu suapan terakhir selesai, ia langsung berdiri tanpa sepatah kata pun, meninggalkan aroma dingin yang tertinggal di udara saat jubah hitamnya menghilang di balik pintu. Liya tetap diam, menatap uap teh yang perlahan menghilang dari cangkirnya. Pikirannya tidak sedang meratapi sikap dingin suaminya yang tiba-tiba itu. Sebaliknya, ada setitik rasa syukur yang muncul. Baguslah kalau dia mengabaikanku, batin Liya. Setidaknya, kecurigaannya tidak akan membayangi langkahku hari ini. Fokus Liya sekarang adalah satu yaitu Nenek Tabib dan janji obat untuk Long Xuan. Ia tahu, waktunya tidak banyak. Setelah Liya memastikan Long Xuan telah berangkat ke Balai Kota dan Long Yuan sudah aman di sekolah, dengan penyamaran sederhana dan kereta kuda sewaan yang







