Share

Bab 5

Author: Wei Yun
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-15 14:08:34

Matahari belum benar-benar bangkit dari peraduannya, namun Song Liya sudah memecah kesunyian di dalam kamar tidurnya yang luas.

Di dunia asalnya, ia adalah pemuja olahraga, baginya, keringat adalah meditasi. Ia memanfaatkan furnitur kayu jati yang berat sebagai alat olahraga dadakan. Dengan napas yang teratur, ia melakukan posisi push-up di lantai yang dingin.

​"Aku harus tetap bugar," batin Liya sambil mengatur napas. "Apa pun jamannya, entah itu abad ke-21 atau dunia novel antah-berantah ini, tubuh adalah satu-satunya aset yang bisa kuandalkan."

​Ketika cahaya mentari mulai menyelinap melalui celah jendela, suara ketukan pelan terdengar di pintu kayu yang kokoh.

​"Nyonya, apakah sudah bangun? Ini Xiao Cui," suara pelayan itu terdengar mencicit, penuh keraguan.

​"Masuklah," sahut Liya tanpa menghentikan gerakannya.

​Xiao Cui tertegun di ambang pintu. Biasanya, ia harus bolak-balik hingga lima kali hanya untuk membujuk majikannya membuka mata. Kali ini, cukup satu panggilan. Ia masuk membawa baskom berisi air hangat, namun matanya langsung membelalak melihat pemandangan di depannya.

​"Nyonya! Apa yang kau lakukan?" pekik Xiao Cui keheranan. "Kenapa Nyonya bersimbah keringat di atas lantai seperti itu?"

​Liya bangkit dengan lincah, menyeka keringat di dahinya. "Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya kegerahan. Pagi ini ada apa?"

​"Seperti biasa, Nyonya Muda ke Paviliun Teratai untuk makan pagi bersama Nyonya Besar dan Tuan Adipati," lapor Xiao Cui dengan nada cemas.

​Liya mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan jengah. "Ujian kesabaran lagi," gumamnya. "Xiao Cui, bantu aku bersiap. Kita harus bergerak secepat kilat!"

​Dalam memilih pakaian, Liya menolak jubah-jubah berat yang menyesakkan leher. Ia memilih hanfu berwarna hijau toska dengan potongan kerah yang sedikit lebih rendah yang masih sopan, namun menonjolkan garis leher dan bahunya yang indah.

​"Nyonya, riasan wajahnya ... haruskah Xiao Cui memanggil penata rias?" tanya Xiao Cui sambil menyisir rambut hitam panjang Liya.

​"Tidak perlu. Biar aku sendiri," sahut Liya. Jiwanya sebagai perempuan modern meronta; ia teringat teknik makeup transparan yang sering ia tonton di aplikasi video pendek.

​Ia mengambil bubuk perona pipi dan pemerah bibir. Dengan lihai, ia menciptakan gradasi warna yang halus, membuat pipinya tampak merona alami. Terakhir, ia menambahkan sedikit minyak mawar pada bibirnya sehingga tampak segar dan lembap.

​Xiao Cui terpana hingga tangan yang memegang sisir giok itu gemetar. "Nyonya ... ini luar biasa! Wajah Nyonya tampak hangat, tidak lagi kaku. Bagaimana bisa bibir Nyonya tampak seperti kelopak bunga mawar yang terkena embun pagi?"

​Liya mengerling jenaka di cermin. "Ini rahasia desaku. Nanti akan kuajarkan kau dan dayang lainnya agar kalian semua tampil cantik."

​"Benarkah, Nyonya?" Xiao Cui bersorak girang. "Nyonya tidak bercanda?"

​"Tentu tidak. Sekarang, ayo berangkat sebelum Ibu Mertua mulai membayangkan cara memenggal kepalaku."

​Sesampainya di Paviliun Teratai, suasana masih sepi. Para pelayan yang sedang mempersiapkan hidangan tercengang melihat Nyonya Muda mereka sudah hadir sepagi ini. Terdengar bisik-bisik pujian tentang riasannya yang segar dan pakaiannya yang menawan.

​Tak berapa lama, Long Xuan datang dengan jubah navy dan putih yang megah. Liya yang sedang menyesap tehnya nyaris tersedak.

​"Tuhan... si balok es ini visualnya benar-benar di luar nalar," batin Liya. Mentari pagi mempertegas rahang tegas dan tatapan tajam pria itu, jauh melebihi gambaran dalam novel.

​Saat mata mereka beradu, Long Xuan tampak terpaku. Entah terpesona atau terkejut melihat istrinya yang biasanya bangun siang kini sudah duduk rapi, kaki sang Adipati tiba-tiba terantuk langkahnya sendiri. Ia hampir terjerembab di depan semua orang.

​"Ah!" para dayang menjerit tertahan.

​Dengan sigap, Long Xuan menguasai diri dan kembali berdiri tegak. Namun, Liya bisa melihat daun telinga pria itu memerah padam karena malu. Liya tetap tenang seolah tidak melihat kejadian memalukan tadi.

​"Kau ... bisa bangun pagi?" Suara Long Xuan keluar dengan nada mengejek saat ia duduk di depan Liya.

​Liya meletakkan cangkirnya perlahan. "Udara pagi terlalu berharga untuk dilewatkan dengan mendengkur, Tuan Adipati. Tidakkah kau setuju?"

​Long Xuan mendengkus, hendak membalas, namun langkah kecil seorang anak laki-laki menghentikan mereka. Long Yuan, keponakan yatim piatu Long Xuan, mendekat dengan wajah pucat.

​"Paman ... Bibi... Nenek menyampaikan pesan. Beliau kurang enak badan dan tidak bisa ikut makan pagi," bisik bocah itu dengan suara bergetar.

​Long Xuan terkejut. "Sakit? Mengapa tidak ada kabar sebelumnya?" Ia menatap Yuan sejenak, lalu berkata tanpa menoleh pada Liya, "Paman akan mengunjungi Nenek setelah makan ini selesai."

​Long Yuan tampak ragu memilih tempat duduk. Ketakutannya pada bibinya, Murong Shi, sangat jelas terlihat. Akhirnya ia memilih duduk di dekat pamannya, sejauh mungkin dari Bibinya.

​Acara makan berlangsung dingin. Hanya bunyi denting sumpit pada porselen yang terdengar. Yuan tampak gelisah; tangannya yang mungil mencoba mengambil sepotong ikan yang licin.

Plung!

​Daging ikan itu tergelincir, jatuh mengotori meja, dan sausnya memercik ke lengan baju hijau toska milik Bibinya. Bocah itu langsung gemetar hebat, wajahnya pucat pasi menunggu ledakan amarah yang biasa ia terima.

​"A-ampun ... Bibi... Yuan'er tidak sengaja," isaknya dengan kepala menunduk dalam. Long Xuan meletakkan sumpitnya, matanya waspada, siap membela keponakannya jika istrinya mulai bertindak kasar.

​Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Liya hanya melirik nodanya sekilas, lalu beralih menatap Yuan dengan lembut. Ia mengambil selembar kain bersih dan mengganti sumpit Yuan yang terjatuh.

​"Yuan'er, kenapa gemetar begitu?" tanya Liya pelan. "Ikan ini memang licin. Bibi pun tadi hampir menjatuhkannya."

​Yuan mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Bibi ... tidak marah?"

​"Marah karena sepotong ikan?" Liya tertawa kecil. "Itu hanya ikan, bukan masalah besar. Sini, biar Bibi bantu ambilkan bagian yang tanpa tulang."

​Liya dengan telaten memotongkan ikan dan menaruhnya di mangkuk nasi Yuan. "Makanlah yang banyak agar kau cepat besar dan kuat. Bagaimana bisa kau menjadi Adipati hebat seperti pamanmu jika takut pada sepotong ikan?"

​Yuan tertegun. Untuk pertama kalinya, rasa takut di matanya memudar, digantikan oleh binar keheranan. Long Xuan sendiri tidak menemukan celah untuk marah.

​"Tiba-tiba saja kau menjadi sangat murah hati, Murong Shi," sindir Long Xuan. "Aku harap ini bukan sandiwara untuk menarik simpati."

​Liya menatap suaminya dengan tatapan menantang yang berani. "Tuan Adipati, setiap orang bisa berubah jika mereka menyadari bahwa kebencian hanya akan merusak kecantikan wajah."

​Long Xuan terdiam. Bayangan kelembutan istrinya pagi ini menciptakan konflik di kepalanya. Ia membenci Murong Shi, namun wanita di depannya ini terasa begitu ... berbeda.

​Setelah selesai, Long Xuan bangkit dari kursinya. Ia berhenti sejenak di samping Liya, menunduk dan berbisik tepat di telinganya. "Riasan dan hanfu ini ... jangan pernah kau tunjukkan pada pria lain selain aku."

​Liya menengadah, memberikan senyum seksi yang provokatif. "Kenapa? Apa Tuan Adipati mulai merasa posesif?"

​Long Xuan tidak menjawab. Ia hanya mendengkus kasar dan melangkah pergi dengan terburu-buru.

​"Nyonya ..." bisik Xiao Cui dengan wajah memerah. "Tuan Adipati tadi ... wajahnya merah sampai ke leher!"

​Liya tersenyum puas sambil mengusap kepala Long Yuan yang kini makan dengan lahap. "Biarkan saja, Xiao Cui. Biarkan dia terbakar sedikit. Itu bagus untuk mencairkan hatinya yang membeku."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 152

    Gema derap kaki kuda membelah kesunyian lembah berbatu di barat Dan Xue. Long Xuan memacu tunggangannya layaknya kesetanan, mengabaikan kerikil yang beterbangan serta embusan angin gunung yang menusuk tulang. Di belakangnya, pasukan Beiyuan mengekor dalam formasi rapat, namun pikiran Xuan telah jauh melesat melampaui garis depan.​"SHISHI! MURONG SHI!" teriak Xuan dengan suara parau yang memantul pada dinding-dinding tebing terjal.​Setiap pantulan suaranya terasa bagai ejekan takdir. Ia baru saja menyaksikan nyawa Na Ying melayang, wanita yang di detik terakhir ia akui sebagai ibu. Kini, ketakutan kehilangan Liya—wanita yang menjadi poros dunianya—membuatnya nyaris gila.​"Tuan Adipati! Di sana!" seru salah seorang prajurit sembari menunjuk ke ujung ceruk tebing.​Xuan melompat turun bahkan sebelum kudanya benar-benar berhenti. Matanya yang memerah menyisir tanah. Jejak tapak kuda berakhir tepat di bibir jurang curam. Di bawah sana, sungai deras bergemuruh, memuntahkan uap dingin yan

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 151

    Debu jalanan masih berterbangan saat deru kaki kuda pasukan Beiyuan berhenti mendadak di depan penginapan. Long Xuan melompat turun dari kudanya dengan tergesa. Jantungnya bertalu hebat, seirama dengan firasat buruk yang kini terbukti di depan mata.​Pemandangan di depannya adalah neraka yang membeku; keheningan yang mencekam menyelimuti halaman yang kini dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan dengan luka sabetan yang mengerikan. Aroma amis darah menyeruak, memenuhi udara malam yang dingin.​"Shishi! Na Ying!" teriak Xuan, suaranya pecah membelah kesunyian.​Langkahnya menerjang masuk ke dalam lobi yang hancur berantakan. Kursi dan meja kayu hancur berkeping-keping, guci porselen pecah berserakan di lantai yang kini licin oleh cairan merah. Ia mengabaikan mayat-mayat penyerbu yang tewas di tangan Na Ying. Matanya liar menyisir setiap sudut, jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.​"Cari Nyonya Adipati! Geledah setiap jengkal tempat ini! Ja

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 150

    Kegelapan seketika menyergap kamar penginapan itu saat Na Ying menjentikkan kepingan logam kecil dari sakunya, memadamkan sisa lilin yang menyala dengan presisi maut. Di bawah cahaya rembulan yang tipis, Liya bisa menyaksikan gerak-gerik mertuanya yang begitu taktis dan efisien. ​"Shishi, lekas!" bisik Na Ying rendah, napasnya sedikit tertahan guna meredam perih yang menghunjam punggungnya. ​Dengan ketangkasan yang lahir dari desakan rasa takut, Liya membantu Na Ying menyusun bantal-bantal di balik selimut sutra. Dalam keremangan, gundukan itu tampak identik dengan dua insan yang tengah terlelap. Begitu umpan terpasang, Na Ying mencengkeram lengan Liya, menariknya mendekati ambang pintu kamar. ​BRAAAK!!! ​Tepat saat daun pintu terkatup rapat di belakang mereka, suara jendela kamar didobrak dari luar terdengar memekakkan telinga. Derap langkah kaki yang berat menghujam lantai kayu, disusul desingan tajam mata pedang yang menghujam bantal-bantal kosong di atas ranjang. ​"Mereka sud

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 149

    Cahaya fajar perlahan melalui celah jendela kayu, menyentuh permukaan kulit Liya yang halus. Kesadarannya terjaga saat merasakan hembusan napas hangat yang teratur menyapu keningnya, diikuti sebuah kecupan lembut yang mendarat lama di bibirnya. ​Liya membuka mata, mendapati wajah Long Xuan hanya berjarak seujung kuku darinya. Namun, ia terkesiap melihat penampilan suaminya. Tidak ada lagi jubah sutra megah dengan sulaman naga atau baju zirah perak yang berkilau; yang ada hanyalah pakaian kasar dari serat rami yang kusam, ikat kepala kain kumal, dan corengan jelaga di rahang tegasnya.​"Xuan?" bisik Liya parau, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. "Kau ... kau sudah akan pergi?"​"Waktunya tiba, Shishi," jawab Xuan dengan suara rendah. Ia mengelus pipi istrinya dengan jemari yang kasar.​Liya segera bangkit, duduk di tepi ranjang sementara jemarinya meraba kain rami yang dikenakan Xuan. Ia memandangi suaminya dari ujung kepala hingga kaki. "Penyamaranmu ... kau terlihat sangat

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 148

    Liya berdiri mematung di lorong penginapan yang remang, menatap punggung suaminya yang kian menjauh dan menghilang di balik kegelapan tangga. Hatinya seperti diremas melihat kehancuran di mata Xuan. Isak tangis dari dalam kamar memanggilnya kembali; Na Ying sedang meratap, sebuah suara yang sarat akan penyesalan yang terlambat.​Liya masuk kembali dan mendapati Na Ying berusaha duduk, tangannya mencengkeram kain seprai. Wajahnya yang pucat kini basah oleh air mata yang tak terbendung.​"Dia membenciku, Shishi ... Dia benar-benar membenciku," isak Na Ying parau. "Setiap kata yang ia ucapkan ... semuanya benar. Aku adalah seorang pengecut."​Liya duduk di tepi ranjang, merangkul bahu wanita yang gemetar itu. "Dia tidak membencimu, Na Ying. Dia hanya sedang terluka. Seluruh dunianya baru saja terbalik. Bayangkan, pria yang dibesarkan untuk menjadi pedang Beiyuan kini mengetahui bahwa selama ini darah yang ia perangi adalah darahnya sendiri.""Tapi aku punya alasan yang kuat!" Na Ying men

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 147

    Xuan mengembuskan napas panjang dengan kasar, sebuah geraman frustrasi tertahan di tenggorokannya. Untuk kesekian kalinya, ia harus menelan kembali gairah yang sudah di ujung tanduk karena gangguan yang tak terduga. ​Liya, yang masih berada di pelukan Xuan, menatap wajah suaminya yang nampak kesal dengan binar jenaka. Ia memberikan senyum meledek, menyadari bahwa suaminya sedang berjuang keras menekan hasrat yang masih terjebak di dalam dirinya. ​"Jangan menertawakanku, Shishi," bisik Xuan parau, matanya masih berkilat gelap. ​Liya terkekeh kecil, lalu mengecup hidung Xuan. "Aku tidak tertawa, Xuan. Hanya saja ... sepertinya semesta memang sedang menguji kesabaran sang Adipati Beiyuan malam ini." ​Xuan memejamkan mata sejenak, mencoba menstabilkan degup jantungnya. Ia memberi kode melalui gerakan kepala agar Liya segera bangkit dan memenuhi panggilan Na Ying. Sebelum benar-benar keluar dari bak mandi, Liya sempat mengecup bibir suaminya dengan ringan, sebuah kecupan manis yang seo

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 85

    Kereta kuda yang membawa Song Liya kembali ke Kediaman Long berguncang pelan di atas jalanan berbatu. Di dalamnya, suasana terasa mencekam, bukan karena ancaman luar, melainkan karena rencana yang sedang disusun Liya di dalam kepalanya. Di depannya, Lu Chen duduk dengan posisi siaga, pengawal setia

    last updateHuling Na-update : 2026-03-30
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 71

    Gema kegaduhan di ruang kerja Chen Yuan perlahan surut seiring diseretnya Yue Ning oleh pasukan Balai Kota. Suasana Akademi Shin Yue kembali tenang, meski desas-desus di kalangan orang tua murid masih berdengung riuh di kejauhan, menguliti skandal yang baru saja terungkap. ​Long Xuan tidak membia

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 69

    Fajar baru saja menyingsing sepenuhnya saat Liya merapikan lipatan hanfu sutra di depan cermin. Hari ini, ia tidak memilih pakaian yang bersahaja. Sebaliknya, ia mengenakan gaun dengan potongan kerah yang sedikit lebih rendah dari biasanya, menonjolkan lekuk leher dan kemolekan dadanya yang penuh.

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 72

    Malam di Kediaman Long merayap penuh kesunyian. Di dalam Paviliun Anggrek, Liya tampak gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, sesekali berhenti di depan jendela untuk menatap kegelapan di luar. Sudah hampir tengah malam, namun ia belum juga mendengar suara gerbang utama dibuka atau derap l

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status