Home / Rumah Tangga / Menyala Istri Sah! / Bab 2. Keluarga Besar Maheswara

Share

Bab 2. Keluarga Besar Maheswara

Author: Ucing Ucay
last update publish date: 2025-12-09 14:06:35

“Sayang,” ucapnya, suaranya datar namun tegas, “aku ada rapat penting pagi ini. Kamu yang antar anak-anak ke sekolah, kan?”

Nayara, yang masih jongkok mengikat tali sepatu Shaila, hanya mengangguk tanpa menoleh. “Ya. Setelah itu aku mau mampir sebentar ke butik.”

Arga menepuk bahu Dharma sambil menunduk ke anak laki-lakinya itu. “Belajar yang rajin, jangan bikin masalah di kelas.”

“Siap, Ayah!” seru Dharma dengan senyum lebar.

Lalu giliran Shaila yang disentuh lembut rambutnya. “Kamu juga, jangan nakal.”

Shaila menatap ayahnya dengan serius. “Ayah jangan pulang malam lagi, ya. Aku tidak suka.”

Kalimat itu, polos dari bibir seorang anak, membuat ruangan sejenak terhenti. Arga mengerjap pelan, lalu membalas dengan senyum kecut. “Ayah usahakan, Sayang.”

Nayara, yang mendengar kalimat itu, merasakan sesuatu menghunjam di dadanya. Usahakan. Kata itu seakan sudah basi di telinganya. Janji Arga untuk pulang tepat waktu sudah terlalu sering melayang tanpa bukti. Alasan rapat bisnis, klien yang tak bisa ditinggalkan, atau pekerjaan mendesak selalu menjadi alasan utama.

Ia ingin berkata banyak hal saat berdiri menatap suaminya—ingin menagih kehangatan yang dulu tak pernah terlambat diberikan, ingin mengingatkan betapa jarak di antara mereka kian melebar. Namun, seperti biasa, kata-kata itu membeku di tenggorokan.

Arga meraih tas kerjanya. “Aku berangkat dulu.”

Nayara menegakkan bahu, suaranya lembut tapi ada getir yang tersembunyi. “Jangan lupa makan siang. Jangan hanya kopi.”

Arga menoleh sekilas, mengangkat sudut bibir dalam senyum tipis. “Ya.”

Ia melangkah menuju pintu, diiringi langkah kecil anak-anak yang riang ingin mengantar ayah mereka sampai halaman. Tawa Dharma dan Shaila bergema, memecah pagi yang sempat tegang. 

Sebelum benar-benar pergi, Arga sempat kembali ke pintu, seakan ada yang ia lupakan. Suaranya terdengar lagi, singkat namun cukup untuk mengubah ekspresi Nayara.

“Oh ya, besok Minggu ada arisan keluarga Maheswara. Jangan lupa, kita harus datang.”

Nayara menoleh cepat. Matanya membeku sepersekian detik. “Arisan keluarga?” suaranya rendah, hampir tanpa nada.

“Iya. Keluarga besar. Semua hadir. Jadi kamu siapkan diri, ya,” ujar Arga, tenang seperti sedang menyampaikan agenda rapat biasa.

Nayara tidak langsung menjawab. Hanya anggukan tipis yang dipaksakan. Bibirnya kering, dan hatinya mendadak terasa berat.

Begitu pintu kembali tertutup, Nayara berjalan ke jendela, menyibak tirai, menatap suaminya masuk ke mobil hitam yang sudah menunggu.

Mesin menyala, pintu tertutup, dan kendaraan itu perlahan meluncur meninggalkan pekarangan.

Nayara menatap kosong meja makan. Ia tahu persis bagaimana arisan keluarga Maheswara berjalan. Tatanan megah, percakapan formal, senyum pura-pura, dan tatapan sinis dari beberapa ipar yang tak pernah benar-benar menerima keberadaannya sebagai bagian dari keluarga.

Setiap kali ia datang, selalu ada komentar kecil yang menusuk, seolah dirinya hanyalah orang luar yang kebetulan masuk. Ada cibiran tentang latar belakangnya, bisik-bisik tentang pernikahannya dengan Arga yang dianggap “tidak seimbang.” Dan Nayara, dengan segala kesabaran yang ia miliki, hanya bisa menelan semua itu.

Ia tidak pernah berkata apa-apa pada Arga. Tidak pernah mengeluh terang-terangan, karena pada akhirnya, bagaimanapun juga, Arga tetap bagian dari keluarga itu. Hanya dirinya yang selalu dianggap berbeda.

Tangannya mengepal di balik meja. Pagi yang tadinya penuh tawa anak-anak, kini menyisakan bayangan berat tentang Minggu yang akan datang.

Dalam hati, Nayara berbisik pada dirinya sendiri: Andai aku bisa memilih, aku tak ingin datang. Tapi aku tahu, menolak bukan pilihan.

Ia memandang ke arah anak-anak yang sibuk berebut pensil warna untuk dimasukkan ke dalam tas sekolah. Senyum polos mereka menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tetap kuat. Namun jauh di lubuk hatinya, Nayara tahu, hari-hari hangat seperti ini tidak akan selalu sama.

Dan entah bagaimana, ia merasakan firasat bahwa Minggu nanti, sesuatu akan berubah lebih jauh dari yang ia bayangkan.

Dari luar, keluarga mereka tampak sempurna: rumah besar, anak-anak ceria, suami yang sukses. Namun di dalam dirinya, Nayara tahu ada bisikan halus yang makin sulit diabaikan—ada sesuatu yang perlahan berubah, dan ia tak bisa memastikan apakah perubahan itu bisa mereka kendalikan.

Ia berbalik, mulai membereskan piring dan cangkir di meja makan. Tangannya bergerak, tapi pikirannya melayang.

Shaila mendekat sambil membawa tas sekolahnya. “Bunda, ayo cepat. Nanti telat.”

Nayara tersenyum, menahan segala gundah agar tak terbaca oleh anak-anak. “Iya, Sayang. Sebentar lagi.”

***

Hari Minggu siang, rumah besar keluarga Maheswara siang itu sudah ramai. Mobil-mobil mewah berjejer rapi di halaman depan, sopir-sopir menunggu di bawah pohon rindang sambil berbincang sesama mereka. Dari dalam rumah, terdengar suara riuh tawa dan percakapan para tamu yang mulai berkumpul. Aroma masakan khas Jawa berbaur dengan wangi parfum mahal para undangan.

Nayara melangkah masuk bersama Arga, Dharma, dan Shaila. Rambutnya disanggul sederhana, gaun berwarna krem pastel membalut tubuhnya. Ia sudah berusaha tampil sopan dan pantas, meski di dalam hatinya ada kegugupan yang tak pernah benar-benar hilang setiap kali menghadiri acara keluarga besar ini.

Nayara menuntun Shaila yang menggenggam boneka kelinci lusuh kesayangannya. Dharma berjalan di sampingnya dengan ekspresi tidak sabar, sudah menanyakan berulang kali kapan bisa main di taman belakang bersama sepupunya.

Arga berjalan setengah langkah di depan mereka. Tubuh tegapnya memancarkan wibawa yang kontras dengan sikap Nayara yang lebih hati-hati. Ia terlihat rileks, seolah kunjungan ke rumah keluarga besarnya hanyalah rutinitas sederhana. Namun bagi Nayara, setiap kali datang ke sini adalah ujian kesabaran.

Di ruang utama, duduk seorang wanita paruh baya dengan pakaian kebaya modern berwarna marun. Wajahnya tegas, garis-garis halus di dahi menambah kesan berwibawa. Matanya tajam, penuh perhitungan.

Ratna Maheswara, ibu kandung Arga. Wajahnya masih cantik meski usia sudah lanjut, dengan riasan yang terjaga rapi. Aura wibawa memancar, namun tatapannya kerap dingin jika diarahkan kepada Nayara. Hubungan mereka tak pernah benar-benar hangat sejak awal pernikahan.

“Selamat siang, Bu,” ucap Nayara, membungkuk sedikit.

Ratna mengangguk singkat, matanya sekilas menelusuri penampilan menantunya. Dari ujung rambut hingga sepatu, tatapan itu seperti timbangan yang menilai apakah Nayara layak duduk di rumah besar ini.

“Kamu datang juga, Naya,” katanya dengan nada datar, tanpa senyum.

“Iya, Bu. Kami sekeluarga.” Nayara berusaha menjaga nada suaranya tetap sopan.

Ratna mengalihkan pandangannya pada dua cucu yang kini berlari menghampirinya. Senyumnya langsung merekah, kontras dengan sikap dingin terhadap Nayara.

“Dharma, Shaila … kemari, Sayang. Ah, cucu nenek kesayangan. Sudah tambah besar saja.” Ia meraih keduanya ke pangkuannya, menciumi pipi mereka dengan penuh kasih sayang.

Nayara berdiri terdiam, menatap pemandangan itu. Ada rasa getir di dadanya—anak-anaknya disayang, sementara dirinya hanya dianggap sekadar pelengkap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menyala Istri Sah!    Bab 128. Kembali Jadi Rumah

    Pagi itu rumah keluarga kecil itu terasa berbeda.Hangat. Penuh tawa. Tidak ada lagi udara dingin yang dulu sering menyesaki ruang makan setiap kali mereka duduk bersama.Dari dapur, aroma wangi tumisan bawang menyeruak lembut. Suara panci dan tawa bercampur jadi satu—sesuatu yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu.Arga sedang berdiri di depan kompor dengan celemek bergambar wortel yang dikenakan setengah asal. Di sebelahnya, Nayara sibuk memotong sayur dengan ekspresi serius tapi senyum terus menghiasi wajahnya.“Mas, tolong kecilin apinya, nanti gosong,” tegur Nayara sambil melirik panci.Arga malah terkekeh. “Tenang aja, Chef Nayara. Aku udah pro sekarang.”Begitu selesai bicara, minyak di wajan tiba-tiba muncrat dan membuatnya reflek mundur.“Au! Panas!”Nayara spontan tertawa sampai harus menutup mulutnya. “Tuh kan, katanya udah pro!”Arga menatap istrinya pura-pura kesal. “Kamu sengaja nggak kasih tau kan biar aku keliatan gagal?”“Ya siapa suruh sok yakin,” Nayara menjawab

  • Menyala Istri Sah!    Bab 127. Pulang ke Hati

    Malam itu rumah terasa tenang.Hanya suara jam dinding yang terdengar, berdetak pelan dari ruang keluarga. Udara sejuk dari jendela yang terbuka membuat tirai bergerak lembut. Di kamar tamu, Dharma dan Shaila sudah terlelap, kelelahan setelah seharian membantu di panti asuhan.Di ruang tengah, lampu temaram menyinari dua sosok yang duduk saling berhadapan. Arga dan Nayara.Mereka sudah lama tidak duduk berdua seperti ini—tanpa jarak, tanpa dinding, tanpa perantara apa pun.Di antara mereka ada dua cangkir teh yang mulai dingin, dibiarkan begitu saja.Arga menatap istrinya dalam diam. Wajah Nayara masih sama seperti yang selalu ia ingat—lembut tapi kuat. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan mata itu tak lagi dipenuhi kemarahan, melainkan kebimbangan yang jujur.“Sudah tiga tahun ya,” suara Nayara pelan, nyaris seperti gumaman.Arga menarik napas panjang. “Tiga tahun sejak semuanya berantakan.”Ia menunduk. “Aku masih ingat malam kamu pergi, Nay. Aku pikir waktu bakal bant

  • Menyala Istri Sah!    Bab 126. Bahagia yang Menular

    “Sudah lama ya, kita nggak ke sini,” ucap Nayara sambil tersenyum. “Aku bawa sedikit hadiah buat anak-anak, Mbak. Pakaian dari butik, model baru. Semuanya baru keluar dari produksi.”Indira menatap tumpukan kardus itu dengan mata membulat. “Astaga, ini semua untuk anak-anak? Banyak sekali, Nayara .…”Nayara tertawa kecil. “Nggak seberapa, Mbak. Aku cuma ingin mereka ngerasain punya pakaian baru juga. Ini juga hasil dari butik yang sekarang berkembang. Sekarang kami sudah buka cabang di beberapa negara Asia.”Arga menatap istrinya dengan bangga yang tak disembunyikan. Ia tahu betul perjalanan panjang Nayara untuk sampai di titik ini. Dari butik kecil di ruko kecil hingga kini menjadi brand fashion terkenal. Dan di balik kesuksesan itu, Nayara tetap rendah hati.Ratna yang ikut bersama mereka turun dari mobil kedua. Begitu melihat menantunya, wajah Ratna langsung lembut. Ia mendekat, menepuk bahu Nayara dengan penuh kasih.“Kamu memang luar biasa, Nak. Ibu beruntung punya menantu sepert

  • Menyala Istri Sah!    Bab 125. Rumah untuk yang Tak Punya Rumah

    Mentari pagi menyinari halaman rumah besar bergaya kolonial itu. Di halaman yang dulu sering sunyi, kini terdengar tawa anak-anak kecil yang berlarian sambil membawa bola, beberapa lainnya sibuk menyiram bunga dengan ember kecil. Pemandangan itu membuat Indira berdiri lama di depan jendela, matanya basah tapi bibirnya tersenyum lembut.Sudah dua tahun berlalu sejak ia benar-benar memutuskan untuk melepaskan masa lalunya—rasa kehilangan, penyesalan, dan semua luka yang dulu ia bawa seperti beban berat di punggungnya. Sekarang, rumah yang dulu terasa kosong berubah menjadi tempat hidup bagi puluhan anak yang membutuhkan kasih sayang.Panti itu diberi nama “Rumah Cahaya Indira.”Nama yang sederhana, tapi penuh makna. Ia ingin setiap anak yang datang menemukan cahaya baru di hidupnya, seperti dirinya yang menemukan arti hidup setelah kehilangan begitu banyak hal.“Bu Indira, ayo ikut sarapan sama kami!” seru seorang anak laki-laki berumur delapan tahun, dengan senyum penuh semangat.Indir

  • Menyala Istri Sah!    Bab 124. Satu Detak di Antara Derita

    Di salah satu kamar bersalin yang sempit, Shanaya terbaring dengan wajah pucat pasi. Rambutnya menempel di dahi karena keringat, bibirnya pecah, napasnya berat—dan air matanya mengalir tanpa henti.Ia menggenggam erat tepi ranjang, berusaha menahan rasa sakit yang datang bergelombang di perutnya. Suster di sampingnya berkata agar ia terus bernapas teratur, tapi suaranya terdengar jauh, kabur, seolah tertelan oleh suara hujan di luar sana.“Bu, kontraksinya sudah kuat ... ayo tahan sedikit lagi, ya,” ujar suster muda itu, suaranya lembut namun penuh tekanan waktu.Shanaya mengangguk pelan, menggigit bibir hingga darahnya terasa di lidah.Setiap denyut rasa sakit yang datang seolah mengiris nyawanya sedikit demi sedikit.Ia ingin menjerit, ingin menggenggam tangan seseorang—tapi tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada Mahesa, tidak ada ibunya, tidak ada satu pun keluarga yang menunggunya di balik pintu.Yang ada hanya dirinya sendiri, berjuang melawan sakit yang seperti tak berujung.Di

  • Menyala Istri Sah!    Bab 123. Saat Dinding Itu Mulai Retak

    Pagi itu, aroma wangi melati dari taman belakang menyusup lembut ke dalam rumah. Matahari baru naik separuh, menyinari kaca jendela dapur dengan bias keemasan yang hangat. Nayara berdiri di sana, menyiapkan sarapan sambil sesekali menatap ke arah halaman belakang, tempat Arga sedang bermain bola kecil bersama Shaila dan Dharma.Pemandangan itu—sesuatu yang dulu biasa, kini terasa asing tapi juga menenangkan.Arga tertawa kecil ketika Shaila berlari mengejar bola dan hampir jatuh. Refleks, pria itu menangkap tubuh mungil putrinya, mengangkatnya tinggi ke udara sambil berkata, “Nggak apa-apa, kan, Putri Ayah?”Shaila tertawa keras, suaranya menggema ke seluruh halaman.Sementara Dharma, yang biasanya dingin dan enggan ikut bermain, kini berdiri di sisi Arga, mengoper bola dengan tenang, sesekali tersenyum kecil.Dari balik jendela itu, Nayara diam—matanya berkaca. Ia tak menyangka suasana seperti ini bisa kembali hadir di rumahnya. Dulu, rumah itu penuh suara bentakan dan diam yang menu

  • Menyala Istri Sah!    Bab 108. Retakan Terakhir

    Hujan turun deras di luar rumah keluarga Maheswara malam itu, menambah kelam suasana di dalam ruang tamu yang masih berantakan oleh sisa amarah dan tangis. Ratna baru saja naik ke kamarnya dengan langkah gontai setelah mengusir Mahesa keluar dari rumah—setidaknya, itu niatnya. Namun Mahesa masih be

  • Menyala Istri Sah!    Bab 103. Shanaya Panik

    Shanaya duduk di dalam kafe langganannya, wajahnya gelisah, sesekali menatap pintu masuk. Gelas kopi di depannya sudah dingin, tapi tangannya tetap memainkan sendok kecil tanpa henti. Ia sudah tahu—hasil itu pasti sudah keluar.Dan ketika pintu kafe terbuka, bayangan tinggi dengan jas hitam memasuk

  • Menyala Istri Sah!    Bab 81. Janji Kelingking

    Di sisi lain, Arga mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Jalanan malam yang sepi seolah tak berarti. Lampu-lampu kota berkelebat di kaca depan, tapi matanya kosong. Kedua tangannya menggenggam setir erat-erat, keringat dingin menetes di pelipisnya.Kata-kata Shanaya terus terngiang: “Kamu pi

  • Menyala Istri Sah!    Bab 71. Jejak Parfum Asing

    Hari itu, Ratna kembali menyudutkan Nayara. Seakan belum cukup luka yang ditorehkan keluarga Arga, kini ibunya sendiri yang kerap menjadi lawan. Di rumah besar itu, suara Ratna terdengar lantang memarahi menantunya.“Gara-gara kamu, Arga sering marah-marah!” serunya dengan tatapan menusuk. “Kamu it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status