Home / Rumah Tangga / Menyala Istri Sah! / Bab 1. Pagi yang Hangat.

Share

Menyala Istri Sah!
Menyala Istri Sah!
Author: Ucing Ucay

Bab 1. Pagi yang Hangat.

Author: Ucing Ucay
last update Last Updated: 2025-12-09 14:06:16

Cahaya matahari merambat masuk melalui tirai tipis di ruang makan keluarga Maheswara. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan harum roti panggang, menyebar ke seluruh ruangan. Lonceng kecil jam dinding berdentang, menandai pukul enam tepat. Suasana rumah besar itu hidup, penuh suara riang, tetapi juga menyimpan keheningan halus yang tak semua orang bisa tangkap.

Nayara Vismaya Pradipta sedang sibuk mengatur meja makan. Tangannya lincah menata piring, gelas, dan sendok di atas taplak berwarna krem. Rambut panjangnya yang hitam legam digelung setengah, menyisakan helai-helai lembut yang jatuh di sekitar wajah ovalnya. Meski baru pagi, ia sudah tampak rapi dalam balutan blus biru muda sederhana dan rok putih yang bemotif embos bunga, memancarkan keanggunan sekaligus kelembutan.

Di dapur, terdengar suara dua anak kecilnya. Dharma, delapan tahun, bersuara riang namun keras, selalu penuh energi. Sementara Shaila, enam tahun, dengan suara nyaringnya mencoba menandingi sang kakak. Mereka berebut sesuatu, seperti biasa.

“Ini punyaku! Aku duluan yang ambil!” seru Dharma sambil menggenggam sendok berisi selai cokelat.

“Tidak! Aku yang mau makan pakai itu dulu!” sahut Shaila, wajahnya memerah kesal.

Nayara mendesah, menoleh dari meja makan. “Dharma, Shaila, berapa kali Bunda bilang? Tidak perlu berebut. Semua dapat bagian yang sama.”

Dua anak itu terdiam sebentar, lalu menoleh ke arah ibu mereka. Tatapan Nayara tidak marah, namun penuh ketegasan yang membuat keduanya merasa bersalah. Dharma menurunkan sendoknya, sementara Shaila menyembunyikan wajah di balik gelas jus jeruknya.

“Ayo, cepat cuci tangan dan duduk. Sarapan sudah siap,” kata Nayara, suaranya lembut tapi tegas.

Anak-anak segera menurut. Tawa kecil kembali pecah di antara mereka.

Sesaat kemudian, langkah berat terdengar dari arah tangga. Arga Wiranata Maheswara muncul dengan penampilan rapi: kemeja biru muda yang disetrika sempurna, dasi abu-abu, dan jas hitam yang sudah tersampir di lengannya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, tatapannya memancarkan karisma seorang pria yang terbiasa memimpin.

“Selamat pagi,” ucapnya singkat, namun suaranya hangat.

“Pagi, Ayah!” seru Dharma dan Shaila bersamaan. Mereka segera berlari ke arahnya.

Arga terkekeh kecil, menurunkan jasnya ke sandaran kursi, lalu meraih kedua anaknya sekaligus. Ia mengangkat Dharma dengan satu tangan dan Shaila dengan tangan lainnya, memutar tubuhnya seolah sedang menari bersama mereka. Dua anak itu menjerit kecil, setengah ketakutan namun lebih banyak tawa yang pecah.

Nayara berhenti sejenak, menatap pemandangan itu. Ada rasa hangat merambat di hatinya. Setiap kali melihat Arga bersama anak-anak, ia selalu teringat alasan mengapa dulu ia jatuh hati padanya: sosok lelaki yang tidak hanya berwibawa, tetapi juga mampu menjadi ayah penuh kasih. Namun, di balik senyum samar yang menghiasi bibirnya, ada bayangan kecil—bayangan keraguan yang muncul entah dari mana.

“Duduklah, sarapan sudah siap,” kata Nayara sambil kembali mengatur roti dan omelet di piring besar.

Arga mendudukkan kedua anaknya, lalu ia sendiri mengambil tempat di ujung meja, posisi kepala keluarga. Tangannya meraih cangkir kopi yang sudah disiapkan Nayara.

“Terima kasih,” katanya, sekilas menatap istrinya.

Nayara hanya mengangguk. “Minumlah selagi hangat.”

Mereka mulai sarapan. Dharma sibuk menceritakan rencana perlombaan olahraga di sekolah. Tangannya bergerak cepat, matanya berbinar penuh semangat.

“Ayah, nanti kalau lomba lari aku juara, Ayah janji beliin aku sepeda baru, ya?” kata Dharma.

Arga mengangkat alis, pura-pura berpikir. “Hmm… sepeda baru, ya? Tapi Ayah dengar kamu jarang bangun pagi untuk latihan. Bagaimana mau juara?”

Dharma terdiam, wajahnya memerah. Shaila tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan mungil. “Mas Dharma memang malas!” katanya.

“Tidak, aku bisa!” protes Dharma. “Mulai besok aku janji latihan pagi. Bunda, bangunin aku ya!”

Nayara tersenyum, mengusap kepala putranya. “Kalau Dharma benar-benar niat, Bunda pasti bangunkan. Tapi ingat, semua butuh usaha, Nak.”

Arga menatap anak sulungnya dengan bangga. “Kalau begitu, Ayah tunggu buktinya. Kalau Dharma juara, Ayah belikan sepeda. Janji.”

Dharma bersorak gembira, sementara Shaila manyun. “Kalau aku? Kalau aku juara menggambar, Ayah kasih hadiah juga tidak?”

Arga terkekeh, lalu mencubit pipi putrinya dengan lembut. “Tentu saja. Ayah beri hadiah yang lebih besar, karena Ayah tahu Shaila paling rajin di kelas.”

Shaila tersipu, pipinya memerah. “Ayah harus janji, ya!”

“Janji.”

Tawa anak-anak mengisi ruangan.

Namun di balik keceriaan itu, Nayara hanya duduk diam, sesekali ikut tertawa, tapi pikirannya melayang. Ia memperhatikan bagaimana Arga begitu mudah menebar janji pada anak-anak, begitu hangat bersama mereka. Tapi mengapa, pikirnya, sikap itu semakin jarang ia rasakan untuk dirinya sendiri? Sejak beberapa bulan terakhir, percakapan mereka berdua semakin singkat, seringkali hanya seputar anak-anak atau urusan rumah tangga. Ia merindukan tatapan penuh cinta yang dulu selalu diberikan Arga.

“Bunda, kenapa tidak makan?” suara Shaila memecah lamunannya.

Nayara tersentak kecil, lalu tersenyum. “Bunda makan, kok.” Ia mengambil sepotong roti dan perlahan menggigitnya.

Arga melirik sekilas, namun cepat kembali menunduk ke piringnya. Ada jeda singkat yang ganjil, seolah ada kata-kata yang menggantung di udara namun tak diucapkan.

Usai sarapan, meja makan dipenuhi piring dan gelas yang belum sempat dibereskan. Bau roti panggang masih samar bercampur dengan aroma susu cokelat hangat.

Nayara, dengan blus biru muda dan rambut dikuncir sederhana, berjongkok di depan Shaila, putrinya yang duduk manis di kursi kecil. Tangannya lincah merapikan pita merah di rambut si bungsu. Shaila merengut sebentar karena pita yang dikencangkan terasa agak ketat, tapi wajahnya segera cerah saat bercermin pada kaca kecil di depannya.

“Cantik sekali,” ucap Nayara sambil tersenyum tipis, mencoba menularkan semangat pada dirinya sendiri.

Sementara itu, di sisi lain ruangan, Dharma sibuk mondar-mandir. Bocah laki-laki itu membuka-buka lemari sepatu, lalu jongkok ke bawah sofa. Dari sana, ia akhirnya menemukan sepatunya yang semalam ia tinggalkan sembarangan.

“Dharma, sudah berapa kali Bunda bilang, sepatu harus ditaruh di rak. Bukan di bawah sofa,” tegur Nayara, kali ini dengan nada agak tinggi.

Dharma menunduk, wajahnya penuh rasa bersalah. “Iya, Bunda. Maaf.” Ia buru-buru mengenakan sepatunya, lalu menegakkan tubuh, tersenyum seolah semua kesalahannya bisa hilang begitu saja.

Arga, yang sejak tadi duduk sambil memeriksa ponselnya, akhirnya bangkit. Ia meraih jas hitam yang tergantung di kursi, lalu mengenakannya. Gerakannya cepat, efisien, seperti seorang pria yang sudah terbiasa hidup dengan ritme padat. Jam tangan di pergelangan kirinya ia lirik sebentar, memastikan waktu tak terbuang.

Sebelum memasukkan ponsel ke dalam saku jas, matanya sempat berhenti pada satu pesan baru di layar. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menyala Istri Sah!    Bab 99. Test DNA Rahim

    Suasana ruang tamu masih beraroma tegang ketika suara pintu tertutup keras membelah udara. Shanaya menatap Arga dengan mata berkilat, tapi sorot itu tak lagi lembut seperti dulu. Ia berdiri tegak di hadapan pria yang dulu selalu melindunginya, kini berubah menjadi sosok dingin dan asing.“Aku hanya datang karena kamu tidak memberi kabar, Arga,” ucap Shanaya dengan nada yang dibuat sehalus mungkin. “Tiga hari aku menunggu. Katamu, kamu akan menemuiku setelah urusan kantor selesai. Tapi sampai hari ini, tidak satu pesan pun kamu kirim. Jadi, aku pikir … mungkin kamu memang tak berniat menemuiku.”Arga menarik napas berat, menahan amarah yang sudah sampai di ujung tenggorokan. “Dan karena itu kamu merasa pantas datang ke rumahku? Rumah yang kamu tahu masih ada istriku di dalamnya?”Nada suaranya tegas, dingin, tapi matanya menyimpan kekecewaan yang dalam. Shanaya tersenyum samar, menatap ke arah tangga di mana Nayara berdiri diam, tubuhnya kaku seperti patung.“Justru karena itu aku data

  • Menyala Istri Sah!    Bab 98. Dua Surat

    Dua hari sejak kepergian Arga ke Surabaya, rumah terasa terlalu tenang. Terlalu sunyi hingga suara detik jam di ruang makan terdengar jelas setiap kali Nayara melintas. Anak-anak selalu menanyakan kapan Ayah mereka pulang, dan mereka dibantu dijaga oleh Mbok Darmi. Tapi sekalipun rumah itu tidak benar-benar kosong, heningnya tetap menekan dada Nayara setiap kali malam tiba.Sejak pagi, ia berusaha sibuk. Menyapu, mencuci, memasak sesuatu yang bahkan tidak disentuh siapa pun. Mbok Darmi berkali-kali memintanya duduk, istirahat, tapi Nayara menolak halus.“Kalau diam, rasanya makin sesak, Mbok,” katanya pelan, sambil menata piring yang seharusnya tak perlu dipindahkan lagi.Mbok Darmi menghela napas, menatap nyonya mudanya itu dengan iba. “Bu, kalau memang kepikiran Pak Arga, jangan disimpan terus di dada. Kadang marah itu juga perlu keluar, biar nggak bikin sakit.”Nayara tersenyum, tapi pahit. “Saya sudah terlalu banyak marah, Mbok. Sekarang malah capek sendiri.”Anak-anak berlarian d

  • Menyala Istri Sah!    Bab 97. Mengurus Surat

    Ia menarik napas dalam-dalam, bangkit dari tempat tidur, dan berjalan ke cermin.Wajahnya tampak tenang, tapi di balik mata itu ada retakan halus yang tak lagi bisa disembunyikan.“Kalau aku terus di sini, aku cuma nyakitin diri sendiri,” bisiknya pelan.Kantor pengacara itu terletak di lantai dua sebuah ruko sederhana di Jalan Haryono. Tidak terlalu besar, tapi reputasinya baik — tempat orang-orang datang diam-diam ketika rumah tangga mereka mulai retak.Nayara mengenakan blouse krem dan celana panjang hitam, rambut diikat rapi. Tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Ia duduk di ruang tunggu dengan jantung berdebar, sementara suara printer dan percakapan pelan terdengar dari ruangan lain.“Bu Nayara?” panggil resepsionis. “Silakan masuk, Pak Rian sudah menunggu.”Langkahnya pelan saat ia masuk ke ruang kerja pengacara itu. Rian, pria muda berusia awal empat puluhan, berdiri menyambutnya dengan sopan.“Silakan duduk, Bu Nayara. Saya sudah menerima pesan Anda kemarin. Ibu ingin mengu

  • Menyala Istri Sah!    Bab 96. Dilema Arga

    Hujan masih turun deras malam itu. Wiper mobil Arga bergerak cepat, menyapu air yang terus menetes di kaca depan, tapi pandangannya tetap buram—bukan karena hujan, melainkan karena pikirannya yang berantakan.Sejak ia melihat Shanaya bersama Mahesa di mobil tadi, otaknya seperti dipenuhi gema yang tak berhenti menggema:Apa mungkin anak itu bukan milikku?Tangannya mengepal di setir, sendi-sendi jarinya memutih. Napasnya pendek, seperti menahan amarah yang berusaha menembus kulitnya.Ia memperlambat laju mobil, tapi pikirannya justru melaju lebih cepat dari kecepatan apa pun.Semua hal yang sempat ia abaikan kini kembali satu per satu.Ucapan Shanaya yang sering berubah.Reaksi Mahesa yang selalu tampak terlalu tahu.Dan cara Mahesa menyarankan agar ia “bertanggung jawab” pada Shanaya, seolah sudah tahu segalanya lebih dulu.“Bisa jadi … dari awal mereka memang mainin aku,” gumamnya lirih.Tapi begitu kata-kata itu keluar, dada Arga justru semakin sesak. Ia menggigit bibir bawahnya, m

  • Menyala Istri Sah!    Bab 95. Menjalankan Perintah. 

    Langit malam Jakarta berpendar lembut, lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil Shanaya yang melaju menuju salah satu apartemen di kawasan Kuningan. Tangannya menekan setir erat, bibirnya terkatup rapat. Di dalam dadanya, sisa pertengkaran dengan Arga masih membekas seperti bara yang belum padam.Ia memarkir mobilnya di basement, lalu berjalan cepat menuju lift. Setiap langkah terasa berat, tapi bukan karena kelelahan—melainkan rasa takut dan campur aduk antara bersalah dan lega. Ia sudah melakukan perintah Mahesa: memaksa Arga memilih.Lift berhenti di lantai unit apartement rahasia itu. Pintu terbuka, menampakkan lorong sepi dengan cahaya lampu temaram. Shanaya melangkah pelan, mengetuk pintu bernomor cantik itu tiga kali. Tak sampai beberapa detik, pintu terbuka.Mahesa berdiri di sana dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku, aroma parfumnya langsung memenuhi udara. Senyumnya tipis, tapi matanya memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan—dingin tapi memikat.“Masuk,”

  • Menyala Istri Sah!    Bab 94. Pilih Nayara Atau Shanaya? 

    Arga menatap punggungnya menghilang di balik dinding.Rasa bersalah menumpuk di dadanya, sementara ponsel di tangannya kembali bergetar. Pesan baru masuk.Shanaya: “Aku tahu kamu pasti sibuk pagi ini. Tapi aku pengen ketemu sebentar, tolong .…”Arga menatap layar itu lama, hingga teksnya kabur di matanya sendiri.Tangannya gemetar. Antara ingin memblokir nomor itu dan ingin menjelaskan semuanya. Tapi yang lebih membuat dadanya sesak adalah bayangan Nayara—wanita yang selalu memilih tenang saat terluka, yang kini mungkin sudah lelah menunggu penjelasan yang tak pernah datang.Ia mendesah, lalu menekan tombol power, mematikan ponsel.Namun keheningan yang tersisa justru lebih bising dari bunyi notifikasi barusan.Di lantai atas, Nayara duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang terbuka sedikit. Angin pagi menerpa wajahnya, membawa aroma kopi yang masih tersisa dari bawah. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.Hatinya ingin percaya kalau Arga masih bisa berubah, tapi kepal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status