ログイン“Akhirnya!” seru Rachel sambil menutup pintu loker, dia menghela nafas panjang, duduk di kursi ruang ganti sambil meluruskan kaki sebelum dia memakai sepatu. Tapi sepertinya ketenangan itu tak berangsur lama.
“Rach!” sebelum seruan itu terdengar, Rachel sudah bisa mendengar derap langkah kaki.
“Astaga–haruskah kau berteriak? Tidak ingat dengan umurmu?”
“Biarlah umurku, tapi aku tetap merasa jiwaku masih muda.”
“Tidak salah merasa begitu, ada apa? Gosip baru?”
“Oh iya, baru, katanya baru terjadi kemarin malam.”
“Oh God,” Rachel sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Dia pasti habis mendengar tentang itu.
“Kau dan Kapten Brick sudah sejauh apa!?”
Bingo. “Tidak ada, aku dan dia hanya berteman, kau tahu sendiri dia yang menyelamatkan Sam,” benar sudah tebakan Rachel, April sedang membicarakan tentang dia dan Brick yang bicara.
“Loh! Itu maksudku! Pertama dia menyelamatkan anakmu, lalu bertanya tentang anakmu, lalu bertanya tentang kabarnya, terus dia akan bertanya tentang, kamu! Ibunya!” teriak April dengan semangat yang menggebu-gebu.
“Astaga,” Rachel kembali menggelengkan kepalanya tidak percaya, temannya ini yang benar-benar mendukungnya dengan Brick. “Cepatlah ganti, kamu harus bertugas untuk menjadi kepala perawat, masih punya waktu untuk bergosip tentangku?”
“Oh, percayalah sayang, aku punya waktu, punya banyak amat waktu,” ucap April sambil mengedipkan matanya.
Rachel pun berdiri. “Sudah ya sayang, aku pulang, aku butuh tidur setelah 2 hari menggantikanmu.”
“Hati-hati, matahari sudah tinggi hari ini.”
“Kamu pikir aku vampir?”
“Bukankah begitu?”
“Sudahlah, bye April, sampai nanti.”
Rachel keluar dari ruang ganti dia berjalan sampai keluar pintu UGD sambil sesekali menyapa teman-temannya yang lain. Ketika sampai di luar dia tidak langsung berjalan ke arah mobilnya, seperti biasa dia berdiri dulu sambil melihat matahari.
Tapi ketika dia menikmati matahari pagi yang cukup cerah itu, dia melihat sebuah mobil BMW hitam terparkir di parkiran khusus dokter. Mobil yang familiar oleh Rachel, dia tahu itu mobil siapa.
Perempuan itu akhirnya turun dari mobil, Rachel sengaja tidak langsung pulang, dia ingin tahu apa dia akan menghampiri atau tidak, ternyata benarlah dugaan dia, perempuan menghampirinya.
“Halo, Rachel, kamu baru pulang?”
“Ah ya, aku 24 jam sejak kemarin, hari ini baru pulang, kepala perawat UGD hari ini April, dia sama denganku, bahkan lebih jago.”
“Ah, aku yakin semua orang disini kompeten. Kamu berdiri disini, dijemput anakmu?”
“Anakku? Tidak, anakku masih tidur, kalau dokter punya anak?”
“Ah ya, ada, dia sudah berumur 35 tahun tapi masih selalu membuatku khawatir. Apalagi setelah kecelakan besar itu.”
“Kecelakaan? Kapan?”
“Desember nanti genap 4 tahun, dia kecelakaan di malam tahun baru. Kenapa?”
“Ah tidak, maaf, karena yang aku tahu keluarga Cassarendra sangat terkenal dan aku tidak ingat mendengar berita itu.”
“Ah, iya memang berita kecelakaan itu ditutupi oleh pengacara keluarga dan perusahaan.”
Rachel meremas tas yang dia pegang. Hal seperti ini tak pernah dia dengar sebelumnya. “Kalau begitu, aku pulang dulu dok, terima kasih.”
“Ya, hati-hati Rach, salam untuk anakmu.”
***
Rachel sampai ke rumah, dia langsung naik ke lantai 2 mengecek keadaan Samantha, anaknya masih terlelap, ini masih jam 7 pagi dan itu hal yang wajar untuk Samantha.
Dia kembali turun ke dapur, dia mencuci tangannya, namun matanya terkejut melihat ada sebuah paper bag yang terlipat di dekat wastafel. “Prince Cafe?”
Setelah mengelap tangannya dia membuka kulkas, dan benar saja ada sisa sandwich di kulkas, Rachel melihat anaknya untuk beberapa saat. “Dia?”
Rachel mengambil ponsel dia menghubungi seseorang yang sudah pasti tahu apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba setelah sekian lama anaknya pergi kesana lagi.
“Ya, Rach, ada apa?”
“Kau tahu sesuatu kenapa Sam tiba-tiba pergi ke Prince Cafe?”
“Ah itu. Aku sudah mencoba bertanya, tapi ujungnya kami hanya bertengkar, dia tidak apa-apa kan?”
Rachel terdiam sebentar. “Dia... tidak apa-apa, dia bilang sesuatu tapi? Ah ya aku baru ingat dia bilang dia bertengkar denganmu, jadi kalian bertengkar karena ini?”
“Ya, kita bertengkar karena itu. Dia bilang hanya ingin kesana karena orang itu tak pernah terlihat lagi di Los Angeles.”
“Ya tentang itu.”
“Kenapa soal itu? Ada berita tentangnya?”
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Habis—entah mengapa perasaanku mengatakan, jawabannya akan ada sebentar lagi.”
“Kurasa mungkin. Biar aku mencari jawaban dulu nanti kalau aku sudah dapat jawaban pasti aku akan beri tahu. Aku juga tidak tahu dugaan ku benar atau tidak, sebelum kita mengambil langkah lebih jauh.”
“Aku mengerti, tidurlah Rach, kamu butuh istirahat.”
“Oke, kabari aku jika ada sesuatu.”
Rachel pun mematikan panggilan telepon itu lalu pergi kamar mandi, dia membersihkan tubuhnya dan tidur, dia punya waktu sampai besok sebelum dia kembali bekerja.
Charlie duduk di kursinya, dia menatap ke pintu ruangan yang tertutup itu, ruangannya tidak seperti ruangan lain yang memiliki pintu kaca, tempatnya benar-benar tertutup, bahkan kacanya saja juga tertutup tirai.Charlie tidak ingat dia tidak suka cahaya, seingatnya dia begitu menikmati musim panas tapi tiba-tiba dia tidak suka dengan cahaya entah efek kecelakaan atau memang karena benturan di kepalanya.Hans sudah mengatakan dengan gamblang kalau kepalanya sudah berbeda dari sebelumnya, banyak struktur saraf yang disusun ulang karena benturan berulang kali, jadi tidak aneh jika dia merasa tidak seperti biasanya.Pintu ruangannya terbuka, Charlie sudah bisa memprediksi siapa yang muncul, sudah pasti 2 orang itu. Sahabatnya, Ben dan asistennya yang meskipun sudah bekerja untuk perusahaannya tapi Charlie tidak pernah merasa kalau Blake bekerja untuknya.“Kapan aku akan mendapatkan undangan pernikahan kalian?” tanya Charlie.“Oh astaga,” Blake kembali mengeluh bagaimana tidak setiap kali u
Dalam hitungan detik, melihat orang yang dia pikir sudah mati itu, Samantha selalu berpikir, jika ada saatnya mereka bertemu lagi apa yang akan dia lakukan, menamparnya, memukulnya, memeluknya, menangis atau apa. Sam tidak bisa menemukan sesuatu yang pas.Tapi kini ketika akhirnya saat itu tiba, hari dimana mereka benar-benar bertemu lagi, Sam justru terpaku, terdiam bahkan tidak bisa bicara apa-apa. Matanya hanya bisa menatap orang itu seperti dulu, seperti ketika mereka pertama kali bertemu di auditorium kampus.Tatapan yang tidak bisa dia jelaskan, dulu mungkin ada penjelasannya, bahwa dia mengincar orang ini, dia menyukai orang ini karena fisiknya. Tapi kini—Sam sadar bahwa matanya tak berkedip, dia tidak bisa bergerak, bahkan bernafas pun sulit.Plak! Suara hentakan tepuk tangan yang berada di depan wajahnya membuat Sam tersadar dari lamunannya. Hingga keluar dari mulutnya. “Oh astaga.”“Astaga? Kau yang berdiri terpaku begitu, bahkan tidak mendengar orang memanggilmu, siapa dia?
September 2020.“Ya, sampai disini penjelasan materinya,” Charlie menatap jam tangan yang dia pakai memastikan dia benar menyampaikan materai dalam 40 menit.Charlie sejak tadi melihat seorang perempuan yang duduk di paling depan, perempuan yang dia lihat bersama Jessica sebelum masuk ke dalam auditorium. Perempuan yang tinggi dengan rambut brunette yang panjang, tubuhnya tidak terlalu kurus tapi proporsional.Anak itu tanpa menunggu Charlie membuka sesi tanya jawab sudah mengangkat tangannya lebih dulu.“Aku belum membuka ruang tanya-jawab.”“Anda sudah selesai menyampaikan materi jadi kurasa aku sudah bisa bertanya, kurasa semua orang juga penasaran dengan hal yang sama.”Gemuruh teriakan ya kami ingin tahu berkumandang di ruang besar itu, seakan mereka sedang menonton konser dan dia adalah idola yang sedang ditunggu-tunggu.“Oke, you made your point, jadi pertanyaannya apa?”“Aku yakin pertanyaan ini adalah pertanyaan banyak orang. Jawab yang mana, anda sudah memiliki pacar, istri
Samantha melihat jam tangan sudah pukul 10 pagi. Victor sudah dia kabari lewat pesan singkat, seperti biasa Victor membalasnya dengan simbol hati. Victor sudah cukup sibuk dengan hidupnya, melihat berita semalam, sepertinya dia akan sibuk untuk beberapa hari ini.Sesuai dengan arahan dari Ben dia menunggu Ben di lobby, entah penyambutan apa yang dimaksud, Samantha memegang gelang yang dia pakai, entah mengapa dia cukup gugup hari ini, dia tidak tahu apa bisa memenuhi ekspektasi mereka atau tidak.Ini adalah pertama kalinya dia bekerja untuk orang lain setelah dulu dia selalu bekerja untuk dirinya sendiri dan itu tidak memungkinkan.“Samantha,” suara itu memanggilnya, suara yang rendah dan begitu gelap seperti suara orang-orang mafia di film-film dan suara itu seperti mengingatkannya pada sesuatu.“Ya, hai.”“Kau tiba sebelum jam 10? Kenapa selalu pagi?”Sam mencoba tersenyum. “Tidak ada alasan, hanya senang untuk datang lebih awal.”Ben mengangguk. “Aku mengerti, kalau begitu ayo masu
Samantha duduk sambil tetap melihat laki-laki itu.“Jadi, siapa namamu?”“Namaku, Samantha Enderwinne.”Samantha tidak berpaling dari laki-laki di depannya, Samantha yakin dia seperti pernah mendengar suaranya ataupun mata itu, seperti dia pernah melihatnya. Tapi dia sulit mengingat semuanya.“Namaku, Ben Turner, ini Lea Shey dan Hugo Ralph. Kamu tahu lowongan pekerjaan ini dari Jill?”“Ya, aku tahu darinya, tapi aku tahu sepertinya kalian membutuhkan lulusan dari Flox.”Orang yang bernama Hugo dan Lea pun berhenti mendadak, mereka berdua saling bertatapan dari balik badan Ben. Mereka seperti mendapatkan barang bagus.
Ben terdiam dia melihat keluar jendela, begitu banyak mobil lalu-lalang, bayangannya tentang kecelakaan waktu itu kembali muncul, dia sudah melihat rekaman CCTV dan itu sangat menyeramkan.“Hei, jadi kenapa kau mengajak bertemu sebenarnya?” tanya Patrick sambil memotong steak.“Sudah ku bilang ini karena sudah hampir 4 tahun.”“Ya terus kenapa dengan 4 tahun. Kau resah karena dia tidak ingat juga atau apa?” tanya Hans sambil lanjut makan.“Ben, sudah ku katakan itu bukan salahmu.”Hans mengerutkan keningnya, sepertinya dia mengerti apa maksudnya. “Kau merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Samantha?”“Kalau







