Beranda / Romansa / Merebut Suami Kakakku / 6. Pesan Selamat Tinggal

Share

6. Pesan Selamat Tinggal

Penulis: Day Lily
last update Tanggal publikasi: 2025-12-06 17:12:19

Aku tersentak bangun, merasakan seluruh tubuhku terasa remuk. Entah berapa kali Mas Daren melakukannya semalam, aku sama sekali tak ingat. Yang kuingat hanyalah, aku menyuruh Mas Daren untuk berhenti, karena kelelahan setelahnya, semuanya gelap.

Saat menoleh ke samping, ku lihat Mas Daren masih tertidur pulas dengan tubuh bagian bawah terbungkus selimut dan bagian atas yang belum memakai apapun, sama sepertiku yang masih tak memakai apapun. Kamar itu sangat berantakan dengan pakaian kami yang berserakan di lantai akibat aktivitas semalam.

Aku menghela napas panjang. Perlahan, kuputar wajahku ke arah meja nakas di samping tempat tidur. Tanganku meraba permukaan kayu itu hingga menemukan ponsel yang semalam kuletakkan di sana. Begitu layar menyala, deretan pesan dari Ayah dan Kakak langsung memenuhi pandangan. Namun satu notifikasi dari Ibu membuat seluruh tubuhku seakan membeku.

[Ibu: Di mana kau sekarang, anak bodoh? Ayahmu mencarimu… ke mana kau semalaman? Kenapa tak ada di rumah? Oh… atau jangan-jangan kau sedang jual diri, ya? Dasar perempuan murahan. Tidak usah pulang sekalian!]

Air mataku langsung jatuh, tak terbendung. Kata-kata itu menancap seperti duri. “Ya Tuhan… sakit sekali…” bisikku parau. Tanganku refleks menekan dadaku, berusaha meredakan sesak yang menghimpit. Napasku tercekat, seperti ada sesuatu yang menahan di tenggorokan.

Tanganku gemetar ingin membalas pesan dari ibu. Namun, langsung berheti saat mendengar suara Mas Daren di sampingku

“Eugh…!”

Kuseka air mataku dengan cepat begitu terdengar lenguhan pelan dari Mas Daren. Tubuhku menegang. Aku menoleh spontan, takut kalau pria itu terbangun dan melihatku dalam keadaan kacau begini. Jika ia bangun, pria itu pasti akan bertanya hal macam-macam

Helaan nafas pelan keluar dari bibirku ketika melihatnya masih terlelap. Mas Daren hanya bergeser sedikit, memperbaiki posisi tidurnya tanpa membuka mata sedikit pun.

Tanpa membuang waktu, dengan hati-hati aku turun dari ranjang, mengumpulkan pakaian yang berserakan, lalu segera mengenakannya satu per satu dengan tergesa. Begitu semuanya terpasang, aku langsung menuju pintu.

Namun langkahku terhenti. Entah dorongan apa yang menahan, aku menoleh lagi, menatap pria itu yang masih terlelap, tak menyadari apa pun. Beberapa detik aku hanya berdiri di sana, tubuhku seperti tertarik mundur.

Akhirnya aku memaksa diri melangkah menuju meja. Kutarik selembar kertas dan sebuah pulpen, ujung jariku sempat ragu sebelum mulai menulis.

[Hi, Mas… pasti semalam tidurmu nyenyak, kan? Maaf aku pergi tanpa membangunkanmu. Ayah dan Ibu sudah mencariku. Aku cuma ingin bilang tentang semalam, nanti kalau Mas bangun, tolong jangan merasa bersalah. Anggap saja itu… hadiah terakhir dariku sebelum Mas menikah dengan Kak Alda.

Tolong jangan hubungi aku lagi setelah ini. Fokus saja pada pernikahan Mas dengan Kak Alda. Bahagiakan dia… dan lupakan aku.]

Aku kembali menangis, hingga air mataku jatuh membasahi sedikit kertas berisi pesan yang ku buat. Dengan tangan gemetar aku menaruh pulpen itu di atas kertas, lalu kembali menoleh pada Mas Daren yang masih tak terusik sama sekali, meski sinar matahari sudah menyoroti wajahnya.

Sesaat aku hanya berdiri di sana. Ruangan itu terasa begitu sunyi, namun juga penuh oleh kenangan yang baru saja tercipta semalam. Kenangan yang tak seharusnya ada.

Kupejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri, tapi dada tetap terasa sesak. Ada bagian diriku yang ingin kembali ke ranjang, menyentuhnya sekali lagi, mengatakan bahwa aku tidak sanggup melepaskan. Tapi aku tahu, itu hanya akan membuat semuanya semakin hancur.

Dengan langkah sangat pelan, aku bergerak menuju pintu. memutar kenopnya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Saat pintu terbuka sedikit, aku mencuri pandang ke belakang sekali lagi, mengukir bayangan Mas Daren di ingatanku.

“Aku pergi, Mas… selama tinggal,” bisikku nyaris tanpa suara

Tanpa menoleh lagi, aku melangkah keluar dari kamar itu. Aku berjalan cepat meninggalkan area apartemen Mas Daren, sementara isak tangisku kembali terdengar, pecah menjadi air mata yang tak bisa kuhentikan. Rasanya seperti luka menganga, sangat menyakitkan harus meninggalkan orang yang kucintai demi orang lain.

Namun, ini adalah satu-satunya jalan. Aku harus melakukannya demi menjaga kewarasanku dan keutuhan keluarga. Keputusan ini harus diambil agar Ibu bahagia, sebab aku tak punya pilihan selain menuruti keinginannya. Sama halnya dengan Mas Daren, ia tak sanggup menentang Ayahnya, dan tak tega membiarkan Ibunya terus tersiksa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Merebut Suami Kakakku   33. Pengecut

    Aku hanya bisa menghela napas panjang, enggan berdebat lebih lama di halaman depan yang sepi ini. Dengan melangkah dingin, aku membuka pintu pagar yang tidak dikunci lalu menuntunnya menuju pintu utama rumah.Setibanya di dalam, aku menyalakan lampu ruang tamu dan menunjukkan jalan menuju kamar tidur Rafa. Mas Daren melangkah sangat pelan, seolah setiap pijakannya takut membangunkan anak dalam pelukannya. Pria itu menunduk sebentar, menyesap aroma tubuh Rafa yang khas anak-anak sebelum mendudukkan dan membaringkan tubuh mungil itu di atas kasur dengan amat perlahan.Dengan kelembutan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya dari seorang pria dingin seperti Daren, ia melepas sepatu kecil Rafa satu per satu. Ia menarik selimut tebal hingga menutupi dada anak itu, lalu mengelus rambut Rafa dengan jemarinya yang agak bergetar."Maafkan Om... maafkan Ayah, Sayang," bisiknya sangat lirih, hampir tak terdengar jika aku tidak berdiri tepat di ambang pintu kamar.Dadaku berdesir hebat mendenga

  • Merebut Suami Kakakku   32. Pulang Bersama

    Mas Daren tidak langsung menjawab sapaan Rafa. Pria itu perlahan berlutut di atas lantai marmer, menyamakan tingginya dengan putraku. Tatapannya begitu lekat."Iya, ini Om yang tadi," jawab Mas Daren dengan suara yang terdengar sedikit serak. Dia memaksakan sebuah senyuman, meski matanya tampak berkaca-kaca. "Kuenya enak, Rafa?""Enak banget, Om! Om mau?" Rafa dengan polosnya menyodorkan piring kecilnya, membuat Mas Daren tertegun menahan gejolak emosi di dadanya.Ayah yang menyadari kehadiran menantunya itu langsung menepuk pundak Mas Daren. "Eh, Daren. Kamu dari mana saja? Itu sudut bibirmu kenapa? Kok agak merah begitu?" tanya Ayah dengan nada menyelidik, menatap memar kecil di wajah Mas Daren.Pertanyaan Ayah membuat suasana mendadak tegang. Mas Daren sempat melirikku sekilas sebelum kembali menatap mertuanya itu dengan tenang. "Ah, ini tidak apa-apa, Yah. Tagi di luar agak gelap, Daren kurang hati-hati dan sempat terserempet ranting pohon yang agak rendah."Aku hanya bisa mencibi

  • Merebut Suami Kakakku   31. Ciuman Paksa

    "Aku tidak percaya!"Suara Mas Daren menggelegar di keheningan taman sepi itu. Sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, dia kembali memburu langkahku. Dengan satu sentakan kasar, dia memutar tubuhku hingga punggungku membentur batang pohon besar di belakangku.Kedua tangannya mengunci pergerakanku di sisi kiri dan kanan kepalaku. Napasnya memburu, matanya merah menyala oleh amarah dan frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun."Jangan bohongi aku, Alina! Aku bukan orang bodoh!" bentaknya, napasnya yang panas menerpa wajahku. "Kamu bisa menyangkalnya sekeras apa pun, tapi mata anak itu, senyumnya, bahkan caranya menatapku tadi... itu darah dagingku! Katakan yang sebenarnya! Mengaku, Alina!""Bukan!" teriakku tepat di depan wajahnya, mataku balas menatapnya dengan penuh kebencian yang dipaksakan. "Dia bukan anakmu! Sampai mati pun dia bukan anakmu, Daren!""Alina!!"Kemarahannya pecah. Kehilangan kendali atas penolakanku yang begitu keras, Mas Daren tiba-tiba menundukkan kepalanya. Sebelu

  • Merebut Suami Kakakku   30. Rafa Anakku?

    Tanpa memedulikan tatapan beberapa pasang mata yang mungkin menyadari pergerakan kami, Mas Daren tiba-tiba melangkah maju. Tangannya yang besar dan kokoh langsung menyambar pergelangan tanganku, mencengkeramnya erat, lalu menarikku paksa membelah kerumunan tamu menuju pintu keluar darurat di sudut ballroom."Mas! Lepas! Apa-apaan sih?!" desisku tertahan, mencoba menahan langkah kakiku di atas lantai marmer.Aku tidak bisa berteriak kencang karena tidak ingin membuat keributan di pesta kolega Ayah, namun aku terus memberontak, berusaha menyentak tanganku dari genggamannya.Mas Daren sama sekali tidak bergeming. Dia terus menarikku menyusuri lorong sepi yang menuju ke arah taman samping hotel yang pencahayaannya cukup temaram.Begitu kami tiba di area taman yang sepi, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menyentak tanganku kembali. "Lepas, Mas Daren! Kamu gila, ya?!" bentakku dengan suara tertahan, napas daku memburu karena emosi.Aku melangkah mundur satu pijakan, memegangi pergelang

  • Merebut Suami Kakakku   29. Kenapa Menatapku?

    Mas Daren menatap uluran tanganku seolah-olah tangan itu adalah sesuatu yang tidak nyata. Tangannya yang besar perlahan terangkat, bergetar sedikit saat telapak tangan kami akhirnya bersentuhan. Genggamannya begitu erat, seolah-olah ia takut jika dia melepaskannya sedikit saja, aku akan kembali menghilang bagai asap."Alina... ini benar-benar kamu?" bisiknya lirih, mengabaikan kebisingan suara denting gelas dan obrolan para pengusaha di sekitar kami. Suaranya serak, sarat akan emosi yang tertahan selama bertahun-tahun."Iya, Mas. Ini aku," jawabku tenang, tetap mempertahankan senyum anggun di bibirku. Aku dengan sengaja menarik tanganku perlahan dari genggamannya sebelum ada orang lain yang menyadari keintiman yang janggal ini.Sengaja ingin menyiksanya dengan rasa penasaran, aku langsung memutar tubuh, mengabaikan Mas Daren yang masih terpaku. Aku beralih pada kolega Ayah yang berdiri di sebelah kami, melempar senyum manis dan mulai menanggapi obrolan mereka tentang bisnis dan kabark

  • Merebut Suami Kakakku   28. First Meet

    Malam pun tiba, membawa udara dingin sisa hujan sore tadi. Setelah memastikan Rafa makan malam dan kembali terlelap di kamarnya, aku berjalan menuju balkon lantai dua. Aku sengaja tidak menyalakan lampu balkon, membiarkan diriku melebur dalam kegelapan malam sambil memandangi rumah di ujung sana.Benar saja dugaan dugaanku. Mas Daren masih belum tenang.Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat siluetnya di balik jendela kaca ruang kerjanya yang terang di lantai dua rumahnya. Dia berjalan mondar-mandir, sesekali menyibakkan gorden dan menatap ke arah rumahku. Dia tampak seperti pria yang kehilangan arah, tersiksa oleh teka-teki yang sengaja kubiarkan menggantung.Sementara itu, di lantai bawah rumah mereka, lampu ruang tengah tampak temaram. Aku bisa membayangkan bagaimana dinginnya atmosfer di dalam sana. Kak Alda pasti sedang kebingungan menghadapi sikap suaminya yang mendadak jauh lebih berubah menjadi lebih sekat dan melamun sejak pulang dari minimarket tadi pagi.Aku menyilangkan d

  • Merebut Suami Kakakku   5. Hadiah Terakhir

    Tubuhku terdorong dan terhempas di atas kasur. Jantungku berdetak semakin kencang saat melihatnya ikut naik, merangkak perlahan mendekat. “M–mau ngapain, Mas?” tanyaku dengan suara bergetar, mataku penuh ketakutan.Aku bergeser mundur, berusaha menjauh sebisa mungkin sampai punggungku menabrak dind

  • Merebut Suami Kakakku   4. Akhir Hubungan?

    Awalnya ia hanya diam. Beberapa menit berlalu tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya, hingga akhirnya aku mendengar suaranya yang bergetar.“Aku… terpaksa, Sayang. Ayah mengancamku. Dia bilang akan memisahkan aku dari Ibu… bahkan akan melukai Ibu kalau aku menolak perjodohan ini.” Ia menunduk, ke

  • Merebut Suami Kakakku   3. Berpindah Hati?

    Setelah Ayah keluar dari kamarku, aku langsung mengurung diri. Aku tidak keluar sama sekali, bahkan ketika Ayah datang lagi mengetuk pintu, memanggilku untuk makan malam. Aku menolak dan bilang kalau aku sudah kenyang.Di dalam kamar, aku hanya duduk melamun, menunggu pesan dari Mas Daren, menunggu

  • Merebut Suami Kakakku   1. Kejutan yang Menyakitkan

    “Ada acara apa ya, Pak Agung? Kenapa di depan rumah banyak mobil?” tanyaku pada sopir pribadiku.Jam satu siang, aku baru pulang kuliah dan langsung melihat banyak mobil terparkir di depan rumah. Termasuk mobil milik kekasihku. Aku benar-benar tidak tahu ada acara apa di dalam, karena kedua orang t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status