Beranda / Romansa / Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku / Bab 6. Kenapa Harus Bertemu Denganmu?

Share

Bab 6. Kenapa Harus Bertemu Denganmu?

Penulis: Michaella Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-31 02:26:14

Sophia membuka pintu kamar hotel dengan pelan, berusaha tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan anak-anaknya. Embusan udara hangat dari dalam menyambutnya, disertai aroma samar bedak bayi dan susu. Pandangannya langsung tertuju pada dua sosok mungil yang tengah terlelap di atas tempat tidur king-size.

Caleb dan Chloe, tidur dalam posisi miring, dengan bantal kecil di pelukan mereka masing-masing. Pipi mereka tampak merah muda, napas teratur, dan rambut halus mereka sedikit berantakan karena gerakan tidur.

Perasaan haru dan hangat seketika menyelimuti dada Sophia. Satu hari yang melelahkan terbayar hanya dengan pemandangan indah itu. Dia pulang cukup malam, tetapi dia lega melihat dua anaknya tidur pulas, tenang.

“Anak-anak sudah makan, kan?” tanya Sophia pelan kepada Amy, pengasuh pribadi Caleb dan Chloe, yang memang dia tugaskan menjaga si kembar.

Amy menoleh dan tersenyum. “Sudah, Nyonya. Tapi, ada sedikit drama tadi. Mereka terus bertanya kapan Anda pulang. Mereka merindukan Anda. Beruntung, Caleb tidak mengamuk seperti biasanya. Saya ajak mereka menggambar, lalu memberi susu dan memutar lagu tidur.”

Sophia mengangguk sambil tersenyum tipis. “Terima kasih, Amy. Kau boleh istirahat. Malam ini biar aku saja yang menemani mereka.”

Amy membalas anggukkan kecil, lalu berjalan pelan ke arah pintu,menuju kamar di sebelah—di mana Sophia memang memesan dua kamar tidur, dengan ada connection door. Hal itu dilakukan agar Amy mudah dalam menjaga kembar.

Saat Amy sudah keluar kamar. keheningan menyelimuti ruangan, menyisakan suara jam dinding yang berdetak lambat dan dengkuran halus dari kedua anaknya. Tampak Sophia berdiri di sisi tempat tidur, membungkuk perlahan, lalu membelai lembut kepala Chloe yang tidur pulas sambil menggenggam boneka kelinci. Setelah itu, dia membetulkan selimut yang mulai melorot dari badan Caleb.

Tatapan Sophia melembut. Ada cinta yang meluap di matanya, tetapi juga sebuah luka yang selama ini dia sembunyikan. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Namun, dia buru-buru menghapus dengan punggung tangan, lalu menghela napas panjang.

“Aku tidak boleh menangis …,” bisik Sophia lirih, seolah sedang menegur dirinya sendiri. “Bagaimanapun juga, ini adalah keputusanku. Aku memilih membesarkan mereka tanpa memberi tahu Lucas.”

Sophia berjalan pelan ke jendela, menarik sedikit tirai, membiarkan cahaya lampu kota masuk dan menghiasi dinding kamar dengan pola kekuningan. Namun, ketenangan malam justru membuat pikirannya mengembara—menuju sosok yang masih sering muncul dalam mimpinya.

Lucas … nama itu seolah menjadi duri yang terus menusuk hati Sophia. Hari ini, dia baru saja mendapat kabar yang membuat dadanya sesak yaitu Lucas akan segera menikah. Sungguh, itu seperti disambar petir di siang bolong. Pria yang dulu bersumpah akan selalu mencintainya, ternyata bisa dengan mudah menggandeng wanita lain. Cepat sekali pria itu melupakan semua kenangan mereka.

“Jadi, begini rasanya ketika seseorang yang dulu kau cintai kini akan menjadi milik orang lain ...,” gumam Sophia pedih. Namun sebelum dia tenggelam terlalu dalam dalam rasa duka, ponselnya bergetar di atas meja. Nama ‘Margareth’ muncul di layar. Buru-buru, dia menyeka wajahnya, lalu mengambil ponselnya, dan menjawab panggilan itu.

“Halo, Margareth?” sapa Sophia dengan lembut.

“Sophia. Kenapa kau pulang lebih dulu? Padahal ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” terdengar suara Margareth yang khas—tegas, tapi hangat—dari seberang.

“Maaf, Margareth. Ada telepon dari Paris tadi. Ada kerjaan mendadak yang harus segera aku urus,” jawab Sophia sebisa mungkin, tak mungkin dia bercerita pada Margareth tentang pikirannya yang kacau setelah bertemu Lucas.

“Ah, seperti itu. Baiklah, aku mengerti.” Ada jeda sejenak, sebelum Margareth melanjutkan dengan nada antusias, “Begini, Sophia. Aku baru saja mendapat kabar bahwa ada salah satu artis terkenal di New York yang tertarik dengan gaun yang kau buat. Dia ingin bertemu denganmu besok. Bagaimana? Apa kau punya waktu?” tanyanya to the point.

Mata Sophia langsung berbinar, dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum tulus merekah di wajahnya. “Tentu, Margareth. Tentu saja aku ada waktu,” jawabnya cepat dan penuh semangat. “Di mana kita akan bertemu?” tanyanya tak sabar. Ya, kini yang ada di dalam pikiran Sophia hanya karier.

“Di butikku saja. Datang jam 10 pagi. Kau tidak mungkin lupa alamat butikku, kan?”

“Aku ingat, dan tentu aku akan datang. Terima kasih, Margareth.”

Panggilan berakhir. Sophia meletakkan ponsel kembali ke atas meja, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin besar di sisi ruangan. Senyum masih bertahan di wajahnya, meskipun matanya sedikit sembab.

Sophia menghela napas pelan, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena semangat yang mulai tumbuh kembali. Proyek baru, kesempatan baru, dan mungkin—masa depan baru. Tidak ada waktu untuk menoleh ke belakang, karena sejatinya semua telah banyak berubah.

Sophia sadar bahwa semua hal di dunia ini bisa berubah. Termasuk tentang keadaan dan perasaan manusia. Dia tidak bisa menyalahkan waktu yang berubah. Mungkin memang dirinya harus menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Meski perih, tetapi dia tetap harus terus melangkah maju.

Sophia perlahan memejamkan mata sebentar, mengingat kembali tujuannya ke New York adalah untuk hal yang berfokuskan tentang karier. Jelas dia tahu bahwa Lucas tinggal di New York, jadi jika dia kembali bertemu dengan pria itu harusnya tidak ada rasa apa pun.

Empat tahun berpisah adalah waktu yang tidak sebentar. Sekarang, Lucas menggandeng wanita lain, tentunya pria itu berhak memiliki masa depan lebih baik. Anna—sangat cantik, dan terlihat hebat—cocok dengan Lucas yang memiliki segalanya. Berbeda dengan dirinya, yang baru-baru ini memulai kehidupan baik.

Sophia harus ingat bahwa perpisahannya dengan Lucas adalah takdir dari semesta, yang memang sudah seharusnya terjadi. Mungkin alasan kuat adalah dirinya tak pantas bersanding dengan sosok Lucas.

Sophia duduk di sisi ranjang, menatap kedua anaknya dengan hati yang perlahan menguat. “Mungkin Lucas sudah melangkah lebih dulu. Tapi, aku juga akan melangkah. Bukan demi balas dendam, tapi demi masa depanku dan anak-anakku,” gumamnya lembut, lalu jemarinya membelai penuh kehangatan anak kembarnya.

***

Brakkk!

Suara keras pintu yang dibanting menggema di dalam apartemen mewah milik Lucas, memantul di antara dinding putih bersih dan langit-langit tinggi yang biasanya memancarkan ketenangan. Namun malam ini, kediaman itu berubah menjadi tempat yang dipenuhi aura kemarahan dan kekacauan batin.

Lucas berjalan dengan langkah besar dan berat menuju kamar tidurnya. Napasnya memburu, seakan paru-parunya tak cukup luas untuk menampung amarah dan kekacauan yang memenuhi dadanya.

Dalam gerakan frustrasi, pria tampan itu menjambak rambutnya sendiri, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sisi ranjang, tangannya menekan pelipis sementara dadanya naik turun tak teratur.

“Berengsek!” umpat Lucas lantang. Suaranya terdengar serak, penuh amarah yang tertahan terlalu lama.

Mata Lucas kini menatap kosong ke arah lantai, tapi pikirannya berputar kacau. Wajah itu—wajah yang menghantuinya selama bertahun-tahun—tiba-tiba muncul di hadapannya hari ini. Namun, itu bukan wajah yang sama. Penampilannya, auranya, caranya berjalan, semuanya berubah. Elegan, berkelas … dan dingin.

“Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi, Sophia?” desis Lucas dingin, dan penuh amarah tertahankan. “Bahkan penampilanmu sangat berubah total! Kau bukan Sophia yang kukenal!” Tangan kirinya meraih dasi yang masih tergantung lepas di leher, lalu ditarik kasar sambil berdiri, dan dasi itu nyaris putus. Dia menjatuhkan benda itu ke lantai dan merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Tanpa pikir panjang, dia menekan nama Axl.

Panggilan langsung tersambung …

“Axl!” seru Lucas, suara masih penuh emosi. “Aku bertemu dengan Sophia di acara fashion show Margareth. Aku ingin kau cari tahu di mana Sophia tinggal selama di sini. Sekarang!” lanjutnya yang merasa bahwa otaknya sekarang tak bisa berhenti berpikir baik.

Ada keheningan sejenak di seberang. Axl terdengar bingung, dan Lucas bisa merasakannya meskipun hanya dari suara napas yang tertahan di telepon.

“Maaf, Tuan …,” jawab Axl pelan, dan sopan. “Kenapa harus mencari tahu tentang Nyonya Sophia? Bukankah Anda sudah memiliki Nona Anna? Maksud saya … Anda akan menikah dengan Nona Anna sebentar lagi.”

Lucas menghela napas panjang. Tangannya menggenggam ponsel erat-erat, sampai buku-buku jarinya memutih. Dia melangkah ke jendela besar di kamar itu, memandangi lampu-lampu kota yang tampak gemerlap di kejauhan. Namun apa yang Lucas lihat bukan pemandangan, melainkan bayangan masa lalu yang kembali menghantui—kenangan akan senyum Sophia, tawa ringannya, serta tatapan kecewa di mata wanita itu sebelum pergi dari hidupnya.

Tangan Lucas yang bebas naik ke kening, memijat pelipis dengan keras, seakan berharap tekanan itu bisa menyingkirkan dilema yang kini menyelimuti pikirannya.

“Aku terpaksa menerima perjodohan ini, Axl. Dan kau tahu itu,” ucap Lucas menekankan, hampir seperti bisikan yang hanya pantas diakui dalam sepi.

Axl menghela napas pelan dari seberang. “Saya tahu, Tuan. Tapi ... jika mencari tahu tentang Nyonya Sophia dalam keadaan seperti ini, hanya akan menimbulkan masalah di hidup Anda.”

“Jadi, menurutmu aku tidak harus mencari tahu tentang Sophia?”

“Tuan, jujur saya terkejut mendengar kabar Anda bertemu dengan Nyonya Sophia. Beberapa tahun ini bahkan saya tidak mendengar nama beliau. Saya tidak tahu ke mana Nyonya Sophia pergi, dan apa yang beliau lakukan, tapi perlu Anda ingat bahwa Anda dan Nyonya Sophia sudah resmi berpisah. Anda harusnya tidak lagi ingin tahu tentang kehidupan Nyonya Sophia. Maaf, jika saya mengatakan ini, Tuan.”

Lucas mengumpat dalam hati mendengar apa yang dikatakan oleh Axl. Pria tampan itu sadar bahwa memang dirinya tak lagi memiliki hak. Dia dan Sophia telah resmi berpisah, tapi pertemuannya kini dengan Sophia menimbulkan sesak—yang membuatnya bahkan tak bisa berpikir jernih. 

Tanpa berkata apa pun, Lucas memutuskan panggilan telepon itu. Dia melempar ponselnya ke sofa, dan terus meloloskan umpatan. Hal yang dia benci adalah Sophia berbeda dari yang sebelumnya. Dia bahkan nyaris tak mengenali wanita itu.

“Kenapa kau harus muncul!” geram Lucas kesal.

Selama acara tadi, Lucas mencoba bersikap tenang, dan tak peduli. Padahal otak dan hatinya seakan berperang. Dia membenci momen di mana bertemu dengan mantan istrinya—yang bahkan selalu mengusik hati dan pikirannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 23. Enyahlah dari Pikiranku!

    Keheningan membentang dari dalam mobil. Lucas melajukan mobil dengan kecepatan penuh—dengan aura wajah tampak menunjukkan kemarahan. Tangannya kini mencengkeram kuat stir mobil. Pria tampan itu dikuasai kemarahan di kala melihat adegan intim Sophia dengan Jacob.Shit! Lucas memukul setir mobil, seraya meloloskan umpatan dalam hatinya. Dia tak mengira akan bertemu dengan Sophia bersama dengan Jacob. Apa yang dia lihat tadi, membuat mood dalam dirinya sangat kacau.“Lucas, kenapa kau mengajakku pergi? Kau kan sudah berjanji padaku akan menemaniku di restoran baru yang tadi,” kata Anna kesal pada Lucas.Lucas masih diam. Matanya menerawang lurus ke depan. Pikirannya terus terngiang pada sosok Sophia yang bersandar pada dada Jacob—dalam keadaan seakan membutuhkan Jacob. Reka adegan itu bagaikan kaset kusut yang tak berhenti terputar di benaknya.“Lucas?” desakan Anna memecah lamunannya.Lucas mengedip pelan, menyadari bahwa pertanyaan Anna dia abaikan. “Kau bisa makan siang di tempat lain

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 22. Adegan Intim yang Menyesakkan Hati Lucas

    Sophia bangun pagi tidak dengan wajah yang segar. Wanita cantik itu kesal, kenapa tadi malam harus memimpikan Lucas. Dari sekian banyak hal yang dia lalui, kenapa dia harus kembali memikirkan pria yang harusnya dienyahkan dari pikirannya? Sungguh, dia membenci ini semua.“Sophia, aku ingin mengajak kembar ke taman bermain. Apa hari ini kau sibuk?” Joana masuk ke dalam kamar, menghampiri Sophia.Sophia melamun, tak menyadari kedatangan Joana.“Sophia?” panggil Joana lagi, tepat di depan sahabatnya itu.Sophia langsung membuyarkan lamunannya. “Hm? Ya, Joana?” jawabnya cepat, di kala sudah sadar kehadiran sahabatnya itu.Joana mendesah pelan, lalu duduk di samping Sophia. “Sepertinya ada hal yang membebani pikiranmu. Katakan padaku, apa yang kau pikirkan?”Sophia menyandarkan punggungnya ke sofa, sembari memejamkan mata lelah. “Tadi malam aku mimpi Lucas. Dan kembar datang ke kamarku saat mereka mendengarku menjerit nama Lucas.”Joana terkejut langsung meraih kedua bahu Sophia. “Wait, ka

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 21. Hanya Sebuah Mimpi

    “Apa sekarang kau bahagia, Sophia?”Sophia menoleh pelan ke arah sumber suara berat dari seorang pria. Tampak jelas matanya menyiratkan kehangatan yang nyaris meleleh. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang tenang seolah seluruh dunia tak lagi menyakitkan.“Menurutmu?” tanya Sophia, dengan nada tenang. “Aku merasa kau bahagia, tapi kau akan lebih bahagia jika bersamaku,” jawab pria tampan itu sembari menggenggam tangan Sophia. Sophia terdiam merasakan kehangatan sentuhan yang sudah lama sekali dia rindukan. Hatinya luluh. Dia berjalan dengan pria tampan itu menyusuri taman yang dipenuhi bunga bermekaran. Langit biru tanpa awan menggantung damai di atas kepala mereka. Sinar matahari menyelinap melalui daun-daun, menciptakan permainan cahaya di tanah dan di wajah Sophia. Udara membawa aroma melati dan rerumputan segar. Semuanya sempurna. Bahkan terlalu sempurna.Tangan itu—tangan hangat yang dia kenal betul—menggenggam erat jemarinya. Sang pemilik tangan adalah Lucas. Dia pria yang

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 20. Penuh Rahasia

    Matahari mulai muncul di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti garis langit kota New York. Saat sinar pertama menyentuh permukaan kaca gedung pencakar langit yang menjulang, jalanan mulai berdenyut dengan kehidupan. Udara terasa segar, membawa aroma kopi yang baru diseduh dari kafe di sudut jalan, berpadu dengan wangi manis bunga sakura yang mekar di Central Park.Pelari, mengenakan pakaian berwarna cerah, melintasi jalur setapak, langkah mereka berirama, bergema di tengah kicauan burung yang ceria. Tampak seorang musisi jalanan mengalunkan melodi lembut dengan gitarnya, nada-nada itu melayang di udara seperti bisikan harapan. Pun dari kejauhan, siluet ikonik Patung Liberty berdiri megah, mengingatkan akan ketahanan dan kebebasan.Pagi yang indah di New York, membawa kedamaian jiwa. Sophia duduk di kursi taman bersama dengan Joana. Dia memperhatikan khusus kembar yang bermain dengan anak-anak yang baru dikenal. Ada Amy yang selalu setia menemani kembar.Ya, hari ini

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 19. Tinggal di Apartemen Baru

    “Ingin minum?” tanya Jacob menawarkan wine pada Sophia, tepat di kala wanita itu sudah selesai berdansa. Meski dia tak menyukai di kala MC mengumumkan pertukaran pasangan saat dansa, tetapi dia harus menghargai acara bibinya itu.Sophia berdeham sebentar, berusaha mengatur emosi dalam dirinya. Dia harus tetap tenang, tak ingin sampai Jacob mengetahui bahwa tadi dia sempat berdebat dengan Lucas. Tidak. Dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun tahu tentangnya dengan Lucas.“Tidak, Jacob. Aku sedang tidak ingin minum alkohol,” tolak Sophia lembut, pada Jacob.Jacob mengangguk, menanggapi ucapan Sophia.“Hm, Jacob, apa kau keberatan mengantarku kembali ke hotel sekarang? Aku merasa sedang kurang sehat,” ujar Sophia lembut.“Kau sedang kurang sehat? Apa yang kau keluhkan?” Jacob dengan penuh perhatian, menyentuh kening Sophia. Pria tampan itu menunjukkan jelas rasa cemas yang membentang di dalam diri.Sophia tersenyum lembut. “Aku hanya sedikit pusing. Maaf, aku tidak bisa terlalu lama d

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 18. Perlawanan Sophia Carter

    “Sophia? Kenapa wajahmu kesal seperti itu?” tanya Joana di kala melihat Sophia masuk ke dalam kamar. Dia yang sedang berkutat pada iPad-nya langsung meletakan iPad-nya ke atas meja, dan menatap Sophia dnegan tatapan bingung serta terselimuti rasa penasaran yang membentang.Sophia menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan ibu Lucas di butik Margareth, Joana.”“Kau bertemu dengan ibu Lucas di butik Margareth?” ulang Joana memastikan, dengan raut wajah terkejut.Sophia mengangguk, menanggapi ucapan Joana.Joana terdiam sebentar. “Kau berada di lingkungan kelas atas. Kau berkenalan dengan Margareth Alford yang merupakan designer ternama. Jadi, aku tidak heran kalau kau bertemu dengan ibu Lucas.”Sophia menghela napas dalam. “Ya, menjadi fashion designer adalah impianku. Aku harus menerima segala konsekunsi termasuk kembali bertemu dengan mantan suamiku berseta keluarganya.”Joana menyentuh tangan Sophia. “Tidak banyak yang aku katakan padamu selain kau harus f

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status