Share

Bab 4. Berbahaya Namun Anugerah

Author: nanadvelyns
last update Last Updated: 2026-02-10 10:50:14

Elizabeth tertegun, sebelum ekspresinya berubah jengkel.

Jadi barusan Aldrich berpikir putrinya hanya ingin menggunakan anggaran rakyat untuk kesenangan pribadi?

“Ayah salah paham,” tutur Elizabeth tegas. “Saya berencana mengelola anggaran wabah untuk membantu orang yang membutuhkan. Bukan ingin menggunakan uang tersebut untuk kepentingan saya pribadi.”

Aldrich terdiam, menatap putrinya seolah melihat orang asing.

Elizabeth mendekat satu langkah. “Ayah, berilah saya kesempatan,” ucapnya. “Bukankah membantu rakyat adalah perbuatan baik? Saya janji akan mengurus masalah ini tanpa membuat kerugian.”

Duke Ratore masih belum mengatakan apa-apa. Sibuk berpikir, apakah sakit benar-benar bisa mengubah seseorang? Perbuatan baik? Membantu rakyat?

“Ayah?” panggil Elizabeth lagi.

Aldrich menghela napas. Senyum tipis yang jarang terlihat akhirnya terukir di wajah keras itu.

“Baiklah,” katanya pelan. “Aku akan mempertimbangkannya.”

Elizabeth mengangguk. “Terima kasih, Ayah,” ucapnya. “Ah, lalu … satu hal lagi.”

Aldrich kembali melipat keningnya.

“Ayah, saya ingin membatalkan pertunangan dengan Putra Mahkota.”

Aldrich menatap Elizabeth dengan ekspresi syok yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Wajah pria paruh baya itu memucat, lalu ia menoleh tajam ke arah pintu dan berseru lantang. 

“Panggil dokter sekarang!”

Elizabeth hampir ternganga. “Ayah, saya hanya ingin membatalkan pertunangan,” protesnya. “Apa hubungannya–”

“Kau harus diperiksa,” potong Aldrich, tegas. Sorot matanya cemas, sekaligus curiga. Menurutnya, tidak mungkin putrinya yang terobsesi dengan William seperti orang bodoh tiba-tiba ingin membatalkan pertunangan seperti ini. “Kenapa kau mengatakan itu?”

“Saya hanya berpikir kalau saya tidak bisa memaksa Putra Mahkota untuk bersama saya.” Elizabeth berucap tegas. “Lagipula, beliau sudah punya gadis lain–”

“Pertunangan kalian sudah diresmikan sejak lama, dan kau adalah calon ratu.” Suara Aldrich mendingin. “Aku tidak terima alasan tidak masuk akal seperti itu. Kau hanya tidak bisa berpikir jernih karena rumor asal-asalan itu.”

“Tapi, Ayah–”

“Kalau kau tetap keras kepala, silakan ucapkan selamat tinggal pada proyek anggaran wabah yang tadi kau minta.”

Elizabeth menggigit bibirnya, menahan diri untuk kembali memprotes. Ia butuh proyek ini.

***

“Nona, ini ada dokumen dari Tuan Duke.”

Elizabeth yang sedang duduk di sisi jendela menoleh saat Amy mengatakan itu. Dengan senyum kecil, ia mengulurkan tangan ke arah pelayan tersebut.

Kini, Elizabeth sudah mendapatkan dokumen-dokumen terkait wabah yang merebak di wilayah perbatasan Kerajaan Eldoria dan Drakonia. 

Alisnya sesekali berkerut saat membaca dokumen tersebut, lalu mengendur kembali. Kepalanya mengangguk-angguk tipis.

“Sama persis,” gumamnya pelan. Gejala, pola penyebaran, hingga angka kematian—semuanya sesuai dengan yang ia ingat dari komik. 

Penyakit kulit yang berkembang menjadi infeksi sistemik, demam tinggi, dan akhirnya kegagalan organ. Penyebab utamanya sederhana, namun mematikan di zaman ini, kebersihan yang buruk.

Elizabeth tahu alasannya dengan jelas. Di era ini, sabun adalah barang mewah. Hanya bangsawan, keluarga kerajaan, dan pedagang kaya yang mampu menggunakannya secara rutin. 

Sementara rakyat jelata membersihkan tubuh mereka dengan air sungai atau sumur, tanpa bahan pembersih yang memadai. Akibatnya, luka kecil, kotoran, dan bakteri dengan mudah berkembang menjadi wabah.

“Kalau begitu…” Elizabeth berdiri, menutup dokumen itu dengan mantap. “Solusinya jelas. Pertama, aku perlu pergi ke pasar dulu."

Elizabeth menoleh pada Amy. “Tolong panggil Ksatria Leonel.”

Amy terkejut, tetapi segera menunduk patuh. “Baik, Nona.”

Tak lama kemudian, Amy kembali bersama Leonel. 

Keduanya tampak sedikit kebingungan saat mendapati Elizabeth telah mengenakan mantel merah gelap dengan tudung besar yang menutupi sebagian wajah dan tubuhnya. 

Pakaian itu sederhana, jauh dari kesan calon ratu.

“Ksatria Leonel,” ujar Elizabeth ceria. “Apa kau bersedia menemaniku berbelanja?”

Amy refleks membuka mulut. “A-apa… Anda perlu memakai mantel seperti itu untuk pergi ke toko pakaian dan perhiasan, Nona?”

Elizabeth menaikkan alis kirinya. “Untuk apa aku ke sana?”

Amy terdiam.

“Aku ingin berbelanja hal lain,” lanjut Elizabeth tenang, “untuk kasus wabah di perbatasan.”

Ia lalu menoleh ke arah Leonel yang menatapnya dengan ekspresi dingin seperti biasa. “Bagaimana, Tuan Ksatria?” Nada suaranya sedikit menggoda, ringan, seolah mereka sedang berbincang santai.

Leonel mengernyit. “Apa saya memiliki hak untuk menolak?” tanyanya ketus. “Untuk apa Nona bertanya?”

Elizabeth mengangkat bahu. “Aku tidak akan memaksamu jika memang kau tidak mau.”

Leonel masih menatap gadis itu dengan kening berkerut dan sudut bibir tertarik ke bawah, membuat Elizabeth akhirnya terkekeh lembut.

“Aku tidak akan menyulitkanmu. Janji,” ucap Elizabeth dengan senyum yang mencapai matanya, membuat Leonel tanpa sadar menahan napas.

Pria itu kemudian buru-buru mengalihkan pandangan dengan rahang mengeras. 

“Nona tidak perlu sungkan.” Akhirnya Leonel berkata.

Elizabeth bertepuk tangan sekali. “Itu kabar baik! Ayo, kita berangkat!”

Amy tampak semakin cemas. “Nona, tempat apa yang akan Anda datangi? Tidak semua tempat berbelanja bisa dimasuki kereta kuda Anda bersama prajurit pengawal.”

“Tidak perlu,” jawab Elizabeth ringan. “Kita tidak perlu mencuri perhatian. Cukup aku dan Ksatria Leonel. Kita gunakan kereta kuda biasa.”

Amy dan Leonel saling melirik. Namun sebelum mereka sempat membantah, Elizabeth sudah melangkah keluar kamar, melewati keduanya seolah keputusan itu final.

Akhirnya, untuk pertama kalinya, Elizabeth Ratore benar-benar pergi keluar istana tanpa rombongan mencolok. Hanya ia dan Leonel, duduk berhadap-hadapan di dalam kereta kuda sederhana yang berderak pelan menyusuri jalan kota.

Sesampainya di lokasi, Elizabeth berniat turun lebih dahulu, tapi Leonel mendahuluinya dan mengulurkan tangan untuk membantu Elizabeth. Wajahnya yang tampan itu tampak masam dan gerakannya kaku, tapi itu tidak menghentikan Elizabeth untuk mengagumi pesona pria berambut merah tersebut.

“Kau sungguh penuh tanggung jawab,” puji gadis itu tulis sembari menerima uluran tangan tersebut. “Terima kasih.”

Leonel tidak mengatakan apa pun, tapi ia mengernyit lebih dalam. 

Mereka mulai menyusuri pasar. Suasana ramai menyambut mereka—teriakan pedagang, aroma rempah, buah segar, dan keringat manusia bercampur menjadi satu. 

Elizabeth berjalan dengan langkah santai, sesekali berhenti untuk memperhatikan barang dagangan. 

Ia membeli minyak nabati, abu kayu berkualitas baik, lemak hewan, serta beberapa bahan lain yang tampak tidak penting bagi orang awam.

Leonel mengikuti di belakangnya dengan wajah galak yang tidak berubah sedikit pun. Elizabeth tidak tersinggung. Justru sebaliknya, ia merasa terhibur.

“Berbahaya memang,” pikirnya sambil melirik Leonel. “Tapi sebagai otaku … ini benar-benar anugerah Dewa.”

Mereka sempat berhenti di sebuah toko makanan manis. Elizabeth membeli beberapa bungkus permen dan kue kecil. Tanpa ragu, ia menyerahkan satu bungkus pada Leonel.

“Ambil ini,” katanya santai. “Kau menyukai stroberi, bukan?”

Leonel terkejut. Matanya membesar sepersekian detik sebelum kembali dingin. “Tidak,” jawabnya ketus. 

Elizabeth tidak memaksa. Ia hanya mengangkat bahu, lalu pandangannya tertarik pada sebuah toko aksesori kecil di seberang jalan. Matanya berbinar.

“Oh!” Tanpa berpikir panjang, ia meraih tangan Leonel. “Ayo, ikut aku!”

Leonel menatap tangan yang menariknya dengan ekspresi jijik. Namun anehnya, kakinya tetap melangkah mengikuti Elizabeth yang sudah menimang sebuah gelang aluminium sederhana dengan batu ruby merah di tengahnya. 

Gadis itu kemudian langsung memakaikannya pada pergelangan tangan Leonel.

“Sudah kuduga,” katanya puas. “Kau selalu cocok dengan warna merah.”

Ia mengangkat tangan Leonel, mendekatkannya ke wajah pria itu. “Lihat,” katanya sambil tersenyum cerah. “Indah, kan?”

Leonel tertegun. Sepasang matanya memperhatikan senyum cantik Elizabeth yang, tidak seperti biasanya, tampak tulus dan jauh dari kata arogan.

Senyum yang membuat kepala Leonel perlahan mengangguk tanpa sadar.

Elizabeth tersenyum semakin lebar. “Bagus.”

Ia langsung membayar gelang itu dan berbalik pergi.

Leonel tersentak. Ia segera menggelengkan kepalanya cepat, wajahnya memanas. “Apa yang kupikirkan?” batinnya gusar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 10. 'Hadiah' Untuk Sang Nona: Salah Sasaran!

    Pagi itu langit kota Limo tampak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Udara tidak lagi sesak oleh kecemasan, dan langkah para relawan terdengar lebih ringan. Namun di depan tenda utama tempat Elizabeth tinggal selama sepekan terakhir, derap kuda dan gemerincing zirah terdengar tegas, memecah suasana damai yang baru saja tumbuh.Prajurit berseragam keluarga bangsawannya berdiri tegap, lengkap dengan lambang yang tersemat di dada. Di belakang mereka, kereta megah berwarna putih gading menunggu, roda-rodanya bersih seolah tidak pernah menyentuh jalan berlumpur kota wabah.Elizabeth berdiri di hadapan mereka dengan wajah tenang, meski dalam hatinya ada desir kecil yang sulit diabaikan.“Ayah mengirim kalian?” tanyanya pelan.“Benar, Nona,” jawab salah satu komandan pengawal sambil menunduk hormat. “Kami diperintahkan untuk menjemput Anda kembali ke Ibu Kota hari ini juga.”Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Tidak ada pilihan untuk menunda.Elizabeth menghela napas tipis.Jadi

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 9. Dokter Agung

    Satu minggu berlalu sejak Elizabeth menginjakkan kaki di kota Limo. Angin yang dulu membawa aroma getir kematian kini perlahan berubah menjadi semilir yang lebih ringan, bercampur wangi sabun yang dibagikan ke setiap sudut pemukiman. Masker-masker kain yang dijahit para relawan menggantung di wajah warga, menggantikan tatapan panik dengan harapan yang tipis namun nyata. Tenda-tenda darurat masih berdiri, tetapi jerit kesakitan yang dulu terdengar siang dan malam kini jauh berkurang. Wabah yang semula seperti badai tak terbendung mulai menunjukkan tanda-tanda bisa dikendalikan.Di dalam tenda utamanya, Elizabeth memegang sepucuk surat dengan jemari yang tetap anggun meski garis keningnya mengerut sulit. Segel keluarga bangsawannya telah dibuka. Tulisan tangan Ayahnya memenuhi lembaran itu dengan instruksi yang tegas—ia diperintahkan kembali ke Ibu Kota esok hari. Kondisi kota Limo dinilai telah membaik secara signifikan sejak sabun dan masker kain dibagikan. Keberadaannya diangga

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 8. Sakit Jantung Kronis Sang Nona

    Elizabeth membuka matanya perlahan.Langit-langit tenda yang berwarna pucat menyambut pandangannya, kainnya sedikit bergoyang tertiup angin malam. Bau obat-obatan dan kain bersih masih tercium samar. Kepalanya terasa ringan, tetapi bukan lagi berputar seperti sebelumnya—hanya menyisakan pening halus yang mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu.Ia menggerakkan tangannya pelan, lalu mengambil sikap duduk dengan hati-hati.Tidak jauh dari ranjangnya, Amy berlutut di tanah dengan kedua tangan menutup wajah. Bahunya naik turun, isakan tertahan keluar dari sela-sela jemarinya.“Nona…” gumam Amy dengan suara serak, belum menyadari bahwa Elizabeth telah sadar.Elizabeth menatapnya sejenak, hatinya menghangat sekaligus terasa bersalah.“Amy,” panggilnya pelan.Amy terhenyak. Ia segera mendongak, matanya membesar ketika melihat Elizabeth duduk tegak.“Nona… Anda bangun?” Suaranya pecah. “Nona telah bangun! Nona telah bangun!”Teriakan itu langsung memanggil dua sosok yang sejak tad

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 7. Harga Darah Bangsawan Yang Rela Diberikan

    “Apa yang kau lakukan di sini? Cepat keluar! Ini bukan ranahmu!”Suara Dokter Franz menggema tegas di dalam tenda sempit itu. Ia berdiri tegap di antara ranjang pasien dan pria berseragam medis yang baru saja masuk, wajahnya menegang oleh campuran amarah dan kecemasan. Situasi sudah cukup genting tanpa tambahan kekacauan dari seorang perawat magang yang tidak tahu diri.Kemudian, seolah baru mengingat siapa yang berada di belakangnya, Dokter Franz segera membungkuk hormat ke arah Elizabeth.“Maafkan perawat magang itu, Nona,” katanya cepat. “Saya kurang baik dalam mendisiplinkan para perawat.”Elizabeth tidak langsung menjawab. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang disebut sebagai perawat magang itu. Seragamnya sederhana, tidak ada tanda pangkat atau simbol khusus. Namun caranya berdiri—tegak, tenang, dan tidak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Dokter Franz—terlihat ganjil bagi seseorang yang konon hanya seorang magang.“Kamu yakin?” tanya Elizabeth pada dokter magang itu

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 6. Harapan di Batas Negeri

    Selesai sosialisasi mengenai cara menggunakan sabun yang benar—mulai dari membasahi tangan, menggosok sela-sela jari, hingga membilas dengan air bersih—gereja Kota Limo yang semula dipenuhi tatapan sinis kini bergemuruh oleh tepuk tangan. Tepuk tangan itu tidak terlalu keras, sebagian masih ragu-ragu, namun cukup untuk menunjukkan satu hal yang jelas, kepercayaan mereka mulai tumbuh.Beberapa wajah yang tadi ketus dan meremehkan Elizabeth kini melunak. Ada yang menunduk hormat ketika pandangan mereka bertemu dengannya, ada pula yang berbisik dengan nada berbeda—bukan lagi celaan, melainkan kekaguman yang ditahan.Dokter Franz berdiri di sampingnya, ekspresi wajahnya jauh lebih ringan dibanding saat pertama menyambutnya. “Nona Ratore,” katanya dengan suara penuh hormat, “kami telah menyiapkan salah satu kastil tua milik bangsawan di pinggiran kota. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, namun masih sangat layak. Akan jauh lebih nyaman bagi Anda untuk beristirahat di sana.”Elizabeth

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 5. Wabah di Perbatasan

    Satu minggu berlalu dengan cepat, namun bagi Elizabeth, tujuh hari itu terasa padat dan nyaris tanpa jeda. Sejak pagi buta hingga larut malam, ia mengurung diri di bangunan kosong milik Duchy Ratore yang sementara dialihfungsikan sebagai tempat produksi. Di sana, aroma lemak yang dipanaskan, abu alkali, dan cairan kental bercampur menjadi bau asing yang tak pernah tercium di ruang bangsawan. Tangannya tidak lagi sehalus biasanya, ada kemerahan tipis di ujung jari akibat sering bersentuhan dengan bahan mentah. Namun Elizabeth tidak peduli. Setiap batang sabun yang berhasil dicetak rapi adalah satu langkah menjauh dari kematian sia-sia rakyat di perbatasan.Duke Ratore tidak mengganggunya sama sekali. Pria itu beberapa kali datang diam-diam, berdiri di ambang pintu, menatap putri sulungnya bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya keras seperti biasa, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Elizabeth—putri yang selama ini hanya ia kenal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status