LOGINTidak hanya Aldrich yang terkejut, melainkan semua orang yang ada di sana.
“Saya sekarang baik-baik saja, hanya perlu istirahat,” ucap Elizabeth. Lalu pada para pelayan dan dokter, ia menambahkan, “Tolong jangan membesar-besarkan kondisi saya dan membuat orang lain cemas.”
Maksud Elizabeth adalah agar merahasiakan penyakitnya itu. Toh, ia sedang berusaha sembuh. Akan lucu kalau orang tahu dia nyaris mati, tapi kemudian tidak jadi.
Namun, orang-orang di sana berpikir kalau Elizabeth berusaha menyembunyikan kelemahannya agar tidak digunakan orang lain. Masuk akal, karena Nona Ratore satu ini memang punya banyak musuh.
Elizabeth pada akhirnya menghabiskan dua hari penuh untuk istirahat total.
Setelahnya, Elizabeth diizinkan keluar kamar dan beraktivitas ringan. Ia sudah akan menangis lantaran ini sangat mirip dengan kehidupannya yang pertama. Belum lagi dokter terus memaksanya minum obat-obatan pahit untuk penyakitnya.
Untungnya, kali ini, Elizabeth bisa mengakalinya dengan sistem yang ia miliki.
Hanya dengan tindakan kecil seperti “tersenyum kepada pelayan yang mengantarkan makanan untukmu” bisa membuat staminanya meningkat. Ia bisa mengucapkan selamat tinggal pada obat-obatan itu!
Elizabeth melangkah keluar kamar dan berhenti mendadak saat melihat Leonel berdiri di depan pintu.
Ksatria berwajah dingin itu tertegun melihat Elizabeth, lalu segera membungkuk singkat.
Elizabeth menatap pria itu sejenak.
“Kau sudah makan?” tanya Elizabeth kemudian. Dalam hati, ia mengagumi ketampanan pria dua dimensi yang mendadak jadi nyata tersebut. Sempurna, dingin, dan berbahaya.
Gadis itu tidak menyadari kalau pertanyaannya membuat kening Leonel berkerut.
Akan tetapi, pria itu akhirnya menjawab, “Belum.”
Elizabeth mengangguk. “Kalau begitu pergilah ke dapur,” ujarnya sambil melangkah melewati Leonel. “Temui aku lagi setelah makan. Jangan sampai lambungmu kambuh.”
Kening Leonel mengernyit.
Dari mana wanita ini tahu tentang penyakit asam lambungnya?
Sementara itu, Elizabeth terus melangkah menyusuri koridor megah menuju ruang ayahnya.
Namun, langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan seorang gadis berambut perak.
“Kakak?”
Maria, adik tiri Elizabeth, menatapnya lembut. Namun, para pelayan di belakang Maria justru bersikap sebaliknya dan penuh permusuhan.
Elizabeth terkejut. Ia tahu hubungan mereka tidak bisa dikatakan baik, tapi ia segera mengontrol dirinya dan tersenyum.
“Kakak, ke mana kamu akan pergi? Bukankah tubuhmu masih kurang sehat?” Maria kembali bertanya.
“Ada yang perlu aku bicarakan dengan Ayah,” jawab Elizabeth singkat.
Maria mengerutkan keningnya, ekspresi cemas yang terlatih dengan sangat baik. Ia melangkah mendekat satu langkah, menjaga jarak yang cukup dekat untuk terlihat akrab, namun tidak melewati batas sopan santun.
“Kak,” ucapnya lirih, “kamu tidak benar-benar akan meminta Ayah untuk memaksa Putra Mahkota segera kembali, bukan?”
Elizabeth mengerutkan keningnya. “Kenapa aku harus melakukan itu?”
Belum sempat Maria menjawab, salah satu pelayan yang berdiri di belakangnya—seorang gadis berambut pirang bernama Lise—langsung menyela dengan nada tajam yang nyaris tak tertahan.
“Tentu saja karena nona tidak tahu malu. Hidup terlalu mewah dan tidak peduli dengan kondisi masyarakat, padahal Eldoria masih dalam pemulihan perang—”
“Lise.”
Nada suara Maria lembut, namun mengandung tekanan yang membuat pelayan itu langsung terdiam. “Jangan tidak sopan.”
Lise menggertakkan giginya, jelas kesal, tetapi segera menunduk dalam. “Saya bodoh dan hanya asal bicara. Mohon nona memaafkan.”
Maria lalu kembali menatap Elizabeth. Senyumnya muncul lagi—lembut, penuh pengertian, dan tampak seolah melindungi kakaknya dari ucapan kasar bawahannya.
“Kakakku hanya melakukan apa yang pantas dilakukan seorang calon Ratu,” katanya. “Kak Elizabeth adalah calon Ratu Eldoria. Semua kehidupan mewah itu memang layak untuknya.”
Nada suaranya begitu manis, seakan-akan ia sedang membela Elizabeth.
Namun Elizabeth menangkap sesuatu yang lain—sebuah penekanan halus pada kata kehidupan mewah, seolah Maria dengan sengaja menanamkan citra buruk itu di hadapan para pelayan yang mendengarkan.
“Mengenai Putra Mahkota…” Maria menggantungkan kalimatnya. Ia mendekat, mencondongkan tubuh sedikit, dan menempelkan mulutnya ke telinga Elizabeth.
Suaranya direndahkan, cukup pelan untuk terdengar seperti rahasia. “Kakak, aku mendengar gosip bahwa Putra Mahkota membawa seorang gadis ke mana pun ia pergi selama tiba di perbatasan.”
Sudut bibir Maria terangkat sedikit. Senyumannya berubah sepersekian detik—lebih tajam, lebih puas—sebuah seringai halus yang nyaris tak terlihat.
Namun sebelum Elizabeth sempat bereaksi, Maria sudah kembali menjauh, memasang wajah cemas yang tampak tulus.
“Tetapi kakak tidak perlu khawatir,” lanjut Maria lembut. “Posisi Ratu Eldoria hanya akan menjadi milik Kakak. Kakak bisa menanyakan kepastian ini pada Ayah. Ayah pasti akan melakukan hal terbaik untuk membantu Kakak.”
Elizabeth tidak menjawab. Namun pandangannya mendingin perlahan.
Ia akhirnya mengerti.
Di balik wajah polos, sikap patuh, dan nada penuh empati itu, Maria adalah racun yang bekerja perlahan.
Dialah yang selama ini menyalakan api kecemburuan, ketakutan, dan amarah Elizabeth Ratore yang asli. Setiap kalimatnya dirancang untuk mendorong Elizabeth bersikap berlebihan–menjadi kasar, posesif, dan akhirnya dibenci.
Maria tersenyum samar, lalu melanjutkan langkahnya melewati Elizabeth seolah tidak terjadi apa-apa.
Roknya berayun anggun, punggungnya lurus, citra adik tiri yang baik dan penuh pengertian.
Amy yang sejak tadi menahan diri akhirnya mendengus kesal. “Nona, jangan terpancing dengan kalimatnya. Wanita itu–”
“Tidak apa-apa,” potong Elizabeth pelan. “Ternyata dia.”
Amy berkedip bingung.
Elizabeth berbalik dan menatap punggung Maria dengan sorot mata dingin. “Ternyata dia yang membentuk Elizabeth menjadi tokoh yang tidak masuk akal.”
Amy semakin bingung. Majikannya hari ini benar-benar berbeda—bahkan cara menyebut dirinya sendiri terdengar seolah membicarakan orang lain.
Namun Amy memilih diam. Ia hanya mengikuti Elizabeth yang kembali melangkah menuju ruang kerja Duke Ratore.
Begitu tiba di depan pintu besar berukir lambang keluarga Ratore, Elizabeth mendengar suara Ayahnya dari dalam.
“Berani sekali dokter itu menolak panggilanku!” bentak Aldrich Ratore. “Putriku adalah calon Ratu Eldoria! Calon anggota kerajaan!”
Elizabeth mengangkat alis kirinya. Sepertinya suasana hati ayahnya sedang tidak baik.
Tapi Elizabeth tetap mengetuk pintu.
Suara di dalam langsung terhenti. “Masuk,” ucap Aldrich. Pria itu langsung mengernyit saat melihat Elizabeth melangkah masuk. “Kau tidak beristirahat?”
Elizabeth tersenyum. “Saya sudah cukup istirahat, Ayah.”
Aldrich terdiam, tatapannya berhenti lebih lama di senyum kecil sang putri sebelum kemudian berdeham.
“Baiklah. Ada apa kau menemuiku?” ucap Aldrich kemudian.
Elizabeth melangkah lebih dekat. “Saya dengar keluarga kita diperintahkan Istana untuk menjadi perwakilan penanggung jawab pengelolaan wabah di perbatasan dua kerajaan.”
Aldrich mengangguk.
“Apabila demikian,” ucap Elizabeth. “Apakah saya boleh mengambil alih tugas tersebut?”
Aldrich membelalakkan mata. “Apa katamu?” ucapnya tidak percaya. Tadi, ia sudah yakin putrinya sedikit berubah jadi lebih baik dan hangat, tapi ternyata semua karena ada maunya. “Apa uang bulananmu kurang? Perlu berapa juta emas lagi?”
Pagi itu langit kota Limo tampak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Udara tidak lagi sesak oleh kecemasan, dan langkah para relawan terdengar lebih ringan. Namun di depan tenda utama tempat Elizabeth tinggal selama sepekan terakhir, derap kuda dan gemerincing zirah terdengar tegas, memecah suasana damai yang baru saja tumbuh.Prajurit berseragam keluarga bangsawannya berdiri tegap, lengkap dengan lambang yang tersemat di dada. Di belakang mereka, kereta megah berwarna putih gading menunggu, roda-rodanya bersih seolah tidak pernah menyentuh jalan berlumpur kota wabah.Elizabeth berdiri di hadapan mereka dengan wajah tenang, meski dalam hatinya ada desir kecil yang sulit diabaikan.“Ayah mengirim kalian?” tanyanya pelan.“Benar, Nona,” jawab salah satu komandan pengawal sambil menunduk hormat. “Kami diperintahkan untuk menjemput Anda kembali ke Ibu Kota hari ini juga.”Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Tidak ada pilihan untuk menunda.Elizabeth menghela napas tipis.Jadi
Satu minggu berlalu sejak Elizabeth menginjakkan kaki di kota Limo. Angin yang dulu membawa aroma getir kematian kini perlahan berubah menjadi semilir yang lebih ringan, bercampur wangi sabun yang dibagikan ke setiap sudut pemukiman. Masker-masker kain yang dijahit para relawan menggantung di wajah warga, menggantikan tatapan panik dengan harapan yang tipis namun nyata. Tenda-tenda darurat masih berdiri, tetapi jerit kesakitan yang dulu terdengar siang dan malam kini jauh berkurang. Wabah yang semula seperti badai tak terbendung mulai menunjukkan tanda-tanda bisa dikendalikan.Di dalam tenda utamanya, Elizabeth memegang sepucuk surat dengan jemari yang tetap anggun meski garis keningnya mengerut sulit. Segel keluarga bangsawannya telah dibuka. Tulisan tangan Ayahnya memenuhi lembaran itu dengan instruksi yang tegas—ia diperintahkan kembali ke Ibu Kota esok hari. Kondisi kota Limo dinilai telah membaik secara signifikan sejak sabun dan masker kain dibagikan. Keberadaannya diangga
Elizabeth membuka matanya perlahan.Langit-langit tenda yang berwarna pucat menyambut pandangannya, kainnya sedikit bergoyang tertiup angin malam. Bau obat-obatan dan kain bersih masih tercium samar. Kepalanya terasa ringan, tetapi bukan lagi berputar seperti sebelumnya—hanya menyisakan pening halus yang mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu.Ia menggerakkan tangannya pelan, lalu mengambil sikap duduk dengan hati-hati.Tidak jauh dari ranjangnya, Amy berlutut di tanah dengan kedua tangan menutup wajah. Bahunya naik turun, isakan tertahan keluar dari sela-sela jemarinya.“Nona…” gumam Amy dengan suara serak, belum menyadari bahwa Elizabeth telah sadar.Elizabeth menatapnya sejenak, hatinya menghangat sekaligus terasa bersalah.“Amy,” panggilnya pelan.Amy terhenyak. Ia segera mendongak, matanya membesar ketika melihat Elizabeth duduk tegak.“Nona… Anda bangun?” Suaranya pecah. “Nona telah bangun! Nona telah bangun!”Teriakan itu langsung memanggil dua sosok yang sejak tad
“Apa yang kau lakukan di sini? Cepat keluar! Ini bukan ranahmu!”Suara Dokter Franz menggema tegas di dalam tenda sempit itu. Ia berdiri tegap di antara ranjang pasien dan pria berseragam medis yang baru saja masuk, wajahnya menegang oleh campuran amarah dan kecemasan. Situasi sudah cukup genting tanpa tambahan kekacauan dari seorang perawat magang yang tidak tahu diri.Kemudian, seolah baru mengingat siapa yang berada di belakangnya, Dokter Franz segera membungkuk hormat ke arah Elizabeth.“Maafkan perawat magang itu, Nona,” katanya cepat. “Saya kurang baik dalam mendisiplinkan para perawat.”Elizabeth tidak langsung menjawab. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang disebut sebagai perawat magang itu. Seragamnya sederhana, tidak ada tanda pangkat atau simbol khusus. Namun caranya berdiri—tegak, tenang, dan tidak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Dokter Franz—terlihat ganjil bagi seseorang yang konon hanya seorang magang.“Kamu yakin?” tanya Elizabeth pada dokter magang itu
Selesai sosialisasi mengenai cara menggunakan sabun yang benar—mulai dari membasahi tangan, menggosok sela-sela jari, hingga membilas dengan air bersih—gereja Kota Limo yang semula dipenuhi tatapan sinis kini bergemuruh oleh tepuk tangan. Tepuk tangan itu tidak terlalu keras, sebagian masih ragu-ragu, namun cukup untuk menunjukkan satu hal yang jelas, kepercayaan mereka mulai tumbuh.Beberapa wajah yang tadi ketus dan meremehkan Elizabeth kini melunak. Ada yang menunduk hormat ketika pandangan mereka bertemu dengannya, ada pula yang berbisik dengan nada berbeda—bukan lagi celaan, melainkan kekaguman yang ditahan.Dokter Franz berdiri di sampingnya, ekspresi wajahnya jauh lebih ringan dibanding saat pertama menyambutnya. “Nona Ratore,” katanya dengan suara penuh hormat, “kami telah menyiapkan salah satu kastil tua milik bangsawan di pinggiran kota. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, namun masih sangat layak. Akan jauh lebih nyaman bagi Anda untuk beristirahat di sana.”Elizabeth
Satu minggu berlalu dengan cepat, namun bagi Elizabeth, tujuh hari itu terasa padat dan nyaris tanpa jeda. Sejak pagi buta hingga larut malam, ia mengurung diri di bangunan kosong milik Duchy Ratore yang sementara dialihfungsikan sebagai tempat produksi. Di sana, aroma lemak yang dipanaskan, abu alkali, dan cairan kental bercampur menjadi bau asing yang tak pernah tercium di ruang bangsawan. Tangannya tidak lagi sehalus biasanya, ada kemerahan tipis di ujung jari akibat sering bersentuhan dengan bahan mentah. Namun Elizabeth tidak peduli. Setiap batang sabun yang berhasil dicetak rapi adalah satu langkah menjauh dari kematian sia-sia rakyat di perbatasan.Duke Ratore tidak mengganggunya sama sekali. Pria itu beberapa kali datang diam-diam, berdiri di ambang pintu, menatap putri sulungnya bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya keras seperti biasa, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Elizabeth—putri yang selama ini hanya ia kenal







