Home / Fantasi / Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa / Bab 8. Sakit Jantung Kronis Sang Nona

Share

Bab 8. Sakit Jantung Kronis Sang Nona

Author: nanadvelyns
last update Last Updated: 2026-02-23 23:07:36

Elizabeth membuka matanya perlahan.

Langit-langit tenda yang berwarna pucat menyambut pandangannya, kainnya sedikit bergoyang tertiup angin malam.

Bau obat-obatan dan kain bersih masih tercium samar.

Kepalanya terasa ringan, tetapi bukan lagi berputar seperti sebelumnya—hanya menyisakan pening halus yang mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu.

Ia menggerakkan tangannya pelan, lalu mengambil sikap duduk dengan hati-hati.

Tidak jauh dari ranjangnya, Amy berlutut di tanah dengan kedua tangan menutup wajah. Bahunya naik turun, isakan tertahan keluar dari sela-sela jemarinya.

“Nona…” gumam Amy dengan suara serak, belum menyadari bahwa Elizabeth telah sadar.

Elizabeth menatapnya sejenak, hatinya menghangat sekaligus terasa bersalah.

“Amy,” panggilnya pelan.

Amy terhenyak. Ia segera mendongak, matanya membesar ketika melihat Elizabeth duduk tegak.

“Nona… Anda bangun?” Suaranya pecah. “Nona telah bangun! Nona telah bangun!”

Teriakan itu langsung memanggil dua sosok yang sejak tadi berjaga tidak jauh dari tenda.

Tirai terbuka, dan Dokter Franz masuk bersamaan dengan perawat magang bermata emerald itu. Raut wajah keduanya serius, tidak ada sedikit pun kelonggaran.

Perawat magang itu melangkah lebih cepat, berdiri di sisi ranjang Elizabeth.

Tatapannya tajam, seperti sedang menilai kondisi pasien yang jauh lebih berharga daripada sekadar bangsawan biasa.

“Anda memiliki riwayat sakit jantung kronis?” tanyanya tanpa basa-basi.

Suasana mendadak membeku.

Amy menoleh kaget ke arah Elizabeth. Dokter Franz pun tampak tertegun.

Elizabeth tersenyum tipis. Senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja disebut memiliki penyakit serius.

“Bisakah… Anda berdua merahasiakannya?” jawabnya pelan.

Dokter Franz menghela napas panjang, ekspresinya berubah sedih. “Bagaimana bisa menjadi kronis, Nona? Jika pencegahan dilakukan lebih awal, jantung Anda—”

“Tidak,” potong perawat magang itu datar.

Semua mata beralih padanya.

“Sepertinya Anda bahkan tidak melakukan pencegahan apa pun sejak awal, bukan?” lanjutnya, tatapannya menancap lurus ke mata Elizabeth.

Elizabeth terdiam.

Ada sesuatu dalam nada pria itu—bukan sekadar profesionalisme, melainkan kemarahan yang tertahan. Seolah ia tidak menyukai jawaban yang sudah ia duga.

Kenapa perawat magang ini terdengar begitu mendominasi? Seolah ia tahu lebih banyak daripada yang seharusnya?

Perawat magang itu menghela napas tipis, berusaha meredakan ketegangan dalam suaranya.

“Donor darah memang tidak berbahaya. Justru dapat mengurangi kekentalan darah dan meringankan kerja jantung,” jelasnya dengan nada lebih terkendali. “Pingsan adalah hal yang wajar setelah kehilangan darah dalam jumlah cukup banyak. Tetapi… kondisi jantung Anda inilah yang menjadi masalah utama.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Kami bahkan tidak tahu bahwa Anda memiliki jantung kronis jika tidak memeriksa tubuh Anda secara menyeluruh saat Anda tidak sadarkan diri.”

Elizabeth mengangguk kecil. “Terima kasih banyak atas bantuan dan perhatian para dokter. Aku baik-baik saja. Sebelumnya juga sudah konsultasi dengan dokter milik Duchy Ratore.”

Itu bukan kebohongan sepenuhnya. Dokter istana memang mengetahui kondisi jantungnya, meski tak pernah benar-benar mampu mengatasinya.

Namun ia tidak pernah menganggap penyakit itu sebagai sesuatu yang harus diprioritaskan. Di dunia ini, sistem telah menentukan garis hidupnya sendiri.

Perawat magang itu tampak tidak puas. Sorot matanya mengeras.

“Anda harus menemui Dokter Agung. Kondisi Anda perlu—”

“Dokter Agung adalah orang yang pelit!” sela Amy tiba-tiba, suaranya dipenuhi amarah yang jarang ia tunjukkan. “Bahkan Yang Mulia Ratu ditolak mentah-mentah olehnya! Dia hanya bersedia mengobati Raja, benar-benar sombong!”

Amy mengusap air matanya dengan kasar sebelum melanjutkan.

“Bahkan saat Tuan Duke sendiri yang meminta Dokter Agung memeriksa Nona sebelum kemari, pria itu menolaknya tanpa basa-basi! Seolah Duchy kami tidak penting!”

Perawat magang itu membeku.

Untuk sesaat, ia benar-benar seperti patung. Tidak ada respons, tidak ada bantahan. Hanya diam yang terlalu dalam.

Elizabeth memperhatikan perubahan itu dengan samar, tetapi pening di kepalanya membuatnya tidak ingin menggali lebih jauh.

Ia tidak pernah mengharapkan bantuan Dokter Agung untuk sakit jantungnya. Sistem telah menentukan kematian dan keselamatannya sendiri.

Jika waktunya tiba, ia tahu ia tidak akan bisa menghindarinya hanya dengan satu pemeriksaan tambahan.

“Aku baik-baik saja,” ulang Elizabeth lembut. “Tolong jangan membuat ini menjadi besar.”

Ia lalu menatap mereka satu per satu. “Kalian sudah bekerja keras hari ini. Aku ingin semuanya beristirahat.”

Dokter Franz masih terlihat ragu, namun akhirnya mengangguk hormat. “Baik, Nona.”

Satu per satu mereka mengundurkan diri. Hanya Amy yang masih berdiri gelisah di dekat ranjang.

Sebelum Amy benar-benar keluar, Elizabeth memanggilnya lagi.

“Amy.”

“Ya, Nona?”

“Di mana Leonel?”

Amy tampak ragu. “Setelah mengantar Nona ke tenda… dia tidak berhenti berlutut sampai sekarang.”

Elizabeth mengerutkan kening. “Berlutut?”

Amy mengangguk pelan. “Seperti patung. Tidak bergerak.”

Tanpa menunggu lebih lama, Elizabeth segera berusaha berdiri. Amy sigap membantunya, menyampirkan mantel di bahunya.

Udara malam di Kota Limo lebih dingin daripada yang ia perkirakan. Angin perbatasan berembus tajam, membawa aroma tanah basah dan asap kayu.

Beberapa langkah dari tenda, Elizabeth tertegun.

Leonel berlutut di tanah terbuka, tepat di depan tenda tempat ia tadi terbaring.

Kepalanya tertunduk dalam, kedua tangannya mengepal di atas paha.

Ia benar-benar tidak bergerak, seperti patung ksatria yang sedang menjalani hukuman.

Elizabeth melangkah mendekat.

“Leonel.”

Tidak ada jawaban.

Ia berhenti tepat di hadapannya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat bahwa rahang pria itu mengeras, napasnya teratur namun berat.

“Saya gagal menjaga Anda,” ucap Leonel akhirnya, suaranya rendah. “Saya membiarkan Anda mendonorkan darah bangsawan Anda kepada rakyat biasa… hingga Anda pingsan. Padahal saya tahu—”

Ia terdiam sejenak.

“Saya tahu Anda memiliki riwayat jantung kronis.”

Elizabeth terkejut tipis, tetapi tidak menunjukkannya.

Leonel melanjutkan, suaranya kaku. “Berbagi darah dengan rakyat biasa adalah hal yang memalukan bagi bangsawan. Seharusnya saya menghentikan Anda.”

Ada kebencian lama di dalam dirinya—kebencian terhadap Elizabeth yang dulu. Namun di balik itu, kini ada rasa bersalah yang jauh lebih besar.

Elizabeth tidak menjawab panjang lebar.

Ia justru melepas mantel dari bahunya.

Tanpa banyak kata, ia menyampirkan mantel itu ke pundak Leonel yang masih berlutut.

Leonel tertegun. Ia mendongakkan kepala untuk pertama kalinya malam itu.

Mata mereka bertemu.

Elizabeth tersenyum tipis, senyum yang lembut dan tanpa beban.

“Malam ini dingin,” katanya pelan. “Jangan sampai sakit. Aku baik-baik saja.”

Leonel membeku.

“Ah… kau sudah makan?” lanjut Elizabeth ringan, seolah berbicara tentang hal biasa. “Hati-hati lambungmu bermasalah karena telat makan. Hargai dirimu sendiri.”

Kata-kata itu sederhana. Tidak ada teguran keras, tidak ada nada memerintah.

Hanya perhatian.

Jantung Leonel mendadak berdebar lebih kencang dari sebelumnya.

Ia ingin berkata sesuatu—mungkin meminta maaf dengan lebih jelas, mungkin menyatakan bahwa ia akan lebih berhati-hati—tetapi—

“Aku baik-baik saja, Leonel,” potong Elizabeth lembut sambil berbalik melangkah menuju tenda. “Tidak perlu dipikirkan lagi.”

Langkahnya perlahan namun stabil.

“Pikirkan saja apa yang ingin kamu lakukan,” tambahnya tanpa menoleh. “Jangan merasa bersalah karena keputusan orang lain terhadap dirinya sendiri. Aku tidak ingin kamu membenci pekerjaanmu.”

Leonel terpaku.

Angin malam menerpa wajahnya yang mulai memerah. Kata-kata Elizabeth berputar di kepalanya tanpa henti.

Hargai dirimu sendiri.

Aku tidak ingin kamu membenci pekerjaanmu.

Tatapan keras yang selama ini selalu ia tunjukkan perlahan melembut.

Sesuatu yang asing tumbuh di dalam dadanya—bukan sekadar rasa hormat, bukan pula sekadar rasa bersalah.

Kekaguman tulus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 10. 'Hadiah' Untuk Sang Nona: Salah Sasaran!

    Pagi itu langit kota Limo tampak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Udara tidak lagi sesak oleh kecemasan, dan langkah para relawan terdengar lebih ringan. Namun di depan tenda utama tempat Elizabeth tinggal selama sepekan terakhir, derap kuda dan gemerincing zirah terdengar tegas, memecah suasana damai yang baru saja tumbuh.Prajurit berseragam keluarga bangsawannya berdiri tegap, lengkap dengan lambang yang tersemat di dada. Di belakang mereka, kereta megah berwarna putih gading menunggu, roda-rodanya bersih seolah tidak pernah menyentuh jalan berlumpur kota wabah.Elizabeth berdiri di hadapan mereka dengan wajah tenang, meski dalam hatinya ada desir kecil yang sulit diabaikan.“Ayah mengirim kalian?” tanyanya pelan.“Benar, Nona,” jawab salah satu komandan pengawal sambil menunduk hormat. “Kami diperintahkan untuk menjemput Anda kembali ke Ibu Kota hari ini juga.”Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Tidak ada pilihan untuk menunda.Elizabeth menghela napas tipis.Jadi

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 9. Dokter Agung

    Satu minggu berlalu sejak Elizabeth menginjakkan kaki di kota Limo. Angin yang dulu membawa aroma getir kematian kini perlahan berubah menjadi semilir yang lebih ringan, bercampur wangi sabun yang dibagikan ke setiap sudut pemukiman. Masker-masker kain yang dijahit para relawan menggantung di wajah warga, menggantikan tatapan panik dengan harapan yang tipis namun nyata. Tenda-tenda darurat masih berdiri, tetapi jerit kesakitan yang dulu terdengar siang dan malam kini jauh berkurang. Wabah yang semula seperti badai tak terbendung mulai menunjukkan tanda-tanda bisa dikendalikan.Di dalam tenda utamanya, Elizabeth memegang sepucuk surat dengan jemari yang tetap anggun meski garis keningnya mengerut sulit. Segel keluarga bangsawannya telah dibuka. Tulisan tangan Ayahnya memenuhi lembaran itu dengan instruksi yang tegas—ia diperintahkan kembali ke Ibu Kota esok hari. Kondisi kota Limo dinilai telah membaik secara signifikan sejak sabun dan masker kain dibagikan. Keberadaannya diangga

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 8. Sakit Jantung Kronis Sang Nona

    Elizabeth membuka matanya perlahan.Langit-langit tenda yang berwarna pucat menyambut pandangannya, kainnya sedikit bergoyang tertiup angin malam. Bau obat-obatan dan kain bersih masih tercium samar. Kepalanya terasa ringan, tetapi bukan lagi berputar seperti sebelumnya—hanya menyisakan pening halus yang mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu.Ia menggerakkan tangannya pelan, lalu mengambil sikap duduk dengan hati-hati.Tidak jauh dari ranjangnya, Amy berlutut di tanah dengan kedua tangan menutup wajah. Bahunya naik turun, isakan tertahan keluar dari sela-sela jemarinya.“Nona…” gumam Amy dengan suara serak, belum menyadari bahwa Elizabeth telah sadar.Elizabeth menatapnya sejenak, hatinya menghangat sekaligus terasa bersalah.“Amy,” panggilnya pelan.Amy terhenyak. Ia segera mendongak, matanya membesar ketika melihat Elizabeth duduk tegak.“Nona… Anda bangun?” Suaranya pecah. “Nona telah bangun! Nona telah bangun!”Teriakan itu langsung memanggil dua sosok yang sejak tad

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 7. Harga Darah Bangsawan Yang Rela Diberikan

    “Apa yang kau lakukan di sini? Cepat keluar! Ini bukan ranahmu!”Suara Dokter Franz menggema tegas di dalam tenda sempit itu. Ia berdiri tegap di antara ranjang pasien dan pria berseragam medis yang baru saja masuk, wajahnya menegang oleh campuran amarah dan kecemasan. Situasi sudah cukup genting tanpa tambahan kekacauan dari seorang perawat magang yang tidak tahu diri.Kemudian, seolah baru mengingat siapa yang berada di belakangnya, Dokter Franz segera membungkuk hormat ke arah Elizabeth.“Maafkan perawat magang itu, Nona,” katanya cepat. “Saya kurang baik dalam mendisiplinkan para perawat.”Elizabeth tidak langsung menjawab. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang disebut sebagai perawat magang itu. Seragamnya sederhana, tidak ada tanda pangkat atau simbol khusus. Namun caranya berdiri—tegak, tenang, dan tidak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Dokter Franz—terlihat ganjil bagi seseorang yang konon hanya seorang magang.“Kamu yakin?” tanya Elizabeth pada dokter magang itu

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 6. Harapan di Batas Negeri

    Selesai sosialisasi mengenai cara menggunakan sabun yang benar—mulai dari membasahi tangan, menggosok sela-sela jari, hingga membilas dengan air bersih—gereja Kota Limo yang semula dipenuhi tatapan sinis kini bergemuruh oleh tepuk tangan. Tepuk tangan itu tidak terlalu keras, sebagian masih ragu-ragu, namun cukup untuk menunjukkan satu hal yang jelas, kepercayaan mereka mulai tumbuh.Beberapa wajah yang tadi ketus dan meremehkan Elizabeth kini melunak. Ada yang menunduk hormat ketika pandangan mereka bertemu dengannya, ada pula yang berbisik dengan nada berbeda—bukan lagi celaan, melainkan kekaguman yang ditahan.Dokter Franz berdiri di sampingnya, ekspresi wajahnya jauh lebih ringan dibanding saat pertama menyambutnya. “Nona Ratore,” katanya dengan suara penuh hormat, “kami telah menyiapkan salah satu kastil tua milik bangsawan di pinggiran kota. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, namun masih sangat layak. Akan jauh lebih nyaman bagi Anda untuk beristirahat di sana.”Elizabeth

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 5. Wabah di Perbatasan

    Satu minggu berlalu dengan cepat, namun bagi Elizabeth, tujuh hari itu terasa padat dan nyaris tanpa jeda. Sejak pagi buta hingga larut malam, ia mengurung diri di bangunan kosong milik Duchy Ratore yang sementara dialihfungsikan sebagai tempat produksi. Di sana, aroma lemak yang dipanaskan, abu alkali, dan cairan kental bercampur menjadi bau asing yang tak pernah tercium di ruang bangsawan. Tangannya tidak lagi sehalus biasanya, ada kemerahan tipis di ujung jari akibat sering bersentuhan dengan bahan mentah. Namun Elizabeth tidak peduli. Setiap batang sabun yang berhasil dicetak rapi adalah satu langkah menjauh dari kematian sia-sia rakyat di perbatasan.Duke Ratore tidak mengganggunya sama sekali. Pria itu beberapa kali datang diam-diam, berdiri di ambang pintu, menatap putri sulungnya bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya keras seperti biasa, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Elizabeth—putri yang selama ini hanya ia kenal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status