LOGIN“Apa yang kau lakukan di sini? Cepat keluar! Ini bukan ranahmu!”
Suara Dokter Franz menggema tegas di dalam tenda sempit itu. Ia berdiri tegap di antara ranjang pasien dan pria berseragam medis yang baru saja masuk, wajahnya menegang oleh campuran amarah dan kecemasan. Situasi sudah cukup genting tanpa tambahan kekacauan dari seorang perawat magang yang tidak tahu diri. Kemudian, seolah baru mengingat siapa yang berada di belakangnya, Dokter Franz segera membungkuk hormat ke arah Elizabeth. “Maafkan perawat magang itu, Nona,” katanya cepat. “Saya kurang baik dalam mendisiplinkan para perawat.” Elizabeth tidak langsung menjawab. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang disebut sebagai perawat magang itu. Seragamnya sederhana, tidak ada tanda pangkat atau simbol khusus. Namun caranya berdiri—tegak, tenang, dan tidak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Dokter Franz—terlihat ganjil bagi seseorang yang konon hanya seorang magang. “Kamu yakin?” tanya Elizabeth pada dokter magang itu akhirnya, suaranya serius dan tidak tergesa. Dokter Franz hendak menyela, wajahnya semakin pucat, namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, pria bermata emerald itu sudah lebih dulu membungkuk ke arah Elizabeth. “Jika Nona yakin,” ucapnya tenang, suaranya rendah namun jelas, “tidak ada alasan bagi saya untuk mengecewakan Anda.” Kata-katanya sederhana, tetapi penuh keyakinan. Elizabeth mengalihkan pandangan ke Dokter Franz. “Tidak ada salahnya kita mencoba. Itu lebih baik daripada pasrah dengan kondisi pasien saat ini.” Dokter Franz terdiam. Rasa malu dan keraguan bercampur di wajahnya. Ia tahu betul, jika wanita di ranjang itu tidak segera mendapat tindakan, kematiannya hanya tinggal menunggu waktu. “Baik, Nona,” jawabnya akhirnya, menunduk. Perawat magang itu melangkah maju tanpa membuang waktu. Ia memeriksa denyut nadi wanita tersebut, memeriksa warna kuku, tekanan napas, dan kondisi pupil dengan gerakan cepat dan terampil. Tangannya stabil, tidak gemetar sedikit pun. “Dia kehilangan banyak darah,” gumamnya pelan. “Kita masih punya sedikit waktu.” Ia kemudian menoleh ke arah Dokter Franz. “Saya butuh selang transparan kecil dan jarum tipis. Segera.” Dokter Franz sempat terpaku oleh nada perintah itu—terlalu tegas untuk seorang dokter magang—namun ia segera berbalik dan berlari keluar tenda untuk memerintahkan perawat lain mencarinya. Elizabeth berdiri tidak jauh dari ranjang, memperhatikan pria itu dengan saksama. Cara tangannya bergerak, kecepatan refleksnya, bahkan tatapan matanya yang fokus—semuanya menunjukkan bahwa ia jauh melampaui sekadar perawat magang biasa. Namun Elizabeth tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain. Wajah wanita di ranjang semakin memucat, kebiruan di bibirnya kian jelas. Napasnya pendek dan nyaris tak terdengar. “Kita harus menemukan tipe darah yang cocok,” ujar perawat magang itu sambil mulai menyiapkan alat yang sudah dibawakan. Elizabeth menatapnya sekilas, lalu tanpa ragu menggulung lengan bajunya. “Periksa tipe darahku,” katanya tegas. “Jika cocok, kamu bisa mengambilnya.” Perawat magang itu tertegun. Matanya yang hijau emerald membelalak tipis, meski ekspresinya sebagian tersembunyi di balik masker putih. Di zaman ini, bahkan di kalangan bangsawan, gagasan tentang transfusi darah saja masih dianggap berbahaya dan tabu. Terlebih lagi, seorang bangsawan berbagi darah dengan rakyat biasa—apalagi rakyat dari daerah miskin yang dipenuhi wabah? Hampir tidak pernah terjadi. “Anda yakin?” tanyanya pelan, memastikan. Elizabeth menatapnya lurus. “Sangat yakin.” “Tetapi, Nona… ini bukan prosedur tanpa risiko.” “Tidak ada yang lebih penting daripada nyawa pasien sekarang,” potong Elizabeth tenang. “Lagipula ini hanya darah.” Hanya darah. Bagi sebagian orang, itu mungkin sesuatu yang sakral, lambang kemurnian garis keturunan bangsawan. Namun bagi Elizabeth, darah hanyalah cairan biologis yang dapat menyelamatkan nyawa. Perawat magang itu terdiam beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Ia menatap Elizabeth dengan saksama, seolah berusaha membaca apakah wanita di hadapannya sekadar bersikap heroik atau benar-benar tulus. Yang ia temukan hanyalah keseriusan tanpa gentar. “Baik,” ucapnya akhirnya. Ia bekerja dengan cepat. Mengambil sampel kecil darah Elizabeth dan membandingkannya dengan sampel pasien menggunakan metode sederhana yang ia kuasai. Waktu terasa berjalan lambat. Di luar tenda, tangisan bayi kembali terdengar, seperti pengingat akan alasan mereka tidak boleh gagal. Beberapa saat kemudian, pria itu mengangkat wajahnya. “Cocok.” Elizabeth menghembuskan napas lega, tanpa menyadari bahwa tangannya sedikit gemetar. Proses transfusi pun dimulai. Jarum tipis menembus kulit Elizabeth dengan sensasi perih singkat. Selang kecil yang transparan itu mulai dialiri darah merah pekat, mengalir perlahan menuju tubuh wanita yang terbaring lemah. Perawat magang itu memantau dengan ketelitian luar biasa. Tangannya mengatur tekanan, matanya memperhatikan perubahan sekecil apa pun pada wajah pasien. Sesekali ia memberi instruksi singkat pada Dokter Franz yang kini kembali masuk dan membantu dengan wajah tegang. Waktu terasa seperti benang tipis yang bisa putus kapan saja. Elizabeth duduk diam, wajahnya tetap tenang meski tubuhnya mulai terasa lebih ringan. Ia menatap wanita di ranjang, memperhatikan perubahan kecil yang perlahan muncul. Bibir yang tadi kebiruan mulai kembali kemerahan. Warna pucat ekstrem di wajahnya berangsur hilang. Napasnya yang semula tersengal mulai stabil. “Tekanan nadinya membaik,” gumam Dokter Franz dengan suara hampir tak percaya. Perawat magang itu tidak langsung tersenyum, namun bahunya yang semula tegang kini sedikit mereda. “Kita belum sepenuhnya aman. Tetapi dia melewati fase paling kritis.” Elizabeth merasa dadanya menghangat oleh rasa lega. Wanita itu selamat. Bayinya tidak akan tumbuh tanpa ibu. Namun ketika ia mencoba berdiri dari kursinya, dunia di sekelilingnya mendadak berputar. Suara di dalam tenda terdengar menjauh. Cahaya terasa terlalu terang. Tubuhnya terasa ringan, seolah pijakan di bawah kakinya menghilang. “Nona Ratore?” suara Dokter Franz terdengar samar. Elizabeth mencoba menjawab, namun lidahnya terasa berat. Pandangannya mengabur. Ia baru menyadari bahwa darah yang diambil darinya mungkin lebih banyak dari yang seharusnya untuk tubuh yang sudah lelah beberapa hari terakhir. Kakinya goyah. Sebelum tubuhnya benar-benar jatuh menyentuh tanah, sepasang tangan sigap menangkapnya. Pandangan Elizabeth yang semakin gelap menangkap satu hal terakhir dengan jelas—bola mata hijau emerald yang menatapnya penuh kecemasan. “Elizabeth!” suara itu kali ini tidak lagi datar atau terkendali. Ia bisa merasakan nada panik yang tak disembunyikan. “Cepat panggil perawat! Siapkan air dan gula! Dia kehilangan terlalu banyak darah!” Suara itu terdengar semakin jauh.Pagi itu langit kota Limo tampak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Udara tidak lagi sesak oleh kecemasan, dan langkah para relawan terdengar lebih ringan. Namun di depan tenda utama tempat Elizabeth tinggal selama sepekan terakhir, derap kuda dan gemerincing zirah terdengar tegas, memecah suasana damai yang baru saja tumbuh.Prajurit berseragam keluarga bangsawannya berdiri tegap, lengkap dengan lambang yang tersemat di dada. Di belakang mereka, kereta megah berwarna putih gading menunggu, roda-rodanya bersih seolah tidak pernah menyentuh jalan berlumpur kota wabah.Elizabeth berdiri di hadapan mereka dengan wajah tenang, meski dalam hatinya ada desir kecil yang sulit diabaikan.“Ayah mengirim kalian?” tanyanya pelan.“Benar, Nona,” jawab salah satu komandan pengawal sambil menunduk hormat. “Kami diperintahkan untuk menjemput Anda kembali ke Ibu Kota hari ini juga.”Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Tidak ada pilihan untuk menunda.Elizabeth menghela napas tipis.Jadi
Satu minggu berlalu sejak Elizabeth menginjakkan kaki di kota Limo. Angin yang dulu membawa aroma getir kematian kini perlahan berubah menjadi semilir yang lebih ringan, bercampur wangi sabun yang dibagikan ke setiap sudut pemukiman. Masker-masker kain yang dijahit para relawan menggantung di wajah warga, menggantikan tatapan panik dengan harapan yang tipis namun nyata. Tenda-tenda darurat masih berdiri, tetapi jerit kesakitan yang dulu terdengar siang dan malam kini jauh berkurang. Wabah yang semula seperti badai tak terbendung mulai menunjukkan tanda-tanda bisa dikendalikan.Di dalam tenda utamanya, Elizabeth memegang sepucuk surat dengan jemari yang tetap anggun meski garis keningnya mengerut sulit. Segel keluarga bangsawannya telah dibuka. Tulisan tangan Ayahnya memenuhi lembaran itu dengan instruksi yang tegas—ia diperintahkan kembali ke Ibu Kota esok hari. Kondisi kota Limo dinilai telah membaik secara signifikan sejak sabun dan masker kain dibagikan. Keberadaannya diangga
Elizabeth membuka matanya perlahan.Langit-langit tenda yang berwarna pucat menyambut pandangannya, kainnya sedikit bergoyang tertiup angin malam. Bau obat-obatan dan kain bersih masih tercium samar. Kepalanya terasa ringan, tetapi bukan lagi berputar seperti sebelumnya—hanya menyisakan pening halus yang mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu.Ia menggerakkan tangannya pelan, lalu mengambil sikap duduk dengan hati-hati.Tidak jauh dari ranjangnya, Amy berlutut di tanah dengan kedua tangan menutup wajah. Bahunya naik turun, isakan tertahan keluar dari sela-sela jemarinya.“Nona…” gumam Amy dengan suara serak, belum menyadari bahwa Elizabeth telah sadar.Elizabeth menatapnya sejenak, hatinya menghangat sekaligus terasa bersalah.“Amy,” panggilnya pelan.Amy terhenyak. Ia segera mendongak, matanya membesar ketika melihat Elizabeth duduk tegak.“Nona… Anda bangun?” Suaranya pecah. “Nona telah bangun! Nona telah bangun!”Teriakan itu langsung memanggil dua sosok yang sejak tad
“Apa yang kau lakukan di sini? Cepat keluar! Ini bukan ranahmu!”Suara Dokter Franz menggema tegas di dalam tenda sempit itu. Ia berdiri tegap di antara ranjang pasien dan pria berseragam medis yang baru saja masuk, wajahnya menegang oleh campuran amarah dan kecemasan. Situasi sudah cukup genting tanpa tambahan kekacauan dari seorang perawat magang yang tidak tahu diri.Kemudian, seolah baru mengingat siapa yang berada di belakangnya, Dokter Franz segera membungkuk hormat ke arah Elizabeth.“Maafkan perawat magang itu, Nona,” katanya cepat. “Saya kurang baik dalam mendisiplinkan para perawat.”Elizabeth tidak langsung menjawab. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang disebut sebagai perawat magang itu. Seragamnya sederhana, tidak ada tanda pangkat atau simbol khusus. Namun caranya berdiri—tegak, tenang, dan tidak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Dokter Franz—terlihat ganjil bagi seseorang yang konon hanya seorang magang.“Kamu yakin?” tanya Elizabeth pada dokter magang itu
Selesai sosialisasi mengenai cara menggunakan sabun yang benar—mulai dari membasahi tangan, menggosok sela-sela jari, hingga membilas dengan air bersih—gereja Kota Limo yang semula dipenuhi tatapan sinis kini bergemuruh oleh tepuk tangan. Tepuk tangan itu tidak terlalu keras, sebagian masih ragu-ragu, namun cukup untuk menunjukkan satu hal yang jelas, kepercayaan mereka mulai tumbuh.Beberapa wajah yang tadi ketus dan meremehkan Elizabeth kini melunak. Ada yang menunduk hormat ketika pandangan mereka bertemu dengannya, ada pula yang berbisik dengan nada berbeda—bukan lagi celaan, melainkan kekaguman yang ditahan.Dokter Franz berdiri di sampingnya, ekspresi wajahnya jauh lebih ringan dibanding saat pertama menyambutnya. “Nona Ratore,” katanya dengan suara penuh hormat, “kami telah menyiapkan salah satu kastil tua milik bangsawan di pinggiran kota. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, namun masih sangat layak. Akan jauh lebih nyaman bagi Anda untuk beristirahat di sana.”Elizabeth
Satu minggu berlalu dengan cepat, namun bagi Elizabeth, tujuh hari itu terasa padat dan nyaris tanpa jeda. Sejak pagi buta hingga larut malam, ia mengurung diri di bangunan kosong milik Duchy Ratore yang sementara dialihfungsikan sebagai tempat produksi. Di sana, aroma lemak yang dipanaskan, abu alkali, dan cairan kental bercampur menjadi bau asing yang tak pernah tercium di ruang bangsawan. Tangannya tidak lagi sehalus biasanya, ada kemerahan tipis di ujung jari akibat sering bersentuhan dengan bahan mentah. Namun Elizabeth tidak peduli. Setiap batang sabun yang berhasil dicetak rapi adalah satu langkah menjauh dari kematian sia-sia rakyat di perbatasan.Duke Ratore tidak mengganggunya sama sekali. Pria itu beberapa kali datang diam-diam, berdiri di ambang pintu, menatap putri sulungnya bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya keras seperti biasa, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Elizabeth—putri yang selama ini hanya ia kenal







