LOGINSelesai sosialisasi mengenai cara menggunakan sabun yang benar—mulai dari membasahi tangan, menggosok sela-sela jari, hingga membilas dengan air bersih—gereja Kota Limo yang semula dipenuhi tatapan sinis kini bergemuruh oleh tepuk tangan.
Tepuk tangan itu tidak terlalu keras, sebagian masih ragu-ragu, namun cukup untuk menunjukkan satu hal yang jelas, kepercayaan mereka mulai tumbuh. Beberapa wajah yang tadi ketus dan meremehkan Elizabeth kini melunak. Ada yang menunduk hormat ketika pandangan mereka bertemu dengannya, ada pula yang berbisik dengan nada berbeda—bukan lagi celaan, melainkan kekaguman yang ditahan. Dokter Franz berdiri di sampingnya, ekspresi wajahnya jauh lebih ringan dibanding saat pertama menyambutnya. “Nona Ratore,” katanya dengan suara penuh hormat, “kami telah menyiapkan salah satu kastil tua milik bangsawan di pinggiran kota. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, namun masih sangat layak. Akan jauh lebih nyaman bagi Anda untuk beristirahat di sana.” Elizabeth menoleh padanya. Di balik masker putih, matanya menyipit lembut. “Kastil tua itu masih kokoh?” “Ya, Nona. Bangunannya luas dan bersih.” “Kalau begitu,” jawab Elizabeth tenang, “alihfungsikan sebagai tempat perawatan baru. Kota Limo membutuhkan lebih banyak ruang untuk pasien. Aku akan tinggal di tenda seperti yang lain.” Dokter Franz terdiam. Untuk sesaat ia tidak tahu harus berkata apa. “Nona… Anda adalah perwakilan keluarga Ratore.” “Justru karena itu,” potong Elizabeth ringan. “Aku tidak ingin mengambil tempat yang lebih layak dibanding rakyat.” Ucapan itu sederhana, tanpa nada dramatis. Namun justru karena itulah dampaknya terasa lebih kuat. Dokter Franz menunduk dalam. “Saya… semakin menghormati Anda, Nona.” Di belakang mereka, Leonel—yang sejak tadi diam memperhatikan—tanpa sadar menatap Elizabeth lebih lama dari biasanya. Tatapan dinginnya sedikit melunak, meski ia cepat-cepat mengalihkan pandangan ketika menyadari dirinya terlalu fokus. Sebelum Dokter Franz pamit untuk melanjutkan pekerjaannya, Elizabeth sempat bertanya, “Bagaimana perkembangan dari Kerajaan Drakonia?” Pertanyaan itu membuat Dokter Franz kembali menatapnya dengan lebih serius. Kota Limo memang terletak tepat di perbatasan antara Kerajaan Eldoria dan Kerajaan Drakonia. Segala ketegangan politik bisa saja memperkeruh keadaan. “Untuk saat ini,” jawabnya, “pihak Drakonia telah mengirim bantuan berupa pangan dan beberapa obat-obatan. Namun tenaga medis masih didominasi oleh Eldoria. Dokter dari Drakonia belum banyak yang tiba.” Elizabeth mengangguk perlahan. “Setidaknya mereka tidak menutup mata.” “Benar, Nona.” Setelah itu mereka berpisah. Elizabeth melangkah keluar gereja, menuju area tenda-tenda darurat yang didirikan di lapangan terbuka. Leonel mengikuti dari belakang, langkahnya stabil dan waspada. “Kenapa Anda memandangi mereka seperti itu?” tanya Leonel tiba-tiba, suaranya datar. Elizabeth menoleh sedikit. “Seperti apa?” “Seperti… mereka bukan rakyat jelata,” jawab Leonel singkat. Elizabeth terkekeh pelan. “Karena mereka memang bukan sekadar rakyat jelata. Mereka manusia.” Leonel terdiam. “Kau tahu,” lanjut Elizabeth santai, “jika wabah ini tidak ditangani dengan benar, bukan hanya Kota Limo yang akan runtuh. Seluruh Eldoria bisa terdampak. Bahkan mungkin Drakonia juga.” “Kau memikirkan dua kerajaan sekaligus?” Leonel mengerutkan kening. “Perbatasan tidak peduli soal bendera,” jawab Elizabeth ringan. “Penyakit juga tidak.” Leonel menatapnya sejenak, lalu berdeham pelan. “Anda bertindak sejauh ini untuk sesuatu?” “Untuk sesuatu?” Elizabeth tersenyum samar. Sebelum Leonel sempat membalas, suara bel darurat tiba-tiba terdengar nyaring dari arah timur lapangan. Bunyi itu dipukul berkali-kali, cepat dan panik—tanda kondisi gawat darurat. Elizabeth tidak ragu. Ia segera berlari menuju sumber suara. Leonel menyusul di belakangnya, wajahnya kembali tegang. Mereka tiba di salah satu tenda khusus yang tertutup rapat. Tenda itu diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi kritis. Udara di sekitarnya terasa lebih berat. Dari luar tenda terdengar tangisan bayi—nyaring dan rapuh. Elizabeth membuka penutup tenda dan masuk. Di dalam, seorang wanita terbaring lemas di atas ranjang darurat. Wajahnya pucat seperti kertas, bibirnya membiru tipis. Di kain di bawah tubuhnya tampak bercak darah yang masih segar. Dokter Franz berdiri di samping ranjang, tangannya sibuk memeriksa denyut nadi wanita itu. Wajahnya penuh kecemasan. “Apa yang terjadi?” tanya Elizabeth cepat. “Wanita ini baru saja melahirkan, Nona,” jawab Dokter Franz tanpa menoleh. “Tetapi ia kehilangan banyak darah. Sangat banyak.” Tangisan bayi kembali terdengar dari luar tenda. Seorang perawat menggendongnya dengan cemas. Elizabeth menelan ludah. “Kita harus mencari darah yang cocok untuk didonorkan.” Dokter Franz terpaku. Tangannya berhenti sesaat sebelum kembali bergerak. Ia menoleh perlahan ke arah Elizabeth. “Metode itu… saya pernah mendengarnya. Namun ilmu saya tidak cukup untuk mempraktikkannya. Risiko kesalahan sangat besar.” “Siapa yang mampu?” desak Elizabeth. “Satu-satunya yang sanggup adalah Dokter Agung.” Elizabeth menggigit bibir bawahnya. Dokter Agung—tokoh medis tertinggi di Eldoria. Terkenal jenius. Terkenal sombong. Dan sulit ditemui. “Apakah Anda memiliki cara lain?” tanya Elizabeth lagi, nadanya tetap tenang meski jantungnya berdebar. Dokter Franz menggeleng pelan. “Biasanya jika sudah di kondisi seperti ini… kita hanya bisa—” “Aku bisa mencoba.” Suara itu tegas, memotong kalimat Dokter Franz. Elizabeth dan Dokter Franz segera menoleh ke arah pintu tenda. Seorang pria berdiri di sana, mengenakan seragam anggota medis yang tertutup rapat. Jubahnya sederhana, namun bersih. Setengah wajahnya tertutup masker kain putih—masker produksi Elizabeth yang telah dibagikan. Hanya matanya yang terlihat jelas. Mata itu berwarna hijau emerald.Pagi itu langit kota Limo tampak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Udara tidak lagi sesak oleh kecemasan, dan langkah para relawan terdengar lebih ringan. Namun di depan tenda utama tempat Elizabeth tinggal selama sepekan terakhir, derap kuda dan gemerincing zirah terdengar tegas, memecah suasana damai yang baru saja tumbuh.Prajurit berseragam keluarga bangsawannya berdiri tegap, lengkap dengan lambang yang tersemat di dada. Di belakang mereka, kereta megah berwarna putih gading menunggu, roda-rodanya bersih seolah tidak pernah menyentuh jalan berlumpur kota wabah.Elizabeth berdiri di hadapan mereka dengan wajah tenang, meski dalam hatinya ada desir kecil yang sulit diabaikan.“Ayah mengirim kalian?” tanyanya pelan.“Benar, Nona,” jawab salah satu komandan pengawal sambil menunduk hormat. “Kami diperintahkan untuk menjemput Anda kembali ke Ibu Kota hari ini juga.”Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Tidak ada pilihan untuk menunda.Elizabeth menghela napas tipis.Jadi
Satu minggu berlalu sejak Elizabeth menginjakkan kaki di kota Limo. Angin yang dulu membawa aroma getir kematian kini perlahan berubah menjadi semilir yang lebih ringan, bercampur wangi sabun yang dibagikan ke setiap sudut pemukiman. Masker-masker kain yang dijahit para relawan menggantung di wajah warga, menggantikan tatapan panik dengan harapan yang tipis namun nyata. Tenda-tenda darurat masih berdiri, tetapi jerit kesakitan yang dulu terdengar siang dan malam kini jauh berkurang. Wabah yang semula seperti badai tak terbendung mulai menunjukkan tanda-tanda bisa dikendalikan.Di dalam tenda utamanya, Elizabeth memegang sepucuk surat dengan jemari yang tetap anggun meski garis keningnya mengerut sulit. Segel keluarga bangsawannya telah dibuka. Tulisan tangan Ayahnya memenuhi lembaran itu dengan instruksi yang tegas—ia diperintahkan kembali ke Ibu Kota esok hari. Kondisi kota Limo dinilai telah membaik secara signifikan sejak sabun dan masker kain dibagikan. Keberadaannya diangga
Elizabeth membuka matanya perlahan.Langit-langit tenda yang berwarna pucat menyambut pandangannya, kainnya sedikit bergoyang tertiup angin malam. Bau obat-obatan dan kain bersih masih tercium samar. Kepalanya terasa ringan, tetapi bukan lagi berputar seperti sebelumnya—hanya menyisakan pening halus yang mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu.Ia menggerakkan tangannya pelan, lalu mengambil sikap duduk dengan hati-hati.Tidak jauh dari ranjangnya, Amy berlutut di tanah dengan kedua tangan menutup wajah. Bahunya naik turun, isakan tertahan keluar dari sela-sela jemarinya.“Nona…” gumam Amy dengan suara serak, belum menyadari bahwa Elizabeth telah sadar.Elizabeth menatapnya sejenak, hatinya menghangat sekaligus terasa bersalah.“Amy,” panggilnya pelan.Amy terhenyak. Ia segera mendongak, matanya membesar ketika melihat Elizabeth duduk tegak.“Nona… Anda bangun?” Suaranya pecah. “Nona telah bangun! Nona telah bangun!”Teriakan itu langsung memanggil dua sosok yang sejak tad
“Apa yang kau lakukan di sini? Cepat keluar! Ini bukan ranahmu!”Suara Dokter Franz menggema tegas di dalam tenda sempit itu. Ia berdiri tegap di antara ranjang pasien dan pria berseragam medis yang baru saja masuk, wajahnya menegang oleh campuran amarah dan kecemasan. Situasi sudah cukup genting tanpa tambahan kekacauan dari seorang perawat magang yang tidak tahu diri.Kemudian, seolah baru mengingat siapa yang berada di belakangnya, Dokter Franz segera membungkuk hormat ke arah Elizabeth.“Maafkan perawat magang itu, Nona,” katanya cepat. “Saya kurang baik dalam mendisiplinkan para perawat.”Elizabeth tidak langsung menjawab. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang disebut sebagai perawat magang itu. Seragamnya sederhana, tidak ada tanda pangkat atau simbol khusus. Namun caranya berdiri—tegak, tenang, dan tidak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Dokter Franz—terlihat ganjil bagi seseorang yang konon hanya seorang magang.“Kamu yakin?” tanya Elizabeth pada dokter magang itu
Selesai sosialisasi mengenai cara menggunakan sabun yang benar—mulai dari membasahi tangan, menggosok sela-sela jari, hingga membilas dengan air bersih—gereja Kota Limo yang semula dipenuhi tatapan sinis kini bergemuruh oleh tepuk tangan. Tepuk tangan itu tidak terlalu keras, sebagian masih ragu-ragu, namun cukup untuk menunjukkan satu hal yang jelas, kepercayaan mereka mulai tumbuh.Beberapa wajah yang tadi ketus dan meremehkan Elizabeth kini melunak. Ada yang menunduk hormat ketika pandangan mereka bertemu dengannya, ada pula yang berbisik dengan nada berbeda—bukan lagi celaan, melainkan kekaguman yang ditahan.Dokter Franz berdiri di sampingnya, ekspresi wajahnya jauh lebih ringan dibanding saat pertama menyambutnya. “Nona Ratore,” katanya dengan suara penuh hormat, “kami telah menyiapkan salah satu kastil tua milik bangsawan di pinggiran kota. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, namun masih sangat layak. Akan jauh lebih nyaman bagi Anda untuk beristirahat di sana.”Elizabeth
Satu minggu berlalu dengan cepat, namun bagi Elizabeth, tujuh hari itu terasa padat dan nyaris tanpa jeda. Sejak pagi buta hingga larut malam, ia mengurung diri di bangunan kosong milik Duchy Ratore yang sementara dialihfungsikan sebagai tempat produksi. Di sana, aroma lemak yang dipanaskan, abu alkali, dan cairan kental bercampur menjadi bau asing yang tak pernah tercium di ruang bangsawan. Tangannya tidak lagi sehalus biasanya, ada kemerahan tipis di ujung jari akibat sering bersentuhan dengan bahan mentah. Namun Elizabeth tidak peduli. Setiap batang sabun yang berhasil dicetak rapi adalah satu langkah menjauh dari kematian sia-sia rakyat di perbatasan.Duke Ratore tidak mengganggunya sama sekali. Pria itu beberapa kali datang diam-diam, berdiri di ambang pintu, menatap putri sulungnya bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya keras seperti biasa, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Elizabeth—putri yang selama ini hanya ia kenal







