Share

Bab 5. Wabah di Perbatasan

Author: nanadvelyns
last update Last Updated: 2026-02-10 10:50:38

Satu minggu berlalu dengan cepat, namun bagi Elizabeth, tujuh hari itu terasa padat dan nyaris tanpa jeda.

Sejak pagi buta hingga larut malam, ia mengurung diri di bangunan kosong milik Duchy Ratore yang sementara dialihfungsikan sebagai tempat produksi.

Di sana, aroma lemak yang dipanaskan, abu alkali, dan cairan kental bercampur menjadi bau asing yang tak pernah tercium di ruang bangsawan.

Tangannya tidak lagi sehalus biasanya, ada kemerahan tipis di ujung jari akibat sering bersentuhan dengan bahan mentah.

Namun Elizabeth tidak peduli. Setiap batang sabun yang berhasil dicetak rapi adalah satu langkah menjauh dari kematian sia-sia rakyat di perbatasan.

Duke Ratore tidak mengganggunya sama sekali. Pria itu beberapa kali datang diam-diam, berdiri di ambang pintu, menatap putri sulungnya bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ekspresi wajahnya keras seperti biasa, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Elizabeth—putri yang selama ini hanya ia kenal lewat gaun mahal dan etiket istana—ternyata mampu menghitung biaya produksi, menekan pengeluaran, dan memanfaatkan bahan lokal dengan efisien.

Sabun murah, dalam jumlah besar. Sesuatu yang bahkan para pejabat istana tidak pernah terpikirkan.

Hari ini, Elizabeth akan berangkat ke perbatasan. Matahari pagi masih rendah ketika seluruh keluarga Ratore berdiri di depan gerbang kastil.

Kereta kuda sudah siap, peti-peti berisi sabun dan masker kain putih tertata rapi. Duke Ratore berdiri paling depan, tubuhnya tegap, tangan bersedekap di belakang punggung.

“Kirim orang pada Ayah jika terjadi sesuatu yang tidak bisa kau tangani,” ucapnya tegas, tanpa embel-embel emosi.

Elizabeth mengangguk tenang. “Aku mengerti, Ayah.”

Ibu tirinya, Duchess Emilly, melangkah maju. Senyumnya tipis dan kaku, sorot matanya dingin dan penuh perhitungan.

“Karena Tuan Duke sudah percaya padamu, maka aku tidak bisa berbuat banyak lagi,” katanya dengan nada yang terdengar seolah bijak, namun sarat peringatan. “Kamu membawa nama keluarga. Berhati-hatilah. Jangan membuat kegaduhan.”

Elizabeth hanya mengangguk lagi, sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan mencemooh itu. Baginya, Emilly tidak lebih dari latar belakang yang bising.

Maria kemudian mendekat. Gaunnya berwarna pucat dengan renda halus, rambutnya disanggul sederhana namun sempurna.

Wajahnya menampilkan kekhawatiran tulus—setidaknya di permukaan. Ia memeluk Elizabeth erat, tubuhnya sedikit bergetar seolah menahan tangis.

“Kakak,” bisiknya lembut, “aku akan sangat mencemaskanmu. Katakan saja apa yang kau butuhkan, aku akan mengutus seseorang untuk mengirimnya padamu nanti.”

Elizabeth membalas pelukan itu seperlunya. Ia bisa merasakan detak jantung Maria yang stabil, terlalu stabil untuk seseorang yang benar-benar cemas.

“Oh iya…” suara Maria mengecil, hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Bibirnya mendekat ke telinga Elizabeth, napasnya hangat.

“Rumor bahwa Putra Mahkota memiliki simpanan itu benar. Aku tahu dari Putri seorang Baron yang menjadi partner Putra Mahkota di perjalanan kali ini.”

Sudut bibir Maria melengkung sangat tipis, nyaris tak terlihat—senyuman licik yang cepat disembunyikan.

Matanya berkilat, bukan karena khawatir, melainkan karena puas telah menabur racun.

“Lokasi wilayah yang terkena wabah dan lokasi Putra Mahkota cukup dekat,” lanjutnya pelan. “Ada baiknya kakak berbuat sesuatu agar Putra Mahkota datang menemuimu ke sana. Kakak pasti akan melihat wanita rendahan itu.”

Ia kemudian melepaskan pelukan, kembali memasang wajah hangat dan polos, seolah barusan hanya menyampaikan nasihat penuh cinta.

Elizabeth membalas senyuman itu—senyum yang sama palsunya. Ia mengangguk mengerti, cukup untuk membuat Maria yakin hasutannya berhasil.

Elizabeth naik ke dalam kereta dan menarik napas panjang. Konyol sekali, pikirnya gusar. Maria benar-benar racun bagi Elizabeth yang dulu.

Bagaimana mungkin anak dengan wajah semanis itu menjadi alasan kakaknya jatuh ke kematian paling tragis?

Perjalanan menuju perbatasan memakan waktu tiga hari.

Jalanan semakin sempit, udara semakin lembap, dan pemandangan berubah dari ladang subur menjadi tanah kusam yang dipenuhi rumah-rumah reyot.

Ketika kereta memasuki Kota Limo, suasana suram menyambut mereka. Bau obat-obatan kasar bercampur dengan aroma tubuh yang tidak terawat.

Batuk terdengar dari segala arah, disusul erangan pelan orang-orang yang terbaring lemah.

Elizabeth turun dari kereta. Wajahnya sudah tertutup masker kain putih. Amy dan Leonel mengenakan hal yang sama.

Masker-masker itu adalah hasil produksi tambahan Elizabeth—sederhana, murah, namun cukup untuk menahan droplet penyakit.

Kening Elizabeth berkerut. Udara di sini terasa berat, seolah dipenuhi kesedihan yang menempel di kulit.

Mereka melangkah menuju posko medis. Seorang pria paruh baya dengan wajah lelah menyambut mereka. “Salam, Nona Ratore. Saya Dokter Franz, yang bertanggung jawab di wilayah ini.”

Elizabeth mengangguk singkat. “Bagaimana kondisinya saat ini?”

Dokter Franz menghela napas panjang. “Buruk, Nona. Sudah ada lima orang yang meninggal hari ini. Lebih dari lima puluh orang bulan ini.”

Elizabeth menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali dengan tekad mengeras. “Kumpulkan semua warga. Aku perlu melakukan sosialisasi.”

Dokter Franz tampak bingung. Ia jelas tidak mengerti mengapa calon Ratu yang dikenal arogan justru meminta hal semacam itu. Namun ia tidak berani membantah. “Baik, Nona.”

Tak lama kemudian, gereja kota dipenuhi warga. Bisik-bisik menyebar cepat, dipenuhi ketakutan dan prasangka.

Nama Elizabeth Ratore disebut dengan nada getir—calon Ratu kejam, bangsawan tak berperasaan, hukuman mati bagi yang melanggar.

Elizabeth masuk dengan tenang, diikuti Leonel dan Amy. Ia mengabaikan bisik-bisik itu, langkahnya mantap. Namun tiba-tiba, dari arah belakang, seorang anak kecil berlari tanpa melihat jalan.

Tubuh kecil itu menabrak Elizabeth, kakinya menginjak gaun Elizabeth hingga meninggalkan noda tanah. Anak itu terjatuh tersungkur.

Gereja mendadak sunyi. Napas tertahan.

Elizabeth menoleh dan melihat anak itu gemetar di lantai. Ia melirik Leonel. “Leonel.”

Leonel maju selangkah. Wajahnya mengeras, rahangnya mengatup. “Saya akan memberikan pelajaran pada anak itu,” katanya dingin.

Degup jantung warga semakin kencang. Seorang wanita berpakaian lusuh berlari masuk dan langsung berlutut di hadapan Elizabeth, menangis terisak.

“Nona, mohon… mohon ampuni putra saya! Saya yang bersalah!”

Elizabeth mengerutkan kening bingung dan kembali menatap Leonel. “Pelajaran apa yang kamu maksud?” tanyanya heran. “Kenapa belum membantu anak itu berdiri?”

Leonel tertegun.

Tanpa menunggu, Elizabeth melangkah maju. Ia berlutut, mengulurkan tangan, dan membantu anak itu berdiri dengan lembut.

“Lututmu pasti sakit,” katanya pelan. “Pergilah ke belakang gereja dan minta obat atas namaku.”

Ia bahkan mengelus kepala anak itu dengan gerakan yang sangat hati-hati.

Ibu anak itu menatap Elizabeth kosong, seolah melihat sesuatu yang tidak masuk akal.

“Duduklah, Nyonya,” lanjut Elizabeth sambil tersenyum. “Sosialisasi akan segera dimulai. Putramu akan ditemani pelayanku.”

Kebingungan menyelimuti gereja. Inikah Elizabeth Ratore?

Amy membawa anak itu pergi, masih menoleh cemas. “Gaun Anda—”

“Hanya noda tanah,” jawab Elizabeth ringan. “Aku bisa berganti setelah ini.”

Ia melangkah ke depan, berdiri di balik meja besar, dan mulai berbicara tentang kebersihan, sabun, air bersih, dan masker.

Suaranya tenang, jelas, dan penuh keyakinan. Tidak ada ancaman, tidak ada nada merendahkan.

Di pojok gereja, seorang pria bermantel hitam berdiri, wajahnya tersembunyi di balik tudung. Mata hijau emeraldnya mengamati Elizabeth tanpa berkedip.

“Apakah itu benar Nona Ratore?” tanyanya pelan pada bawahan di sampingnya.

“Benar, Dokter Agung,” jawab sang bawahan. “Beliau Elizabeth Ratore.”

Pria itu tersenyum samar. “Dia juga yang menciptakan sabun gratis?”

“Benar.”

Senyumnya semakin dalam. “Ah… memang tidak ada gosip yang bisa dipercaya begitu saja.”

Kilau tajam melintas di matanya. “Sepertinya,” katanya pelan, “masa depan Eldoria akan lumayan membaik.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 10. 'Hadiah' Untuk Sang Nona: Salah Sasaran!

    Pagi itu langit kota Limo tampak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Udara tidak lagi sesak oleh kecemasan, dan langkah para relawan terdengar lebih ringan. Namun di depan tenda utama tempat Elizabeth tinggal selama sepekan terakhir, derap kuda dan gemerincing zirah terdengar tegas, memecah suasana damai yang baru saja tumbuh.Prajurit berseragam keluarga bangsawannya berdiri tegap, lengkap dengan lambang yang tersemat di dada. Di belakang mereka, kereta megah berwarna putih gading menunggu, roda-rodanya bersih seolah tidak pernah menyentuh jalan berlumpur kota wabah.Elizabeth berdiri di hadapan mereka dengan wajah tenang, meski dalam hatinya ada desir kecil yang sulit diabaikan.“Ayah mengirim kalian?” tanyanya pelan.“Benar, Nona,” jawab salah satu komandan pengawal sambil menunduk hormat. “Kami diperintahkan untuk menjemput Anda kembali ke Ibu Kota hari ini juga.”Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Tidak ada pilihan untuk menunda.Elizabeth menghela napas tipis.Jadi

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 9. Dokter Agung

    Satu minggu berlalu sejak Elizabeth menginjakkan kaki di kota Limo. Angin yang dulu membawa aroma getir kematian kini perlahan berubah menjadi semilir yang lebih ringan, bercampur wangi sabun yang dibagikan ke setiap sudut pemukiman. Masker-masker kain yang dijahit para relawan menggantung di wajah warga, menggantikan tatapan panik dengan harapan yang tipis namun nyata. Tenda-tenda darurat masih berdiri, tetapi jerit kesakitan yang dulu terdengar siang dan malam kini jauh berkurang. Wabah yang semula seperti badai tak terbendung mulai menunjukkan tanda-tanda bisa dikendalikan.Di dalam tenda utamanya, Elizabeth memegang sepucuk surat dengan jemari yang tetap anggun meski garis keningnya mengerut sulit. Segel keluarga bangsawannya telah dibuka. Tulisan tangan Ayahnya memenuhi lembaran itu dengan instruksi yang tegas—ia diperintahkan kembali ke Ibu Kota esok hari. Kondisi kota Limo dinilai telah membaik secara signifikan sejak sabun dan masker kain dibagikan. Keberadaannya diangga

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 8. Sakit Jantung Kronis Sang Nona

    Elizabeth membuka matanya perlahan.Langit-langit tenda yang berwarna pucat menyambut pandangannya, kainnya sedikit bergoyang tertiup angin malam. Bau obat-obatan dan kain bersih masih tercium samar. Kepalanya terasa ringan, tetapi bukan lagi berputar seperti sebelumnya—hanya menyisakan pening halus yang mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu.Ia menggerakkan tangannya pelan, lalu mengambil sikap duduk dengan hati-hati.Tidak jauh dari ranjangnya, Amy berlutut di tanah dengan kedua tangan menutup wajah. Bahunya naik turun, isakan tertahan keluar dari sela-sela jemarinya.“Nona…” gumam Amy dengan suara serak, belum menyadari bahwa Elizabeth telah sadar.Elizabeth menatapnya sejenak, hatinya menghangat sekaligus terasa bersalah.“Amy,” panggilnya pelan.Amy terhenyak. Ia segera mendongak, matanya membesar ketika melihat Elizabeth duduk tegak.“Nona… Anda bangun?” Suaranya pecah. “Nona telah bangun! Nona telah bangun!”Teriakan itu langsung memanggil dua sosok yang sejak tad

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 7. Harga Darah Bangsawan Yang Rela Diberikan

    “Apa yang kau lakukan di sini? Cepat keluar! Ini bukan ranahmu!”Suara Dokter Franz menggema tegas di dalam tenda sempit itu. Ia berdiri tegap di antara ranjang pasien dan pria berseragam medis yang baru saja masuk, wajahnya menegang oleh campuran amarah dan kecemasan. Situasi sudah cukup genting tanpa tambahan kekacauan dari seorang perawat magang yang tidak tahu diri.Kemudian, seolah baru mengingat siapa yang berada di belakangnya, Dokter Franz segera membungkuk hormat ke arah Elizabeth.“Maafkan perawat magang itu, Nona,” katanya cepat. “Saya kurang baik dalam mendisiplinkan para perawat.”Elizabeth tidak langsung menjawab. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang disebut sebagai perawat magang itu. Seragamnya sederhana, tidak ada tanda pangkat atau simbol khusus. Namun caranya berdiri—tegak, tenang, dan tidak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Dokter Franz—terlihat ganjil bagi seseorang yang konon hanya seorang magang.“Kamu yakin?” tanya Elizabeth pada dokter magang itu

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 6. Harapan di Batas Negeri

    Selesai sosialisasi mengenai cara menggunakan sabun yang benar—mulai dari membasahi tangan, menggosok sela-sela jari, hingga membilas dengan air bersih—gereja Kota Limo yang semula dipenuhi tatapan sinis kini bergemuruh oleh tepuk tangan. Tepuk tangan itu tidak terlalu keras, sebagian masih ragu-ragu, namun cukup untuk menunjukkan satu hal yang jelas, kepercayaan mereka mulai tumbuh.Beberapa wajah yang tadi ketus dan meremehkan Elizabeth kini melunak. Ada yang menunduk hormat ketika pandangan mereka bertemu dengannya, ada pula yang berbisik dengan nada berbeda—bukan lagi celaan, melainkan kekaguman yang ditahan.Dokter Franz berdiri di sampingnya, ekspresi wajahnya jauh lebih ringan dibanding saat pertama menyambutnya. “Nona Ratore,” katanya dengan suara penuh hormat, “kami telah menyiapkan salah satu kastil tua milik bangsawan di pinggiran kota. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, namun masih sangat layak. Akan jauh lebih nyaman bagi Anda untuk beristirahat di sana.”Elizabeth

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 5. Wabah di Perbatasan

    Satu minggu berlalu dengan cepat, namun bagi Elizabeth, tujuh hari itu terasa padat dan nyaris tanpa jeda. Sejak pagi buta hingga larut malam, ia mengurung diri di bangunan kosong milik Duchy Ratore yang sementara dialihfungsikan sebagai tempat produksi. Di sana, aroma lemak yang dipanaskan, abu alkali, dan cairan kental bercampur menjadi bau asing yang tak pernah tercium di ruang bangsawan. Tangannya tidak lagi sehalus biasanya, ada kemerahan tipis di ujung jari akibat sering bersentuhan dengan bahan mentah. Namun Elizabeth tidak peduli. Setiap batang sabun yang berhasil dicetak rapi adalah satu langkah menjauh dari kematian sia-sia rakyat di perbatasan.Duke Ratore tidak mengganggunya sama sekali. Pria itu beberapa kali datang diam-diam, berdiri di ambang pintu, menatap putri sulungnya bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya keras seperti biasa, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Elizabeth—putri yang selama ini hanya ia kenal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status