Share

Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!
Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!
Author: Aurtal

Bab 1

Author: Aurtal
[Terdeteksi bahwa tingkat keberhasilan kakak beradik Keluarga Luarta dan tokoh utama wanita masing-masing telah mencapai sembilan puluh lima persen! Misi untuk menikahi tokoh utama wanita, Winda Sumiko, telah selesai! Selamat kepada Tuan karena telah berhasil menyelesaikan misi!]

[Saat tubuh fisik Tuan mati, Anda akan dapat segera kembali ke dunia asal dan menerima hadiah sebesar dua ratus miliar!]

Aku menahan kegembiraan yang meluap-luap di hati.

Akhirnya, aku bisa kembali!

Kakak sulung dan kakak ketigaku tetap tinggal untuk menemani Jery, sementara kakak kedua ikut mengantarku pulang.

Aku refleks menatap kakak kedua yang berada di sampingku, Sinta Luarta.

Wajahnya tampak muram sejak masuk ke mobil, menunjukkan keengganan yang terlihat jelas.

Baru ketika Jery mengirim pesan singkat, dia akhirnya tersenyum.

Menyadari tatapanku, dia segera mematikan ponselnya, dan mengerutkan kening.

"Kenapa? Masih belum menyerah juga? Masih berpikir untuk kembali dan merusak hubungan Winda dan Jery?"

"Jery itu masih muda dan sudah banyak menderita selama ini. Kenapa kau tidak melepaskannya saja?"

Aku mengepalkan jari-jari tanganku erat, tersenyum mengejek diri sendiri.

Secara usia, aku setahun lebih muda daripada Jery.

Melihat wajahku yang pucat, kakakku tiba-tiba menghela napas.

"Kau minta maaf pada Jery tentang masalah ini. Jangan terlalu egois dan keras kepala."

Dia mengulurkan tangan untuk mengusap kepalaku, tetapi aku dengan lembut menghindar, dan bertanya.

"Kenapa aku harus meminta maaf? Memangnya apa salahku?"

Tangan kakakku langsung terhenti di udara, dia lalu berkata dengan tidak sabar.

"Tomi, jangan jadi orang yang tidak tahu diri begitu."

Aku memejamkan mata. Bagaimanapun juga, demi menyelesaikan misi, aku telah mengembangkan perasaan terhadap mereka selama bertahun-tahun ini.

Aku benar-benar terluka oleh sikap mereka sebelumnya.

Tetapi sekarang, itu semua sudah berlalu.

"Setelah Jery menyelesaikan kompetisinya, kau harus ikut kami untuk meminta maaf padanya."

Aku tidak menjawab, hanya mengonfirmasi kembali dengan Sistem dalam pikiranku.

[Asalkan tubuh ini mati, aku bisa kembali, kan?]

[Benar.]

Aku perlahan menghembuskan napas, lalu mengamati keadaan di sekelilingku melalui jendela mobil.

Setelah memastikan bahwa aku tidak akan melukai siapa pun, aku menekan tombol kunci dan membuka pintu mobil itu dengan paksa.

Kakakku yang masih mengoceh tanpa henti, langsung berteriak kaget.

"Tomi, apa yang kau lakukan?"

Aku mengabaikannya dan melompat keluar tanpa ragu sedikit pun.

Angin dingin menerpa kencang wajahku, kemudian sensasi melayang yang luar biasa menyelimutiku.

Aku menutup mata rapat-rapat, tidak merasa takut sama sekali.

Namun detik berikutnya, aku merasakan ada seseorang yang menarik tubuhku.

Aku ditarik ke dalam pelukan seseorang, lalu kami terjatuh ke arah semak-semak di tepi jalan aspal.

Dalam putaran yang terasa memusingkan, aku bisa mendengar suara erangan kesakitan.

Kami berguling-guling beberapa kali, lalu akhirnya berhenti.

Orang yang mendekapku tampak berlumuran darah akibat goresan ranting pohon dan duri tajam, tetapi aku sendiri tidak terluka sama sekali.

Aku mendongak dan melihat wajah kakakku yang tampak ketakutan, lalu berkata dengan suara tenang.

"Lepaskan."

Menatap wajahku yang tampak datar saja dan tanpa rasa bersalah, kakakku lalu meraung marah.

"Aku hanya menasihatimu beberapa patah kata saja, tapi kau sudah melompat keluar dari mobil hanya karena hal sepele seperti itu? Kami benar-benar sudah terlalu memanjakanmu!"

"Kau hanya mencoba menarik perhatian, kan? Hentikan trik murahanmu itu!"

Aku mengabaikan ucapannya dan melepaskan tangan kakakku.

Aku bangkit berdiri dan melihat ke sekeliling. Mataku yang tajam melihat sebuah mobil hitam sedang melaju kencang ke arahku.

"Aku akan menabrakkan diriku sendiri. Ingat, jangan lupa bayar ganti rugi perbaikan mobil mereka."

Aku melontarkan kata-kata itu dan langsung berlari menerjang ke arah depan mobil itu.

"Tomi!"

Kakakku menjerit histeris dalam keputusasaan, dia berusaha bangkit secepat mungkin, tetapi sudah terlambat.

Hatiku dipenuhi harapan, sangat mendambakan kematian.

Meskipun aku juga akan segera mati saat sampai di dunia asal, namun aku tetap tidak ingin tinggal di dunia ini lebih lama, walaupun hanya satu detik saja.

Suara rem terdengar berdecit, dan mobil hitam itu tiba-tiba berhasil berhenti tepat waktu.

Aku terhuyung mundur beberapa langkah dan jatuh kembali ke dalam pelukan kakakku.

"Sinting! Tomi, apa kau sudah beneran gila, ya?"

Kakakku mengusap pipi dan memeriksa bahuku dengan panik dan mata memerah.

"Apa kau menabrak sesuatu? Apa ada yang sakit? Cepat bilang!"

Aku gagal mati lagi. Aku menundukkan pandangan dengan perasaan sangat kecewa.

Pandanganku tertuju pada kaki kakakku, celananya sudah basah berlumuran darah.

Jelas sekali jika dia sudah terluka parah, darah masih terus menetes.

Jika itu terjadi di masa lalu, mungkin aku akan patah hati dan berharap bisa menggantikannya.

Tetapi sekarang, aku hanya membuang muka datar.

"Kenapa? Apa aku perlu izinmu untuk mati?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 9

    “Tidak! Bukan seperti itu!”Winda berteriak putus asa.“Sekarang, kau sudah kembali, kan? Laboratoriumku sudah berhasil meneliti dan mengekstrak paksa Sistem dari tubuh Jery .…”Aku mencibir, dan menyela perkataannya.“Penelitian yang kau sebut itu tidak lebih dari menyiksa orang lain dengan cara yang lebih kejam, dan juga menyakiti diri sendiri untuk membuat kalian mati rasa dari rasa bersalah.”Tiba-tiba sesosok bayangan muncul dari balik pintu, sambil mengacungkan pisau, dan menerjang ke arahku.“Tomi, aku jadi cacat begini, itu semua salahmu!”Aku terkejut melihat sosok yang familiar namun asing di hadapanku itu. Dia adalah Jery.Wajahnya dipenuhi bekas luka yang sangat mengerikan.Satu matanya telah buta, meninggalkan rongga kosong yang bisa membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa ngeri.Winda bereaksi paling cepat, dia menendang Jery dengan keras tepat di dada saat menerjang ke arahku.Jery berteriak kesakitan, dia terlempar ke belakang dan terbanting keras ke lantai.Dia t

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 8

    Sebelum aku selesai berbicara, sensasi tarikan yang sangat familiar langsung menyelimuti seluruh tubuhku.Pandanganku seketika terasa kabur, berubah menjadi warna putih bersih yang dingin.Aku langsung dipindahkan ke luar ruang perawatan intensif rumah sakit.Koridor itu dipenuhi dengan aroma disinfektan yang menyengat, membuat perutku terasa mual.Di balik pintu kaca ruangan terbaring sesosok tubuh yang terasa familiar bagiku namun juga asing.Itu adalah tubuh Tomi, wajahnya tampak sepucat kertas.Tubuhnya dipenuhi berbagai selang yang terhubung ke mesin penunjang kehidupan di sampingnya.Kurva yang terus berfluktuasi di layar monitor adalah satu-satunya bukti bahwa dia masih hidup.Dan di samping ranjang itu, ada sosok bertubuh sangat kurus hingga tulangnya menonjol.Itu adalah kakak ketigaku, Hani.Dulu dia selalu mengenakan jas putihnya dengan sangat rapi, lalu menceritakan kepadaku tentang hal-hal menarik yang terjadi dalam eksperimen di laboratorium dengan suara lembut.Tetapi se

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 7

    Aku kembali ke panti asuhan tempat aku dibesarkan.Sejak Kepala Panti, Mama Yuan, meninggal dunia, panti itu terpaksa ditutup karena kekurangan dana.Bangunan yang bobrok itu tidak lagi semeriah dulu, lumut menutupi permukaan dinding, dan gerbang besinya pun sudah berkarat.Aku berdiri di luar gerbang, mataku mulai berkaca-kaca.Ketika masih sangat kecil, aku ditinggalkan di gerbang panti asuhan ini.Mama Yuan membawaku masuk dan membesarkanku.Dia pernah menjadi satu-satunya kehangatan dalam hidupku, tetapi dia sudah meninggal karena sakit ketika aku kuliah.Aku bahkan belum sempat membalas budinya, namun sudah kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang kupunya di dunia ini.Beliau selalu berkata."Tomi, jadilah orang yang memiliki cahaya di dalam hatimu."Aku selalu mengingat nasihatnya itu selama bertahun-tahun.Sekarang aku sudah memiliki kemampuan finansial, tentu saja aku ingin meneruskan kehangatan itu demi beliau.Aku menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk merenovasi kem

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 6

    Dokter kembali mendampingiku untuk melakukan berbagai tes, setelah memastikan bahwa aku baik-baik saja, mereka baru mengizinkanku pergi meninggalkan rumah sakit.Hal pertama yang kulakukan adalah pergi ke bank.Melihat deretan angka di rekeningku, aku perlahan menghela napas lega.Suara Sistem pun kembali terdengar.[Tuan, saya akan pergi sekarang. Apakah Anda masih ingin mengetahui beberapa kebenaran?]Aku mengusap kartu bank di tangan, tak menjawab apa pun.Meskipun Sistem yang tidak dapat diandalkan ini telah melemparku ke dunia lain dan mengabaikanku selama lima belas tahun.Namun pada akhirnya, Sistem ini pula yang telah memberiku kehidupan kedua.Setelah berpikir sejenak, aku akhirnya perlahan mengangguk.[Tokoh utama pria yang memiliki nama yang sama dengan Anda, Tomi Luarta, meninggal secara mendadak dalam sebuah kecelakaan. Hal ini menyebabkan inti dari seluruh dunia tersebut runtuh.][Dalam keadaan terdesak, kami hanya dapat memilih orang yang cocok dari dunia paralel untuk d

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 5

    Jiwaku terasa melayang di udara, aku bisa dengan jelas melihat semua orang yang berdiri di ambang pintu terdiam membeku seketika.Kakak kedua terhuyung-huyung mendekatiku, tangannya bergetar hebat menekan luka di pergelangan tanganku sekuat tenaga.Wajahnya tampak pucat pasi, dan suaranya hampir tak terdengar."Tomi ... jangan menakut-nakuti kakakmu ini ... Panggil dokter, cepat panggil dokter!"Luka di kakinya sendiri kembali terbuka akibat gerakannya yang terlalu keras, tetapi dia tampak tidak memedulikannya.Dia menatap putus asa ke arah kakak sulungku yang masih terdiam di pintu.Kakak sulung akhirnya bereaksi, dia berteriak histeris kepada para pelayan."Cepat panggil dokter keluarga ke sini untuk menghentikan pendarahan Tomi!"Dokter itu masuk dengan tergesa-gesa dan panik, dia langsung membalut pergelangan tanganku dengan kain kasa tebal.Tetapi, darah merah segar masih terus merembes keluar.Dokter itu basah kuyup oleh keringat, dia mengulurkan tangan dan memeriksa denyut nadi

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 4

    Aku mengerutkan kening, lalu menyahut dengan suara tenang.“Apa aku juga tidak boleh membuang benda kotor seperti ini?”Dada kakak ketiga terlihat naik-turun dengan hebat, sorot matanya dipenuhi rasa sakit dan amarah.Dia tiba-tiba menginjak jimat pelindung itu, lalu menghancurkannya tanpa ampun dengan sepatunya. Setelah itu dia tertawa dingin dan mencibir dengan wajah sinis.“Tomi, kau memang anak manja tidak punya hati! Kau itu cuma bajingan tak tahu terima kasih!”“Pantas saja kalau Winda lebih memilih Jery daripada kau, kau itu .…”“Hani!”Kakak sulung langsung menyela, suaranya terdengar berat.Mata kakak ketiga tampak memerah, dia menatapku dengan tajam.Dia sedang berusaha mencari sedikit jejak rasa sedih atau penyesalan di wajahku.Tetapi, yang dilihatnya hanyalah wajah datar dan tanpa ekspresi sama sekali.Kakak Ketiga gemetar karena amarah, terdengar suara geraman tertahan yang keluar dari tenggorokannya."Tomi! Jimat pelindung ini milik Jery, dia hanya meminjamkannya padamu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status