LOGINCinta bisa datang dimana pun, kapan pun tanpa tau arah dan tempat.Seperti halnya Adriell yang terjebak dalam satu vidio mesum bersama dengan Anthea. Vidio itu bukan mereka berdua melainkan orang lain yang memakai nama mereka berdua.Dengan terpaksa dan membunuh impian kecil Thea. Mereka di paksa menikah muda di usianya yang baru saja menginjak 17 tahun.Awalnya Thea menolak dan Adriell pun mencari tau siapa dalang dalam vidio itu. Tapi sayangnya, dua remaja yang terlibat dalam vidio itu pun melarikan diri, sebelum H-1 pernikahan Adriell dan juga Thea. Mau di batalin pun juga mereka gak mau mengecewakan kedua orang tua mereka. Dan akhirnya mereka pun setuju untuk menikah.Hidup berumah tangga, memiliki rumah kecil yang sederhana dan juga kisah manis , sedih, pilu mereka berdua.
View MoreSarah P.O.V
Life isn't as simple as a fairytale; it has its lighter and darker shades. I used to believe that everything would always have a happy ending. Maybe it was because I was too naïve growing up, but I always thought my life would be like a fairy tale, or at least I hoped it would get better one day.
My mom, Sophia, passed away when I was just 5, and a few years later, my father, Neil Darrell, started dating Lisa. Soon, Lisa and her daughter Chloe moved into our house. In the beginning, Lisa was kind to me, but as soon as she married my father, she began showing her true, darker side. Chloe and I were the same age, but Lisa made sure that Chloe received all the attention from both her and my dad.
After a few months, I noticed how Dad started to ignore me as he got caught up in his "perfect" new family. Over time, I became just an extra, unwanted family member that no one cared about.
My only happy place was with my maternal grandparents, who lived in Italy. We made sure to visit each other whenever we could. Besides my grandparents, I loved only two other people in the world as much as my family—my childhood best friends, Jessica Martin and Adrian Parker. The three of us were inseparable until Adrian moved to a boarding school in London.
Jessica and I stayed close and kept in touch with Adrian every weekend. However, as soon as I started high school, Jessica began to ignore me, preferring to hang out with Chloe instead. Soon, they became best friends, and even Adrian stopped replying to my messages and calls.
As time passed, everyone around me seemed to compare me to Chloe or other girls. Lisa constantly insulted my looks and clothes and made sure others treated me the same way. Even my dad started to see me as a disgrace. I tolerated all the insults, abuse, and mistreatment, but eventually, I realized that enduring it only made them stronger.
As little girls, we're often told stories of distressed damsels who need saving. But as I grew older, I realized I didn't need a Prince Charming to save me.
The only person capable of saving me was myself. I needed to become a strong, independent woman and stand up for myself. I had to overcome my obstacles and fight my own battles.
I was clear about my future and goals by the time I finished high school. I worked hard to get into a top university, and my efforts paid off when I was accepted into Harvard with a full scholarship. Moving to Boston from New York was a whole new experience for me. It was the first time I was escaping the hell of my family and my old life. In Boston, no one judged me for my clothes or looks—people wanted to be my friend because of who I was.
University life opened up new experiences for me; it helped me discover the real me. I balanced my studies during the day with a part-time job in the evenings to manage my expenses.
Five years later, I now hold a dual master's degree in engineering and an MBA. Tomorrow, I'll be leaving Boston and returning to NYC after almost five years. During this time, neither my family nor Jessica or Adrian tried to contact me. My grandfather offered financial support, but I barely touched it.
As I packed my belongings and prepared for the airport, I tied my hair into a ponytail and examined my reflection in the mirror. My brown hair now cascaded down to my waist; I used to prefer short hair until high school. My round face was almost bare, with minimal makeup. My glasses were gone, and my hazel eyes, framed by thick lashes, were perfectly coated with mascara.
Before coming to Boston, I had little knowledge of makeup, but after moving here, I learned to groom myself well. My roommate, Ester Caswell, supported me through these five years; she's the sister I never had. When I initially moved here, I was pale and thin, mainly because I hardly got anything to eat at home—most of the food was leftovers.
Throughout my university days, I focused on my studies, career, and health. Standing at 5'6", I'm neither too fat nor too thin. Although I'm still a bit insecure about my body, according to Ester, I have curves in all the right places.
Ester is visiting her parents for a week, and she'll be moving to NYC soon as well. After taking one last look in the mirror, I grabbed my belongings and called a cab. Soon, I was on my way to the airport, hoping that everything would go well.
.
.
.
.
.
Little did I know, this journey back to NYC was going to turn my life upside down.
lagu me and my brokent heart menyapa telinga thea dan juga adriell. harusnya lagunya yang romantis atau lagu yang menyentuh atau lagu apa kek yang pas untuk malam ini . tapi yang ada lagu ini malah mengingatkan adeiell saat galau thea meninggalkannya dulu . malam ini sebagai menebus kesalahan dan meminta maaf adriell mengajak thea untuk makan malam . anggap saja ini dinner permintaan maaf adriell untuk thea . bahkan sesekali thea ikut bernyanyi di sini . adriell ingin matiin lagunya tapi udah terlanjur di putar jadi yaudah biarin aja lag , sesuai abjab lagu baru. kali ini dengan nuangsa berbeda adriell ngajakin thea ke sebuah tempat di Tengah hutan . sebenarnya bukan tengah hutan , pinggiran jalan sepi yang jarang sekali di lewati banyak orang .hanya beberapa orang saja yang lewat , karena setelah jalan ini masih ada beberapa rumah . tempat yang nyaris mirip hutan ini pun mem
hari yang di tunggu pun tiba . hari dimana adriell dan juga elisa akan menikah .senang ?tentu saja tidak . tidak ada yang merasa senang di sini , tidak ada yang merasa bahagia di sini . hanya elisa saja yang merasa bahagia . mungkinsedangkan thea ? sejak semalam dia terus mennaggis merenungi nasip nya setelah ini . apa yang harus dia lakukan setelah adeiell dan juga elisa menikah . minggat dari rumah ini atau berbagi rumah dengan elisa ?kayaknya kalau berbagi thea tidak mau , mungkin dia akan pergi atau msnyewa apartemen untuk di tinggali . asalkan gak serumah dengan elisa itu saja."nak , kalau kamu gak sanggup lepaskan gak papa kok ". kata damara ."Dari pada nyiksa batin kamu lebih baik kamu pergi". kata Jonny .thea tersenyum menatap pantulan dirinya yang kacau. gimana mau ninggalin kalau malam itu adriell benar benar meny
hati adriell benar benar remuk mendengar ucapan thea malam itu . malam di mana thea seakan pasrah dengan keadaan. bodoh . itulah yang di pikirkan adriell sekarang . kenapa juga dia harus melakukan hal itu dengan elisa hingga dia hamil . harusnya sebelum melakukan adriell berpikir dua kali jika dia memiliki thea kenapa harus melakukan dengan wanita lain ? dan sekarang thea seakan siap kehilangan adriell. lihatlah semua orang nampak sibuk dengan acara pernilahan kedua adriell yang akan di selenggarakan seminggu lagi . dan nampaklah thea yang sibuk mendekirasi rumah barunya dengan tema white. adriell pernah bilang pernikahan itu suci , dia ingin menikah sekali seumur hidup tapi sayangnya ucapan itu sekaan di telan oleh bumi . adriell menikah untuk kedua kalinya . dam dengan sengaja thea lah yang mempersiapkan semuanya. jangan tanya perasaan thea saa
ketukan pintu membuat thea menoleh . dia pun menatap pintu utama rumah ini dan berjalan ke arahnya . membuka pintu siapa yang bertemu , ternyata galang , elisa dan juga aqila .oke tahan sabar. kalau masalah galang dan juga aqila sih thea gak papa . kalau masalah elisa dengan perut buncitnya itu yang membuat thea gak sabar ."ngapain lo ke sini ?" pertanyaan itu keluar dati mulut thea begitu saja. apa lagi matanya tertuju pada elisa yang malah tersenyum ke arahnya ."kamu udah kembali" tanya elisa balik .thea mengangguk lalu melengos masuk ke dalam rumah . galang dan aqila pun langsung masuk apa lagi elisa yang ikutan masuk dengan mereka dan duduk di sofa depan ruang televisi .thea masuk ke dalam kamar menganti baju santai nya , dengan kemeja yang menampilkan bahu mulusnya panjamgnya pun hanya setengah paha .thea pun keluar kamar dengan tas kecil di bahunya , dia
"gue masih marah ya sama lo" kata adriell .thea hanya meliriknya saja tanpa mau menjawab apapun di sini. lagian dia juga udah tau kenapa adriell marah pasti gak jauh dari kata gio.dia juga udah sembuh lukanya jjuga udah di obati dan sedi
tiga hari sudah setelah kepergian adriell hidup thea seakan tak tentu arah. padahal adriell pergi cuma semi galang gak mati tapi hidup thea seakan hampa .tiga hari sudah adriell gak ada kabar sama sekali . dia tidak mengirim pesan atau menelpon thea .
"gal---"ucapan aqila terpotong saat merasakan sebuah sentuhan di tangan kanannya. dia pun menoleh ke arah tangannya lalu menatap adriell yang mengelengkan kepalanya ."apaan sih lo". sinis aqila dan menepis tangan adriell .dia hanya
"dompet lo jatuh tuh". kata thea saat melihat dompet adriell terjatuh di hadapannya .thea mengambil dompet itu bulannya di kasih malah di sembunyiin di belakang tubuh thea.adriell tersenyum dna melangkah ke arah thea untuk meminta dompetnya. t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.