分享

Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu
Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu
作者: Jesi

Bab 1

作者: Jesi
Tak lama kemudian, ambulans akhirnya tiba.

Petugas pemadam kebakaran segera memotong pintu mobil di sisiku menggunakan gunting hidraulik.

Saat menunduk, kulihat darah telah menggenang di bawah kursi.

Perut bagian bawahku terasa seperti diremas-remas hingga nyaris membuatku kehilangan kesadaran.

Kedua tanganku memeluk erat perutku. Anak kami yang baru berusia tujuh bulan masih berada di dalam sana. Aku tak tahu apakah dia masih bergerak atau tidak.

Tubuhku dipindahkan ke atas tandu yang diselipkan melalui celah pintu mobil yang telah dipotong.

Seorang dokter gawat darurat segera memasangkan masker oksigen di wajahku sebelum berteriak ke arah luar.

"Mana keluarganya? Kandungannya sudah berapa minggu? Dokumen pemeriksaan kehamilannya dibawa nggak?"

Sementara itu, Justin masih sibuk membungkuk di hadapan Sarah, mengusap luka lecet di dahinya yang bahkan tak sampai dua sentimeter dengan selembar tisu.

Dokter itu kembali berteriak memanggil keluarga pasien.

Barulah Justin menoleh ke arahku.

"Dua puluh sembilan minggu ... yang lainnya saya kurang tahu."

Kurang tahu.

Padahal setiap kali pulang dari pemeriksaan kehamilan, hasilnya selalu kusimpan di laci kedua ruang kerja. Hanya saja dia tak pernah sekali pun berniat membukanya.

Sebaliknya, dia hafal obat apa yang membuat Sarah alergi, lutut sebelah mana yang pernah cedera, bahkan tahu berapa menit teh penenangnya harus diseduh.

Saat tanduku mulai didorong menuju ambulans, aku kembali menoleh mencarinya.

Namun, dia tidak ikut bersamaku.

Sarah menggenggam lengannya erat sambil meringkuk gemetar dalam pelukannya.

Justin menangkup belakang kepala wanita itu dengan sebelah tangan, seolah melindunginya dari seluruh dunia.

"Jangan lihat ke sana. Nggak apa-apa. Pejamkan matamu. Aku di sini."

Sebelum pintu ambulans ditutup, kulihat dia membantu Sarah naik ke ambulans yang lain.

Setibanya di rumah sakit, aku langsung didorong menuju ruang operasi.

Aku menggigit bibir sekuat tenaga agar tidak berteriak, tetapi air mata tetap merembes keluar dari balik masker oksigen.

Seorang perawat berlari ke luar lalu mengetuk pintu.

"Keluarga pasien! Tolong tanda tangan persetujuan operasi sesar darurat! Ada keluarganya?"

Tak lama kemudian, pintu terbuka.

Justin masuk, mengambil pena, lalu membubuhkan tanda tangannya di kolom terakhir. Jemarinya tampak sedikit gemetar.

Aku sempat mengira dia akan datang menghampiriku.

Namun, begitu selesai menandatangani formulir, dia malah mengangkat ponselnya yang berdering.

Meski sengaja merendahkan suara, setiap katanya tetap terdengar jelas di telingaku.

"Kak Sarah, jangan takut. Hasil pemeriksaannya sebentar lagi keluar. Aku sudah meminta Jodie menemanimu. Begitu selesai tanda tangan di sini, aku langsung ke sana."

Tak lama kemudian obat bius mulai mengalir ke dalam tubuhku, dan kesadaranku perlahan menghilang.

Aku tak tahu berapa lama operasi itu berlangsung.

Ketika membuka mata lagi, malam sudah larut.

Tania Wardana duduk di samping ranjang dengan kepala tertunduk. Kedua matanya sembap dan memerah.

Kalimat pertama yang keluar dari bibirku hanya satu. "Di mana anakku?"

Dia tidak menjawab. Melihat raut wajahnya, aku perlahan memejamkan mata.

Dari balik pintu, terdengar suara ibu mertuaku yang sengaja dipelankan.

"Sarah, jangan terlalu dipikirin. Justin sudah mengurus semuanya. Pulang saja dulu dan istirahat. Kesehatanmu juga penting …."

Tak seorang pun menyebut anakku.

Seolah-olah kehidupan kecil yang telah tumbuh di dalam rahimku selama tujuh bulan, yang sudah kuberi nama panggilan dan bahkan kubuatkan topi rajut, tak pernah benar-benar ada.

Belakangan, Justin sempat datang menjenguk sekali.

Dia hanya berdiri lama di ujung ranjang tanpa mengatakan apa pun.

Setelah cukup lama terdiam, akhirnya dia berkata, "Aku sudah minta pusat perawatan pascamelahirkan tetap menyimpan tempatmu. Fokus saja pulihkan kesehatanmu."

Tidak ada kata maaf.

Tidak ada pula sepatah kata tentang pemakaman anak kami.

Aku pun tidak mengatakan apa-apa.

Keesokan harinya, Tania menunjukkan kepadaku foto-foto lokasi kecelakaan yang terekam oleh kamera dasbor mobil yang kebetulan melintas.

Foto pertama memperlihatkan Justin berdiri di samping pintu mobilku dengan kedua tangan bertumpu pada pintu yang telah penyok.

Pada foto berikutnya, dia sudah berbalik menuju kursi belakang dan berusaha membuka pintu di sisi tempat Sarah terjebak.

Aku menatap kedua foto itu tanpa berkedip, sementara ujung jariku menekan permukaannya begitu kuat hingga memutih.

Ternyata, saat itu bukan karena dia terlambat.

Hanya saja, dia sudah menentukan pilihannya.

Aku membalikkan foto itu di atas ranjang rumah sakit, telapak tanganku menekan perutku yang kini kosong. Mataku begitu kering hingga tak mampu lagi menitikkan air mata.

Dari luar ruang rawat, samar-samar terdengar seseorang berbisik bahwa Sarah mengalami syok.

Aku memejamkan mata dan memalingkan wajah ke sisi ruangan yang tak tersentuh cahaya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku berhenti menunggu Justin pulang.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 9

    Seminggu kemudian, Justin akhirnya menandatangani surat perceraian itu.Saat pengacaraku mengabarkan hal tersebut, aku sedang menyusun laporan rekonsiliasi pajak tahunan untuk salah satu klien."Pak Justin nggak mengajukan keberatan apa pun. Beliau menerima seluruh isi perjanjian, dan pembagian harta dilakukan sesuai rancangan yang Ibu ajukan. Ibu hanya mengambil bagian yang memang menjadi hak menurut hukum. Sebelum semuanya selesai, beliau meminta saya menanyakan sekali lagi ... apakah Ibu ingin mempertimbangkan untuk mengambil lebih banyak?""Nggak," jawabku singkat.Pengacara itu terdiam sejenak."Maaf kalau saya lancang, Bu Vanya. Dengan bukti yang Ibu punya sekarang, sebenarnya peluang Ibu untuk dapat bagian yang lebih besar sangat kuat."Aku tersenyum tipis."Aku tahu. Tapi aku nggak mau berutang budi padanya, dan aku juga nggak mau bikin dia berpikir bahwa semua ini bisa ditebus dengan uang.""Baik," jawabnya pelan.Pada hari pengurusan perceraian, kami bertemu di kantor catatan

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 8

    Pengacara bergerak sangat cepat.Hanya dalam tiga hari, seluruh alur transfer dana yang menggunakan rekening atas nama sepupu Sarah berhasil direkonstruksi dengan lengkap.Mulai dari akun yang mengunggah fitnah, riwayat panggilan kepada kerabat jauh Keluarga Giovano, hingga bukti pembayaran kepada akun-akun media independen, semuanya bermuara pada sumber yang sama.Saat Tania mengirimkan laporan hasil penyelidikan kepadaku, aku sedang menyelesaikan laporan pajak triwulanan milik seorang klien."Sudah dipastikan. Rekening yang dipakai memang atas nama sepupu Sarah, tapi semua instruksi dan otorisasinya berasal langsung dari Sarah."Mendengar itu, perasaanku tetap tenang.Bukan karena aku tidak peduli, melainkan karena sejak pertemuan kami di kedai kopi, saat dia mengucapkan kata-kata bernada ancaman itu, aku sudah menduga semua ini akan terjadi.Sore harinya, asisten Justin menelepon dan mengatakan bahwa Justin ingin menemuiku.Aku langsung menolaknya.Asisten itu sempat terdiam beberap

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 7

    Keesokan paginya, aku tiba di kantor tiga puluh menit lebih awal dari biasanya.Namun, di depan firma sudah berdiri lima atau enam orang.Tiga di antaranya adalah kerabat jauh Keluarga Giovano yang pernah kutemui saat jamuan keluarga.Dua orang lainnya sibuk mengangkat ponsel dan merekam.Orang yang memimpin mereka adalah paman sepupu yang meneleponku semalam.Di tangannya tergenggam hasil cetak tangkapan layar sebuah unggahan."Ini dia perempuan yang maksa kakak iparnya yang sudah menjanda mengembalikan uang! Gara-gara keguguran, dia melampiaskan kemarahannya sama kakak iparnya. Masih punya hati nurani apa nggak, sih?"Orang-orang di belakangnya langsung ikut bersorak menyahut.Aku tidak berhenti melangkah. Dengan tenang aku berjalan ke pintu firma, menempelkan kartu akses, lalu hendak membukanya.Namun, paman sepupu itu mengulurkan tangan dan menghalangi jalanku."Kalau hari ini kamu nggak bisa kasih penjelasan, jangan harap ada yang bisa masuk ke kantor ini."Aku mengangkat wajah da

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 6

    Pekerjaanku di kantor akuntan perlahan mulai stabil.Setiap hari aku berangkat pukul delapan pagi dan baru pulang sekitar pukul tujuh malam. Bahkan di akhir pekan pun aku tetap bekerja setengah hari.Sedikit demi sedikit, jumlah klien yang kutangani bertambah, dari tiga perusahaan menjadi belasan.Semuanya memang hanya perusahaan kecil dengan pembukuan yang sederhana, tetapi setiap transaksi tetap kuperiksa seteliti mungkin.Rekan-rekan kerjaku sering menggodaku karena dianggap terlalu perfeksionis. Menurut mereka, pembukuan perusahaan kecil tidak perlu diperiksa sedetail itu.Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa itu sudah menjadi kebiasaanku.Padahal, bukan itu alasannya.Aku hanya ingin memenuhi pikiranku dengan deretan angka dan laporan keuangan.Sebab setiap kali pikiranku dibiarkan kosong, kenangan yang berusaha kulupakan selalu datang kembali.Sebulan kemudian, aku menunggu Tania di kedai kopi bawah gedung untuk makan siang bersama.Denting lonceng angin di pintu membuatku me

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 5

    Keesokan paginya, aku pindah ke rumah Tania.Setelah itu, ada tiga hal yang langsung kulakukan.Pertama, keluar dari seluruh grup keluarga besar Keluarga Giovano.Kedua, menghubungi bank untuk membekukan kewenangan persetujuan transaksi bernilai besar pada rekening bersama kami.Ketiga, mengambil kembali gelang perak milik anakku.Saat aku datang mengambilnya, Sarah sedang tidak ada di rumah.Seorang pelayan mengambil gelang itu dari laci meja di ruang tamu lalu menyerahkannya kepadaku. Di bagian dalamnya, tepat pada ukiran nama anakku, tampak sebuah goresan tipis.Jemariku mengusap perlahan bekas goresan itu sebelum kusimpan kembali ke dalam saku.Memasuki minggu pertama tinggal di rumah Tania, aku mengeluarkan sertifikat analis keuangan yang kudapat sebelum menikah dari dasar kotak penyimpanan.Sudut-sudutnya memang sudah mulai melengkung, tetapi masa berlakunya masih belum habis.Tania kemudian membantuku menghubungi sebuah kantor praktik akuntansi di kota ini yang kebetulan sedang

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 4

    Aku pergi ruang kerja mencari plakat porselen kecil.Aku membuat sebuah plakat porselen kecil sebagai kenang-kenangan untuk anak kami.Diam-diam kupesan plakat itu dengan ukuran tak lebih besar dari telapak tangan. Di permukaannya terukir nama panggilan serta tanggal lahir anak kami.Plakat itu kusimpan di dalam laci ruang kerja yang selalu kukunci. Hanya aku yang memegang kuncinya.Namun ketika laci itu kubuka, isinya sudah kosong.Aku menanyakan keberadaan plakat itu kepada pembantu di rumah, tetapi dia hanya menggeleng dan mengatakan tidak tahu.Aku mencari ke seluruh penjuru rumah. Hingga akhirnya, plakat itu kutemukan di dalam kantong barang daur ulang di samping tempat sampah.Porselen itu sudah pecah menjadi tiga bagian. Bahkan tulisan di atasnya pun hanya tersisa sebagian saja.Saat aku berjongkok memunguti pecahannya, Sarah datang ke ruang kerja lalu berhenti di ambang pintu."Vanya ... soal plakat itu, aku benar-benar nggak sengaja.""Waktu sedang membereskan ruang kerja, ngg

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status